Anda di halaman 1dari 22

BORANG PORTOFOLIO ANAK

Nama Peserta
Nama Wahana
Topik
Tanggal (Kasus)
Nama Pasien
Tanggal Presentasi

Dr. Fernia Stevani


RSUD SOE
Bronkiolitis
01 Mei 2016
An. Sepriana Nubatonis

No RM
Nama
Pendamping

005940
dr. Adryani Ottu
dr. Dodik Pudjo

Tempat Presentasi
Obyektif Presentasi
Deskripsi
Tujuan

Anak Perempuan, usia 8 Bulan , Bronkiolitis


Menentukan diagnosis dan klasifikasi serta melakukan tatalaksana awal
dan juga lanjutan dari Bronkiolitis
Bahan Bahasan
Kasus
Cara Membahas
Presentasi dan Diskusi
Data Pasien
Nama: An. Sepriana Nubatonis
Nomor
005940
Registrasi:
Nama Klinik: IGD RSUD Soe
Terdaftar Sejak:
Data utama untuk bahan diskusi
1. Diagnosis/Gambaran Klinis
Anak S, 8 bulan dtang ke IGD Rsud Soe dengan keluahan sesak sejak 4 hari yang lalu, sesak
disertai dengan batuk, batuk berdahak + , lender sulit keluar. Demam disangkal, Mual (-),
Muntah (-), Mencret (-), Kejang (-), Penurunan berat badan (-). Riwayat alergi disangkal.
Riawayat imunisasi menurut ibu pasien lengkap.
2. Riwayat Pengobatan
Belum minum obat sama sekali.
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit
Tidak pernah menderita penyakit berat sebelumnya. Pasien baru pertama kali seperti ini.
4. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak kedua dari 2 bersaudara. Pasien lahir normal di klinik dan ditolong
oleh bidan. Setelah lahir pasien langsung menangis. Pertumbuhan dan perkembangan pasien
dirasakan normal oleh keluarganya. Berat badan serta panjang badan sewaktu lahir tidak ingat.
5. Riwayat Pekerjaan
Pasien belum bekerja
6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik
Pasien tinggal di sebuah rumah yang berisi 7 orang, yaitu ayah, ibu,nenek, kakak, dan 2 orang
sepupu pasien. Pasien tidur di 1 kamar bersama dengan ayah, ibu, dan kakaknya di kamar tidur
dengan 2 buah jendela.
7. Riwayat Imunisasi
Riwayat imunisasi lengkap
-

Lain lain

Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum: tampak sakit sedang
- Berat Badan :7,2kg,
- Kesadaran: compos mentis
- Nadi: 106 kali per menit, kuat angkat, Laju pernapasan: 50 kali per menit, Suhu: 37oC
Kepala :
Bentuk normal, rambut berwarna hitam, terdistribusi merata, tidak mudah dicabut, tidak teraba
benjolan.
Mata :
Bentuk normal, kedudukan kedua bola mata simetris, palpebra superior et inferior tidak edema,
konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil bulat dan isokor.
Telinga :
Bentuk normal, Meatus Akustikus Eksterna lapang, sekret -/-, serumen -/Hidung :
Sekret (-), hipertrofi konka inferior (-), konka pucat (-)
Mulut :
Bentuk normal, sianosis (-), bibir tidak kering, lidah tidak kotor, faring tidak hiperemis.
Leher
Bentuk normal, Kelenjar Tiroid dan Kelenjar Getah Bening tidak teraba membesar.
Thorax anterior
Paru
Inspeksi

: Bentuk normal, gerak simetris dalam statis dan dinamis, retraksi subcostae (+)

Palpasi

: Taktil fremitus kanan kiri sama kuat

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru.

Auskultasi

: Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing +/+

Jantung
Inspeksi : Ichtus cordis terlihat di sela iga V garis midklavikula kiri

Palpasi : Ictus cordis teraba di sela iga V garis midklavikula kiri


Perkusi : Sulit dinilai
Auskultasi : BJ I & BJ II regular. Murmur (-). Gallop (-)
Thorax posterior
Inspeksi : Bentuk simetris, lordosis (-), kifosis (-), skoliosis (-) gerak nafas simetris saat statis
dan dinamis
Palpasi : Vokal fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor dikedua lapang paru
Auskultasi : SN vesikuler, Ronki -/-, wheezing -/Abdomen
Inspeksi : datar, supel, scar (-)
Palpasi : supel.
Perkusi : timpani
Auskultasi : BU (+)
Anggota Gerak
Lengan
Depan

Belakang

Otot
-

Tonus

Massa

Sendi

Normotonus
Eutrofi

Normptonus
Eutrofi

Normal

Normal

Gerakan

Aktif

Aktif

Kekuatan

Sulit dinilai

Sulit dinilai

Lain-Lain

Tungkai Dan Kaki


Depan

Belakang

Luka

Varises

- Tonus

Normotonus

Normotonus

- Massa

Eutrofi

Eutrofi

Sendi

Normal

Aktif

Gerakan

Aktif

Aktif

Kekuatan

Edema

Lain-Lain

Otot

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah

Nilai
Rujukan
01/05/16

Hgb (g/dl)

13,5

11,0-14,7

Hct (%)

37.1

35,2-46,7

Rbc (106/uL)

