Anda di halaman 1dari 7

Independent Co-Housing dengan Menerapkan Konsep

Green Design
Dari (Tugas Dasar Perancangan Perumahan)
Regina Firda Amalia 14/364098/TK/41896

Program Studi S1 Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik Universitas
Gadjah Mada
Dr. Ir. Arif Kusumawanto, MT.
Dosen dan Pengampu Mata Kuliah Arsitektur Hijau

Abstrak
Yogyakarta atau sering disebut Jogja merupakan salah satu kota yang banyak dikunjungi oleh
para wisatawan lokal maupun mancanegara. Selain banyak spot yang menarik untuk dikunjungi, Jogja
juga menghadirkan suasana yang ramah terutama karena penduduk lokalnya. Semakin banyak
penghuni Jogja, semakin banyak pula volume kendaraan, tentunya polusi udara juga semakin
bertambah. Hal ini menjadi faktor utama masyarakat lokal merasa Jogja tidak nyaman lagi, mengeluh
akibat yang ditimbulkannya. Jogja menjadi semakin panas. Padahal kenyamanan termal termasuk hal
yang vital, tentunya bagi kehidupan sehari hari demi terwujudnya kehidupan yang lebih baik.
Berdasarkan pernyataan tersebut, makalah ini mencoba untuk membahas lebih lanjut
mengenai penerapan arsitektur hijau untuk menciptakan kenyamanan termal khususnya untuk
perumahan masyarakat sehingga dapat mengurangi panas yang berlebihan, yaitu dengan cara
membuat perumahan tipe Co Housing dengan konsep bangunan hijau, selain untuk meningkatkan
kenyamanan termal, sekaligus mewujudkan masyarakat yang mandiri melalui agrikultur.
Kata kunci : Kenyamanan termal, Bangunan hijau, Agriculture

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Yogyakarta dikenal dengan kota berhati nyaman, terutama orang orang pribuminya.
Namun akhir akhir ini masyarakat Jogja mulai khawatir dengan keadaan Jogja yang sekarang.
Selain karena bertambahnya populasi orang pendatang yang semakin banyak, polusi dimana
mana serta pembangunan gedung gedung yang membuat lahan hijau mulai tergerus. Akibatnya
Jogja menjadi semakin panas, udaranya pun tidak sesegar dulu. Sehingga Jogja tidak senyaman
dulu lagi, terutama nyaman dari segi termalnya.
Kenyamanan termal sangat dibutuhkan tubuh agar manusia dapat beraktifitas dengan
baik (di rumah, sekolah ataupun di kantor/ tempat bekerja). Szokolay dalam Manual of Tropical
Housing

and

Building

menyebutkan

kenyamanan

tergantung

pada

variabel

iklim

(matahari/radiasinya, suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin) dan beberapa faktor
individu/subyektif (Talarosha, Basaria 2005).
Kenyamanan termal merupakan kebutuhan vital karena dapat kita rasakan sehari hari,
oleh karena itu, manusia berusaha mengatasinya dengan berbagai cara. Misalnya dengan
membuat penghawaan alami melalui pengembangan agrikultur. Selain dapat menghemat energi,
juga dapat mengembangankan produksi pangan sederhana melalui konsep Agriculture.
Agriculture adalah Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia
untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk
mengelola lingkungan hidupnya, atau sering disebut sebagai budidaya tanaman/bercocok tanam
(Wikipedia).
Maka dari itu, makalah ini akan membahas lebih lanjut mengenai penerapan arsitektur
hijau untuk menciptakan kenyamanan termal khususnya untuk pemukiman masyarakat dengan
mengembangkan budidaya tanaman melalui kebun hidroponik selain dapat menciptakan
kenyamanan termal secara alami, sekaligus dapat mewujudkan masyarakat yang mandiri
terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan.

1.
2.

