Anda di halaman 1dari 5

2.1.3.

Aspal Polimer
Aspal polimer adalah suatu materi
al yang dihasilkan dari modifikasi antara polimer
alam atau polimer sintetis dengan aspal. Modifikasi
aspal polimer (atau biasa
disingkat dengan PMA) telah dikembangkan selama beberapa dekade terakhir.
Umumnya dengan sedikit penambahan bahan polimer (biasanya sekitar 2
-6%) sudah
dapat meningkatkan hasil ketahanan yang lebih baik terhadap deformasi,
mengatasi
keretakan
-keretakan dan meningkatkan ketahanan usang dari kerusakan akibat umur
sehingga dihasilkan pembangunan jalan lebih tahan lama serta juga dapat
mengurangi
biaya perawatan atau perbaikan jalan (Polacco, 2005).
Penggunaan campuran polimer aspal merupakan trend yang semakin
meningkat tidak hanya karena faktor ekonomi, tetapi juga demi mendapatkan
kualitas
aspal yang lebih baik dan tahan lama. Modif
ikasi polimer aspal yang diperoleh dari
interaksi antara komponen aspal dengan bahan aditif polimer dapat
meningkatkan
sifat
-sifat dari aspal tersebut. Dalam hal ini terlihat bahwa keterpaduan aditif
polimer
yang sesuai dengan campuran aspal. Penggunaan po
limer sebagai bahan untuk
memodifikasi aspal terus berkembang di dalam dekade terakhir
(Fei
-Hung, 2000).
Untuk memperbaiki sifat
-sifat dari bahan permukaan aspal, peneliti telah
memusatkan perhatian pada aditif yang diperoleh dengan memanfaatkan bahan
bekas,
seperti polistirena bekas. Untuk bahan
-bahan polimer yang efektif digunakan jalan
raya, haruslah yang dapat meningkatkan resistensi terhadap keretakan letih,

mengurangi cakupan deformasi permanen dan mengurangi pengerasan pada


suhu
tinggi (King, 1986).
2.2.
Polistirena
Polistirena pertama kali dibuat pada 1839 oleh Eduard Simon
, seorang apoteker
Jerman
.
Polistirena
adalah sebuah
polimer
dengan
mo no mer
stirena
, sebuah
hidrokarbon
cair
yang dibuat secara komersial dari
minyak bumi
. Pada suhu ruangan,
Universitas
Sumatera
Utara

polistirena biasanya bersifat


termoplastik
padat,
tidak mudah patah dan tidak beracun
serta
dapat menca
ir pada suhu yang lebih tinggi.
Stirena tergolong senyawa aro mat ik
. Polistirena berbentuk padatan murni yang
tidak berwarna, bersifat ringan, keras, tahan panas, agak kaku, tidak mudah
patah dan
tidak beracun, memiliki kestabilan dimensi yang tinggi dan shrinkage yang
rendah,
tahan terhadap air at
au bahan kimia non-

organik atau alkohol, dan sangat mudah


terbakar. Berikut ini tabel sifat
-sifat fisik dari polistirena.
Tabel 2.2 Sifat
-Sifat Fisik Polistirena
Sifat Fisis
Ukuran
Densitas
1050
kg/m
Densitas
EPS
25
200
kg/m
Spesifik Gravitasi
1,05
Konduktivitas Listrik (s)
10
16

S
/
m
Konduktivitas Panas (k)
0.08
W/(mK)
Modulus Young(
E
)
3000
3600
MPa
Kekuatan Tarik (
s
t

4660
MPa
Perpanjangan
3

4%
Notch test
2

5
kJ
/
m
Temperatur Transisi gelas (Tg)
95
C
Polist iren
a adalah mo leku
l yang memiliki berat molekul ringan, terbentuk dari
monomer stirena yang berbau harum.
Polistirena merupakan polimer hidrokarbon
parafin yang terbentuk dengan cara reaksi polimerisasi, dimana reaksi
pembentukan
polistirena adalah sebagai berikut :
Gambar 2.3 Struktur Stirena dan Polistirena
Universitas
Sumatera
Utara

Salah satu jenis polistirena yang cukup popular dikalangan masyarakat


produsen maupun konsumen adalah polistirena foam. Polistirena foam dikenal
luas
dengan istilah Styrofoam yang
seringkali digunakan secara tidak tepat oleh publik
karena sebenarnya Styrofoam merupakan nama dagang yang telah dipatenkan
oleh
perusahaan Dow Chemical. Oleh pembuatanya Styrofoam dimaksudkan untuk
digunakan sebagai insulator pada bahan konstuksi banguna
n.
Polistirena foam dihasilkan dari campuran 90-

95% polistirena dan 5


-10% gas
seperti n
-butana atau n
-pentana. Polistirena foam dibuat dari monomer stirena melalui
polimerisasi suspense pada tekanan dan suhu tertentu, selanjutnya dilakukan
pemanasan untuk
melunakkan resin dan menguapkan sisa
blowing agent
. Polistirena
foam merupakan bahan plastik yang memiliki sifat khusus dengan struktur yang
tersusun dari butiran dengan kerapatan rendah, mempunyai bobot ringan, dan
terdapat
ruang antar butiran yang beris
i udara yang tidak dapat menghantar panas sehingga hal
ini membuatnya menjadi insulator panas yang sangat baik (Badan POM, 2008).
Polistirena foam begitu banyak dimanfaatkan dalam kehidupan, tetapi tidak
dapat dengan mudah direcycle sehingga pengolahan limbahnya harus dilakukan
secara
benar agar tidak merugikan lingkungan. Pemanfaatan polistirena bekas untuk
bahan
aditif dalam pembuatan aspal polimer merupakan salah satu cara meminimalisir
limbah tersebut
(Damayanthi, 2004)