Anda di halaman 1dari 12

KUNJUNGAN PRA ANESTESIA

(RSU)
NO DOKUMEN

NOMOR REVISI

HALAMAN
1/2

301.2.8/3/10/2016

STANDAR

TANGGAL

DITETAPKAN OLEH

PROSEDUR

TERBIT :

DIREKTUR RSUD SOE,

OPERASIONAL
(SOP)

Oktober 2016
.

PENGERTIAN

Kunjungan dokter spesialis anestesia ke pasien sebelum

TUJUAN

dilakukan tindakan anestesia/ pembedahan.


1. Mempersiapkan mental dan fisik pasien secara optimal.
2. Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obatan
anestesia.
3. Menentukan klasifrkasi ASA yang sesuai dengan hasil

KEBIJAKAN

PELAKSANA
PROSEDUR

1
2

pemeriksaan fisik.
UU No. 36 Th. 1992 tentang Kesehatan
SK MENKES No. 1333 Th. 1999 tentang penetapan standar

pelayaann Rumah Sakit


Dokter Anestesia, Perawat Anestesia
1. Kunjungan dilakukan dalam waktu
tindakan

anestesia/

pembedahan.

1-2 hari sebelum


Untuk

kasus-kasus

bedah darurat dilakukan sebelum tindakan anestesia/


pembedahan.
2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain.
3. Konsultasi dengan dokter spesialis lain bila diperlukan.
4. Memberi penjelasan tentang tindakan anestesia hal-hal lain
yang berhubungan dengan anestesia (gigi palsu, lipstik, cat
kuku dll) dan memastikan informed consent.
5. Menyiapkan terapi medik dan hal-hal lain yang diperlukan
sebelum operasi (puasa pemasangan kateter urine, NGT,
UNIT TERKAIT

transfusi dll).
Ruang Rawat inap ,UGD

PEMBERIAN REKOMENDASI
1

(RSU)
NO DOKUMEN

NOMOR REVISI

HALAMAN
1/2

301.2.8/3/10/2016

STANDAR

TANGGAL

DITETAPKAN OLEH

PROSEDUR

TERBIT :

DIREKTUR RSUD SOE,

OPERASIONAL
(SOP)

Oktober 2016
.

PENGERTIAN

Pemberian

TUJUAN

tindakan ariestesia.
1. Menimbulkan rasa flyaman, aman dan ketenangan bagi

KEBIJAKAN

PELAKSANA
PROSEDUR

2.
3.
4.
5.
6.
1.
2.

obat-obat

tertentu

yang

diberikan

sebelum

pasien.
Mempermudah/ melancarkan induksi anestesia
Mengurangi jumlah obat-obatan anestesia.
Menekan refleks-refleks yang tidak diinginkan
Mengurangi sekresi kelenjar saluran napas.
Mengurangi mual muntah pasca bedah.
UU No. 36 Th. 1992 tentang Kesehatan
SK MENKES No. 1333 Th. 1999 tentang penetapan standar

pelayaann Rumah Sakit


Dokter Anestesia, Perawat Anestesia
1. Waktu pemberian premedikasi :
a. 30 - 45 meriit sebelum tindakan anestesia.
b. Beberapa saat sebelum tifldakan anestesia.
2. Cara Pemberian premedikasi :
Suntikan intra muskuler
Suntikan intra vena (dalam kondisi darurat)
3. Obat Premedikasi yang biasa digunakan :
a. Sulfas atropine inj (anak-anak; 0.01 mg/kg BB im/iv,
dewasa: 0.02 mg/kg BB im/iv)
b. Midazolam inj (dewasa: 0.007-0.01 mg/kg BB im/iv;
anak-anak: 0.15-0.20 mg/kg BB im, 0.007-0.01 iv)
c. Pethidin inj (1 mg/kg BB iv)
d. Obat anti muntah, obat-obat antihistarnine dll.
e. Dosis disesuaikan dengan kondisi pasien

UNIT TERKAIT

Ruang Rawat inap ,UGD

Pemberian anastesi umum obat-obat


anastesi intravena (rsu)
NO DOKUMEN

NOMOR REVISI

HALAMAN
1/2

301.2.8/3/10/2016

STANDAR

TANGGAL

DITETAPKAN OLEH

PROSEDUR

TERBIT :

DIREKTUR RSUD SOE,

OPERASIONAL
3

(SOP)

Oktober 2016
.

