Anda di halaman 1dari 16

BAB

I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dengan meningkatnya kebutuhan hidup maka masalahpun
semakin kompleks baik dibidang ekonomi maupun kesehatan.
Dibidang kesehatan, masalah yang sangat sering muncul adalah
masalah angka kematian anak balita.
Salah satu upaya untuk mengurangi angka kesakitan dan
kematian anak balita adalah dengan melakukan pemeliharaan
kesehatannya.
Pemeliharaan
kesehatan
anak
balita
dititikberatkan kepada upaya pencegahan dan peningkatan
kesehatan dan pada pengobatan dan rehabilitasi. Pelayanan
kesehatan anak balita ini dapat dilakukan di puskesmas,
puskesmas pembantu, polindes terutama di posyandu.
Saat ini posyandu sangat primadona. Pemerintah Indonesia
dengan
kebijakan
Kepmenkes
mengupayakan
untuk
mengaktifkan kembali kegiatan di posyandu, karena
posyandulah tempat paling cocok untuk memberikan pelayanan
kesehatan pada balita secara menyeluruh dan terpadu. Posyandu
tersebar di lebih dari 70.000 desa di Indonesia. Pada tahun 2010,
diperkirakan sekitar 91,3% anak 6-11 bulan dan 74,5% balita
dibawa ke Posyandu sekurang-kurangnya satu kali selama enam
bulan terakhir. Oleh karena itu dalam makalah ini dibahas
tentang ruang lingkup Posyandu.

B.
1.
2.
3.

Rumusan Masalah
Apa pengertian dari Posyandu ?
Apa saja manfaat posyandu ?
Apa tujuan dari posyandu ?

4.
5.
6.
7.
8.
9.

Apa saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan di posyandu ?


Siapa pengelola dan sasaran posyandu ?
Bagaimana syarat terbentuknya Ppsyandu ?
Bagaimana pengorganisasian posyandu ?
Bagaimana dasar pelaksanaan posyandu ?
Jenis-jenis posyandu ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan posyandu?
2. Untuk mengetahui apa saja manfaat posyandu ?
3. Untuk mengetahui tujuan dari Posyandu ?
4. Untuk mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan di
posyandu ?
5. Untuk mengetahui pengelola dan sasaran posyandu ?
6. Untuk mengetahui syarat terbentuknya Posyandu ?
7. Untuk mengetahui pengorganisasian posyandu ?
8. Untuk mengetahui dasar pelaksanaan posyandu ?
9. Untuk mengetahui jenis-jenis posyandu

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Posyandu
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan
Berbasis
Masyarakat
(UKBM)
yang
dikelola
dan
diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat
dalam penyelanggraan pembangunan kesehatan guna
memberdayakan masyarakat dan memberikan kemmudahan
kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan
dasar/social dasar untuk mempercepat penurunan Angka

Kematian Ibu dan Bayi ( Departemen Kesehatan RI. 2006 ).


Pengertian posyandu adalah sistem pelayanan yang dipadukan
antara satu program dengan program lainnya yang merupakan
forum komunikasi pelayanan terpadu dan dinamis seperti halnya
program KB dengan kesehatan atau berbagai program lainnya
yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat (BKKBN, 1989).
Posyandu dipandang sangat bermanfaat bagi masyarakat namun
keberadaannya di masyarakat kurang berjalan dengan baik, oleh
karena itu pemerintah mengadakan revitalisasi posyandu.
Revitalisasi posyandu merupakan upaya pemberdayaan
posyandu untuk mengurangi dampak dari krisis ekonomi
terhadap penurunan status gizi dan kesehatan ibu dan anak.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan
masyarakat dalam menunjang upaya mempertahankan dan
meningkatkan status gizi serta kesehatan ibu dan anak melalui
peningkatan kemampuan kader, manajemen dan fungsi
posyandu (Depdagri, 1999).
Posyandu adalah kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan
dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas
kesehatan (Cessnasari. 2005).
Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam
pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari
masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan
dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas
kesehatan dan keluarga. berencana yang mempunyai nilai
strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini.
Yang dimaksud dengan nilai strategis untuk pengembangan
sumber daya manusia sejak dini yaitu dalam peningkat mutu
manusia di masa yang akan datang dan akibat dari proses
pertumbuhan dan perkembangan manusia ada 3 intervensi
yaitu :
1. Pembinaan kelangsungan hidup anak (Child Survival) yang
ditujukan untuk menjaga kelangsungan hidup anak sejak janin
dalam kandungan ibu sampai usia balita.
2. Pembinaan perkembangan anak (Child Development) yang
ditujukan untuk membina tumbuh/kembang anak secara
sempurna, baik fisik maupun mental sehingga siap menjadi

