Anda di halaman 1dari 9

ASPEK ASPEK BUDAYA PADA SAAT NIFAS

Bagi seorang ahli antropogi istilah kebudayaan umumnya mencakup cara berpikir dan cara
berlaku yang telah merupakan ciri khas suatu bangsa atau masyarakat tertua. Syafrudin (2009),
Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum,
dan adat istiadat. Semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat yang berfungsi sebagai tempat
berlindung, kebutuhan makan dan minum, pakaian dan perhiasan, serta mempunyai kepribadian yaitu
organisasi faktor-faktor biologis, psikologis dan sosialisasi yang mendasari perilaku individu.
Masyarakat di Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk, beribu-ribu suku bangsa ada di
dalamnya dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda Keanekaragaman budaya ini
merupakan kekayaan bangsa yang tiada ternilai tingginya. Kekayaan tersebut harus dipahami terus
dari generasi ke generasi.
Dalam konteks penulisan sejarah pendekatan budaya Muarif (2009) membagi 5 aspek yang masingmasing saling terkait yaitu:
(1) dimensi ruang dan waktu,
(2) konsep manusia sebagai animal rational dan latar belakang sejarah,
(3) setiap bangsa mendiami kawasan tertentu dan memiliki pola pikir, sistem sosial serta budaya yang
mereka warisi dari para pendahulu,
(4) pola hubungan antara budaya dan kekuasaan,
(5) bentuk kebudayaan dan unsur-unsur yang menpengaruhinya.

2.2 Konsep Budaya Tentang Perawatan Masa Nifas


Sistim budaya merupakan komponen dari kebudayaan yang bersifat abstrak dan terdiri atas pikiran
pikiran,gagasan,konsep,serta keyakinan,dengan demikian system kebudayaan merupakan bagian dari
kebudayaan yang dalam bahasa Indonesia lebih lazim disebut adat istiadat.dalam adat-istiadat terdapat
juga system norma dan disitulah salah satu fungsi system budaya adalah menata serta menetapkan
tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia.

Dalam system budaya terbentuk unsur-unsur yang paling berkaitan satu dengan lainnya, sehingga
tercipta tata kelakuanmanusia yang terwujud dalam unsure kebudayaan sebagai satu kesatuan.
Budaya atau kebiasaan merupakan salah satu yang mempengaruhi status kesehatan. Di antara
kebudayaan maupun adat-istiadat dalam masyarakat ada yang menguntungkan, ada pula yang
merugikan. Banyak sekali pengaruh atau yang menyebabkan berbagai aspek kesehatan di negara kita,
bukan hanya karena pelayanan medik yang tidak memadai atau kurangnya perhatian dari instansi
kesehatan, antara lain masih adanya pengaruh sosial budaya yang turun temurun masih dianut sampai
saat ini. Selain itu ditemukan pula sejumlah pengetahuan dan perilaku yang tidak sesuai dengan
prinsip-prinsip kesehatan.
Masa nifas adalah dimana dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu
berikutnya ( JHPEIGO,2002). Masa nifas tidak kurang dari 10 hari dan todak lebih dari 8 hari setelah
akhir persalinan dengan pemantauan bidan sesuai kebutuhan ibu dan bayi ( Bennet dan Brown ,1999).
Masa nifas berlangsung selama 6 8 minggu. Periode nifas merupakan masa kritis bagi ibu,
diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, yang mana 50%
dari kematian ibu tersebut terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan. Selain itu, masa nifas ini
juga merupakan masa kritis bagi bayi , sebab dua pertiga kematian bayi terjadi dalam 4 minggu
setelah persalinan dan 60% kematian bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir
(Sayfuddin et al, 2002). Untuk itu perawatan selama masa nifas merupakan hal yang sangat penting
untuk diperhatikan.
Perawatan masa nifas mencakup berbagai aspek mulai dari pengaturan dalam mobilisasi, anjuran
untuk kebersihan diri , pengaturan diet, pengaturan miksi dan defekasi, perawatan payudara (mamma)
yang ditujukan terutama untuk kelancaran pemberian air susu ibu guna pemenuhan nutrisi bayi, dan
lain-lain (Rustam Mochtar, 1998 dan Sayfuddin et al, 2002).
2.2.1 Perawatan masa nifas masyarakat Aceh
pada masyarakat Aceh yang memiliki aturan berupa pantangan meninggalkan rumah selama 44 hari
bagi wanita yang baru melahirkan. Anjuran untuk berbaring selama masa nifas, perawatan nifas
dengan pengurutan, penghangatan badan, konsumsi minuman berupa jamu-jamuan dan pantangan
makan-makanan tertentu (Swasono, 1998).
Ada beberapa tahapan adat Aceh (pidie) terhadap wanita yang telah melahirkan, didasarkan pada
fitrah manusiawi:

1. Setelah melahirkan ibu dimandikan. Pada siraman terakhir, disiram dengan ie boh kruet (jeruk
purut) guna menghilangkan bau amis, setelah menganti pakaian diberikan merah telur dengan
madu.
2. Selama tiga hari diberikan ramuan daun-daunan yang terdiri dari daun peugaga, daun pacar
(gaca), un seumpung (urang-aring) daun-daunan ini diremas dengan air lalu diminum. Hal
tersebut berkhasiat untuk membersihkan darah kotor.
3. Selama tujuh hari kemudian diberikan ramuan, dari kunyit, gula merah, asam jawa, jeura
eungkot, boh cuko (kencur), dan lada. Semua bahan ini ditumbuk sampai halus lalu dicampur
dengan air ditambah madu dan kuning telur. Khasiatnya menambah darah dan membersihkan
darah kotor.
4. Jika kesehatan ibu memungkinkan, mulai hari pertama diletakkan batu panas di perut dan
dipeumadeung (disale). Ibu tidur di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu yang
dibawahnya dihidupkan api. Kebiasaan tot batee dan sale ini 30 sampai 40 hari. Hal ini
bertujuan untuk membersihkan darah kotor, mengembalikan otot dan merampingkan tubuh.
5. Sejak hari pertama sampai dengan hari ketiga seluruh tubuh ibu diurut. Dalam upaya
membersihkan darah kotor dan melancarkan ASI.
6. Memasuki bulan kedua tidak boleh memakan sembarangan dan setiap pagi minum segelas
saripati kunyit yang berkhasiat untuk ibu dan anak supaya tidak masuk angin, menguatkan
tubuh dan upaya menjarangkan kelahiran.
7. Ibu yang menyusui biasanya diminumkan air sari daun-daunan seperti daun kates, daun
kacang panjang, daun katuk, dan lain lain. Tujuannya agar air susu lebih banyak. Selain itu
ibu sebaiknya tidak makan makanan yang pedas karena dikhawatirkan bayi akan sakit perut.
8. Selama dalam masa perawatan, di bagian muka dan badan ibu diberi bedak dingin, sementara
diperut diolesi obat-obatan ramuan dengan dipakaikan bengkung (gurita) selama 3 bulan. Hal
ini berguna untuk menghaluskan muka, tubuh dan mengecilkan perut.
9. Pada masa nifas, ibu tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari. Hal ini tidak diperlukan
karena pada masa nifas, ibu dan bayi yang baru lahir harus periksa kesehatan sang bayi
sekurang-kurangnya 2 kali dalam bulan pertama yaitu umur 0-7 hari dan 8-30 hari guna
pemberian imunisasi bagi si bayi tersebut dan dampak positif akan pelarangan ini tidak ada.

10.Setelah melahirkan ibu dan bayinya harus dipijat atau diurut, diberi pilis atau lerongan dan
tapel. Dampak positif mengenai anjuran pada ibu yang baru saja melahirkan dan bayi yang baru
dilahirkan ini adalah jika pijatannya benar maka peredaran darah ibu dan bayi menjadi lancar, namun
adapun dampak negative akan anjuran ini bila si ibu dan bayi dipijat atau diurut ialah apabila pijat
salah sangat berbahaya karena dapat merusak kandungan sedangkan apabila diberi pilis atau lerongan
maupun tape, hal ini dapat merusak kulit bagi yang tidak kuat / menyebabkan alergi pada ibu dan bayi
tersebut.
11.Pada masa nifas, ibu harus minum abu dari dapur yang dicampur dengan air, kemudian disaring,
dicampur garam dan asam lalu diminumkan kepada si ibu supaya ASI banyak. Abu, garam dan asam
merupakan bahan-bahan yang tidak mengandung zat gizi yang diperlukan oleh ibu menyusui untuk
memperbanyak produksi ASI nya, jadi anjuran ini jelas sangat merugikan dan tidak terdapat dampak
positive mengenai anjuran kepada si ibu untuk mengkonsumsi abu yang dicampur dengan air dan
garam.
12.Ibu harus memakai stagen atau udet (centing). Dampak negative akan anjuran ini jelas tidak ada
bahkan apabila di rutinkan akan pemakaian stagen atau centing tersebut akan memulihkan fisik sang
ibu seperti sedia kala sebelum melahirkan.
13. Pada masa nifas, ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi jamu. Hal ini jelas berdampak positif
karena dapat mempercepat pemulihan rahim ke kondisi semula dan tidak ada dampak
negative meengenai anjuran untuk mengkonsumsu jamu ini.
14. Jika sang ibu tidur atau duduk harus meluruskan kakinya. Pada ibu yang baru saja melahirkan
atau berada pada masa nifas jelas hal ini sangat mempunyai dampak yang positive bagi si ibu
tersebut, karena jika ibu duduk atau tidur pada posisi miring atau di tekuk dapat
mempengaruhi posisi tulang ibu tersebut karena tulang ibu pada masa nifas seperti bayi, yang
apabila si ibu melakukan gerakan miring pada saat tidur dan menekuk saat duduk akan
berisiko, larangan ini baik untuk ibu karena pada ibu pada masa nifas mudah terkena varises
dan dampak negative akan larangan ini jelas tidak ada baik bagi si ibu maupun pada bayi
yang baru dilahirkan.
15. Ibu pada masa nifas harus mengkonsumsi makanan yang bergizi terlebih sang ibu dianjurkan
untuk mengkonsumsi sayuran. Adapun dampak positive akan ajuran ini, ibu menjadi lebih
sehat dengan mengkonsumsu banyak sayur-sayuran dan danpak negative yang disebabkan
akan anjuran ini pun tidak ada baik untuk ibu maupun untuk si bayi.