4.13

3,69-5,46

Wbc (103/uL)

8.71

3,37-8,38

Plt (103/uL)

451

172-378

GDS (mg/dl)

142

<200

Tatalaksana:
- Rawat bangsal
- O2 nasal kanul 3 lpm
- IVFD D5 NS 30 tpm micro
- Ampicillin 4x 150mg IV
- Nebulizer combivent/8 jam
- Inj dexamethasone 3mg, dilanjutkan 3x1mg
- Ambroxol syr 3 x cth
- Observasi tanda vital
- Diet tinggi kalori, tinggi protein
Daftar Pustaka
1. Rahajoe Nastiti N, Bambang Supriyatno, Darmawan Budi Setyanto. Buku Ajar Respirologi
Anak. Edisi Pertama. Jakarta : Badan Penerbit IDAI. 2008. Hal : 333-347.
2. Pusponegoro Hardiono D, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi Pertama.
Jakarta : Badan Penerbit IDAI.2005. Hal : 348-350..

3. Mereinstein Gerald B, David W Kaplan, Adam A Rosenberg. Buku Pegangan Pediatri. Edisi

17. Jakarta : Penerbit Widya Medika. 2002. Hal :506-507.


4. Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Nelson Textbook of Pediatric. Edisi ke-16.

Philadelphia : WB Saunders, 2000.Hal : 1112-1114; 1484-1486.


5. Garna H Herry. Pedoman Diagnosis Ilmu Kesehatan Anak. Bandung : Penerbit FK Unpad.
2005. Hal : 400-402.
Hasil Pembelajaran
1. Menentukan diagnosis Bronkiolitis
2. Tatalaksana awal dan lanjut Bronkiolitis

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

Keluhan Utama :
An. S, 8 bulan, sesak 4 hari.
Riwayat Penyakit Sekarang :

An. S, 8 bulan, datang dengan sesak 4 hari, sesak disertai batuk. Batuk berdahak, dahak sulit
keluar. Demam disangkal. Mual(-), muntah(-), mencret(-). Kejang (-). Penurunan berat badan (-).
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien tidak pernah sesak sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga:
Dikeluarga pasien tidak adayang menderita asma.
1. Objektif
a. Keadaan Umum: sesak
b. Kesadaran: Compos Mentis
c. Vital sign:
- Nadi: 106x/menit, kuat angkat
- RR: 50x/menit
- Suhu: 37oC
d. BB : 7,2kg
e. Status generalis:
Kepala :
Bentuk normal, rambut berwarna hitam, terdistribusi merata, tidak mudah dicabut, tidak teraba
benjolan.
Mata :
Bentuk normal, kedudukan kedua bola mata simetris, palpebra superior et inferior tidak edema,
konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil bulat dan isokor.
Telinga :
Bentuk normal, Meatus Akustikus Eksterna lapang, sekret -/-, serumen -/-

Hidung :
Sekret (-), hipertrofi konka inferior (-), konka pucat (-)
Mulut :
Bentuk normal, sianosis (-), bibir tidak kering, lidah tidak kotor, faring tidak hiperemis.
Leher
Bentuk normal, Kelenjar Tiroid dan Kelenjar Getah Bening tidak teraba membesar.

Thorax anterior
Paru
Inspeksi

: Bentuk normal, gerak simetris dalam statis dan dinamis, retraksi subcostae
(+)

Palpasi

: Taktil fremitus kanan kiri sama kuat

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru.

Auskultasi

: Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing +/+

Jantung
Inspeksi : Ichtus cordis terlihat di sela iga V garis midklavikula kiri
Palpasi : Ictus cordis teraba di sela iga V garis midklavikula kiri
Perkusi : Sulit dinilai
Auskultasi : BJ I & BJ II regular. Murmur (-). Gallop (-)

Thorax posterior
Inspeksi : Bentuk simetris, lordosis (-), kifosis (-), skoliosis (-) gerak nafas simetris saat statis
dan dinamis
Palpasi : Vokal fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor dikedua lapang paru
Auskultasi : SN vesikuler, Ronki -/-, wheezing -/-

Abdomen
Inspeksi : datar, supel, scar (-)
Palpasi : supel.
Perkusi : timpani
Auskultasi : BU (+)
Anggota Gerak
Lengan

Depan

Belakang

Otot
-

Tonus

Massa

Normotonus
Eutrofi

Sendi

Normptonus
Eutrofi

Normal

Normal

Gerakan

Aktif

Aktif

Kekuatan

Sulit dinilai

Sulit dinilai

Lain-Lain

Tungkai Dan Kaki


Depan

Belakang

Luka

Varises

- Tonus

Normotonus

Normotonus

- Massa

Eutrofi

Eutrofi

Sendi

Normal

Aktif

Gerakan

Aktif

Aktif

Kekuatan

Edema

Lain-Lain

Otot

Laboratorium:
Pemeriksaan Darah

Nilai
Rujukan
01/05/16

Hgb (g/dl)

13,5

11,0-14,7

Hct (%)

37.1

35,2-46,7

Rbc (106/uL)

4.13

3,69-5,46

Wbc (103/uL)

8.71

3,37-8,38

Plt (103/uL)

451

172-378

GDS (mg/dl)