I.2 Tujuan
Mengetahui konsep bangunan hijau untuk mencapai kenyamanan termal
Mengetahui cara penerapan agrikultur pada bangunan perumahan sebagai bangunan
berkonsep green design

BAB II
KAJIAN TEORI
Menurut penelitian Lippsmeir, batas batas kenyamanan untuk daerah khatulistiwa
adalah 19oC TE (batas bawah) 26oC TE (batas atas). Pada temperatur 26 oC TE umumnya
manusia sudah mulai berkeringat. Daya tahan dan kemampuan kerja manusia mulai menurun
pada temperatur 26oC TE 30oC TE. Kondisi lingkungan yang sukar mulai dirasakan pada suhu
33,5oC TE 35,5oC TE, dan pada suhu 35oC TE 36oC TE kondisi lingkungan tidak dapat
ditolerir lagi. Produktifitas manusia cenderung menurun atau rendah pada kondisi udara yang
tidak nyaman seperti halnya terlalu dingin atau terlalu panas. Produktifitas kerja manusia
meningkat pada kondisi suhu (termis) yang nyaman (Idealistina, 1991).
Berdasarkan penelitian tersebut, manusia akan mencapai kenyamanan termal jika suhu
lingkungan antara 19oC 26oC. Untuk mencapai kenyamanan tersebut, ada berbagai cara yang
dapat dilakukan. Misalnya dengan membuat roof garden. Roof garden pada prinsipnya
merupakan sebuah taman yang terletak pada ketinggian tertentu pada bangunan yang umumnya
terdiri dari elemen vegetasi dan berbagai elemen alam yang lain. Dalam perspektif pemikiran
green architecture, roof garden dapat berfungsi menciptakan suatu kondisi iklim mikro yang
ideal pada bangunan. Pengkondisian iklim mikro suatu bangunan dapat diupayakan melalui
pemanfaatan vegetasi sebagai pemecah angin (wind breaks), menyerap polusi karbon dan
menghasilkan oksigen baru hasil proses fotosintesa, memperbaiki tatanan ekosistem dan
memberikan rasa nyaman bagi pengguna bangunan (Rahadini, Ari 2013).
Sehingga dengan membuat roof garden yang sekaligus sebagai area bercocok tanam itu,
dapat berfungsi dengan baik sekaligus juga memberikan ruang sosial bagi pengguna perumahan
tersebut.

BAB III
PEMBAHASAN
Berdasarkan isu dan mengkaitkannya dengan studi literatur, konsep agrikultur cocok
untuk diterapkan. Terutama untuk mewujudkan kenyamanan termal dan meminimalisasi polusi
udara dan menyediakan ruang hijau untuk penghematan energi serta pengahwaan alami.
Agrikultur merupakan suatu perencanaan utnuk melaksanakan budidaya tanaman
terutama untuk menghasilkan produksi bahan pangan. Pada kasus ini, mengambil sampel pada
perumahan vertikal Co - Housing yang biasanya untuk relokasi masyarakat yang tinggal di
perkampungan kumuh dan lokasinya di Jogja.

Gambar 1.1 Konsep Co Housing


Dokumen Pribadi
Site berada di Pogung Kidul, orientasi bangunan menghadap barat. Terdapat dua blok
rumah yang terdiri dari satu blok rumah horisontal yang memiliki dua lantai. Lantai pertama
adalah area komersial untuk menunjang kebutuhan masyarakat yang tinggal di perumahan

tersebut. Sedangkan pada lantai dua terdapat roof garden sekaligus tempat untuk budidaya
tanaman dan dua rumah yang luasnya 40 m2 dengan masing masing empat kamar di dalamnya.
Sedangkan pada blok satunya yaitu terdiri dari empat lantai dengan enam rumah luas 20
m2 terletak pada lantai satu dan dua, lalu empat rumah lainnya terdapat di lantai tiga dan empat
dengan masing masing seluas 30 m2.
Kemudian pada lansekap bangunan tersebut terdapat kolam kecil berada di bagian tengah
bangunan, selain sebagai innercourt, sekaligus untuk penghawaan di sekitar bangunan
perumahan tersebut. Berdasarkan studi literatur yang sudah dilakukan, langkah langkah ini
merupakan suatu konsep untuk penghematan energi, terutama listrik. Setidaknya dapat
menciptakan penghawaan dingin secara alamai melalui roof garden tersebut. Selain itu juga pada
roof garden nantinya akan ditanami tanaman Hidroponik. Selain mudah, tanaman ini tidak
membutuhkan tempat yang terlalu luas. Diharapkan dengan adanya budidaya tanaman ini selain
sebagai aktifitas masyarakat yang akan menghuni perumahan ini, sekaligus sebagai aktifitas
sosial antar penghuninya.

