Anda di halaman 1dari 49

EKONOMI REGIONAL : LOKASI DAN

PENGUNAAN WILAYAH
DAN PERKOTAAN
Leave a reply

LOKASI DAN PENGGUNAAN LAHAN WILAYAH PERKOTAAN


Bab ini membahas secara rinci aaspek lokasi dan struktur spasial wilaayh perkotaan. Analisis
dimulai dengan penjelasan tentang kaitan antara model Von Thunen dengan Teori Penggunaan
Lahan Wilayah Perkotaan (Urban Land-Use Theory). Kemudian analisis dilanjutkan dengan
pembahasan tentang subtstitusi faktor produksi antar wilayah perkotaan. Berdasarkan kedua hal
tersebut, kemudian diabahas pula penentuan lokasi optimal kegiatan ekonomi wilayah perkotaan
(Optimal Urban Location ) yang diikiuti dengan penentuan lokasi optimal perumahan pada
wilayah perkotaan. Akhirnya analisis dilanjutkan dengan pembahasan tentang Density
Gradient yang merupakan dasar utama yang melandasi terbentuknya struktur spasial sebuah
wilayah perkotaan.
1. A.

Teori Penggunaan Lahan Wilayah Perkotaan

Analisis Von Thunen sebenarnya dilakukan untuk pennetuan lokasi optimal kegiatan pertanian
secara deduktif dengan struktur ruang yang bersifat Mono-Concentric Zone (wilayah dengan
satu pusat). Masing-masing wilayah didefinisikan sebagai wilayah spesialisasi suatu tanaman
pertanian yang lokasi kegiatan pertaniannya ditentukan berdasarkan jarak dari pusat kota
(Central Bisnis District, CBD). Secara teoritis penentuan lokasi optimal dilakukan pada kegiatan
pertanian ini adalah dalam bentuk lingkaran yang dikenal sebagai cincin Von Thunen (Von
Thunen Ring). Sedangkan variabel utama yang menentukan lokasi optimal kegiatan pertanian
tersebut adalah perbandingan nilai bid-rent (kemampuan membayar sewa tanah) dengan sewa
tanah yang diminta oleh pemilik lahan yang lazim disebut dengan Land-rent.
Wiliam Alonso dan Richard F.Muth (1969) melakukan analisis lebih lanjut dari model Von Thunen
khusus untuk membahas kerangka pemikiran dalam penggunaan lahan daerah perkotaan
(Urband Land-use) yang kemudian dikenal sebagai Muth Model. Dalam hal ini struktur ruang
masih diasumsikan dalam bentuk Monocentric City (Kota dengan satu pusat).
Dengan membandingkan antara bid-rent dengan land-rent yang berlaku dipasaran untuk
sebidang tanah pada lokasi tertentu, akan dapat diketahui pola penggunaan lahan yang optimal
dengan melihat pada masing-masing Von Thunen Ring yang dihasilkan. Dengan demikian
akan dapat ditentuan berdasarkan jarak dari CBD, beberapa wilayah yang secara ekonomis
dapat digunakan untuk kegiatan perdagangan, jasa, industri, perumahan dan kegiatan pertanian
yang seringkali masih terdapat diwilayah perkotaan yang masih kecil.
Asumsi umum dalan teori penggunaan lahan wilayah perkotaan adalah bahwa wilayah perkotaan
muncul sebagai daerah yang datar pada asuatu titik terdapat sebuah CBD. Dan diasumsikan

pula bahwa perkotaan tersebut berbentuk bulat yang pada pusatnya terdapat sebuah CBD.
Ongkos angkurt pertanian diasumsikan berhubungan positif dengan jarak menuju CBD.
Dalam penentuan lokasi dan penggunaan lahan wilayah perkotaan, terdapat dua bentuk
pemilihan lokasi, yaitu :

Lokasi kegiatan industri (industrial location), seperti industri pengolahan (manufacturing).


Pemilihan lokasi kegiatan industri ini dilakukan dengan menggunaan teori Bid-rent yang
juga berlaku untuk sektor pertanian.

