Anda di halaman 1dari 16

Nilai:

LAPORAN PRAKTIKUM
SATUAN OPERASI INDUSTRI
(Pengecilan Ukuran dan Milling)

Oleh:
Nama

: Deuis Andini Meiliana Putri

NPM

: 240310140032

Hari, Tgl Praktikum : Kamis, 12 November 2015


Asisten

: 1. Jeremia Kristian
2. Yona Qurratuain

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES


DEPARTEMEN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Bahan-bahan pertanian perlu dilakukan pengecilan ukuran untuk
mempermudah memproses bahan tersebut menjadi suatu produk. Pengecilan
ukuran tentunya tidak akan berpengaruh pada kandungan dalam tersebut, namun
hanya berpengaruh pada ukuran bahan tersebut.
Pengecilan ukuran bahan adalah mengecilkan ukuran berarti membagibagi suatu bahan padat menjadi bagian yang lebih kecil dgn menggunakan gaya
gaya mekanis.Tergantung dari besarnya bahan-bahan padat yang dihasilkan,
pengecilan ukuran di bedakan atas pengecilan kasar (memecah) dan pengecilan
halus (menggiling)
Terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengecilkan ukuran
bahan pertanian. Diantaranya ialah proses pemarutan menggunakan mesin
pemarut dan proses pengirisan menggunakan mesin pengiris.

1.2 Tujuan Percobaan


I.2.1 Tujuan Instruksional Khusus
Mengukur dan mengamati pengecilan ukuran bahan hasil pertanian dengan
mengkaji performansi mesin, kapasitas throughout, kapasitas output dan
rendemen hasil pengecilan ukuran

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Pengecilan Ukuran
Pengecilan ukuran dapat didefinisikan sebagai penghancuran dan
pemotongan mengurangi ukuran bahan padat dengan kerja mekanis, yaitu
membaginya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil. Penggunaan proses
penghancuran yang paling luas di dalam industri pangan barangkali adalah dalam
penggilingan butir-butir gandum menjadi tepung, akan tetapi penghancuran ini
dipergunakan juga untuk beberapa tujuan, seperti penggilingan jagung
menghasilkan tepung jagung, penggilingan gula, penggilingn bahan pangan kering
seperti sayauran (Soedojo, 2008).
2.1 Tujuan pengecilan ukuran
Pengolahan ukuran mungkin juga berperan penting dalam pemisahan
secara mekanis. Misalnya, dalam pengambilan pati dari kentang. Kentang harus
lebih dahulu dikecilkan sedemikian rupa sehingga sel-selnya terbuka dan glanula
pati keluar. Untuk memeperoleh cairan keluar dari padatan juga memudahkan jika
padatan dilakukan pengecilan lebih dahulu. Tujuan pengecilan ukuran sebagai
bagian operasi adalah untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas (Saputra,
2009).
2.2 Jenis-jenis pengecilan ukuran
Ukuran dibagai menjadi dua jenis, yaitu pengecilan ukuran bahan padat
dan pengecilan ukuran bahan cair. Pengecilan ukuran bahan cair dapat dengan
cara emulsifikasi atau homogenisasi. Emulsifikasi adalah pembentukan emulsi
yang stabil dengan pencampuran dua atau lebih cairan yang tidak saling larut,
sehingga satu bagian (fase terdispersi) terdispersi dalam bentuk droplet yang
sangat kecil pada bagian yang kedua (fase kontinyu). Homogenisasi adalah
pengecilan ukuran ke 0,5 0,3 mm dan peningkatan jumlah partikel padat atau
cair dari fase terdispersi dengan menggunakan shearing force untuk meningkatkan
ikatan & stabilitas dari dua bagian (Choirunnisa, 2009).
Penghancuran dan pemotongan mengurangi ukuran bahan padat dengan
kerja mekanis, yaitu membaginya menjadi partikel-partikel lebih kecil.