PENGERTIAN

Memindahkan

nyeri

secara

sentral

disertai

hilangnya

kesadaran dan bersifat pulih kembali dengan menggunakan


TUJUAN
KEBIJAKAN

PELAKSANA
PROSEDUR

obat-obat anestesia intravena.


Memberikan sediasi/ hypnosis, analgesia dan reaksi otot pada
pembedahan.
1. UU No. 36 Th. 1992 tentang Kesehatan
2. SK MENKES No. 1333 Th. 1999 tentang penetapan standar
pelayaann Rumah Sakit
Dokter Anestesia, Perawat Anestesia
1. Pasien tidur di meja operasi/ meja tindakan dengan
terpasang kateter intravena
2. Dipasang monitor (tensi, nadi, saturasi dan atau EKG)
3. Diberikan oksigen nasal atau sungkup muka (2-61/mnt)
4. Melalui kateter intravena disuntik obat anastesi intravena
sesuai dosis, kondisi pasien dan kebutuhan pembedahan.
5. Jalan napas dan posisi pasien diawasi serta dipertahankan
agar bebas dan lancar dengan napas spontan.
6. Pemeliharaan anastesi dengan obat anastesia intravena
tunggal (sekali suntik), intermiten atau drip innfuse/syringe
pumpu sesuai kebutuhan sampai pembedahan selesai.
7. Monitoring tanda-tanda vital selama operasi
8. Pada kasus-kasus tertentu (perdarahan, tensu turun, syok)
perlu pemasangan pipa ET dengnan pelumpuh otot dengan
dihubungkan dengan mesin anastesi, napas dipertahankan
spontan atau dikontrol secara manual atau dengan mesin.
Pemeliharaan anastesia dengan obat anastesia intravena
secara intermiten atau drip, selesai operasi dilakukan
okstubasi
9. Obat-obatan anastesi intravena yang digunakan :
a. Pentothal inj (dosis: 3-5 mg/kgBB iv, drip

1-3

mg/kgBB/jam)
b. Ketamin inj (dosis: 1-4 mg/kgBB iv; 3-7 mg/kgBB im,
drip: 1-3 mg/kgBB/jam)
c. Diazepam inj (dosis: 0.2-1 mg/kgBB iv)
d. Propofol inj (dosis 0.15-2.5 mg/kgBB iv, drip 4-12

UNIT TERKAIT

mg/kgBB/jam)
e. Midazolam inj (dosis: 0.15-0.20 mg/kgBB iv)
Kamar Operasi, UGD, Ruang Bersalin

PLACENTA MANUAL
NO DOKUMEN

NOMOR REVISI

HALAMAN
1/2

301.2.8/3/10/2016

STANDAR

TANGGAL

DITETAPKAN OLEH

PROSEDUR

TERBIT :

DIREKTUR RSUD SOE,

OPERASIONAL
(SOP)

Oktober 2016
.

PENGERTIAN

Penggunaan obat anastesia lokal untuk menghambat hantaran


saraf, sehingga impuls nyeri atau suatu bagian tubuh diblokir
untuk

sementara

(reversibel),

fungsi

motorik

dapat

berpengaruh sebagian atau seluruhnya dan penderita tetap


sadar.
5

TUJUAN
KEBIJAKAN

PELAKSANA
PROSEDUR

Memberikan analgesi dan relaksasi otot pada sebagian tubuh.


