Anda di halaman 1dari 13

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS

Definisi
Otitis media supuratif kronis (OMSK) dahulu disebut otitis media perforate (OMP) atau
dalam sebutan sehari-hari congek.
Otitis media supuratif kronik adalah radang kronis telinga tengah dengan perforasi
membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea) tersebut lebih dari 2 bulan,
baik terus-menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa
nanah. Batasan waktu 2 bulan tersebut dari negara-negara bervariasi. WHO menentukan batasan
waktu 2 minggu. Kebanyakan spesialis THT mengambil batasan 3 bulan.
Perforasi membrane timpani biasanya akan sembuh secara spontan dalam beberapa
minggu. Perforasi yang tidak sembuh merupakan hasil dari inflamasi kronik.

Epidemiologi
Prevalensi OMSK di Indonesia secara umum adalah 3,9%. Pasien OMSK merupakan
25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo,
Jakarta. Di negara lain prevalensinya bervariasi dari negara ke negara, WHO mengklasifikasinya
menjadi negara berprevalensi paling tinggi (>4%), tinggi (2-4%), rendah (1-2%), paling rendah
(<1%). Negara dengan prevalensi tinggi termasuk Nigeria, Angola, Mozambique, Republik of
Korea, Thailand, Philippines, Malaysia, Vietnam, China dan Eskimos. Melihat klasifikasi itu
Indonesia belum masuk dalam negara dengan OMSK dengan prevalensi tinggi.

Patofisiologi
Otitis media akut dengan perforasi membrane timpani menjadi otitis media supuratif
kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Bila proses infeksi kurang dari 2 bulan disebut
otitis media supuratif subakut.
Beberapa factor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah terapi yang terlambat
diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah
(gizi kurang) atau higiene buruk.
Patofisiologi dari kebanyakan penyakit kronik telinga tengah berdasarkan dari dua
penyebab besar yaitu adanya dua gangguan fungsional: kerusakan ventilasi telinga tengah dan
inflamasi. Mekanisme ini sangat berkaitan erat dan sering tidak bisa dipisahkan satu sama lain

pada kasus apapun. Kerusakan kronik ventilasi telinga tengah akan menyebabkan inflamasi pada
mukosa yang akan membahayakan fungsi tuba esutachius dan ventilasi telinga tengah. Siklus
buruk ini merupakan hal penting pada kebanyakan inflamasi telinga tengah.

Patofisiologi Otitis Media


Patofisiologi penyakit dari kebanyakan penyakit kronis telinga tengah adalah
berdasarkan pada dua gangguan fungsional: gangguan ventilasi telinga tengah dan
peradangan. Mekanisme ini saling berkaitan erat dan sering tidak dapat dipisahkan satu
sama lain dalambeberapa kasus tertentu. Gangguan kronis ventilasi pada telinga tengah
yang tidak diperbaiki, mengarah ke peradangan dari mukosa, yang pada gilirannya
mempengaruhi fungsi tuba eustachius dan ventilasi telinga tengah. Lingkaran setan ini
adalah elemen penting pada kebanyakan kondisi inflamasi pada telinga tengah. 5

1. Penyebab Ventilasi Terganggu


Gangguan ventilasi pada telinga tengah paling sering disebabkan oleh disfungsi
tuba eustachius. Penurunan patensi tuba lebih umum dalam hal ini dari patensi
berlebihan. Berbagai faktor dapat membahayakan fungsi ventilasi dari tuba eustachius:

Stenosis dari lumen tuba karena peradangan pada mukosa yang membengkak. Udara
di rongga timpani diserap dan tekanan negatif berkembang yang mengarah pada
gangguan fungsi tuba lebih lanjut.
Sebuah tekanan negatif juga dapat berkembang pada telingan tengah yang tidak sehat
yang diakibatkan peningkatan pesat dari tekanan udara, seperti pada pesawat
mendarat. Mukosa tuba eustachius kolaps dan tekanan negatif itu sendiri yang
memicu pembengkakan mukosa.
Obstruksi ekstrinsik tuba, sebagai oleh tumor
Penurunan pembukaan aktif tuba oleh otot palatini tensor veli. Anatomi khusus tuba
eustachius pada anak-anak menghambat fungsi otot pallatini tensor veli. Malformasi
rahang dan langit-langit dapat terjadi atau bahkan mengakibatkan tidak berfungsilnya
oto pembuka tuba, mengakibatkan peradangan kronis telinga tengah.
Kongetnital atau stenosis tulang atau striktir akibat jaringan parut. 5

2. Infeksi dan Peradangan


Infeksi dan peradangan non-infeksi memainkan peran lain dalam patogenesis
otitis media.

