Anda di halaman 1dari 41

Modul Ilmu Kesehatan Masyarakat

DAFTAR ISI
LEMBAR

JUDUL..i

KATA PENGANTARii
DAFTAR ISI..iii
BAB I PENDAHULUAN......3
1.1Latar belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
BAB II PEMBAHASAN...5
2.1

Konsep Dasar Kesehatan Masyarakat

2.1.1

Sejarah kesehatan masyarakat

2.1.2

Periode periode perkembangan masyarakat

2.1.3

Perkembangan kesehatan masyarakat Indonesia

2.1.4

Definisi kesehatan masyarakatRuang lingkup kesehatan masyarakat

2.1.5

Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.

2.1.6

Sasaran Kesehatan Masyarakat

2.1.7

Indikatoe keberhasilan pembangunan kesehatan / KIA

2.2

Rencana pembangunan kesehatan masyarakat MDGs tahun 2015

2.2.1

Pogram pembangunan kesehatan

2.2.2

Strategi

2.2.3

Arah, tujuan dan sasaran serta kebijakan

2.2.4

Dasar, visi dan misi pembangunan kesehatan

2.2.5

Pokok-pokok pembangunan kesehatan MDGs tahun 2015

Rencana pembangunan kesehatan masyarakat MDGs tahun 2015


Indikatoe keberhasilan pembangunan kesehatan / KIA
2.3

Konsep PHC

2.3.1

Latar belakang phc

2.3.2

Pengertian

2.3.3

Unsur, prinsip dan program

2.3.4

Perkembangan PHC di Indonesia

2.4

PKMD

2.4.1

Pengertian

2.4.2

Tujuan

2.4.3

Ruang lingkup

2.4.4

Langkah-langkah pemetaan PKMD

2.5

Poned

2.6

Ponek

2.7

Pendekatan Epidemiologi

2.7.1

Definisi

2.7.2

Fungsi

2.7.3

Sejarah perkembangan

2.7.4

Wilayah kerja

2.7.5

Struktur organisasi dan tata kerja

2.7.6

Sistem rujukan

2.7.7

Stratifikasi puskesmas

2.7.8

Perencanaan mikro

2.7.9

Lokakarya mini puskesmas

2.7.10

Supervisi

2.7.11 Sistem pencatatan dan pelayanan


2.7.12

Terpadu puskesmas

2.8

Pusat Kesehatan Ibu dan Anak

2.9

Posyandu

2.10

Polindes

BAB III PENUTUP.56


3.1

Kesimpulan

3.2

Saran

DAFTAR PUSTAKA..57

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni untuk mencegah penyakit, memperpanjang
hidup, mempromosikan kesehatan dan efisiensi dengan menggerakkan potensi seluruh
masyarakat. Konsep kesehatan masyarakat berkaitan dengan perubahan perilaku sehat akan
lebih terbentuk dan bertahan lama bila dilandasi kesadaran sendiri (internalisasi) sehingga
konsep upaya sehat dari, oleh dan untuk masyarakat sangat tepat diterapkan.
dr. Nengah Adnyana Oka M., M.Kes. - Pemerintah Indonesia sudah mengembangkan konsep
Desa Siaga yang menggunakan pendekatan pengenalan dan pemecahan masalah kesehatan
dari, oleh dan untuk masyarakat sendiri. Peranan petugas kesehatan sebagai stimulator
melalui promosi kesehatan dilakukan dengan memberikan pelatihan penerapan Desa Siaga.
Kegiatan diwujudkan melalui rangkaian pelatihan mengidentifikasi masalah kesehatan
dengan mengenalkan masalah kesehatan dan penyakit yang banyak terjadi dalam lingkungan
mereka dilanjutkan survey mawas diri (SMD) dan aplikasi upaya mengatasi yang disepakati
masyarakat berupa musyawarah masyarakat desa (MMD). Harapan pemerintah agar upaya
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dapat lebih cepat dan lebih awet karena
masyarakat mampu mandiri untuk sehat. Tanpa pemahaman terhadap penyakit dan masalaah
kesehatan masyarakat oleh petugas kesehatan maka tidak akan memiliki dasar pemahaman
yang kuat. Implikasinya akan terjadi

semakin jauh kesenjangan pemahaman konsep

penyakit dan masalah kesehatan antara petugas kesehatan dan masyarakat sehingga gagal
dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
(wordpress.com,2012)
1.2

Rumusan Masalah

1.

Apa saja konsep kesehatan masyarakat?

2.

Bagaimana sejarah kesehatan masyarakat?

3.

Berapa periode-periode perkembangan masyarakat?

4.

Bagaimana perkembangan kesehatan masyarakat Indonesia?

5.

Apa pengertian kesehatan masyarakat?

6.

Apa saja ruang lingkup kesehatan masyarakat?

7.

Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi kesehatan masyarakat?

8.

Siapa saja sasaran kesehatan masyarakat?

9.

Apa dasar, visi dan misi pembangunan kesehatan MDGs tahun 2015?

10. Bagaimana arah, tujuan dan sasaran serta kebijakan pembangunan kesehatan
masyarakat?
11. Apa saja strategi pembangunan kesehatan masyarakat?
12. Apa saja program pembangunan kesehatan masyarakat?
13. Bagaimana rencana pembangunan kesehatan masyarakat MDGs tahun 2015?
14. Indikator keberhasilan pembangunan kesehatan/KIA?
1.3 Tujuan
1.3.1

Tujuan umum

Berdasarkan rumusan masalah diharapkan mahasiswa mampu mengetahui tentang ilmu


kesehatan masyarakat.
1.3.2

Tujuan khusus

Mahasiswa mampu memahami tentang konsep dasar kesehatan masyarakat dan pokok-pokok
pembangunan kesehatan MDGs 2015.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar Kesehatan Masyarakat
2.1.1

Sejarah kesehatan masyarakat

Perkembangan Kesehatan Masyarakat tidak terlepas dari sejarah Kesehatan Masyarakat


(Public Health), yaitu tidak terlepas dari dua tokoh mitologi Yunani Asclepius atau
Aesculapius dan Higea. Aesculapius adalah seorang dokter pertama, yang tampan dan pandai
telah melakukanpengobatan bahkan bedah dengan prosedur yang baik. Sedangkan Higea
adalah asistennya yang cantik dan melakukan pencegahan penyakit dan mengajarkan kepada
masyarakat untuk hidup bersi, melaksanakan hidup seimbang, kebersihan diri menghindari

dari makanan dan minuman yang kotor dan beracun, makan makanan yang bergizi dan cukup
istirahat.
Pada akhirnya kedua orang ini akhirnya menjadi suami istri. Mengabungkan dua aliran
kesehatan yang berbeda tapi tidak saling bertentangan, saling behubungan satu sama lain.
Aliran Aesculapius cenderung menunggu terjadinya penyakit atau setelah sakit yaitu melalui
Pengobatan atau Kuratif. Sedangkan aliran Higea cenderung melakukan pencegahan penyakit
(preventif) serta upaya-upaya peningkatan (promosi) kesehatan. Mitologi tersebut menjadi
inspirasi bagi embrio Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.
2.1.2

Periode periode perkembangan masyarakat

Perkembangan ilmu kesehatan masyarakat dikelompokkan dalam 2 periode, yaitu


a.

Periode sebelum ilmu pengetahuan

Pada periode ini masyarakat belum terlalu memahami arti pentingnya kesehatan dalam
kehidupannya dalam sehari-hari, ini ditandai dengan adanya peraturan tertulis yang mengatur
pembuangan limbah kotoran yang tujuan awalnya tidak untuk kesehatan tetapi karena limbah
menimbulkan bau tidak sedap. Namun lama-lama mereka makin menyadari pentingnya
kesehatan masyarakat setelah timbulnya berbagai macam penyakit menular menyerang
sebagian penduduk dan menjadi epidemi bahkan telah menjadi endemi. Contohnya kolera
namun upaya pemecahan masalah secara menyeluruh belum dilakukan.
b.

Periode ilmu pengetahuan

Periode ini masalah penyakit merupakan masalah yang komplek, sehingga jika pada periode
sebelum ilmu pengetahuan belum ditemukan pemecahan masalah, pada periode ini mulai
ditemukann penyebab-penyebab penyakit dan vaksin sebagai pencegah, ini dibuktikan Lous
Pasteur menemukan vaksin pencegah cacar. Josep Lister menemukan asam karbol untuk
sterilisasi ruang operasi dan William Marton menemukan ether sebagai anestesi pada waktu
operasi. Penyelidikan dan upaya-upaya kesehatan masyarakat secara ilmiah pun mulai
digalakkan. Ini dibukatikan dengan telah dikembangkannya pendidikan tenaga kesehatan
profesional oleh seorang pedagang wiski dari baltimor Amerika dengan berdirinya universitas
serta pemerintah Amerika membentuk departemen kesehatan untuk menyelenggarakan
pelayanan kesehatan bagi penduduk, juga perbaikan dan pengawasan sanitasi lingkungan.
2.1.3
1.

Perkembangan kesehatan masyarakat Indonesia


Masa Pra Kemerdekaan.

Pada tahun 1807 Gubernur Jendral Daendels melakukan pelatihan praktik persalinan pada
para dukun bayi. Pada tahun 1851 didirikan sekolah dokter Jawa di Batavia yaitu STOVIA.
Tahun 1888 di Bandung didirikan Pusat Laboratorium Kedokteran yang selanjutnya menjadi

Lembaga Eykman sekarang. Pada Tahun 1913 didirikan Sekolah Dokter Belanda yaitu NIAS
di Surabaya. Tahun 1922 terjadi wabah Pes, sehingga tahun 1933-1935 diadakan
pemberantasan Pes dengan DDT dan vaksinasi massal.
Hasil penyelidikan Hydric, petugas kesehatan pemerintah waktu itu, penyebab kesakitan dan
kematian yang terjadi di Banyumas adalah kondisi sanitasi, lingkungan dan perilaku
penduduk yang sangat buruk. Hydric kemudian mengembangankan percontohan dan
propaganda kesehatan.
2. Masa Era Kemerdekaan.
a. Pra Reformasi.
1). Masa Orde Lama.
Pada tahun 1951 konsep bandung Plan diperkenalkan oleh dr. Y. Leimena dan dr. Patah, yaitu
konsep pelayanan yang menggabungkan antara pelayanan kuratif dan preventif. Tahun 1956
didirikanlah proyek Bekasi oleh dr. Y. Sulianti di Lemah Abang, yaitu model pelayanan
kesehatan pedesaan dan pusat pelatihan tenaga. Kemudian didirikan Health Centre (HC) di 8
lokasi, yaitu di Indrapura (Sumut), Bojong Loa (Jabar), Salaman (Jateng), Mojosari (Jatim),
Kesiman (Bali), Metro (Lampung), DIY dan Kalimatan Selatan. Pada tanggal 12 November
1962 Presiden Soekarno mencanangkan program pemberantasan malaria dan pada tanggal
tersebut menjadi Hari Kesehatan Nasional (HKN).
2). Masa Orde Baru.
Konsep Bandung Plan terus dikembangkan,

tahun 1967 diadakan seminar konsep

Puskesmas. Pada tahun 1968 konsep Puskesmas ditetapkan dalam Rapat Kerja Kesehatan
Nasional dengan disepakatinya bentuk Puskesmas yaitu Tipe A, B & C. Kegiatan Puskesmas
saat itu dikenal dengan istilah Basic. Ada Basic 7, Basic 13 Health Service yaitu : KIA, KB,
Gizi Mas., Kesling, P3M, PKM, BP, PHN, UKS, UHG, UKJ, Lab, Pencatatan dan Pelaporan.
Pada tahun 1969, Tipe Puskesmas menjadi A & B. Pada tahun 1977 Indonesia ikut
menandatangi kesepakatan Visi : Health For All By The Year 2000, di Alma Ata, negara
bekas Federasi Uni Soviet, pengembangan dari konsep Primary Health Care. Tahun 1979
Puskesmas tidak ada penTipean, dan dikembangkan piranti manajerial Perencanaan dan
penilaian Puskesmas yaitu Micro Planning dan Stratifikasi Puskesmas. Pada tahun 1984
dikembangkan Posyandu, yaitu pemngembangan dari pos penimbangan dan karang gizi.
Posyandu dengan 5 programnya yaitu, KIA, KB, Gizi, Penangulangan Diare dan Imunisasi
dengan 5 Mejanya.
(Notoadmodjo, 2005)

