Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hukum Pidana Internasional merupakan ilmu yang mempelajari bukan
hanya tindak pidana Internasional, melainkan penegakan hukum pidana internasionalnya.
Dalam kata lain, Hukum Pidana Internasional mempelajari tentang baik hukum secara
materiil maupun secara formil yaitu penyelesaian perkara pidana internasional itu sendiri.
Kejahatan perang merupakan salah satu tindak pidana internasional.
Kejahatan perang ini, telah dilakukan penuntutan pada masa Yunani Kuno atau bahkan
sebelumnya. Peradilan Peter Von Hagenbach merupakan peradilan internasional pertama atas
perlakuan kejam yang diselenggarakan pada tahun 1474, menurut Willian Schabas. Dan
menurut Bassiouni, pada tahun 1268 di Naples terdapat peradilan atas pelaku kejahatan
internasional pertama kali, yaitu ketika Conradin Von Hohenstaunfen dijatuhi hukuman
kerena dituduh telah melancarkan perang yang tidak dibenarkan.
Pada tahun 1939 hingga 1945 yaitu berlangsungnya Perang Dunia II serta
Perang Asia Timur Raya yang merupakan bagian dari Perang Dunia II pada tahun 1942
sampai 1945, telah banyak menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi.
Sehingga, upaya internasional pun dilancarkan untuk mengadili para
penjahat perang. Upaya tersebut pertama kali diselenggarakan melalui peradilan Leipzig yang
dibentuk pada akhir Perang Dunia I, berdasarkan perjanjian Versailles 1919. Lalu muncul
juga gagasan untuk membentuk Mahkamah Pidana Internasional pada perjanjian Sevres
1920, dan pembentukan Mahkamah Pidana Internasional muncul lagi setelah Perang Dunia II
pada piagam London. Dimana sejarah mencatat, pembentukan Mahkamah Pidana
Internasional pertama kali oleh peradilan Nuremberg di Jerman yaitu Military Tribunal
Nuremberg. Setelah itu berdirilah beberapa mahkamah pidana internasional seperti ICTY
(Yugoslavia) , ICTR (Rwanda) serta peradilan Tokyo.
Dalam perkembangannya, hukum pidana nasional kesulitan

untuk

menerapkan 'universal jurisdiction' terhadap pelanggaran HAM berat, yaitu masalah


kurangnya kredibilitas dan ikompeten dari pengadilan nasional, sedangkan disisi lain,

pengadilan internasional memiliki keterbatasan dalam hal kewenangan dan mandat . Adanya
kesulitan dari penegakan hukum pidana nasional dan internasional ini melahirkan pengadilan
campuran (hybrid tribunal) yang memadukan atau menggabungkan antara unsur-unsur
lokal/nasional dan internasional : hakim asing akan bekerja sama dengan penegak hukum
nasional suatu negara untuk menuntut suatu kasus dan dalam membela terdakwa, terdapat
pula pengacara lokal yang bekerja sama dengan pengacara asing, dan pada saat yang sama
hakim menetapkan hukum nasional berdasarkan standar internasional.
Saat ini telah dibentuk empat pengadilan campuran, tiga didirikan antara
tahun 1999 dan 2001 di Timor Timur (the Special Panels for Serious Crimes of the District
Court of Dili), di Kosovo (Regulation 64 Panels in the Courts of Kosovo), di Sierra Leone
(Special Court of Sierra Leone) dan di Kamboja (the Extraordinary Chambers in the Courts
of Cambodia).1

B. Identifikasi Masalah
1. Bagaimanakah keberadaan pengadilan Hybrid di Timor Leste, di Kosovo, di Sierra Leonne
dan di Kamboja?
2. Apakah Kelebihan dari Pengadilan Hybrid?

1 Andrey Sujatmoko, Pengadilan Campuran (Hybrid Tribunal) sebagai Forum


Penyelesaian atas Kejahatan Internasional, Jurnal Hukum Humaniter, Vol.3,
No.5,Oktober 2007, Jakarta: Pusat Studi Hukum Humaniter dan HAM (terAS), FH
Universitas Trisakti, hlm. 977-978

