Anda di halaman 1dari 25

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

DAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

HUBUNGAN PAPARAN PARTIKEL DEBU DENGAN


KELUHAN BRONKITIS PADA PEKERJA MEUBEL

OLEH:
Mirah Avisha

C111 11 813

PEMBIMBING
dr. Sultan Buraena, MS, SpOK

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DAN ILMU KEDOKTERAN
KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kesehatan kerja adalah

merupakan bagian dari kesehatan

masyarakat atau aplikasi kesehatan masyarakat didalam suatu masyarakat


pekerja dan masyarakat lingkungannya. Kesehatan kerja bertujuan untuk
memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik, mental, dan
sosial bagi masyarakat pekerja dan masyarakat lingkungan perusahaan
tersebut, melalui usaha-usaha preventif, promotif dan kuratif terhadap
penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan akibat kerja atau
lingkungan kerja. Kesehatan kerja ini merupakan terjemahan dari
Occupational Health yang cenderung diartikan sebagai lapangan
kesehatan yang mengurusi masalah-masalah kesehatan secara menyeluruh
bagi masyarakat pekerja. Menyeluruh dalam arti usaha-usaha preventif,
promotif, kuratif, dan rehabilitatif, higine, penyesuaian faktor manusia
terhadap pekerjaannya dan sebagainya (Notoadmojo, 2012).
Tujuan akhir dari kesehatan kerja ini adalah untuk menciptakan
tenaga kerja yang sehat dan produktif. Tujuan ini dapat tecapai, apabila
didukung oleh lingkungan kerja yang memenuhi syarat-syarat kesehatan
kerja. Lingkungan kerja yang mendukung terciptanya tenaga kerja yang
sehat dan produktif antara lain: suhu ruangan yang nyaman, penerangan
atau pencahayaan yang cukup, bebas dari debu, sikap badan yang baik,
alat-alat kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh atau anggotanya
(ergonomic ) dan sebagainya (Notoadmojo, 2012).
Dasar hukum sistem managemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) tercantum dalam undang-undang keselamatan kerja no.1 tahun
1970 tentang keselamatan kerja. Dalam undang-undang no.23 tahun 1992
tentang kesehatan, pasal 23 dinyatakan bahwa K3 harus diselenggarakan di
semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko

bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan


paling sedikit sepuluh orang.Pekerja mebel kayu adalah pekerjaan yang
menggunakan kayu sebagai bahan baku utama dalam proses produksinya.
Setiap orang yang pernah menggergaji papan (kayu) telah terkena paparan
debu kayu. Umumnya ini dianggap tidak berbahaya dan bahkan banyak
orang yang terkena paparan debu kayu dalam jumlah besar tanpa masalah
kesehatan. Namun, sejumlah masalah kesehatan telah dikaitkan dengan
paparan debu kayu. Efek bagi kesehatan yang paling sering dilaporkan
adalah ruam kulit (dermatitis), iritasi mata dan pernapasan, masalah alergi
pernapasan, kanker hidung, dan beberapa jenis kanker lainnya. Selain itu
banyaknya kasus kecelakaan akibat kerja yang terjadi seperti tertusuk,
terjepit, terpotong dan sebagainya, dikarenakan tidak adanya kontak secara
langsung dengan regulasi yang berlaku.
Maka dari itu kita perlu pemahaman mengenai proses produksi
pengrajin kayu, faktor dan potensi bahaya pada setiap prosesnya serta
penanganannya agar dapat mengaplikasikannya secara nyata saat
melakukan proses produksi.
1.2.

Tujuan
A. Tujuan Umum
Survei ini dilakukan untuk mengetahui tentang aspek kesehatan
dan keselamatan kerja (K3) pada pekerja mebel kayu di kawasan industri
mebel antang
B. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui tentang faktor hazard yang dialami pekerja
mebel kayu.
2. Untuk mengetahui tentang alat kerja yang digunakan yang dapat
menggangu kesehatan pekerja mebel kayu.
3. Untuk mengetahui alat pelindung diri yang digunakan pekerja
mebel kayu.
4. Untuk mengetahui tentang ketersediaan obat P3K di tempat kerja
pekerja mebel kayu.

