Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

ASPEK HUKUM DALAM PEMBANGUNAN

Disusun oleh:
Prieta Firdayani Mulyono (16313916)

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahNya sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu dengan judul Makalah
Aspek Hukum Dalam Pembangunan
Dalam makalah ini penulis menyajikan materi mengenai bentuk-bentuk konstruksi,
teknik dan strategi dalam negosiasi kontrak konstruksi serta klaim konstruksi dan cara
menyelesaikan sengketa.
Penulis mengucapkan terima kasih untuk bapak Didiek Pramono, ST., MT. selaku
dosen mata kuliah Aspek Hukum Dalam Pembangunan yang memberi inspirasi dan motivasi
dalam mengerjakan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh
teman-teman Teknik Sipil angkatan 2013A yang membantu dalam menemukan ide dan
inspirasi.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam
penyajian makalah ini. Apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, penulis mohon maaf.
Semoga makalah ini dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi bagi pembaca.

Depok, 31 Agustus 2016


Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................................

ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................................

iii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG .........................................................................................
1.2.RUMUSAN MASALAH .....................................................................................
1.3.TUJUAN ..............................................................................................................

1
1
1

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1

BENTUK-BENTUK KONTRAK KONSTRUKSI .............................................


2.1.1 Bentuk-Bentuk Kontrak Konstruksi Dari Segi Perhitungan Biaya, Jasa,
Cara Pembayaran, dan Pembagian Tugas ...................................................

2
2

2.1.2 Pengertian Yang Sudah Terlanjur Keliru Sehingga Berakhir Dengan

2.2

Sengketa ......................................................................................................

2.1.3 Cara Menghindari Terjadinya Perselisihan .................................................


2.1.4 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dan Dihindari Serta KendalaKendala Lain ...............................................................................................
TEKNIK DAN STRATEGI NEGOSIASI KONTRAK KONSTRUKSI ............

2.2.1 Kiat-Kiat Dan Teknik Dalam Perundingan .................................................

6
6

2.2.2 Hal-Hal Yang Harus Dihindari Dalam Perundingan ..................................... 8


2.3

KLAIM KONSTRUKSI, TEKNIK ATAU KIAT MEMANFAATKAN


PELUANG KLAIM & PENYELESAIAN SENGKETA KONSTRUKSI ..........
2.3.1 Pengertian Klaim Konstruksi .......................................................................
2.3.2 Peluang Teknik Dan Kiat Memanfaatkan Klaim Dari Penyedia Jasa
Dan Pengguna Jasa ......................................................................................
2.3.3 Penyelesaian Terhadap Sengketa .................................................................

9
9
9
12

BAB 3 PENUTUP
3.1

KESIMPULAN ....................................................................................................

15

3.2

SARAN ................................................................................................................

15

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................

16

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Suatu kontrak, pada dasarnya adalah suatu dokumen tertulis yang memuat keinginan
para pihak untuk mencapai tujuan komersialnya, dan bagaimana pihaknya di untungkan,
dilindungi atau dibatasi tanggung jawabnya dalam mencapai tujuan tersebut. Melalui kontrak,
terciptalah perikatan atau hubungan hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban pada
masing-masing pihak yang membuat kontrak. Dimana, para pihak terikat untuk mematuhi
kontrak yang telah mereka buat tersebut. Dalam hal ini fungsi kontrak sama dengan undang
undang. Tetapi hanya berlaku khusus terhadap para pembuatnya saja. Hal ini diatur dalam
Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata dinyatakan bahwa : Semua persetujuan yang dibuat secara
sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Sepanjang tidak
bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum, hal ini disebut dengan Asas kebebasan
berkontrak.

Ketidak seimbangan antara terbatasnya pekerjaan konstruksi dan banyaknya penyedia