1. UU No. 36 Th. 1992 tentang Kesehatan
2. SK MENKES No. 1333 Th. 1999 tentang penetapan standar
pelayaann Rumah Sakit
Dokter Anestesia, Perawat Anestesia
I. Anastesia Spinal
1. Pasien
ditidurkan
di
meja

operasi

dengan

menggunakan bantal di kepala dan terpasang kateter


intravena nomor besar.
2. Dipasang monitor (tensi, nadi, saturasi, dan atau
EKG),

peralatan

resusitasi/

anestesia

umum

disiapkan.
3. Pasien diberi oksigen
4. Pasien dipastikan dalam kondisi normovolemia
5. Pasien diposisikan miring, desinfeksi pada daerah
penyuntikan dan dilakukan anastesi lokal dengan
lidokain 2% inj.
6. Penyuntikan dengan jarum spinal dilakukan L3-4
dengan cara tusukan paramedian sampai keluar
cairan LCS, pasang jarum spuit berisi obat pada jarum
spinal, aspirasi sedikit, kemudian obat dimasukan
pelan-pelan, jarum spinal dicabut kemudian diberi
kasa pada tempat bekas penyuntikan dan tutup
dengan plester.
7. Pasien kedimbalikan pada posisi terlentang.
8. Dilakukan pemeriksaan untuk diketahui ketinggian
blok dengan rangsang raba/nyeri. Bila anestesi spinal
berhasil

sesuai

dengan

ketinggian

blok

yang

diperlukan, operasi dapat dimulai.


9. Monitoring tensi tiap 3-5 menit sampai operasi
selesai, bila tensi turun >20-30% dari tensi awal
diberikan ephedrine inj 5-10 mg iv dan bisa diulang
kembali.
10.Obat anestesi spinal:
a. Lidokain 5% hiperbarik
b. Bupivakain 0.5% hiperbarik
II. Anestesia Epidural
1 Pasien
ditidurkan

di

meja

operasi

dengan

menggunakan bantal di kepala dan terpasang kateter


2

intravena nomor besar.


Dipasang monitor (tensi, nadi, saturasi, dan atau
EKG),

peralatan

resusitasi/

anestesia

umum

disiapkan.
6

3
4
5

Pasien diberi oksigen


Pasien dipastikan dalam kondisi normovolemia
Pasien diposisikan miring, desinfeksi pada daerah
penyuntikan dan dilakukan anastesi lokal dengan

lidokain 2% inj.
Dilakukan pengisian filter kateter epidural dengan

cairan normal saline 0.9%


Penyuntikan
dengan janrum

Epidural

(Tuohy)

dilakukan L3-4 dengan cara tusukan paramedian


sampai

ke

daerah

apidural

(ditandai

dengan

hilangnya hambatan-loss of resistance), masukan


kateter epidural, kemudian tarik jarum epidural, atur
kedalam kateter, pasang filter kateter, tutup dengan
8
9

kasa steril dan diplester panjang.


Pasien dikembalikan pada posisi terlentang
Dilakukan test dose dengan Lidokain 2% + adrenalin
1:200.000 (3 ml) dan perhatikan:
a. Bila

terjadi

takikardi

tiba-tiba,

kemungkinan

kateter epidural berada di intravaskular. Tidak


boleh dimasukan obat anestesia lokal karena
bahaya intoksikasi.
b. Bila terjadi kesemutan kedua ekstremitas inferior,
kemungkinan kateter epidural berada di ruang
subarachnoid. Tidak bholeh ditambahkan obat
anestesia lokal.
c. Bila tests dose negatif, masukan obat anestesia
lokal

sesuai

dengan

ketinggian

blok

yang

diperlukan.
10 Dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui ketinggian
blok dengan rangsang raba/nyeri. Bila anestesia
epidural berhasil sesuai dengan ketinggian blok yang
diperlukan, operasi dimulai.
11 Monitoring tensi tiap 3-5 menit sampai operasi
selesai, bila tensi turun >20-30% dari tensi awal
diberikan ephedrine inj 5-10 mg iv dan bisa diulang
kembali.
12 Obat anestesia Epidural: Lidokain HCL 1,5%, 2%
dengan adrenalin 1:200.000
UNIT TERKAIT

