Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

ETIKA PROFESIONAL ENTREPRENEUR DALAM


ISLAM
DOSEN PENGAMPU : ANDI PRASTOWO, M.Pd.I

Oleh:
PUSPITA NURJANNAH
14480077
PROGRAM STUDI PGMI
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Suatu kegiatan haruslah dilakukan dengan etika atau norma-norma yang
berlaku di masyarakat bisnis. Etika atau norma-norma ini digunakan agar para
pengusaha tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan dan usaha yang
dijalankan memperoleh simpati dari berbagai pihak. Pada akhirnya, etika tersebut
ikut membentuk pengusaha yang bersih dan dapat memajukan serta
membesarkan usaha yang dijalankan dalam waktu yang relatif lebih lama. Untuk
itu, perlu adanya suatu tuntunan berkaitan dengan etika profesional entrepreneur
agar terjadi keseimbangan hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan,
terutama etika entrepreneur dalam Islam atau berbasis syariah.
B. Rumusan Masalah
1. Apa hakikat dari etika profesional enterpreneur ?
2. Apa fungsi etika profesional enterpreneurship ?
3. Apa macam-macam etika profesional enterpreneurship ?
4. Apa etika enterpreneur menurut islam ?
5. Bagaimana kedudukan harta dan kekayaan menurut syariah islam ?
6. Bagaimanakah etika enterpreneurship ?
7. Apa hakikat enterpreneur profesional ?

C. Tujuan
1. Mengetahui hakikat dari etika profesional enterpreneur
2. Mengetahui fungsi etika profesional enterpreneurship
3. Mengetahui macam-macam etika profesional enterpreneurship
4. Mengetahui etika enterpreneur menurut islam
2

5. Mengetahui kedudukan harta dan kekayaan menurut syariah islam


6. Mengetahui etika enterpreneurship
7. Mengetahui hakikat enterpreneur profesional

BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Etika Profesional Enterpreneur
Pengertian etika adalah tata cara berhubungan dengan
manusia lainnya. Tata cara pada masing-masing masyrakat
tidaklah sama

atau beragam bentuk.

Hal

ini

di

sebkan

beragamnya budaya kehidupan masyrakat yang berasaldari


berbagai wilayah. Dilihat dari sejarahnya kata etika berasal dari
bahasa Perancis (etiquette), yang berarti kartu undangan. Pada
saat itu raja-raja prancis sering mengundang para tamu dengan
menggunakan

kartu

undangan.

Dalam

kartu

undangan

tercantum peraturan untuk menghadiri acara, antara lain waktu


acara dan akaian yang harus dikenakan.1
Dalam arti luas etika sering disebut sebagai tindakan
mengatur

tingkah

laku

atau

perilaku

manusia

dengan

masyrakat. Tingkah laku ini perlu diatur agar tidak melanggar


norma-norma atau kebiasaan masyrakat di setiap daerah atau
Negara berbeda-beda.2
Apabila entrepreneur diposisikan sebagai suatu profesi, yaitu profesi bisnis,
berarti seorang pebisnis mempunyai status profesional. Salah satu sikap
profesional adalah menjalankan aktivitas atau pekerjaan dengan suatu tuntunan
moral yang sangat tinggi dan mempunyai suatu komitmen dalam dirinya dengan
sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Di sinilah kata baik dan benar tentu
ada acuannya untuk setiap profesi yang dinamakan kode etik.3