Penggunaan proses penghancuran yang paling luas di dalam bidang industri


pangan barabgkali adalah penggilingan butir-butir gandum menjadi tepung, akan
tetapi penghancuran ini dipergunakan juga untuk berbagai tujuan, seperti
penggilingan jagung untuk menghasilkan tepung jagung, penggilingan gula dan
penggilingan bahan kering seperti sayuran. Pemotongan dipergunakan untuk
memecahkan potongan besar bahan pangan menjadi potongan-potongan kecil
yang sesuai untuk pengolahan lebih lanjut, seperti dalam penyiapan daging olahan
(Earle, 1969).
Apabila suatu partikel yang seragam dihancurkan, setelah penghancuran
pertama, ukuran partikel yang dihasilkan akan sangat bervariasi dari yang relatif
sangat kasar sampai yang paling halus bahkan sampai abu Ketika penghancuran
dilanjutkan, partikel yang besar akan dihancurkan lebih lanjut akan tetapi partikel
yang kecil akan mengalami perubahan relatif sedikit. Pengawasan yang teliti
memperlihatkan bahwa ada kecenderungan bahwa beberapa ukuran tertentu akan
meningkat dalam proporsinya pada campuran yang kelak akan menjadi ukuran
fraksi yang dominan (Suharto, 1991).

BAB III
METODOLOGI PENGAMATAN DAN PENGUKURAN
III.1. Alat, Bahan dan Instrumen
III.1.1. Alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ayakan tyler
Pisau
Stopwatch
Tampah
Wadah
Timbangan

III.1.2. Bahan
1.

Singkong.

III.1.3. Instrumen
1. Desikator
2. Mesin penyerut
3. Oven
III.2 Prosedur Percobaan
1. Menimbang bahan yaitu singkong maupun ubi yang akan diproses dengan
mesin pengecil ukuran (a kg).
2. Mengupas bahan dan menimbang (b kg).
3. Menjalankan mesin dan memasukan bahan ke dalam mesin.
4. Menghitung waktu yang dibutuhkan selama proses penyerutan (x menit)
5. Menimbang bahan yang sudah diserut (c kg).
6. Mengamati performansi mesin dan mekanisme kerja proses mesin
7. Menghitung kapasitas throughout (a kg/x menit)
8. Menghitung kapasitas output (c kg/x menit)
9. Menghitung rendemen:
Rendemen pengupasan
Rendemen pemarutan

10. Menghitung Efisiensi pengecilan ukuran =

11. Mengeringkan bahan dalam oven.


12. Meletakan produk di ayakan teratas, menutup dan meletakan pan dibagian
bawah.
13. Menghidupkan ayakan selama 15 menit, melakukan 2 kali pengulangan.
14. Menimbang bahan dalam setiap ayakan tyler.
15. Menentukan fineness modulus.

BAB IV.
HASIL PERCOBAAN

4.1 Hasil percobaan


Tabel 1. Spesifikasi Mesin Penyerut dan Pengiris
No

Spesifikasi

Mesin

Mesin

Satuan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Daya Motor (P)


RPM Motor (N)
Diameter Puli motor (d1)
Diameter silinder puli (d2)
Diameter silinder (D)
Panjang pisau (P)
Lebar pisau ( L)
Jumlah pisau (n)
Diameter mesin 1

Penyerut
0,5
1420
0,128
0,118
0,11
0,2
0,093
1
0,069

Pengiris
0,5
1420
0,128
0,182
0,30
0,085
0,05
2
0,069

HP
rpm
m
m
m
m
m
Bilah
m

Tabel 2. Hasil Penyerutan dengan mesin


No
1.
2.

Keterangan
Massa awal bahan (a)
Massa bahan setelah dikupas

Penyerut
0,418
0,380

Satuan
kg
kg

3.
4.