jasa mengakibatkan posisi tawar penyedia jasa sangat lemah. Adanya kekhawatiran tidak
mendapatkan pekerjaan yang ditenderkan pengguna jasa menyebabkan penyedia jasa
menerima kontrak konstruksi tanpa memperhatikan hal-hal yang sensitif seperti ketersediaan
dana, isi kontrak, kelancaran pembiayaan sehingga terkadang menimbulkan klaim di akhir.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai berbagai jenis kontrak, trik bernegosiasi yang tepat
dan cara menghindari klaim di akhir kontrak.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah bentuk-bentuk kontrak konstruksi ?
2. Bagaimanakah teknik dan strategi negosiasi kontrak konstruksi?
3. Bagaimanakah klaim konstruksi dan cara menyelesaikan sengketa ?
1.3 TUJUAN
Adapun tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui bentuk-bentuk kontrak konstruksi.
2. Mengetahui teknik dan strategi negosiasi kontrak konstruksi.
3. Mengetahui klaim konstruksi dan cara menyelesaikan sengketa.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 BENTUK-BENTUK KONTRAK KONSTRUKSI
2.1.1 Bentuk-Bentuk Kontrak Konstruksi Dari Segi Perhitungan Biaya, Jasa, Cara
Pembayaran, dan Pembagian Tugas
Bentuk-bentuk kontrak konstruksi dapat diuraikan dari 4 aspek/sudut pandang adalah
sebagai berikut:
a. Aspek perhitungan biaya
Terdapat beberapa jenis kontrak konstruksi berdasarkan aspek perhitungan biaya
adalah:
1. Fixed Lump Sum Price
Beberapa pengertian Fixed Lump Sum Price adalah sebagai berikut:
a) Jumlah harga pasti dan tetap dimana

volume

pekerjaan

tercantum dalam

kontrak tidak boleh diukur ulang.


b) Pada PP. No.29/2000 Pasal 21 ayat 1, Fixed Lump Sum Price adalah suatu jumlah
harga pasti dan tetap, semua resiko ditanggung penyedia jasa sepanjang gambar
dan spesifikasi tidak berubah.
c) Menurut Gilbreath, Fixed Lump Sum Price adalah harga tetap selama tidak ada
perintah perubahan. Resiko bagi Pengguna jasa kecil, namun bagi Penyedia jasa
besar.
d) Menurut Stokes, Fixed Lump Sum Price adalah jumlah pasti yang harus dibayar
Pengguna jasa. Resiko pada Penyedia jasa.
Berdasarkan beberapa pengertian, maka terdapat empat batasan yaitu:
a) Yang pasti dan tak berubah adalah jumlah harga kecuali ada perintah perubahan.
b) Volume pekerjaan dalam kontrak tidak boleh diukur ulang.
c) Nilai kontrak berubah bila ada perintah perubahan (kerja tambah, kurang,
perubahan spek).
d) Resiko salah hitung volume ada pada Penyedia jasa.
2. Unit Price
Beberapa pengertian Unit Price/Harga Satuan adalah sebagai berikut:
a) Volume pekerjaan dalam kontrak baru merupakan perkiraan (bukan volume
pasti).
b) Volume pekerjaan yang sesungguhnya dilaksanakan, akan diukur ulang bersama.
c) Pada PP. No.29/2000 Pasal 21 ayat 2, Unit Price/Harga Satuan adalah
penyelesaian pekerjaan berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap dengan
volume pekerjaan berdasarkan hasil pengukuran bersama atas pekerjaan yang
benar-benar dilaksanakan.
2

d) Menurut Gilbreath, Unit Price/Harga Satuan adalah harga satuan dikali volume
yang sesungguhnya dilaksanakan. Tidak ada resiko kelebihan membayar bagi
Pengguna jasa, tapi juga tidak ada windfall profit bagi Penyedia jasa. Perlu
pengawasan seksama.
e) Menurut Stokes, Unit Price/Harga Satuan adalah pekerjaan dibayar sesuai yang
dikerjakan. Tidak ada resiko kelebihan membayar.
Berdasarkan beberapa pengertian, maka terdapat empat batasan yaitu:
a)
b)
c)
d)
e)

Tidak ada resiko kelebihan membayar (Pengguna jasa).


Tidak ada keuntungan mendadak (Penyedia jasa).
Banyak pekerjaan pengukuran ulang sehingga bisa terjadi kolusi.
Lebih sering digunakan fixed lump sum.
Kemungkinan gabungan antara keduanya.