1 Kasmir, Kewirausahaan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), hal. 23-24


2 Ibid, hal 24

Kode etik biasanya dibuat oleh organisasi profesi sejenis. Kode etik ini akan
terkait dengan etika-etika yang harus diperhatikan seorang profesional dalam
menjalankan profesinya, supaya jangan terjerumus dalam citra pribadi yang
merugikan pihak lain.4
Etika bisnis adalah suatu kode etik perilaku pengusaha berdasarkan nilai-nilai
moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan dan dalam
memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi. Etika aslinya adalah suatu
komitmen untuk melakukan apa yang benar dan baik untuk menentang apa yang
salah dan apa yang buruk.5
B. Fungsi Etika Profesional Enterpreneurship6
Etika yang diberlakukan oleh pengusaha terhadap berbagai pihak memiliki
tujuan-tujuan tertentu. Tujuan etika tersebut harus sejalan dengan tujuan
perusahaan. Di samping memiliki tujuan, etika juga sangat bermanfaat bagi
perusahaan apabila dilakukan secara sungguh-sunggah.
Berikut ini tujuan atau fungsi etika yang selalu ingin dicapai oleh perusahaan.
1. Untuk persahabatan dan pergaulan
Etika dapat meningkatkan keakraban dengan karyawan, pelanggan atau
pihak-pihak lain yang berkepentingan. Suasana akrab akan berubah
menjadi persahabatan dan menambah luasnya pergaulan. Jika karyawan,
pelanggan, dan masyarakat menjadi akrab, segala urusan akan menjadi
lebih mudah dan lancar.
2. Menyenangkan orang lain

3 H Moko P. Astamoen, Entrepreneurship dalam perspektif kondisi bangsa Indonesia,


(Bandung: Alfabeta, 2008), hal. 355
4 ibid
5 Murdjiarto dan Aliaras Wahid, Membangun Karakter dan kepribadian kewirausahaan,
(Jakarta Barat: Graha Ilmu, 2006) hal. 54.
6 Kasmir, Kewirausahaan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), hal. 27-28.

Sikap menyenangkan orang lain merupakan sikap yang mulia. Jika kita
ingin dihormati, kita harus menghormati orang lain. Menyenangkan orang
lain berarti membuat orang menjadi suka dan puas terhadap pelayanan
kita. Jika pelanggan merasa senang dan puas dengan pelayanan yang
diberikan, diharapkan mereka akan mengulangnya kembali suatu waktu.
3. Membujuk pelanggan
Setiap calon pelanggan memiliki karakter tersendiri. Kadang-kadang
seorang calon pelanggan perlu dibujuk agar mau menjadi pelanggan.
Berbagai cara dapat dilakukan perusahaan untuk membujuk calon
pelanggan. Salah satu caranya adalah melalui etika yang ditunjukkan
seluruh karyawan perusahaan.
4. Mempertahankan pelanggan
Ada anggapan mempertahankan pelanggan jauh lebih sulit daripada
mencari pelanggan. Anggapan ini tidak seluruhnya benar, justru
mempertahankan pelanggan lebih mudah karena mereka sudah merasakan
produk atau layanan yang kita berikan. Artinya, mereka sudah mengenal
kita lebih dahulu. Melalui pelayanan etika seluruh karyawan, pelanggan
lama dapat dipertahankan karena mereka sudah merasa puas atas layanan
yang diberikan.
5. Membina dan menjaga hubungan
Hubungan yang sudah berjalan baik harus tetap dan terus dibina. Hindari
adanya perbedaan paham atau konflik. Ciptakan hubungan dalam suasana
akrab. Dengan etika hubunan yang lebih baik dan akrab pun dapat
terwujud.
C. Macam-macam Etika Profesional Enterpreneurship7
Etika atau norma yang harus ada dalam benak dan jiwa setiap pengusaha
adalah sebagai berikut.
1. Kejujuran
Seorang pengusaha harus selalu bersikap jujur baik dalam berbicara
maupun bertindak. Jujur ini perlu agar berbagai pihak percaya terhadap
7 Ibid, hal.25-26.

