Anda di halaman 1dari 4

Sifat Keseimbangan Pancasila

Penetapan Pancasila menjadi dasar filsafat negara berarti pertama-tama bahwa negara
yang dibangun adalah Negara Pancasila, yang harus tunduk kepada Pancasila, membela dan
melaksanakan Pancasila dalam seluruh perundang-undangan negara. Pancasila dinyatakan
sebagai dasar filsafat negara karena Pancasila dapat mempersatukan bangsa Indonesia dan
mempuntai sidat keseimbangan dalam praktik kehidupannya. Negara wajib pula membina rakyat
agar melaksanakan dan melestarikan Pancasila, khususnya dengan menyelenggarakan atau
memajukan sistem pendidikan nasional yang berjiwa Pancasila dan menciptakan suasana yang
baik dalam menegakkan Pancasila.
Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan juga sebagai dasar filsafat negara mampu
menghadapi pergolakan ideologi dunia yang saling berlawanan dan mampu juga mengarahkan
perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai cita-cita untuk mewujudkan masyarakat adil dan
makmur sejahtera lahiriah batiniah sebagai tujuan negara. Pancasila sebagai dasar filsafat dasar
negara secara mutlak tetap terlekat pada kelangsungan kehidupan kenegaraan Indonesia, karena
Pancasila mempunyai tiga sifat keseimbangan pokok yang langsung berhubungan dengan
kehidupan kenegaraan, sehingga dengan dasar tiga keseimbangan tersebut, maka tepat jika hanya
Pancasila yang digunakan sebagai dasar negara, bukan komunis, bukan liberalis, dan bukan dari
agama tertentu.
Tiga sifat keseimbangan yang terkandung dalam Pancasila, pertama adalah ditinjau atas
dasar proses penetapan Pancasila sebagai dasar negara, kedua ditinjau atas dasar sistem
kemasyarakatan Indonesia, dan ketiga ditinjau atas dasar sistem kenegaraan Indonesia. Dari tiga
tinjauan itu, disebut juga dengan: keseimbangan konsensus nasional, keseimbangan sistem
kemasyarakatan, dan keseimbangan sistem kenegaraan. (Bakry, 2010: 106-107)
Keseimbangan Konsensus Nasional
Dalam proses penetapan Pancasila sebagai dasar negara, terjadi perdebatan-perdebatan
akibat perbedaan pendapat dan cita-cita dlam mendirikan negara merdeka, khususnya antara
golongan agama yaitu Islam dan golongan kebangsaaan atau nasionalis. Golongan Islam pada
waktu itu memperjuangkan pembentukan negara Islam, yaitu negara yang berdasarkan ajaranajaran Islam, tetapi golongan kebangsaaan atau nasionalis menolaknya karena menginginkan
suatu negar sekuler, yaitu negar yang tidak berurusan dengan agama. Pancasila diusulakn sebagai

jalan tengah yang mempertemukan kedua ide atau pendapat itu, dan akhirnya semua pihak
menerimanya. Dengan demikian Pancasila sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia
merupakan suatu konsensus bersama dan merupakan perjanjian luhur yang harus dipegang teguh
untuk mencegah perpecahan, ketegangan, dan konflik sosial, dan untuk memelihara persatuan
dan perdamaian antar golongan.
Jadi keseimbangan pertama dalam Pancasila adalah sebagai konsensus bersama yang
mempertemukan antara ide golongan Islam di satu pihak dan ide golongan nasionalis di lain
pihak untuk menegakkan negara Pancasila yang dapat disebut sebagai negara Theis Demokratis,
dan oleh karena itu dapat menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Keseimbangan ini dapat
digambarkan dalam bagan yang disebut diagram keseimbangan konsensus nasional (lihat
diagram).

Konsensus itu dicapai tidak hanya karena semua pihak secara mendalam menyadari
perlunya persatuan, tetapi juga karena Pancasila memuat unsur-unsur yang dijunjung tinggi oleh
semua golongan dan lapisan masyarakat Indonesia yang merupakan kesatuan nilai-nilai luhur
yang menjadi kepribadian bangsa, sehingga masing-masing dapat merasa memiliki sebagai
pandangan hidupnya yaitu pandangan hidup bangsa dalam bermasyarakat dan bernegara.
Keseimbangan Sistem Kemasyarakatan
Sistem kemasyarakatan Indonesia pada dasarnya adalah menyeimbangkan antara sifat
individu dan sifat sosial, yang keduanya merupakan sifat kodrat manusia. Mementingkan salah
satu sifat kodrat akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan bangsa Indonesia.
Suatu masyarakat jika hanya mementingkan sifat individu yang berlebih-lebihan akan
mewujudkan sistem masyarakat yang individualis atau liberalis yang selalu menonjolkan hakhak individu mengabaikan hak bersama, sehingga sering timbul juga hak individu yang dapat
menguasai hajat hidup orang banyak.
Sebaliknya jika suatu masyarakat hanya mementingkan sifat sosial saja mengabaikan
sifat individu, mewujudkan sistem masyarakat yang kolektif atau komunis, tidak mengakui hak
individu , yang adalah hak bersama sehingga hak pribadi diabaikan, yang secara berlebih-lebihan
menonjolkan masyarakat dan seolah-olah menelan individu.