16. 16. Selama dalam masa perawatan, di bagian muka dan badan ibu diberi bedak dingin,
sementara diperut diolesi obat-obatan ramuan dengan dipakaikan bengkung (gurita) selama 3
bulan. Hal ini berguna untuk menghaluskan muka, tubuh dan mengecilkan perut.
2.2.2 perawatan masa nifas masyarakat jawa

Suku Jawa yang memiliki aneka perawatan selama masa postpartum(nifas). Namun, tidak semua
perawatan yang dilakukan oleh masyarakat suku Jawa tersebut dapat diterima bila ditinjau dari aspek
medis karena ada dampak yang baik dan tidak baiknya bagi ibu nifas.Oleh sebab itu, informasi
tentang perawatan masa nifas pada suku Jawa merupakan salah satu aspek penting diketahui para
pelayan kesehatan untuk lebih memudahkan memberikan pendekatan dalam pelayanan kesehatan.
1. Perawatan ari-ari
Ari-ari atau plasenta disebut juga dengan aruman atau embing-embing atau mbingmbing. Bagi orang
Jawa, ada kepercayaan bahwa ari-ari merupakan saudara bayi tersebut oleh karena itu ari-ari dirawat
dan dijaga sebaik mungkin,misalnya :
1) Tepat di tempat ari-ari dikuburkan diletakkan lampu sebagai penerangan. Artinya, lampu tersebut
merupakan symbol penerangan bagi bayi yang dimaksudkan agar kehidupan bayi nanti akan terang
juga bila di terangi oleh sinar lampu.
Dampak positive

Agar binatang tidak berani mendekat dan memakan ari-ari tersebut

Dampak negative

Tidak ada

2)

Ari-ari bayi dibungkus bersama buku,bunga setaman (bunga mawar, melati, dan kenanga). Di

atasnya dsb ditujukan agar mendoakan sibayi dalam jalan hidupnya nanti terang dan kehidupanyapun
baik.
Dampak positive

tidak ada

Dampak negative

Tidak ada

3) Pemagaran di sekitar tempat penanaman ari-ari dan menutup bagian atas pagar juga dilakukan
agar tidak kehujanan dan binatang tidak masuk ke tempat itu dan juga kepercayaan kepada makhluk
mistis yang dikhawatirkan akan memakan ari-ari itu bila tidak dipagari.

Dampak positive

Agar ari-ari tidak dibongkar dan dimakan oleh binatang

Dampak negative

Tidak ada

1. Perawatan ibu
Banyak tradisi adat jawa yang memiliki pantangan-pantangan yang ditujukan terhadap ibu nifas
padahal, banyak juga yang berdampak negative dan merugikan bila ditinjau dari aspek kesehatan
diantaranya yang berdampak negative dan positif yaitu.
1)

Masa nifas dilarang makan telur, ikan dan sebagainya yang berbau amis karena kepercayaan

mereka mengatakan bahwa lukanya akan lama sembuh bila mereka memakan itu.
Dampak positif

Tidak ada

Dampak negative

Merugikan karena masa nifas memerlukan makanan yang bergizi

seimbang agar ibu dan bayi sehat.


2)

Setelah melahirkan ibu hanya boleh makan dengan bumbu hanya garam saja juga tanpa bumbu.