142

<200

2. Assesment
PENDAHULUAN
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ialah infeksi akut yang dapat terjadi di setiap
tempat di sepanjang saluran pernapasan dan adneksanya (telinga tengah, kavum pleura dan
sinus paranasalis). Secara anatomic ISPA dikelompokkan menjadi ISPA-atas misalnya batukpilek, faringitis, tonsillitis, dan ISPA-bawah seperti bronchitis, bronkiolitis dan pneumonia.
ISPA-atas jarang menimbulkan kematian walaupun insidennnya jauh lebih tinggi
dibandingkan ISPA-bawah.
Pneumonia dan bronkiolitis yang merupakan bagian dari ISPA-bawah banyak
menimbulkan kematian, sehingga berperan besar dalam tingginya angka kematian bayi.
Setiap tahun diperkirakan 4 juta anak balita meninggal akibat ISPA (terutama akibat
pneumonia dan bronkiolitis) di negara berkembang. Bronkiolitis sendiri merupakan suatu
penyakit infeksi akut tersering pada usia kurang dari 2 tahun yang menimbulkan obstruksi
inflamasi pada saluran napas kecil (bronkiolus). Penyebab tersering dari bronkiolitis adalah
virus Respiratory Syncytical (RSV). Secara klinis bronkiolitis akut sukar dibedakan dengan
pneumonia bakteri. Dan karena mempunyai gejala obstruksi saluran napas, secara klinis
sukar dibedakan dengan serangan asma. Bronkiolitis pada masa bayi dapat menimbulkan
dampak pada saluran napas berupa batuk, wheezing dan hiperreaktivitas sampai beberapa
tahun kemudian.
DEFINISI1,4
Bronkiolitis adalah penyakit infeksi respiratorik akut-bawah yang ditandai dengan
adanya inflamasi pada bronkiolus. Umumnya infeksi disebabkan oleh virus. Penyakit ini
terjadi selama usia 2 tahun pertama dengan insidens puncaknya pada sekitar usia 6 bulan.
Secara klinis ditandai dengan episode wheezing, nafas cepat dan retraksi dada.
EPIDEMIOLOGI1,4,6
Bronkiolitis merupakan infeksi saluran respiratori tersering pada bayi. Paling sering
terjadi pada usia 2-24 bulan, puncaknya terjadi pada usia 2-8 bulan. Sembilan puluh lima
persen kasus terjadi pada anak berusia di bawah 2 tahun dan 75 % diantaranya terjadi pada
anak berusia di bawah 1 tahun.
Orenstein menyatakan bahwa bronkiolitis paling sering terjadi pada bayi laki-laki
berusia 3-6 bulan yang tidak mendapat ASI dan hidup di lingkungan padat penduduk. Selain
Orenstein, Louden menyatakan bahwa bronkiolitis terjadi 1,25 kali lebih banyak pada anak

laki-laki daripada anak perempuan. Dominasi pada anak laki-laki yang dirawat juga
disebutkan oleh Shay, yaitu 1,6 kali lebih banyak daripada anak perempuan, sedangkan
Fjaerli menyebutkan 63 % kasus bronkiolitis adalah laki-laki.
Sebanyak 11,4% anak berusia di bawah 1 tahun dan 6% anak berusia 1-2 tahun di AS
pernah mengalami bronkiolitis. Penyakit ini menyebabkan 90.000 kasus perawatan di RS dan
menyebabkan 4500 kematian setiap tahunnya. Bronkiolitis merupakan 17 % dari semua kasus
perawatan di RS pada bayi. Frekuensi bronkiolitis di Negara-negara berkembang hampir
sama dengan di AS. Insidens terbanyak terjadi pada musim dingin atau musim hujan di
Negara-negara tropis. Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr. Soetomo Surabaya pada
tahun 2002 dan tahun 2003, bronkiolitis banyak didapatkan pada bulan Januari sampai bulan
Mei .
Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi di Negara-negara berkembang daripada
di Negara-negara maju. Hal ini mungkin disebabkan oleh rendahnya status gizi dan ekonomi,
kurangnya tunjangan medis, serta kepadatan penduduk di Negara berkembang. Angka
mortalitas di negara berkembang pada anak-anak yang dirawat adalah 1-3 %.
ETIOLOGI
Penyebab utama dari bronkiolitis adalah infeksi repiratory syncytical virus (RSV) yang
memilki morbiditas dan mortalitas tinggi, terutama pada anak dengan risiko tinggi dan
imnunokompromise. Sekitar 95 % dari kasus-kasus tersebut secara serologis terbukti
disebabkan oleh invasi RSV. Orenstein menyebutkan pula beberapa penyebab lain seperti
Adenovirus, virus influenza, virus parainfluenza, Rhinovirus dan mikoplasma. Tidak ada
bukti yang kuat bahwa bakteri menyebabkan bronkiolitis.
Virus RSV lebih virulen daripada virus lain dan menghasilkan imunitas yang tidak
bertahan lama. Infeksi ini pada orang dewasa tidak menimbulkan gejala klinis. RSV adalah
golongan paramiksovirus dengan bungkus lipid serupa dengan virus parainfluenza, tetapi hanya
mempunyai satu antigen permukaan berupa glikoprotein dan nukleokapsid RNA helik linear.
Tidak adanya genom yang bersegmen dan hanya mempunyai satu antigen bungkus berarti
bahwa komposisi antigen RSV relatif stabil darI tahun ke tahun.
FAKTOR RISIKO
Bronkiolitis sering mengenai anak usia dibawah 2 tahun dengan insiden tertinggi pada
bayi usia 6 bulan. Makin muda usia bayi menderita bronkiolitis biasanya akan makin berat
penyakitnya. Bayi yang menderita bronkiolitis berat mungkin oleh karena kadar antibodi
maternal (maternal neutralizing antibody) yang rendah. Selain usia, bayi dan anak dengan

