Anda di halaman 1dari 12

Peran Pendidik Geografi

dalam Pengembangan Kurikulum Literasi Bencana


Oleh:
Drs.Priyono,MSi dan Choirul Amin,SSi,MM
Fakultas Geografi UMS
Abstrak
Banyaknya korban yang jatuh pada Tsunami Aceh, Mentawai dan letusan Merapi
merupakan kenyataan pahit bahwa bangsa ini abai dan lalai akan tanda-tanda
alam. Tiap kali bencana melanda, tiap kali pula seolah bangsa ini baru tergugah
dari tidurnya. Sungguh terasa bangsa ini terlena di kala kondisi normal tapi lalai
mempersiapkan antisipasi dampak bencana. Fakta ini terkonfirmasi oleh hasil
kajian BNPB tahun 2012 terhadap kesiapsiagaan masyarakat dan Pemerintah
Daerah dalam menghadapi bencana di 33 kabupaten dan kota di Indonesia di
mana ternyata semua daerah menunjukkan hasil bahwa tingkat kesiapsiagaan
masyarakat dan Pemerintah Daerah masih rendah. Fakta dan data di atas
menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bangsa ini dalam menghadapi bencana masih
patut dipertanyakan. Oleh karena itu, dibutuhkan pendidikan yang mampu
melahirkan generasi yang melek bencana. Tulisan ini membahas dua hal terkait
kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana yaitu: pertama, pentingnya melek
bencana; dan kedua, bagaimana peran para pendidik (baik guru maupun dosen)
geografi dalam mewujudkan generasi melek bencana tersebut. Tulisan ini
menggunakan analisis data sekunder yang diperoleh dari BNPB dan Kementrian
Pendidikan dan kebudayaan Nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa: pertama,
melek bencana memang tidak dapat menghentikan terjadinya bencana itu sendiri,
akan tetapi hal itu dapat membantu kita mempersiapkan diri menghadapi bencana
tersebut sehingga akan mengurangi dampak kerugian yang ditimbulkannya; dan
kedua, Pendidik geografi dapat berperan dalam membangun generasi melek
bencana melalui pengembangan kurikulum pendidikan literasi bencana dan
penggunaan metode pembelajaran kontekstual bencana dalam pembelajaran di
kelas.
Kata Kunci : Pendidik Geografi, Kurikulum Literasi Bencana, Metode
Pembelajaran Kontekstual Bencana.
A. Pendahuluan
Kepulauan Indonesia merupakan salah satu wilayah yang memiliki kondisi
geologi yang sangat menarik di dunia. Menarik karena gugusan kepulauannya
dibentuk oleh tumbukan lempeng-lempeng tektonik besar. Indonesia berada dalam
lingkaran pertarungan tiga lempeng besar dunia yang saling bertabrakan. Masingmasing adalah lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik.

Gambar 1. Kepulauan Indonesia dikepung oleh lempeng-lempeng tektonik.


Sumber : http://inatews.bmkg.go.id

Kondisi bentang alam Indonesia tersebut menunjukkan bahwa hampir


seluruh wilayah Indonesia rawan terkena bencana geologi baik berupa letusan
gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami. Seolah tak sempat kering air mata
kesedihan Bangsa Indonesia karena rentetan bencana yang beruntun melanda
seperti tsunami Aceh tahun 2004, gempa Nias tahun 2005, gempa Jogja tahun
2006, gempa Bengkulu tahun 2007, gempa Padang tahun 2009, letusan Gunung
Merapi tahun 2010, gempa dan tsunami di Mentawai tahun 2010, lalu gempa di
Aceh Tengah tahun 2013. Selain bencana geologis tersebut, negeri ini juga di
setiap musim penghujan selalu dirundung bencana banjir dan tanah longsor.
Rentetan bencana itu menggambarkan bahwa berbagai daerah di Indonesia
merupakan titik rawan bencana yang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja.
Banyaknya korban dan kerugian yang dialami ketika kejadian bencana
adalah kenyataan pahit bahwa bangsa ini abai dan lalai akan tanda-tanda alam.
Data kejadian bencana dan korban meninggal dunia dari tahun 1815 hingga 2014
dapat disimak pada grafik 1 di bawah ini.

