Anda di halaman 1dari 14

LINGKUNGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL SISTEM AGRIBISNIS

BUDIDAYA TEMBAKAU NA OOGST DI DESA SUMBEREJO


KECAMATAN AMBULU KABUPATEN JEMBER

TUGAS INDIVIDU

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memenuhi Tugas


Wawasan Agribisnis Program Studi Agroteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Jember

Disusun Oleh :
Irayani Tafifah

(141510501018)

Dosen Pembimbing :
Dr. Triana Dewi Hapsari

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah negara agraris dimana sebagian besar penduduknya
bermata pencarian sebagai petani. Sumbangan sektor pertanian selalu menduduki
posisi yang sangat vital. Peran pertanian dalam peningkatan penerimaan negara
dapat dibuktikan dengan adanya ekspor produk produk pertanian, penerimaan
negara yang diperoleh dari sektor pertanian dalam bentuk cukai dan devisa.
Subsektor pertanian yang berperan penting dalam peningkatan penerimaan negara
adalah subsektor perkebunan dan kehutanan karena hasil hasil perkebunan
seperti tembakau, kopi, karet, kelapa sawit dan kakao banyak diekspor ke negara
lain. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi andalan bagi
perkembangan perekonomian Indonesia. Kekayaan alam Indonesia yang
berlimpah dilengkapi dengan iklim tropis sangat mendukung berbagai kegiatan
pertanian dalam arti luas (pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan
peternakan). Pertanian secara luas dapat dikembangkan dan dikelola dengan baik
agar menghasilkan produk yang bermafaat bagi masyarakat. Pengembangan
sektor pertanian dalam arti luas harus diarahkan kepada sistem agribisnis dan
agroindustri, karena pendekatan ini akan dapat meningkatkan nilai tambah sektor
pertanian, yang pada hakikatnya dapat meningkatkan pendapatan bagi pelakupelaku agribisnis dan agroindustri di daerah
Pertanian perlu adanya perhatian dari pemerintah, salah satu yang harus
diperhatikan adalah pembangunan pertanian, dalam pembangunan pertanian perlu
diperhatikan lingkungan yang mempengaruhi sistem agribisnis. Sistem agribisnis
merupakan suatu kesatuan yang utuh dari semua kegiatan dan usaha yang
berkaitan langsung dengan pertanian. sistem agribisnis terdapat beberapa
subsistem yang di mulai dari hulu sampai hilir yakni Sub Sistem Pengadaan dan
Penyaluran Sarana Produksi, Sub Sistem Budidaya atau Usahatani, Sub sistem
Pengolahan Hasil Pertanian/Agroindustri, Sub Sistem Pemasaran Hasil Pertanian,
Sub Sistem Prasarana, dan Sub Sistem Pembinaan. Keterkaitan diantara subsistem
yang satu dengan subsistem yang lain tersebut sangatlah kuat. Sehingga sangat

mempengaruhi keberhasilan dari usaha dalam petanian. Selain itu faktor yang
mempengaruhi usaha pertanian yaitu lingkungan agribisnis, dimana lingkungan
agribisnis terbagi menjadi dua bagian , lingkungan eksternal dan lingkungan
internal.
Sektor perkebunan di Indonesia dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, untuk meningkatkan sumber devisa
negara, menyediakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, untuk
meningkatkan produksi, produktivitas, kualitas, nilai tambah, dan daya saing ,
untuk meningkatkan serta memenuhi kebutuhan konsumsi, bahan baku industri
dalam negeri, dan untuk memberikan perlindungan pada pelaku usaha perkebunan
dan masyarakat, serta untuk mengelola dan mengembangkan sumber daya
perkebunan secara optimal. Tanaman industri yang termasuk tanaman perkebunan
dapat berupa tanaman tahunan maupun semusim. Salah satu komoditas penting
dalam sektor perkebunan adalah komoditas tembakau.
Tembakau adalah tanaman musiman yang tergolong dalam tanaman
perkebunan. Tanaman ini tersebar di seluruh nusantara terutama di kota jember
merupakan daerah yang sangat cocok untuk budidaya tembakau. Tembakau
mempunyai kegunaan yang sangat banyak, antara lain yaitu chlorogenic acid dan
rutin yang terkandung dalam daun tembakau bermanfaat sebagai antioksidan yang
dapat menangkal radikal bebas. Komoditi tembakau mempunyai arti yang cukup
penting, tidak hanya sebagai sumber pendapatan bagi para petani, tetapi juga bagi
Negara. Keistimewaan dan manfaat yang besar dari tembakau mengakibatkan
kebutuhan tembakau di Indonesia meningkat. Salah satu upaya untuk menunjang
keadaan di atas maka perlu adanya budidaya tembakau. Jenis-jenis tembakau yang
dibudidayakan di sebagian wilayah Indonesia yaitu tembakau na oogst dan vor
oogst.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana sistem agribisnis pada budidaya tembakau?
2. Faktor internal apa saja yang mempengaruhi sistem agribisnis tembakau?
3. Faktor eksternal apa saja yang mempengaruhi sistem agribisnis tembakau?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui sistem agribisnis pada budidaya tembakau

