Anda di halaman 1dari 7

A.

LATAR BELAKANG ANALISIS STANDAR BELANJA


Anggaran dalam konteks otonomi dan desentralisasi menduduki peranan
penting. Saat ini kualitas perencanaan anggaran yang digunakan masih relatif
lemah,

diikuti

penerimaan

dengan

daerah

secara dinamis
prioritas

ketidakmampuan

secara

terus

berkesinambungan,

meningkat,

dan besarnya

pemerintah

tetapi

plafon

tidak

dalam

meningkatkan

sementara

pengeluaran

disertai

anggaran,

penentuan

sehingga

skala

memungkinkan

underfinancing atau overfinancing. Untuk menghindari permasalahan yang timbul di


atas dan agar pengeluaran anggaran didasarkan pada kewajaran ekonomi, efisien,
dan efektif, maka Anggaran Daerah harus disusun berdasarkan kinerja yang akan
dicapai oleh Daerah.
Dengan

menggunakan

Anggaran

Kinerja

tersebut,

maka

Anggaran

Daerah akan lebih transparan, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu
instrumen yang diperlukan untuk menyusun Anggaran Daerah dengan pendekatan
kinerja adalah ASB.

Pengeluaran anggaran daerah harus didasarkan pada

kewajaran ekonomi, efisien, dan efektif dengan menggunakan kinerja yang akan
dicapai

oleh

daerah,

sehingga

lebih

transparan,

adil

dan

dapat

dipertanggungjawabkan.
Analisis Standar Belanja (ASB) sudah

diperkenalkan kepada Pemerintah

Daerah dalam Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Istilah yang digunakan dalam PP No. 105
tersebut

adalah

makna penilaian

Standar Analisa
kewajaran

kegiatan. Berdasarkan
Negeri

PP

Belanja

atas

beban

No.

105/2000

atau

kerja

SAB

dan

yang

biaya

tersebut

mempunyai

terhadap

Departemen

suatu
Dalam

Republik Indonesia menerbitkan pedoman operasional dalam bentuk

Kepmendagri

No.

29

Tahun

2002

tentang

Pedoman

Pengurusan,

Pertanggungjawaban Dan Pengawasan Keuangan Daerah Serta Tata Cara


Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha
Keuangan Daerah Dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan Dan
Belanja Daerah. Namun, Kepmendagri tersebut belum menunjukkan wujud/bentuk
Standar Analisa Belanja.

B. PENGERTIAN ANALISIS STANDAR BELANJA


Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan salah satu komponen yang harus
dikembangkan

sebagai

dasar

pengukuran

kinerja

keuangan

dalam

penyusunan APBD dengan pendekatan kinerja. ASB adalah standar yang


digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau biaya setiap program
atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu Satuan Kerja dalam satu tahun
anggaran.

Yang dimaksud dengan kegiatan adalah bagian dari program yang

dilaksanakan

oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD

sebagai bagian dari

pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan
tindakan pengerahan sumber daya yang berupa personil, barang modal, dana, atau
kombinasi dari beberapa atau kesemua

objek sumber

daya tersebut sebagai

masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang


atau jasa.
ASB berisikan analisis beban kerja dan analisis belanja. Analisis beban kerja
merupakan

analisis

kebutuhan-kebutuhan

jenis,

kualitas,

dan

kuantitas

sumber daya yang dibutuhkan dalam satu kegiatan tertentu. Harus dibedakan antara
sumber

daya

mandiri

dan

sumber

daya

bersama.

Untuk kepentingan

penganggaran sumber daya bersama seharusnya diabaikan untuk menghindari


double counting. Analisis belanja

adalah analis dibutuhkan untuk satu kegiatan

tertentu merupakan hasil kali kuantitas sumber daya


tertentu

dengan

harga

standar.

Harga

standar satuan harga ASB mendorong


anggaran
dicapainya

tertentu

dengan

kualitas

standar diperoleh dari hasil survey

penetapan

biaya dan

pengalokasian

kepada setiap aktivitas unit kerja menjadi lebih logis dan mendorong
efisiensi

secara

terus-menerus

karena

adanya

pembandingan

(benchmarking) biaya per unit setiap output dan diperoleh praktek-praktek terbaik
(best practices) dalam desain aktivitas.