tenaga kerja tangguh.


3. Pembinaan kemampuan kerja (Employment) yang dimaksud
untuk memberikan kesempatan berkarya dan berkreasi dalam
pembangunan bangsa dan negara.
B. Manfaat Posyandu
1. Bagi masyarakat
a. Mendukung perbaikan perilaku, keadaan gizi dan kesehatan
keluarga sehingga:
1) Keluarga menimbang balitanya setiap bulan agar terpantau
pertumbuhannya.
2) Bayi umur 0-11 bulan memperoleh imunisasi Hepatitis B 4
kali, BCG 1 kali, Polio 4 kali, DPT 3 kali dan campak 1 kali.
3) Bayi 6-11 bulan memperoleh 1 kapsul vitamin A warna biru
(100.000 SI)
4) Anak 12-59 bulan memperoleh kapsul vitamin A warna
merah (200.000 SI) setiap 6 bulan (Februari dan Agustus)
b. Mendukung perilaku hidup bersih dan sehat
c. Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan dasar.
d. Mendukung pencegahan penyakit yang berbasis lingkungan
dan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
e. Mendukung pelayanan KB.
f. Memperoleh bantuan dalam pemecahan masalah kesehatan.
g. Efisiensi dalam mendapatkan pelayanan terpadu.
2. Bagi kader, pengurus Posyandu dan tokoh Masyarakat
a. Mendapatkan informasi tentang upaya kesehatan.
b. Dapat membantu masyarakat menyelesaikan masalah
kesehatan.
3. Bagi puskesmas
a. Sebagai pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat
pelayanan kesehatan S1.
b. Membantu masyarakat dalam pemecahan masalah
kesehatan.
c. Meningkatkan efisiensi waktu, tenaga dan dana dengan
pemberian pelayanan secara terpadu.
4. Bagi sektor lain

a. Lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan


masalah.
b. Meningkatkan efiseiansi pemberian pelayanan sesuai
tupoksi masing-masing.
C. Tujuan posyandu
1. Menurunkan angka kematian bayi, anak balita dan angka
kelahiran
2. Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan
IMR
3. Mempercepat penerimaan norma keluarga kecil sehat dan
sejahtera.
4. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk
mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan-kegiatan lain
yang menunjang kemampuan hidup sehat.
5. Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat dalam usaha meningkatkan cakupan penduduk dan
geografis
6. Peningkatan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam
rangka alih teknologi untuk swakelola usaha-usaha kesehatan
masyarakat.
7. Berfungsi sebagai Wahana Gerakan Reproduksi Keluarga
Sejahtera, Gerakan Ketahanan Keluarga dan Gerakan Ekonomi
Keluarga Sejahtera.

D. kegiatan-kegiatan posyandu
1. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
a. Ibu Hamil
Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu hamil mencakup:
1) Penimbangan berat badan dan pemberian tablet besi yang
dilakukan oleh kader kesehatan. Jika ada petugas Puskesmas
ditambah dengan pengukuran tekanan darah dan pemberian
imunisasi Tetanus Toksisoid. Bila tersedia ruang pemeriksaan,
ditambah dengan pemeriksaan tinggi fundus/usia kehamilan.
Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk ke Puskesmas.