BAB II
PEMBAHASAN
1. Keberadaan Pengadilan Hybrid di Timor Leste, di Kosovo, di Sierra Leonne dan di
Kamboja
1). Panelis Khusus pada Pengadilan Distrik Dilli, Timor Timur
Pengadilan Distrik Dilli, ibukota Timor Timor, melalui 'Special Panels'
mempunyai jurisdiksi eksklusif terhadap 'genocide, war crimes, crimes against humanity,
murder, sexual offences and torture' yang semuanya masuk kategori 'serious criminal
offenses'. Pengadilan distrik yang lain (Baucau, Suai dan Oecussi enclave) hanya memiliki
kapasitas untuk mengadili 'ordinary crimes'. Saat ini dua panel yang masingmasing terdiri
atas 3 hakim telah dibentuk untuk memeriksa kasus-kasus kejahatan berat ( serious criminal
cases ). Satu panel berbahasa Inggris dan yang lain berbahasa Portugis. Sebuah pengadilan
banding ( appeal chamber ) dibentuk untuk memeriksa banding atas keputusan 'Special
Panels'. Sekalipun demikian dalam kasus-kasus yang sangat penting dapat dibentuk panel 5
hakim yang terdiri atas 3 hakim internasional dan dua hakim Timor Timur.2
"Serious Crimes Unit" merupakan bagian yang bertanggungjawab untuk melakukan
investigasi dan menuntut kejahatan yang masuk jurisdiksi 'Special Panels'. Staf dari Unit ini
terdiri atas investigator, jaksa, manajer perkara, personil forensic dan penerjemah. Mayoritas
staf direkrut secara internasional, tetapi menjelang kemerdekaan ialah dilakukan pelatihanpelatihan terhadap orang-orang Timor Timur untuk melakukan investigasi dan penuntutan.
Unit ini dipimpin oleh 'Deputy Prosecutor' yang bertanggung jawab kepada Jaksa Agung.
Atas dasar UN Regulation 2000/15, paragraph 2.1 'Special Panels' berwenang menerapkan
'universal jurisdiction' dan dapat menuntut serta mengadili 'genocide, crimes against
humanity and war crimes and torture' yang dilakukan kapanpun dan dimanapun serta oleh
siapapun.3

2 Muladi, Peradilan HAM dalam Konteks Internasional dan Nasional, Lembaga


Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM),Jakarta .hal. 11
3 Ibid.

2) . Pengadilan Kosovo
Pada Juni tahun 1999, setelah pemboman yang dilakukan NATO teIah menghentikan
pemusnahan etnis dan kekejaman yang dilakukan oleh tentara Serbia terhadap populasi etnis
Albania di Kosovo, Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi 1244 membentuk pemerintah
transisi di Kosovo yang disebut United Nations Interim Administration in Kosovo (UNMIK).
Mandat UNMIK adalah untuk menjaga kemanan dan pertahanan di daerah tersebut yaitu
melakukan fungsi administrasi dasar untuk masyarakat sipil termasuk pendirian hukum
masyarakat dan ketertiban, mengkordinasikan bantuan kemanusiaan dan bencana,
memfasilitasi pengembalian pengungsi, mempromosikan HAM, mendukung rekonstruksi
infrasturktur , membantu membangun otonomi dan pemerintahan sendiri di Kosovo, dan
memfasilitasi proses penentuan masa depan Kosovo.

Tanggung jawab UNMK dalam

institusi hukum yaitu termasuk penahanan, peradilan dan penjatuhan pidana terhadap
individu yang melakukan kejahatan pada masa lalu juga kepada individu yang melakukan
kejahatan setelah pendirian kewenangan PBB.
Tugas tugas dari UNMIK ini tidak mudah dilaksanakan. banyak dari
finfrastruktur fisik dari sistem peradilan misalnya bangunan pengadilan, perpustakan
hukum, perlegkapan telah hancur saat terjadinya konflik. Penngacara lokal pun jarang,
jikapun ada , mereka tidak mempunyai pengalaman yang cukup, banyak etnis Albania
dihalangi dalam sistem peradilan, hakim dan pengacarapun melarikan diri dan menolak untuk
melayani masyarakat yang membutuhkan bantuan mereka. Karena konflik dan diskriminasi
terhadap etnis Albania, sistem peradilan lokal tidak memiliki kapasitas atau independensi
untuk mengadakan suatu peradilan. ICTY pun tidak mampu untuk mengatasi kasus tersebut
karena penuntut umum ICTY menegaskan bahwa pengadilan internasional ini hanya dapat
dilaksanakan bagi individu yang melakukan kejahatan besar dengan sekala besar pula. Belum
lagi

penjara yang tidak manusiawi bagi para tahanan, yang mencederai standar HAM

internasional.
Untuk menjawab krisis keadilan yang terjadi, maka lahirlah suatu
pengadilan khusus yang dinamakan Kosovo War and Ethnic Crimes Court yang memiliki
yurisdiksi terhadap kejahatanperang, kejahatan serius dalam hukum humanitarian dan
kejahatan terhadap enis tertentu. Pengadilan ini memiliki yurisdiksi yang sama dengan ICTY
tetapi lebih terfokus kepada pelaku kejahatan yang tidak disidang dalam ICTY. Tetapi karena