2. Untuk

mengetahui

informasi

tentang

faktor-faktor

internal

yang

mempengaruhi sistem agribisnis budidaya tembakau


3. Untuk mengetahui informasi tentang faktor eksternal yang mempengaruhi
sistem agribisnis tembakau.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Pertanian merupakan sektor yang sangat vital bagi Indonesia. Karena letak
geografis Indonesia yang memiliki iklim tropis membuat lahan di Indonesia
sangat subur, serta keanekaragaman haati yang tinggi. Perekonomian negara
sebagian besar berasal dari sektor pertanian. Maka perlu adanya pembangunan
pertanian agar tetap dapat menunjang perekonomian negara. menurut (Ridjal,
2011) mengemukakan bahwa pembangunan sektor pertanian tidak hanya
mencakup sub sektor pertanian tanaman pangan tetapi juga perikanan, kehutanan
dan perkebunan. Sub sektor perkebunan juga berperan dalam penyediaan
lapangan pekerjaan dan pengembangan wilayah pembangunan sehingga
pengembangan sektor perkebunan perlu digalakkan setiap era pembangunan
jangka panjang.
Dewasa ini sektor pertanian Indonesia telah mulai terlepas dari perangkap
spiral pertumbuhan rendah yang berlangsung selama periode tahun 1998-1999.
Walaupun dengan pertumbuhan 1,83 % selama periode tahun 2000-2003 sektor
pertanian telah mampu melewati fase pertumbuhan rendah dan kini tengah berada
pada fase percepatan pertumbuhan sebagai masa transisi menuju pertumbuhan
berkelanjutan (Krisnamurhi, dkk., 2010). Di antara pilihan strategi pembangunan
ekonomi yang ada, strategi pembangunan yang memenuhi karakteristik tersebut
adalah Pembangunan Agribisnis yaitu strategi pembangunan ekonomi yang
mengintegrasikan pembangunan pertanian berkelanjutan (perkebunan, peternakan,
perikanan dan kehutanan) dengan pembangunan industri hulu dan hilir pertanian
serta sektor-sektor jasa yang terkait di dalamnya. Strategi pengembangan sistem
agribisnis

tersebut

adalah

berbasis

pada

pemberdayagunaan

keragaman

sumberdaya pada setiap daerah. Akomodatif terhadap keragaman kualitas


sumberdaya manusia, tidak mengandalkan pinjaman luar negeri, berorientasi
ekspor maka strategi pembangunan sistem agribisnis akan bergerak menuju
pembangunan agribisnis yang digerakkan oleh barang modal dan SDM yang lebih