Lokasi perumahan (residential location). Untuk pemilihan lokasi perumahan umumnya


menggunakan model pasar lahan (land-market) dari alonso muth yang kemudian diakui
sebagai Standar Teori Penggunaan Lahan Wilayah Perkotaan.

Model ini kemudian diformulasikan kembali oleh Werner Z.Hirsch (1984) :


Maksimum : U (X,L)

(10.1)

Dengan kendala : Y + PX + R (u) L T (u)

(10.2)

Keterangan :
Y = Pendapatan Masyarakat
U = Kepuasan (Utility)
X = Konsumsi diluar Perumahan
L = Tanah atau lahan
P = harga dari barang X
R (u) = harga lahan yang fungsi dari jarak
U = jarak dari pusat kota (CBD)
T(u) = ongkos angkut yang fungsi dari jarak
Formulasi diatas memperlihatkan bahwa model ini menggunakan teknik optimisasi dengan fungsi
tujuan adalah memaksimumkan tingkat kepuasan konsumen yang sapat digunakna untuk
keperluan konsumsi barang dan jasa. Dan juga digunakan fungsi lahrange untuk dasar
melakukan turunan (derivatif) :
P = U (X,L) + l [ Y (PX + R (u) L- T (u))]

(10.3)

Diamana l adalah angka pengganda (langrange multiplier). Dilakukan turunan pertama sebagai
berikut :

(10.4)
(10.5)
(10.6)
(10.7)
Selanjutnya dengan membagi persamaan (10.4) dengan persamaan (10.5), dapat diperoleh :
UX / UL = P / R (u)

(10.8)

Dimana Ux dan UL masing-masingnya dalah Marginal Utility dari Komoditas X dan Komoditas
L.Persamaan ini merupakan kondisi teoritis yang sangat penting yang berarti bahwa dalam
kondisi maksimum MRS dan non perumahan atau perumahan adalah sama dengan
perbandingan harganya.
Ada beberaa analisis tambahan untuk menentukan lokasi optimal perumahan,antara lain :

Individu yang berada disuatu rumah tangga (household) semuanya bertujuan untuk
memaksimumkan keuasan (utility maximization) melalui peningkatan konsumsi.

Semua individu bekerja dipusat kota (CBD),sehingga setiap hari mereka harus
melakukan perjalanan pulang balik (commuting) dari tempat tinggal mereka ke tempat
mereka bekerja.

Semua individu dalam suatu rumah tangga harus mempunyai selera (taste) yang sama
sehingga jenis barang yang dikonsumsi juga akan cenderung menjadi sama pula.

Sejumlah keuntungan aglomerasi (Aglomeration Economies) karena berlokasi berdekatan


dengan masyarakat dan kegiatan ekonomi sosial lainnya juga akan turut pula mendorong
masyarakat untuk memilih lokasi perumahannya dekat dengan CBD. Lokasi yang dekat dengan
CBD ini,akan menimbulkan konsekuensi yang besar juga. Karena biaya yang akan dikeluarkan
juga akan semakin besar, namun apabila semakin jauh dengan CBD maka biaya yang akan
dikeluarkan untuk tanah akan berkurang karena sewa tanah akan semakin murah.
Presentasi secara grafis dari teori Penggunaan Lahan Wilayah Perkotaan ini dapat dijelaskan
dengan menggunakan Grafik 10.1
B
G

H
C
CBD

U*

JARAK

Grafik 10.1 Penentuan Lokasi Optimum Perumahan


Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa kurva AT konstan mewakili Marginal
Transportation (Commuting) cost (MTC) sedangkan kurva BC mewakili Marginal Saving of Land
(MSL) yang akan menurun dengan semakin jauhnya jarak rumah dari CBD.
Berdasarkan formulasi kondisi optimal pada grafik diatas, maka lokasi perumahan adah pada
titik u dimana kurva AT berpotongan dengan kurva BC pada titik E, yaitu pada saat MTC = MSL.
Selanjutnya, seandainya MTC meningkat dari titik T menjadi T, maka titik keseimbangan
(equilibrium) akan berada pada E dan lokasi optimal perumahan akan bergeser menuju titik u*
yaitu semakin jauh dari CBD.
Kesimpulan :
Hal ini menjelaskan mengapa pada kota besar harga tanahnya relatif tinggi, lokasi optimal
perumahan akan cenderung berada dipinggiran kota guna mengurangi pengeluaran rumah
tangga untuk pemilikan tanah.
1. B.