2) Untuk lebih meningkatkan kesehatan ibu hamil, perlu


diselenggarakan Kelompok Ibu Hamil pada setiap hari buka
Posyandu atau pada hari lain sesuai dengan kesepakatan.
Kegiatan Kelompok Ibu Hamil antara lain sebagai berikut: a)
Penyuluhan: tanda bahaya pada ibu hamil, persiapan, persalinan,
persiapan menyusui, KB dan gizi. b) Perawatan payudara dan
pemberian ASI. c) Peragaan pola makan ibu hamil. d) Peragaan
perawatan bayi baru lahir. e) Senam ibu hamil.
b. Ibu Nifas dan Menyusui
Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu nifas dan menyusui
mencakup:
1) Penyuluhan kesehatan, KB, ASI dan gizi, ibu nifas,
perawatan kebersihan jalan lahir (vagina)
2) Pemberian vitamin A dan tablet besi
3) Perawatan payudara
4) Senam ibu nifas
5) Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dan tersedia ruangan,
dilakukan pemeriksaan payudara, pemeriksaan tinggi fundusdan
pemeriksaan lochia. Apabila ditemukan kelainan, segera dirujuk
ke Puskesmas.
c. Bayi dan Anak balita
Pelayanan Posyandu untuk balita harus dilaksanakan secara
menyenangkan dan memacu kreativitas tumbuh kembang anak.
Jika ruang pelayanan memadai, pada waktu menunggu giliran
pelayanan, anak balita sebaiknya tidak digendong melainkan
dilepas bermain sesama balita dengan pengawasan orang tua
dibawah bimbingan kader. Untuk itu perlu disediakan sarana
permainan yang sesuai dengan umur balita. Adapun jenis
pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk balita
mencakup: 1) Penimbangan berat badan. 2) Penentuan status
pertumbuhan. 3) Penyuluhan. 4) Jika ada tenaga kesehatan
Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi dan
deteksi dini tumbuh kembang. Apabila ditemukan kelainan,
segera dirujuk ke Puskesmas.
2. Keluarga Berencana (KB)
Pelayanan KB di Posyandu yang dapat diselenggarakan oleh
kader adalah pemberian komdom dan pemberian pil ulangan.

Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan suntikan KB,


dan konseling KB. Apabila tersedia ruangan dan peralatan yang
menunjang dilakukan pemasangan IUD.
3. Imunisasi
Pelayanan imunisasi di Posyandu hanya dilaksanakan apabila
ada petugas Puskesmas. Jenis imunisasi yang diberikan
disesuaikan dengan program, baik terhadap bayi dan balita
maupun terhadap ibu hamil.
4. Gizi
Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Sasarannya
adalah bayi, balita, ibu hamil dan WUS. Jenis pelayanan yang
diberikan meliputi penimbangan berat badan, deteksi dini,
gangguan pertumbuhan, penyuluhan gizi, pemberian PMT,
pemberian vitamin A dan pemberian sirup Fe. Khusus untuk ibu
hamil dan ibu nifas ditambah dengan pemberian tablet besi serta
kapsul Yodium untuk yang bertempat tinggal di daerah gondok
endemik. Apabila setelah 2 kali penimbangan tidak ada
kenaikan berat badan, segera dirujuk ke Puskesmas.
5. Pencegahan dan Penanggulangan Diare
Pencegahan diare di posyandu dilakukan antara lain dengan
penyuluhan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penanggulangan diare
di posyandu dilakukan antara lain penyuluhan, pemeberian
larutan gula garam yang dapat dibuat sendiri oleh masyarakat
atau pemberian oralit yang disediakan.
E. Pengelolaan dan Sasaran Posyandu
Sasaran posyandu adalah seluruh masyarakat / keluarga
terutama :
1. Bayi berusia kurang dari 1 tahun
2. Anak balita usia 1 sampai dengan 5 tahun
3. Ibu hamil
4. Ibu menyusui
5. Ibu nifas
6. Wanita usia subur.
Sesuai Inmendagri Nomor 9 Tahun 1990 tentang Peningkatan
Pembinaan mutu Posyandu ditingkat desa dan kelurahan sebagai

