Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PENGECORAN LOGAM

DAPUR INDUKSI

Disusun oleh :
Epin Supinto

( 15320048 )

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JANABADRA
YOGYAKARTA
2016
1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa
melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Pengecoran Logam.
Adapun maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk melengkapi syarat mata kuliah
Pengecoran Logam.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak, baik
secara langsung maupun tidak langsung, oleh karena itu pada kesempatan ini, penyusun
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs. Sukoco, MPd., MT. selaku ketua Jurusan Teknik Mesin Universitas
Janabadra Yogyakarta.
2. Ibu Ir.Juriah Mulyanti M.Sc. selaku dosen pengajar mata kuliah Pengecoran Logam.
3. Kedua Orang Tua, adik dan seluruh keluarga besar yang selalu memberi dukungan
moral maupun material.
4. Kawan-kawan mahasiswa Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta
(HMJTM) dan semua pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan namanya satu
persatu.

Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu diharapkan saran dan kritik dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini. Akhir kata penyusun berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua
pembaca khususnya mahasiswa Teknik Mesin Unversitas Janabadra Yogyakarta.

Yogyakarta, Oktober 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL .............................................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 1
C. Tujuan Pembuatan Makalah .............................................................................. 1
D. Batasan Masalah ............................................................................................... 2
E. Manfaat Pembuatan Makalah ............................................................................. 2
BAB II DAPUR INDUKSI
A. Pengertian Dapur Induksi ................................................................................. 3
B. Bagian- Bagian Dapur Induksi ........................................................................ 3
C. Prinsip Kerja Peleburan dengan Tanur Induksi ............................................... 4
D. Lining Tanur Induksi ....................................................................................... 7
E. Pemuatan bahan peleburan .............................................................................. 10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................................... 12
B. Saran .................................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kostruksi dari dapur induksi .............................................................. 4
Gambar 2.2 Skema tanur induksi frekuensi menengah ......................................... 5
Gambar 2.3 Dapur induksi jenis saluran potongan melintang ............................... 5
Gambar 2.4 Prinsip pemanasan dapur induksi jenis saluran ................................... 6
Gambar 2.5 Dapur induksi jenis krus ..................................................................... 6
Gambar 2.6 Prinsip dapur induksi jenis krus ......................................................... 6
Gambar 2.7 Lining setelah proses .......................................................................... 9
Gambar 2.8 Lining setelah digunakan berkali-kali ................................................ 9
Gambar 2.9 Daerah bagian permukaan Lining ...................................................... 10

DAFTAR TABEL
Tabel 2.6.1 Ukuran minimum bahan baku ............................................................. 7

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses pengecoran logam tahapan peleburan untuk mendapatkan logam
cair pasti akan dilakukan dengan menggunakan suatu tungku peleburan di mana material
bahan baku dan jenis tungku yang akan digunakan harus disesuaikan dengan material
yang akan dilebur.
Pemilihan tungku peleburan yang akan digunakan untuk mencairkan logam harus
sesuai dengan bahan baku yang akan dilebur. Paduan Aluminium, paduan tembaga,
paduan timah hitam, dan paduan ringan lainnya biasanya dilebur dengan menggunakan
tungku peleburan jenis krusibel, sedangkan untuk besi cor menggunakan tungku induksi
frekwensi rendah atau kupola. Tungku induksi rekwensi tinggi biasanya digunakan
untuk melebur baja dan material tahan temperatur tinggi.
Tungku yang paling banyak digunakan dalam pengecoran logam antara lain ada
lima jenis yaitu; Tungku jenis kupola, tungku pengapian langsung, tungku krusibel,
tungku busur listrik, dan tungku induksi. Dalam memproduksi besi cor tungku yang
paling banyak digunakan industri pengecoran adalah krusibel dan tungku induksi.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah
yang dibahas sebagai berikut:
1. Bagaimana memanfaatkan dapur induksi agar hasil pengecoran benda kerja yang di
hasilkan maksimal.
2. Bagiamana memanfaatkan dapur induksi semaksimal mungkin agar tidak terjadi
reject pada saat proses pengecoran.