Sewa Tanah

Sewa tanah (Land-rent) pada dasarnya dalah balas jasa terhadap penggunaan sebidang lahan.
Besarnya sewa tanah tersebut bervariasi, untuk daerah perkotaan biasanya sewa tanah akan
lebih tinggi bila berlokasi dekat dengan pusat CBD. Dan akan cenderung semakin rendah
apabila lahan tersebut berlokasi jauh dari CBD. Tentunya kondisi topografi juga ikut
mempengaruhi tinggi rendahnya sewa tanah tersebut.
Sewa tanah juga bervariasi menurut ketersediaan prsarana jalan dan kondisi aksesibilitasnya.
Sewa tanah akan cenderung tinggi bila berlokasi dipinggir jalan raya karena aksesibilitas menjadi
lebih mudah. Namun, bila berlokasi jauh dari jalan raya dan tidak ada aksesibilitas, sewa tanah
akan cenderung rendah. Lebar jalan raya dimana lahan tersebut terletak juga ikut mempengaruhi
harga dan sewa lahan.
Disamping aspek lokasi, fluktuasi sewa tanah tersebut ditentukan juga oleh jumlah permintaan
(demand) dan penawaran (supply). Namun demikian, jumlah penawaran tanah adalah tetap
(fixed) karena perubahan jumlah lahan tersedia umumnya tidak mungkin dilakukan. Kecuali bila
terjadi bencana alam atau tindakan untuk melakukan perubahan zoning dan reklamasi tanah
seperti dilakukan oleh singapura atau kota tepi pantai lainnya yang memilki lahan yang terbatas.
Sama halnya dengan harga suatu barang, harga sewa tanah akan cenderung tinggi bilamana
jumlah permintaan lebih besar dari jumah penawaran (excess demand). Sebaliknya, harga
tanah akan cenderung turun bilamana jumlah permintaan lebih kecil dari pada jumlah penawaran
yang ada (excess supply).
Sewa tanah dalam kondisi keseimbangan (equilibrium) akan terjadi bilamana jumlah permintaan
dan penawaran terhadap lahan adalah sama dengan sewa tanah sebesar R*. Grafik 10.2
melihatkan fluktuasi sewa tanah berdasarkan perubahan permintaan dan penawaran lahan.

S
1

R*

L*

L
Grafik 10.2 permintaan dan penawaran lahan

Seperti terlihat pada grafik diatas,kurva penawaran terhadap lahan merupakan garis vertikal
yang menunjukkan bahwa penawaran lahan adalah bersifat tetap (fixed) karena lahan tidak
dapat diproduksi. Sedangkan kurva permintaan terhadap lahan mempunyai bentuk sama dengan
permintaan terhadap barang dan jasa yaitu mempunyai sudut (slope) negatif.
Kesimpulan :
Apabila permintaan terhadap lahan lebih besar dari penawaran maka sewa tanah akan menjadi
semakin tinggi. Sebaliknya bilamana permintaan terhadap lahan lebih kecil dari penawaran,
maka sewa tanah akan cenderung lebih rendah. Tentunya keseimbangan sewa tanah akan
tercapai apabila permintaan terhadap lahan sama dengan penawarannya ayaitu berapada pada
R*. Fluktuasi sewa tanah ini sejalan dengan hukum permintaan dan hukum penawaran (law of
demand and law of supply) yang berlaku secara umum dalam pasar barang dan jasa.
1. C.

Model Dinamis Penggunaan Lahan Perkotaan

Analisis penggunaan lahan wilayah perkotaan pada dasarnya masih bersifat statis, karena belum
memasukkan unsur waktu secara eksplisit. Kelemahan ini mendorong beberapa ahli untuk
mengembangkan metode tersebut dengan menggunakan teknik optimisasi dinamis
sebagaimana dikemukakan oleh Mill dan Deferranti (1971) yang kemudian diformulasikan
kembali oleh Miller (1979). Disini analisis Miller dilakukan dengan memanfaatkan Teknik Optimal
Control.