kurangnya sumber daya dan masalah politik, maka pendirian dari pengadilan ini tertunda.
Dengan dana yang terbilang sedikit, maka Dewan Keamanan PBB membuat suatu peraturan
dimana mengizinkan hakim asing untuk bekerjasama dengan hakim domestik dalam
pengadilan Kosovar yang telah ada, dan juga mengizinkan pengacara asing untuk bekerja
sama dengan pengacara domestik untuk menuntut dan membela suatu kasus. Dengan adanya
dukungan pihak asing, pengadilan ini dapat dilaksanakan.
Pada Juni 2002, pengadilan Kosovo telah melakukan 17 peradilan kejahatan
perang. Sayangnya hakim internasional hanya memiliki dampak yang minim, mereka tidak
tercakup pada panelis peradilan. Peraturan UNMIK regulation diundangkan pada Desember
2000 untuk mengatasi permasalahan ini dan setelah penetapan sidang semua kasus kejahatan
internasional, maka proses peradilan terdiri atas hakim internasional dan penuntut umum
internasional dalam pelaksanaan penuntutan. Pengadilan Kosovo ini pun kesulitan dalam
menemukan orang sesuai dengan kualifikasi internasional untuk menjadi hakim dan penuntut
umum dikarenakan kurangnya biaya, dan banyaknya kritisi-kritisi terhadap mereka.
Walaupun dengan adanya kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam pengadilan ini, adanya peran
internasional telah meningkatkan kualitas keadilan bagi kasus-kasus ini.
Substantif hukum yang diaplikasikan dalam kasus ini juga merupakan campuran antara
hukum internasional dan hukum domestik. Awalnya, dengan adanya konsultasi dengan
populasi lokal, UNMIK menyatakan hukum yang berlaku dalam Kosovo yaitu hukum
Federal Republic of Yugoslavia (FRY)/ hukum Serbia, yang dimodifikasi terhadap standar
HAM internasional. Adnaya keputusan ini ditolak oleh korban Kosova yaitu etnis Albania,
yang menyatakan FRY/hukum Serbia sebagai rezim Seribia yang menindas. Hakim Kosovar
Albania pun menolak untuk menerapkan hukum tersebut yang menyebabkan kebingungan
yang meluas. UNMIK merespon hal ini dan membuat reoslusi terbaru dalam penerapan
hukum bagi kasus ini yaitu the law in force Department of in Kosovo prior to March 22,
1989. Penerapan hukum ini merupakan campuran antara hukum lokal yang telah ada dengan
standar internasional. Hukum lokal hanya dapat diaplikasikan dan dapat diekstensikan selama
tidak bertentangan dengan norma HAM internasional.

3). Pengadilan Khusus Sierra Leone


Pengadilan ini merupakan lembaga independen dan dibentuk atas dasar
perjanjian antara PBB dan Sierra Leone Sebagai kelanjutan Revolusi Dewan Keamanan PBB

1315 (2000) tgl. 14 Agustus 2000. Pengadilan khusus ini dibentuk untuk mengadili orangorang yang bertanggungjawab terhadap, crimes against humanity, violations of Article 3
common to the Geneva Conventions and of Additional Protocol II, Other serious violations of
international humanitarian Law', selama terjadinya konflik antara tahun 1991 dan 2002.
Dalam hal ini peranan 'warlord' Liberia dan Presiden Charles Taylor dengan Revolutionary
United Front-nya sangat besar dalam melakukan kejahatan.4
Pengadilan khusus ini mempunyai 'primacy' terhadap pengadilan nasional di Sierra Leone.
Asas 'ne bis in idem' juga berlaku, kecuali pengadilan nasional mengadili atas dasar 'ordinary
crime' atau tidak menjamin sifat tidak memihak atau independensi, untuk melindungi
tersangka atau penuntutan tidak dilakukan secara sungguh-sungguh. Disebut sebagai 'hybrid
model' karena komposisi hakim pada 'Trial Chamber' yang berjumlah 3 orang, satu orang
ditunjuk oleh pemerintah Sierra Leone dan dua orang hakim ditunjuk oleh Sekretaris Jenderal
PBB. Selanjutnya 5 hakim pada 'Appeal Chamber', dua ditunjuk oleh Pemeritah Sierra Leone
dan 3 hakim ditunjuk oleh Sekretaris Jenderal PBB.5
Jaksa (Prosecutor) ditunjuk oleh Sekretaris Jenderal PBB selama 3 tahun dan dapat dipilih
kembali, dibantu oleh Deputy Prosecutor yang berasal dari Sierra Leone serta staf
internasional demi effisiensi dan Efektivitas, Mengingat banyak kasus yang berkaitan dengan
perkosaan, serangan seksual, dan kejahatan seksual lain yang menyangkut wanita dan anakanak serta penculikan dan perbudakan, maka staf jaksa dan penyilidik banyak yang
mempunyai pengalaman, 'gender-related crimes and juvenile justice'.6
Panitera juga ditunjuk oleh Sekretaris Jenderal PBB setelah konsultasi dengan Ketua
Pengadilan Khusus dan berasal dari anggota staf PBB untuk jangka waktu 3 tahun dan bisa
diperpanjang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris. Ketua Pengadilan harus
mengirimkan laporan tahunan kepada Sekretaris JenderaI PBB dan Pemerintah Sierra Leone.7