terampil sehingga mampu beralih pada proses pembangunan agribisnis yang


digerakkan oleh ilmu pengetahuan, teknologi dan SDM terampil sehingga
diyakini mampu mengantarkan perekonomian Indonesia memiliki daya saing
yang tinggi.
Davis, H.J. and R.A. Golberg dalam Amalia (2006), dalam tulisannya yang
berjudul A concept of agribusiness meyatakan bahwa agribisnis berasal dari
kata Agribusiness di mana Agr adalah Agriculture artinya pertanian dan Business
artinya usaha atau kegiatan yang menghasilkan keuntungan. Jadi Agribisnis
adalah kegiatan yang berhubungan dengan pengusahaan tumbuhan dan hewan
(komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan) yang berorientasi
pasar dan peningkatan nilai tambah. Serta memiliki cara pandang pertanian
sebagai lapangan usaha dan lapangan pekerjaan yang dapat menghasilkan barang
dan jasa untuk memenuhi permintaan pasar dengan tujuan untuk memperoleh
suatu nilai tambah yan maksimal. Agribisnis merupakan konsep dari suatu sistem
yang integratif dan terdiri dari beberapa subsistem, yaitu; 1) subsistem pengadaan
sarana produksi (agroindustri hulu), 2) subsistem produksi usahatani, 3) subsistem
pengolahan dan industri hasil pertanian (agroindustri hilir), 4) subsistem
pemasaran dan perdagangan, dan 5) subsistem kelembagaaan penunjang.
Sistem perkebunan di Indonesia dibuat dengan tujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, untuk meningkatkan
sumber devisa negara, menyediakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha,
untuk meningkatkan produksi, produktivitas, kualitas, nilai tambah,dan daya saing
, untuk meningkatkan serta memenuhi kebutuhan konsumsi, bahan baku industri
dalam negeri, dan untuk memberikan perlindungan pada pelaku usaha perkebunan
dan masyarakat, serta untuk mengelola dan mengembangkan sumber daya
perkebunan secara optimal. Salah satu komoditas penting dalam sektor
perkebunan adalah komoditas tembakau (Ridjal, 2011).
Tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan dan perdagangan
yang penting di Indonesia. Produk utama tembakau yang di perdagangkan adalah
daun tembakau dan rokok. Industri tembakau di Indonesia berkembang dengan
pesat sejalan dengan peningkatan jumlah rokok,hal ini bekaitan dngan kebiasaan

merokok masyarakat Indonesia. Daerah penghasil tembakau terbesar adalah


daerah jember, jenis tembakau di daerah jember ada 2 yaitu tembakau Na oogst
dan tembakau jenis Vor oogst. Perbedaan dari jenis tembakau ini terletak pada
prinsip pemanenan, jika tembakau Vor oongst dipanen pada musim kering sedang
tembakau Na oogst di panen pada musim hujan (Rachmat, 2010).

BAB 3. PEMBAHASAN
Tembakau merupakan komoditas andalan di Indonesia, terutama di
wilayah Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Jember. Suatu pertanian dapat
dikatakan berhasil apabila sistem agribisnis yang terdiri dari beberapa subsistem
yang saling berkaitan satu sama lain berjalan dengan imbang. Keberhasilan dan
kelancaran sistem agribisnis tanaman tembakau sangat ditentukan oleh tingkat
kehandalan dari setiap komponen yang menjadi subsistemnya. Selain itu juga
dibutuhkan ulur dan campur tangan dari pemerintah. Adapun faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi sistem agribisnis meliputi lingkungan internal dan eksternal.
Lingkungan internal sistem agribisnis tembakau meliputi subsistem
agribisnis dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi sampai dengan
subsistem jasa dan penunjang. Subsistem pengadaan dan penyaluran sarana
produksi tembakau yaitu bibit tembakau diperoleh dari hasil olahan sendiri namun
ada sebagian yang berasal dari suatu perusahaan pembibitan. Untuk pupuk
diperoleh dari kios-kios pertanian, peralatan pertanian seperti traktor dan lainnya,
petani tembakau menyewa pada orang lain dengan memberi upah dengan
hitungan tiap 1 ha Rp 1.600.000. Selanjutnya subsistem usahatani tembakau yaitu
yang pertama pembersihan lahan dari sisa-sisa tanaman, pembajakan, penanaman
bibit tembakau ke lahan sawah, pengairan, pemupukan, pengendalian OPT pada
tembakau dan yang terakhir pemanenan. Daun tembakau pertama siap panen
panen pada hari ke 90 HST. Pada subsistem Pengolahan Agroindustri tembakau
dapat dilihat pada gambar pohon agroindustri sebagai berikut:

