Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tindakan perawat yang dulu berorientasi pada tindakan medis dan berperan
sebagai penunjang pelayanan medis sekarang mulai berubah ke pelayanan yang
profesional, mempunyai bidang garap yang jelas dan mempunyai otonomi dalam
melaksanakan asuhan keperawatan. Sebagai perawat profesional yang berdaya dan
berhasil guna, maka perawat dituntut untuk mampu dan ikhlas memberikan pelayanan
yang bermutu, dengan memelihara dan meningkatkan integritas sifat-sifat pribadi
yang luhur, dengan ilmu dan keterampilam yang memadai, serta dengan kesadaran
bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan bagian dari peran perawat profesional
yang mengupayakan kesehatan secara penuh dan menyeluruh (Mubarak, 2009).
Perawat

berjuang

untuk

meningkatkan

tingkat

pendidikan

dalam

rangka

meningkatkan profesionalisme (Sciortino, 2008).


Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, maka
perawat kesehatan dituntut mampu memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik
bagi masyarakat. Peran perawat adalah sebagai pelaksana pelayanan keperawatan,
pengelola

pelayanan

keperawatan

dan

institusi

pendidikan,

peneliti,

serta

pengembang keperawatan. Perawat akan menghadapi individu yang unik dalam


memberikan pelayanan kesehatan. Perawat diharapkan mampu menganalisa secara
teoritis faktor yang ada dalam setiap situasi dan mengambil keputusan yang tepat.

Agar dapat melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan tersebut, perawat harus dapat
melakukan pendekatan dengan klien, sehingga dapat tercapai perawatan yang
bermutu dalam memenuhi kebutuhan klien melalui proses perawatan secara
mendalam (Mubarak, 2009).
Penilaian kompetensi kritis asuhan keperawatan komunitas, meliputi penilaian
aspek pengetahuan (knowledge), penilaian aspek sikap (attitude) dan penilaian aspek
keterampilan (Achjar, 2010). Menurut Moore dan Patricia (2004), pengetahuan
merupakan landasan utama dan penting bagi tenaga kesehatan dalam pelaksanaan
pelayanan kesehatan. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang memiliki tanggung
jawab utama dalam pelayanan keperawatan serta pelaksanaan asuhan keperawatan
yang holistik dan komprehensif dituntut memiliki pengetahuan yang tinggi dalam
profesi keperawatan. Sikap yang dimiliki perawat merupakan respon batin yang
timbul dan diperoleh berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Azwar (2005)
mengatakan bahwa pengetahuan dan sikap akan sangat mempengaruhi perilaku
seseorang (Anonymous, 2009). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
nomor 836/MENKES/SK/2005 memaparkan salah satu tujuan khususnya adalah
peningkatan pengetahuan dan keterampilan perawat (Depkes RI, 2005).
Pemerintah menjadikan puskesmas sebagai ujung tombak utama pelayanan
kesehatan pada masyarakat. Puskesmas adalah suatu unit pelaksana fungsional yang
berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan partisipasi
masyarakat dalam bidang kesehatan, serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama
yang menyelenggarakan kegiatan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan

pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu.
Puskesmas juga mampu menjadi tempat pelayanan kesehatan pilihan utama
masyarakat, karena dekat dengan tempat tinggal dan murah dari segi pembiayaan
(Mubarak, 2009). Perawat merupakan tenaga kesehatan terbanyak (47,28%) dari
seluruh tenaga kesehatan di daerah, dari jumlah tersebut, 46,84% bekerja di
puskesmas dan merupakan tenaga kesehatan terdepan yang memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat sehingga kinerja perawat puskesmas turut menentukan
kinerja puskesmas secara keseluruhan. Sebagian besar (69%) perawat puskesmas
masih berpendidikan SPK dan 31% berpendidikan D3 Keperawatan (Depkes RI,
2006).
Program perkesmas sudah dilaksanakan oleh 61% puskesmas di seluruh
Indonesia, sedangkan di Bali terdapat 98,2% terdapat program puskesmas. Di Bali
jumlah perawat yang bekerja di puskesmas dengan jenjang pendidikan SPK adalah
523 orang , pendidikan D3 sebanyak 602, S1 sebanyak 36 orang (Rifaskes,2011).
Ada 4 program perkesmas yang dilakukan Puskesmas antara lain, konsultasi
perawatan di dalam gedung puskesmas, kunjungan rumah kepada keluarga rawan
kesehatan dan kunjungan dan pembinaan kepada kelompok resiko tinggi . persentase
kegiatan konsultasi keperawatan di dalam gedung secara nasional adalah 46,3%
sedangkan di Bali 70,2%. Presentase kunjungan rumah kepada keluarga rawan
kesehatan secara nasional adalah 51,9%, sedangkan di bali 93,9%. Presentase
kegiatan kunjungan dan pembinaan kepada kelompok reisiko tinggi secara nasional
adalah 46,6% sedangkan di Bali 71,9%.

