Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

LATAR BELAKANG
1.1 Pendahuluan
Skabies adalah penyakit zoonosis yang menyerang kulit, mudah menular dari
manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya, dapat mengenai semua ras
dan golongan di seluruh dunia yang disebabkan oleh tungau (kutu atau mite) Sarcoptes
scabiei (Isa, 2005).
Menurut Depkes RI prevalensi skabies di puskesmas seluruh indonesia pada tahun
2008 adalah 5,6%-12,95% dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit
tersering. Prevalensi penyakit skabies tahun 2008 diberbagai pemukiman kumuh (TPA,
rumah susun dan pondok pesantren) di jakarta mencapai 6,20%, di Kab.Boyolali sebesar
7,36%, Pasuruan sebesar 8,22%, dan di Semarang mencapai 5,80% (Ummul, 2013).
Penyebaran tungau skabies adalah dengan kontak langsung oleh penderita skabies
atau dengan kontak tak langsung seperti melalui penggunaan handuk bersama, alas
tempat tidur, dan segala hal yang dimiliki pasien skabies. Oleh karena itu skabies sering
menyebar dalam anggota keluarga, satu asrama, kelompok anak sekolah, pasangan
seksual bahkan satu kampung atau desa. Penularan penyakit ini erat kaitannya dengan
kebersihan perseorangan dan kepadatan penduduk. Keadaan ini juga dapat ditemukan di
pesantren, oleh karena itu insiden skabies di pesantren cukup tinggi (Yuzzi, 2012).
Di Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia,
terdapat 14.798 pondok pesantren dengan prevalensi skabies cukup tinggi. Pada tahun
2003, prevalensi skabies di 12 pondok pesantren di Kabupaten Lamongan adalah
48,8%13 dan di Pesantren An- Najach Magelang pada tahun 2008 prevalensi skabies
adalah 43% (Yasin, 2009).

Penelitian yang dilakukan terhadap 6 Ponpes di Kabupaten Lamongan, Jawa


Timur memberikan kesan bahwa : (1) Banyak diantara para santri yang menderita
penyakit kulit Skabies; (2) Sanitasi Ponpes yang kurang memadai; (3) Higiene
perorangan yang buruk, (4) Pengetahuan, sikap, dan perilaku para santri yang kurang
mendukung pola hidup sehat; serta (5) Pihak manajemen kurang memberikan perhatian
pada masalah sanitasi lingkungan pondok pesantren (Isa, 2005).
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran epidemiologi skabies di Wilayah Puskesmas
Campurejo.
1.2.2

Tujuan Khusus
1. Menganalisis kejadian skabies berdasarkan waktu di wilayah kerja Puskesmas
Campurejo pada periode 1 Januari - 31 Desember 2014
2. Menganalisis kejadian skabies berdasarkan jenis kelamin di wilayah kerja
Puskesmas Campurejo pada periode 1 Januari - 31 Desember 2014
3. Menganalisis kejadian skabies berdasarkan usia di wilayah kerja Puskesmas
Campurejo pada periode 1 Januari - 31 Desember 2014
4. Menganalisis kejadian skabies berdasarkan tempat di wilayah kerja Puskesmas
Campurejo pada periode 1 Januari - 31 Desember 2014
5. Menganalisis kejadian skabies berdasarkan jenis kelamin di wilayah kerja
Puskesmas Campurejo pada periode 1 Januari - 31 Desember 2014
6. Untuk mengetahui gambaran epidemiologi skabies berdasarkan jenis kelamin
7. Untuk menentukan intervensi skabies yang dilakukan di Puskesmas Campurejo.
8. Untuk menentukan pencegahan
terjadinya insiden skabies di lingkungan
Puskesmas Campurejo
9. Mengetahui faktor-faktor penyebab tingginya angka kejadian skabies di
Campurejo.

BAB 2