5. Untuk mengetahui pemeriksaan kesehatan yang pernah dilakukan


sesuai peraturan (sebelum kerja, berkala, berkala khusus) pada
pekerja mebel kayu.
6. Untuk mengetahui tentang peraturan perusahaan tentang K3 di
tempat kerja.
7. Untuk mengetahui keluhan atau penyakit yang dialami yang
berhubungan dengan pekerjaan pada petugas pekerja mebel kayu.
8. Untuk mengetahui upaya K3 lainnya yang dijalankan (misalnya
penyuluhan, pelatihan, pengukuran atau pemantauan lingkungan
tentang hazard yang pernah diadakan).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Kesehatan kerja adalah merupakan bagian dari kesehatan masyarakat atau
aplikasi kesehatan masyarakat didalam suatu masyarakat pekerja dan
masyarakat lingkungannya (Notoadmojo, 2012).
Keselamatan kesehatan kerja adalah merupakan multidisplin ilmu yang
terfokus pada penerapan prinsip alamiah dalam memahami adanya risiko
yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan manusia dalam lingkungan
industri ataupun lingkungan diluar industri, selain itu keselamatan dan

kesehatan kerja merupakan profesionalisme dari berbagai disiplin ilmu yaitu


fisika, kimia, biologi dan ilmu perilaku yang diaplikasikan dalam manufaktur,
transportasi, penyimpanan dan penanganan bahan berbahaya (OHSAH 2003).
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan instrumen yang memproteksi
pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari bahaya
akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang
wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah, mengurangi,
bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep
ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan,
melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang
memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang
(Prasetyo,2009). 2
Keselamatan dan

kesehatan

kerja

pada

dasarnya

mencari

dan

mengungkapkan kelemahan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan.


Maka menurut Mangkunegara (2002) tujuan dari keselamatan dan kesehatan
kerja adalah sebagai berikut:
a. Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja
baik secara fisik, sosial, dan psikologis.
b. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya
selektif mungkin.
c. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
d. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi
pegawai.
e. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
f. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh
lingkungan atau kondisi kerja.
g. Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja
Sedangkan menurut Sumamur (2006) tujuan dari keselamatan dan
kesehatan kerja yaitu :
a. Agar setiap pekerja mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja
b. baik secara fisik, sosial dan psikologis.
c. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya
d. dan seefektif mungkin.
e. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.

f. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan perlindungan kesehatan gizi


pekerja.
g. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian dan partisipasi kerja.
h. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh
i.

lingkungan atau kondisi kerja.


Agar setiap pekerja merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.

2.2 Pekerja Mebel Kayu


A. Faktor Hazard
Faktor faktor hazard seperti fisik, kimia, biologi, ergonomi, dan
psikososial penting diperhatikan dalam tempat kerja, karena pengaruhnya
terhadap kesehatan pekerja dapat berlangsung dengan segera maupun
secara kumulatif. Faktor-faktor yang membahayakan pekerja (faktor
hazard) perlu dijelaskan kesan-kesan penggunaannya. Faktor hazard bisa
didapatkan dari bahaya fisik dari alat dan material yang digunakan yang
menghasilkan kebisingan dan getaran, bahaya biologis dari debu dapat
menyebabkan infeksi saluran pernafasan atas, zat zat kimiawi seperti cat,
tinner, dempul yang digunakan apabila terpapar terus menerus pada kulit
dapat menyebabkan dermatitis, bahaya ergonomis dilihat dari kesesuaian
posisi pada saat bekerja misalnya bekerja dengan posisi yang kurang
stabil, misalnya berdiri terlalu lama, duduk terlalu lama, membungkuk
terlalu lama, jongkok, membawa beban yang terlalu berat, dan menahan
beban yang terlalu berat kondisi seperti ini apabila berlangsung dalam
jangka waktu yang cukup lama tanpa adanya pemeriksan akan
menimbulkan penyakit akibat kerja seperti Musculosceletal disorders, Low
Back Pain, hingga gangguan persendian atau persyarafan lain,
B. Alat Kerja
Pada umumnya, alat yang digunakan oleh pekerja mebel kayu
antara lain
1. Kompresor digunakan untuk memberi tekanan pada alat-alat yang
membutuhkan tekanan seperti alat plitur.
2. Alat serut digunakan untuk menghaluskan atau meratakan bagian
bagian kayu.