4). Bilik Luar biasa dalam Pengadilan Kamboja


4 Ibid. hal.10
5 Ibid.
6 Ibid.
7 Ibid.

Setelah melalui pelbagai negosiasi yang panjang sejak 1979, Hun Sen bertemu dengan Sekjen
PBB Annan pada bulan Februari 2000 dan negosiasi dengan tim hukum PBB pada bulan
Maret 2000 menghasilkan kompromi proposal yang terdiri atas suatu panel 5 hakim yang
terdiri atas 3 hakim Kamboja dan 2 hakim internasional. PBB mengusulkan modiflkasi agar
jurisdiksi pengadilan mencakup penuntutan terhadap pelbagai 'homicide and torture as well
as the international crimes of genocide, crimes against humanity, grave breaches of the
Geneva Conventions and crimes against internationally protected persons' . PBB juga
mengusulkan agar Hun Sen memilih hakim dan jaksa dari daftar yang dikirim oleh Sekjen
PBB.8
Pada bulan Januari 2001 Majelis National (National Assembly) menyetujui
untuk dibentuknya "the Extraordinary Chambers in the Court of Cambodia for the
Prosecution of Crimes Committed during the Period of Democratic Kampuchea". Dewan
Konstitusional mengembalikannya kepada pembuat undang-undang karena perbedaan
pendapat tentang pidana mati. Mengingat belum ada dokumen yang ditandatangani maka
pada bulan Februari tahun 2000 PBB mundur dari negosiasi karena Kamboja tetap tidak
berkemauan untuk menerima kondisi yang dapat menjamin peradilan yang jujur (fair trial).
Pada bulan Juli 2002 Hun Sen dan Sekjen PBB Annan bertemu kembali dan PBB
menegaskan tidak akan melakukan negosiasi kembali sebelum ada jaminan dari Kamboja
untuk melaksanakan 'fair trial' dan tidak akan berdalih dan menangguhkan lagi pelbagai
kesepakatan yang pernah dicapai.9

2. Kelebihan Pengadilan Hybrid


Pengadilan Hybrid, menawarkan setidaknya sebagian solusi terhadap masalah legitimasi dan
kapasitas. Pembagian tanggung jawab terhadap aktor internasional dan aktor lokal dalam
administrasi keadilan dalam kejahatan HAM serius, membantu membangun legitimasi proses
dan juga memperkuat kapasitas dari aktor lokal. Penunjukan hakim asing terhadap pengadilan
lokal untuk duduk bersama dengan hakim lokal, dan penunjukan penuntut umum asing untuk
bekerja sama dengan penuntut umum lokal, membantu membangun derajat dari kolaborasi
8 Ibid. hal. 11
9Ibid.

yang mana menignkatkan persepsi legitimasi institusi. Dengan bekerja bersama-sama dan
membagi tanggung jawab, bukan saja persepsi meningkatkat, tetapi pegawai penegak hukum
internasional dan lokal akan berkonsultasi satu sama lain.
Pada saat yang sama, penunjukan hakim internasional kepada pengadilan
lokal

untuk

kasus

yang

cukup

sensitif

akan

membantu

meningkatka

persepsi

keindependensian dari pengadilan dan juga legitimasi lintas populasi lokal. Proses peradilan
hybrid

juga menawarkan keuntungan dalam pembangunan kapasitas pegawai penegak

hukum. Dengan adanya kerja sama antara pegawai penegak hukum lokal dan internasional,
maka mereka dapat bertukar pengalaman dan ilmu. Penegak hukum internasional akan
mendapat kesempatan untuk meraih kepekaan terhadap isu lokal, budaya lokal dan mendekati
keadilan lokal dan pada waktu yang bersamaan penegak hukum lokal dapat belajar dari
penegak hukum internasional.

DAFTAR PUSTAKA
Muladi. Peradilan HAM dalam Konteks Internasional dan Nasional. Jakarta:
Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) .
Dickinson, Laura A. The Relationship Between Hybrid Courts and International
Courts: The Case of Kosovo. New England Law Review Vol. 37:4.
Andrey Sujatmoko. Pengadilan Campuran (Hybrid Tribunal) sebagai Forum
Penyelesaian atas Kejahatan Internasiona. Jurnal Hukum Humaniter. Vol. 3 No. 5
edisi Oktober 2007. Jakarta: Pusat Studi Hukum Humaniter dan HAM (terAS), FH
Universitas Trisakti. 2007