penyakit jantung bawaan, bronchopulmonary dysplasia, prematuritas, kelainan neurologis


dan immunocompromized mempunyai resiko yang lebih besar untuk terjadinya penyakit
yang lebih berat. Insiden infeksi RSV sama pada laki-Iaki dan wanita, namun bronkiolitis
berat lebih sering terjadi pada laki-Iaki. Selain itu, faktor resiko terjadinya bronkiolitis adalah
status sosial ekonomi yang rendah, jumlah anggota keluarga yang besar, perokok pasif, dan
berada pada tempat penitipan anak atau tempat dengan lingkungan yang padat penduduk.
PATOFISIOLOGI
Infeksi virus pada epitel bersilia bronkiolus menyebabkan respons inflamasi akut,
ditandai dengan obstruksi bronkiolus akibat edema, sekresi mukus, timbunan debris selular/
sel-sel mati yang terkelupas, kemudian diikuti dengan infiltrasi limfosit peribronkial dan
edema submukosa. Karena tahanan aliran udara berbanding terbalik dengan diameter
penampang saluran respiratori, maka sedikit saja penebalan mukosa akan memberikan
hambatan aliran udara yang besar, terutama pada bayi yang memilki penampang saluran
respiratori yang kecil. Resistensi pada bronkiolus meningkat selama fase inspirasi dan
ekspirasi, akan tetapi karena radius saluran respiratori lebih kecil selama ekspirasi, maka akan
menyebabkan air tapping dan hiperinflasi. Ateletaksis dapat terjadi pada saat terjadi obstruksi
total dan udara yang terjebak diabsorbsi.
Proses patologis ini akan mengganggu pertukaran gas normal di paru. Penurunan
kerja ventilasi paru akan menyebabkan ketidakseimbangan ventilasi perfusi yang berikutnya
akan menyebabkan terjadinya hipoksemia dan kemudian terjadi hipoksia jaringan. Retensi
karbondioksida (hiperkapnea) tidak selalu terjadi. Semakin tinggi laju respiratori, maka
semakin rendah tekanan oksigen arteri. Kerja pernapasan akan meningkat selama end
expiratory lung volume meningkat dan compliance paru menurun. Hiperkapnea biasanya
baru terjadi bila respirasi 60x/menit.
Pemulihan sel epitel paru tampak setelah 3-4 hari, tetapi silia akan diganti setelah dua
minggu. Jaringan mati (debris) akan dibersihkan oleh makrofag.
Berbeda dengan bayi, anak besar dan orang dewasa dapat mentolerir edema saluran
napas lebih baik, oleh karena itu pada anak besar dan dewasa jarang terjadi bronkiolitis bila
terserang infeksi virus saluran napas.
MANIFESTASI KLINIS
Mula-mula menderita gejala ISPA atas ringan berupa pilek yang encer dan bersin.
Gejala ini kadang disertai demam dan nafsu makan berkurang. Kemudian satu atau dua hari
kemudian timbul distres nafas yang ditandai oleh batuk paroksismal, wheezing dan sesak
napas. Bayi-bayi akan menjadi rewel, muntah serta sulit makan dan minum.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan distres nafas dengan frekuensi nafas diatas 50- 60
kali per menit (takipnea), kadang disertai sianosis, nadi juga biasanya meningkat (takikardi).
Suhu badan bisa normal atau meningkat tinggi sampai 41 C. Terdapat nafas cuping hidung,
penggunaan otot bantu pernafasan dan retraksi interkostal, subkostal dan suprasternal.
Retraksi biasanya tidak dalam karena adanya hiperinflasi paru (terperangkapnya udara dalam
paru). Terdapat ekspirasi yang memanjang , wheezing yang dapat terdengar dengan ataupun
tanpa stetoskop, serta terdapat crackles. Pada auskultasi dapat didapatkan rhonki basah halus
nyaring pada akhir atau awal ekspirasi. Suara perkusi paru hipersonor. Hepar dan lien dapat
teraba dibawah tepi kosta akibat pendorongan diafragma karena tertekan oleh paru yang
hiperinflasi. Sering terjadi hipoksia dengan saturasi oksigen <92% pada udara kamar. Pada
beberapa pasien dengan bronkiolitis didapatkan konjungtivitis ringan, otitis media serta
faringitis.

KLASIFIKASI
Klasifikasi bronkiolitis berdasarkan gejala klinis
Keparahan
Ringan

Sedang

Tanda
Anak sadar, warna kulit merah muda

Dapat makan dengan baik

Saturasi oksigen > 90%. Saturasi oksigen diketahui dengan alat

sederhana di kantor dokter atau RS


Salah satu di antara:

Kesulitan makan

Lemah

Kesulitan bernapas, digunakannya otot-otot bantu pernapasan

Adanya kelainan jantung atau saluran napas

Saturasi oksigen < 90%

Usia kurang dari enam bulan


Seperti kriteria untuk kategori sedang, namun:

Berat

mungkin tidak membaik dengan pemberian oksigen

menunjukkan episode terhentinya napas

menunjukkan tanda kelelahan otot pernapasan atau terkumpulnya

terlalu banyak karbon dioksida dalam tubuh.


PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Pemeriksaan darah tepi tidak khas, jumlah leukosit berkisar antara 5000-24000 sel/l.
-

Pada keadaan leukositosis, batand dan PMN banyak ditemukan.


Analisis Gas Darah : hiperkapnia sebagai tanda dari air tapping, asidosis metabolik atau
respiratorik.
Analisa gas darah (AGD) diperlukan untuk anak dengan gangguan pernafasan berat,
khususnya yang membutuhkanventilator mekanik, gejala kelelahan dan hipoksia.

Foto Thorak diindikasikan pada :


o

Pasien yang diperkirakan memerlukan perawatan lebih

Pasien dengan pemburukan klinis yang tidak terduga

Pasien dengan penyakit jantung dan paru yang mendasari.

Rontgen thoraks AP dan lateral dapat terlihat gambaran hiperinflasi paru dengan diameter
anteroposterior membesar pada foto lateral disertai dengan diafragma datar, penonjolan
ruang retrosternal dan penonjolan ruang interkostal. Dapat terlihat bercak konsolidasi
yang tersebar pada sekitar 30 % penderita dan disebabkan oleh ateletaksis akibat
-

obstruksi atau karena radang alveolus.


Identifikasi virus dengan memeriksa sekresi nasal dengan menggunakan tekhnik

imunofluoresens atau enzyme linked immunosorbent assay (ELISA)


Histopatologi: hipertrofi dan timbunan infiltrat meluas ke peribronkial, destruksi dan
deorganisasi jaringan otot dan elastis dinding mukosa. Terminal bronkiolus tersumbat dan
dilatasi. Alveoli overdistensi, atelektasis dan fibrosis. Sensifitas pemeriksaan ini adalah

80-90%.
DIAGNOSIS
Diagnosis bronkiolitis berdasarkan gambaran klinis, umur penderita dan adanya
epidemi RSV di masyarakat . Kriteria bronkiolitis terdiri dari: (1) wheezing pertama kali, (2)
umur 24 bulan atau kurang, (3) pemeriksaan fisik sesuai dengan gambaran infeksi virus
misalnya batuk, pilek, demam dan (4) menyingkirkan pneumonia atau riwayat atopi yang
dapat menyebabkan wheezing.
Tes laboratorium rutin tidak spesifik. Hitung lekosit biasanya normal. Pada pasien
dengan peningkatan lekosit biasanya didominasi oleh PMN dan bentuk batang. Analisa gas
darah dapat menunjukkan adanya hipoksia akibat V/Q mismatch dan asidosis metabolik jika
terdapat dehidrasi.

Gambaran radiologik mungkin masih normal bila bronkiolitis ringan. Umumnya


terlihat paru-paru mengembang (hyperaerated). Bisa juga didapatkan bercak-bercak yang
tersebar, mungkin atelektasis (patchy atelectasis ) atau pneumonia (patchy infiltrates). Pada
x-foto lateral, didapatkan diameter AP yang bertambah dan diafragma tertekan ke bawah.
Pada pemeriksaan x-foto dada, dikatakan hyperaerated apabila kita mendapatkan: siluet
jantung yang menyempit, jantung terangkat, diafragma lebih rendah dan mendatar, diameter
anteroposterior dada bertambah, ruang retrosternal lebih lusen, iga horisontal, pembuluh
darah paru tampak tersebar.
Untuk menentukan penyebab bronkiolitis, dibutuhkan pemeriksaan aspirasi atau
bilasan nasofaring. Pada bahan ini dapat dilakukan kultur virus tetapi memerlukan waktu
yang lama, dan hanya memberikan hasil positif pada 50% kasus. Ada cara lain yaitu dengan
melakukan pemeriksaan antigen RSV dengan menggunakan cara imunofluoresen atau
ELISA. Sensitifitas pemeriksaan ini adalah 80-90%.

DIAGNOSIS BANDING
Asma bronchial
Terdapat riwayat keluarga asma, episode berulang pada bayi yang sama, mulainya
mendadak tanpa infeksi yang mendahului, ekspirasi sangat memanjang, eosinofilia
dan respons perbaikan segera pada pemberian satu dosis albuterol aerosol.