Adenoiditis: kontak awal dengan mikroorganisme dan agen lingkungan pada bayi
dan anak-anak kecil dapat menyebabkan perubahan imunologi-inflamatory intensif
mempengaruhi jaringan di lingkaran Waldeyer. Adenoid (pharyngeal tonsil) cukup
penting dalam pengembangan otitis media. Ukuran adenoid kecil, sehingga jarang
menyebabkan obstruksi mekanik secara langsung pada tuba eustachius. Masalahnya,
adalah adenoiditis kronis, yang menciptakan reservoir untuk mikroorganisme
patogen dan menyebabkan hiperplasia adenoid. Adenoiditis dipicu oleh hidung
obstruksi saluran pernapasan dan oleh rhinitis atau rinosinusitis.
Infeksi pada mukosa telinga bagian tengah :
Infeksi virus dan bakteri pada saluran pernapasan bagian atas, yang umum pada
anak-anak, juga dapat secara langsung mempengaruhi mukosa telinga tengah.
Mereka memiliki cara untuk naik melalui tuba eustachius ke telinga tengah (infeksi
tubogenic). Dengan perforasi membran timpani, bakteri gram negatif pada khususnya
juga dapat masuk ke telinga tengah dari saluran eksternal, memicu terjadinya otitis
media akut atau menjadikan sebuah peradangan kronis. 5

Letak Perforasi
Letak perforasi di membrane timpani penting untuk menentukan tipe/jenis OMSK.
Perforasi membrane timpani dapat ditemukan di daerah sentral, marginal atau atik. Oleh karena
itu disebut perforasi sentral, marginal atau atik.
Pada perforasi sentral, perforasi terdapat di pars tensa, sedangkan di seluruh tepi perforasi
masih ada sisa membrane timpani. Pada perforasi marginal sebagian tepi perforasi langsung
berhubungan dengan annulus atau sulku timpanikum. Perforasi atik ialah perforasi yang terletak
di pars flasida.

Perforasi sentral

Perforasi atik

Perforasi marginal

Jenis OMSK

OMSK dapat dibagi atas 2 jenis, yaitu (1) OMSK tipe aman(tipe mukosa = tipe benigna)
dan (2) OMSK tipe bahaya (tipe tulang = tipe maligna).
Berdasarkan aktivitas secret yang keluar dikenal juga OMSK aktif dan OMSK tenang.
OMSK aktif ialah OMSK dengan secret yang keluar dari kavum timpani secara aktif, sedangkan
OMSK tenang ialah yang keadaan kavum timpaninya terlihat basah atau kering.
Proses peradangan pada OMSK tipe aman terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak
mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe aman jarang menimbulkan
komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe aman tidak terdapat kolesteatoma.
Yang dimaksud dengan OMSK tipe maligna ialah OMSK yang disertai dengan
kolesteatoma. OMSK ini dikenal juga dengan OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe tulang.
Perforasi pada OMSK tipe bahaya letaknya marginal atau di atik, kadang-kadang terdapat juga
kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi subtotal. Sebagian besar komplikasi yang berbahaya
atau fatal timbul pada OMSK tipe bahaya.

Gejala

Otitis media kronik awalnya akan memperlihatkan otorea yang secara umum berupa
sekret mukopurulen, melalui membran timpani yang tidak intak. Setelah infeksi selesai, pasien
akan mengalami beberapa atau bahkan tidak ada keluhan gangguan pendengaran.
Berulangnya infeksi dapat menyebabkan rasa sakit, tapi ini tidak selalu ada. Sekret aural
timbul kembali dan tampak lebih kental atau mukopurulen dibandingkan dengan peradangan
akut sebelumnya. Drainase kronis biasanya tidak berbau, drainase kronis dapat terdiri dari lendir
cair, atau mungkin bau busuk yang diakibatkan infeksi kronik oleh Pseudomonas atau kuman
anaerob.
Gejala otitis media kronik yang penting lainnya adalah gangguan pendengaran yang
biasanya konduktif namun dapat pula bersifat campuran.
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita supurasi telinga kronik, dan bila ada merupakan
suatu tanda yang serius.
Vertigo pada pasien OMSK merupakan gejala serius lainnya. Gejala ini memberi kesan
adanya suatu fistula, berarti ada erosi pada labirin tulang sering kali pada kanalis semisirkularis
horisontalis.

Diagnosis
Diagnosis dibuat berdasarkan adanya riwayat penyakit dan gambaran dari
otoskopi. Pemeriksaan memperlihatkan adanya perforasi sentral pada membran timpani yang
tidak melibatkan cincin fibrocartilaginous. Hal ini seringkali timbul baik pada telingan yang
basah atau kering. Tingkat perforasi dapat sangat bervariasi. Membran timpani dan telinga
tengah mungkin menunjukkan adanya gambaran tambahan pada peradangan kronik, seperti
kalsifikasi, daerah atrofi, retraksi atau perusakan tulang pendengaran.
Pada telingan yang kering, saluran telingan luar biasanya terdapat sekret, bisa juga
meradangan dan membengkak. Kadang perforasi sulit untuk dilihat karena drainase atau
perubahan yang melibatkan peradangan merubah saluran telinga dan telinga tengah.
Pemeriksaan penala merupakan pemeriksaan sederhana untuk mengetahui adanya
gangguan pendengaran. Untuk mengetahui jenis dan derajat gangguan pendengaran dapat
dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni, audiometri tutur (speech audiometry) dan
pemeriksaan BERA (brainstem evoked response audiometry) bagi pasien/anak yang tidak
kooperatif dengan pemeriksaan audiometri nada murni.
Pemeriksaan penunjang lain berupa foto rontgen mastoid serta kultur dan uji resistensi
kuman dari secret telinga.