Pada waktu-waktu selanjutnya Posyandu bukan saja untuk pelayanan Balita tetpai juga untuk
pelayanan ibu hamil. Bahkanpada waktu-waktu tertentu untuk promosi dan distribusi Vit.A,
Fe, Garam Yodium, dan suplemen gizi lainnya. Bahkan Posyandun saat ini juga menjadi
andalah kegiatan penggerakan masyarakat (mobilisasi sosial) seperti PIN, Campak, Vit A,
dsb.
b.

Pra Reformasi.

Waktu terus bergulir, tahun 1997 Indonesia mengalami krisis ekonomi. Kemiskinan
meningkat, kemampuan daya beli masyarakat rendah, menyebabkan akses ke pelayanan
kesehatan renda, kemudian dikembangkan program kesehatan untuk masyarakat miskin
yaitu, JPS-BK. Tahun 1998 Indonesia mengalami reformasi berbagai bidang termasuk
pemerintahan dan menjadi negara dermokrasi. Tahun 2001 otonomi daerah mulai
dilaksanakan, sehingga dilapangan program-prorgam kesehatan bernunasa desentralisasi dan
sebagai konsekuensi negara demokrasi, program-program kesehatan juga banyak yang
bernuasa politis. Tahun 2003 JPS-BK kemudian penjadi PKPS-BBM Bidang Kesehatan,
tahun 2005 berubah lagi menjadi Askeskin. Pada saat itu juga dikembangkan Visi Indonesia
Sehat Tahun 2010 dengan Paradigma Sehat. Puskesmas dan Posyandu masih tetap eksis,
bahkan Posyandu menjadi andalan ujung tombak mobilisasai sosial bidang kesehatan.
Dalam era otonomi dan demokrasi menuntut akutanbilitas dan kemitraan, sehingga
berkembang LSM-LSM baik bidang kesehatan, maupun bukan untuk menuntut akutanbilitas
tersebut dalam berbagai bentuk partisipasi. Sebagai partnersship LSM-LSM tersebut
program kesehatan yang bertanggung jawab adalah Promosi Kesehatan. Promosi Kesehatan
harus menjadi ujung tombak mewakili program kesehatan secara keseluruhan, baik sebagai
pemasaran-sosial Visi Indonesia Sehat 2010 untuk merubah paradigma

(Paradigma

Sehat)petugas kesehatan dan masyarakat. Tugas lain promosi kesehatan melakukan advokasi,
komunikasi kesehatan dan mobilisasi sosial, baik kepada pihak legislatif, eksekutif maupun
masyarakat itu sendiri. Terutama melalui kemitraan dengan LSM-LSM tersebut. Dengan kata
lain pada era otonomi/desentralisasi saat ini sektor kesehatan harus diperjuangkan juga secara
politik karena sebenarnya saat ini bidang kesehatan disebut juga sebagai era Political
Health, maka peranan promosi kesehatan sangat menonjol dalam ikut mengakomodasi upaya
tersebut dengan berbagai strategi.
Seca universal perkembangan Kesehatan Masyarakat dibagi menjadi 5 era, dengan dasar
pembagian 5 unsur, yaitu unsur jangkuan dengan filosofi yang dianut dengan titik berat
pelayanan, unsur penyelnggaraan pendidikan dan penelitian pengembangan.
2.1.4

Definisi kesehatan masyarakat

Kesehatan Masyarakat adalah upaya-upaya untuk mengatasi masalah-masalah sanitasi yang


mengganggu kesehatan.
2.1.5

Ruang lingkup kesehatan masyarakat

Ruang lingkup kesehatan masyarakat dapat dilihat dari 2 (dua) disiplin keilmuan, yakni biomedis dan social sciences. Tetapi dalam perkembangannya Ilmu Kesehatan Masyarakatpun
berkembang, sehingga sampai saat ini disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan
masyarakat antara lain :
a.

Ilmu

b.

biologi

Ilmu

c.

kedokteran

Ilmu

kimia

d.

Fisika

e.

Ilmu

Lingkungan

f.

Sosiologi

g.

Antropologi

h.

Psikologi

i.

Ilmu

pendidikan

Keberagaman ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat menjadikan Ilmu Kesehatan
Masyarakat

itu

menjadi

ilmu

yang

multidisiplin.

Secara luas, disiplin ilmu yang menopang ilmu kesehatan masyarakat, atau sering disebut
sebagai

pilar

utama

Ilmu

Kesehatan

Masyarakat

ini

1.
Biostatistik/Statistik

3.
5.

lain

Epidemiologi.

2.
4.

antara

Kesehatan.

Kesehatan
Pendidikan

Kesehatan

Administrasi

Lingkungan.
dan

Ilmu

Kesehatan

6.

Gizi

7.

Kesehatan

Perilaku.
Masyarakat.
Masyarakat.
Kerja.

Mengingat masalah kesehatan masyarakat adalah multikausal, maka pemecahanya harus


secara multidisiplin, dengan pengembangan dan pendekatan beberapa aspek. Dengan
beberapa aspek yang luas tadi, maka cakupan kegiatan baik langsung maupun tidak untuk
mencegah penyakit (preventif), meningkatkan kesehatan (promotif), terapi (terapi fisik,
mental, dan sosial) atau kuratif, maupun pemulihan (rehabilitatif) kesehatan (fisik, mental,
sosial)

adalah

bentuk-bentuk

upaya

kesehatan

masyarakat.

Secara garis besar, upaya kesehatan yang dapat dikategorikan sebagai penerapan ilmu
kesehatan
a.

masyarakat

Pemberantasan

b.

antara

penyakit,

baik

lain

sebagai

menular

maupun

Perbaikan

c.

tidak

sanitasi

Perbaikan

d.

berikut

pemukiman

Pemberantasan
Pendidikan

(penyuluhan)

f.

Pelayanan

Kesehatan

g.

Pembinaan

h.

Pengawasan

i.

Vektor
kesehatan
Ibu

masyarakat
dan

gizi
Sanitasi

Pengawasan

menular.
lingkungan

lingkungan

e.

masyarakat

Tempat-Tempat

Obat

Anak

dan

Umum
Minuman

j. Pembinaan Peran Serta Masyarakat soepri


2.1.6
1)

Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.


Lingkungan

Lingkungan ini meliputi lingkungan fisik (baik natural ataubuatan manusia), dan sosiokultur
(ekonomi, pendidikan,pekerjaan dll). Pada lingkungan fisik, kesehatan akandipengaruhi oleh
kualitas sanitasi lingkungan dimana manusiaitu berada.
Hal ini dikarenakan banyak penyakit yang bersumberdari buruknya kualitas sanitasi
lingkungan, misalnya ;ketersediaan air bersih pada suatu daerah akan mempengaruhiderajat
kesehatan karena air merupakan kebutuhan pokokmanusia dan manusia selalu berinteraksi
dengan air dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan lingkungan sosial berkaitandengan kondisi perekonomian suatu masyarakat.
Semakin miskin individu/ masyarakat maka akses untuk mendapatkanderajat kesehatan yang
baik maka akan semakin sulit.
2)

Perilaku/Gaya hidup

Gaya hidup individu/masyarakat sangat mempengaruhiderajat kesehatan. Contohnya : dalam


masyarakat yang mengalami transisi dari masyarakat tradisionalmenuju masyarakat modern,
akan terjadi perubahangaya hidup pada masyarakat tersebut yang akanmempengaruhi derajat
kesehatan.
2.1.7

Sasaran Kesehatan Masyarakat

1)

Terpelihara dan meningkatnya status kesehatan keluarga.

2)

Terpelihara dan meningkatnya status kesehatan komunitas.

3)

Terpelihara dan meningkatnya status gizi masyarakat.

4)

Terpelihara dan meningkatnya status kesehatan jiwa masyarakat.

5)

Meningkatnya jumlah dan cakupan pemeliharaan kesehatan dengan pembiayaan pra

upaya.
2.2 Pokok-pokok pembangunan kesehatan MDGs tahun 2015
2.2.1

Dasar, visi dan misi pembangunan kesehatan


Dasar-dasar pembangunan kesehatan

Pada hakekatnya adalah nilai kebenaran dan aturan pokok sebagai landasan untuk berfikir
atau bertindak dalam pembangunan kesehatan. Dasar ini merupakan landasan dalam
penyusunan visi, misi, dan strategi kesehatan secara nasional yang meliputi:
1. Perikemanusiaan
2. Pemberdayaan dan Kemandirian
3. Adil dan Merata
4. Pengutamaan dan Manfaat
VISI
Indonesia sehat 2015
MISI
1.

Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan.

2.

Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat

3.

Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan

terjangkau
4.

Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta

lingkungannya.
2.2.3

Arah, tujuan dan sasaran serta kebijakan

Arah Pembangunan Kesehatan


1. Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari pembangunan nasional
2. Pelayanan kesehatan baik oleh pemerintah maupun masyarakat harus diselengarakan
secara bermutu, adil dan merata dengan memberikan pelayanan khusus kepada penduduk
miskin, anak-anak, dan para lanjut usia yang terlantar, baik di perkotaan mapun di pedesaan
3. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan strategi pembangunan profesionalisme,
desentralisasi dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat dengan memperhatikan
berbagai tantangan yang ada saat ini.
4. Upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan masyarakat dilaksanakan melalui program
peningkatan perilaku hidup sehat, pemeliharaan lingkungan sehat, pelayanan kesehatan dan
didukung oleh sistem pengamatan, Informasi dan manajemen yang handal.
5. Pengadaan dan peningkatan prasarana dan sarana kesehatan terus dilanjutkan

6. Tenaga yang mempunyai sikap nasional, etis dan profesional, juga memiliki semangat
pengabdian yang tinggi kepada bangsa dan negara, berdisiplin, kreatif, berilmu dan terampil,
berbudi luhur dan dapat memegang teguh etika profesi.
7. Meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan
pendekatan paradigma sehat, yang memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan
pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan rehabilitasi sejak pembuahan dalam kandungan
sampai lanjut usia.
8. Meningkatkan dan memelihara mutu lembaga dan pelayanan kesehatan melalui
pemberdayaan sumber daya manusia secara berkelanjutan dan sarana prasarana dalam bidang
medis, termasuk ketersediaan obat yang dapat dijangkau oleh masyarakat.
9. Mengembangkan sistem jaminan sosial tenaga kerja bagi seluruh tenaga kerja bagi seluruh
tenaga kerja untuk mendapatkan perlindungan, keamanan, dan keselamatan kerja yang
memadai, yang pengelolaannya melibatkan pemerintah, perusahaan dan pekerja.
10. Membangun ketahanan sosial yang mampu memberi bantuan penyelamatan dan
pemberdayaann terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial dan korban bencana serta
mencegah timbulnya gizi buruk dan turunnya kualitas generasi muda.
11. Membangun apresiasi terhadap penduduk lanjut usia dan veteran untuk menjaga harkat
martabatnya serta memanfaatkan pengalamannya.
12. Meningkatkan kepedulian terhadap penyandang cacat, fakir miskin dan anak-anak
terlantar, serta kelompok rentan sosial melalui penyediaan lapangan kerja yang seluasluasnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
13. Meningkatkan kualitas penduduk melalui pengendalian kelahiran, memperkecil angka
kematian, peningkatan kualitas program keluarga berencana.
14. Memberantas secara sistematis perdagangan dan penyalahgunaan narkotik dan obatobatan terlarang dengan memberikan sanksi yang seberat-beratnya kepada produsen,
pengedar dan pemakai
Tujuan Pembangunan Kesehatan
Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal
melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai penduduk yang
hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau
pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan
yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia. Adapun tujuan utama dari
pembangunan kesehatan yaitu :

o Peningkatan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dalambidang


kesehatan.
o Perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan.
o Peningkatan status gizi masyarakat.
o Pengurangan kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas).
o Pengembangan keluarga sehat sejahtera
Kebijakan pembangunan kesehatan
Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan dan melandaskan pada memperhatikan
kebijakan umum yang dikelompokkan sebagai berikut:
1.

Peningkatan Kerjasama Lintas Sektor.


Untuk optimalisasi hasil pembangunan berwawasan kesehatan, kerjasama lintas

sektor merupakan hal yang utama dan karena itu perlu digalang serta dimantapkan secara
seksama. Sosialisasi masalah-masalah kesehatan pada sektor lain perlu dilakukan secara
intensif dan berkala. Kerjasama lintas sektor harus mencakup pada tahap perencanaan,
pelaksanaan dan penilaian serta melandaskan dengan seksama pada dasar-dasar
pembangunan kesehatan.
3

Penigkatan perilaku, Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan Swasta.


Masyarakat dan swata perlu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.

Dalam kaitan ini perilaku hidup masyarakat sejak usia dini perlu ditingkatkan melalui
berbagai kegiatan penyuluhan dan pendidikan kesehatan, sehingga menjadi bagian dari
norma hidup dan budaya masyarakat dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kemandirian
masyarakat untuk hidup sehat. Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan terutama
melalui penerapan konsep pembangunan kesehatan masyarakat tetap didorong bahkan
dikembangkan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan serta keseimbangan upaya
kesehatan.
3. Peningkatan Kesehatan Lingkungan.
Kesehatan lingkungan perlu diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan
yang sehat, yaitu keadaan lingkungan yang bebas dari resiko yang membahayakan kesehatan
dan keselamatan hidup manusia. Upaya ini perlu untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup
dan meningkatkan kemauan dan kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam
merencanakan dan melaksanakan pembangunan berwawasan kesehatan.
Kesehatan lingkungan pemukiman, tempat kerja dan tempat-tempat umum serta
tempat periwisata ditingkatkan melalui penyediaan serta pengawasan mutu air yang
memenuhi persyaratan terutama perpipaan, penerbitan tempat pembuangan sampah,

penyediaan sarana pembangunan limbah serta berbagai sarana sanitasi lingkungan lainnya.
Kualitas air, udara dan tanah ditingkatkan untuk menjamin hidup sehat dan produktif
sehingga masyarakat terhindar dari keadaan yang dapat menimbulkan bahaya kesehatan.
Untuk itu diprlukan peningkatan dan perbaikan berbagai peraturan perundang-undangan,
pendidikan lingkungan sehat sejak dini usia muda serta pembakuan standar lingkungan.
4. Peningkatan Upaya Kesehatanya.
Penyelenggaraan upaya kesehatan dilakuakan secara menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan,

melalui

upaya

peningkatan

kesehatan,

pencegahan

penyakit,

pennyembuhan penyakit dan pemuluhan kesehatan serta upaya khusus melalui pelayanan
kemanusiaan dan darurat atau kritis. Selanjutnya, pemerataan dan peningkatan mutu
pelayanan kesehatan perlu terus menerus diupayakan.
Dalam rangka mempertahankan status kesehatan masyarakat selama kritis ekonomi,
upaya kesehatan diproriataskan untuk mengatasi dampak kritis disamping tetap
mempertahankan peningkatan pembangunan kesehatan. Perhatikan khusus dalam mengatasi
dapak kritis diberikan kepada kelompok berisiko dari keluarga-keluarga miskin agar derajat
kesehatan tidak memburuk dan tetap hidup produktif. Pemerintah berttanggung jawab
terhadap biaya pelayanan kesehatan untuk penduduk miskin.
Setelah melewati krisis ekonomi, status kesehatan masyarakat diusahakan ditigkatkan
melalui pencegahan dan panganguran mordibitas, mortalitas, dan kecacatan dalam
masyarakat terutama pada bayi, anak balita, dan wanita hamil, melahirkan dan masa nifas,
melalui upaya peningkatan (promosi) hidup sehat, pencegahan dan pemberantasan penyakit
menular serta pengobatan penyakit dan rehabilitas. Prioritas utama diberikan kepada
penaggulangan penyakit menular dan wabah yang

cenderung meningkat.

Perhatian yang lebih besar diberikan untuk mewujudkan produktifitas kerja yang
tinggi, melalui berbagai upaya pelayanan kesehatan kerja termasuk perbaikan gizi dan
kebugaran jasmani tenaga kerja serta upaya kesehatan lain yang menyangkut kesehatan
lingkungan kerja dan lingkungan pemukiman terutama bagi penduduk yang tinggal di daerah
yang kumuh.
5. Peningkatan Sumber Daya Kesehatan
Pengenbangan tenaga kesehatan harus menunjang seluruh upaya pembangunan
kesehatan dan diarahkan untuk menciptakan tenaga kesehatan yang ahli dan terampil sesuai
pengembangan ilmu dan teknologi, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
serta berpegang teguh pada pengabdian bangsa dan negara dari etika profesi. Pengembangan
tenaga kesehatan bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan atau daya guna tenaga dan

penyediaan jumlah serta mutu tenaga kesehatan dari masyarakat dan pemerintah yang mampu
melaksanakan pembangunan kesehatan. Dalam parencanaan tenaga kesehatan perlu
diutamakan penentu kebutuhan tenaga di kabupaten dan kota juga keperluan tenaga berbagai
negara di luar negeri dalam rangka globalisasi. Pengembangan karier tenaga kesehatan
mesyarakat dan pemerintah perlu ditingkatkan dengan terarah dan seksama serta diserasikan
secara bertahap.
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JK PM) yakni cara pelayanan
kesehatan melelui penyebaran secara praupaya dikembangkan terus untuk menjamin
tersekenggaranya pemeliharaan kesehatan yang lebih merata dan bermutu dengan harga yang
terkendali. JKPM diselenggarakan sebagai upaya bersama antar masyarakat, swasta dan
pemerintah untuk memenuhi kebutuhan biaya pelayanan kesehatan yang terus meningkat.
Tarif pelayanan kesehatan perlu disesuaikan atas dasar nilai jasa dan barang yang diterima
oleh anggota masyarakat yang memperoleh pelayanan. Masyarakat yang tidak mampu akan
dibantu melalui system JKPM yang disubsidi oleh pemerintah. Bersamaan dengan itu
dikembangkan

pula

asuransi

kesehatan

sebagai

pelengkap/pendamping

JKPM.

Pengembangan asuransi kesehatan berada dibawah pembinaan pemerintah dan asosialisasi


perasuransian. Secara bertahap puskesmas dan rumahsakit milik pemewrintah akan dikelolah
secara swadana.
6. Peningkatan Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan.
Kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan perlu makin ditingkatkan
terutama melalui peningkatan secara strategis dalam kerjasama antara sektor kesehatan dan
sektor lain yang yang terkait, dan antara berbagai program kesehatan serta antara para pelaku
dalam pembangunan kesehatan sendiri. Manajemen upaya kesehatan yang terdiri dari
perencanaan, pengerakan pelaksanaan, pengendalian, dan penilaian diselenggarakan secara
sistematik untuk menjamin upaya kesehatan yang terpaduh dan menyeluruh. Manajemen
tersebut didukung oleh sistem informasi ynag handal guna menghasilkan pengambilan
kepetusan dan dan cara kerja yang efisien. Sistem informasi tersebut dikembangkan secara
komprehensif diberbagai tingkat administrasi kesehatan sebagai bagian dari pengembangan
administrasi mder. Organisasi Departemen Kesehatan perlu disesuaikan kembali dengan
fungsi-fungsi : regulasi, perencanaan nasional, pembinaan dan pengawasan.
Desentralisasi atas dasr prinsip otonomi ynag nyata, dinamis, serasi dan bertanggung
jawab dipercepat melalui pelimpahan tanggung jawab pengelolaaan upaya kesehatan kepada
daerah Dinas Kesehatan ditingkatkan terus kemampuan manajemennya sehingga dapat
melaksanakan secara lebih bertanggung jawab dalam perencanaan, pembiayaan dan pelalsaan

upaya kesehatan. Peningkatan kemampuan manajemen tersebut dilakukan melalui rangkaian


pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan pembangunan kesehatan yang ada. Upaya
tersebut pula didukung oleh tersedianya pembiayaan kesehatan yang memadai. Untuk itu
perlu diupayakan peningkatan pendanaan kesehatan yang baik berasal dari anggaran
Pendapatan dan Belanja Nasional maupun dari anggaran Pendapatan dan BelanjaDaerah.
7. Peningkatan Ilmu Pengetahuan dan teknologi Kesehatan.
Penelitian dan pengembangan dibidang kesehatan akan terus dikembangkan secara
terarah dan bertahap dalam rangka menunjang upaya kesehatan, utamanya untuk mendukung
perumusan kebijaksanaan, membantu memecahkan masalah kesehatan dan mengatasi
kendala dalam pelaksanaan program kesehatan. Penelitian dan pengembangan kesehatan akan
terus dikembangkan melalui jaringan kemitraan dan didesentralisasikan sehingga menjadi
bagian pentig dari pembangunan kesehatan daerah.
Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi didorong untuk meningkatkan
pelayanan kesehatan, gizi, pendayagunaan obat dan pengembangan obat asli Indonesia,
pemberatasan penyakit dan perbaikan lingkungan. Penelitian yang berkaitan dengan ekonomi
kesehatan dikembangkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan pembiayaan kesehatan dari
pemerintah dan swasta. Setra meningkatkan kontribusi pemerintah dalam pembiayaan
kesehatan yang terbatas. Penelitian bidang sosial budaya dan perilaku sehat dilakukan untuk
mengembangkan gaya hidup sehat dan mengurangi masalah kesehatan masyarakat yang ada.
8. Peningkatan Lingkungan Sosial Budaya.
Selain berpengaruh positif, globalisasi juga menimbulkan perubahan lingkungan
sosial dan budaya masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap pembangunan
kesehatan. Untuk itu sangat diperlukan peningkatan ketahanan sosial dan budaya masyarakat
melalui peningkatan sosioekonomi masyarakat, sehingga dapat mengambil manfaat yang
sebesar-besarnya dan sekaligus meminimalkan dampak negatif dari globalisasi.
2.2.4

Strategi
1.

Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan.

Faktor factor yang mempengaruhi :


Wawasan kesehatan sebagai azas pembangunan Nasional
Paradigma sehat sebagai komitmen gerakan Nasional
Sistem yang mendorong aspek promotif dan preventif dalam pemeliharaan kesehatan
komprehensif.
Dukungan sumber daya yang berkesinambungan
Sosialisasi internal dan eksternal

Restrukturisasi dan revitalisasi infrastruktur terutama yang terkait dengan rencana


desentralisasi.
2.

Profesionalisme

Faktor penentu keberhasilan mencakup :


1.

Pemantapan manajemen sumber daya manusia

2.

Pemantapan aspek ilmu dan tekhnologi, iman dan takwa serta etika profesi.

3.

Penajaman konsep profesionalisme kedokteran dan kesehatan.

4.

Penciptaan aliansi strategis dengan pihak-pihak yang turut memainkan peranan penting

dalam mewujudkan visi Indonesia sehat 2015.


2.2.5

Pogram pembangunan kesehatan

1.

Pokok program prilaku, pemberdayaan dan kemandirian Masyarakat

2.

Pokok program Lingkungan sehat

3.

Pokok program upaya kesehatan

4.

Pokok program pengawasan obat, makanan dan bahan berbahaya

5.

Pokok program pengembangan Sumber Daya Kesehatan

6.

Pokok program Kebijakan dan manajemen Pembangunan Kesehatan

7.

Pokok program Ilmu pengetahuan dan teknologi Kesehatan

2.2.6

Rencana pembangunan kesehatan masyarakat MDGs tahun 2015

Jaminan Pemeliharaan kesehatan Masyarakat ( JPKM )


Faktor Penentu keberhasilan Mencakup :
Komitmen dan pencanangan JPKM bersama gerakan Paradigma sehat.
Dukungan peraturan perundang undangan
Sosialisasi Internal dan eksternal
Intervensi pemerintah terutama dalam inisiasi penghimpunan dana awal.
Kebijakan yang memberi keleluasaan pengelolaan secara bertanggung jawab.
DESENTRALISASI
Faktor penentu keberhasilan mencakup :
Keseimbangan dan sinergis azas-azas desentralisasi, dekonsentralisasi dantugas pembantuan.
Penegasan jenis dan peringkat kewenangan.
Kejelasan pedoman pengelolaan disertai dengan indicator / parameter kinerja kota sehat dan
kabupaten sehat.
Evidence Based analisis digunakan sebagai landasan penetapan program.
Pemberdayaan : Kemampuan/Kapasitas untuk menerapkan desntralisasi.

Sistem dan kebijakan SDM yang mendukung.


Infrastruktur lintas sektoral yang menunjang
Mekanisme pengendalian yang andal
2.2.7

Indikatoe keberhasilan pembangunan kesehatan / KIA

INDIKATOR INPUT : Dapat dilihat dari kebijaksanaan manajemen ( Man, Money, Material,
Method, dsb ).Struktur organisasi serta kondisi keadaan masyarakat pada saat ini :
Komitmen politik mengenai kesehatan bagi semua.
Alokasi sumber daya, pembiayaan Kesehatan 5 % dari total pembayaan nasional dan
pembiayaan pembangunan daerah.
Penyebaran Pendapatan
Angka melek huruf orang dewasa.
Ketersediaan sarana kesehatan, Penyebaran dan penggunaannya.
Tingkat pertumbuhan penduduk
Penduduk yang ikut JPKM
Kerangka Organisasi dan proses manajerial.
INDIKATOR PROSES : Adanya kemajuan dalam proses manajemen baik dalam
perencanaan, organisasi, staffing, koordinasi, pelaporan dan pembiayaan, misalnya :
Keterlibatan masyarakat dalam mencapai kesehatan bagi semua.
Tingkat desentralisasi pengambilan keputusan, pengembangan dan penetapan suatu proses
manajerial bagi pembangunan kesehatan nasional atau pembangunan daerah.
Wanita hamil yang memeriksakan kehamilan
Penduduk yang tidak merokok dan tidak minum minuman keras.
INDIKATOR OUTPUT :
Misalnya :
Cakupan :
Cakupan pelayanan kesehatan dasar.
Cakupan pelayanan rujukan.
Status kesehatan ;
Status gizi dan perkembangan Psikososial anak
Angka kematian bayi, angka kematian anak, umur harapan hidup waktu lahir dan angka
kematian ibu.
2.3

Konsep PHC (Primary Health Care)

2.3.1

Latar belakang phc

World Health Essembly tahun 1977 telah menghasilkan kesepakatan global untuk mencapai
Kesehatan Bagi Semua atau Health For All Pada Tahun 2000 ( KBS 2000 / HFA by The
Year 2000 ), yaitu Tercapainya suatu derajat kesehatan yang optimal yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif baik secara social maupun ekonomi.
Selanjutnya pada tahun 1978, Konferensi di Alma Ata, menetapkan Primary Health Care
(PHC) sebagai Pendekatan atau Strategi Global untuk mencapai Kesehatan Bagi Semua
(KBS) atau Health For All by The Year 2000 ( HFA 2000 ). Dalam konferensi tersebut
Indonesia juga ikut menandatangani dan telah mengambil kesepakatan global pula dengan
menyatakan bahwa untuk mencapai Kesehatan Bagi Semua Tahun 2000 ( HFA200 )
kuncinya adalah PHC ( Primary Health Care ) dan Bentuk Opersional dari PHC tersebut di
Indonesia adalah PKMD ( Pengembangan Kesehatan Masyarakat Desa ).
2.3.2

Pengertian

Primary Health Care ( PHC ) adalah pelayanan kesehatan pokok yang berdasarkan kepada
metode dan teknologi praktis, ilmiah dan sosial yang dapat diterima secara umum baik oleh
individu maupun keluarga dalam masyarakat melalui partisipasi mereka sepenuhnya, serta
dengan biaya yang dapat terjangkau oleh masyarakat dan negara untuk memelihara setiap
tingkat perkembangan mereka dalam semangat untuk hidup mandiri ( self reliance ) dan
menentukan nasib sendiri ( self determination ).
2.3.3
a.
1.

Unsur, prinsip dan program


Tiga

Unsur

Mencakup

2.

Utama

yang

Upaya

Melibatkan

terkandung

dalam

upaya

Dasar

Peran

PHC

Serta

adalah
Kesehatan

Masyarakat

3. Melibatkan Kerja Sama Lintas Sektoralur


b.

Lima

1.

Prinsip

Pemerataan

2.

PHC

Upaya

Penekanan

3.

Dasar

Pada

Menggunakan

adalah
Kesehatan

Upaya

Teknologi

Preventif

Tepat

Guna

4. Melibatkan Peran Serta Masyarakat


c.

Dalam

pelaksanaan

PHC

harus

memiliki

elemen

essensial

yaitu

1. Pendidikan mengenai masalah kesehatan dan cara pencegahan panyakit serta


pengendaliannya.
2.

Peningkatan

penyediaan

makanan

3.

Penyediaan

Air

Bersih

4.

Kesehatan

Ibu

dan

dan
dan
Anak

perbaikan
Sanitasi
termasuk

gizi
Dasar
KB

5.

Imunisasi

terhadap

Penyakit

penyakit

Infeksi

Utama

6. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Endemik Setempat


2.3.4

Perkembangan PHC di Indonesia

Pada awal tahun 1970-an, organisasi kesehatan dunia (WHO) mendesak negara anggotanya
untuk melakukan penilaian terhadap sistem pelayanan kesehatan masing-masing dengan
mengacu kepada hasil studi WHO mengenai pelayanan kesehatan desa. Departemen
kesehatan Indoensia menanggapinya dengan menyusun rencana Program Pembangunan
Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) yang mulai dilaksanakan pada tahun 1975. Suatu
kelompok kerja dibentuk untuk merencanakan danmengembangkan program PKMD secara
resmi dinyatakan sebagai suatu strategi untuk meningkatkan kesehatan rakyat Indonesia.
PKMD adalah bentuk operasional dari Primary Health Care (PHC) di Indonesia. PKMD
mencakup serangkaian kegiatan swadaya masyarakat berazaskan gotong royong yang
didukung oleh pemerintah melalui koordinasi lintas sektoral dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan kesehatan atau yang terkait dengan kesehatan, agar masyarakat dapat hidup sehat
guna mencapai kualitas hidup dan kesejahteraan yang lebih baik.
2.4

PKMD

2.4.1

Pengertian

PKMD adalah rangkaian kegiatan masyarakat yang dilaksanakan atas dasar gotong royong
dan swadaya dalam rangka menolong diri sendiri dalam memecahkan masalah untuk
memenuhi kebutuhannya dibidang kesehatan dan dibidang lain yang berkaitan agar mampu
mencapai kehidupan yang sehat sejahtera ( Nasrul Effendi, 1998:263).
2.4.2
a.

Tujuan
Tujuan Umum.

Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya swadaya masyarakat dalam


meningkatkan swadaya masyarakat dalam meningkatakn kesejahteraan dan mutu hidup
masyarakat.
b.

Tujuan Khusus.

1).

Menumbuhkan kegiatan masyarakat

2).

Membentuk kader-kader kesehatan yang berasal dari masyarakat yang

mampu dan

aktif dalam program pembangunan kegiatan desa.


3).

Terjalinnya kerja sama kegiatan dari berbagai sektor masyarakat denganpemerintah

secara terpadu.

4).

Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan turunnya angka kematian,

kesakitan, perbaikan status gizi masyarakat, dll.


2.4.3

Ruang lingkup

1. Rangkaian kegiatan masyarakat yang dilaskanakan atas dasar gotong royong dan swadaya
dalam

rangka

menolong

diri

sendir

(masayarakat)

untukmenegnal,

meemcahkan

masalah/kebutuhan yang dirasakan olehmasyarakat baik dalam bidang kesehatan maupun


bidang lain agar mampu memelihara dan meningkatkan kehidupan (sehat sejahtera)
2. Upaya

untuk

menggerakkan

masyarakat

pedesaan/perkotaan

dan

meningkatkan

kemampuannya dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal dengan berorientasi pada
kebutuhan khusus masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah tanpa mengabaikan
masayarakat lain dan mendayagunakan potensi dan peran masyarakat, sektor kesehatan dan
sektor lain secara terpadu.
2.4.4
a.