Pneumonia
Aspirasi benda asing
Refluks gastroesophageal
Sistik fibrosis
Miokarditis

KOMPLIKASI
Komplikasi dari bronkiolitis sangat minimal dan tergantung dari penatalaksanaan
penyakit sebelumnya. Pada beberapa kasus didapatkan adanya gangguan fungsi paru yang
menetap, dimana timbulnya whezing berulang dan hiperaktifitas bronkial. Beberapa
studi kohort menghubungkan infeksi bronkiolitis akut berat pada bayi akan berkembang
menjadi asma. Suau studi kohort prospektif menemukan bahwa 23 % bayi dengan

riwayat bronkhiolitis berkembang menjadi asma pada usia 3 tahun, dibandingkan


dengan 1 % pada kelompok kontrol.
PENATALAKSANAAN
Infeksi virus RSV biasanya sembuh sendiri (self limited) sehingga sebagian
besar

tatalaksana

bronkiolitis

pada

bayi

oksigen, minimal handling pada bayi,

bersifat

cairan

suportif,

yaitu

pemberian

intravena dan kecukupan cairan,

penyesuaian suhu lingkungan agar konsumsi oksigen minimal, tunjangan respirasi bila perlu,
dan nutrisi. Setelah itu barulah digunakan bronkodilator, antiinflamasi seperti kortikosteroid,
antiviral

seperti

ribavirin,

dan

pencegahan

dengan

vaksin

RSV,

RSV

immunoglobuline(polyclnal) atau humanized RSV monoclonal antibody (palvizumad).


Bronkiolitis ringan biasanya bisa rawat jalan dan perlu diberikan cairan peroral yang
adekuat.

Bayi

dengan

bronkiolitis

sedang

sampai

berat

harus

dirawat

inap.

Penderita resiko tinggi harus dirawat inap, diantaranya: berusia kurang dari 3
bulan,

prematur,

kelainan

jantung,

kelainan

neurologi,

penyakit

paru

kronis,

defisiensi imun dan distres napas.


Manajemen dasar pengobatan bronkiolitis adalah meyakinkan pasien secara klinis
stabil, oksigenasi baik dan hidrasi baik.
Manfaat utama dari rawat inap bagi pasien dengan akut bronkiolitis adalah :
-

Dapat melakukan pengawasan terhadap status klinis

Dapat melakukan pemantauan saluran nafas (melalui penempatan posisi, pengisapan dan
pembersihan cairan).

Dapat melakukan pemantauan hidrasi cairan tubuh yang adekuat

Dapat memberikan edukasi kepada orang tua.

Mendeteksi dan mengobati komplikasi yang mungkin timbul

Mencegah penyebaran infeksi terhadap pasien lain dan pegawai

Melakukan pengobatan menggunakan antivirus yang spesifik jika terdapat indikasi.

Indikasi-indikasi untuk perawatan di rumah sakit :


-

Tanda klinis gangguan pernafasan atau tanda kelelahan

Apnoe

Ketidakmampuan untuk makan

Hypoksemia

Pasien dengan kondisi dasar medis.

Pengobatan Suportif
A. Pengawasan
Untuk pasien yang dirawat inap penting dilakukan pengawasan sistem jantung paru dan
jika ada indikasi dilakukan pemasanag pulse oxymetri.
B.

Oksigenasi
Oksigenasi sangat penting untuk menjaga jangan sampai terjadi hipoksia, sehingga
memperberat penyakitnya. Hipoksia terjadi akibat gangguan perfusi ventilasi paru-paru.
Pemberian oksigen tambahan direkomendasikan ketika saturasi oksigen menetap
dibawah 91% dan dihentikan ketika saturasi oksigen menetap diatas 94%.
Oksigenasi dengan kadar oksigen 30 40 % sering digunakan untuk mengoreksi
hipoksia,
masker

gunakan
muka

nasal

kanul

kotak

kepala.

atau

(dengan
Jika

kecepatan

mungkin

maksimun

gunakan

oksigen

2L/m);
yang

dilembabkan. Jika hipoksemia menetap dengan atau tanpa distress berat, meskipun
sudah diberikan oksigen dengan kecepatan tinggi, maka segera lakukan permintaan
untuk penangan ICU anak dengan pemasangan ventilator.
C.

Pengaturan Cairan
Pemberian cairan sangat penting untuk mencegah dehidrasi akibat keluarnya cairan
lewat evaporasi, karena pernafasan yang cepat dan kesulitan minum. Jika tidak terjadi
dehidrasi diberikan cairan rumatan. Berikan tambahan cairan 20 % dari kebutuhan
rumatan jika didapatkan demam yang naik turun atau menetap (suhu > 38,5 0C). Cara
pemberian cairan ini bisa secara intravena atau pemasangan selang nasogastrik. Akan
tetapi harus hati-hati pemberian cairan lewat lambung karena dapat terjadi aspirasi dan
menambah sesak nafas, akibat lambung yang terisi cairan dan menekan diafragma ke
paru-paru.

Selain

itu

harus

dicegah

terjadinya

overload

cairan.

Lakukan pemeriksaan serum elektrolit dan jika mendapatkan nilai yang tidak
normal lakukan penggantian dengan cairan elektrolit.
-Bayi > 1 bulan : infus dekstrose 10% : NaCL 0,9% = 3:1 + KCl 10 mEq/500 ml cairan
-Neonatus : infus dekstrose 10 % : NaCl 0,9 % = 4:1 + KCl 10 mEq/500 ml
Pengobatan Medikamentosa
A. Antivirus (Ribavirin)
Bronkiolitis paling banyak disebabkan oleh virus sehingga ada pendapat untuk
mengurangi beratnya penyakit dapat diberikan antivirus.