Dalam analisis statis, formulasi model dinamis ini dilakukan dengan asumsi bahwa kota bersifat
Monocentric, dimana terdapat hanya satu pusat kota (CBD). Disamping itu kegiatan produksi
dilakukan di pusat kota, dan daerah pinggiran kota digunakan untuk wilayah pemukiman. Untuk
memudahkan pembahasan wilayah perkotaan baik CBD maupun wilayah pinggiran adalah
berbentuk lingkaran.
Selanjutnya diasumsikan pula terdapat N rumah tangga (pekerja) yang bekerja di CBD, yang
ukurannya ditetapkan dengan radius . Baik N dan , keduanya ditentukan oleh faktor luar
(exogeneous variable). Variabel ruang ditentukan berdasarkan jarak dari CBD. Lahan yang
berada di luar CBD digunakan hanya untuk dua kegiatan yaitu perumahan (kegiatan 1) dan
fasilitas transportasi (kegiatan 2).
Karena penggunaan lahan berbeda menurut lokasi dari CBD, maka kedua kegiatan tersebut
diasumsikan sebagai sebuah fungsi dari jarak u (untuk u > ). Dengan demikian, jumlah lahan
yang digunakan untuk kegiatan perumahan diluar CBD adalah L 1u dan jumlah lahan yang
digunakan untuk kegiatan transportasi adalah L2u. Di samping itu, setiap jarak u dari CBD
terdapat radius tanah yang tersedia untuk kedua kegiatan. Dengan demikian, kondisi tersebut
dapat ditulis sebagai berikut :
L1 (u) + L2 (u) = u(10.10)
Selanjutnya, perumahan untuk setiap rumah tangga tentunya memerlukan sejumlah lahan
tertentu, yaitu : N(u) yang tinggal di lahan L1 (u) unit lahan, yaitu :
N(u) = a L1 (u).(10.11)
Dimana adalah koefisien yang menunjukkan tingkat kepadatan lahan di perumahan.
Kegiatan produksi di CBD membutuhkan perjalanan dari rumah tempat tinggalnya. Pada setiap
jarak lingkaran u jumlah pekerja yang melakukan perjalanan melewati lingkaran menuju ke CBD,
T(u), adalah jumlah tenaga kerja yang hidup disana atau melewatinya, yaitu :
T(u) = (10.12)
Dimana adalah radius wilayah perkotaan. Ada 2 jenis biaya yang dipertimbangkan yaitu biaya
transportasi pulang balik dari rumah ke CBD dan biaya kehilangan kesempatan karena
penggunaan lahan untuk tujuan lain. Khusus untuk biaya transportasi tersebut dapat ditulis :
P(u) = (10.13)
Dimana p melambangkan ongkos transport untuk setiap kesatuan jarak bilamana tidak terjadi
kemacetan lalu lintas, sedangkan adalah ukuran kemacetan lalu lintas per unit pada lokasi u.
Karena itu, jumlah ongkos transport secara keseluruhan pada lokasi u adalah p(u)T(u).
Sedangkan untuk biaya kehilangan kesempatan karena perubahan penggunaan lahan, misalnya
untuk pertanian disimbolkan dengan u. dengan demikian, jumlah ongkos transport yang harus
dibayar pada setiap perjalanan adalah :