Berdasarkan pohon agroindustri diatas dapat dijelaskan bahwa tanaman


tembakau dipanen bagian daunnya. Untuk batangnya digunakan sebagai kayu
bakar, sedangkan bunganya sendiri digunakan sebagai bibit/ benih tembakau
untuk proses budidaya selanjutnya. Daun yang dipanen yaitu daun yang basah
kemudian tahap selanjutnya ada tiga macam pengolahan daun tembakau yaitu
daun tembakau yang dirajang, daun tembakau yang dikeringkan tanpa tulang
daun, dan tembakau kering dengan tulang daun. Tembakau rajangan diolah
menjadi rokok kretek. Tembakau kering tanpa tulang daun diolah menjadi rokok
cerutu. Tembakau kering dengan tulang daun diolah menjadi rokok putih.
Subsistem pemasarannya yaitu petani tembakau menjual langsung ke
tengkulak dalam kondisi daun kering. Jadi daun tembakau dikeringkan terlebih
dahulu dengan cara di asapi di dalam gudan atap selama beberapa hari sampai
kering. Kemudian daun kering dijual pada tengkulak, tengkulak menjualnya ke
gudang-gudang besar. Selanjutnya gudang-gudang besar mensortir atau memilahmilah kualitas tembakau A B C. Untuk kualitas A dan B biasanya langsung di
ekspor ke Eropa oleh gudang-gudang besar. Sedangkan kualitas C biasanya
langsung diolah menjadirokok cerutu di pabrik cerutu Arjasa. Subsistem yang
terakhir yaitu jasa & penunjang. Di Desa Sumberejo Kecamatan ambulu

Kabupaten jember tidak ada jasa penunjang, kebanyakan masyarakat menanam


tembakau secara individu, namun sebagian kecil ada yang tergabung dalam
industri seperti PT. Mayang Sari, PT. LDO, PT. Tanjung Rejo, dan PT. GMIT. Itu
semua merupakan lingkunan Agribisnis untuk yang internal.
Lingkungan agribisnis eksternal meliputi ekonomi bisnis. Perkembangan
agroindustri tembakau dalam perekonomian saat ini masih cukup penting karena
dapat menghasilkan devisa bagi negara ataupun sebagai sumber bagi pendapatan
petani. Keuntungan yang diterima baik oleh negara maupun oleh petani
berfluktuasi karena produksi tembakau dipengaruhi oleh keadaan iklim. Tetapi
keuntungan rata-rata dari agroindustri tembakau ini senantiasa mengalami
peningkatan. Oleh karena itu dari waktu ke waktu agroindustri tembakau ini
semakin banyak menyerap tenaga kerja. Perekonomian Indonesia pada
kenyataannya tidak dapat berbasis teknologi tinggi, tetapi industrialisasi dengan
berlandaskan sektor pertanian. Oleh karena itu, agroindustri lebih tepat diterapkan
di Indonesia dengan adanya keterkaitan ke belakang (backward linkage) dan
keterkaitan ke depan (fordward linkage) dimana keterkaitan ke belakang ke sektor
pertanian akan memacu pertumbuhan perekonomian pedesaan, sehingga dalam
jangka panjang dapat menyelesaikan persoalan-persoalan di perdesaan. Perubahan
mata pencaharian dari sektor pertanian ke luar sektor pertanian dapat diukur
melalui konsep mobilitas kerja antar generasi. Menurut (Ridjal, 2011) meyatakan
bahwa mobilitas bisa diartikan sebagai inter generational mobility , yaitu
perubahan mata pencaharian anak dibandingkan dengan mata pencaharian orang
tuanya berbeda. Mobilitas kerja ini diikuti dengan proses komutasi, sirkulasi
maupun hanya bersifat perubahan mata pencaharian tanpa adanya gerak
penduduk.
Faktor eksternal tembakau yang selanjutnya adalah fisik teknis berupa
sumber daya manusia. Sumber daya manusia merupakan aset organisasi vital
karena memiliki peran dan fungsi yang tidak dapat digantikan oleh sumber daya
lainnya. Sumber daya manusia berupa tenaga kerja, dalam agribisnis padi tenaga
kerja tidak melihat pendidikan yang dimiliki, umumnya pada budidaya padi
tenaga kerja berasal keluar dan orang lain. Tenaga kerja dari luar berasal dari