Ribavirin adalah obat antivirusyang bersifat virus statik. The American of Pediatric
merekomendasikan penggunaan ribavirin pada keadaan diperkirakan penyakitnya
menjadi

lebih

berat

seperti

pada

penderita

bronkiolitis

dengan

kelainan

jantung, fibrosis kistik, penyakit paru-paru kronik, immunodefisiensi, dan pada


bayi-bayi

premature. Ada

beberapa

penelitian

prospektif

tentang

penggunaan

ribavirin pada penderita bronkiolitis dengan penyakit jantung dapat menurunkan


angka kesakitan dan kematian jika diberikan pada saat awal.
Penggunaan ribavirin biasanya dengan cara nebulizer aerosol 12-18 jam per hari atau
dosis kecil dengan 2 jam 3 x/hari.
B. Bronkodilator
Secara umum jangan gunakan bronkodilator pada pasien anak dengan usia dibawah 6
bulan. Bronkodilator juga tidak dianjurkan dan sebetulnya merupakan kontra indikasi
karena dapat memperberat keadaan anak. Penderita dapat menjadi lebih gelisah dan
keperluan oksigen akan meningkat.
Wohl dan Chernick menyatakan bahwa penyebab obstruksi saluran respiratory adalah
inflamasi dan penyempitan akibat edema mukosa dan sumbatan mukosa, serta kolapsnya
saluran respiratori kecil pada bayi dengan bronkiolitis, sehingga pendekatan logis terapi
adalah kombinasi -adrenergik dan agonis -adrenergik.
Kelebihan epinefrin dibandingkan dengan bronkodilator -adrenergik selektif adalah :
-

Kerja konstriktor -adrenergik yang merupakan dekongestan mukosa, membatasi


absorbsinya dan mengatur aliran darah pulmoner, dengan sedikit efek pada ventilation
perfusing matching.

Relaksasi otot bronkus karena efek -adrenergik

Kerja -adrenergik menekan pelepasan mediator kimiawi

Efek fisiologik antihistamin yang melawan efek histamin seperti edema

Mengurangi sekresi kataral.

Betaagonis masih sering digunakan dengan alasan 15 25 % pasien bronkiolitis


nantinya akan menjadi asma. Inhalasi 2-agonis diberikan satu kali sebagai trial dose.
Karena efek akan tampak dalam 1 jam, maka dosis ulangan akan diberikan bila pasien
menunjukkan perbaikan klinis fungsi paru yang jelas dan menetap.
C. Kortikosteroid

Untuk pasien rawat jalan dengan akut bronkiolitis pemberian steroid sistemik mungkin
dapat dipertimbangkan tetapi total pemberian tidak lebih dari 5 hari. Dapat diberikan
deksametason 0,5 mg/kgBB dilanjutkan 0,5 mg/kgBB/hari dibagi 3-4 dosis.
Untuk pasien rawat inap steroid sistemik tidak rutin diberikan. Sedangkan
untuk penanganan pasien pada intensive care unit dengan bronkiolitis berat pemberian
steroid sistemik dapat dipertimbangkan. Sedangkan pemberian steroid inhalasi
(budesonide & Fluticasone) sangat sedikit evidence based yang merekomendasikan.
D. Antibiotik
Pemberian antibiotik biasanya tidak diperlukan pada penderita bronkiolitis, karena
sebagian besar disebabkan oleh virus, kecuali jika ada tanda-tanda infeksi sekunder dapat
diberikan antibiotik spektrum luas.
Pemberian antibiotik justru akan meningkatkan infeksi sekunder oleh kuman yang
resisten terhadap antibiotik tersebut.
Antibiotik bila dicurigai adanya infeksi bakteri dapat digunakan ampisilin 100-200
mg/kgBB/hr secara intravena dibagi 4 dosis. Bila ada konjungtivitis dan bayi berusia 1
4 bulan kemungkinan sekunder oleh Chlamidia trachomatis.
E. Surfaktan
Bukti klinis dan laboratorium menunjukkan bahwa bronkitis virus berat dapat
menyebabkan insufisiensi surfaktan sekunder. Dengan demikian pemberian surfaktan
eksogen merupakan potensi terapi yang menjanjikan.penggunaan surfaktan ini dikaitkan
dengan penurunan penggunaan ventilasi mekanik dan penurunan lama perawatan di ICU
Pengobatan Intensive Care Unit
Dilakukan konsultasi untuk perawatan pada ICU anak jika :
-

Terjadi progresivitas untuk gangguan pernafasan berat terutama pada kelompok yang
beresiko.

Terdapat episode apnoe yang signifikan dengan gangguan saturasi atau adanya frekuensi
pernafasan pendek lebih dari 15 detik.

Saturasi oksigen rendah yang menetap

Ketika pemeriksaan analisa gas darah telah selesai dan menggambarkan gangguan
pernafasan dimana pada darah arteri didapatkan : pO2 > 50 mmHg; pH 5,12

Tabel 2.
Penatalaksanaan Bronkiolitis Berdasarkan Berat Ringannya Gejala

Ringan
Tidak memerlukan

Bronkiolitis
Sedang
Perawatan di rumah sakit

penilaian lebih lanjut

Berikan oksigen sehingga -

Perawatan dirumah,
jika orang tua pasien

mampu dan sudah


dijelaskan keadaannya
-

Berobat ulang ke
dokter setelah 2 3 hari
kemudian

Berat
Perawatan di rumah sakit
Pemberian oksigen sampai

saturasi oksigen > 93 %

saturasi oksigen > 95 %

Pertimbangkan pemberian -

Pengamatan seksama untuk

cairan intravena

antisipasi kemungkinan

Pengamatan seksama

memerlukan intubasi dan

terhadap perburukan

pemakaian ventilator

kondisi

Berikan cairan intravena

Foto thorak

Monitor system

Aspirasi nasopharyngeal

cardiorespiratori

untuk virus

Foto thorak

imunoflurorecency

Aspirasi nasopharyngeal untuk

dan kultur

virus imunoflurorecency
dan kultur
- Pertimbangkan pengawasan gas
pembuluh darah arteri
-

Pertimbangkan untuk
konsultasi perawatan ICU
anak.