Grafik 1. Sebaran Kejadian Bencana dan Korban Meninggal per Jenis Kejadian Bencana
1815-2014
Sumber : DIBI-BNPB, 2014.

Fakta dan data di atas terkonfirmasi oleh hasil kajian BNPB tahun 2012
terhadap kesiapsiagaan masyarakat dan Pemerintah Daerah dalam menghadapi
bencana di 33 kabupaten dan kota di Indonesia di mana ternyata semua daerah
yang dikaji menunjukkan hasil bahwa tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan
Pemerintah Daerah masih rendah. Fakta dan data tersebut menunjukkan bahwa
kesiapsiagaan bangsa ini dalam menghadapi bencana masih patut dipertanyakan.
Tulisan ini membahas dua hal terkait kesiapsiagaan dalam menghadapi
bencana yaitu: pertama, pentingnya melek bencana; dan kedua, bagaimana peran
para pendidik (baik guru maupun dosen) geografi dalam mewujudkan generasi
melek bencana tersebut. Tulisan ini menggunakan analisis data sekunder yang
diperoleh dari Data dan Informasi Bencana (DIBI) BNPB dan Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan Nasional.
B. Pentingnya Literasi Bencana
Berbagai bencana yang melanda negeri ini telah merenggut ribuan korban
jiwa, kehilangan harta benda, serta lumpuhnya sendi-sendi perekonomian rakyat

akibat kerusakan atas berbagai infrastruktur dan fasilitas umum yang ada. Tiap
kali bencana melanda, tiap kali pula seolah bangsa ini baru tergugah dari tidurnya.
Sungguh terasa bangsa ini terlena di kala kondisi normal tapi lalai mempersiapkan
antisipasi dampak bencana sehingga menimbulkan jumlah korban dan kerugian
yang tidak sedikit. Oleh karena itu, setiap Warga Negara Indonesia, termasuk para
generasi muda harus paham bahwa daerah yang ditinggali saat ini rawan bencana
sehingga mereka memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana agar risiko
bencana dapat dikurangi.
Pendidikan bagi generasi muda menjadi satu faktor penentu dalam
kegiatan pengurangan risiko bencana. Oleh karenanya, pengurangan risiko
bencana seperti dimandatkan dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana harus terintegrasi ke dalam program pembangunan
pendidikan sehingga mampu melahirkan generasi yang melek bencana (disasterliterate generation).
Literasi bencana adalah kata kunci yang harus dipahami oleh generasi
muda bangsa ini sehingga mereka memahami sepenuhnya (literasi-melek) bahwa
letak geografis negerinya berada pada kawasan yang rawan terjadinya bencana.
Kegiatan literasi menurut Potter (2005) dalam Gatut (2013), awalnya
hanya kegiatan yang beroritasi pada kemampuan membaca dan menulis. Tidak
mengherankan orientasi awal kegiatan literasi hanya terfokus pada perilaku
individu berkait dengan kemampuan membaca media baik itu koran, majalah atau
bulletin dan sejenisnya. Perkembangan selanjutnya, meluas pada bentuk
kesadaran terhadap visual literacy seperti televisi, film dan komputer. Bahkan
yang lebih terkini lagi adalah media literacy dan information literacy.
Penekanannyapun semakin variatif, satu diantaranya adalah upaya kongkrit untuk
meningkatkan kesadaran dan ketrampilan individu atau masyarakat tentang
kepedulian akan persoalan lingkungan tertentu.
Sedangkan literasi bencana menurut Emily (2012) adalah kemampuan
untuk mengidentifikasi, memahami, menginterpretasi dan mengkomunikasikan
informasi yang berkaitan dengan bencana. Lahirnya generasi dengan literasi
bencana diharapkan memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan

menghadapi potensi ancaman bencana, serta memulihkan diri dengan segera dari
dampakdampak bencana yang merugikan.
Generasi muda kita harus memahami jika mereka tinggal di daerah rawan
bencana sehingga mereka sudah paham dan bisa mengantisipasi sedini mungkin
jika sewaktu-waktu terjadi bencana, termasuk dimana lokasi pengungsian hingga
alat apa saja yang dibutuhkan. Membangun literasi bencana dan budaya siaga di
dunia pendidikan sangat dibutuhkan agar generasi muda yang hidup di negara
yang rawan bencana ini memiliki gaya hidup tangguh dalam menghadapi bencana.
C. Peran Pendidik Geografi
Pemahaman tentang bencana sangat penting diberikan baik di bangku
kuliah maupun sekolah untuk meningkatkan kesiapsiagaan generasi penerus
bangsa agar mereka dapat ikut meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh
bencana. Generasi yang memiliki kesiapan terhadap bencana akan mampu
menghadapi dan melakukan tindakan penyelamatan diri pada saat bencana terjadi.
Di sinilah peran para pendidik geografi (baik guru maupun dosen) sangat
dibutuhkan. Sebagai ilmu yang sangat dekat dengan lingkungan, geografi
seharusnya memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi masa depan yang
melek bencana. Geografi mempelajari fenomena geosfer dengan pendekatan yang
holistik (keruangan, ekologi, dan kompleks wilayah) dan terintegrasi sehingga
memungkinkan peserta didik dapat mengaplikasikan pengetahuan dan ketrampilan
geografi untuk berbagai situasi kehidupan baik di rumah, lingkungan keluarga
maupun masyarakat. Dengan demikian, pelajaran geografi seharusnya menjadi
pelajaran inti di sekolah untuk pembekalan pengetahuan dasar tentang
kebencanaan sejak dini. Kesiapan ini dapat dibentuk melalui penyusunan
kurikulum dan pembelajaran literasi bencana di dalam kelas.
1. Pengembangan Kurikulum Literasi Bencana
Usaha meningkatkan literasi bencana di dunia pendidikan harus
dilaksanakan baik pada taraf kurikulum maupun pelaksanaan kurikulum di
lapangan. Penyusunan kurikulum harus didasarkan pada kaidah kurikulum yang
baik karena kurikulum sebagai sebuah rancangan pendidikan mempunyai
kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan. Mengingat
4

pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan maka dalam penyusunan


kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh.
Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori
dan praktik pendidikan. Pandangan lama mendefinisikan kurikulum sebagai
kumpulan mata-mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh
siswa. Anggapan ini telah ada sejak zaman Yunani Kuno dan dalam lingkungan
tertentu pandangan ini masih digunakan

hingga

sekarang, yaitu kurikulum sebagai,


"... are course of subject matters to be mastered" (Robert S. Zais, 1976)
Pendapat-pendapat
menekankan

pada

yang

muncul

selanjutnya

isi

menjadi

lebih

pengalaman belajar. Caswel dan Campbell (1935)

telah

bergeser

menekanan

dari
pada

dalam buku mereka berjudul

Curriculum Development, mendefinisikan kurikulum,


... to be composed of all the experiences children have under the
guidance of teachers.
Perubahan penekanan pada pengalaman ini selanjutnya ditegaskan oleh
Ronald C. Doll (1974) dengan menyatakan bahwa:
The commonly accepted definition of the curriculum has changed
fromcontent of courses of study and list of subjects and courses to all
theexperiences which are offered to learners under the auspices or directionof the
school..
Pernyataan tentang kurikulum Doll di atas tidak hanya menunjukkan
adanya perubahan penekanan dari isi kepada proses, melainkan juga menunjukkan
adanya perubahan lingkup, yaitu dari konsep yang sangat sempit kepada yang
lebih

luas.