Langkah-langkah pemetaan PKMD


Persiapan masyarakat, yaitu upaya yang bertujuan agar masyarakat memahami PKMD,

dan mampu berperan aktifdalam setiap kegiatan PKMD.


1).

Pengenalan terhadap masyarakat.

2).

Pengenalam masalah melalui:

a)

Pengumpulan data (SDM)

b)

Penyajian yang dapat dimengerti masyarakat.

c)

Menyelesaikan masalah yang ada dengan prioritas yang perlu ditanggulangi.

3).

Pembentukan kader dan pengorganisasian kader.

4).

Pelatihan kader kesehatan desa yang disebut promoter kesehatan desa

b.

Perencanaan Kegiatan PKMD

1).

Memilih prioritas masalah

2).

Menetapkan jenis kegiatan

3).

Menyusun rencana kerja yang meliputi:

a)

Tujuan yang ingin dicapai.

b)

Strategi yang ingin ditempuh pengorganisasian.

c)

Pengorganisasian.

d)

Pembiayaan.

e)

Waktu pelaksanaan.

f)

Tindakan.

c.

Pelaksanaan kegiatan.

1).

Kader dan mahasiswa melaksanakan masing-masing tugas sesuai yang telah disepakati.

2).

Kader dan pengurus desa serta petugas kesehatan memantau kegiatan.

3).

Dalam proses kegiatan selalu diadakan pertemuan-pertemuan (POKJA-POKJA)

4).

Dimonitori adalah rencana kerja yang disepakati.

a)

Ketepatan pelaksanaan

b)

Ketepatan waktu.

c)

Penerimaan dan penggunaan biaya.

d)

Penyediaan dan penggunaan biaya.

e)

Hasil-hasil yang ingin dicapai.

f)

Jumlah dan kualitas partisipasi masyarakat.

d.

Penilaian (Evaluasi) PKMD

1).

Penilaian hasil kegiatan.

2).

Penilaian hasil sementara

3).

Penilaian hasil akhir.

e.

Pembinaan PKMD

Pembinaan berarti upaya-upaya untuk memelihara dan meningkatkan kegiatan yang telah
dimulai dalam menjamin kelangsungan program.
f.

Perluasan program PKMD.

Dilakukan secara bertahap.


2.5

Poned

Poned merupakan kepanjangan dari Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar. Poned
dilakukan di Puskesmas induk dengan pengawasan dokter. Petugas kesehatan yang boleh
memberikan poned yaitu dokter, bidan, perawat dan tim poned puskesmas beserta
penanggung jawab terlatih.
Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial Dasar dapat dilayani oleh puskesmas yang mempunyai
fasilitas atau kemampuan untuk penangan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dasar.
Puskesmas poned merupakan puskesmas yang siap 24 jam, sebagai rujukan antara kasuskasus rujukan dari polindes dan puskesmas. Polindes dan puskesmas non perawatan
disipakan untuk mealkukuan pertolongan pertama gawat darurat obstetri dan neonatal
(PPGDON) dan tidak disiapkan untuk melakukan poned.
2.6

Ponek

Ponek adalah Pelayan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif di Rumah Sakit,
meliputi kemampuan untuk melakukan tindakan :

a) seksia sesaria,
b) Histerektomi,
c) Reparasi Ruptura Uteri, cedera kandung/saluran kemih,
d) Perawatan Intensif ibu dan Neonatal,
e) Tranfusi darah.
2.7

Pendekatan Epidemiologi

2.7.1

Dasar

Epidemilogi berasal dari bahasa Yunani, yaitu (Epi=pada, Demos=penduduk, logos = ilmu),
dengan demikian epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan
masyarakat.
2.7.2

Definisi

Banyak

definisi

tentang

Epidemiologi,

a.

beberapa

diantaranya

W.H.

:
Welch

Suatu ilmu yang mempelajari timbulnya, perjalanan, dan pencegahan penyakit, terutama
penyakit infeksi menular. Dalam perkembangannya, masalah yang dihadapi penduduk tidak
hanya penyakit menular saja, melainkan juga penyakit tidak menular, penyakit degenaratif,
kanker, penyakit jiwa, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Oleh karena batasan
epidemiologi

menjadi

b.

Mausner

lebih

berkembang.

dan

Kramer

Studi tentang distribusi dan determinan dari penyakit dan kecelakaan pada populasi manusia.
c.

Last

Studi tentang distribusi dan determinan tentang keadaan atau kejadian yang berkaitan dengan
kesehatan pada populasi tertentu dan aplikasi studi untuk menanggulangi masalah kesehatan.
d.

Mac

Mahon

dan

Pugh

Epidemiologi adalah sebagai cabang ilmu yang mempelajari penyebaran penyakit dan faktorfaktor

yang

menentukan

terjadinya

e.

penyakit

pada

manusia.
Omran

Epidemiologi adalah suatu studi mengenai terjadinya distribusi keadaan kesehatan, penyakit
dan perubahan pada penduduk, begitu juga determinannya dan akibat-akibat yang terjadi
pada
f.

kelompok
W.H.

penduduk.
Frost

Epidemiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari timbulnya, distribusi, dan jenis penyakit

pada

manusia

menurut

g.

waktu

dan

Azrul

tempat.
Azwar

Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang frekuensi dan penyebaran masalah
kesehatan pada sekelompok manusia serta faktor-faktor yang mempengaruhi masalah
kesehatan.
2.7.3
a.

Ruang lingkup
Masalah

kesehatan

sebagai

subjek

dan

objek

epidemiologi

Epidemiologi tidak hanya sekedar mempelajari masalah-masalah penyakit-penyakit saja,


tetapi juga mencakup masalah kesehatan yang sangat luas ditemukan di masyarakat.
Diantaranya masalah keluarga berencana, masalah kesehatan lingkungan, pengadaan tenaga
kesehatan, pengadaan sarana kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian, subjek dan objek
epidemiologi
b.

berkaitan

Masalah

dengan

masalah

kesehatan

pada

kesehatan

secara

sekelompok

keseluruhan.
manusia

Pekerjaan epidemiologi dalam mempelajari masalah kesehatan, akan memanfaatkan data dari
hasil pengkajian terhadap sekelompok manusia, apakah itu menyangkut masalah penyakit,
keluarga berencana atau kesehatan lingkungan. Setelah dianalisis dan diketahui penyebabnya
dilakukan

upaya-upaya

penanggulangan

sebagai

tindak

lanjutnya.

c. Pemanfaatan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan dalam merumuskan
penyebab

timbulnya

suatu

masalah

kesehatan.

Pekerjaan epidemiologi akan dapat mengetahui banyak hal tentang masalah kesehatan dan
penyebab dari masalah tersebut dengan cara menganalisis data tentang frekuensi dan
penyebaran masalah kesehatan yang terjadi pada sekelompok manusia atau masyarakat.
Dengan memanfaatkan perbedaan yang kemudian dilakukan uji statistik, maka dapat
dirumuskan penyebab timbulnya.
2.7.4

Macam epidemiologi

2.7.5

Kegunaan

a. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya penyakit atau masalah


kesehatan

dalam

masyarakat.

b. Menyediakan data yang diperlukan untuk perencanaan kesehatan dan mengambil


keputusan.
c. Membantu melakukan evaluasi terhadap program kesehatan yang sedang atau telah
dilakukan.
d. Mengembangkan metodologi untuk menganalisis keadaan suatu penyakit dalam upaya

untuk

mengatasi

atau

menanggulanginya.

e. Mengarahkan intervensi yang diperlukan untuk menanggulangi masalah yang perlu


dipecahkan.
2.7.6

Prinsip-prinsip

Epidemiologi merupakan "the mother science of public health", induk dari ilmu kesehatan
masyarakat. Epidemiologi diambil dari kata epi=antara, demos=penduduk dan logos=ilmu.
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyakit yang ada di masyarakat.
Cakupan epidemiologi yaitu distribusi penyakit, frekwensi penyakit dan determinan penyakit.
Yang dipelajari dalam mata kuliah epidemiologi adalah penyebaran penyakit, jumlah kasus
penyakit yang terjadi dan penyebab timbulnya penyakit.
Mata kuliah ini membahas tentang prinsip dan konsep epidemiologi di dalam pelayanan
kesehatan, konsep tentang sakit dan sehat dan juga membahas penerapan hasil riset
epidemiologi

untuk

tujuan

perbaikan

kualitas

pelayanan

kesehatan.

Kompetensi

dasar:

1.

Menjelaskan

prinsip

epidemiologi

2. Mengidentifikasi masalah kesehatan dengan pendekatan disain dan analisis epidemiologi


3.

Menjelaskan

konsep

dan

prinsip

epidemiologi

dalam

masalah

kesehatan

4. Menggunakan statistika untuk riset kesehatan


2.7.7
a.

Frekuensi
Masalah

kesehatan

sebagai

subjek

dan

objek

epidemiologi

Epidemiologi tidak hanya sekedar mempelajari masalah-masalah penyakit-penyakit saja,


tetapi juga mencakup masalah kesehatan yang sangat luas ditemukan di masyarakat.
Diantaranya masalah keluarga berencana, masalah kesehatan lingkungan, pengadaan tenaga
kesehatan, pengadaan sarana kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian, subjek dan objek
epidemiologi
b.

berkaitan

Masalah

dengan
kesehatan

masalah
pada

kesehatan

secara

sekelompok

keseluruhan.
manusia

Pekerjaan epidemiologi dalam mempelajari masalah kesehatan, akan memanfaatkan data dari
hasil pengkajian terhadap sekelompok manusia, apakah itu menyangkut masalah penyakit,
keluarga berencana atau kesehatan lingkungan. Setelah dianalisis dan diketahui penyebabnya
dilakukan

upaya-upaya

penanggulangan

sebagai

tindak

lanjutnya.

c. Pemanfaatan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan dalam merumuskan
penyebab

timbulnya

suatu

masalah

kesehatan.

Pekerjaan epidemiologi akan dapat mengetahui banyak hal tentang masalah kesehatan dan
penyebab dari masalah tersebut dengan cara menganalisis data tentang frekuensi dan

penyebaran masalah kesehatan yang terjadi pada sekelompok manusia atau masyarakat.
Dengan memanfaatkan perbedaan yang kemudian dilakukan uji statistik, maka dapat
dirumuskan penyebab timbulnya masalah kesehatan.
2.7.8

Prosedur kerja

1)

Frekuensi

masalah

kesehatan

2)

Penyebaran

masalah

kesehatan

3) Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah kesehatan.


2.7.9

Ukuran-ukuran

1.
a.

Peningkatan
Penyediaan

kesehatan

makanan

sehat

dan

(health
cukup

promotion)

(kualitas

maupun

kuantitas)

b. Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan, misalnya penyediaan air bersih, pembuangan
sampah,

pembuangan

tinja

dan

limbah.

c. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Misal untuk kalangan menengah ke atas di


negara
d.

berkembang
Olahraga

terhadap

secara

e.

Kesempatan

f.

Nasihat

2.