apa yang akan dilakukan. Tanpa kejujuran, usaha tidak akan maju dan
tidak dipercaya konsumen atau mitra kerjanya.
2. Bertanggung jawab
Pengusaha harus bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang
dilakukan dalam bidang usahanya. Kewajiban terhadap berbagai pihak
harus segera diselesaikan. Tanggung jawab tidak hanya terbatas pada
kewajiban, tetapi juga kepada seluruh karyawannya, masyarakat, dan
pemerintah.
3. Menepati janji
Pengusaha dituntut untuk selalu menepati janji, misalnya dalam hal
pembayaran, pengiriman barang atau penggantian. Sekali seorang
pengusaha ingkar janji, hilanglah kepercayaan pihak lain terhadapnya.
Pengusaha juga harus konsisten terhadap apa yang telah dibuat dan
disepakati sebelumnya.
4. Disiplin
Pengusaha dituntut untuk selalu disiplin dalam berbagai kegiatan yang
berkaitan dengan usahanya, misalnya dalam hal waktu pembayaran atau
pelaporan kegiatan usahanya.
5. Taat hukum
Pengusaha harus selalu patuh dan menaati hukum yang berlaku, baik yang
berkaitan dengan masyarakat maupun pemerintah. Pelanggaran terhadap
hukum dan peraturan yang telah dibuat berakibat fatal dikemudian hari.
Bahkan, hal itu akan menjadi beban moral bagi pengusaha apabila tidak
diselesaikan segera.
6. Suka membantu
Pengusaha secara moral harus sanggup membantu berbagai pihak yang
memerlukan bantuan. Sikap ringan tangan ini dapat ditunjukkan kepada
masyarakat dalam berbagai cara. Pengusaha yang terkesan pelit akan
dimusuhi oleh banyak orang.
7. Komitmen dan menghormati
Pengusaha harus komitmen dengan apa yang mereka jalankan dan
menghargai komitmen dengan pihak-pihak lain. Pengusaha yang

menjunjung tinggi komitmen terhadap apa yang telah diucapkan atau


disepakati akan dihargai oleh berbagai pihak.
8. Mengejar prestasi
Pengusaha yang sukses harus selalu berusaha mengejar prestasi setinggi
mungkin. Tujuannya agar perusahaan dapat terus bertahan dari waktu ke
waktu. Prestasi yang berhasil dicapai perlu terus ditingkatkan. Di samping
itu, pengusaha juga harus tahan mental dan tidak mudah putus asa
terhadap berbagai kondisi dan situasi yang dihadapinya.
D. Etika Enterpreneur Menurut Islam8
1. Etika mencari keuntungan
a. Mewajibkan aktivitas perdagangan dengan landasan keimanan dan
ketakwaan. Keimanan adalah landasan motivasi dan tujuan, dan
ketakwaan adalah landasan operasionalnya.
b. Memiliki komitmen yang tinggi untuk melaksanakan zikir dan bersyukur.
Zikir dimaksudkan sebagai kesadaran akan peran dan kehadiran Allah
dalam proses kegiatan bisnis. Sementara syukur dimaksudkan sebagai
kesadaran untuk berterimakasih kepada Allah atas prestasi yang
diraihnya.
c. Berjiwa bersih dan mau bertobat. Maksud bersih di sini adalah bersih dari
penyakit jiwa yang menghambat prestasi seseorang dalam tugasnya,
diantaranya dengki, sombong, benci, hasut. Kebersihan jiwa akan
membuat seseorang pebisnis menjalankan usahanya secara jernih dan
objektif dalam berkompetisi serta tidak melakukan kecurangan dalam
berbagai kesepakatan. Sedangkan taubat merupakan prasyarat yang harus
dipenuhi dahulu jika seseorang yang akan terjun ke dunia bisnis merasa
pernah melakukan hal-hal yang harus dibersihkan tadi (dengki, sombong,
benci, dan hasut).
d. Memiliki antusiasme yang tinggi dalam menjalankan amar maruf nahi
mungkar.
8H. M. Maruf Abdulloh, Wirausaha Berbasis Syariah, (Yogyakarta, Aswaja Pressindo,
2009), hal 32-37.