3. Bor digunakan untuk melubangi bagian kayu untuk tempat sekrup,


dowel, atau pen.
4. Gergaji tangan atau gergaji manual yang digunakan untuk memotong
bagian kayu yang kecil.
5. Gergaji mesin digunakan untuk membelah kayu yang tebal.
6. Amplas, digunakan untuk menghaluskan produk yang dibuat.
7. Palu digunakan untuk memukul benda kerja. Misal paku saat
perakitan.
8. Tatah untuk merapikan bagian kayu dan membuat lobang untuk
pembuatan engsel.
9. Tatah ukir untuk membuat ornament ukiran.
10. Kuas digunakan pada saat finishing untuk memberikan lapisan
vernis atau melamin pada setiap permukaan mebel.
C. Alat Pelindung
Bagi pekeja mebel kayu perlu disediakan alat pelindung diri yang
digunakan sewaktu melakukan tugas mereka. Alat-alat yang
disediakan seharusnya diberikan mengikut tingkat keselamatan yang
diperlukan.
D. Kesediaan Obat P3K
Kotak pertolongan pertama kecelakaan (P3K) seharusnya wajib
dimiliki di setiap tempat pekerjaan. Hal ini sangat bermanfaat dalam
keadaan darurat ataupun kecelakaan. Tujuan dari P3K adalah untuk
menyelamatkan nyawa atau mencegah kematian, mencegah cacat yang
lebih berat dan menunjang penyembuhan.
E. Pemeriksaan Kesehatan
Pengusaha harus mengadakan pemeriksaan kesehatan sebelum
kerja, pemeriksaan kesehatan berkala dan pemeriksaan kesehatan khusus
oleh dokter yang telah memiliki sertifikasi.
Pemeriksaan kesehatan sebelum

kerja

dilakukan

supaya

memastikan pekerja sehat secara fisik dan mental untuk melakukan


pekerjaannya serta tidak menderita penyakit menular yang dapat
mempengaruhi pekerja lain. Pemeriksaan sebelum bekerja meliputi
pemeriksaan fisik lengkap, kesegaran jasmani, rontgen paru-paru dan
laboratorium rutin, serta pemeriksaan lain yang dianggap perlu.

Pemeriksaan berkala dilakukan oleh dokter sekurang-kurangnya


setahun sekali.
Pemeriksaan kesehatan khusus dilakukan oleh dokter untuk pekerja
tertentu yang melakukan pekerjaan dengan resiko-resiko tertentu.
Pemeriksaan kesehatan khusus juga dilakukan kalau pekerja mengeluh
tentang masalah kesehatan yang mereka derita.
F. Peraturan Perusahaan Tentang K3
Sistem management K3 adalah bagian dari sistem manajemen yang
meliputi struktur organisasi, perencanaan, pelaksanaan, prosedur, sumber
daya, dan tanggungjawab organisasi. Tujuan dari Sistem management K3
RS adalah menciptakan tempat kerja yang aman dan sehat supaya tenaga
kerja produktif disamping dalam rangka akreditasi rumah sakit itu
sendiri. Prinsip yang digunakan dalam sistem management K3 adalah
AREC (Anticipation, Recognition, Evaluation dan Control) dari metode
kerja, pekerjaan dan lingkungan kerja (Kepmenkes RI, 2007).
G. Keluhan atau Penyakit yang Berhubungan dengan Pekerjaangas
tersebut.
Pada setiap pekerjaan yang dilakukan pasti ada resiko terhadap
kesehatan petugas tersebut. Pada pekerja mebel kayu, terdapat beberapa
penyakit yang perlu diwaspadai terutama pada saat pemakaian alat
maupun pajanan debu dan serbuk dari kayu.
Selain itu, kecederaan sewaktu melakukan pekerjaan seperti luka
gores akibat terkena alat, infeksi saluran pernafasan atas dan sebagainya.
Pada pekerja yang sering melakukan pekerjaan dengan posisi yang salah
bisa saja mengeluh menderita nyeri pinggang bawah (low back pain).
Pada pekerja yang sensitif terhadap cat, tinner, dll bisa saja menderita
dermatitis kontak akibat terpapar secara terus menerus.