Dampak positif

Tidak ada

Dampak negative

Tidak ada

3)

Masa Nifas dilarang tidur siang

Dampak positif
Dampak negative

Tidak ada
:

Karena masa nifas harus cukup istirahat, kurangi kerja berat.

Karena tenaga yang tersedia sangat bermanfaat untuk kesehatan ibu dan bayi.
4)

Masa nifas /saat menyusui setelah waktunya Maghrib harus puasa tidak makan makanan yang

padat.
Dampak positif :

Hal ini dibenarkan karena dalam faktanya masa nifas setelah maghrib dapat

menyebabkan badan masa nifas mengalami penimbunan lemak,disamping itu organ-organ kandungan
pada masa nifas belum pulih kembali.

Dampak negative
5)

Ibu menjadi kurang nutrisi sehingga produksi ASI menjadi berkurang.

Masa nifas tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari.

Dampak positif

Tidak ada

Dampak negative

Hal ini tidak perlu karena masa nifas dan bayi baru lahir (pemberian

imunisasi) harus periksa kesehatannya sekurang-kurangnya 2 kali dalam bulan pertama yaitu umur 07 hari dan 8-30 hari dan ibu juga butuh sinar matahari.
6)

Ibu setelah melahirkan dan bayinya harus dipijat/ diurut, diberi pilis / lerongan dan tapel

Dampak positif

Jika pijatannya benar maka peredaran darah ibu dan bayi menjadi

Pijatan yang salah sangat berbahaya karena dapat merusak kandungan.

lancar.
Dampak negative

Pilis dan tapel dapat merusak kulit bagi yang tidak kuat / menyebabkan alergi.
7)

Masa nifas tidak diperbolehkan berhubungan intim.

Dampak positif

Dari sisi medis, sanggama memang dilarang selama 40 hari pertama

usai melahirkan. Alasannya, aktivitas yang satu ini akan menghambat proses penyembuhan jalan lahir
maupun involusi rahim, yakni mengecilnya rahim kembali ke bentuk dan ukuran semula. Contohnya
infeksi atau malah perdarahan. Belum lagi libido yang mungkin memang belum muncul atau pun
pengaruh psikologis, semisalkekhawatiran akan robeknya jahitan maupun ketakutan bakal hamil lagi.
Dampak negative

Tidak ada

1. Perawatan pada bayi


1)

Pada dahi bayi diberikan ujung tali bedungan yang telah digigit yang bertujuan untuk penghilang

cegukan.
Dampak positive

Tidak ada

Dampak negative

Tidak ada

2)

Pada dahi bayi juga diletakan olesan hitam dari pantat kuali yang bertujuan untuk mencegah

dan menghilangkan cegukan serta sering diberikan pada menjelang sore hari agar bayi terhindar dari
gangguan makhluk mistis.
Dampak positiv

Tidak ada

Dampak negative

Bila kulit bayi sensitive dapat menyebabkan Iritasi karena pantat

kuali/wajan iu bersifat kasar dan mengandung zat kimia karbon


3)

Jikalau bayi sering menangis dan diduga diganggu oleh makhluk mitos, didahi bayi diberikan

kunyit(parutan nya).
Dampak positive

Tidak ada

Dampak negative

Tidak ada

4)

Sebelum tali pusar lebas atau tercopot maka bayi pun dilarang untuk keluar dari rumah

dikarenakan takut akan gangguan dari makhluk mitos.


Dampak positive

Tidak ada

Dampak negative

Bayi membutuhkan sinar matahari yang baik untuk perkembanganya

dan merugikan bila bayi hanya di ddalam rumah saja dan tidak mendapatkan vitamin D.
5)

Dibawah kasur bayi diletakan daun putri malu dan 7 batang lidi kelapa hijau yang bertujuan

agar si bayi tidak mudah terkejut atau kagetan.


Dampak positive

Tidak ada

Dampak negative

Tidak ada

KESIMPULAN
Budaya atau kebiasaan merupakan salah satu yang mempengaruhi status kesehatan. Di antara
kebudayaan maupun adat-istiadat dalam masyarakat ada yang menguntungkan, ada pula yang
merugikan.
Masa nifas adalah dimana dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu
berikutnya ( JHPEIGO,2002).
Perawatan masa nifas masyarakat aceh sangat banyak sekali, namun ada yang
menguntungkan dan ada piula yang merugikan. Ini di dasari pada sistem adat yang mereka
ikuti.
Pada masyarakat jawa, unsur-unsur kebudayaan yang terkadang ada yang kurang menunjang
pencapaian status kesehatan yang optimal. Unsur-unsur tersebut antara lain; ketidaktahuan,
pendidikan yang minim sehingga sulit menerima informasi-informasi dan tekhnologi baru.