Perlindungan

teratur

memperoleh

perkawinan

hiburan

dan

umum

(general

resiko

dan

jantung

sesuai
demi

koroner.

kemampuan

individu.

perkembangan

mental

pendidikan

seks

bertanggung

khusus

terhadap

and

yang

dan

penyakit-penyakit

specific

sosial.
jawab.
tertentu

protection)

a. Memberikan immunisasi pada golongan yang rentan untuk mencegah penyakit


b. Isolasi terhadap penderita penyakit menular, misal yang terkena flu burung.
c. Pencegahan terjadinya kecelakaan baik di tempat umum maupun tempat kerja.
d. Perlindungan terhadap bahan-bahan yang bersifat karsinogenik, bahan-bahan racun
maupun
e.
3.

alergi.
Pengendalian

Penegakkan

(early
a.

diagnosa
diagnosis
Mencari

secara

sumber-sumber
dini

dan

pengobatan

pencemaran.
yang

cepat

dan

tepat

and

prompt

treatment)

kasus

sedini

mungkin.

b. Mencari penderita dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan . Misalnya pemeriksaan


darah,

rontgent

paru.

c. Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita penyakit menular (contact
person) untuk diawasi agar bila penyakitnya timbul dapat segera diberikan pengobatan.

d.

Meningkatkan

e.

Pemberian

4.

keteraturan

pengobatan

yang

Pembatasan

pengobatan
tepat

terhadap

pada

kecacatan

setiap

penderita.

permulaan

(dissability

kasus.

limitation)

a. Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh dan tak terjadi
komplikasi.
b.

Pencegahan

terhadap

komplikasi

dan

kecacatan.

c. Perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk dimungkinkan pengobatan dan


perawatan

yang

5.

lebih

Pemulihan

intensif.

kesehatan

(rehabilitation)

a. Mengembangkan lembaga-lembaga rehabilitasi dengan mengikutsertakan masyarakat.


b. Menyadarkan masyarakat untuk menerima mereka kembali dengan memberikan dukungan
moral

setidaknya

bagi

yang

bersangkutan

untuk

bertahan.

c. Mengusahakan perkampungan rehabilitasi sosial sehingga setiap penderita yang telah cacat
mampu

mempertahankan

diri.

d. Penyuluhan dan usaha-usaha kelanjutan yang harus tetap dilakukan seseorang setelah ia
sembuh dari suatu penyakit.
2.7.10
1.

Istilah

Epidemiologi deskriptif, yaitu Cross Sectional Study/studi potong lintang/studi

prevalensi atau survei.


2.

Epidemiologi

a.

analitik

Non

terdiri

dari

eksperimental

:
:

1) Studi kohort / follow up / incidence / longitudinal / prospektif studi. Kohort diartiakan


sebagai

sekelompok

orang.

Tujuan

studi

mencari

akibat

(penyakitnya).

2) Studi kasus kontrol/case control study/studi retrospektif. Tujuannya mencari faktor


penyebab

penyakit.

3) Studi ekologik. Studi ini memakai sumber ekologi sebagai bahan untuk penyelidikan
secara empiris faktor resiko atau karakteristik yang berada dalam keadaan konstan di
masyarakat. Misalnya, polusi udara akibat sisa pembakaran BBM yang terjadi di kota-kota
besar.

2.8

Pusat Kesehatan Masyarakat

2.8.1

Definisi

Menurut Depkes 1991,Suatu kesatuan organisasi fungsional yang merupakan pusat


pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping
memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di
wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.
2.8.2
1)
2)

Fungsi
Pusat

pengerak

pembangunan

masyarakat

dan

berwawasan

keluarga

kesehatan

dalam

Pusat

pemberdayaan

pembangunan

kesehatan

3) Pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama


2.8.3

Sejarah Perkembangan

Sebagai lembaga kesehatan yang menjangkau masyarakat diwilayah terkecil dalam hal
pengorganisasian masyarakat serta peran aktif masyarakat dalam penyelenggaraan kesehatan
secara mandiri.
2.8.4

Wilayah kerja

1)

KIA

2)

KB

3)

Usaha

Kesehatan

4)
5)
6)

Gizi

Kesehatan
Pemberantasan
Pengobatan

7)

dan

termasuk

Lingkungan
pencegahan

penaganan

darurat

Penyuluhan

8)

penyakit

menular

karena

kecelakaan

kesehatan

masyarakat

Kesehatan

9)

sekolah

Kesehatan

10)

olah

raga

Perawatan

Kesehatan

11)

Masyarakat

12)

Kesehatan

13)

Kesehatan

kerja

Gigi

dan

Mulut

14)

Kesehatan

jiwa

15)

Kesehatan

mata

16)
17)

Laboratorium
Pencatatan

18)
19)
20) Dana sehat

dan

sederhana

pelaporan

Pembinaan

dalam

pemgobatan
Kesehatan

rangka

SIK
tradisional
remaja

2.8.5

Struktur organisasi dan tata kerja

I. Struktur organisasi
1)

Kepala puskesmas

2)

Unit tata usaha yang bertanggungjawab membantu kepala puskesmas dalam pengolaan:

a)

Data dan informasi

b)

Perencanaan dan penilaian

c)

Keuangan

d)

Umum dan kepegawaian

3)

Unit pelaksana teknis fungsional puskesmas:

a)

Upaya kesehatan masyarakat, termasuk pembinaan terhadap UKBM

b)

Upaya kesehatan perorangan

4)

Jaringan pelayanan puskesmas:

a)

Unit Puskesmas Pembantu

b)

Unit Puskesmas Keliling

c)

Unit Bidan di Desa/Komunitas

II. Tata Kerja


a.

Dengan kantor kecamatan

Dalam melaksanakan fungsinya, puskesmas berkoordinasi dengan kantor kecamatan melalui


pertemuan berkala yang deselenggarakan di tingkat kecamatan. Koordinasi tersebut
mencekup perencanaan, penggerakan pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian serta
penilaian. Dalam hal pelaksanaan fungsi penggalian sumberdaya masyarakat oleh puskesmas,
koordinasi dengan kantor kecamatan mencakup pula kegiatan fasilitas.
b.

Dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dengan demikian
secara teknis dan administratif, puskesmas bertanggungjawab kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota. Sebaliknya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggung jawab membina
serta memberikan bantuan administratif dan teknis kepada puskesmas.
c.

Dengan jaringan pelayanan kesehatan strata pertama

Sebagai mitra pelayanan kesehatan strata pertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat
dan swasta, puskesmas menjalin kerjasama termasuk penyelanggaraan rujukan dan memantau
kegiatan yang diselenggarakan. Sedangkan sebagai pembina upaya kesehatan bersumberdaya
masyarakat, puskesmas melaksanakan bimbingan teknis, pemberdayaan dan rujukan sesuai
kebutuhan.

d.

Dengan jaringan pelayanan kesehatan rujukan

Dalam menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat,


puskesmas menjalin kerjasama yang erat dengan berbagai pelayanan kesehatan rujukan.
Untuk upaya kesehatan perorangan, jalinan kerjasama tersebut diselenggarakan dengan
berbagai sarana pelayanan kesehatan perorangan seperti rumah sakit (kabupaten/kota), dan
berbagai balai kesehatan masyarakat seperti BP4 (balai pengobatan penyakit paru paru),
BKMM (balai pengobatan mata masyarakat), BKKM (balai kesehtan kerja masyarakat),
BKOM (balai kesehatan olahraga masyarakat), BKJM (balai kesehatan jiwa masyarakat),
BKIM (balai kesehatan indra masyarakat). Sedangkan untuk upaya kesehatan masyarakat,
jalinan kerjasama diselenggarakan dengan berbagai sarana pelayanan kesehatan masyarakat
rujukan, seperti Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, BTKL (balai teknik kesehatan
lingkungan), BLK (balai laboratorium kesehatan) serta berbagai balai kesehatan masyarakat.
Kerjasama tersebut diselenggarak`n melalui penerapan konsep rujukan yang menyeluruh
dalam koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
e.

Dengan lintas sektor

Tanggungjawab puskesmas sebagai unit pelaksana teknis adalah menyelenggarakan sebagai


tugas pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Untuk hasil yang optimal, penyelenggaraan pembangunan kesehatan tersebut harus dapat
dikoordinasikan dengan berbagai lintas sektor terkait yang ada di tingkat kecamatan.
Diharapkan di satu pihak, penyelenggaraan pembangunan kesehatan di kecamatan tersebut
mendapat dukungan dari berbagai sektor terkait, sedangkan di pihak lain pembangunan yang
diselenggarakan oleh sektor lain di pihak lain pembangunan yang diselenggarakan oleh
sektor lain di tingkat kecamatan berdampak positif terhadap kesehatan.
f.

Dengan masyarakat

Sebagai penanggungjawab penyelenggaraan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya,


puskesmas memerlukan dukungan aktif dari masyarakat sebagai objek dan subjek
pembangunan. Dukungan aktif tersebut diwujudkan melalui pembentukan konsil kesehatan
kecamatan, yang menghimpun berbagai potensi masyarakat, seperti: tokoh masyarakat, tokoh
agama, LSM, organisasi masyarakat, serta dunia usaha. Konsil kesehatan tersebut berperan
sebagai mitra puskesmas dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan.
2.8.6
1)

Sistem rujukan
Rujukan upaya kesehatan perorangan

Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus penyakit. Apabila suatu
puskesmas tidak mampu menanggulangi satu kasus penyakit tertentu, maka puskesmas

tersebut wajib merujuknya ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih mampu (baik horizontal
maupun vertikal). Sebaliknya pasien paska rawat inap yang hanya memerlukan rawat jalan
sederhana, bias dirujuk kembali ke puskesmas.
Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam:
a)

Rujukan kasus untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindak medik (misal operasi) dan

lain-lain.
b) Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih
lengkap.
c)

Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang lebih kompeten untuk

melakukan bimbingan tenaga puskesmas dan atau menyelenggarakan pelayanan medik


spesialis di puskesmas.
2)

Rujukan upaya kesehatan masyarakat

Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah kesehatan masyarakat,


misalnya kejadian luar biasa, pencemaran lingkungan dan bencana.
Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga dilakukan apabila satu puskesmas tidak
mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat wajib dan pengembangan, padahal
upaya kesehatan masyarakat tersebut telah menjadi kebutuhan masyarakat. Apabila suatu
puskesmas tidak mampu menanggulangi masalah kesehatan masyarakat dan atau tidak
mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat, maka puskesmas wajib merujuknya
ke dinas kesehatan kabupaten/kota.
Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam:
a) Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging, peminjaman alat
laboratorium kesehatan, peminjaman alat audio visual, bantuan obat, vaksin, bahan-bahan
habis pakai, dan bahan makanan.
b) Rujukan tenaga, anatara lain dukungan tenaga ahli untuk penyidikan kejadian luar biasa,
bantuan penyelesaian masalah hukum kesehatan, penanggulangan gangguan kesehatan
karena bencana alam.
c) Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya kewenangan dan tanggungjawab
penyelesaian masalah kesehatan masyarakat dan atau penyelenggaraan upaya kesehatan
masyarakat (anatara lain usaha kesehatan sekolah, usaha kesehatan kerja, usaha kesehatan
kerja, usaha kesehatan jiwa, pemeriksaan contoh air bersih) kepada dinas kesehatan
kabupaten/kota. Rujukan operasiaonal diselenggarakan apabila puskesmas tidak mampu.
2.8.7

Stratifikasi puskesmas

2.8.8

Perencanaan mikro

a.