..(10.14)
Permasalahan optimalisasi dalam hal ini adalah untuk memilih keputusan seorang warga kota
untuk penggunaan lahan wilayah perkotaan yang dapat menimumkan total ongkos transport
pada persamaan (10.14). Dengan menggunakan teori dasar matematika dan menarik
turunannya maka persamaan (10.12) dapat pula diperoleh sebagai berikut :
T(u) = N(u)..(10.15)
Akan tetapi, dari persamaan (10.10) akan dapat ditulis :
T(u) = a L2 (u) a u(10.16)
Oleh karena itu secara umum kemudian, formula model dinamis penggunaan lahan wilayah
perkotaan ini dapat ditulis sebagaimana pada persamaan (10.17) berikut ini :
Maksimum :
Dengan syarat : T(u) = a L2 (u) a u..(10.17)
Untuk dapat memecahkan model dinamis ini sesuai dengan metode Langarange. Kemudian
dengan menarik turunan pertama dari persamaan akan diperoleh kondisi optimal dari model
dinamis ini. Perbedaan dengan kondisi optimal pada model statis hanyalah mengenai arah
perubahan antar waktu dengan variabel-variabel yang terdapat pada kondisi optimal tersebut.
Dengan demikian, model dinamis akan dapat memberikan informasi tentang arah perubahan
penggunaan lahan wilayah perkotaan untuk masa mendatang.
1. D.

Lokasi Optimum Kegiatan Ekonomi Perkotaan

Kegiatan ekonomi wilyah perkotaan pada umumnya meliputi kegiatan perdagangan,jasa,dan


industry. Namun demikian untuk kota dengan skala menengah dan kecil, fakta empiris
memperlihatkan bahwa masih terdapat kegiatan pertanian pada wilayah perkotaan tersebut.
Sama halnya dengan analisisi lahan untuk pertanian, nanalisa untuk kegiatan ekonomi daerah
ekonomi daerah perkotaan juga dapat dilakukan dengan menggunakan teori Bid rent sebgai
dasar pembahasan. Dalam hal ini perhitungan Bid rent yang dijadikan dasar analisis adalah
disesuaikan dengan jenis kehiatan yang banyak terdapat dalam perekonomian wilayah perkotaan
seperti : industry perdagangan, transportasi , jasa dan perumahan. Sedangkan prinsip
penentuan lokasi sama dengan analisa pada Bid rent tradisional untuk kegiatan pertanian
sebagaimana telah dijelaskanterdahulu.
Selain itu, sama halnya dengan pemilihan lokasi perumahan, beberapa asumsi dasar juga
diperlukan untuk memudahkan perumusan pemilihan lokasikegiatan ekonomi wilayah perkotaan.

Perusahaan berproduksi dalam rangka memperoleh keuntungan maksimum

Untuk keperluan produksi, perusahaan menggunakan input lahan, dan input lainnya, baik
dalam bentuk modal dan tenaga kerja dan substitusi antar keduanya.

Terlepas di mana lokasi perusahaan tersebut, tetpai dalam menjual hasilnya harus
dibawa ke pusat kota (CBD) yang merupakan pusat perdagangan dan kegiatan jasa
lainnya.

Suatu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan maksimum akan memutuskan berapa factor
produksi akan digunakan dengan melihat pada berapa tambahan nilai penerimaan yang dapat
dihasilkan dengan menambah penggunaan satu unit factor produksi . Nilai Marginal Product ini
cenderung menurun dengan semakin meningkatnya jumlah produksi. Selanjutnya, bila harga
produk bersangkutan turut puyla diperhitungkan maka akan di dapat pula Nilai Marginal Product.
Pertanyaan penting bersifat teoritis yang perlu dijawab dalam hal ini adalah berapa jumlah factor
produksi sebaiknya digunakan agar keuntungan maksimum? Dengan menggunakan prinsip
yang terdapat dalaam Teori Ekonomi Mikro, maka jawabnya yaitu pada saat Nilai Marginal
Product (MP) sama dengan harga (P) dikurangi dengan ongkos angkut (tu) sama dengan harga
bersih (net price) yaitu:
VMPL = (P t u) MPL
Impilkasi terhadap lokasi kegiatan ekonomi perkotaan adalah bahwa bila lokasi kegiatan
bersangkutan semakin jauh dari CBD , maka harga bersih produk akan berkurang sehingga
VMP juga menurun. Demikian pula sebaliknya bila lokasi kegiatan ekonomi tersebut menjauh
dari CBD , maka harga bersih produk akan meningkat sehingga VMPL juga meningkat. Karena
itu, fungsi Bid-rent akan mempunyai kemiringan yang sama dengan kurva Rent-gradient.
Sedangkan Rent-gradien tersebut adalah merupakan envelope curve dari fungsi bid-rent dari
masing- masing kegiatan ekonomi perkotaan.