(b)
Masa bahan setelah diserut (c)
Waktu penyeruran (x)

0,310
2 menit 2 detik

kg
menit

Tabel 3. Hasil Pengirisan dengan Mesin


No
1
2

Keterangan
Massa awal bahan (a)
Massa awal bahan

Satuan
0,31
0,29

Satuan
kg
kg

setelah dikupas (b)


Massa bahan setelah

0,17

kg

diiris (c)
Jumlah potongan

156

potong

yang diiris
Waktu pengerisin (x)

0,43

menit

4.2 Perhitungan Hasil Percobaan


4.2.1 Perhitungan Hasil Percobaan Pemarutan

Kapasitas througho ut
a.
Kapasitas output

b.

a kg
0,41 kg

0,18 kg/menit
x menit
2,2

c kg
0,31 kg

0,14 kg/menit
x menit
22

Rendemen pengupasan

c.
Rendemen pemarutan

d.

b
380
x100%
x100% 92,68 %
a
410

c
310
x100%
x100% 81,57%
b
380

e. Kaktual = Koutput /menit x 60 menit/jam


= 0,14 kg/menit x 60
= 8,4 kg/jam
f. N mesin
(N x d1)
dmesin1

1420 x 0,128
0,069

= 2634,2

N silinder
(Nmesin1 x dmesin1)
d2

2634,2 x 0,069
0,118

= 1540,338

N penyerut
(Nsilinder x d2)
d1

1540,338 x 0,112
0,128

V = w x D/2
(

2 x1
0,11
x1420) (
)
60
2

= 2,6

g. Menghitng Kteoritis
Kteoritis= ( V A N ) / 60
= (2.rpm.r(pxl). N) / 60
= 15146,352

= 1347,795

h. Efisiensi penyerut
(
N

Kapasitas aktual
) x100%
Kapasitas teoritis

8,4
15146,352

x 100%

= 0,05%
4.2.2 Perhitungan Hasil Percobaan pengirisan
Kapasitas througho ut

i.
Kapasitas output

j.

a kg
0,31 kg

0,715 kg/menit
x menit
26 / 30

c kg
0,17 kg

0,392 kg/menit
x menit
26 / 30

Rendemen pengupasan
k.
Rendemen pengirisan
l.

b
0,29 kg
x100%
x100% 93,54 %
a
0,31 kg

c
0,17 kg
x100%
x100% 58 %
b
0,29 kg

m. Kaktual = Koutput /menit x 60 menit/jam


= 0,392 kg/menit x 60
= 23,52 kg/jam
n. N mesin
(N x d1)
dmesin1

1420 x 0,128
0,069

= 2634,2

N silinder
(Nmesin1 x dmesin1)
d2

2634,2 x 0,069
0,182

= 998,68

N pengiris
(Nsilinder x d2)
d1

V = w x D/2

98,68 x 0,182
0,3

= 605,86

22
0,3
x1420) ( )
60
2

= 14,2

o. Menghitng Kteoritis
Kteoritis= ( V A N ) / 60
= (2.rpm.r(pxl). N) / 60
= 7560,64
p. Efisiensi pengiris
(
N

Kapasitas aktual
) x100%
Kapasitas teoritis

(23,52)
7560,64

= 0,311%

x 100%

BAB V
PEMBAHASAN
Praktikum kali ini membahas mengenai pengecilan ukuran dan milling
menggunakan mesin pemarut dan pengiris. Praktikum kali ini juga menghitung
kapasitas aktual dan kapasitas teoritis guna mendapatkan hasil perhitungan
efisiensi pada mesin pemarut ataupun pengiris.
Pada praktikum pengecilan ukuran kali ini menggunakan bahan singkong.
Pada praktikum pengirisan, masa awal singkong diukur menggunakan timbangan
dan berat singkong seberat 0,31 kg. Kemudian dilakukan pengupasan kulit
singkong, lalu saat ditimbang kembali beratnya berkurang menjadi 0,29 kg. Hal
ini dikarenakan hilangnya kulit-kulit singkong yg sudah dikupas. Lalu dilakukan
pengirisan, kemudian dilakukan penimbangan kembali dengan hasil 0,17 kg.
Berat kembali berkurang sedikit dikarenakan beberapa bahan selama proses
pengirisan tidak terambil, masih tersangkut di dalam mesin pengiris. Waktu yang
dibutuhkan untuk mengiris singkong selama 0,43 menit. Potongan-potongan
singkong pun dihitung yang ternyat berjulan 156 potong.
Pada praktikum pemarutan, masa awal singkong diukur menggunakan
timbangan dan berat singkong seberat 0,418 kg. Kemudian dilakukan pengupasan
kulit singkong, lalu saat ditimbang kembali beratnya berkurang menjadi 0,38 kg.
Hal ini dikarenakan hilangnya kulit-kulit singkong yg sudah dikupas. Lalu
dilakukan pemarutan, kemudian dilakukan penimbangan kembali dengan hasil
0,310 kg. Berat kembali berkurang sedikit dikarenakan beberapa bahan selama
proses pengirisan tidak terambil, masih tersangkut dan tertinggal di dalam mesin
penyerut. Waktu yang dibutuhkan untuk mengiris singkong selama 2 menit 2
detik.
Pada praktikum kali ini, dilakukan juga perhitungan. Pada percobaan
pengirisan, rendemen hasil pengupasan sebesar 93,54% dan rendemen hasil
pengirisan sebesar 58%. Hal ini berarti 6,46% berat kulit yang dikelupas dan 42%
tersisa di dalam mesin pengiris, atau hilang saat proses pengirisan. Kapasitas
aktual pengirisan singkong ini ialah 23,52 kg/jam dan kapasitas teoritisnya

sebesar 7560,64. Akhirnya, mendapatkan nilai efesiensi pengirisan dengan cara


kapasitas aktual dibagi kapasitas teoritis dikali 100% menghasilkan 0,311%
Pada percoban pemarutan, diketahui rendemen pengupasan 92,68% dan
rendemen penyerutan 81,57%. Lebih sedikit bahan yang hilang selama proses
dibanding dengan saat proses pengirisan. Kapasitas aktualnya sebesar 8,4
sedangkan kapasitas teoritisnya sebesar 15146,352. Kemudian didapatlah efisiensi
penyerutan sebesar 0,05%.

BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum kali ini ialah
1. Pengecilan ukuran dapat didefinisikan sebagai penghancuran dan
pemotongan mengurangi ukuran bahan padat dengan kerja mekanis, yaitu
membaginya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil
2. Ukuran dibagai menjadi dua jenis, yaitu pengecilan ukuran bahan padat dan
pengecilan ukuran bahan cair. Pengecilan ukuran bahan cair dapat dengan
cara emulsifikasi atau homogenisasi.
3. Rendemen hasil kurang dari 100% dikarenakan ada bahan yang hilang
selama proses. Bahan yang hilang dikarenakan pengupasan kulit dan
penggunaan mesin yang menyebabkan bahan tertinggal didalam mesin.
4. Nilai efesiensi didapat dengan cara kapasitas aktual dibagi kapasitas teoritis
dikali 100% menghasilkan nilai efisiensi pengirisan sebesar 0,311% dan
nilai efisiensi penyerutan sebesar 0,05%.
V1.2 Saran
Saran dalam melakukan praktikum ini ialah
1. Menggunakan alat pemarut dan pengiris secara hati-hati karena bisa
menyebabkan kecelakaan yang berakibat fatal.
2. Menghitung secara teliti karena perhitungan yang lumayan rumit dan
panjang,

DAFTAR PUSTAKA
Choirunnisa, F., 2009. Dasar-Dasar Keteknikan Pengolahan. Liberty. Yogyakarta
Earle, R.L., 1969. Satuan Operasi Dalam Pengolahan Pangan. P.T. Sastra Hudaya:
Jakarta.
Suharto, 1991. Teknologi Pengawetan Pangan. PT. Rineka Cipta: Jakarta.
Saputra. 2009. Pengertian Pengecilan Ukuran. Erlangga. Jakarta.
Soedojo, P. 2008 . Buku Petunjuk Praktikum Satuan Operasi. Gadjah Mada

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Gambar 1. Singkong ditimbang

Gambar 2. Singkong dikupas kulitnya

Gambar 3. Singkong setelah dikupas lalu ditimbang

Gambar 4. Pemarutan pada singkong

Gambar 5. Penimbangan hasil akhir singkong