spesialmunas

Munas XV/2016

SUKSESKAN MUNAS GPFI XV / 2016

MUNAS

TRANS HOTEL, 23 - 25 OKTOBER 2016, BANDUNG - JAWA BARAT
www.pmmc.or.id

News

Edisi MUNASXV/2016

media komunikasi penjual & pembeli farmasi

Munas XV/2016 GP Farmasi Resmi Dibuka

Mengubah Paradigma,
Memperkuat Kemandirian
Usaha Farmasi

Gemuruh suara gendang yang
dipukul enam orang di atas panggung
pagi itu makin memeriahkan acara
pembukaan Musyawarah Nasional
Gabungan Perusahaan Farmasi
Indonesia (Munas GP Farmasi
Indonesia) ke XV di Ballroom Trans
Hotel, Bandung, 24 Oktober 2016.
Iringan musik pendukung dari sound
system pun membuat suasana makin
riuh rendah menyambut dibukanya
acara yang dihadiri tak kurang dri
700 para pelaku industri farmasi dari
seluruh Indonesia itu.
Munas ke XV ini dibuka secara
resmi oleh Dr. Maura Linda
Sitanggang, Dirjen Farmasi dan
Pharma Materials Management Club

Alat Kesehatan, mewakili Menteri
Kesehatan RI Nila Djuwita F. Moeloek.
Tema yang diusung kali ini adalah
“Paradigma Baru dalam Proses
Pengembangan Usaha Farmasi
Nasional untuk Mewujudkan
Kemandirian Usaha Farmasi sesuai
Nawa Cita.”
Dalam sambutannya, yang
dibacakan oleh Dr. Maura Linda
Sitanggang, Menteri Kesehatan
mengatakan industri farmasi
merupakan industri yang sangat
strategis untuk ketahanan bangsa
dalam hal penyediaan obat-obatan.
Menurut Menkes, dalam rangka
meningkatkan layanan kesehatan

untuk masyarakat, saat ini pemerintah
telah berupaya untuk menyediakan
obat-obatan yang bermutu dan
tejangkau bagi masyarakat.
“Ketersediaan obat menjadi hal
yang sangat penting dan mendasar
untuk memenuhi kebutuhan layanan
kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Nila Moeloek menegaskan, untuk
memberikan jaminan kesehatan
yang baik untuk masyarakt, bukan
hanya dengan memberikan layanan
kesehatan saja, namun juga
diperlukan keterlibatan industri farmsi
untuk menjaga ketahanan Indonsia.
Saat ini, layanan kesehatan untuk
masyarakat dinilai sudah cukup baik,
PMMCNEWS I

1

Munas XV/2016

2

I PMMCNEWS

spesialmunas

Pharma Materials Management Club

spesialmunas

karena sudah 70% kebutuhan obatobatan bisa terpenuhi oleh industri
obat-obatan dalam negeri. Sisanya,
dipenuhi oleh obat-obatan impor
yang merupakan inovasi obat-obatan
yang belum bisa diproduksi di dalam
negeri.
“Hal ini menunjukkan bahwa
industri farmasi dalam negeri
sudah memiliki kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan obat nasional,”
ujarnya.
Amerika Saja Masih Impor
Sementara itu, Ketua Umum GP
Farmasi Indonesia (periode tahun
2012-2016) Johannes Setijono
mengungkapkan, kalangan industri
farmasi dalam negeri optimistis
kemandirian pemenuhan bahan baku
obat bisa terpenuhi, meski dalam
waktu yang cukup lama.
Menurutnya, yang dimakasud

Pharma Materials Management Club

Munas XV/2016

dengan kemandirian di sini bukanlah
kemandirian dalam pengertian
Indonesia memiliki 100% industri
bahan baku obat. Menurutnya, yang
perlu diketahui, di dunia ini tidak
ada satu negara pun yang memiliki
100% memiliki industri bahan baku
obat sendiri. Hampir semua negara
masing-masing produsennya adalah
produsen global.
“Jadi kalau membangun industri
bahan baku obat dan hanya untuk
memenuhi kebutuhan pasar di
Indonsia, maka masih belum bisa
mencukupi. Harus dilakukan juga
ekspor,” ujarnya.
Dia mencontohkan, Amerika saja
yang dikatakan sebagai negara maju,
80% kebutuhan bahan baku obatnya
masih impor. Negara ini hanya
memproduksi sebagian kecil saja yang
sangat penting –penting saja, karena
Amerika memang kuat dalam daya