Kriteria Pulang
Pasien direkomendasikan pulang dengan kriteria :
-

Status pernafasan
o Laju pernafasan kurang dari 70 kali dalam 1 menit dan tidak didapatkan tanda klinis
usaha pernafasan lebih
o Orang tua dapat membersihkan saluran pernafasan anak dengan menggunakan alat
sedot gelembung.
o Pasien dapat berada dalam ruang dengan udara bebas dengan oksigen terapi yang
stabil.

o Saturasi oksigen harus lebih dari 90% tanpa pemberian oksigen tambahan kecuali anak
dengan penyakit paru kronis, penyakit jantung atau mempunyai faktor resiko lain
harus dilakukan diskusi terlebih dahulu dengan konsultan.
- Status nutrisi
o Pasien dapat makan melalui mulut pada tingkatan dapat mencegah dehidrasi
-

Sosial
o Peralatan dirumah mampu untuk digunakan dalam perawatan dirumah
o Orang tua atau penjaga anak mampu untuk melakukan perawatan dirumah
o Dilakukan edukasi keluarga yang lengkap

Peninjauan lebih lanjut


o Ketika ada indikasi, perawat rumah dan penyedia alat medis harus melakukan visit
terakhir.
o

Pemberi pertolongan utama harus memberikan persetujuan untuk pemulangan

Kontrol untuk peninjauan lebih lanjut harus dilakukan.

Edukasi Keluarga
Dilakukan pada saat pasien akan dipulangkan. Yaitu dengan memberitahukan :
-

Informasi mengenai penyakit bronkiolitis

Bagaimana cara membersihkan jalan nafas dengan menggunakan penghisap gelembung.

Segera memanggil bantuan atau membawa pasien ke rumah sakit kembali jika didapatkan
gangguan pernafasan

Cara pencegahan penyakit dan penyebarannya dengan menghindari anak dari paparan
asap rokok ataupun zat yang mengiritasi lainnya, melakukan cuci tangan, dll.

PENCEGAHAN
Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari faktor paparan asap rokok dan
polusi udara, membatasi penularan terutama dirumah sakit misalnya dengan membiasakan
cuci tangan dan penggunaan sarung tangan dan masker, isolasi penderita, menghindarkan
bayi/anak kecil dari tempat keramaian umum, pemberian ASI, menghindarkan bayi/anak
kecil dari kontak dengan penderita ISPA.
Langkah preventif yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian imunisasi aktif
(Vaksinasi) dan pasif (Immunoglobulin).
PROGNOSIS

Prognosis tergantung berat ringannya penyakit, cepatnya penanganan, dan penyakit


latar belakang (penyakit jantung, defisiensi imun, prematuritas).
Anak biasanya dapat mengatasi serangan tersebut sesudah 48 72 jam. Mortalitas kurang
dari 1 %.
Anak biasanya meninggal karena jatuh ke dalam apneu yang lama, asidosis
respiratorik yang tidak terkoreksi atau karena dehidrasi yang disebabkan oleh takipneu dan
kurang makan-minum.
Penelitian di Norwegia menunjukkan bahwa bayi yang dirawat dengan bronkhiolitis
mempunyai kecendrungan menderita asma dan penurunan fungsi paru pada usia 7 tahun
dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan adanya hipereaktifitas bronkhial yang
menetap selama beberapa tahun setelah menderita bronkiolitis pada bayi muda, baik para
RSV positif, maupun RSV negatif. Tidak dapat dibuktikan secara jelas bahwa bronkiolitis
terjadi

pada

anak

dengan

kecendrungan

asma,

keberhasilan

pengobatan dengan kortikosteroid mungkin dapat mengurangi prevalens asma pada anak dari
kelompok pengobatan.
1. Plan
Pengobatan yang diberikan pada pasien ini:
-

O2 nasal kanul 3 lpm


IVFD D5 NS 30 tpm micro
Ampicillin 4x 150mg IV
Nebulizer combivent/8 jam
Inj dexamethasone 3mg, dilanjutkan 3x1mg
Ambroxol syr 3 x cth
a. Diagnosis: penegakan diagnosis untuk bronkiolitis ditandai dengan anamnesis sesak dan
didapatkan wheezing pada pemeriksaan fisik. Diperlukan foto thorax untuk menyingkirkan
kemungkinan pneumonia
b. Pengobatan: sudah sesuai dengan pedoman dimana pada bronkiolitis hanya dibutuhkan
suportif.
c. Pendidikan: edukasi ibu pasien agar bayi tidak dipuasakan
d. Konsultasi: pasien perlu pengontrolan dengan melakukan konsultasi ke bagian anak