2. Etika Profesi Natural Islam


Menjadi pebisnis syariah merupakan suatu profesi yang memerlukan
etika secara khusus sebagai way of life yang selaras dengan keyakinan agama
Islam. Manusia yang memilih keyakinan agama Islam selain mendapat
bimbingan melalui kalamullah (ayat-ayat al-Quran), ia juga mendapat
bimbingan dalam bentuk alam (filullah). Perpaduan antara bimbingan
kalamullah dan filullah inilah yang membentuk etika profesi natural Islami,
sebagaimana firman Allah QS. Ali Imran : 190-191, yang memiliki arti
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan
ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka.
Dengan memahami kandungan ayat ini yang memadukan kalamullah
dan filullah bagi seorang musli, khususnya bagi pebisnis syariah maka ia
akan sampai pada kesimpulan: bahwa alam yang diciptakan Tuhan adalah
untuk manusia, guna dimanfaatkan (dengan tanpa merusak) demi
kebahagiaan mereka. Allah dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya senantiasa
bermaksud baik terhadap hamba-hamba-Nya. Keyakinan ini sangat kondusif
bagi manusia untuk mencapai kesuksesan dan keselamatan sehingga
senantiasa memiliki rasa optimis dalam menjalani kehidupan di muka bumi
ini. optimisme dalam kehidupan inilah yang disebut dengan etika natural
Islam yang menjadi etika profesi pebisnis syariah.
Optimisme ini terlihat dalam sikap hidupnya. Jika ia mempunyai
rencana yang telah diperhitungkan, maka ia lebih yakin dibalik itu Allah akan
memberi kemudahan yang lebih banyak, sebagaimana firman Allah QS. AlInsyirah : 5-6, yang artinya Sesungguhnya bersama kesulitan ada
kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan .
9

E. Kedudukan Harta dan Kekayaan Menurut Syariah Islam9


1. Harta milik Allah
Semua yang ada di dunia ini merupakan ciptaan Allah termasuk harta.
Oleh karenanya harta pun sebenarnya juga milik Allah. Manusia hanya
memanfaatkan dan mengelolanya sesuai dengan ketentuan syariah. Seorang
wirausaha yang berbasis syariah yakin betul dengan ketentuan tersebut, dan
ia dipandu oleh iman untuk mencari dan mengolah harta, serta
memanfaatkannya sesuai ketentuan syariah, ada bagian untuk diusahakan,
ada bagian untuk hidupnya dengan keluarganya, ada bagian untuk membayar
zakat, ada bagian untuk mengembangkan usaha. Semua itu dijabarkannya
dari maksud firman Allah QS. Al-Mulk Ayat 15 yang berarti, Dialah yang
menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala
penjurunya dan makanlah sebagiandari rizki-Nya dan hanya kepada-Nyalah
kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
Bagi seorang wirausaha muslim harta bukanlah tujuan, harta hanya
sarana untuk melaksanakan tugas dan pengabdiannya sebagai seorang
khalifah di muka bumi yang salah satu tugasnya adalah memakmurkan
kehidupan di muka bumi, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Araf ayat
129, yang memiliki arti dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka
Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu dan dalam firman-Nya QS
Yunus ayat 14, Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti
(mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan
bagaimana kamu berbuat.
Partisipasi seorang wirausaha muslim dalam memakmurkan kehidupan
di bumi dapat dilihat dari usahanya menyediakan keperluan umat yang
memerlukan produk/ jasa yang dijualnya, dan lebih jauh lagi dapat dilihat
dari berapa banyak orang yang turut bekerja atau terlibat dalam aktivitas
bisnisnya dan yang turut mendapat penghasilkan dari bisnisnya tersebut.
2. Manusia hanya mengelola
9Ibid, hal 7-11