saing yang diproduksi itu.
Demikian juga di Indonesia,
menurut Johannes, kita tidak
berpretensi akan membangun 100%
industri bahan baku untuk memenuhi
kebutuhan di dalam negeri. Kita akan
memproduksi yang penting-penting
sekali dan memiliki daya saing di
tingkat internasional.
“Memang akan memakan waktu
lama, karena untuk membuat
satu jenis bahan baku saja, baru
persiapannya bisa memakan waktu
hingga empat tahun. Jadi kalau
sekarang ini kita canangkan, mungkin
baru empat tahun ke depan baru bisa
kita mulai,” ujarnya.
Johannes mengatakan, saat ini
sudah ada lima industri yang sudah
mulai membangun untuk indsutri
bahan baku obat dan diperkirakan
baru akan selesai sekitar tahun 2019.
(Abdul Kholis)

PMMCNEWS I

3

spesialmunas

Munas XV/2016

MUNAS XV GP Farmasi Indonesia

Welcome Dinner

Ramah Tamah Bersama pengurus

4

I PMMCNEWS

Pharma Materials Management Club

spesialmunas

Munas XV/2016
kendrariadi suhanda ketua umum pmmc

Keseimbangan Kebijakan
Tingkat Bawah Hingga Tingkat Atas

Pharma Material Management
Club (PMMC) merupakan supporting
agent atau bagian dari organisasi
GP Farmasi Indonesia dimana
kewenangan PMMC lebih banyak
mensupport material farmasi

seperti bahan baku, bahan kemas,
mesin farmasi, packaging dan lain
sebagainya
Munas GP Farmasi Ke XV yang
dilaksanakan pada tanggal 23-25
Oktober 2016 merupakan acara
penting untuk kemajuan industri
farmasi, acara yang dihadiri sekitar
700 peserta ini diharapkan dapat
membawa era baru bagi industri
farmasi dimana industri farmasi
dapat lebih meningkatkan kualitas
mementingkan keterjangkauan,
dan memberikan solusi bagi
permasalahan-permasalahan yang
sedang dihadapi oleh industri farmasi
Tantangan demi tantangan akan
banyak dihadapi oleh kepemimpinan
selanjutnya, mulai dari dalam seperti
peningkatan kualitas, produksi,
serta standar-standart kualitas
internasional yang harus diterapkan,
sedangkan untuk tantangan dari
luar organisasi adalah kebijakan
serta aturan main yang diterapkan

pemerintah seperti kementerian
kesehatan,BPOM dan lain sebagainya
“Keharmonisan tingkat bawah
hingga tingkat atas haruslah
seimbang kerena kalau terlalu banyak
penekanan maka industri akan sulit
berkembang akan tetapi jika terlalu
losscontrol industri akan kebablasan”
hal ini disampaikan Wakil Sekjen
GP Farmasi Indonesia Kendrariadi
Suhanda saat sesi wawancara
dilakukan
Lebih lanjut Kendra sapaan
akrabnya menyampaikan pada sukses
Munas GP Farmasi indonesia ke
XV agar kepemimpinan selanjutnya
haruslah pandai memainkan
perannya di level atas dan juga pandai
melihat keadaan dibawah maksudnya
adalah dapat mengerti keluhan dan
permasalahan dibawah dan juga
dapat memecahkan permasalahan
sampai mendapatkan restu hingga
level atas.(tri hertanto kurniawan)

Tirto Kusnadi sekretaris jendral gp Farmasi Indonesia:

Sudah Saatnya Mengubah Paradigma
untuk Memajukan Farmasi

Ke depan, para pelaku industri farmasi
dalam negeri agaknya bisa “bernafas”
lebih lega. Sejak diterbitkannya Instruksi
Presiden (Inpres) No. 6 tahun 2016
tentang Percepatan dan Pengembangan
Industri Farmasi dan Alat Kesehatan,
semakin membuka peluang untuk
Pharma Materials Management Club