Masyarakat Indonesia selalu menyeimbangkan dua sifat kodrat tersebut yang ajarannya
terkandung dalam ajaran Pancasila, sehingga Pancasila merupakan ajaran keseimbangan hidup
dalam bermasyarakat dan berbangsa.
Jadi sebagai keseimbangan kedua, Pancasila adalah menyeimbangkan sifat individu dan
sifat sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sehingga Pancasila
merupakan titik perimbangan yang dapat mempertemukan aliran individualisme dan aliran
kolektivisme untuk menegakkan negara modern yang menempuh jalan tengah dengan aliran
monodualisme atau disebut Negara Monodualis atau juga disebut negara berfaham integralistik.
Keseimbangan ini dapat digambarkan dalam bentuk bagan yang disebut diagram keseimbangan
sistem kemasyarakatan (lihat diagram).

Keseimbangan Sistem Kenegaraan


Sistem kenegaraan Indonesia yang berdasarkan Pancasila merupakan suatu sintesis antara
dasar-dasar kenegaraan yang telah terbukti kebenarannya sepanjang sejarah dengan apa yang
baik dan berguna dari tradisi hidup kebangsaan Indonesia untuk menyusun suatu tata tertib
negara modern. Pancasila menyatukan dan menyeimbangkan dasar-dasar kenegaraan yang lama
dan yang baru. Juga dapat dikatakan, bahwa Pancasila mengandung cita-cita mengenai
masyarakat dan negara yang lama dalam bentuk baru.
Dengan kata lain juga, Pancasila adalah suatu pusaka lama yang tumbuh dari jiwa dan
kebudayaan bangsa Indonesia, dan juga telah berkembang di bawah ilham ide-ide besar dunia
menjadi dasar filsafat negara modern.
Sintesis sistem kenegaraan ini terlihat sangat jelas dalam sila kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, yang berfungsi sebagai sistem
negara. Pergerakan nasional Indonesia dalam cita-cita kemerdekaan bangsa tidak hanya
mengambil sikap antisistem pemerintahan kolonial yang otoriter, menekan, menindas, dan
bersifat rasialis, melainkan juga tertarik pada gagasan demokrasi negara-negara asing.
Cita-cita demokrasi para tokoh kenegaraan Indonesia juga berpijak pada realitas sistem
musyawarah mufakat asli Indonesia, yang sekalipun terdesak kolonialisme, tetap bertahan dan
hidup terus pada tingkat desa. Yang dimaksudkannya ialah sistem kemasyarakatan dan
pemerintahan kolektif yang mengutamakan musyawarah dan mufakat antar semua penduduk
dengan nasehat para sesepuh desa, sedangkan pelaksanaan keputusan-keputusan yang diambil

bersama-sama secara konsensus itu adalah di tangan Kepala Desa yang dipilih rakyat. Karyakarya pemimpin pergerakan nasional Indonesia semuanya mengungkapkan perpaduan antara
demokrasi asli Indonesia dan demokrasi asing.
Tradisi dipadukan dengan unsur-unsur modern untuk melancarkan suatu perkembangan
menuju kemajuan. Perpaduan itu akhirnya secara konstitusional ditetapkan dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dengan rumusan cermat: Negara Republik
Indonesia yang berekdaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang didpimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan keadilan, serta dengan mewujudkan suatu
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam rumusan itu tidak hanya tercakup unsur-unsur demokrasi Indonesia asli, tetapi
juga sendi-sendi demokrasi negara-negara asing. Prinsip musyawarah dan mufakat diutamakan
atas atas prinsip pemerintahan mayoritas yang kurang memberikan tempat kepada suara
minoritas. Lagi pula demokrasi ditempatkan dalam kesatuan sila-sila Pancasila, sehingga
demokrasi Indonesia adalah demokrasi Pancasila, yaitu demokrasi yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Jadi sebagai keseimbangan ketiga dapat dinyatakan bahwa Pancasila merupakan sintesis
antara dasar-dasarkenegaraan modern tentang sistem demokrasi dengan tradisi lama kehidupan
bangsa Indonesia yaitu sistem musyawarah mufakat, untuk menegakkan negara modern. Atau
dapat dikatakan juga sintesis antara ide-ide besar dunia dengan ide-ide asli Indonesia. Jadi
merupakan paham dialektik kenegaraan, yang bertitik tolak dari paham bangsa yang hidup
bersama dalam kekeluargaan bangsa-bangsa, sehingga terbuka untuk pemikiran baru yang tetap
berlandaskan Pancasila, dan negaranya disebut juga Negara Dialektik, yaitu selalu menyesuaikan
dengan pola pemikiran bangsa Indonesia dalam bermasyarakat dan bernegara yang berlandaskan
Pancasila. Keseimbangan ketiga ini menunjukkan juga bahwa Pancasila adalah terbuka untuk
penafsiran baru yang berasaskan kodrat manusia. Keseimbangan ini dapat digambarkan dalam
bentuk bagan yang disebut diagram keseimbangan sistem kenegaraan (lihat diagram).
http://prividiatbpc.blogspot.co.id/2014/10/pancasila-sebagai-sistem-filsafat.html

Anda mungkin juga menyukai