tetangga maupun kerabat atau teman. Letak geografis Kabupaten Jember yang
cocok untuk pengusahaan tembakau karena kondisi alam yang sesuai. Hal ini
menyebabkan kabupaten Jember termasuk sentra produksi tembakau di Jawa
Timur. Salah satu daerah di Kabupaten Jember yaitu Desa Candijati, Kecamatan
Arjasa terdapat agroindustri tembakau yang banyak menyerap tenaga kerja
wanita. Tentunya para tenaga kerja wanita yang terlibat di dalamnya dapat juga
berasal dari pertanian. Sehingga terjadilah proses transformasi tenaga kerja wanita
dalam Agroindustri tembakau di Kawasan Berikat PTPN X tersebut.
Faktor eksternal yang ketiga yaitu sosial budaya. Untuk nilai sosialnya
yaitu pekerjaan dalam bidang pertanian lebih memfokuskan pada kegiatan yang
bersifat kegotong-royongan dan kerjasama antar pekerja. Sehingga hal tersebut
dapat meningkatkan rasa solidaritas antar sesama. Selain itu budidaya tembakau
ini menyediakan lapangan pekerjaan yang sangat menunjang masayarakat yang
tidak mempunyai pekerjaan (tunawisma). Hal yang tecermin dari kehidupan para
petani di pedesaan adalah keterbelakangan pendidikan dan tingkat kesejahteraan.
Sehingga dari masyarakat pedesaan sudah mulai memikirkan perbaikan tingkat
pendidikan dan juga taraf kesejahteraan. Untuk nilai budayanya, tembakau
Indonesia telah dibudidayakan sejak zaman penjajahan hingga saat ini tembakau
masih tetap menjadi suatu ciri budaya Indonesia. Tembakau menciri-khaskan
indonesia sebagai penghasil tembakau terbesar di dunia, bnyak negara-negar maju
yang mengimpor tembakau dari Indonesia terutma daerah Jember.
Faktor eksternal yang terakhir yaitu kebijakan dan kelembagaan
pemerintah. Kebijakan dan kelembagaan pemerintah juga memiliki peran penting
dalam sistem agribisnis tembakau, karena dalam budidaya tembakau memerlukan
dukungan dari pihak-pihak pemerintah untuk mengembangkan pemikiran petanipetani tembakau yang masih awam dengan melakukan penyuluhan dan lain-lain.
Sehingga wawasan para petani bertambah dan sesuia dengan semakin
berkembangnya zaman. Kelembagaan juga memiliki peran dalam hal peminjaman
modal untuk membudidayakan tembakau. Terkadang para petani mengalami
kendala dalam modal untuk budidaya tembakau. Maka disinilah peran dari
kelembagaan pemerintah.

BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan
Suatu pertanian dapat dikatakan berhasil apabila sistem agribisnis yang
terdiri dari beberapa subsistem yang saling berkaitan satu sama lain berjalan
dengan imbang. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sistem agribisnis
meliputi lingkungan internal dan eksternal. Faktor internal berupa sistem
agribisnis beserta subsistem agribisnis. Faktor eksternal meliputi ekonomi bisnis
baik nasional maupun global, fisik teknis yang berupa letak topografi dan
sumberdaya manusia, keadaan iklim, sumber airdan vegetasi. Selanjutnya
lngkungan sosial budaya dimana tembakau memiliki nilai budaya serta sosial
yang tinggi. Terakhir yaitu kebijakan dan kelembagaan pemerintah yang berperan
penting dalam penambahan wawasan petani tembakau dan mengayomi para petani
tembakau.
4.2 Saran
keberhasilan dalam budidaya tembakau baik dari awal pengadaan saprodi
hingga

pemasarannya

dipengaruhi

oleh

subsistem-subsistem

agribisnis.

Seharusnya pemerintah dapat lebih menanamkan kembali kepada para petani di


Indonesia tentang sistem agribisnis yang berkelanjutan. Agar kualitas sektor
pertanian Indonesia semakin meningkat dan dapat bersaing dengan negara-negara
maju.

DAFTAR PUSTAKA
Ridjal, Julian . A. 2011. Transformasi Tenaga Kerja Wanita Di Sektor Agroindustri
Tembakau. J-SEP. 5(3): 22-30.
Krisnamurthi, Bayu. Rachmat, P. Frans, BM, D. 2010. Refleksi Agribisnis. Bogor:
IPB Press.
Rachmat, Muchjidin. 2010. Pengembangan Ekonomi Tembakau Nasional :
Kebijakan Negara Maju dan Pembelajaran bagi Indonesia. Analisis
Kebijakan Nasional. 8(1): 67-83.
Amalia, L. 2006. Penerapan Agropolitan dan Agribisnis dan Pembangunan
Ekonomi Daerah. Inovasi, 5(2) : 58-65