pengembangan industri farmasi di
Indonesia.
Kepala Badan Pengawasan Obat dan
Makanan (BPOM) Penny Kusumawati
Lukito, saat memberikan sambutan
dalam acara Munas GP Farmasi
Indonesia di Bandung mengatakan, ke
depan pemerintah akan mengupayakan
memberi ruang yang lebih baik untuk
pengembangan industri farmasi dalam
negeri.
Sekretaris Jenderal Gabungan
Perusahaan Farmasi Indonesia (Sekjen
GP Farmasi Indonesia) Tirto Kusnadi
menyambut baik yang disampaikan
Kepala BPOM tersebut. Menurutnya,
semakin jelas, seperti yang diungkapkan
oleh Kepala BPOM, bahwa industri
farmasi harus mendapat perhatian
lebih lagi agar lebih maju. Artinya,
agar farmasi menjadi industri andalan.
Selama ini, indusri farmasi diposisikan
sebagai usaha sosial.
“Bu Penny tadi bilang, menjadi usaha
sosial, namun tetap menjadi usaha
yang komersial atau menguntungkan.
Berarti kta harus mengubah paradigma
seperti yang menjadi tema Munas GP
Farmasi sekarang, yaitu bagaimana

kita harus mengubah paradigma,
disesuaikan dengan apa yang termaktub
dalam nawacita dalam pemerintahan
sekarang,” ujar Tirto.
Menurutnya, saat ini ada beberapa
paradigma yang harus segera
diubah, diantaranya pemerintah agar
mempermudah dan mempercepat
registrasi obat-obatan baru, mengurangi
persyaratan di BPOM yang berlebihan,
dan lainnya yang memberatkan para
pelaku industri farmasi.
Dengan demikian, ke depan industri
farmasi tidak lagi menjadi usaha yang
selalu tersendat-sendat . “Jadi apa yang
disampaikan oleh Ketua BPOM dalam
sambutan di Munas ini saya sangat
berharap bisa terealisasi,” katanya.
Sebagai calon Ketua Umum GP
Farmasi, jika terpilih, Tirto mengaku
telah memiliki visi mengupayakan agar
dunia industri farmasi di Indonesia ini
semakin berkembang, maju dan menjadi
bisnis andalan di dalam negeri. “Jangan
dibiarkan begini saja oleh pemerintah,”
tegasnya. (Abdul Kholis)

PMMCNEWS I

5

spesialmunas

Munas XV/2016
Harapan Panjaitan ketua bidang distribusi

Jalur Distribusi Kunci Utama Pemerataan Obat Jadi
Berbicara mengenai jalur
distribusi yang perlu sama-sama kita
ketahui, Indonesia adalah negara
dengan wilayah yang sangat luas
sekali sehingga untuk pemerataan
penyebaran obat perlu formula
regulasi yang baik antar pemerintah
dan pelaku usaha industri farmasi
Salah satu contoh kendala
yang dihadapi industri farmasi
dalam hal jalur distribusi adalah
ketidakseimbangan kesediaan obat
yang dipesan dengan ongkos biaya
kirim yang harus dikeluarkan oleh
industri farmasi dan selanjutnya
adalah mengenai kendala
pembayaran yang sangat-sangat
lambat, “bahkan ada yang sampai
tiga dan empat bulan hal ini sangat
mengganggu industri dalam hal
cashflow keuangan perusahaan”
ungkap Harapan Panjaitan ketua
bidang distribusi obat jadi
Melalui Munas ke XV 2016 yang
dilaksanakan kali ini harapannya

adalah kedepan konsistensi
pemerintah dalam hal Rencana
Kebutuhan Obat (RKO) tahunan,
budgeting yang sudah dibuat
haruslah sesuai dengan yang
direncanakan sehingga pelaku
industri farmasi dapat menyediakan
kebutuhan obat secara tepat guna
dan juga kembali lagi mengenai
proses pembayaran yang harus tepat
waktu sebab dengan pembayaran
tepat waktu akan membantu
industri farmasi menekan cashflow
yang sudah dikeluarkan
Pemerintah mulai saat ini harus
benar-benar memperhatikan
kendala distribusi yang sudah di
jabarkan sebelumnya agar industri
farmasi dapat lebih sehat dalam
pengelolaan perusahaan dan yang
paling penting adalah pemerataan
distribusi khususnya obat jadi.
(Tri Kurniawan)