berikut :
a. Penanggungjawab umum : Ketua Umum LKMD
(Kades/Lurah).
b. Penggungjawab operasional: Ketua I LKMD (Tokoh
Masyarakat)
c. Ketua Pelaksana : Ketua II LKMD/Ketua Seksi 10 LKMD
( Ketua Tim Penggerak PKK).
d. Sekretaris : Ketua Seksi 7 LKMD
e. Pelaksana: Kader PKK, yang dibantu Petugas KB-Kes.
Selain itu terdapat Pokjanal Posyandu yang dibentuk disemua
tingkatan pemerintahan terdiri dari unsur Instansi dan Lembaga
terkait secara langsung dalam pembinaan Posyandu yaitu :
1) Tingkat Propinsi : BKKBN, BKKBN tingkat provinsi terdiri
dari PMD (Pembinaan Masyarakat Desa), Bappeda, dan Tim
Penggerak PKK.
2) Tingkat Kab/Kodya : Kantor Depkes/Kantor Dinkes,
BKKBN, PMD, Bappeda.
3) Tingkat Kecamatan : Tingkat Pembina LKMD Kec
( puskesmas, Pembina petugas Lapangan, KB, Kaur Bang
(Kepala Urusan Pembangunan), dan KPD (Kader Pembangunan
Desa)
F. Syarat-syarat terbentuknya Posyandu
Alasan Pendirian PosyanduPosyandu didirikan karena
mempunyai beberapa alasan sebagai berikut:
1. Posyandu dapat memberikan pelayanan kesehatn khususnya
dalam upaya pencegahan penyakit dan PPPK sekaligus dengan
pelayanan KB.
2. Posyandu dari masyarakat untuk masyarakat dan oleh
masyarakat, sehingga menimbulkan rasa memiliki masyarakat
terhadap upaya dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana
(Effendi, 1998).
Penyelenggara Posyandu
a. Pelaksana kegiatan, adalah anggota masyarakat yang telah
dilatih menjadi kader kesehatan setempat dibawah bimbingan
Puskesmas
b. Pengelola posyandu, adalah pengurus yang dibentuk oleh

ketua RW yang berasal dari keder PKK, tokoh masyarakat


formal dan informal serta kader kesehatan yang ada di wilayah
tersebut (Effendi, 1998).
G. Pengorganisasian Posyandu
1. Struktur Organisasi
Struktur organisasi Posyandu ditetapkan oleh musyawarah
masyarakat pada saat pembentukan Posyandu. Struktur
organisasi tersebut bersifat fleksisibel, sehingga dapat
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, kondisi, permasalahan
dan kemampuan sumberdaya. Struktur organisasi minimal
terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara dan kader Posyandu
yang merangkap sebagai anggota.
Beberapa Posyandu yang ada di suatu wilayah (kelurahan/desa
atau dengan sebutan lain), selayaknya dikelola oleh suatu
unit/kelompok pengelola Posyandu yang keanggotaannya dipilih
dari kalangan masyaraka setempat. Unit pengelolaan Posyandu
tersebut dipimpin oleh seorang ketua, yang dipilih dari 16 para
anggotanya. Bentuk organisasi Unit Pengelola Posyandu, tugas
dan tanggung jawab masing-masing unsur pengelola Posyandu,
disepakati dalam unit/kelompok Pengelola Posyandu bersama
masyarakat setempat.
2. Pengelolaan Posyandu
Pengelolaan Posyandu dipilih dari dan oleh masyarakat pada
saat musyawarah pembentukan Posyandu sekurang-kurangnya
terdiri dari seorang ketua, seorang sekretaris dan seorang
bendahara. Kriteria pengelola Posyandu antara lain sebagai
berikut:
a. Diutamakan berasal dari para dermawan dan tokoh
masyarakat setempat.
b. Memiliki semangat pengabdian, berinisiatif tinggi dan
mampu memotivasi masyrakat.
c. Bersedia bekerja secara sukarela bersama masyarakat.
3. Kader Posyandu
Kader di Indonesia merupakan sosok insan yang menarik
perhatian khalayak. Kesederhanaannya dan asalnya yang dari
masyarakat setempat, telah membuat kader begitu dekat dengan