H. Upaya K3 lain yang Dijalankan


Kesehatan dan keselamatan kerja harus dijalankan pada setiap
industri mebel kayu karena menurut penelitian insidens terjadinya
kecelakaan saat bekerja mulai meningkat. Jadi setiap pekerja harus

didedahkan dengan K3. Dengan itu, pihak perusahaan harus aktif


melakukan training kesehatan dan keselamatan kerja di perusahaan ini
kepada pekerja pekerja mebel kayu. Selain itu, pihak perusahaan perlu
melakukan evaluasi terhadap tahap pengetahuan, sikap dan perilaku
terhadap aspek K3.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Bahan dan cara
A. Bahan
Bahan yang digunakan pada survei ini adalah checklist yang di
buat. Checklist ini dibuat berdasarkan informasi yang diperlukan daripada
tujuan survei ini dilakukan. Pada survei ini, informasi yang diperlukan
adalah ada tidaknya faktor hazard, alat kerja apa yang digunakan, alat
pelindung diri yang digunakan, ketersediaan obat p3k di tempat kerja,
pelayanan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan, peraturan pimpinan
tentang k3, keluhan atau penyakit yang dialami petugas dan upaya
pengetahuan mengenai k3 kepada pekerja mebel kayu di industri yang
berkaitan.
B. Cara
Bagi cara survey dilakukan pula adalah dengan menggunakan
kaedah Walk Through Survey. Teknik Walk Through Survey juga dikenali
sebagai Occupational Health Hazards. Untuk melakukan survei ini, dapat
dimulai dengan mengetahui tentang manejemen perencanaan yang benar,
berdiskusi tentang tujuan melakukan survey, dan menerima keluhankeluhan baru yang releven.
Bahaya apa dan dalam situasi yang bagaimana bahaya dapat
timbul, merupakan sebagai hasil dari penyelenggaraan kegiatan Walk
Through Survey. Mengenal bahaya, sumber bahaya dan lamanya paparan
bahaya terhadap pekerja dalam Walk Through Survey memerlukan
informasi tentang bahan mentah dan bahan kimia tambahan yang
digunakan, proses kerja dan operasi, produk akhir dan produk samping
yang dihasilkan.

Pihak okupasi kesehatan dapat kemudian merekomendasikan


monitoring survey untuk memperoleh kadar kuantitas eksposur atau
kesehatan okupasi mengenai risk assessment.
Walk Through Survey ini adalah bertujuan untuk memahami proses
produksi, denah tempat kerja dan lingkungannya secara umum. Selain itu,
mendengarkan pandangan pekerja dan pengawas tentang K3, memahami
pekerjaan dan tugas-tugas pekerja, mengantisipasi dan mengenal potensi
bahaya yang ada dan mungkin akan timbul di tempat kerja atau pada
petugas dan menginventarisir upaya-upaya K3 yang telah dilakukan
mencakup kebijakan K3, upaya pengendalian, pemenuhan peraturan
perundangan dan sebagainya.

3.2.Jadwal survei
Tempat survey akan dilakukan di Kawasan Industri Mebel Kayu
Antang Makassar dan waktu penelitian adalah mulai tanggal 19 Juli 2016
hingga 23 Juli 2016
No.
1.

Tanggal
18 Juli 2016

Kegiatan
- Melapor ke bagian K3 RS Ibnu Sina
- Pengarahan kegiatan

2.

19 Juli 2016

- Pembuatan proposal

3.

20 Juli 2016

- Penyusunan Proposal

21 Juli 2016

- Walk Through Survey


- Penyusunan laporan Walk Through Survey

5.

