Anda di halaman 1dari 6

PENATALAKSANAAN

PENEMUAN PASIEN ISPA DI


PUSKESMAS
INTRUKSI NO Kode :
KERJA
Terbitan
: 2014
No. Revisi :
Tanggal mulai
berlaku
01 Januari 2014
Halaman : 1 -7
INPUT
Man :
Medis,Paramedis
Money :

PENANGGUNG JAWAB
Disiapkan
Unit

ENIK K
Diperiksa

Pelayanan
Kesehatan

PROSES
1. Anamnese

Umum sesuai PERDA

KK miskin dg BPJS

ASKES

Stetoskop

Jam dengan detikan

Arit temer

Timbangan

Termometer

Alkohol 70%

Kartu CM/status

Bagan penatalaksanaan
batuk dg kesulitan
bernafas

Metode :
-

Anamnese

Pemeriksaan fisik

Pencatatan pada status

Menulis resep

Konseling

Memasukkan rawat jalan

Machine :
-

Sarana Transportasi

Tabung O2

19700609200212
2 002

OUT PUT
1. Anamnese lengkap

3. Menetukan diagnose

2. Mendapatkan

diagnose dan merujuk bila perlu


5. Menulis resep

pemeriksaan fisik
3. Hasil pemeriksaan
sesuai indikasi

6. Konseling

4. Diagnosa tepat

7. Memasukan ke status

5. Tindakan rasional

8. Memasukan ke buku rawat jalan

Material :

Dr. Yuniar

2. Melaksanakan pemeriksaan fisik


4. Melaksanakan tindakan sesuai

Disahkan
Kapuskesmas

sesuai diagnosa
6. Menulis resep obat
yang rasional
7. Pasien memahami
informasi tentang
ISPA

PROSEDUR
PENATALAKSANAAN
PASIEN TUBERKOLOSIS

NO.

I.

Terbit ke ..

Disyahkan oleh
Kepala Puskesmas.

Dr. Yuniar
19700609 200212 2 002
Tanggal

TUJUAN
Prosedur penatalaksanaan pasien ISPA adalah menurunkan angka kematian dan
kesakitan serta mencegah penularan dengan cara menyembuhkan pasien.

II.

RUANG LINGKUP
Dokter
Perawat
Bidan
Sarana dan prasarana

III.

LANGKAH LANGKAH
1. Petugas melakukan penjaringan tersangka pasien di unit pelayanan kesehatan
2. Petugas menanyakan tentang :
Identitas pasien (nama,umur,alamat)
Gejala batuk berdahak sudah berapa lama
Gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah,batuk darah,sesak
nafas,badan lemas,nafsu makan menurun,berat badan
menurun,malaise,berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik,demam
meriang lebih dari satu bulan.
Adakah riwayat pengobatan TB sebelumnya atau keluarga dengan
gejala yang sama.
3. Petugas melakukan pemeriksaan dahak mikroskopis Sewaktu , Pagi
,Sewaktu ( SPS )
4. Petugas melakukan pemeriksaan lain seperti foto thorak,biakan dan uji
kepekaan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.
5. Petugas mengklasifikasi penyakit dan tipe pasien:
a. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:
-Tuberkolosis paru
-Tuberkolosis ekstra paru
b. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis:
-BTA positif
-BTA negatif

c. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit:


d. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya:
-Baru
-Kambuh (Relaps)
-Pengobatan setelah putus berobat (Default)
-Gagal (Failure)
-Pindahan (Transfer In)
-Lain-lain (Semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas.Dalam
kelompok ini termasuk Kasus Kronik,yaitu pasien dengan hasil
pemeriksaan masih BTA positifsetelah selesai pengobatan ulangan.
6. Petugas melakukan pengobatan tuberkolosis.
7. Petugas melakukan dokumentasi.
IV.
V.

FLOW CARD ( Terlampir )


DOKUMEN TERKAIT
- Buku bantu
- Register
- dokumentasi

EVALUASI KINERJA

NO
1.

KINERJA YANG DINILAI

YA

TIDAK

TIDAK
BERLAKU

Menemukan pasien Suspek


TB Paru

2.

Melakukan anamnesa

3.

Melakukan pemeriksaan
dahak mikroskopik - Sewaktu
,Pagi ,Sewaktu (SPS)

Menegakkan Diagnosis TB
Paru

Mengklasifikasikan penyakit
dan tipe pasien :
-

Lokasi atau organ


tubuh yang
sakit :paru atau
ekstra paru;

Bakteriologi
(hasil
pemeriksaan
dahak secara
mikroskopis)
:BTA positif atau
BTA negatif;

Tingkat
keparahan
penyakit:ringan
atau berat;

Riwayat
pengobatan TB
sebelumnya: baru
atau sudah
pernah diobati

Melakukan pengobatan TB
Paru

Melakukan dokumentasi

ALUR DIAGNOSIS TB PARU

Suspek TB Paru
Hasil BTA
+++
++-

Hasil BTA

- - - Ada perbaikan
Pemeriksaan
Tidak ada perbaikan Antibiotik
Hasil BTA
dahak mikroskopis
+-SPS
Non - OAT

Pemeriksaan
dahak
mikroskopis
Hasil BTA
+++
+++- -

Hasil BTA
---

Foto thoraks dan


pertimbangan
dokter
TB
BUKAN
TB

HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN


1. Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter.
2. Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya seperti Asma,
Sinusitis dan lain-lain.
3. Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit), pasien dapat langsung
didiagnosis tuberkolosis.
4. Berat badan dinilai saat pasien datang(moment opname),lampirkan tabel berat badan.
5. Foto thorak bukan alat diagnostik utama pada TB anak.
6. Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyuntikan) harus
dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.
7. Anak didagnosis TB jika jumlah skor > 6 (skor maksimal 13).
8. Pasien usia balita yang mendapat skor 5 ,dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut.

Referensi

1. Departemen

Kesehatan

Tuberkolosis, Edisi 2,2008.

Republik

Indonesia,

Pedoman

Nasional

Penanggulangan