R(u)

CBD

B1

B2

B3

B4

Grafik 10.3 terbentuknya kurva Rent-gradient


Pertanyaan berikutnya yang berkaitan langsung dengan penggunaan lahan wilayh perkotaan
adalaah di mana kegiatan ekonomi perkotaan ini sebaiknya berlokasi (optimal location). Untuk
keperluan ini, fungsi Bid-rent yang akan digunakan tentunya haarus berkaitan langsung kegiatan
ekonomi wilayah perkotaan tersebut yaitu industry, perdagangan dan jasa. Dengan
menggunakan model Von Thunen sebagai dasar, maka lokasi optimal kegiatan ekonomi daerah
perkotaan tersebut ditentukan oleh nilai Bid-rent tertinggi untuk masing-masing kegiatan
tersebut.
Bila lokasi optimal berada pada suatu titik tertentu , maka ini berarti bahwa lahan pada lokasi
tersebut akan digunakan untuk kegiatan tersebut. Dengan demikian , penentuan lokasi sekaligus
akan dapat pula menunjukkan pola penggunaan lahan daerah perkotaan ( urban Land-use).

Untuk lebih jelasnya penentuan lokasi optimal ini dapat dilihat dari grafik 10.4

R1

e1
R2
e2

e3

R3

CBD

a
A1
A2

A3

A4

Seperti terlihat dari grafik 10.4 ini bahwa garis vertical mewakili Bid-rent yang mengguakan
symbol R* , sedangkan garis horizontal mewakili jarak dari pusat kota yang menggunakan
symbol u . dalam hal ini , terdapat tiga jenis kurva Bid-rent yang mempunyai sudut yang berbeda
yang melambangkan perbedaan kemampuan produk untuk menghasilkan produksi dan
selanjutnya juga menentukan kemampuan membayar sewa (Bid0rent) setelah dikurangi dengan
semua biaya produksi dan transportasi.
Mengunakan teori lokasi Von Thunan sebagaimana sudah dijelaskan dahulu, maka penentuan
lokasi dan penggunaan lahan dilakukan berdasarkan nilai Bid-rent tertinggi yang dapat
dihasilkan oleh masing-masing kegiatan ekonomi yang terdapat di daerahperkotaan
bersangkutan. Dengan demikian , berdasarkan sudut-sudut masingmasing kurva Bid rent
pada grafik 10.4 , maka lokasi dan penggunaan lahan untuk masing- masing kegiatan ditentukan
berdasarkan titik potong nantara satu kurva Bid-rent dengan kurva Bid-rent lainnya.
Dari titik potong tersebut selanjutnya dapat pula ditentukan loaksi kegiatan dan area lahan yang
akan digunakan yaitu A1,A2,A3 dan A4 . Di sini terlihat bahwa lahan yang paling dekat dengan
CBd akan digunakan oleh kegiatan dengan Bid-rent tertinggi yaitu R1* dan lahan yang lebih jauh
dari CBD akan digunakan untuk lokasi dan lahan kegiatan dengan Bod-rent lebih rendah yaitu
R2* dan R3* dan seterusnya. System penggunaan lahan yang demikianlah yang selanjutnya
merupakan pola umum penggunaan lahan untuk suatu derah perkotaan.
1. E.

Keseimbangan Penggunaa Lahan Perkotaan

Dalam analisis ilmu ekonomi, kondisi equlibrium adalah merupakan kondisi keseimbangan yang
diinginkan baik oleh pemilik maupun penggunaan lahan yang umumnya berlaku dalam kegiatan
ekonomi dan bersifat labil. Namun dalam teori ekonomi penggunaan lahan daerah perkotaan,
kondisi equlibrium pada dasarnya adalah kondisi di mana terdapat keseimbangan penggunaan
lahan untuk berbagai kegiatan ekonomi dan sosial yang umumnya terdapat di daerah perkotaan
sesuai dengan permintaan dan penawaran terhadap lahan perkotaan. Kegiatan-kegiatan
tersebut pada umumnya meliputi 4 hal, yaitu:
a)

Perdagangan dan jasa

b)