KO

Pemberian anestesi umum


Obat-obat anestesi inhalasi dengan
pipa et (rsu)
NO DOKUMEN

NOMOR REVISI

HALAMAN
1/2

301.2.8/3/10/2016

STANDAR

TANGGAL

DITETAPKAN OLEH

PROSEDUR

TERBIT :

DIREKTUR RSUD SOE,

OPERASIONAL
(SOP)

Oktober 2016
.

PENGERTIAN

Meniadakan keadasaran secara sentral dan bersifat pulih


kembali (reversible) dengan obat-obat anaestesi inhalasi

TUJUAN
KEBIJAKAN

PELAKSANA
PROSEDUR

disertai pemasangan pipa ET.


Memberikan sedasi analgesi

dan

relaksasi

otot

selama

pembedahan.
1. UU No. 36 Th. 1992 tentang Kesehatan
2. SK MENKES No. 1333 Th. 1999 tentang penetapan standar
pelayaann Rumah Sakit
Dokter Anestesia, Perawat Anestesia
1. Pasien tidur di meja operasi dengan terpasang kateter
8

intravena
2. Dipasang monitor (tensi, nadi, saturasi dan atau EKG)
3. Periksa mesin anestesia dan peralatan untuk pemasang
pipa ET
4. Persiapan alat dan obat resusitasi
5. Diberikan oksigen dengan masker ketat 10 liter/menit
diatas muka pasien sekitar 3 sampai 5 menit.
6. Dilakukan induksi anestesia dengan obat

anestesia

intravena atau obat anestesia inhalasi sesuai dosis dan


kondisi pasien.
7. Setelah pasien tidur dilakukan tindakan intubasi, dengan
bantuan obat pelumpuh otot succinylcholin atau lainnya.
8. Periksa kedalaman pipa ET dengan mendengarkan suara
nafas kanan dan kiri harus simetris.Kemudian cuff dapat
dikembangkan dan pipa ET difikasi dengan plester
9. Pipa ET dihubungkan dengan mesin anestesi/ Jackson
Reese (untuk ana-anak).
10.Napas pasien dipertahankan

spontan atau dilumpuhkan

dengan obat atrakurium atau lainnya, tergantung kondisi


pasien dan kebutuhan pembedahan .Napas dikendalikan
secara manual atau dengan mesin.
11.Pemeliharaan anestesia dengan obat anestesia inhalasi
sesuai kebutuhan pembedahan dan kondisi pasien sampai
pembedahan selesai
12.Monitoring tanda-tanda vital selama operasi.
13.Apabila napas pasien tidak adekuat akibat pelumpuh otot
maka diberikan obat anti pelumpuh otot yaitu kombinasi
obat

sulfas atropine (0.01 02 mg/kgBB) dengan

prostigmin (0.04 0.08 mg /kgBB)


14.Setelah operasi selesai dan kembali adekuat dilakukan

UNIT TERKAIT

ektubasi.
15.Obat obat anestesia inhalasi yang digunakan :
Halothane
Isoflurane.
Ruang Rawat inap ,UGD

PEMBERIAN ANESTESI UMUM OBAT-OBAT


ANESTESI INHALASI DENGAN SUNGKUP
MUKA
(RSU)
NO DOKUMEN

NOMOR REVISI

HALAMAN
1/2

301.2.8/3/10/2016
STANDAR

TANGGAL

DITETAPKAN OLEH

PROSEDUR

TERBIT :

DIREKTUR RSUD SOE,

OPERASIONAL
(SOP)

Oktober 2016
.