C. Tujuan Pembuatan Makalah


Tujuan pembuatan makalah dalam mata kuliah proses pengecoran logam
khususnya mengenai Dapur Induksi adalah sebagai berikut :
1. Mempelajari bagian bagian dapur induksi dan fungsinya.
2. Mempelajari prinsip kerja dapur induksi.
3. Mempelajari kelebihan dan kekurangan dapur induksi.

4. Mempelajari jenis material apa saja yang dapat di proses dalam pengecoran logam
melalui dapur induksi.

D. Batasan Masalah
Adapun batasan batasan masalah dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Pembuatan makalah membahas tentang dapur induksi.
2. Pembuatan makalah hanya berdasarkan referensi buku dan internet tidak melakukan
penelitian secara langsung.

E. Manfaat Pembuatan Makalah


Adapun manfaat dalam pembuatan makalah dalam mata kuliah pengecoran logam
adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui bagian bagian dapur induksi dan fungsinya.
2. Mengetahui prinsip kerja dapur induksi.
3. Mengetahaui kelebihan dan kekurangan dapur induksi.
4. Mengetahui jenis material apa saja yang dapat di proses dalam pengecoran logam
melalui dapur induksi.

BAB II
DAPUR INDUKSI
A. Penegertian Dapur Induksi
Secara umum tanur induksi digolongkan sebagai tanur peleburan (melting
furnace) dengan frekuensi kerja jala-jala (50 Hz) sampai frekuensi tinggi (10000 Hz) dan
tanur penahan panas (holding furnace) yang bekerja pada frekuensi jala-jala.
Tanur induksi listrik adalah tanur yang melebur logam dengan medan
elektromagnet yang dihasilkan oleh induksi listrik, baik yang berfrekuensi rendah
maupun yang berfrekuensi tinggi. Tanur induksi biasanya berbentuk crucible yang dapat
dimiringkan.
Tanur ini dipakai untuk melebur baja paduan tinggi, baja perkakas, baja untuk
cetakan, baja tahan karat, dan baja tahan panas yang tinggi. Penggunaan tanur induksi di
industri pengecoran logam pada saat ini semakin berkembang. Hal ini terutama karena
tanur induksi mempunyai beberapa kelebihan antara lain:
1. Hasil peleburan bersih.
2. Mudah dalam mengatur/mengendalikan temperatur.
3. Komposisi cairan homogen.
4. Efisiensi penggunaan energi panas tinggi.
5. Dapat digunakan untuk melebur berbagai jenis material
Namun demikian terdapat pula hambatan atau kendala yang perlu diperhatikan
pada penggunaan dapur induksi adalah sebagai berikut :
1. Infestasi biaya beban tetap yang cukup besar menuntut loading yang tinggi.
2. Biaya operasi yang besar menuntut tingkat kegagalan yang rendah.
3. Dibutuhkan operator maupun teknisi berpengalaman dalam mengoperasikannya.
4. Tingkat bahaya besar, mengingat tanur ini menggunakan enerji listrik yang sangat
besar.
5. Biaya perawatan besar.

B. Bagian-Bagian Dapur Induksi


Secara umum konstruksi dari dapur induksi bentuknya tidak jauh beda dengan
dapur-dapur peleburan lainnya. Akan tetapi bagian-bagian dalam dapur induksi tentu
berbeda sesuai fungsi dan perannya.

Gambar 2.1 Kostruksi dari dapur induksi


Sumber : https://www.scribd.com/document/60538953/Dapur-Induksi
Bagian - bagian dapur induksi terdiri dari
1. Spot : bias disebut juga dengan corong yang berfungsi sebagai tempat keluarnya
cairan logam yang sudah dileburkan.
2. Crusible : sebagai tempat pemanasan logam.
3. Lining : lapisan pada diding bagian dalam yang tahan panas , berfungsi sebagai krus.
4. Antena : memiliki peranan penting sebagai sensor kebocoran

yang berfungsi untuk

mendeteksi kebocoran cairan logam pada lining (lapisan pada dinding bagian dalam
induction furnace),

apabila terdapat kerusakan pada lining dikarenakan

crack

(retak), erosi, serta lining tergerus yang menyebabkan cairan logam bisa keluar
menembus ke plat bajanya dan bisa terus melelehkannya serta cairan logam bisa
sampai terus merusak induktor tembaga yangdidalamnya terdapat air, maka akan
terjadi ledakan pada induction furnace.
5. Coil (Induktor) : komponen yang tersusun dari lilitan kawat berfungsi menimbulkan
arus listrik.
6. Refaktori : merupakan material yang mempunyai ketahanan dalam temperatur tinggi
dan material yang mampu mempertahankan sifatnya terhadap tegangan mekanik
maupun serangan kimia dari gas-gas panas, cairan logam dan slag.
7. Dan komponen-komponen lainnya.