Definisi

tersebut

juga

mencakup berbagai upaya guru dalam mendorong terjadinya pengalaman tersebut


serta berbagai fasilitas yang mendukungnya
Oleh karena itu, Landasan pegembangan kurikulum tidak hanya
dipergunakan bagi para penyusun kurikulum, akan tetapi terutama harus dipahami
dan dijadikan dasar pertimbangan oleh para pelaksanaan kurikulum yaitu para
pendidik serta pihak pihak yang terkait dalam melakukan pembinaan terhadap
implementasi kurikulum di setiap tingkat pendidikan. Penyusunan dan

pengembangan kurikulum tidak bisa dilakukan secara sembarangan, dibutuhkan


berbagai landasan yang kuat agar mampu dijadikan dasar pijakan dalam
melakukan proses penyelenggaraan pendidikan, sehingga dapat memfasilitasi
tercapainya sasaran pendidikan dan pembelajaran secara lebih efektif dan efesien.
Materi mitigasi bencana, termasuk ancaman dan risiko bencana, memang
telah dimasukkan dalam Kurikulum 2013. Meski penyampaian materi mitigasi
bencana tidak dimasukkan dalam mata pelajaran khusus, tetapi melalui kegiatan
ekstrakurikuler, seperti Pramuka. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan juga
telah menyusun materi khusus mengenai kebencanaan, mulai dari pengenalan
tanda-tanda bencana alam hingga proses evakuasi. Setiap daerah memiliki
karakteristik ancaman bencana yang berbeda, mulai dari gempa, banjir, longsor,
hingga letusan gunung api, sehingga kurikulum mitigasi bencana untuk sekolah
harus disesuaikan dengan karakteristik ancaman bencana yang dihadapi.
Namun demikian, jika dipertimbangkan pentingnya literasi bencana bagi
generasi muda, langkah seperti di atas belumlah memadahi karena pendiidkan
mitigasi bencana tidak masuk dalam mata pelajaran dan hanya disampaikan
melalui ekstrakurikuler Pramuka. Oleh karena itu, perlu disusun kurikulum
khusus yang menjadi panduan bagi setiap pendidik di beberapa mata ajar. Pada
pembelajaran di setiap jenjang pendidikan (mulai dari TK hingga PT), komponenkomponen kurikulum seperti silabus, standar kompetensi dan kompetensi dasar
harus dibuat dengan jelas, misalnya pada jenjang SD dan SMP mitigasi bencana
dapat dimasukan dalam mata pelajaran IPA dan IPS, sedangkan di SMA dalam
mata pelajaran Geografi dan Sosiologi.
Selain itu, mengingat keterkaitan kejadian bencana dengan keadaan
geografis setempat maka geografi harus dijadikan sebagai platform kajian dalam
penyusunan dan penyampaian materi literasi bencana tersebut. Hal ini atas dasar
pertimbangan bahwa semua kejadian bencana terikat dengan lokasi. Oleh karena
itu, kurikulum literasi bencana harus menekankan pentingnya konektivitas ruang
dalam kejadian bencana.
Hakikat geografi sebagai ilmu selalu melihat keseluruhan gejala dalam
ruang, dengan memperhatikan secara mendalam tiap aspek yang menjadi
komponen keseluruhan. Geografi sebagai satu kesatuan studi (unified geography),

melihat satu kesatuan komponen alamiah dengan komponen insaniah pada ruang
tertentu di permukaan bumi, dengan mengkaji faktor alam dan faktor manusia
yang membentuk integrasi keruangan di wilayah yang bersangkutan.
Sebagai contoh adalah keterkaitan antara lingkungan fisik dan
sosial dalam Daerah Aliran Sungai (DAS). Persepsi masyarakat
terhadap sungai akan sangat mempengaruhi tindakannya pada sungai.

Jika masyarakat tidak paham bahwa sungai memiliki hubungan timbal balik yang
erat dengan lingkungan sekitarnya, maka masyarakat akan ringan tangan
merusaknya seperti membuang sampah dan limbah ke sungai, merusak
bantarannya, menambang material secara membabi buta dan membabat hutan di
daerah hulu.