masyarakat. Keberadaannya yang selalu dekat dengan


masyarakat membuat alih pengetahuan dan olah keterampilan
dari kader kepada tetangganya demikian mudah. Kedekatannya
dengan petugas puskesmas telah membuat mereka menjadi
penghubung yang andal antara petugas kesehatan dengan
masyarakat.
Profil kader yang dikenal adalah kader posyandu. Melejitnya
jumlah dan peran posyandu dalam keberhasilan program
keluarga berencana dan kesehatan, telah turut mengangkat
kepopuleran kader posyandu di Indonesia. Peran PKK (pembina
kesejahteraan keluarga) dalam kader ini sangat besar, karena
hampir seluruhnya kader posandu atau kader PKK adalah
wanita. Tim penggerak PKK dari mulai tingkat pusat, provinsi,
kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan, selalu berupaya
melakukan penggerakan dan pembinaan intensif terhadap kader
PKK yang menjadi tulang punggung kegiatan posyandu.
4. Pembentukan
Posyandu dibentuk oleh masyarakat desa/kelurahan dengan
tujuan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama
KIA, KB, imunisasi, gizi, dan penanggulangan diare kepada
masyarakat setempat. Satu Posyandu melayani sekitar 80-100
balita. Dalam keadaan tertentu, seperti lokasi geografis,
perumahan penduduk yang terlalu berjauahan, dan atau jumlah
balita lebih dari 100 orang, dapat dibentuk Posyandu baru.
Langkah-langkah pembentukan Posyandu dapat dilakukan
dengan berbagai pendekatan, salah satunya adalah melalui
pendekatan PKMD, dengan tahapan sebagai berikut:
a. Pendekatan Internal (Penyiapan Petugas) Tujuan pendekatan
internal adalah mempersiapkan para petugas/aparat, sehingga
bersedia dan memiliki kemampuan mengelola serta membina
Posyandu.
b. Pendekatan Eksternal (penyaiapan Steakholder/Pemangku
Kepentingan) Tujuan pendekatan ekternal adalah
mempersiapkan masyarakat, khususnya tokoh masyarakat,
sehingga bersedia pendukung penyelenggaraan Posyandu.
c. Survei Mawas Diri (SMD) Tujuan SMD adalah
menimbulakan rasa memiliki masyarakat ( sense of belonging )

melalui penemuan sendiri masalah yang dihadapi serta potensi


yang dimiliki. SMD dilakukan oleh masyarakat sendiri dengan
bimbingan petugas Puskesmas, aparat pemerintah
desa/kelurahan, dan Konsil Kesehatan Kecamatan (jika sudah
terbentuk).
d. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) Inisiatif
penyelenggaraan MMD adalah para tokoh masyarakat yang
mendukung pembentukan Posyandu atau Konsil Kesehatan
Kecamatan (jika telah terbentuk). Peserta MMD adalah anggota
masyarakat setempat. Materi pembahasan adalah hasil SMD
serta data kesehatan lainnya yang mendukung.Hasil yang
diharapkan dari MMD adalah ditetapkannya daftar urutan
masalah dan upaya keseatan yang akan dilakukan, yang
disesuaikan dengan konsep Posyandu.
e. Pembentukan dan Pemantauan Kegiatan Posyandu
Pembentukan dan pemantauan kegiatan Posyandu dilakukan
dengan kegiatan sebagai
5. Kedudukan Posyandu
a. Kedudukan Posyandu terhadap Pemerintahan
Desa/Kelurahan adalah instansi pemerintah yang bertanggung
jawab menyelenggarakan pembangunan di desa/kelurahan.
Kedudukan Posyandu terhadap pemerintahan desa/kelurahan
adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang
kesehatan yang secara kelembagaan dibina oleh pemeerintah
desa/kelurahan.
b. Kedudukan Posyandu terhadap Pokja Posyandu Pokja
Posyandu adalah kelompok kerja yang dibentuk di
desa/kelurahan, yang anggotanya terdiri dari aparat
pemerintahan desa/kelurahan dan tokoh masyarakat yang
bertanggung jawab membina Posyandu. Kedudukan Posyandu
terhadap Pokja adalah sebagai satuan organisasi yang mendapat
binaan aspek administratif, keuangan, dan program dari pokja.
c. Kedudukan Posyandu terhadap Berbagai UKBM adalah
bentuk umum wadah pemberdayaan masyarakat dibidang
kesehatan, yang salah satu diantaranya adalah Posyandu.
Kedudukan Posyandu terhadap UKBM dan pelbagai lembaga
kemasyarakatan/LSM desa/kelurahan yang bergerak di bidang