22 Juli 2016

- Walk Through Survey


- Penyusunan laporan Walk Through Survey

6.

23 Juli 2016

- Presentasi laporan Walk Through Survey

BAB IV

HASIL

A. Alur dan Proses Produksi


Kami melakukan pengamatan pada sektor industri informal pengrajin
mebel di Intan Maharani Meubel Antang. Dari hasil yang kami dapatkan bahwa
pengrajin hanya melakukan proses finishing di tempat ini. Adapun alur dan
proses produksi yang dilakukan yaitu:
Barang

Pembenahan

Pengeringan

setengah
jadi

Proses dempul

Proses penghalusan
kedua

Proses penghalusan
pertama

Pembenahan

Plitur

Mebel siap di jual


B. Alat
11. Kompresor digunakan untuk memberi tekanan pada alat-alat yang
membutuhkan tekanan seperti alat plitur.
12. Alat serut digunakan untuk menghaluskan atau meratakan bagian bagian
kayu.
13. Bor digunakan untuk melubangi bagian kayu untuk tempat sekrup, dowel,
atau pen.
14. Gergaji tangan atau gergaji manual yang digunakan untuk memotong
bagian kayu yang kecil.
15. Gergaji mesin digunakan untuk membelah kayu yang tebal.
16. Amplas, digunakan untuk menghaluskan produk yang dibuat.
17. Palu digunakan untuk memukul benda kerja. Misal paku saat perakitan.

18. Tatah untuk merapikan bagian kayu dan membuat lobang untuk pembuatan
engsel.
19. Tatah ukir untuk membuat ornament ukiran.
20. Kuas digunakan pada saat finishing untuk memberikan lapisan vernis atau
melamin pada setiap permukaan mebel.
C. Potensi dan Faktor bahaya
Secara umum, potensi bahaya lingkungan kerja dapat berasal atau
bersumber dari berbagai faktor, faktor bahaya yang kami temui antara lain:
1. Bahaya Mekanik/fisik
2. Bahaya Kimiawi
3. Bahaya Biologis
4. Bahaya Fisiologis/ergonomis
5. Bahaya Mental-psikologis

BAB V
DISKUSI

A. Analisis Alur dan Proses Produksi


1. Barang setengah jadi (Pemotongan kayu)
Di tempat ini, pengusaha hanya menerima barang setengah jadi yang
telah dirakit menjadi perabotan rumah tangga seperti meja, kursi, lemari,
dan lain-lain. Barang setengah jadi ini didapatkan dari Solo-raya, Cempolo,
Kalijambe, dan Jepara.
2. Pembenahan atau pelengkapan (Pembuatan Pola)
Setelah dikeringkan, barang tersebut dibenahi pada bagian yang kurang,
misalnya pada pembuatan kursi dilengkapi dengan busa, pada pembuatan
lemari dilengkapi dengan pegangan, pada meja biasanya dilengkapi dengan
kaca.
3. Pemolesan
Proses selanjutnya yaitu barang diamplas. Pengamplasan dilakukan
hingga berulang kali, agar mendapatkan tekstur yang lebih halus.

Proses ini dibutuhkan untuk menutupi bagian-bagian yang cacat,


misalnya berlubang. Proses dempul harus dilakukan merata ke seluruh
bagian agar memudahkan proses selanjutnya.
Pengamplasan dilakukan dua kali, karena setelah barang di amplas
dipastikan ada bagian-bagian yang masih kasar. Pengamplasan yang kedua
juga dilakukan berulang kali hingga barang benar-benar halus.
4. Pengecatan
Proses terakhir yaitu pemberian warna pada barang atau biasa disebut
dengan plitur. Pemberian warna dilakukan dengan cara disemprot. Setelah
warna merata, mebel di keringkan pada ruangg terbuka kurang lebih satu
hari. Setelah itu, mebel siap untuk dipasarkan.
B. Analisis Potensi dan Faktor Bahaya
1. Bahaya Fisik
Pada proses pembenahan, tak jarang tenaga kerja kontak dengan alat dan
material yang bisa menimbulkan kecelakaan kerja apabila tenaga kerja kurang hatihati dalam menggunakannya. Kecelakaan kerja yang sering ditemui yaitu tergores.
Meskipun masih dikatakan kecelakaan ringan, tetapi sebisa mungkin perusahaan
meminimalkan terjadinya kecelakaan hingga terciptanya zero accident.
2. Faktor Biologi