Presentase kegiatan kunjungan dan pembinaan kepada masyarakat rentan secara


nasional adalah 43,7% ,sedangkan di Bali 72,8%. Presentase puskesmas tertinggi
yang memiliki pelaksana perkesmas adalah provinsi bali.
Keperawatan kesehatan masyarakat adalah suatu bidang dalam keperawatan
kesehatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat
dengan dukungan peran aktif masyarakat, serta mengutamakan pelayanan promotif ,
preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif

dan

rehabilitative secara menyeluruh dan terpadu, ditujukan kepada individu, keluarga,


kelompok dan masyarakat sebagai suatu kesatuan yang utuh melalui proses
keperawatan untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia

secara optimal

sehinggga mandiri dalam upaya kesehatannya.(Buku Pedoman Perkesmas Seri


A,1997).
Tujuan pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat adalah meningkatkan
kemandirian

masyarakat

dalam

mengatasi

masalah

keperawatan

kesehatan

masyarakat yang optimal. Pelayanan keperawatan diberikan secara langsung kepada


seluruh masyarakat dalam rentang sehat-sakit dengan mempertimbangkan seberapa
jauh masalah kesehatan masyarakat mempengaruhi individu, keluarga, dan kelompok
maupun masyarakat.
Focus utama kegiatan pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat adalah
meningkatkan pengetahuan dan ketarampilan keperawatan, membimbing dan
mendidik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk menanamkan

pengertian, kebiasaan dan perilaku hidup sehat sehingga mampu memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatannya.
Dalam pelaksanaan pekesmas ada pelaksana utama kegiatan keperawatan
kesehatan masyarakat adalah semua perawat fungsional keperawatan di puskesmas.
Sebagai pelaksanakeperawatan kesehatan masyarakat di puskesmas, perawat
mempunyai minimal enam peran dan fungsi, yaitu (1) sebagai penemu kasus (case
finder), (2) sebagai pemberi pelayanan(care giver), (3) sebagai pendidik/penyuluhan
kesehatan(health teacher/healt educater),(4) sebagai kordinator dan kolabolator, (5)
pemberi nasehat(counseling),(6) sebagai panutan (role model).
Studi pendahuluan yang di lakukan peneliti

Dari uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang
hubungan antara pengetahuan perawat tentang peran dan fungsi perawat dengan
pelaksanaan perkesmas di puskesmas Kota Denpasar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik rumusan masalah, yaitu: Apakah ada
hubungan antara pengetahuan perawat tentang peran dan fungsi perawat dengan
pelaksanaan perkesmas di puskesmas Kota Denpasar?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara pengetahuan perawat tentang peran dan
fungsi perawat dengan pelaksanaan perkesmas di puskesmas Kota
Denpasar.

1.3.2

Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi pengetahuan tentang peran dan fungsi perawat
perkesmas di puskesmas Kota Denpasar.
2. Mengidentifikasi pelaksanaan perkesmas di puskesmas Kota Denpasar.
3. Menganalisa hubungan pengetahuan tentang peran dan fungsi perawat
perkesmas dengan pelaksanaan perkesmas di puskesmas Kota
Denpasar.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Praktis
1. Bagi masyarakat dapat memberikan informasi tentang peran dan
fungsi perawat terhadap pelaksanaan perkesmas.
2. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai solusi untuk masalahmasalah

tentang

peningkatan

pengetahuan

perawat

yang

berhubungan dengan peran fungsi perawat, dan pelaksanaan


perkesmas.
3. Mendukung program pemerintah dalam usaha peningkatan
1.4.2

perawatan kesehatan masyarakat.


Manfaat Teoritis
1. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan di bidang keperawatan tentang upaya peningkatan
kinerja perawat profesional di masyarakat.

2. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk


melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan peran
perawat dan pelaksanaan perkesmas.

PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG PERAN DAN FUNGSI


PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN PERKESMAS DI
PUSKESMAS DENPASAR

Oleh:
PUTU WIRA SULAKSANA

NIM. 11.321.1341

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI
DENPASAR
2015