10

Seorang wirausaha muslim sadar betul bahwa harta yang ada padanya
hanya titipan Allah, dan ia hanya mengelolanya sesuai tuntunan syariah.
Dengan iman yang diyakininya itu maka ia tidak akan bersikap seperti Karun
yang menganggap harta yang ada padanya adalah miliknya dan digunakan
sesuai kehendak-Nya. Ia sadar bahwa Allahlah yang memberikan kekuatan,
ilmu, kesehatan yang menyebabkan ia bisa bekerja mencari harta. Oleh
karenanya ia tidak sombong dan selalu memanfaatannya sesuai ketentuan
syariah. Ia sadar semua harta yang ada padanya adalah karena kemurahan
Allah, dan ia yakin betul tentang pertanggungjawaban kepemilikan harta di
akhirat nanti sebagaimana diingatkan oleh Rasululloh SAW dalam salah satu
hadist :
Tidak akan beranjak kaki seorang hamba, hingga ia ditanya tentang
empat hal; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa
mudanya untuk apa ia lewatkan, tentang hartanya darimana ia
dapatkan dan dimana ia keluarkan, dan tentang ilmunya, apa yang
sudah ia amalkan.(HR. Ath Thabrani)
Agama Islam memandang harta sebagai salah satu perhiasan dunia dan
juga sebagai sarana yang bisa mempermudah hidup manusia. Islam tidak
mencela harta yang ada di tangan seseorang sepanjang hartanya itu dikelola
sesuai syariah. Harta bisa dijadikan media untuk berbuat kebaikan, dan
harta itu menjadi bernilai baik. Sebaliknya apabila harta itu digunakan untuk
keburukan, maka harta itu menjadi buruk. Itu pula lah yang selalu diingat
oleh wirausaha berbasis syariah sebagaimana yang difirmankan Allah di
dalam QS. Al-Lail ayat 5-11, yang berarti Adapun orang yang memberikan
(hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala
yang terbaik (syurga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan
yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya
cukup, serta mendustakan pahala terbaik. Maka kelak Kami akan

11

menyiapkan baginya (jalan) yang sukar, dan hartanya tidak bermanfaat


baginya apabila ia telah binasa.
Dengan demikian harta itu menjadi tercela karena suatu sebab yang
dibuat oleh manusia yang mengelolanya, di antaranya, sangat tamak dengan
harta, mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, ditahan atau tidak
dikeluarkan zakatnya, atau berbangga-bangga dengan apa yang ia miliki.
3. Harta tidak kekal
Seorang wirausaha muslim percaya bahwa harta itu tidak kekal.
Namun ia berurusan dengan harta dari usahanya itu karena ada manfaat dari
harta itu, yaitu sebagai media untuk berbuat baik; seperti untuk beribadah
perlu pakaian, berinfaq untuk pembangunan pendidikan, sarana ibadah
(masjid dan mushalla) perlu uang, menyantuni fakir miskin, anak yatim
perlu uang. Jadi harta itu diperlukan sebatas keperluan beribadah dan berbuat
baik kepada yang memerlukan. Dengan menyadari harta itu tidak kekal
maka bagi seorang wirausaha muslim insyaAllah tidak akan sampai
menyebabkan lupa diri dan lupa daratan yang menjerumuskannya pada sifat
tamak dan bakhil, karena apabila ia meninggalkan dunia tidak secuil pun
akan dibawanya menghadap Allah.
4. Harta untuk kemaslahatan
Pengembangan harta dalam paradigma Islam mempunyai tujuan utama
untuk mewujudkan keadaan aman dari rasa lapar dan ketakutan. Paradigma
ini sangat diyakini oleh wirausaha muslim (berbasis syariah) untuk
mewujudkan kehidupan yang mulia bagi setiap manusia, sebagaimana
firman Allah QS. An- Nahl ayat 97, Barangsiapa yang mengerjakan amal
saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka
sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang
lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Kehidupan yang mulia itu adalah kehidupan yang dihiasi dengan
nuansa persaudaraan, kebersamaan, saling menolong, mencintai dan
menyayangi, sehingga bebas dari perasaan takut, lapar, benci, permusuhan,
12

dan egoisme individu. Semua itu didasari oleh asas keadilan dalam hal
pendapatan dan kekayaan yang dimiliki, demi menghindari harta berputar
hanya pada orang kaya saja.
Islam adalah agama yang menghubungkan antara perkembangan
ekonomi dengan perkembangan sosial masyarakat. Keduanya ibarat dua sisi
mata uang. Oleh karenya menjadi keharusan bagi wirausaha muslim dalam
menginvestasikan