b. Aspek Perhitungan Jasa


Terdapat beberapa jenis kontrak konstruksi berdasarkan aspek perhitungan biaya
adalah:
1. Biaya tanpa jasa
Beberapa pengertian biaya tanpa jasa adalah sebagai berikut:
a) Yang dibayar hanya biaya, tanpa ada imbalan jasa. Biasanya untuk pekerjaan
sosial (tempat ibadah, panti asuhan) dimana masih bisa dapat laba dari efisiensi.
b) Menurut Gilbreath, biaya tanpa jasa adalah Reimburseable, No Fee.
c) Biaya tambah jasa (Cost Plus Fee)
Beberapa pengertian biaya tambah jasa adalah sebagai berikut:
a) Yang dibayarkan selain biaya juga imbalan jasa dimana presentase jasa biasanya
10% atas biaya (tidak ada batasan biaya) dan tidak ada rangsangan efisiensi. Cost
Plus Fee sangat merugikan Pengguna jasa.
b) Menurut Gilbreath, biaya tambah jasa adalah semakin tinggi jasa maka semakin
tinggi jasa.
2. Biaya ditambah jasa pasti (Cost Plus Fixed Fee)
Beberapa pengertian biaya ditambah jasa pasti adalah sebagai berikut:
a) Hampir sama dengan Cost Plus Fee, hanya feenya sudah pasti dan tetap dimana
sedikit lebih baik dari Cost Plus Fee, tapi tetap tak ada kepastian mengenai biaya.
Penyedia jasa tidak memiliki rangsangan untuk menaikkan biaya, karena
kenaikan biaya tidak menambah jasa (fee).
b) Menurut Gilbreath, biaya ditambah jasa pasti adalah penyedia jasa tidak punya
rangsangan untuk menaikkan biaya.
c. Aspek Cara Pembayaran

Terdapat beberapa jenis kontrak konstruksi berdasarkan aspek cara pembayaran


adalah:
1. Cara Pembayaran Bulanan (Monthly Payment)
Beberapa pengertian cara pembayaran bulanan adalah sebagai berikut:
a) Pembayaran yang dilakukan berdasarkan prestasi yang diukur pada akhir bulan.
Kelemahannya adalah sekecil apapun prestasi harus dibayar.
b) Cara pembayaran bulanan ini diatur dalam PP. No 29/2000 pasal 20 ayat 3 huruf
c.
2. Cara pembayaran atas prestasi (Stage Payment)
Beberapa pengertian cara pembayaran atas prestasi adalah sebagai berikut:
a) Pembayaran atas dasar presentase kemajuan fisik yang telah dicapai dimana
biasanya dengan memperhitungkan uang muka dan uang jaminan atas cacat
namun masih tetap belum sepenuhnya aman karena kemungkinan prestasi bahan
yang banyak. Cara pembayaran atas prestasi ini diatur dalam PP. No 29/2000
pasal 20 ayat 5 huruf c.
b) Menurut Gilbreath, Stage Payment is progress billing and payment.
3. Pra pendanaan penuh dari penyedia jasa (Contractors Full Pre Financed)
Contractors Full Pre Financed adalah pekerjaan didanai penuh terlebih dulu oleh
penyedia jasa sampai selesai dimana setelah pekerjaan selesai dan diterima baik oleh
pengguna jasa baru mendapatkan pembayaran dari pengguna jasa.
d. Aspek Pembagian Tugas
Terdapat beberapa jenis kontrak konstruksi berdasarkan aspek pembagian tugas
adalah sebagai berikut:

1. Kontrak biasa/Konvensional
Pengguna jasa menugaskan penyedia jasa untuk melaksanakan salah satu aspek
pembangunan saja yaitu perencanaan, pengawasan, pelaksanaan dilakukan penyedia
jasa berbeda.
2. Kontrak spesialis
Pekerjaan-pekerjaan spesialis diberikan kepada beberapa penyedia jasa berbeda
dimana fungsi perencaan dapat dilakukan sendiri atau diberikan ke pihak lain.
3. Kontrak rancang bangun/Turnkey
Pekerjaan perencanaan/design dan pelaksanaan diborongkan kepada satu penyedia
jasa dimana penyedia jasa mendapatkan imbalan jasa perencanaan dan biaya
pelaksanaan.
4. Kontrak EPC

Pembayaran dilaksanakan sesuai tahapan pekerjaan yang telah diselesaikan dimana


bentuk kontrak ini banyak dipakai di Indonesia dalam dunia perminyakan dan gas
bumi (PERTAMINA).
5. Kontrak BOT/BLT
Pola kerjasama antara pemilik lahan dan investor yang punya modal/dana.
6. Kontrak swakelola
Bentuk kontrak ini sesungguhnya bukan kontrak karena pekerjaan dilakukan sendiri
dan dibayar sendiri.
2.1.2