kesehatan adalah sebagai mitra.


d. Kedudukan Posyandu terhadap Konsil Kesehatan
Kecamatan Konsil kesehatan kecamatan adalah wadah
pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan yang dibentuk
dari, oleh dan untuk masyarakat dikecamatan yang berfungsi
menaungi dan mengkoordinir setiap Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). Kedudukan Posyandu
terhadap Konsil Kesehatan Kecamatan adalah sebagai satuan
organisasi yang mendapatkan arahan dan dukungan sumberdaya
dari Konsil Kesehatan Kecamatan.
e. Kedudukan Posyandu terhadap Puskesmas adalah unit
pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang
bertanggung jawab melaksanakan pembangunan kesehatan di
kecamatan. Kedudukan Posyandu terhadap Puskesmas adalah
sebagai wadah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan
yang secara teknis medis dibina oleh Puskesmas.
H. Dasar pelaksanaan posyandu
Surat keputusan bersama Mendagri/Menkes/BKKBN. Masingmasing No.23 tahun 1985. 21/Men.Kes/Inst.B./IV 1985,
1I2/HK-011/ A/1985 tentang penyelenggaraan Posyandu yaitu :
1.
Meningkatkan kerja sama lintas sektoral untuk
menyelenggarakan Posyandu dalam lingkup LKMD dan PKK.
2.
Mengembangkan peran serta masyarakat dalarn
meningkatkan fungsi Posyandu serta meningkatkan peran serta
masyarakat dalam program-program pembangunan masyarakat
desa.
3. Meningkatkan fungsi dan peranan LKMD PKK dan
mengutamakan peranan kader pembangunan.
4. Melaksanakan pembentukan Posyandu di wilayah/ di daerah
masing-masing dari melaksanakan pelayanan paripurna sesuai
petunjuk Depkes dan BKKBN.
5. Undang-undang no. 23 tahun 1992 pasal 66 , dana sehat
sebagai cara penyelenggaraan dan pengelolaan pemeliharaan
kesehatan secara paripurna.