C. Prinsip Kerja Peleburan Dengan Tanur Induksi


Tanur induksi bekerja dengan prinsip transformator dengan kumparan primer
dialiri arus AC dari sumber tenaga dan kumparan sekunder. Kumparan sekunder yang
diletakkan didalam medan mahnit kumparan primer akan menghasilkan arus induksi.
9

Berbeda dengan transformator, kumparan sekunder digantikan oleh bahan baku


peleburan serta dirancang sedemikian rupa agar arus induksi tersebut berubah menjadi
panas yang sanggup mencairkannya.
Sesuai dengan frekuensi kerja yang digunakan, tanur induksi dikatagorikan
sebagai tanur induksi frekuensi jala-jala (50 Hz 60 Hz) dengan kapasitas lebur diatas
1 ton/jam dan tanur induksi frekuensi menengah (150 Hz 10000 Hz) untuk tanur
dengan kapasitas lebur rendah.
Frekuensi jala-jala pada tanur induksi frekuensi menengah diubah terlebih dahulu
dengan menggunakan thyristor menjadi freukensi yang lebih tinggi sebelum dialirkan
kekumparan primer.

Gambar 2.2 Skema tanur induksi frekuensi menengah


Sumber : https://www.scribd.com/document/60538953/Dapur-Induksi
Secara umum tanur induksi terdiri dari 2 jenis yaitu:
1. Dapur induksi jenis saluran.
Jenis saluran ini digunakan sebagai holding furnace (hanya berfungsi untuk
menahan temperatur cairan agar tidak turun).

Gambar 2.3 Dapur induksi jenis saluran potongan melintang.


Sumber : https://www.scribd.com/document/60538953/Dapur-Induksi
10

Prinsip pemanasan tanur induksi jenis saluran. Pemanasan hanya dilakukan


pada bagian saluran cairan. Bahan cair yang panas akan bergerak keatas, sedangkan
bahan cair yang dinggin bergerak kebawah mengisi saluran. Dengan demikian cairan
didalam tanur akan mengalami sirkulasi.

Gambar 2.4 Prinsip pemanasan dapur induksi jenis saluran.


Sumber : https://www.scribd.com/document/62142312/Tanur-Induksi
2. Dapur Induksi jenis krus

Gambar 2.5 Dapur induksi jenis krus.


Sumber : https://www.scribd.com/document/62142312/Tanur-Induksi
Untuk dapur jenis ini digunakan sebagai dapur peleburan. Tanur induksi jenis
krus dikonstruksi sedemikian rupa disesuaikan dengan ukuran dan jenis bahan yang
dilebur, sehingga terdapat tanur induksi frekuensi jala-jala, tanur induksi frekuensi
menengah dan tanur induksi frekuensi tinggi.

Gambar 2.6 Prinsip dapur induksi jenis krus.


Sumber : https://www.scribd.com/document/62142312/Tanur-Induksi
11

Hal penting yang harus diperhatikan dalam memilih frekuensi kerja tanur
induksi adalah hubungannya dengan ukuran minimum bahan baku yang dapat
ditembus oleh frekuensi tersebut, sebagai berikut :

Dimana :
= kedalaman penetrasi elektromagnetik [m].
K = Konstanta bahan baku.
F = Frekuensi kerja [Hz].
Ukuran minimum bahan baku yang dapat dilebur tanpa bantuan cairan
adalah:
D = 3,5 x
Pada tanur induksi frekuensi jala-jala (50 Hz), mengingat dimensi bahan baku
minimumnya sedemikian besar, maka peleburan pertama selalu dimulai dengan bahan
berukuran besar sebagai starting-block serta selalu disisakan sekurang kurangnya 1/3
cairan didalam tanur untuk membantu proses peleburan berikutnya adalah tabel
ukuran minimum bahan baku.
Tabel 2.6.1 Ukuran minimum bahan baku