Pengertian Yang Sudah Terlanjur Keliru Sehingga Berakhir Dengan Sengketa


Salah pengertian yang menyatakan bahwa dalam kontrak fixed lump sum adalah nilai

kontrak tidak boleh berubah padahal seharusnya bila diperintahkan perubahan maka nilai
kontrak juga berubah.
Setelah pekerjaan selesai, diperintahkan untuk diukur ulang, ternyata volume pekerjaan
hasil pengukuran ulang lebih kecil daripada volume kontrak maka selisih nilai dikembalikan.
2.1.3

Cara Menghindari Terjadinya Perselisihan


Cara menghindari terjadinya perselisihan adalah dianjurkan bahwa di dalam kontrak

seharusnya diberikan definisi kata atau istilah yang memiliki arti khusus agar tidak terjadi
kesalahpahaman yang dapat menimbulkan perselisihan atau sengketa setelah kontrak
ditandatangani.
2.1.4

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dan Dihindari Serta Kendala-Kendala Lain


Menurut advokat David M.L. Tobing dari Adams & Co. suatu perjanjian dikatakan

cacat apabila tidak memenuhi syarat sahnya perjanjian, yaitu:

SYARAT SAHNYA PERJANJIAN


1. Kesepakatan para pihak dalam perjanjian
2. Kecakapan para pihak dalam perjanjian
3. Suatu hal tertentu
4. Sebab yang halal

Syarat SUBJEKTIF
Syarat OBJEKTIF

Sehingga apabila suatu perjanjian itu tidak memenuhi syarat subjektif, maka perjanjian
tersebut dapat dimintakan pembatalannya. Sedangkan apabila suatu perjanjian tidak
memenuhi syarat objektif, maka perjanjian tersebut dinyatakan batal demi hukum.
5

2.2 TEKNIK DAN STRATEGI NEGOSIASI KONTRAK KONSTRUKSI


Negosiasi atau perundingan merupakan proses untuk menghasilkan kesepakatan atau
perjanjian diantara kedua pihak yang bermasalah. Negosiasi memerlukan trik atau strategi
karena pada dasarnya semua orang tidak mau kalah, tidak mau dipaksa ataupun ditindas.
Oleh sebab itu, pilihan yang terbaik adalah bagaimana negosiasi dapat tercapai untuk
menguntungkan kedua belah pihak.
2.2.1 Kiat-Kiat Dan Teknik Untuk Memenangkan Perundingan
Pada saat melakukan negosiasi,

perlu memilih strategi yang tepat sehingga

mendapatkan hasil yang diinginkan. Strategi negosiasi ini harus di tentukan sebelum proses
negosiasi dilakukan. Menurut Arbono (2005), terdapat beberapa macam strategi negosiasi
diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Win-Win
Strategi ini dipilih bila pihak-pihak yang berselisih menginginkan penyelesaian
masalah yang diambil dimana pada akhirnya menguntungkan kedua belah pihak. Strategi ini
juga dikenal sebagai integrative negotiation.

b. Win-Lose
Strategi ini dipilih karena pihak-pihak yang berselisih ingin mendapatkan hasil yang
sebesar-besarnya dari penyelesaian masalah yang diambil, dengan strategi ini pihak-pihak
yang berselisih saling berkompetisi untuk mendapatkan hasil yang mereka inginkan.
c. Lose-Lose
Strategi ini dipilih biasanya sebagai dampak kegagalan dari pemilihan strategi yang
tepat dalam bernegosiasi. Akibatnya, pihak-pihak yang berselisih pada akhirnya tidak
mendapatkan sama sekali hasil yang diharapkan.
d. Lose-Win
Strategi ini dipilih bila salah satu pihak sengaja mengalah untuk mendapatkan
manfaat dengan kekalahan mereka.
Pada proses negosiasi, pihak-pihak yang berselisih seringkali menggunakan berbagai
kiat dan teknik untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Arbono (2005) menyarankan
beberapa kiat dan teknik diantaranya sebagai berikut:
6