Industri pengolahan

c)

Perumahan

d)

Pertanian

Kontribusi dari masing-masing kegiatan ekonomi tersebut terhadap kehidupan masyarakat


wilayah perkotaan akan ditentukan oleh ukuran kota bersangkutan. Misalnya pada kota yang
berukuran besar, dengan penduduk lebih dari 1 juta orang, maka kontribusi kegiatan industri,
perdagangan dan jasa akan menjadi lebih besar dibandingkan kegiatan pertanian. Sebaliknya
pada kota dengan ukuran sedang dan kecil (misalnya dengan penduduk di bawah 1 juta orang),
maka kontribusi kegiatan pertanian akan masih tetap lebih besar dari kegiatan ekonomi lainnya.
Sedangkan kontribusi kegiatan perumahan tidak mengalami perubahan sesuai dengan ukuran
kota.
Dengan menggunakan teori penggunaan lahan wilayah perkotaan yang didasarkan pada Teori
Lokasi Von Thunem, maka keseimbangan penggunaan lahan (Land-Use Equilibrium) terlihat
pada Grafik 10.5. Dalam hal ini sumbu vertikal melambangkan Bid-rent yang dapat dibayarkan,
dan sumbu horizontal melambangkan jarak dari pusat kota (CBD).

1
2
3
4

CBD

Jarak (u)

2
3
4

Grafik 10.5. Keseimbangan penggunaan lahan daerah perkotaan


Sedangkan kurva yang ada didalamnya adalah kurva Bid-rent untuk masing-masing jenis
kegiatan ekonomi dan sosial yang umumnya terdapat pada perkotaan.
Sebagaimana yang terlihat pada Grafik 10.5, kurva Bid-rent 1 untuk kegiatan perdagangan dan
jasa mempunyai sudut yang sangat tinggi yang memperlihatkan kemampuan Bid-rent yang tinggi
pula. Sedangkan kurva Bid-rent lainnya, seperti industri, mempunyai sudut lebih kecil yang
memperlihatkan Bid-rent yang lebih rendah. Demikian pula halnya dengan perumahan
mempunyai kemampuan Bid-rent yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan kegiatan ekonomi
perkotaan lainnya. Sedangkan kegiatan pertanian merupakan kurva Bid-rent dengan sudut
paling rendah yang mencerminkan pula nilai Bid-rent yang sangat rendah
Perbedaan sudut kurva Bid-rent tersebut menentukan lokasi kegiatan ekonomi dan
penggunaan lahan daerah perkotaan. Seperti terlihat pada Grafik 10.5, lokasi dan penggunaan
lahan di pusat kota (CBD) secara ekonomis sebaiknya digunakan untuk kegiatan perdagangan
dan jasa. Alasannya adalah karena harga tanah di pusat kota ini adalah yang paling tinggi,
sehingga hanya kegiatan perdagangan dan jasa yang mempunyai Bid-rent yang paling tinggi
yang dapat menggunakan lahan pada lokasi tersebut.
Penggunaan lahan pada ring ke 2 setelah CBD, secara ekonomis akan layak untuk kegiatan ke 2
yaitu industri pengolahan, alasannya adalah karena sewa masih cukup tinggi, walaupun tidak lagi
setinggi di CBD. Karena itu kegiatan ekonomi yang mempunyai Bid-rent yang asih cukup tinggi
dibandingkan dengan Bid-rent perumahan, tapi berada dibawah kegiatan perdagangan dan jasa.
Sedangkan kebutuhan penggunaan lahan untuk kegiatan industri pengolahan umumnya lebih
besar kegiatan perdagangan dan jasa.
Selanjutnya penggunaan lahan pada ring ke 3, secara ekonomis akan layak untuk
digunakan oleh kegiatan 3 yaitu perumahan dan pemukiman. Alasannya adalah karena harga
pasar tanah pada lokasi ini sudah lebih rendah sehingga dapat dibayar berdasarkan kemampuan
Bid-rent dari kegiatan perumahan dan pemukiman tersebut yang juga umumnya rendah. Analisis
ini dapat memberikan penjelasan mengapa lokasi kegiatan perumahan dan pemukiman
umumnya terletak dekat dengan daerah pinggiran kota.
Penggunaan lahan untuk kegiatan pertanian secara ekonomis hanya dimungkinkan dan layak
pada daerah pinggiran kota (ring 4). Alasannya adalah karena kegiatan pertanian memerlukan
lahan yang lebih luas. Karena harga lahan di daerah pinggiran biasanya sangat rendah, maka
pengembangan kegiatan pertanian dalam arti luas hanya dimungkinkan di daerah pinggiran
tersebut sesuai dengan tingkat Bid-rent kegiatan ini yang juga umumnya relatif rendah.

