Anda di halaman 1dari 6

HUKUM ALAM DALAM PENCIPTAAN GUNUNG

A. GUNUNG
Menurut Van Zuidam,1985 gunung merupakan daratan yang memiliki ketinggian
antara 500-1000 m. Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa gunung adalah daratan
yang memiliki ketinggian di atas 500 m.
Gunung adalah bagian bumi yang menonjol tinggi dengan ketinggian puncaknya di
atas 600 m. Gunung dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Gunung berapi
Gunung berapi terbentuk oleh lapisan material yang keluar dari perut bumi.
Gunung berapi yang masih hidup atau aktif gejala yang tampak adalah timbulnya
ledakan atau letusan. Kegiatan gunung berapi diawasi oleh Jawatan Geologi.
Jawatan ini memiliki alat pencatat gempa bumi yang disebut seismograf.
Beberapa bentuk gunung api, yaitu : gunung api kerucut (strato), gunung api
Landai (Maar) dan gunung api Perisai (tameng). Bentuk ini
dipengaruhi oleh letak dapur magma dan sifat magma yang keluar dari perut
bumi.
2. Gunung tidak berapi
Gunung tidak berapi merupa-kan gunung yang sudah tidak aktif lagi. Gunung
tidak berapi sangat kecil kemungkinan untuk meletus. Gunung tidak berapi sering
juga disebut gunung mati. Contoh gunung tidak berapi adalah Gunung Muria
(Jawa Tengah), Gunung Tambora (NTB), dan Gunung Melawan (Kalimantan
Tengah).
Gunung terdiri dari tiga bagian. Yaitu puncak, lereng dan kaki gunung. Tanah
yang berada di sekitar gunung sangat subur. Mengapa bisa demikian?
Karena mengandung fosfor dan silika yang berasal dari letusan gunung. Hal ini
menyebabkan lereng dan kaki gunung banyak ditumbuhi pohon-pohon lebat dan
cocok untuk kegiatan perkebunan.
Gunung memiliki manfaat bermacam-macam, antara lain:
- gunung dapat dijadikan sebagai tempat rekreasi,
- material letusan gunung api dalam waktu lama dapat menyuburkan tanah,
pasirnya dapat untuk bahan bangunan,
- gunung sebagai pengatur iklim dan penyimpan air, serta
- keluarnya magma menyebabkan terangkatnya barang tambang ke muka bumi.
B. PENCIPTAAN GUNUNG
Gunung diciptakan dengan tujuan sebagai penyeimbang bumi, yang menjadi paku
penyatu lempeng-lempeng bumi, sebagai tiangnya antara bumi dan langit.

Dan gunung-gunung (sebagai) pasak (ayat 7). Dalam ayat ini juga dijelaskan bahwa
penciptaan gunung bertujuan sebagai pasak, tiang yang menyangga dan sebagai
penyeimbang antara bumi dan langit agar keduanya bisa tetap tegak.Jika gunung tak
ada, bumi tidak akan selamat dan tidak akan terbentang dengan baik. Karena angin
selalu berhembus keras, membongkar urat dari kayu-kayu yang tumbuh sebagai
keperluan hidup itu. Dengan adanya gunung-gunung sebagai pasak itu, kokohlah
hidup manusia. Pada intinya hikmah adanya gunung sama dengan tujuan penciptaan
gunung.
C. SIFAT-SIFAT GUNUNG
1. Menjulang tinggi
Dan Dia menetapkan di dalamnya gunung-gunung yang menjulang di atas
permukaannya dan memberkatinya dengan berlimpah-limpah dan Dia
menyediakan di dalamnya kadar makanan-makanan dalam empat periode sama
rata bagi semua pencahari. (QS. Al-Fussilat:10)
Pada ayat ini diterangkan kebagusan penciptaan dan hukum-hukum yang berlaku
pada bumi yang diciptakan Nya itu. Dia telah menjadikan gunung-gunung di
permukaan bumi, ada yang tinggi, ada yang sedang, ada yang merupakan dataran
tinggi saja, ada yang berapi dan ada pula gunung itu merupakan pasak atau paku
bumi.
Dengan adanya gunung, permukaan bumi menjadi indah, ada yang tinggi dan ada
yang rendah. Tumbuh-tumbuhan pegunungan pun berbeda dengan tumbuhtumbuhan yang ada di dataran rendah demikian pula binatang-binatangnya.
Dengan adanya gunung-gunung, maka ada pula sungai-sungai yang mengalir dari
dataran tinggi kedataran rendah, dan akhirnya bermuara ke laut, seakan-akan
gunung itu merupakan tempat penyimpanan air, yang terus menerus mengalir
memenuhi keperluan manusia.
Jika di permukaan bumi ini tidak ada gunung-gunung yang menghijau, bukit-bukit
yang berbaris, lembah dan jurang yang di aliri sungai-sungai, padang rumput dan
padang pasir, tentulah keadaan bumi ini lain dari keadaan yang sekarang ini.
Betapa hambarnya hidup di dunia seandainya bumi ini merupakan dataran yang
datar terhampar saja, sesayup-sayup mata memandang, hanya terdapat dataran
yang luas saja.

Selanjutnya Allah SWT menerangkan bahwa Dia menciptakan bumi ini sebagai
tempat yang penuh keberkatan bagi manusia, dan keperluan makhluk-makhluk
lain.
2. Tegak
Dalam QS. Hijr : 19
Dan Kami telah membentangkan bumi ini dan Kami tegakkan gunung-gunung
yang kokoh di dalamnya dan juga Kami tumbuhkan di dalamnya segala sesuatu
dengan perimbangan yang tepat. (QS.15 Al-Hijr:19)
Maksudnya, bumi diciptakan dengan bentuk permukaan yang sangat luas agar
manusia dan hewan seluruhnya dapat tinggal di berbagai belahan bumi dan
memperoleh rezekinya. Dan gunung yang menancap tegak di bumi sebagai
penyeimbang sangat berperan untuk membantu mencega goncangan dahsyat,dan
di sana juga terdapat rizki Allah yang sangat banyak, misalnya ada beberapa
tumbuhan yang hanya bisa tumbuh di pegunungan, seperti sayur-mayur tertentu,
buah-buahan, teh dan lain sebagainya.
D. Keadaan Gunung Sekarang
Banyak gunung api yang telah meletus, dampak jangka pendeknya merugikan
manusia dan hewan yang hidup di sekitarnya. Namun, dampk jangka panjangnya
dapat menguntungkan, misalnya menyuburkan tanh di sekitarnya, sehingga banyak
masyarakat yang memanfaatkannya untuk bertani atau berkebun.
Sekarang juga banyak manusia yang memanfaatkan gunung dengan mengeruk
tambang seenaknya demi kepuasan duniawi.
Surat Ar-Rum ayat 41 :
Artinya : Telah nyata kerusakan di darat dan di laut dari sebab perbuatan tangan
manusia, supaya mereka deritakan setengah dari apa yang mereka kerjakan, mudahmudahan mereka kembali.
QS. Ar-Rum ayat 41 menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi tidak lain karena
ulah manusia itu sendiri yaitu melalkukan peperangan di luar koridoridor syariat allah.
dalam peperangan itu manusia membunuh manusia yang oleh Allah dilindungi hak
hidupnya, bahkan merusak segala tatanan alam yang ada.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 11-12 :
Dan apabilah dikatakan kepada mereka : Janganlah kamu berbuat kerusakan di
bumi , mereka jawah : tidak lain kerja kami, hanyalah berbuat
kebaikan. (ayat 11)

Dengan lempar batu sembunyi tangan mereka berusaha menghalang-halangi


perbaikan, pembangunan rohani dan jasmani yang sedang dijalankan oleh Rasul dan
orang-orang yang beriman. Hati mereka sakit melihatnya, lalu mereka buat sikap lain
secara sembunyi untuk menentang perbaikan itu. Kalau ditegur secara balk, jangan
begitu, mereka jawab bahwa rnaksud mereka adalah baik. Mereka mencari jalan
perbaikan atau jalan yang damai. Lidah yang tak bertulang pandai saja menyusun kata
yang elok-elok bunyinya padahal kosong isinya.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya niereka itu perusak perusak, akan tetapi mereka
tidak sadar. (ayat 12).
Dengan cara diam-diam munafik Yahudi telah mencari daya upaya bagaimana supaya
rencana Nabi kandas. Orang-orang Arab dusun yang belum ada kepercayaan, kalau
datang ke Madinah, kalau ada kesempatan, mereka bisikan, mencemoohkan Islam.
Padahal sejak Nabi datang ke Madinah, telah diikat janji akan hidup berdampingan
secara damai. Mereka tidak sadar bahwa perbuatan mereka itu merusak dan
berbahaya, terutama kepada kedudukan mereka sendiri, sebab Islam tidak akan lemah
tetapi akan bertambah kuat.
Kalau ditanyakan, mereka menyatakan bahwa maksud mereka baik, mencari jalan
damai. , jelaslah bahwa perbuatan mereka yang amat berbahaya itu tidak mereka
sadari, karena hawa-nafsu belaka. Nafsu yang pantang kerendahan. Kalau mereka
berpegang benar-benar dengan agama mereka, agama Yahudi, tidaklah mungkin
mereka akan berbuat demikian. Tetapi setelah agama menjadi satu
macam Taashshub, membela golongan, walaupun dengan jalan yang salah, tidaklah
rnereka sadari lagi apa akibat dari pekerjaan mereka itu.
Dan dalam hal ini kadang-kadang mereka berkumpul jadi satu dengan munafik
golongan Abdullah bin Ubai. Ayat ini sudah menegaskan. Ala ! Ketahuilah !
Sesungguhnya mereka itu perusak-perusak semua. Tetapi mereka tidak sadar. Ayat ini
telah membayangkan apa yang akan kejadian di belakang, yang akan membawa
celaka bagi diri mereka sendiri. Mereka tidak menyadari akibat di belakang.

Nampak di sini bahwa yang salah ialah pimpinan yang cerdik, yang memikirkan lebih
jauh di antara mereka. Ayat yang selanjutnya menunjukkan benar-benar bagaimana isi
jiwa mereka yang sebenarnya, sehingga timbul perangai munafik itu.
E. KEADAAN GUNUNG SAAT HARI KIAMAT
Keadaaan gunung saat hari kiamat terdapat dalam QS. Al-Qariah : 5
(Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan) atau bagaikan
wool yang terhambur-hamburkan, karena ringannya, sehingga jatuh kembali rata
dengan tanah )
Sedangkan gunung, makhluk bisu dan keras itu, maka ia seperti bulu yang dihamburhamburkan, yang wujudnya lemah sekali, bisa diterbangkan oleh hembusan angin
yang lemah, dan setelah itu, menjadi debu yang beterbangan, kemudian mengecil dan
hilang tidak kelihatan.
Dan adalah gunung-gunung seperti bulu yang dihamburkan. (ayat 5). Tegaslah
dalam ayat ini, dan disebutkan juga dalam ayat yang lain bahwa gunung tidak ada
artinya lagi sebagai pemagar angin yang akan menyapu muka bumi. Gempa bumi itu
ada hubungannya dengan letusan yang ada di dalam perut bumi. Lahar meletus
bersama api dari puncak kepundan gunung-gunung yang berapi selama ini, dan
gunung-gunung lain yang selama ini kelihatan tidak berapi. Lahar yang panas itu
melonjak bertebar dan mengalir laksana bulu yang dihamburkan.
F. HIKMAH PENCIPTAAN GUNUNG
Banyak sekali hikmahnya, yaitu di jelaskan dalam Al-Quran surah An-naba ayat 6-7
(6) bukankah kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan ?
Maksud dari : Bukankah telah Kami jadikan bumi itu terbentang? (ayat 6). Bumi
terbentang suatu ungkapan yang Maha Indah dari Allah sendiri. Boleh juga disebut
bumi terhampar, laksana menghamparkan permadani, yang kamu Insan diberi tempat
yang luas buat hidup di atas bumi yang dibentangkan itu. Untuk siapa bumi itu, kalau
bukan untuk kamu? Dan segala yang ada di dalamnya pun boleh kamu ambil
faedahnya. Maka dalam kata-kata mihaada, yang kita artikan terbentang itu terasalah
satu penyelenggaraan dan satu persilahan: ambilah faedahnya.
(7) dan gunung-gunung sebagai pasak ?. (Q.S an-naba (78) : 6-7)

Dan gunung-gunung (sebagai) pancang-pancang. (ayat 7). Dijelaskanlah pada ayat


ini kegunaan gunung. Kalau gunung tak ada, bumi tidak akan selamat dan tidak akan
terbentang dengan baik. Karena angin selalu berhembus keras akan membongkar urat
dari kayu-kayu yang tumbuh sebagai keperluan hidup itu. Dengan adanya gununggunung sebagai pancang itu, kokohlah hidup manusia. Dan misalnya habislah kayukayuan yang tumbuh di lereng gunung, ketika hujan turun meluncurlah tanah, dan
keringlah bumi yang terbentang itu karena tidak ada yang menghalanginya lagi dan
terhalanglah hidup, karena erosi.
Dan dalam surah An-Nahl : 15
Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama
kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat
petunjuk, (An-Nahl: 15)