a. Membuat Agenda
Kiat ini harus digunakan karena dapat memberikan waktu kepada pihak-pihak yang
berselisih untuk membahas setiap masalah yang ada secara berurutan dan mendorong mereka
untuk mencapai kesepakatan atas keseluruhan paket perundingan.
b. Bluffing
Kiat klasik yang sering digunakan para negosiator, bertujuan mengelabui lawan
berundingnya dengan membuat distorsi kenyataan yang ada dan membangun suatu gambaran
yang tidak benar.
c. Membuat Tenggat waktu (Deadline)
Kiat ini digunakan bila salah satu pihak yang berunding ingin mempercepat
penyelesaian, proses perundingan dengan cara memberikan tenggat waktu pada lawannya
untuk segera mengambil keputusan.
d. Good Guy Bad Guy
Kiat ini digunakan dengan cara menciptakan tokoh jahat dan baik pada salah satu
pihak yang berunding. Tokoh jahat ini berfungsi untuk menekan pihak lawan sehingga
pandangan-pandangannya selalu ditentang oleh pihak lawannya, sedangkan tokoh baik ini
yang akan menjadi pihak yang dihormati oleh pihak lawannya karena kebaikannya, sehingga
pendapat-pendapat yang dikemukakan untuk menetralisir pendapat tokoh jahat yang akan
dapat diterima oleh lawan berundingnya.
e. The Art of Concecion
Kiat ini diterapkan dengan cara selalu meminta konsesi dari lawan berunding atas
setiap permintaan pihak lawan berunding yang akan dipenuhi.
f. Intimidasi
Kiat ini dilakukan bila salah satu pihak membuat ancaman kepada lawan
berundingnya agar menerima penawaran yang ada dan menekankan konsekuensi yang akan
diterima bila tawaran ditolak.
2.2.2

Hal-Hal Yang Harus Dihindari Dalam Perundingan


Pada proses negosiasi/perundingan, tidak semua akan berjalan dengan baik atau

berhasil yang dissebabkan oleh beberapa faktor seperti terbawa emosi untuk merubah
pendapat orang lain yang disebabkan oleh kemungkinan menemukan jalan, atau
kemungkinan terlibat konflik dan debat kusir dengan pihak lawan secara emosional. Oleh
sebab itu, hindarilah negosiasi yang bersifat emosional karena hal tersebut tidak akan
7

mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan dan selalu ingat tujuan utama melakukan
negosiasi adalah untuk mencapai suatu kesepakatan bukan untuk memenangkan pertempuran.
Menurut Dali Cornegie (1994), terdapat beberapa cara untuk meyakinkan orang lain
diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Jangan bertengkar.
b. Hormati pendapat pihak lawan, jangan mengatakan kepada pihak lawan bahwa itu
c.
d.
e.
f.
g.

salah.
Jika salah satu salah, maka cepatlah mengatakannya dengan terus terang.
Mulailah dengan cara yang ramah tamah.
Jelaskan gagasan dengan cara sedemikian rupa, sehinga orang bisa melihatnya.
Bersikap empatik terhadap gagasan dan pendapat pihak lawan.
Jika gagasan dan pendapat pihak lawan tidak tidak sesuai dengan pemikiran, maka
tantanglah pihak lawan itu dengan argumen yang kuat.

Hal lain yang harus dihindari adalah sistem tunjuk hidung kepada pihak lawan untuk
menunjukkan kesalahannya, gunakanlah kalimat yang baik, jangan menunjuk nama dan
orang perorang. Hal lainnya yang harus diperhatikan adalah cara berbicara, hindari ucapan
yang akan menyinggung perasaan dan harga diri pihak lawan.
2.3 KLAIM

KONSTRUKSI,

TEKNIK

ATAU

KIAT

MEMANFAATKAN

PELUANG KLAIM & PENYELESAIAN SENGKETA KONSTRUKSI


2.3.1 Pengertian Klaim Konstruksi
Klaim konstruksi adalah klaim yang timbul dari atau sehubungan dengan pelaksanaan
suatu pekerjaan jasa konstruksi antara pengguna jasa dan penyedia jasa atau antara penyedia
jasa utama dengan sub-penyedia jasa atau pemasok bahan atau antara pihak luar dan
pengguna/penyedia jasa yang biasanya mengenai permintaan tambahan waktu, biaya atau
kompensasi lain.
Klaim konstruksi dapat terjadi antar para pihak yang berkontrak. Tegasnya, klaim
mungkin saja datang dari pihak penyedia jasa kepada pengguna jasa atau sebaliknya. Jadi
tidak benar bila klaim hanya datang dari pihak pengguna jasa atau sebaliknya, hanya
pengguna jasa yang boleh mengajukan klaim.