C. MANFAAT ANALISIS STANDAR BELANJA


Penerapan ASB pada dasarnya akan memberikan manfaat sebagai berikut :

Dapat menentukan kewajaran belanja untuk melaksanakan suatu kegiatan


Meminimalisir terjadinya pengeluaran yang kurang jelas yang menyebabkan
inefisiensi anggaran

Meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan Keuangan Daerah


Penentuan anggaran berdasarkan pada tolok ukur kinerja yang jelas
Unit kerja mendapat keleluasaan yang lebih besar untuk menentukan

anggarannya sendiri
Penetapan plafon anggaran pada saat Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara

(PPAS) menjadi obyektif tidak lagi berdasarkan intuisi


Memiliki argumen yang kuat jika dituduh melakukan pemborosan
Penyusunan anggaran menjadi lebih tepat waktu
Menjembatani kesenjangan antara praktek yang berlangsung dengan kondisi

ideal yang diamanatkan oleh regulasi


Menjamin kewajaran beban kerja dan biaya yang digunakan antar SKPD

dalam melakukan kegiatan sejenis


Memudahkan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dalam melakukan

verifikasi total belanja yang diajukan dalam RKA SKPD untuk setiap kegiatan
Memudahkan SKPD dan TAPD dalam menghitung besarnya anggaran total
belanja untuk setiap jenis kegiatan berdasarkan target output yang ditetapkan
dalam RKA SKPD

D. ANALISIS PERILAKU BELANJA


Sebagian

besar

keputusan

yang

diambil

oleh

pemerintah

daerah

memerlukan informasi belanja yang didasarkan pada perilakunya. Oleh sebab itu
perlu diketahui penggolongan belanja atas dasar perilakunya. Perilaku belanja
adalah pola perubahan belanja dalam kaitannya dengan perubahan target kinerja
atau aktivitas pemerintah daerah (misalnya, jumlah peserta dan jumlah hari dalam
kegiatan bimbingan teknis). Besar kecilnya belanja dipengaruhi oleh besar
kecilnya target kinerja kegiatan atau aktivitas pemerintah daerah. Belanja dapat
digolongkan atas belanja variabel, belanja tetap dan belanja semi variabel atau
belanja semi tetap.
a. Belanja Variabel
Belanja variabel adalah belanja-belanja yang totalnya selalu berubah secara
proporsional

(sebanding)

dengan

perubahan

target

kinerja

kegiatan

pemerintah daerah. Besar-kecilnya total belanja variabel dipengaruhi oleh besarkecilnya

target

kinerja.

Belanja

variabel

total

mempunyai

perilaku selalu

berubah sesuai dengan perubahan target kerja, sedangkan belanja variabel


per unit mempunyai perilaku tetap, meskipun target kinerja berubah. Contoh jenis

belanja ini antara lain belanja sewa stand per meter persegi, belanja sewa gedung
per hari, dan lain sebagainya.
b. Belanja Tetap
Belanja tetap adalah belanja-belanja yang di dalam jarak kapasitas (range of
capacity) tertentu yang totalnya tetap, meskipun target kinerja pemerintah daerah
berubah-ubah. Sejauh tidak melampaui kapasitas, belanja tetap total tidak
dipengaruhi

oleh

besar-kecilnya

target

kinerja

pemerintah.

Jarak kapasitas

adalah serangkaian tingkat target kinerja pemerintah daerah yang dapat dicapai
tanpa menambah kapasitas. Contoh belanja tetap adalah belanja gaji pegawai.
Besar kecilnya belanja pegawai tidak dipengaruhi oleh banyak sedikitnya kegiatan
yang dilaksanakan oleh pemerintah.
c. Belanja Semi Variabel atau Belanja Semi Tetap
Belanja Semi Variabel adalah belanja-belanja yang totalnya selalu berubah tetapi
tidak

proporsional

dengan

perubahan

target

kinerja

kegiatan pemerintah.

Berubahnya belanja ini tidak dalam tingkat perubahan yang konstan. Belanja ini
dapat dikelompokkan pada yang tingkat perubahannya semakin tinggi dan tingkat
perubahannya semakin rendah. Dalam belanja semi variabel ini terkandung unsur
belanja tetap dan unsur belanja variabel.
E. FORMAT ANALISIS STANDAR BELANJA
Berdasarkan definisi ASB yang terdapat dalam PP No. 58 tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah dalam pasal 39 ayat 2B

menyebutkan bahwa

Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) dilakukan berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar
belanja, standar satuan harga, dan standar

pelayanan minimal. Berikut adalah

konten yang ada dalam format ASB:

Kode dan Nama Jenis ASB


Deskripsi
Pengendali Belanja (Cost Driver)
Satuan Pengendali Belanja Tetap (fixed cost)
Satuan Pengendali Belanja Variabel (variable cost)
Rumus Perhitungan Belanja Total
Alokasi Objek Belanja

Format ASB di desain agar dapat mengendalikan belanja sekaligus


memberikan keleluasaan/fleksibilitas kepada penggunanya. Pengendalian belanja
terlihat

pada

formula

total

belanja

dan

jumlah

macam

belanja

yang

diperkenankan, sedangkan keleluasaan tampak pada adanya batas atas dan batas
bawah dalam penentuan besaran objek belanja.
F. KONSEP PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR BELANJA
Penyusunan Analisis Standar Belanja menggunakan tiga pendekatan
utama, yaitu:
1. Pendekatan

Activity

Based Costing

(ABC)

Teknik untuk mengukur secara kuantitatif biaya dan kinerja dari satu kegiatan (the
cost and performance of activities) serta
sumber

daya

dan

biaya

teknik

mengalokasikan

penggunaan

kepada masing-masing objek biaya

(operasional

maupun administrasi) dalam satu kegiatan.