hartanya

juga

memperhatikan

kebutuhan

sosial

masyarakat. Jadi tidak semua investasinya hanya untuk usaha (bisnis)nya


saja, tapi ada bagian yang disediakannya untuk kepentingan ibadah sosial
(berinfaq) dengan urutan prioritas.
5. Terjaga dari hal yang dilarang syariah
Harta yang dimiliki seorsng wirausaha muslim yang taat mengikuti
aturan agama terjaga dari hal-hal yang dilarang syariah, seperti:
1. Tidak mengeluarkan/menahan zakat
2. Tidak peduli dengan anak yatim
3. Tidak peduli dengan orang miskin
4. Tidak peduli dengan kepentingan sosial masyarakat
5. Dan lain-lain
F. Etika Enterpreneurship10
Menurut pendapat Michael Josephson (1998) yang dikutip oleh Zimmerer
(1996: 27-28), secara universal, ada 10 prinsip etika yang mengarahkan perilaku,
yaitu:
1. Kejujuran, yaitu penuh kepercayaan, bersifat jujur, sungguh-sungguh, terus
terang, tidak curang, tidak mencuri, tidak menggelapkan, tidak berbohong.
2. Integritas, yaitu memegang prinsip melakukan kegiatan yang terhormat, tulus
hati, berani dan penuh pendirian atau keyakinan, tidak bermuka dua, tidak
berbuat jahat, dan dapat dipercaya.
3. Memelihara janji, yaitu selalu menaati janji, patut dipercaya, penuh
komitmen, patuh, tidak meninterpretasikan persetujuan dalam bentuk teknikal
atau legalistik dengan dalih ketidakrelaan.
10 Muhammad Anwar H. M., Pengantar kewirausahaan teori dan aplikasi, (Jakarta:
Predana. 2014), hal. 97-98

13

4. Kesetiaan, yaitu hormat dan loyal kepada keluarga, teman, karyawan, dan
negara, tidak menggunakan atau memperlihatkan informasi rahasia, begitu
juga dalam suatu konteks profesional, menjaga atau melindungi kemampuan
untuk membuat keputusan profesional yang bebas dan teliti, dan menghindari
hal yang tidak pantas serta konflik kepentingan.
5. Kewajaran atau keadilan, yaitu berlaku adil dan berbudi luhur, bersedia
mengakui kesalahan, memperlihatkan komitmen keadilan, persamaan
perlakuan individual dan toleran terhadap perbedaan, serta tidak bertindak
melampaui batas atau mengambil keuntungan profesional yang bebas dan
teliti, dan menghindari hal yang tidak pantas serta konflik kepentingan.
6. Suka membantu orang lain, yaitu saling membantu, berbaik hati, belas
kasihan, tolong-menolong, kebersamaan, dan menghindari segala sesuatu
yang membahayakan orang lain.
7. Hormat kepada orang lain, yaitu menghormati martabat orang lain, kebebasan
dan hak menentukan nasib sendiri bagi semua orang, bersopan santun, tidak
merendahkan dan memperlakukan martabat orang lain.
8. Warga negara yang bertanggung jawab, yaitu\selalu menaati hukum atau
aturan, penuh kesadaran sosial, dan menghormati proses demokrasi dalam
mengambil keputusan.
9. Mengejar keunggulan, yaitu mengejar keunggulan dalam segala hal, baik
dalam pertemuan personal ataupun dalam pertanggungjawaban profesional,
tekun, dapat dipercaya/diandalkan, rajin, penuh komitmen, melakukan semua
tugas

dengan

kemampuan

terbaik,

dan

mengembangkan

serta

memperthankan tingkat kompetensi yang tinggi.