2.3.2

Peluang Teknik Dan Kiat Memanfaatkan Klaim Dari Penyedia Jasa Dan
Pengguna Jasa
Peluang yang dimaksud adalah kejelian atau kepiawaian dalam melihat dan

memanfaatkan klaim, kemudian kecerdikan dan kemahiran dalam menyusun dan menyajikan
klaim tersebut sehingga dapat diterima dan disetujui. Tidak semua orang atau perusahaan
dapat memanfaatkan klaim ini karena perlu menguasai teknik dan kiat tertentu.
Pemanfaatan peluang klaim bukanlah suatu manipulasi, tipu muslihat atau hasil dari
suatu kolusi antara pengguna jasa dan penyedia jasa. Baik penyedia jasa maupun pengguna
jasa sama-sama memiliki peluang klaim. Peluang ini baru dapat dimanfaatkan jika
administrasi proyek konstruksi dikelola dengan baik, tertib dan akurat. Terdapat beberapa
jenis Peluang Klaim Penyedia Jasa diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Peluang penyedia jasa pada waktu Tender


a) Kesalahan spesifikasi teknis
Pada Penyedia jasa yang bertekad mencari peluang klaim menebus dokumen
tender, maka segera membentuk tim khusus untuk mempelajari dokumen tersebut
dari segala segi (teknik, hukum,manajemen, keuangan,). Apabila pekerjaan cukup
kompleks (rumit) dan menggunakan teknologi tinggi, maka menyewa konsultan
hukum yang bukan saja terkenal reputasinya dalam bidang hukum melainkan juga
sangat profesional dan berpengalaman dibidang teknik.
Setelah dokumen kontrak diteliti, misalnya terlihat bahwa jumlah tiang pancang
yang akan dipancang tak kurang dari 800 buah, dan Penyedia jasa tersebut
mengetahui bahwa panjang tiang pancang yang direncanakan kurang panjang
karena, berdasarkan pengalaman bekerja di daerah tersebut dan sudah tahu daya
dukung tanah di daerah tersebut terdapat pada kedalaman yang cukup dalam. Maka
untuk menyakini dugaannya, Penyedia jasa mohon izin kepada Pengguna jasa untuk
9

melakukan penyelidikan tanah ulang (atas biaya sendiri). Hasil penyelidikan tanah
merekomendasikan tiang pancang yang direncanakan.
Informasi ini tidak disampaikannya kepada Penyedia jasa sehingga tender lain
tetap berpegang pada dokumen tender asli agar dia memperoleh peluang klaim tanpa
diketahui penawar lain. Penyedia jasa lalu mengatur strategi atau kiat dengan
menekan biaya pemancangan sehingga biaya penawaran secara keseluruhan menjadi
lebih rendah dari penawar lain sehingga ia memenangkan tender. Setelah tender
dimenangkan, terbukti bahwa memang tiang pancang kurang panjang, lalu dia mulai
menyusun klaim sehubungan dengan pekerjaan pancang ini yang telah dia antisipasi
sebagai kompensasi penurunan harga tender.
Namun memang ada kemungkinan Penggunan Jasa tetap bersikukuh tidak mau
mengubah panjang tiang pancang. Apabila hal ini terjadi, Penyedia jasa tersebut
dapat meminta penyelidikan tanah yang dilakukan oleh jasa penyelidikan ketiga
yang independen. Bila klaim ini berdasarkan data dan fakta yang tak dapat dibantah,
maka akan diterima dan itulah yang terjadi pada contoh ini
2. Peluang Pengguna jasa mengajukan Klaim
Peluang-peluang Pengguna jasa menggunakan Klaim adalah sebagai berikut:
a) Pada waktu tender
Pengguna Jasa sudah menyiapkan beberapa kemungkinan perubahan spesifikasi
teknis dan bahan tanpa mengurangi mutu dan tanpa memberi tahu peserta tender.
Dengan demikian pengguna jasa dapat menggunakan klaim perpendekan waktu
penyelesaian dan atau pengurangan nilai kontrak karena perubahan bahan.
b) Pada waktu pelaksanaan
Pengguna jasa dapat saja meminta penggunaan rencana atau metode kerja yang
mereka miliki, sehingga lebih efisien dan dapat klaim perpendekan waktu. Pekerjaan

10

yang kurang penting dibatalkan atau ditunda dulu untuk mengurangi biaya. Usaha
lain adalah pengguna jasa menyewakan peralatan yang dimilikinya dengan sewa
yang lebih murah dari harga pasaran sehingga dapat klaim pengurangan biaya
kontrak dan menghemat waktu pula.
Dapat juga dengan meminta penyedia jasa melakukan Value Engineering untuk
menekan biaya, tentunya hal ini sudah direncanakan semasa tender. Value
engineering ini termasuk orientasi untuk menentukan dan menghilangkan biaya tak
perlu, orientasi fungsi suatu bagian pekerjaan yang dikaitkan antara nilai yang
diperoleh dan biaya yang dikeluarkan, penelitian atas biaya untuk mendapatkan dan
mengoprasikan fasilitas yang diperlukan. Tujuannya adalah penghematan biaya dan
waktu.
3. Kiat-kiat bila peluang klaim tak ada
Bagi Penyedia Jasa yang pandai, dapat memilih kiat-kiat sebagai berikut:
a) Pertama, berusaha menghitung biaya seefisien mungkin di antaranya dengan
menggunakan metode kerja yang tepat dan penggunaan bahan sehemat mungkin
tanpa mengorbankan mutu.
b) Kedua, melaksanakan apa yang biasa dikenal dengan istilah bussines intelligence,
yaitu mempelajari dengan saksama para pesaing dalam tender, kebiasaan dan
perilaku Pengguna jasa termasuk bonafiditas pendanaannya.
c) Ketiga, bila Penyedia jasa yakin peluang klaim hampir tak ada, para pesaing
kebanyakan sama bonafide, maka harga penawaran akan ditinggikan agar tidak
menang.
d) Keempat, apabila dokumen tender mengizinkan usulan lain (perubahan spesifikasi
tanpa mengurangi manfaat fasilitas yang diencanakan) Penyedia jasa akan
mengusulkan dua penawaran yaitu yang pertama sesuai spek dan yang kedua versi
Penyedia jasa sendiri (dengan harga lebih rendah) namun sangat menguasai dan
berpengalaman.
11

2.3.3

Penyelesaian Terhadap Sengketa


Berdasarkan literatur, kecenderungan sengketa jasa konstruksi diakibatkan oleh 3 (tiga)

hal yaitu sebagai berikut:


a. Sengketa precontractual yaitu sengketa yang terjadi sebelum adanya kesepakatan
kontraktual, dan dalam tahap proses tawar menawar.
b. Sengketa contractual yaitu sengketa yang terjadi pada saat berlangsungnya
pekerjaan pelaksanaan konstruksi.
c. Sengketa pasca contractual yaitu sengketa yang terjadi setelah bangunan beroperasi
atau dimanfaatkan selama 10 (sepuluh) tahun.
Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, Undang-undang
Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Peraturan
Pemerintah No. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi serta peraturan lain,
mengisyaratkan bahwa penyelesaian sengketa jasa konstruksi dilakukan melalui jalur di luar
peradilan. Pada kasus sengketa yang bersifat kontraktual atau sengketa dimasa pelaksanaan
pekerjaan sedang berlangsung, maka penyelesaian sengketa tersebut dapat melalui jalur-jalur
yaitu:
a. Jalur Konsultasi
Konsultasi merupakan suatu tindakan yang bersifat personal antara satu pihak
tertentu, yang disebut dengan klien dengan pihak lain yaitu konsultan. Pihak konsultan ini
memberikan pendapat kepada klien untuk memenuhi kebutuhan klien tersebut. Pada jasa
konstruksi, konsultan berperan penting dalam penyelesaian masalah-masalah teknis lapangan,
apalagi konsultan tersebut konsultan perencana dan atau konsultan pengawas proyek.
Pendapat mereka sangat dominan untuk menentukan kelancaran proyek.
b. Jalur negosiasi
Pada dasarnya negosiasi adalah upaya untuk mencari perdamaian di antara para
pihak yang bersengketa sesuai Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999
tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Selanjutnya dalam Pasal 1851
12