GT Mulyadi ketua bidang apotik

Apotek Siap-siap Gulung Tikar
Dinamika yang selama ini terjadi
oleh industri kesehatan secara tidak
langsung berimbas ke sektor-sektor
pendukung mulai dari hulu hingga
hilir, bila kebijakan serta program
yang dikeluarkan oleh pemerintah
tidak mewakili semua elemen industri
kesehatan maka dampaknya adalah
perlahan industri tersebut akan
“gulung tikar” hal ini di ungkapkan
oleh mulyadi ketua bidang apotik
GP Farmasi Indonesia pada sesi
wawancara yang dilakukan
Sistem pelayanan kesehatan yang
dicanangkan pemerintah seperti BPJS
dan JKN saat ini tidak melibatkan
apotik didalamnya hal ini yang
sedikit merepotkan apotik dalam hal
penjualan obat, karena pasien yang
ingin menebus obat dari program
BPJS dan JKN hanya dilakukan
dirumah sakit, klinik dan puskesmas
untuk itu, apabila apotik ingin
dilibatkan dalam program tersebut
maka statusnya harus diubah menjadi
klinik sedangkan saat ini yang terjadi
6

I PMMCNEWS

adalah apotik hanya
dilibatkan sebagai
bisnis penunjang
kesehatan
Namun menghadapi
kebijakan yang serba
sulit ini upaya yang
bisa dilakukan untuk
menggairahkan
penjualan obat di
apotik adalah promosi
kesehatan dan prakesi
kesehatan agar apotik
dapat menghidupi
diri sendiri dan
menggairahkan
penjualan suplemen
dan obat di
masyarakat khususnya
apotik, ini adalah solusi sementara
yang dapat dilakukan agar penutupan
apotik tidak terus terjadi
Harapan yang diungkapkan oleh
Mulyadi pada Munas GP Farmasi
ke XV 2016 ini adalah mari samasama kita bangun bisnis Apotik agar

lebih sehat dan berubah menjadi
lebih baik sesuai tema dari Munas
GP Farmasi kali ini “paradigma baru
dalam proses pengembangan usaha
farmasi nasional untuk mewujudkan
kemandirian usaha farmasi sesuai
nawa cita”(tri hertanto kurniawan)
Pharma Materials Management Club

spesialmunas

Munas XV/2016
direktur eksekutif GP Farmasi Indonesia:

Tiga Tantangan Besar Industri Farmasi Indonesia

Setiap sektor industri memiliki
tantangan yang dihadapi. Tak terkecuali
dengan sektor industri farmasi. Menurut
Direktur Eksekutif GP Farmasi Indonesia
Darojatun Sanusi, ada tiga hal yang
dihadapi GP Farmasi Indonesia sekarang.
Pertama kewajiban industri farmasi
untuk mensukseskan jaminan kesehatan
nasional, berupa obat yang tersedia
secara merata, harganya terjangkau,
namun kualitasnya terjamin. Dan, industri
farmasi dalam negeri sudah memenuhi

hampir 90% dari kebutuhan obat untuk
suplai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Seangkan yang 10% masi dari impor yang
belum bisa diproduksi di dalam negeri
karena berbagai kondisi.
Penyebabnya, menurut dia, karena
masih paten dan teknologi belum
tersedia. Meskipun hanya 10%, namun
obat impor ini memiliki nilai yang masih
mahal.
“Nah, sekarang kebutuhan obat untuk
JKN sudah ter-cover 70 persen. Nanti kita
secara bertahap, sesuai dengan roadmap
(peta perjalanan) pada tahun 2019 harus
sudah tercapai 100 persen,” ujarnya.
Darojatun mengungkapkan, jika
pemenuhan kebutuhan obat sudah
tercapai hingga 100%, maka inilah sesuai
yang diharapkan oleh pemerintah. Dan,
inilah yang disebut univeresal health
covered atau memenuhi kebutuhankebutuhan secara universal.
Tantangan kedua adalah masalah
inovasi. Menurut Darojatun, inovasi
menjadi penting karena selaras dengan
nawa cita yang dicanangkan oleh
pemerintah. Yakni pada program kelima,
meningkatkan kualitas hidup manusia
Indonesia melalui peningkatan kualitas
pendidikan dan pelatihan dengan
program Indonesia Pintar, Indonesia Kerja