Dari semua proses yang dilakukan di tempat ini, terdapat partikulatpartikulat yang dihasilkan dan tersuspensi di udara, misalnya debu, fumes,
aerosol, dan lain lain. Partikuat yang masuk dalam jaringan alveoli sangat
tergantung dari solubility dan reaktivitasnya. Semakin tinggi reaktivitas
suatu substansi yang dapat mencapai alveoli dapat menyebabkan reaksi
inflamasi yang akut dan oedema paru. Pada reaksi sub akut dan kronis
ditandai dengan pembentukan granuloma dan fibrosis interstitial. Kelainan
paru

karena

adanya

deposit

debu

dalam

jaringan

paru

disebut

pnemokoniasis. Menurut definisi dari International Labor Organization


(ILO) pnemokoniosis adalah akumulasi debu dalam jaringan paru dan reaksi
jaringan paru terhadap adanya akumulasi debu tersebut.
Bila pengerasan alveoli telah mencapai 10% akan terjadi penurunan
elastisitas paru yang menyebabkan kapasitas vital paru akan menurun dan

dapat mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen ke dalam jaringan otak,


jantung dan bagian-bagian tubuh lainnya.
3. Bahaya Kimiawi
Pada proses finishing banyak bahan-bahan yang digunakan seperti cat,
tiner, lem, dempul, dan lain-lain. Dalam hal ini, terjadi kontak langsung
antara bahan-bahan dengan kulit tenaga kerja. Penggunaan yang tidak benar
serta paparan terhadap kulit terlalu lama akan menimbulkan dermatitis.
4. Bahaya Fisiologis/ergonomis
Dalam kaitannya dengan industri mebel ergonomi juga mempunyai
peranan penting. Ini dapat dilihat dari kesesuaian posisi pada saat bekerja.
Dari hasil di lapangan pekerja bekerja dengan posisi yang kurang stabil,
misalnya berdiri terlalu lama, duduk terlalu lama, membungkuk terlalu
lama, jongkok, membawa beban yang terlalu berat, dan menahan beban
yang terlalu berat. Kondisi seperti ini apabila berlangsung dalam jangka
waktu yang cukup lama tanpa adanya pemeriksan akan menimbulkan
penyakit akibat kerja seperti Musculosceletal disorders, Low Back Pain,
hingga penyakit kulit seperti dermatitis.
5. Bahaya mental-psikologis
Faktor mental-psikologis yang terlihat adalah hubungan kerja atau
hubungan industrial yang tidak baik, dengan akibat timbulnya depresi atau
penyakit psikomotorik.
C. Upaya pengendalian
1. Mewajibkan pemeriksaan menyeluruh dan berkala bagi seluruh tenaga kerja
2. Mengontrol jam kerja meskipun dalam masa lembur kerja
3. Selalu menggunakan APD saat bekerja.
4. Menjaga hubungan yang baik dengan sesame rekan kerja
5. Tidak memforsir tubuh. Apabila tubuh merasakan nyeri yang sangat,
segeralah untuk istirahat.
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan kami di tempat pengrajin kayu di Intan Maharani
Meubel Antang, dapat kami simpulkan :
1. Proses produksi :
Barang setengah jadi (pemotongan kayu) pembuatan pola pemolesan
pengecatan Mebel siap jual.
2. Faktor dan potensi bahaya yang ditimbulkan :
a. Bahaya fisik
Di tempat tersebut kecelakaan kerja yang sering ditemui hanyalah
kecelakaan yang ringan yaitu tergores.
b. Bahaya biologis
Dari semua proses di tempat tersebut, terdapat partikulat-partikulat
yang dihasilkan dan tersuspensi di udara, misalnya debu, fumes, aerosol,
dan lain lain. Partikuat yang masuk dalam jaringan alveoli sangat
tergantung dari solubility dan reaktivitasnya. Semakin tinggi reaktivitas
suatu substansi yang dapat mencapai alveoli dapat menyebabkan reaksi
inflamasi yang akut dan oedema paru.
c. Bahaya kimiawi
Bahaya biologis yang dapat ditimbulkan yaitu dermatitis akibat
kontak dengan bahan-bahan seperti lem, dempul dan lain-lain saat proses
finishing.
d. Bahaya fisiologis/ergonomis
Dari hasil di lapangan pekerja bekerja dengan posisi yang kurang
stabil, misalnya berdiri terlalu lama, duduk terlalu lama, membungkuk
terlalu lama, jongkok, membawa beban yang terlalu berat, dan menahan
beban yang terlalu berat yang jika dilakukan dalam waktu yang lama
dapat menyebabkan Musculosceletal disorders, Low Back Pain, hingga
penyakit kulit seperti dermatitis.
e. Bahaya mental-psikologis
Faktor mental-psikologis yang terlihat adalah hubungan kerja atau
hubungan industrial yang tidak baik, dengan akibat timbulnya depresi
atau penyakit psikomotorik.
3. Upaya penanganan faktor/potensi bahaya :

a. Mewajibkan pemeriksaan menyeluruh dan berkala bagi seluruh tenaga


kerja dan peralatan kerja.
b. Memperbaiki peralatan yang tingkat perlindungannya kurang.

c. Mengontrol jam kerja meskipun dalam masa lembur kerja


d. Tidak memforsir tubuh. Apabila tubuh merasakan nyeri yang sangat,
segeralah untuk istirahat.
e. Selalu menggunakan APD saat bekerja.
f. Menjaga hubungan yang baik dengan sesama rekan kerja

B. Saran
Sebaiknya tenaga kerja di tempat tersebut diharuskan memakai APD
seperti masker dan sarung tangan, karena masih banyak tenaga kerja yang tidak
memakai masker dan sarung tangan sedangkan di tempat tersebut banyak debu
yang bisa mengganggu pernapasan dan dalam proses pengerjaan tersebut
resiko tergoresnya tinggi. Dan sebaiknya tenaga kerja bisa menempatkan posisi
kerja mereka dengan baik agar merasa nyaman saat bekerja dan tidak
mengalami gangguan muskuloskeletal seperti nyeri dan lain-lain.

CHECK LIST ASPEK K3 PADA PEKERJA MEBEL KAYU DI KAWASAN

INDUSTRI MEBEL ANTANG MAKASSAR


A. Pemotongan kayu
No

Pertanyaan

Ya

Tidak

Faktor Hazard
a. Faktor fisik
i.

Faktor kebisingan

1.

Kompresor

2.

Bor

3.

Gergaji Mesin

ii.

Faktor Getaran

1.

Gergaji Mesin

b. Faktor kimia
1.

Cat

2.

Tinner

3.

Plitur

4.

Dempul

c. Faktor biologi
1.

Debu dari kayu

d. Faktor ergonomis
i.

Posisi bekerja

1.

Berdiri

2.

Duduk

3.

Membungkuk

4.

Jongkok

ii.

Cara bekerja

1.

Mengangkat

Keterangan

e. Faktor Psikososial
1.

Jadwal kerja

2.

Hubungan kerja

3.

Beban kerja

4.

Gaji

Alat pelindung diri ketika melakukan pekerjaan


1.

Masker

2.

Kaca Mata

Ketersediaan obat P3K

Pemeriksaan kesehatan
1.

Berkala

2.

Pemeriksaan khusus

Peraturan pimpinan rumah sakit tentang K3


Keluhan /p enyakit yang dialami
1.

Infeksi Saluran Pernafasan Atas

2.

Dermatitis

3.

Low back pain

Upaya lain perusahaan tentang K3

CHECK LIST ASPEK K3 PADA PEKERJA MEBEL KAYU DI KAWASAN

INDUSTRI MEBEL ANTANG MAKASSAR


B. Pembuatan pola

No

Pertanyaan

Ya

Tidak

Faktor Hazard
e. Faktor fisik
i.

Faktor kebisingan

1.

Kompresor

2.

Bor

3.

Gergaji Mesin

ii.

Faktor Getaran

1.

Gergaji Mesin

f. Faktor kimia
1.

Cat

2.

Tinner

3.

Plitur

4.

Dempul

g. Faktor biologi
1.

Debu dari kayu

h. Faktor ergonomis
i.

Posisi bekerja

1.

Berdiri

2.

Duduk

3.

Membungkuk

4.

Jongkok

ii.

Cara bekerja

1.

Mengangkat

e. Faktor Psikososial
1.

Jadwal kerja

2.

Hubungan kerja

Keterangan

3.

Beban kerja

4.

Gaji

Alat pelindung diri ketika melakukan pekerjaan


1.

Masker

2.

Kaca Mata

Ketersediaan obat P3K

Pemeriksaan kesehatan
1.

Berkala

2.

Pemeriksaan khusus

Peraturan pimpinan rumah sakit tentang K3


Keluhan /p enyakit yang dialami
1.

Infeksi Saluran Pernafasan Atas

2.

Dermatitis

3.

Low back pain

Upaya lain perusahaan tentang K3

CHECK LIST ASPEK K3 PADA PEKERJA MEBEL KAYU DI KAWASAN

INDUSTRI MEBEL ANTANG MAKASSAR


C. Pemolesan
No
.
Faktor Hazard

Pertanyaan

Ya

Tidak

Keterangan

i. Faktor fisik
i.

Faktor kebisingan

1.

Kompresor

2.

Bor

3.

Gergaji Mesin

ii.

Faktor Getaran

1.

Gergaji Mesin

j. Faktor kimia
1.

Cat

2.

Tinner

3.

Plitur

4.

Dempul

k. Faktor biologi
1.

Debu dari kayu

l. Faktor ergonomis
i.

Posisi bekerja

1.

Berdiri

2.

Duduk

3.

Membungkuk

4.

Jongkok

ii.

Cara bekerja

1.

Mengangkat

e. Faktor Psikososial
1.

Jadwal kerja

2.

Hubungan kerja

3.

Beban kerja

4.

Gaji

Alat pelindung diri ketika melakukan pekerjaan

1.

Masker

2.

Kaca Mata

Ketersediaan obat P3K

Pemeriksaan kesehatan
1.

Berkala

2.

Pemeriksaan khusus

Peraturan pimpinan rumah sakit tentang K3


Keluhan /p enyakit yang dialami
1.

Infeksi Saluran Pernafasan Atas

2.

Dermatitis

3.

Low back pain

Upaya lain perusahaan tentang K3

CHECK LIST ASPEK K3 PADA PEKERJA MEBEL KAYU DI KAWASAN

INDUSTRI MEBEL ANTANG MAKASSAR


D. Pengecatan
No

Pertanyaan

Ya

Tidak

Faktor Hazard
m. Faktor fisik
i.

Faktor kebisingan

1.

Kompresor

Keterangan

2.

Bor

3.

Gergaji Mesin

ii.

Faktor Getaran

1.

Gergaji Mesin

n. Faktor kimia
1.

Cat

2.

Tinner

3.

Plitur

4.

Dempul

o. Faktor biologi
1.

Debu dari kayu

p. Faktor ergonomis
i.

Posisi bekerja

1.

Berdiri

2.

Duduk

3.

Membungkuk

4.

Jongkok

ii.

Cara bekerja

1.

Mengangkat

e. Faktor Psikososial
1.

Jadwal kerja

2.

Hubungan kerja

3.

Beban kerja

4.

Gaji

Alat pelindung diri ketika melakukan pekerjaan


1.

Masker

2.

Kaca Mata

Ketersediaan obat P3K

Pemeriksaan kesehatan
1.

Berkala

2.

Pemeriksaan khusus

Peraturan pimpinan rumah sakit tentang K3


Keluhan /p enyakit yang dialami
1.

Infeksi Saluran Pernafasan Atas

2.

Dermatitis

3.

Low back pain

Upaya lain perusahaan tentang K3