sampai dengan Pasal 1864 Bab Kedelapan belas Buku III Kitab Undang-undang Hukum
Perdata tentang Perdamaian, terlihat bahwa kesepakatan yang dicapai kedua belah pihak yang
bersengketa, harus dituangkan secara tertulis dan mengikat semua pihak. Perbedaan yang ada
dari kedua aturan tersebut adalah bahwa kesepakatan tertulis tersebut ada yang cukup
ditandatangani para pihak dengan tambahan saksi yang disepakati kedua belah pihak.
Sedangkan yang satu lagi, kesepakatan yang telah diambil harus didaftarkan ke Pengadilan
Negeri. Negosisi merupakan salah satu lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang
dilaksanakan di luar pengadilan, sedangkan perdamaian dapat dilakukan sebelum proses
sidang pengadilan atau sesudah proses sidang berlangsung, baik diluar maupun di dalam
sidang pengadilan (Pasal 130 HR).
c. Jalur Mediasi
Mediasi adalah pihak ketiga (baik perorangan atau lembaga independen), tidak
memihak dan bersifat

netral, yang bertugas memediasi kepentingan dan diangkat serta

disetujui para pihak yang bersengketa. Sebagai pihak luar, mediator tidak memiliki
kewenangan memaksa, tetapi bertemu dan mempertemukan para pihak yang bersengketa
guna mencari masukan pokok perkara. Berdasarkan masukan tersebut, mediator dapat
menentukan kekurangan atau kelebihan suatu perkara, kemudian disusun dalam proposal
yang kemudian dibicarakan kepada para pihak secara langsung. Peran mediasi ini cukup
penting karena harus dapat menciptakan situsi dan kondisi yang kondusif sehingga para pihak
yang bersengketa dapat berkompromi dan menghasilkan penyelesaian yang saling
menguntungkan di antara para pihak yang bersengketa. Mediasi juga merupakan salah satu
alternatif penyelesaian sengketa.
d. Jalur konsiliasi
Konsiliasi menurut sumber lain, dapat disebut sebagai perdamaian atau langkah awal
jalur pendapat hukum oleh lembaga arbitrase.

13

BAB III
PENUTUP
3.1

KESIMPULAN
Adapun yang menjadi kesimpulan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Terdapat banyak jenis kontrak konstruksi berdasarkan aspek perhitungan biaya,
aspek perhitungan jasa, aspek cara pembayaran, dan aspek pembagian tugas, dimana
dalam penggunaannya atau memilihnya diperlukan ketelitian berdasarkan tujuan
kontrak konstruksi dalam suatu proyek konstruksi.
2. Beberapa macam trik dan teknik bernegosiasi adalah Membuat Agenda, Bluffing,
membuat Tenggat waktu (Deadline), Good Guy Bad Guy, The Art of Concecion,
intimidasi.
3. Klaim konstruksi adalah klaim yang timbul dari atau sehubungan dengan
pelaksanaan suatu pekerjaan jasa konstruksi antara pengguna jasa dan penyedia jasa
atau antara penyedia jasa utama dengan sub-penyedia jasa atau pemasok bahan atau
antara pihak luar dan pengguna/penyedia jasa yang biasanya mengenai permintaan
tambahan waktu, biaya atau kompensasi lain. Terdapat beberapa cara penyelesaian
sengketa yaitu melalui jalur konsultasi, jalur negosiasi, jalur mediasi.

3.2

SARAN
Adapun yang menjadi saran dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Memahami administrasi kontrak dan pengadministrasian kontrak tersebut.
2. Memahami kontrak secara keseluruhan, termasuk aspek hukum yang terkandung di
dalam kontrak tersebut.
3. Memenuhi kewajibannya sesuai kontrak agar tidak terjadi klaim.
4. Meminta bantuan lembaga hukum dalam pengesahan isi dokumen kontrak tersebut.

14

DAFTAR PUSTAKA
Bambang Poerdyatmono,Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi, Jurnal
Teknik Sipil, volume 8, no.1,78-90, Pamekasan, 2007.
https://www.scribd.com/document/130308755/klaim-konstruksi pengenalan -teknikkiat-memanfaatkan-peluang-klaim [online] diakses tanggal 30 Agustus 2016.
Guntur, Agus, Strategi Negosiasi, [online] diakses tanggal 30 Agustus 2016.
Yasin, Nazarkhan, Bentuk-Bentuk Kontrak Konstruksi (Ringkasan), [online] diakses
tanggal 31 Agustus 2016.
Yasin, Nazarkhan, Mengenal Klaim Konstruksi Dan Penyelesaian Sengketa
Konstruksi,Seri kedua, Gramedia Pustaka Utama.

15