10. Dapat dipertanggungjawabkan, yaitu memiliki dan menerima tanggung jawab
atas keputusan dan konsekuensinya serta selalu memberi contoh.
G. Hakikat Enterpreneur Profesional
Banyak orang berbicara mengenai profesionalisme.di mana-mana, terutama
dari para pejabat, seringkali meluncur ucapan bahwa semua orang dituntut untuk
profesional. Namun demikian, pemahaman setiap orang mengenai profesional
dan profesionalisme tentu beraneka ragam. Arti kedua hal tersebut sangatlah

14

penting jika dikaitkan dengan entrepreneurship, karena seorang entrepreneur


harus bersikap profesional dalam menjalankan seluruh tugas dan kewajiban
dalam mencapai tujuan sebagai entrepreneur sukses.11
Pengertian dari profesi berkaitan dengan keahlian tertentu dalam mencari
nafkah. Sedangkan orang profesional adalah seseorang yang mempunyai
keahlian atau kemampuan tertentu berupa tenaga, waktu dan pikiran yang
dijual kepada pihak lain atau orang lain untuk mendapatkan imbalan yang
terukur-biasanya dalam bentuk uang-untuk memenuhi nafkah hidupnya dengan
segala resiko yang diperhitungkan.12
Dalam mengembangkan profesionalismenya, seorang profesional tidak begitu
saja dapat berkiprah di masyarakat untuk mencari nafkah. Seseorang profesional
perlu membekali dirinya terus menerus berusaha selalu memperbaiki diri agar
kompetensinya dapat diakui serta mampu berkompetisi dengan pihak-pihak lain,
terutama dalam bidang profesi sejenis.13
Adapun bekal yang diperlukan oleh seorang profesional adalah ilmu
pengetahuan dalam bidang profesinya, keterampilan, mental, sikap serta
integritas diri. Selain itu, tentu diperlukan juga pengetahuan lain, sikap diri yang
positif, kesehatan dan kebugaran fisik yang prima, agar dapat menjalankan tugastugas profesinya dengan baik.14

11H Moko P. Astamoen, Entrepreneurship dalam perspektif kondisi bangsa Indonesia,


(Bandung: Alfabeta, 2008), hal. 405
12 ibid
13 Ibid, hal. 408
14 Ibid, hal. 409

15

BAB III
PENUTUP
Etika adalah tata cara berhubungan dengan manusia
lainnya. Etika yang diberlakukan oleh pengusaha terhadap berbagai pihak
memiliki tujuan-tujuan tertentu. Etika atau norma harus ada dalam benak dan
jiwa setiap pengusaha. Etika enterpreneur menurut Islam meliputi etika
mencari keuntungan dan etika profesi natural Islam. Kedudukan harta dan
kekayaan menurut syariah Islam, harta milik Allah, manusia hanya
mengelola, harta tidak kekal, harta untuk kemaslahatan, terjaga dari hal yang
dilarang syariah
Pengertian dari profesi berkaitan dengan keahlian tertentu dalam
mencari nafkah. Sedangkan orang profesional adalah seseorang yang
mempunyai keahlian atau kemampuan tertentu berupa tenaga, waktu dan
pikiran yang dijual kepada pihak lain atau orang lain untuk mendapatkan
imbalan yang terukur-biasanya dalam bentuk uang-untuk memenuhi nafkah
hidupnya dengan segala resiko yang diperhitungkan.

16

DAFTAR PUSTAKA
Abdulloh, H. M. Maruf. 2013. Wirausaha berbasis syariah. Yogyakarta: Aswaja
Pressindo.
Anwar H. M., Muhammad. 2014. Pengantar kewirausahaan teori dan aplikasi,
Jakarta: Predana.
Astamoen, H. Moko P. 2008. Entrepreneurship dalam perspektif kondisi bangsa
Indonesia. Bandung: Alfabeta.
Kasmir. 2014. Kewirausahaan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Murdjiarto dan Wahid, Aliaras. 2006. Membangun Karakter dan kepribadian
kewirausahaan. Jakarta Barat: Graha Ilmu.

17