2. Pendekatan Ordinary Least

Square (regresi sederhana)

Suatu teknik yang digunakan untuk membangun


menghubungkan

antara

variabel

suatu

persamaan

yang

tidak bebas (Y) dengan variabel bebas (X)

sekaligus untuk menentukan nilai ramalan atau dugaannya. Dalam regresi


sederhana ini, variabel tidak bebas merupakan total

biaya

dari

suatu kegiatan,

sedangkan variabel bebas merupakan cost driver dari kegiatan tersebut.


3. Pendekatan metode diskusi (focused group discussion).
Pendekatan metode diskusi dalam penyusunan ASB digunakan untuk memperoleh
masukan dari SKPD tentang aktivitas dan output dari suatu kegiatan, dan juga
masukan- masukan
diharapkan dari

tentang

pendekatan

cost

driver

dari

suatu

kegiatan. Hasil yang

metode diskusi ini adalah kesepahaman tentang

aktivitas, output dan cost driver dari suatu kegiatan antara penyusun dan SKPD
dalam penyusunan ASB.
G. TAHAP PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR BELANJA
Penyusunan ASB mencakup beberapa tahapan sebagai berikut:

Tahap Pengumpulan Data


Tahap Penyetaraan Kegiatan

Tahap Pembentukan Model


Dalam

penyusunan ASB,

ada

beberapa

prinsip

dasar

yang

harus

bertujuan membuat

model

diperhatikan pemerintah daerah yaitu :


1. Penyederhanaan (modeling). Penyusunan

ASB

belanja untuk objek-objek kegiatan yang menghasilkan output yang sama.


2. Mudah diaplikasikan. Model yang dibuat mudah diaplikasikan, atau tidak
membuat susah yang menggunakan model tersebut.
3. Mudah diup-date. Model yang dibuat mudah untuk diperbaharui, dalam arti jika
ditambahkan data-data baru tidak merubah formula model tersebut secara
keseluruhan.
4. Fleksibel, dalam hal ini model yang dibuat menggunakan konsep belanja rata
rata dan memiliki batas minimum belanja dan batas maksimum belanja.
H. PENYESUAIAN ANALISIS STANDAR BELANJA
Terdapat beberapa kondisi di Pemerintah Daerah yang menyebabkan untuk
dilakukannya

pemutakhiran

(update)

ASB

yang

sudah

ada.

Kondisi

tersebut antara lain adalah inflasi/deflasi, kebijakan pemerintah atau kebijakan


pemerintah daerah, maupun gabungan antara keduanya.
1. Penyesuaian Inflasi/Deflasi
Inflasi/deflasi menyebabkan perubahan pada harga barang dan jasa yang berlaku di
pasar secara bersama-sama. Inflasi mengakibatkan harga barang dan jasa naik
secara bersama-sama, sedangkan deflasi mengakibatkan harga

barang

jasa

inflasi/deflasi

akan

turun

secara

bersama-sama.

mengakibatkan

ASB

yang

Tentunya
sudah

dengan adanya

dan

disusun sebelumnya menjadi tidak

relevan lagi.
2. Kebijakan Pimpinan Daerah
Seringkali

Kepala Daerah dan atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)

menetapkan

kebijakan

yang

mengakibatkan

terjadinya penyesuaian tarif

belanja. Misalnya kebijakan menaikkan standar honor, standar

perjalanan

dinas,

dan

lain

sebagainya.

Kebijakan-kebijakan tersebut

tentunya

akan

berpengaruh terhadap ASB. ASB yang lama tentunya perlu untuk disesuaikan.
Contoh lain kebijakan Kepala Daerah adalah ketika Kepala Daerah meyakini bahwa
telah terjadi pemborosan pada tahun-tahun lalu. Akibatnya, ASB perlu untuk
disesuaikan.
3. Penyesuaian Gabungan Antara Inflasi/Deflasi dan Kebijakan Pimpinan Daerah
Penyesuaian

ASB

juga

dapat

diakibatkan

karena

gabungan

antara

kebijakan Kepala daerah dan inflasi/deflasi . Misalnya inflasi yang terjadi adalah
sebesar 15 % dan kebijakan Kepala Daerah menaikkan standar harga honor dan
standar harga perjalanan

dinas sebesar 10

penyesuaian

melakukan

adalah

%. Maka, langkah-langkah

penyesuaian

terhadap inflasi,

deflasi/pemborosan terlebih dahulu, kemudian hasilnya disesuaikan


perubahan kebijakan.

dengan