Akibatnya, bencana jua yang akan dituai. Akan tetapi jika

masyarakat memahami hubungan timbal balik ini dan memandang sungai sebagai
asset yang berharga bagi kehidupannya, maka mereka akan terdorong untuk
menjaga kelestariannya. Di sinilah pentingnya generasi muda dipahamkan tentang
adanya sistem alam sedini mungkin (sejak PAUD dan TK) sehingga mereka
memahami sistem lingkungan fisik dan manusia yang saling berkaitan,
masyarakat dan tempat tinggalnya saling berinteraksi. Gejala interelasi,

interaksi, integrasi keruangan, menjadi hakikat kerangka kerja utama pada


geografi dan studi geografi. Inilah mengapa geografi harus dijadikan platform
dalam penyusunan kurikulum literasi bencana ini.
Dengan demikian, peran para pendidik geografi (baik guru maupun dosen)
dalam penyusunan (dan pelaksanaan) kurikulum literasi bencana sangatlah
signifikan. Para pendidik geografi harus terlibat aktif dalam penyusunan
kurikulum literasi bencana ini agar pola pikir dan pendekatan geografi benarbenar mewarnai sehingga geografi dapat terwujud menjadi platform kurikulum
literasi bencana seperti diharapkan di atas.
2. Model Pembelajaran Kontekstual Kebencanaan
Kerawanan bencana merupakan suatu hal yang sangat kasat mata di negeri
ini. Sementara itu, banyak teoritisi pendidikan yang telah lama menghimbau untuk
membuat pendidikan menjadi hidup dan berarti dengan cara menghubungkan
pelajaran-pelajaran yang abstrak dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, ini
merupakan jalan bagi penerapan model pembelajaran kontekstual. Hal ini relevan
7

dengan perlunya suatu model pembelajaran yang secara efektif dapat


meningkatkan literasi bencana para generasi muda Indonesia.
Johnson (2007) menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual adalah
pengajaran

yang

membuat

semua

peserta

didik

mampu

memperkuat,

mengembangkan, dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik


mereka di berbagai kondisi baik di dalam maupun di luar lingkungan
sekolah/kampus untuk memecahkan masalah-masalah nyata. Pembelajaran
kontekstual menekankan tingkat pemikiran yang lebih tinggi, alih pengetahuan
antar mata pelajaran, serta menghubungkan, menganalisis, dan menyusun
informasi dan data dari berbagai sumber dan sudut pandang.
Selanjutnya Johnson (2007) menyimpulkan 7

ciri

pembelajaran

kontekstual yaitu: kebermaknaan, penerapan pengetahuan, tingkat pemikiran lebih


tinggi, kurikulum yang berdasarkan standar, fokus pada kebudayaan, peran serta
aktif, dan penilaian autentik.
Dengan demikian, pembelajaran kontekstual kebencanaan terjadi ketika
para peserta didik menerapkan dan mengalami hal-hal yang dipelajari tentang
bencana dengan merujuk pada permasalahan-permasalah nyata di lingkungan
tempat tinggalnya sendiri yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab
mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan pembelajar. Tugas pendidik
geografi di sini adalah mengatur strategi belajar dan memfasilitasi belajar agar
peserta didik mampu menghubungkan pengetahuan kebencanaan dengan resiko
bencana yang ada di tempat tinggalnya. Misalnya bagi para pendidik di Pulau
Jawa harus mampu memahamkan bahwa penduduk Pulau Jawa yang ditinggali
lebih dari 120 juta jiwa itu harus hidup di bawah bayang-bayang bencana dari
lebih dari 30 gunung berapi.
Selain itu, pembelajaran kontekstual kebencanaan perlu menekankan
kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat mencerna materi
kebencanaan yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan
nyata di lingkungannya sehingga mampu mendorong siswa untuk dapat
menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Kesiapsiagaan bencana generasi muda harus dipupuk sedini mungkin.
Parameter kesiapsiagaan bencana meliputi: pengetahuan dan sikap, kebijakan,
rencana tanggap darurat, peringatan dini dan mobilisasi sumber daya. Pada