Sumber : https://www.scribd.com/document/62142312/Tanur-Induksi

D. Lining Tanur Induksi


Hal utama yang perlu sangat diperhatikan disamping prinsip pemanasan dan
pencairan pada penggunaan tanur induksi adalah lapisan bahan tahan panas (lining) yang
berfugsi sebagai krus. Kualitas lining ini sangat berperan terhadap fungsi, keselamatan
kerja, metalurgi peleburan dan efisiensi.
Beban-beban yang harus dapat diatasi oleh lining adalah:
12

1. Temperatur tinggi selama proses peleburan dan perubahan temperatur dari tinggi
kerendah yang sangat cepat (temperatur shock) dan berulang-ulang khususnya ketika
bahan baku dimuatkan.
2. Gaya-gaya mekanik yang dihasilkan oleh tekanan cairan, benturan bahan baku dan
gesekan baik ketika bahan masih beku ataupun telah mencair.
3. Efek-efek metalurgi dari reaksi-reaksi yang berlangsung antara lining dengan bahan
dan terak cair, unsur-unsur asing serta merusak yang berasal dari bahan baku (Zn, Pb)
yang pada temperatur peleburan besi berada dalam keadaan sangat cair sehingga
mampu menyusup diantara celah-celah lining.
Ketebalan lining tanur induksi berpengaruh pula terhadap efisiensi penggunaan
energi listrik karena lining yang terlalu tebal akan menghambat aliran induksi. Dengan
demikian

lining harus dibuat setipis mungkin dengan tetap mempertimbangkan

keamanan tanur. Pada saat ini tergantung dari kapasitas muat tanur, ketebalan lining
adalah antara 80 mm sampai dengan 200 mm.
Lining tanur induksi terbuat dari bahan berbentuk serbuk kasar yang kering.
Bahan tersebut harus dapat terpasang dengan baik melapisi kumparan bagian dalam.
Kekuatan dari bahan lining tersebut baru diperoleh setelah bahan mengalami proses
sintering.
Proses sintering adalah proses pemanasan terhadap lining baru sehingga bahan
lining yang semula terdiri dari serbuk kasar, sebagian berubah menjadi bersifat keramik
yang tahan terhadap temperatur tinggi dan pengaruh-pengaruh kimiawi, sebagian berupa
padatan masif yang segera akan berubah menjadi keramik bila daerah keramik telah
menipis

dan sebagian masih merupa serbuk yang mampu meredam getaran akibat

benturan oleh bahan baku serta meredam retakan lining. Selama proses peleburan daerah
keramik akan terus menerus terkikis oleh cairan, namun demikian daerah padatan yang
terletak tepat disebelahnya akan segera menjadi keramik sehingga ketebalan daerah
keramik ini relatif tetap. Hal mana terjadi pula terhadap daerah padatan yang pada saat
bagian terdepan berubah menjadi keramik bagian lain segera digantikan oleh bagian
bahan serbuk yang berubah menjadi padatan.
Dengan demikian pada akhirnya bagian lining yang akan habis adalah bagian
yang masih berupa serbuk. Artinya, bila bagian ini sudah habis maka lining tidak akan
mampu lagi untuk meredam getaran dan retakan. Hal ini menjadi indikator bahwa lining
harus segera diperbarui.

13

Gambar 2.7 Lining setelah proses


Sumber : https://hapli.wordpress.com/foundry/peleburan-dengan-tanur-induksi/

Gambar 2.8 Lining setelah digunakan berkali-kali


Sumber : https://hapli.wordpress.com/foundry/peleburan-dengan-tanur-induksi/
Ketebalan dari masing-masing daerah lining sesaat setelah proses sintering
selesai adalah relatif sama, dengan demikian

lining

dapat dinyatakan habis bila

ketebalannya tinggal 2/3 dari ketebalan semula.