I. Jenis-jenis posyandu
1. Posyandu Pratama (warna merah)
Posyandu tingkat pratama adalah posyandu yang masih belum
mantap, kegiatannya belum bisa rutin tiap bulan dan kader
aktifnya terbatas. Keadaan dinilai gawat, sehingga intervensinya
adalah pelatihan kader ulang. Artinnya kader yang ada perlu
ditambah dan dilakukan pelatihan dasar lagi.
2. Posyandu Madya (warna kuning)
Posyandu pada tingkat madtya sudah dapat melaksanakan
kegiatan lebih dari 8 kali pertahun, dengan rata-rata jumlah
kader tugas 5 orang atau lebih. Akan tetapi cakupan program
utamanya (KB, KIA, Gizi dan Imunisasi) masih rendah, yaitu
kurang dari 50%. Ini berarti, kelestarian kegiatan posyandu
sudah baik tetapi masih rendah cakupannya. Untuk ini perlu
dilakukan penggerakkan masyarakat secara intensif,serta
penambahan program yang sesuai dengan situasi dan kondisi
setempat. Intervensi untuk posyandu madya ada 2 yaitu :
a. Pelatihan Toma dengan modul ekskalasi Posyandu yang
sekarang sudah dilengkapi dengan metoda stimulasi.
b.Penggarapan dengan pendekatan PKMD (SMD dan MMD)
untuk menentukan masalah dan mencari penyelesaiannya,
termasuk menentukan program tambahan yang sesuai dengan
situasi dan kondisi setempat.
3. Posyandu Purnama (warna hijau)
Posyandu pada tingkat purnama adalah Posyandu yang
frekuensinya lebih dari 8 kali pertahun, rata-rata junlah kader
tugas 5 orang atau lebih, dan cakupan 5 program utamanya (KB,
KIA, Gizi dan imunisasi) lebih dari 50%. Sudah ada program
tambahan, bahkan mungkin sudah ada Dana Sehat yang masih
sederhana.
Intervensi posyandu tingkat ini adalah :
a. Penggarapan dengan pendekatan PKMD, untuk
mengarahkan masyarakat menentukan sendiri pengembangan
program di Posyandu.
b. Pelatihan Dana Sehat, agar di desa tersebut dapat tumbuh
dana sehat yang kuat, dengan cakupan anggota minimal 50% kk
atau lebih.

4. Posyandu Mandiri (warna biru)


Posyandu ini berarti sudah dapat melakukan kegiatan secara
teratur, cakupan 5 program utama sudah bagus, ada program
tambahan dan dana sehat, telah menjangkau lebih dari 50% KK.
Untuk Posyandu tingkat ini, intervensinya adalah pembinaan
Dana Sehat, yaitu diarahkan agar Dana Sehat tersebut
menggunakan prinsip JPKM.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Posyandu Adalah suatu forum komunikasi, alih tehnologi dan
pelayanan kesehatan masyarakat yang mempunyai nilai strategis
untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini.
(Ambarwati Retna, 2009). Tujuan Posyandu yaitu Menurunkan
angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran,
Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu, Mempercepat
penerimaan norma keluarga kecil sehat dan sejahtera,
Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan
kegiatan kesehatan, Pendekatan dan pemerataan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat . Kegiatan Posyandu Kesehatan
Ibu dan Anak,Keluarga Berencana,Immunisasi, Peningkatan
gizi,Penanggulangan Diare.
B. Saran
Sebagai seorang tenaga kesehatan yang bertanggung jawab

terhadap profesinya, maka agar lebih memberikan penyuluhan


maupun pelatihan yang berkualitas bagi kader-kadernya
khusunya kader yang akan ditempatkan diposyandu dengan
tujuan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya
dalam hal kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Dapartemen kesehatan RI, 2006. "Pedoman Umum Pengelolaan
Posyandu".
Jakarta
Departemen kesehatan RI. 2006. "Buku Kader Posyandu Dalam
Usaha Perbaikan
Gizi Keluarga". Jakarta.
DinkesBonbol.2008.http://dinkesbonebolango.org/index2.php?
option=com_conte nt&do_pdf=1&id=193 (diakses pada 30
Oktober 2014)
Effendy, Nasrul. 1998. "Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan
Masyarakat".
Jakarta: GC.
http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/5FIKESS1KESMAS/207313
007/BAB%20II.
pdf
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. "Buku
Panduan Kader Posyandu
Menuju Keluarga Sadar Gizi".
Direktorat Bina Gizi.
Kependudukan dan Biostatik FKM USU. "Posyandu Sebagai
Sarana Peran Serta
Masyarakat dalam UPKM". Dalam
http://www.library.usu.ac.id.

Notoatmodjo, Soekidjo. "Ilmu Kesehatan Masyarakat". Jakarta:


PT. Rineka Cipta