dan Indonesia Sejahtera.
Selain itu, selaras dengan program
dalam Nawa Cita ke enam, yakni
mewujudkan kemandirian ekonomi
dengan menggerakkan sektor-sektor
strategis ekonomi domestik.
Kemandirian yang dimaksud adalah
dengan kaitannya membangun industri
bahan baku obat dalam negeri. Hal ini
yang dinyatakan juga di dalam Inpres
No. 6 Tahun 2016 tentang Percepata dan
Pengembangan Industri Farmasi dan Alat
Kesehatan. Untuk bisa mensukseskan ini,
lanjut Darojatun, melibatkan sembilan
kementerian dengan tiga lembaga atau
badan yang terkait.
“Dan yang terakhir adalah selaras
dengan program ketujuh, yakni
meningkatkan produktivitas rakyat
dan daya saing di pasar internasional,”
ujarnya.
Tantangan ketiga adalah dengan adanya
Masyarakat Ekonomi Asean. Tentu saja
ini menjadi tantangan seluruh industri
farmasi dalam negeri. Untuk bisa
memenangkan persaingan di MEA, maka
industri farmasi harus memiliki daya saing
yang kuat. (Abdul Kholis)

Jonathan s, Ketua komite bahan baku

Kemandirian Bahan Baku Masih Menjadi Isu
Dalam Munas
Nawa Cita yang menjadi gaung
pemerintahan Joko Widodo dapat
diartikan dengan kemandirian dalam
segala hal, kemandirian bahan baku
obat di indonesia yang juga menjadi
isu dalam Munas GP Farmasi ke XV
tahun 2016 masih jauh panggang dari
api, hal ini diperjelas dengan 98%
bahan baku obat yang diproduksi
di indonesia masih import dari luar
negeri, Ironisnya lagi indonesia
merupakan negara dengan jumlah
tanaman obat terbanyak diseluruh
dunia, hal ini tentu berbanding
jauh dari apa yang manjadi gaung
pemerintah yaitu “Nawa Cita”
“Salah satu solusi untuk
menciptakan kemandirian adalah
merekapitulasi tanaman-tanaman
obat kesehatan yang akan menjadi
calon bahan baku obat-obatan,
mungkin ini dapat menjadi batu
lompatan industri farmasi dari pemain
pengemas bahan baku obat-obatan
menjadi negara yang berkontribusi
Pharma Materials Management Club

kepada kemandirian bahan baku” hal
ini diungkapkan Jonatan pada sesi
wawancara hari pertama Munas GP
Farmasi ke XV 2016
Memang untuk mengejar 98%
import obat menjadi 80% lokal masih
agak sulit tetapi itu sesuatu yang harus
mulai dibagun sejak saat ini seperti
halnya yang sudah dilakukan Kimia
Farma dalam hal pembangunan bahan
baku obat
Semua tantangan dalam
mewujudkan kemandirian bahan
baku memang harus segera dimulai
agar ketertinggalan negara indonesia
dalam hal bahan baku obat dapat
dikejar mulai dari sekarang kebijakan
pemerintah juga menjadi peranan
penting untuk mewujudkan Nawa Cita
Bahan Baku Obat di Indonesia.
(tri hertanto kurniawan)

PMMCNEWS I

7

Munas XV/2016

8

I PMMCNEWS

spesialmunas

Pharma Materials Management Club

spesialmunas

Pharma Materials Management Club

Munas XV/2016

PMMCNEWS I

9

Munas XV/2016

10

I PMMCNEWS

spesialmunas

Pharma Materials Management Club

spesialmunas

Munas XV/2016

CPhI South East Asia

CPhI South East Asia merupakan
pameran khusus bagi industri farmasi
yang bertujuan mempertemukan
produsen dengan suppliers industri
farmasi, memfasilitasi perniagaan
global dan menjadi wadah bagi industri
farmasi untuk menemukan solusi bagi
produksi yang efektif dan efisien.
CPhI South East Asia sangat
menghargai dukungan GP Farmasi
Indonesia. Kami yakin dapat terus
meningkatkan kerjasama dengan GP
Farmasi Indonesia dan membuka
peluang serta fasilitasi bagi industri
farmasi.
Tahun depan, CPhI South East Asia
akan diadakan pada tanggal 22-24
Maret 2017 di Jakarta International
Expo. Diharapkan, kegiatan ini akan
menghadirkan hampir 300 nama nama terbaik industri farmasi.
(maria lieu)

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

11

Munas XV/2016

12

I PMMCNEWS

spesialmunas

Pharma Materials Management Club

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful