Anda di halaman 1dari 6

FISIOLOGI HEWAN

OSMOREGULASI

Nanda Nabilah Ubay


153112620120100

Jurusan Biologi Medik


Universitas Nasional
2016/2017

I.

ACARA LATIHAN
Melakukan percobaan osmoregulasi pada ikan

II.

TUJUAN

Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat menentukan batas daerah salinitas
organisme percobaan.

III. TINJAUAN PUSTAKA


Osmoregulasi adalah upaya mengontrol keseimbangan air dan ion-ion
antara tubuh dan lingkungannya atau suatu proses pengaturan tekanan osmose.
Hal ini penting dilakukan, terutama oleh organisme perairan karena :
1) harus terjadi keseimbangan antara substansi tubuh dan lingkungan
2) membran sel yang permiabel merupakan tempat lewatnya beberapa
substansi yang bergerak cepat
3) perbedaan tekanan osmose antara cairan tubuh dan lingkungan
Fungsi tubuh organisme perairan dapat berjalan secara normal bila
konsentrasi cairan dalam sel-sel tubuhnya sesuai dengan konsentrasi medium
lingkungannya. Fungsi osmoregulasi pada organisme perairan adalah untuk
mengatur tekanan osmosis dan keseimbangan konsentrasi cairan dalam tubuh
serta mengatur keseimbangan ion antara cairan dalam tubuhnya dengan
medium/lingkungannya.
Pada ikan air tawar, air secara terus menerus masuk kedalam tubuh ikan
melalui insang. Ini secara pasif berlangsung melalui suatu proses osmosis yaitu,
terjadi sebagai akibat dari kadar garam dalam tubuh ikan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan lingkungannya. Dalam keadaan normal proses ini
berlangsung seimbang. Ikan air tawar harus selalu menjaga dirinya agar garam
tidak melarut dan lolos ke dalam air. Garam-garam dari lingkungan akan diserap
oleh ikan menggunakan energi metaboliknya. Apabila hal ini terjadi maka ikan
yang

bersangkutan

akan

mengalami

masalah.

Ikan

mempertahankan

keseimbangannya dengan tidak banyak minum air, kulitnya diliputi mucus,


melakukan osmosis lewat insang, produksi urinnya encer, dan memompa garam
melalui sel-sel khusus pada insang. Secara umum kulit ikan merupakan lapisan
kedap, sehingga garam di dalam tubuhnya tidak mudah bocor kedalam air .

Pada ikan air laut terjadi kehilangan air dari dalam tubuh melalui kulit dan
kemudian ikan akan mendapatkan garam-garam dari air laut yang masuk lewat
mulutnya. Organ dalam tubuh ikan menyerap ion-ion garam seperti Na+, K+ dan
Cl-, serta air masuk ke dalam darah dan selanjutnya disirkulasi. Kemudian insang
ikan akan mengeluarkan kembali ion-ion tersebut dari darah ke lingkungan luar.
Pada saat ikan sakit, luka, atau stres proses osmosis akan terganggu sehingga
air akan lebih banyak masuk kedalam tubuh ikan, dan garam lebih banyak keluar
dari tubuh. Akibatnya beban kerja ginjal ikan untuk memompa air keluar dari
dalam tubuhnya meningkat. Bila hal ini terus berlangsung bisa sampai
menyebabkan ginjal menjadi rusak sehingga ikan mati. Dalam keadaan normal
ikan mampu memompa air kurang lebih 1/3 dari berat total tubuhnya setiap hari.
Penambahan garam kedalam air diharapkan dapat membantu menjaga
ketidakseimbangan ini, sehingga ikan tetap bertahan hidup dan mempunyai
kesempatan untuk memulihkan dirinya dari luka atau penyakit. Tentunya dosis
untuk ikan harus diantur sedemikian rupa sehingga kadar garamnya tidak lebih
tinggi dari pada kadar garam dalam darah ikan. Apabila kadar garam dalam air
lebih tinggi dari kadar garam darah, efek sebaliknya akan terjadi, air akan keluar
dari tubuh ikan, dan garam masuk kedalam darah, akibatnya ikan terdehidrasi dan
akhirnya mati.
Organ yang berperan proses osmoregulasi adalah ginjal, ingsang, kulit
membran mulut dan beberapa membrane khusus yang digunakan dengan berbagai
cara.
Terdapat tiga pola regulasi ion air yaitu :
1. Regulasi hipertonik atau hipersomatik, yaitu pengaturan secara aktif
konsentrasi cairan tubuh yang lebih tinggi dari konsentrasi media. Hal ini
terjadi misalnya pada ikan air tawar (Potadrom).
2. Regulasi hipertonik atau hiposomotik, yaitu pengaturan secara aktif
konsentrasi cairan tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi media. Hal ini
terjadi pada jenis ikan air laut (Oseandrom).
3. Regulasi isotonic atau isoosmotik, yaitu bila konsentrasi cairan tubuh sama
dengan konsentrasi media, sama dengan ikan ikan yang hidup pada
daerah eustaria.

IV.

ALAT , BAHAN DAN CARA KERJA


a.

Alat dan Bahan

1. Timbangan

5. pipet

2. gelas ukur

6. Akuadestilata

3. pengaduk

7. NaCl

4. beker gelas

8. Ikan

b. Cara Kerja
1) Dibuat larutan NaCl dengan konsentrasi 0 %; 0,05 %; 0,1 %; 0,5 %; 1 %; 1,5 %;
dan 3 % masing-masing 200 mL.
2) Cairan di atas dibagi untuk masing-masing konsentrasi ke dalam beker gelas
dengan volume yang sama.
3) Ikan dimasukkan ke dalam cairan di atas
4) Diamati dan dicatat pada knsentrasi berapa hewan mati dalam 24 jam
V.

HASIL PERCOBAAN
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut:

Waktu

Jumlah ikan mati pada konsentrasi ke...


Kontrol

0,05 %

0,1 %

0,5 %

1%

1,5 %

3%

Jam-1

0%
5 hidup

5 hidup

5 hidup

5 hidup

5 hidup

5 hidup

5 mati

16.50-

(0%)

(0%)

(0%)

(0%)

(0%)

(0%)

(100%)

17.50
Jam-16

5 hidup

5 hidup

5 hidup

5 hidup

5 hidup

3 mati

5 mati

(0%)

(0%)

(0%)

(0%)

(0%)

(60%)

(100%)

5 hidup

5 hidup

5 hidup

3 mati

5 hidup

5 mati

5 mati

11.5-

(0%)

(0%)

(0%)

(60%)

(0%)

(100%)

(100%)

12.50
Jam-24

4 mati

1 mati

3 mati

2 mati

5 mati

5 mati

5 mati

15.50-

(80%)

(20%)

(60%)

(40%)

(100%)

(100%)

(100%)

7.508.50
Jam-20

16.50

VI.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengamatan, ikan lebih cepat mati pada konsentrasi paling
tinggi yaitu 3 %. Pada saat pangamatan, ikan menjadi hiperaktif dan tampak tingkah
laku stres terhadap lingkungan perlakuan. Berdasarkan data, semakin tinggi konsentrasi
NaCl, semakin cepat ikan mati, karena cairan dalam tubuh ikan yang diasumsikan
konsentrasinya lebih kecil dari pada lingkungan berpindah dengan cara osmosis,
sehingga ikan akan mengalami dehidrasi, kemudian akan mati.
Pada tubuh ikan mempunyai membran semi-permiabel yang berfungsi untuk
mengatur keluar masuknya air dalam tubuh ke lingkungan. Kondisi pada ikan labistes,
cairan lingkungan bersifat hipertonik terhadap cairan dalam tubuh ikan, sehingga terjadi
perpindahan konsentrasi larutan dari dalam tubuh ikan ke lingkungannya. Peristiwa ini
terjadi secara seluler. Pada ikan dengan konsentrasi 0 % mati pada jam ke 24. Hal ini
disebabkan ikan yang digunakan memiliki daya tahan tubuh yang lemah, tidak sehat
seperti stress. Pada waktu pengambilan ikan di akuarium, teknik pengambilannya tidak
benar sehingga membuat ikan stress atau stress ikan tersebut karena wadah yang terlalu
kecil dengan jumlah yang banyak sehingga terjadi perebutan 0 2 sehingga daur
oksigennya tidak baik dan menyebabkan ikan tersebut mati. Dalam praktikum ini,
menggunakan air keran sehingga ini juga mempengaruhi kondisi ikan tersebut.
VII. KESIMPULAN DAN SARAN
a.

Kesimpulan
Batas salinitas osmolaritas ada pada rentang 0.5-0.005% karena masih

ditemukan ikan yang hidup, disebut isoosmosis, pada konsentrasi diatas rentang
tersebut ikan mengalama hipoosmosis, karena kondisi salinitas lingkungan lebih
tinggi dari tubuh ikan, pada konsentrasi di bawah rentang ikan mengalami
hiperosmosis. Ikan lebih cepat mati secara berurutan dari konsentrasi paling tinggi
ke rendah karena cairan dalam tubuhnya mengalami osmosis terhadap
lingkunganya dan terjadinya osmoregulasi. Tipe adaptasinya berupa stenohaline.
b. Saran
Perlunya mengetahui kondisi ikan dan homogenitas ikan untuk memvalidkan data

DAFTAR PUSTAKA
1. Yudha, Indra Gumay. 2010. Esksresi osmoregulasi. Diunduh pada tanggal 15
Oktober 2016 di: blog.unila.ac.id/.../ekskresi-osmoregulasi-oleh-indra-gumayyudha.pdf
2. http://www.seafoodaddict.com/?p=906. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2016.