Gambar 1.2 Bagian Timur Bangunan

Dokumen Pribadi

I.3

Gambar Denah, Tampak, Potongan dan Perspektif Bangunan


Dokumentasi Pribadi
Tanaman hidroponik yang biasanya mudah ditanam yaitu tanaman kangkung dan sawi.
Sistem pengairannya dapat dilakukan dengan cara drip sistem. Yaitu dengan menggunakan alat
hidroponik yang sederhana karena pada prinsipnya hanya memberikan nutrisi dalam bentuk
tetesan yang menetes secara terus menerus sepanjang waktu. Tetesan diarahkan tepat pada
daerah perakaran tanaman agar tanaman dapat langsung menyerap air dan nutrisi yang diberikan.
(Stevan H, Ratna A, Mira D.S).

1.4. Gambar Drip System


Sumber : http://www.homehydrosystems.com/hydroponic-systems/images_systems/drip_full.gif

Tentunya cara tersebut butuh pengarahan yang baik agar masyarakat juga dapat belajar
untuk bisa bercocok tanam secara modern sekaligus untuk menciptakan kenyamanan termal.
Cara ini juga untuk menyiasati kebutuhan ruang terbuka hijau yang sekarang sudah mulai
berkurang di Jogja, akibat pembangunan hotel hotel yang makin marak.
BAB IV
KESIMPULAN
Konsep arsitektur hijau memang sudah keharusan untuk diterapkan di semua bangunan
terutama di Indonesia yang kawasannya berada di daerah khatulistiwa. Ada banyak cara yang
dapat dilakukan, salah satunya dengan mengembangkan agrikultur pada suatu bangunan melalui
pembuatan roof garden dan hidroponik. Selain sebagai penghawaan alami, sehingga dapat
menghemat energi listrik. Dengan adanya roof garden untuk penanaman tanaman hidroponik,
masyarakat dapat berkebun sekaligus bisa saling berinteraksi. Jadi bisa sekaligus sebagai ruang
sosial masyarakat yang tinggal di perumahan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Talarosha, Basaria. 2005. Tersedia : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15895/1/stijul2005-%20(26).pdf. (online). (diakses pada 13 Oktober 2016, pukul 6:33 WIB).
Kusumawanto, Arif. Penerapan Arsitektur Hijau dalam Pengembangan Kawasan. Jurnal Teknik
Arsitektur Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta (diakses pada 13 Oktober 2016, pukul 08 : 24 WIB)
Stevan H, Ratna A. dan Mira D. S. Agriculture House dengan Penekanan Permaculture di
Pekanbaru. Jurnal Laboraturium Perancangan, Jurusan Teknik Sipil Universitas Riau. Pekan Baru.
Tersedia : http://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFTEKNIK/article/viewFile/3820/3711. (online).
(diakses pada 13 Oktober 2016, pukul 8 : 27 WIB).
Wikipedia. Pertanian. (online). Tersedia : https://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian. ( diakses 13
Oktober 2016, pukul 08 : 37 WIB).
Rahadini, Ari. 2013. Penggunaan Atap Rumah sebagai Taman Untuk Menurunkan Suhu Panas dalam
Ruangan. Jurnal Teknik Arsitektur Universitas Negeri Semarang. Semarang. Tersedia :
https://atpw.files.wordpress.com/2013/03/e4-ari-rahadini.pdf (online). (diakses pada 13 Oktober 2016,
pukul 18 : 48 WIB).