Upaya

b.

Upaya

c.

Upaya

d.

kesehatan

ibu

Upaya

e.

Upaya

pencegahan

dan
perbaikan
dan

promosi

kesehatan

kesehatan

lingkungan

anak

serta

keluarga

gizi
pemberantasan

berencana
masyarakat

penyakit

menular

f. Upaya pengobatan
2.8.9

Lokakarya mini puskesmas

2.8.10

Supervisi

Kepala puskesmas `dalah penanggungjawab pembangunan kesehatan di tingkat kecamatan.


Sesuai dengan tanggungjawab tersebut dan besarnya peran kepala puskesmas dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan di tingkat kecamatan maka jabatan kepala
puskesmas setingkat dengan eselon III-B.
2.8.11 Sistem pencatatan dan pelayanan
2.8.12

Terpadu puskesmas

1)

Upaya kesehatan sekolah,

2)

Upaya kesehatan olahraga,

3)

Upaya perawatan kesehatan masyarakat,

4)

Upaya kesehatan kerja,

5)

Upaya kesehatan gigi dan mulut,

6)

Upaya kesehatan jiwa,

7)

Upaya kesehatan mata,

8)

Upaya kesehatan usia lanjut,

9)

Upaya pembinaan pengobatan tradisional.

2.9

Posyandu

Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan

keluarga berencana.(Effendi, Nasrul. 1998: 267).

Tujuan posyandu antara lain:

a.

Menurunkan angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibu (ibu hamil), melahirkan

dan nifas.
b.

Membudayakan NKBS

c.

Meningkatkan peran serta masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan

KB serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera.

d.

Berfungsi sebagai wahana gerakan reproduksi keluarga sejahtera, gerakan ketahanan

keluarga dan gerakan ekonomi keluarga sejahtera.

Kegiatan Pokok Posyandu

a.

KIA

b.

KB

c.

Imunisasi

d.

Gizi

e.

Penanggulangan diare

Pelaksanaan

Layanan

Posyandu

Pada hari buka posyandu dilakukan pelayanan masyarakat dengan sistem 5 meja yaitu:
Meja

Pendaftaran

Meja

II

Penimbangan

Meja

III

Meja

IV

Pengisian

Penyuluhan

perorangan

KMS

berdasarkan

KMS

Meja V : Pelayanan kesehatan berupa:

Imunisasi

Pemberian vitamin A dosis tinggi.

Pembagian pil KB atau kondom.

Pengobatan ringan.

Konsultasi KB.

Petugas pada meja I dan IV dilaksanakan oleh kader PKK sedangkan meja V merupakan
meja pelayanan medis.

Keberhasilan

Keberhasilan
S
K

posyandu

Semua
:

tergambar
balita

Semua

D
N

Posyandu

balita

:
:

di

melalui

cakupan

wilayah

kerja

yang

Balita
Balita

memiliki
yang

yang

Berat

SKDN.
posyandu.
KMS.
ditimbang.

Badannya

naik

Keberhasilan Posyandu berdasarkan:


1.

D Baik/ kurangnya peran serta masyarakat.

2.

N Berhasil tidaknya program posyandu.

Kegiatan

1.

Jenis

Posyandu
Pelayanan

Minimal

Kepada

Anak

Penimbangan untuk memantau pertumbuhan anak, perhatian harus diberikan khusus terhadap

anak yang selama ini 3 kali tidak melakukan penimbangan, pertumbuhannya tidak cukup
baik sesuai umurnya dan anak yang pertumbuhannya berada di bawah garis merah KMS.
Pemberian

makanan

pendamping

ASI

dan

Vitamin

A.

Pemberian PMT untuk anak yang tidak cukup pertumbuhannya (kurang dari 200 gram/
bulan) dan anak yang berat badannya berada di bawah garis merah KMS.
Memantau

atau

melakukan

pelayanan

imunisasi

dan

tanda-tanda

lumpuh

layu.

Memantau kejadian ISPA dan diare, serta melakukan rujukan bila perlu.

Pelayanan Tambahan yang Diberikan

1.

Pelayanan bumil dan menyusui.

2.

Program Pengembangan Anak Dini Usia (PADU) yang diintegenerasikan dengan

program Bina Keluarga Balita (BKB) dan kelompok bermain lainnya.


3.

Program dana sehat atau JPKM dan sejenisnya, seperti tabulin, tabunus dan sebagainya.

4.

Program penyuluhan dan penyakit endemis setempat.

5.

Penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman.

6.

Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD).

7.

Program diversifikasi pertanian tanaman pangan.

8.

Program sarana air minum dan jamban keluarga (SAMIJAGA) dan perbaikan

lingkungan pemukiman.
9.

pemanfaatan pekarangan.

10. Kegiatan ekonomis produktif, seperti usaha simpan pinjam dan lain-lain.
11. Dan kegiatan lainnya seperti: TPA, pengajian, taman bermain.

Manfaat

Posyandu

Posyandu memberikan layanan kesehatan ibu dan anak, KB, imunisasi, gizi, penanggulangan
diare.
1. Kesehatan ibu dan anak

Ibu: Pemeliharaan kesehatan ibu di posyandu, Pemeriksaan kehamilandan nifas,

Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah, Imunisasi
TT untuk ibu hamil.

Pemberian Vitamin A: Pemberian vitanin A dosis tinggi pada bulan Februari dan

Agustus (Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM USU. 2007). Akibat dari kurangnya
vitamin A adalah menurunnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. (Dinas
Kesehatan RI. 2006: 95)

Penimbangan Balita: Penimbangan balita dilakukan tiap bulan di posyandu (Dinas

Kesehatan RI. 2006: 95). Penimbangan secara rutin di posyandu untuk pemantauan

pertumbuhan dan mendeteksi sedini mungkin penyimpangan pertumbuhan balita. Dari


penimbangan yang kemudian dicatat di KMS, dari

data tersebut dapat diketahui status

pertumbuhan balita (Dinas Kesehatan RI. 2006: 54), apabila penyelenggaraan posyandu baik
maka upaya untuk pemenuhan dasar pertumbuhan anak akan baik pula.

KMS adalah kartu untuk mencatat dan memantau pekembangan balita dengan melihat

garis pertumbuhan berat badan anak dari bulan ke bulan pada KMS dapat diketahui status
pertumbuhan anaknya.

Kriteria

Berat

Badan

balita

di

KMS:

Berat badan naik :


Berat badan bertambah mengikuti salah satu pita warna, berat badan bertamabah ke pita
warna

diatasnya.

Berat badan tidak naik :


Berat badanya berkurang atau turun, berat badan tetap, berat badan bertambah atau naik tapi
pindah ke pita warna di bawahnya.
Berat

badan

dibawah

garis

merah

Merupakan awal tanda balita gizi buruk Pemberian makanan tambahan atau PMT, PMT
diberikan kepada semua balita yang menimbang ke posyandu. (Departemen Kesehatan RI.
2006:

104)

Keluarga

Berencana

Pelayanan Keluarga Berencana berupa pelayanan kontrasepsi kondom, pil KB, dan suntik
KB.
3
Di

Imunisasi
posyandu

balita

akan

mendapatkan

layanan

imunisasi.

Macam imunisasi yang diberikan di posyandu adalah

BCG untuk mencegah penyakit TBC.

DPT untuk mencegah penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus.

Polio untuk mencegah penyakit kelumpuhan.

Hepatitis B untuk mencegah penyakit hepatitis B (penyakit kuning).

Peningkatan

Gizi

Dengan adanya posyandu yang sasaran utamanya bayi dan balita, sangat tepat untuk
meningkatkan gizi balita (Notoadmodjo, Soekidjo. 2003: 205). Peningkatan gizi balita di
posyandu yang dilakukan oleh kader berupa

memberikan penyuluhan tentang ASI, status

gizi balita, MPASI, Imunisasi, Vitamin A, stimulasi tumbuh kembang anak, diare pada balita.
5

Penanggulangan

diare

Penyediaan oralit di posyandu (Dinas Kesehatan RI. 2006: 127). Melakukan rujukan pada
penderita diare yang menunjukan tanda bahaya di Puskesmas. (Departemen Kesehatan RI.
2006: 129). Memberikan penyuluhan penggulangan diare oleh kader posyandu. (Departemen
Kesehatan RI. 2006: 132)

FaktorFaktor yang Mempengaruhi Kedatangan Ibu di Posyandu:

Pengetahuan ibu tentang manfaat posyandu.

Motivasi ibu untuk membawa anaknya ke posyandu

Pekerjaan iu

Dukungan dan motivasi dari kader posyandu dan tokoh masyarakat

Sarana dan prasarana di posyandu

Jarak dari posyandu tersebut

2.10 Polindes

Definisi

Pondok bersalin Desa (POLINDES) adalah salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam
menyediakan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak
termasuk KB didesa (Depkes RI, 1999) polindes dirintis dan dikelola oleh pamong desa
setempat.
Tujuan Polindes
1.

terwujudnya masyarakat sehat yang diaga terhadap permasalahan kesehatan diwilayah

desanya
2.

terselenggaranya promosi kesehatan dalam rangka menuingkatkan pengetahuan

masyarakat tentang kesehatan


3.

terselenggarakannya

pengamatan,

pencatatan

dan

pelaporan

dalam

rangka

meningkatkan keawspadaan dan kesigapan masyarakat terhadap resiko dan bahaya yang
dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama penyakit menular yang berpotensi
menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) serta faktor-faktor resikonya
4.

tersedianya upaya pemberdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan kemampuan

masyarakat untuk menolong dirinya dibidang kesehatan

5.

terselenggaranya pelayanan kesehatan dasr yang dilaksanakan oleh masyarakat dan

tenaga professional kesehatan


6.

terkoordinasinya penyelenggaraan UKBM lainnya yang ada didesa

Persyaratan Polindes
Secara umum persyaratan untuk mendirikan polindes adalah tersedianya tempat yang bersih,
namun serasi dengan lingkungan perumahan di desa serta tersedianya tenaga bidan didesa.
Secara lebih rinci, persyaratan yang perlu diusahakan adalah:
1.

Tersedianya bidan di desa yang bekerja penuh untuk mengelola polindes.

2.

Tersedianya sarana untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi bidan, antara lain:

a.

Bidan kit

b.

IUD kit

c.

Sarana imunisasi dasar dan imunisasi ibu hamil

d.

Timbangan berat badan ibu dan pengukur tinggi badan

e.

Infus set dan cairan dextrose 5%, nacl 0,9%

f.

Obat-obatan sederhana dan uterotonika

g.

Buku-buku pedoman kia, kb, dan pedoman kesehatan lainnya

h.

Inkubator sederhana

3.

Memenuhi persyaratan rumah sehat, antara lain:

a.

Penyediaan air bersih

b.

Ventilasi cukup

c.

Penerangan cukup

d.

Tersedia sarana pembuangan air limbah

e.

Lingkungan pekarangan bersih

f.

Ukuran minimal 3x4 meter persegi

4.

Lokasi dapat dicapai dengan mudah oleh penduduk sekitarnya dan mudahdijangkau

oleh kendaraan roda empat.


5.