Terapi OMSK
Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus berulang-ulang. Secret
yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh
satu atau beberapa keadaan, yaitu (1) adanya perforasi membrane timpani yang permanen,
sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar, (2) terdapat sumber infeksi di faring,
nasofaring, hidung dan sinus paranasal, (3) sudah terbentuk jaringan patologik yang ireversibel
dalam rongga mastoid, dan (4) gizi dan hygiene yang kurang.
Prinsip terapi OMSK tipe aman ialah konservatif atau dengan medikamentosa. Bila seret
yang keluar terus-menerus, maka diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H 2O2 3% selama
3-5 hari. Setelah secret berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga
yang mengandung antibiotika dan kortikosteroid. Banyak ahli berpendapat bahwa semua obat
tetes yang dijual di pasaran saat ini mengandung antibiotika yang bersifat ototoksik. Oleh sebab
itu jangan diberikan obat tetes telinga secara terus menerus lebih dari 1 atau 2 minggu atau pada
OMSK yang sudah tenang. Secara oral diberikan antibiotika dari golongan ampisilin, atau
eritromisin, sebelum hasil tes resistensi diterima. Pada infeksi yang dicurigai karena
penyebabnya telah resisten terhadap ampisilin dapat diberikan ampisilin asam klavulanat.

Bila secret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan,
maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpaniplasti. Operasi ini bertujuan untuk
menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membrane timpani yang perforasi,
mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta
memperbaiki pendengaran.
Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan secret tetap ada, atau terjadinya infeksi
berulang, maka sumber infeksi ituharus diobati terlebih dahulu, mungkin juga perlu melakuka
pembedahan, misalnya adenoidektomi dan tonsilektomi.
Prinsip terapi OMSK tipe bahaya ialah pembedahan, yaitu mastoidektomi. Jadi, bila
terdapat OMSK tipe bahaya, maka terapi yang tepat adalah dengan melakukan mastoidektomi
dengan atau tanpa timpanoplasti. Terapi konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan
terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal
retroaurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum mastoidektomi.

Pengobatan
Fase supuratif akut biasanya memerlukan pengobatan dengan antibiotik sistemik,
tapi ini tidak selalu diperlukan. Pemilihan agen spesifik harus diarahkan oleh pengujian
sensitivitas antibiotik.
Jika tidak, pengobatan drainase otitis media melalui membran timpani yang perforasi terdiri dari
tindakan mengandung zat ototoksik (antibiotik aminoglikosida), jika kalaupun digunakan, hanya
untuk mengobati pembengkakan akut dan hanya untuk jangka waktu singkat (tidak lebih dari 3
hari).
k memberikan perlindungan telinga dengan baik, saat berendam atau mandi, misalnya untuk
menjaga sabun dan air keluar dari telinga. Hal ini dapat dilakukan oleh memasukkan gumpalan
kapas petrolatum atau alat yang dimasukkan ke yang tersedia secara komersial. Jika tidak,
saluran telinga dipastikan harus tetap bersih dan tidak disumpal dibungkus dengan
kapasPerlindungan telinga yang baik juga penting pada telinga yang kering untuk mencegah
infeksi ulang.
Ketika telinga telah kering selama kurang lebih tiga bulan penutupan, operasi penutupan
membran timpani dapat dilakukan.

Komplikasi
Terjadinya komplikasi infeksi seperti mastoiditis atau abses formasi biasanya
jarang tipikal pada otitis media supuratif kronis. Dalam kasus-kasus kronis, gangguan
pendengaran konduktif umumnya diikuti oleh perkembangan gangguan pendengaran koklea,
yang mungkin diakibatkan karena labirinitis serosa toksik.

Jenis pembedahan pada OMSK

DAFTAR PUSTAKA

1. Soetjipto, D., Mangunkusumo, E., & Wardani, R.S., 2007. Hidung. Dalam: Soepardi, E.,
Iskandar, N., Bashirudin, J., Restuti, R.D. (Eds). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher. Edisi 7. Jakarta: FK UI.
2. AdamsGL, Boies LR, Higler PA. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid. Boies, Buku Ajar
Penyakit THT Ed. 6. Jakarta:EGC.
3. Helmi. Otitis Media Supuratif Kronik. 2005. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
4. Sanna,Mario ; Russo Alessandra. 1999. Color Atlas Of Otoscopy From Diagnosis to
Surgery. New York. Thieme.
5. Probhst, Rudolf. 2006. Basic Otorhinolaryngology. Jakarta. Thieme.