PENGERTIAN

TUJUAN
KEBIJAKAN

PELAKSANA
PROSEDUR

Meniadakan
nyeri
secara
sentral
disertai
hilangnya
keasadaran dan bersifat pulih kembali (revesible) dengan
obat-obat anestesia inhalasi dan menggunakan sungkup
muka.
Memberikan sediasi, analgesia dan relaksi obat.
1. UU No. 36 Th. 1992 tentang Kesehatan
2. SK MENKES No. 1333 Th. 1999 tentang penetapan standar
pelayaann Rumah Sakit
Dokter Anestesia, Perawat Anestesia
1. Pasien tidur di meja operasi dengan terpasang kateter
2.
3.
4.
5.

intravena
Dipasang monitor (tensi, nadi, saturasi dan atau EKG)
Periksa peralatan mesin anestesi
Siap alat dan obat sesuscitasi
Diberikan oksigen dengan masker ketat (10
1/menit)

diatas muka pasien.


6. Dilakukan induksi anestesia

dengan

obat

anestesia
10

intravena atau obat anestesia inhalasi sesuai dosis dan


kondisi pasien.
7. Posisikan pasien anestesia agar jalan nafas bebas dan
pasien bernafas spontan
8. Pemeliharaan anestesia dengan obat anestesia inhalasi
sesuai kebutuhan pembedahan dan kondisi pasien sampai

UNIT TERKAIT

pembedahan selesai.
9. Monitoring tanda-tanda vital selama operasi.
10.Obat-obat anestesia inhalasi yang digunakan:
Halothane
Isoflurance
KO

Penatalaksanaan pasca operasi


NO DOKUMEN

NOMOR REVISI

HALAMAN
1/2

301.2.8/3/10/2016

STANDAR

TANGGAL

DITETAPKAN OLEH

PROSEDUR

TERBIT :

DIREKTUR RSUD SOE,

OPERASIONAL
(SOP)

Oktober 2016
.

PENGERTIAN

TUJUAN

KEBIJAKAN

PELAKSANA
PROSEDUR

Pengawasan fungsi vital (jalan napas, pernapasan, sirkulasi


dan kesaradan) pasien dan hal-hal yang timbul akibat
pemberian anestesia setelah tindakan anestesia/pembedahan.
Menjaga fungsi vital pasien dalam batas normal setelah
pembedahan berakhir dan selama sisa anestesia belum sama
sekali hilang, sehingga aman dan layak dipindahkan ke
ruangan.
1. UU No. 36 Th. 1992 tentang Kesehatan
2. SK MENKES No. 1333 Th. 1999 tentang penetapan standar
pelayaann Rumah Sakit
Dokter Anestesia, Perawat Anestesia
1. Setelah pengakhiran anestesia, pasien dikirim ke ruang
pulih sadar (RR) untuk pemantauan/monitoring fungsi vital
tubuh.
2. Bantuan oksigenasi, ventilasi dan sirkulasi tetap diberikan.
3. Pemberian analgesia dan sedasi disesuaikan dengan
kondisi pasien.
4. Pengawasan terhadap efek samping yang timbul akibat
anestesia/pembedahan (mual muntah, menggigil dll).
11

5. Keputusan untuk mernindahkan pasien dari ruang pulih


sadar tergantung dokter anestesia dan perawat anestesia
dengan memenuhi kriteria tertentu yaitu: pasien dengan
pembiusan umum boleh dipindah ke ruangan apabila
Aldrette score lebih atau sama dengan 8 (pasien dewasa),
dan steward score lebih atau sama dengan 5 (pasien anakanak). untuk pasien dengan arestesia regional, boleh
dipindah ke ruangan apabila kriteria Bromage score kurang

UNIT TERKAIT

dari 2.
6. Pasien dapat langsung dikirim ke ruirngan perawatan.
Ruang Rawat inap, UGD

12