Tiga daerah lining dan masing-masing fungsinya:
1. Daerah keramik yang tahan terhadap temperatur

tinggi dan pengaruh-pengaruh

kimiawi.
2. Daerah padatan masif yang segera akan berubah menjadi keramik bila daerah keramik
telah menipis.
3. Daerah serbuk yang mampu meredam getaran akibat benturan oleh bahan baku serta
meredam retakan lining.
14

Gambar 2.9 Daerah bagian permukaan Lining


Sumber : https://hapli.wordpress.com/foundry/peleburan-dengan-tanur-induksi/

E. Pemuatan bahan peleburan.


Proses peleburan dengan tanur induksi akan semakin efisien bila menggunakan
bahan baku yang masif (berukuran besar) dan kompak. Keuntungan yang diperoleh dari
bahan masif adalah :
1. Bahan yang dilewati oleh medan induksi lebih banyak sehingga menghasilkan energi
panas yang lebih besar.
2. Permukaan bahan yang bersentuhan dengan udara sedikit sehingga mengurangi efek
oksidasi.
3. Bahan homogen dengan komposisi yang serupa sehingga mengurangi faktor
kesalahan peramuan.
4. Mengurangi kemungkinan bahan asing dan kotoran ikut terbawa pada saat pemuatan
sehingga lebih dapat menjamin pencapaian komposisi yang dikehendaki serta
mengurangi terak ataupun bahaya-bahaya lain yang ditimbulkannya.
Ketersediaan cairan didalam tanur juga akan dapat meningkatkan kecepatan.
peleburan. Maka dalam hal pemuatan bahan kedalam tanur indsuksi berlaku urutan
sebagai berikut:
a. Tanur induksi frekuensi jala-jala:
1. Sarting blok untuk awal peleburan :
2. Sisa cairan, yaitu 1/3 dari kapasitas tanur untuk peleburan lanjutan.
3. Besi kasar.
4. Bahan daur ulang.
15

5. Besi bekas.
6. Baja bekas.
7. Bahan paduan, dimana paduan dengan kehilangan terbakar (melting loss) tinggi
dimuatkan paling akhir.
Poin 1 merupakan tuntutan wajib bagi tanur induksi frekuensi jaringan, sebab tanpa
starting block proses peleburan tidak dapat berlangsung. Sedangkan poin 2 adalah upaya
untuk meningkatkan efisiensi enerji peleburan. Poin 3 sampai 8 merupakan urutan
prioritas bila bahan-bahan tersebut digunakan.
b. Tanur induksi frekuensi menengah dan tinggi:
1. Sarting blok untuk awal peleburan (bila tersedia).
2. Besi kasar.
3. Bahan daur ulang.
4. Besi bekas.
5. Baja bekas.
6. Carburisher (bersama baja bekas).
7. Bahan paduan, dimana padfuan dengan kehilangan terbakar (melting loss) tinggi
dimuatkan paling akhir.
Poin 1 lebih baik dilakukan walaupun tanpa sarting blok proses peleburan dengan
tanur induksi frekuensi menengah sampai tinggi tetap dapat dilakukan. Sedangkan poin 2
sampai 7 merupakan urutan prioritas bila bahan-bahan tersebut digunakan.

16

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembuatan makalah diatas dapat ditarik kesimpulan adalah sebagai berikut :
1. Dapur Induksi termasuk dalam dapur peleburan yang prinsi kerjanya menggunakan
induksi arus listrik.
2. Dapur Induksi mempunyai beberapa keuntungan yaitu dapat meleburkan semua jenis
baja dan bahan material yang lainnya yang tidak dapat dileburkan oleh dapur-dapur
peleburan yang lain. Temperatur dapat diatur serta kebersihannya dan karateristik
memadai.
3. Disamping banyak keuntungan dari dapur induksi ada juga kerugiannya yaitu dalam
hal biaya dan pengoperasian yang sulit, sehingga dibutuhkan tenaga ahli yang handal.

B. Saran
1. Untuk mempelajari lebih detail mengenai dapur induksi tiap- tiap mahasiswa
diperlukan praktik langsung atau melakukan peneltian agar mahsiswa lebih paham
mengenai dapur induksi.
2. Dapur induksi memiliki peranan penting dalam proses pengecoran logam untuk itu
tiap- tiap mahasiswa perlu memiliki modul yang dapat menunjang tingkat pemahaman
mengenai dapur induksi.

17