pelaksanaan program sekolah siaga bencana dilakukan bersama dengan program


pengembangan sekolah untuk meningkatkan kapasitas respons dan manajemen
bencana. Sudah saatnya kini melihat dunia pendidikan sebagai pusat pembelajaran
mulai mengenalkan dan menerapkan parameter kesiapsiagaan bencana tersebut
menggunakan model pembelajaran kontekstual. Lebih-lebih saat ini implementasi
Kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan sainstifik tersebut sangat sesuai
dengan pembelajaran kontekstual ini.
Para pendidik geografi harus mengambil peran dalam kegiatan
pengurangan risiko bencana dengan cara memulai mengenalkan materi-materi
tentang kebencanaan sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran sehari-hari.
Selain secara fisik telah dilakukan penyesuaian bangunan kampus dan sekolah
dengan potensi bencana setempat, di lain pihak para pendidik juga perlu berupaya
mengembangkan metode mitigasi bencana untuk meningkatkan keterampilan
dalam menghadapi bencana secara dini. Para pendidik geografi tidak cukup hanya
memberikan simulasi bencana, namun juga membuat rencana manajemen bencana
yang melibatkan semua pihak di lembaganya masing-masing.
D. Penutup
Hasil kajian ini menunjukkan bahwa: pertama, melek bencana memang
tidak dapat menghentikan terjadinya bencana itu sendiri, akan tetapi hal itu dapat
membantu kita mempersiapkan diri menghadapi bencana tersebut sehingga akan
mengurangi dampak kerugian yang ditimbulkannya; dan kedua, Pendidik (guru
dan dosen) geografi dapat berperan dalam membangun generasi melek bencana
melalui penyusunan kurikulum pendidikan literasi bencana dan penggunaan
metode pembelajaran kontekstual kebencanaan dalam pembelajaran di kelas.
Daftar Pustaka
Data dan Informasi Bencana Indonesia, Badan Nasional Penganggulangan
Bencana (on line). http://dibi.bnpb.go.id/DesInventar/dashboard.jsp

diakses

pada 15 Juli 2014.


Doll, Ronald C. 1974. Curriculum Improvement, Decision Making and Process.
Boston: Allyn & Bacon, Inc.

Emily Y.Y. Chan. 2012. Preliminary Findings on Urban Disaster Risk Literacy
and

Preparedness

in

Chinese

Community

(on

https://wfpha.confex.com/wfpha/2012/webprogram/Paper9563.html

line)
diakses

pada 17 Juli 2014.


Enco Mulyasa dan Anang Solihin Wardan. 2013. Pengembangan dan
Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Remaja Rosdakarya.
Gatut Priyowidodo dan Jandy E. Luik. 2013. Literasi Mitigasi Bencana Tsunamai
untuk Masyarakat Pesisir di Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Jurnal Ekotrans
Vol.13 No. 1 Januari 2013, hlm 47-61.
Irwan Suhanda (ED). Bencana Mengancam Indonesia : Laporan Khusus Kompas.
Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Johnson, Elaine B. 2007. Contextual Teaching and Learning: Menjadikan
Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung: Penerbit
MLC.
Merliyana, Pargito, dan Dedy Miswar. 2014. Sumbangan Model Pembelajaran
Kontekstual pada Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Geografi. Jurnal
Penelitian Geografi (JPG) FKIP Unila, Vol.2 No. 2 Tahun 2014.
Permendikbud Nomor 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
Permendikbud Nomor 64 tahun 2013 tentang Standar Isi.
Permendikbud Nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses.
Sriyono. 2011. Penerapan Green Campus for My City Sebagai Model
Pembelajaran Kontekstual pada Mata Kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup
untuk Meningkatkan Afeksi Mahasiswa Jurusan Geografi FIS UNNES dalam
Mewujudkan Konservasi Alam. Jurnal Geografi Unnes Vol. 8 No. 1, Januari
2011.
Zadeh, Alik Ismail (Ed). 2014. Extreme Natural Hazards, Disaster Risks and
Societal Implications. United Kingdom: Cambridge University Press.
Zais, Robert S. (1976). Curriculum Principles and Foundations. New York: Harper
& Row Publisher.
10

11