Ada tempat untuk melakukan pertolongan persalinan dan perawatan post partum(minim

al satu tempat tidur)


Kegiatan Utama Polindes
1.

Pengamatan dan kewaspadaan dini (survey penyakit, surveilans gizi, surveilans perilaku

beresiko,

sueveylans

lingkungan

dan

masalah

kesehatan

lainnya),

penanganan

kegawatdaruratan kesehatan dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan kesehatan


dasar
2.

Promosi kesehatan, penyehatan lingkungan dan lain-lain

Kegiatan dilakukan berdasarkan pendekatan edukatif atau kemasyarakatan yang dilakukan


melalui musyawarah mufakat yang disesuaikan kondisi dan potensi masyarakat setempat
Fungsi Pondok bersalin desa
1.

Sebagai tempat pelayanan kesehatan ibu dan anak (termasuk KB)

2.

Sebagai tempat pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan

3.

Sebagai tempat untuk konsultasi, penyuluhan dan pendidikan kesehatan masyarakat dan

dukun bayi maupun kader


Manfaat Polindes
1.
a.

Bagi masyarakat
Permasalahan didesa dapat terdekteksi dini, sehingga bisa ditangani cepat dan

diselekaikan, sesauai kondisi, potensi dan kemampuan yang ada


b.

Memperoleh pelayanan kesehatan dasar yang dekat

2.

Bagi kader

a.

Mendapat informasi awal di bidang kesehatan

b.

Mendapat kebanggaan, dirinya lebih berkarya bagi masyarakat

3.

Bagi puskesmas

a.

Memperluas jangkauan pelayanan puskesmas dengan mengoptimalkan sumber data

secara efisien dan efektif


b.

Mengoptimalkan fungsi puskesmas sebagai penggerak pembangunan berwawasan

kesehatan, pusat pemberdayaan ,asyarakat dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama
4.

Bagi sektor lain

a.

dapat memadukan kegiatan sektornya dengan bidang kesehatan

b.

kegiatan pemberdayaan mesyarakat dapat dilakukan lebih efektif dan efisien

Stratifikasi

Polindes

Dalam menganalisa pertumbuhan Polindes harus mengacu kepada indikator tingkat


perkembangan Polindes yang mencakup beberapa hal :
1.

Fisik

Tempat yang disediakan oleh masyarakat untuk polindes perlu memenuhi persyaratan antara
lain :
Bangunan polindes tampak bersih, salah satunya ditandai tidak adanya sampah berserakan
Lingkungan yang sehat, bila polindes jauh dari kandang ternak
Mempunyai jumlah ruangan yang cukup untuk : pemeriksaan kehamilan dan pelayanan
KIA, mempunyai ruang untuk pertolongan persalinan.
Tempat pelayanan bersih dengan aliran udara/ventilasi yang baik terjamin.

Mempunyai perabotan dan alat-alat yang memadai untuk pelaksanaan pelayanan.


Mempunyai sarana air bersih dan jamban yang memenuhi persyaratan kesehatan.
Idealnya suatu polindes mempunyai bangunan sendiri dan memenuhi persyaratan di atas,
namun dalam kenyataannya mungkin saja polindes masih menumpang di salah satu rumah
warga atau bersatu dengan kediaman bidan di desa.
2.

Tempat

tinggal bidan desa

Keberadaan bidan di desa secara terus menerus (menetap) menentukan efektifivitas


pelayanannya, termasuk efektivitas polindes. Selain itu, jarak tempat tinggal bidan yang
menetap di desa dengan polindes. Bidan yang tidak tinggal di desa dianggap tidak mungkin
melaksanakan pelayanan pertolonganpersalinan di polindes. Untuk mempercepat tumbuh
kembang Polindes bidanharus selalu berada/tinggal di desa dan lebih banyak melayani
masalah kesehatan masyarakat desa setempat.
3.

Pengelolaan

polindes

Pengelolaan Polindes yang baik akan menentukan kualitas pelayanan, sekaligus pemanfaatan
pelayanan oleh masyarakat. Kriteria pengelolaan polindes yang baik antara keterlibatan
masyarakat melalui wadah LPM dalam menentukan tarif pelayanan. Tarif yang ditetapkan
secara

bersama,

diharapkan

memberikan

kemudahan

kepada

masyarakat

untuk

memanfaatkan polindes, sehingga dapat meningkatkan cakupan dan sekaligus dapat


memuaskan semua pihak.
4.

Cakupan persalinan

Tinggi rendahnya cakupan persalinan dipengaruhi banyak faktor, diantaranya ketersediaan


sumberdaya

kesehatan

termasuk

didalamnya

profesionalnya,

keberadaan

polindes

beserta

tenaga

yaitu bidan desa.

Tersedianya polindes dan bidan di suatu desa memberikan kemudahan untuk mendapatkan
pelayanan KIA, khususnya dalam pertolongan persalinan, baik ditinjau dari segi jarak
maupun dari segi pembiayaan. Meningkatnya cakupanpersalinan yang ditolong di polindes,
selain berpengaruh terhadap kualitas pelayanan ibu hamil, sekaligus mencerminkan
kemampuan bidan itu sendiri baik di dalam kemampuan teknis medis maupun di dalam
menjalin hubungan dengan masyarakat. Cakupan persalinan dihitung secara kumulatif selama
setahun.
5.

Sarana

air

bersih

Tersedianya air bersih merupakan salah satu persyaratan untuk hidup sehat. Demikian juga
halnya di dalam operasional pelayanan polindes. Polindes dianggap baik apabila telah

tersedia air bersih yang dilengkapi dengan : MCK, tersedia sumber air (sumur, pompa, PAM,
dll), dan dilengkapi pula dengan saluran pembuangan air limbah.
6.

Kemitraan bidan dan

dukun

bayi

Kader masyarakat yang paling terkait dengan pelayanan di polindes adalah dukun bayi.
Karena itu, polindes dimanfaatkan pula sebagai sarana meningkatkan kemitraan bidan dan
dukun bayi dalam pertolongan persalinan. Kemitraan bidan dan dukun bayi merupakan hal
yang dianjurkan dalam pelayanan pertolongan persalinan di Polindes. Penghitungan cakupan
kemitraanbidan dan dukun dihitung secara kumulatif selama setahun.
7.

Kegiatan

KIE

untuk

kelompok

sasaran

KIE merupakan salah satu teknologi peningkatan peran sertaa masyarakat yang bertujuan
untuk mendorong masyarakat agar mau dan mampu memelihara dan melaksanakan hidup
sehat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, melalui jalinan komunikasi, informasi dan
edukasi

yang

bersifat

praktis.

Dengan keberadaan polindes beserta bidan ditengah-tengah masyarakat diharapkan akan


terjalin interaksi antara antara bidan dengan masyarakat. Semakin sering bidan di desa
menjalankan KIE, akan semakin mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup
sehatnya, termasuk di dalamnya meningkatkan kemampuan dukun bayi sebagai mitra kerja di
dalam

memberikan

penyuluhan

kesehatan

ibu

hamil.

Seharusnya suatu polindes di dalam pelaksanaan kegiatannya telah melakukan KIE untuk
kelompok sasaran minimal sekali dalam setiap bulannya. Kegiatan KIE ini dihitung secara
kumulatif selama setahun.
8.

Dana

Sehat/JPKM

Dana sehat sebagai wahana memandirikan masyarakat untuk hidup sehat, pada gilirannya
diharapkan akan mampu melestarikan berbagai jenis upaya kesehatan bersumberdaya
masyarakat

setempat.

Suatu polindes dianggap baik bila masyarakat di desa binaannya telah terliput dana sehat,
sehingga diharapkan kelestarian polindes dapat terjamin, kepastian untuk mendapatkan
pelayanan yang berkualitas tak perlu dikhawatirkan lagi. Cakupan dana sehat dianggap baik
bila telah mencapai 50 %.
Pengorganisasian
Prinsip pengorganisasian poskesdes adalah dikelola masyarakat dalam hal ini bimbingan
tenaga ksehatan.
1. Tenaga Poskesdes
a.

Tenaga dan masyarakat

1)

Kader

2)

Tenaga sukarela lainnya

Tenaga masyarakat minimal 2 orang yang telah mendapatkan pelatihan khusus


b.

Tenaga kesehatan

Tenaga kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan di poskesdes minimal seorang bidan


1.

Kepengurusan

Kepengurusan poskesdes dipilih melaui musyawarah mufakat musyarakat desa, srta


ditetap[kan oleh kepala desa. Struktur pengurus minimal terdiri dari Pembina, ketua,
sekretaris, bendahara dan anggota. Susunan pengurus bersifat fleksibel, sehingga dapat
dikembangkan sesuai dengan kondisi, kebutuhan, kondisi dan permasalahan setempat
2.

Kedudukan dan Hubungan kerja


Kedudukan hubungan kerja antara poskesdes dengan unit-unit peran serta masyarakat

digambarkan pada bagan :

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Millenium Development Goals disingkat MDGs merupakan sebuah cita-cita

pembangunan global yang menitikberatkan pembangunan pada pembangunan manusia


(human development). Delapan tujuan yang termaktub di dalam MDGs merupakan tujuan
yang terukur dan saling memiliki keterkaitan satu sama lain yang akan dicapai pada tahun
2015. Diantara delapan tujuan tersebut terdapat tujuan untuk menurunkan setengahnya
proporsi penduduk dunia yang hidup dengan pendapatan USD 1 perhari. Tujuan ini kemudian

menjadi tujuan pertama (MDG 1) dari kedelapan tujuan pembangunan global tersebut karena
dinilai memiliki signifikansi terhadap pencapaian tujuan-tujuan lainnya.
3.2

Saran
Setelah melalui proses pembahasan mengenai program MDGs PBB dalam

pengentasan kemiskinan di Indonesia, penulis memiliki harapan yang besar terhadap


keberhasilan program MDGs PBB ini. Penulis berharap agar MDGs ini dapat menemui
keberhasilannya pada tahun 2015 dan memberikan perubahan besar terhadap international
development, perubahan besar terhadap kesejahteraan masyarakat global pada umumnya, dan
tentunya pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya.

DAFTAR PUSTAKA

Soekidjo Notoatmojo, Prof, Dr. 2007. Kesehatan Masyarakat, Ilmu dan Seni. Rineka

Cipta:Jakarta.

Soekidjo Notoatmodjo.2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Prinsip-Prinsip Dasar.

Cetakan Kedua, Rineka Cipta:Jakarta.

medicine.uii.ac.id/.../IlmuKesehatanMasyarakat.html.

http://veteriner-island.blogspot.com/2009/12/sejarah-kesehatan-masyarakat.html.

Posting : 1 Des 2009.

http://swarajalanan.blogspot.com/2011/10/sejarah-perkembangan-kesehatan.html

http://syamsiyah-syamsiyah.blogspot.com/p/dasar-visi-dan-misi-pembangunan.html.

http://sehat-aja-yuk.blogspot.com/2011/05/arah-tujuan-dan-kebijakan-

pembangunan.html. Posting : 25 Mei 2011.

http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/868-strategi-utama-

pembangunan-kesehatan.html.

http://aaknasional.wordpress.com/2012/03/12/masalah-kesehatan-masyarakat-di-

indonesia. Posting : 12 Maret 2012.