Namun demikian, dalam kenyataannya yang terdapat di negara sedang berkembang, masih
terdapat lahan kosong yang berada dekat dengan pusat kota atau masih digunakan untuk
kegiatan perumahan dan pemukiman. Di samping itu, tidak jarang pula terlihat masih ada
kegiatan pertanian yang berlokasi di daerah perkotaan yang seharusnya diperuntukkan bagi
kegiatan perumahan dan pemukiman. Diperkirakan hal ini terjadi karena dua hal sebagai berikut
ini:
a)
Adanya kendala dan sengketa tanah untuk perubahan penggunaan lahan sesuai dengan
prinsip ekonomi sebagaimana dijelaskan diatas.
b)
Adanya keinginan pemilik tanah untuk melakukan spekulasi menunggu harga tanah yang
lebih tinggi lagi di masa mendatang sebelum melakukan alih fungsi lahan tersebut

Pola keseimbangan penggunaan lahan daerah perkotaan sebagaimana dipresentasikan pada


Grafik 10.5 diperkirakan juga akan membawa implikasi pada tingkatan lantai bangunan yang
akan dibangun. Bangunan yang berlokasi di pusat kota dimana harga tanah sangat mahal akan
cenderung memilih gedung bertingkat tinggi. Hal ini disebabkan karena penambahan luas
bangunan dengan lantai yang lebih besar akan relatif lebih murah untuk bangunan ke samping
menggunakan lahan yang lebih luas. Dengan demikian, pola tinggi bangunan pada wilayah
perkotaan adalah seperti terlihat pada Grafik 10.6.
Tinggi
bagunan

jarak
Grafik. 10.6 pengaruh lokasi penggunaan lahan terhadap tinggi bangunan

Selanjutnya, untuk bangunan yang berlokasi pada wilayah setelah pusat kota akan cenderung
mendirikan bangunan yang lebih rendah karena harga tanah pada lokasi tersebut sudah lebih
murah. Kondisi ini akan menyebabkan penambahan bangunan ke samping menggunakan
tambahan lahan akan lebih murah dibandingkan dengan menambah luas bangunan dengan
penambahan lantai.
Sedangkan penggunaan lahan untuk perumahan dan pemukiman di daerah pinggiran kota
(suburban) akan cenderung hanya menggunakan bangunan lebih rendah (berlantai 1 atau 2)
karena harga tanah di daerah ini sudah jauh lebih murah sehingga pembangunan rumah dengan
luas lantai lebih besar akan lebih menguntungkan daripada bangunan yang berlantai tinggi (di
atas 2 lantai)

1. F.

Kebijakan Pengaturan Penggunaan Lahan Perkotaan

Walaupun pembahasan di atas memperlihatkan bahwa analisa penggunaan lahan daerah


perkotaan umumnya di dasarkan pada mekanisme pasar sebagaimana di jelaskna dalam teori
Bid-rent sebagai factor penentu utama, namun demikian ini tidak berarti bahwa penggunaan
lahan tidak perlu di atur oleh pemerintah kota bersangkutan . mengingat lahan yang tersedia di
daerah perkotaan umumnya sangat terbatas dan mekanisme pasar tersebut kenyataannya tidak
selalu bekerja baik, maka pengaturan penggunaan lahan oleh pemerintah tetap perlu dilakukan
untuk menjaga efiensi penggunaan lahan dan sekaligus untuk menjaga kualitas lingkungan
hidup wilayah perkotaan.
Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang tata ruang yang berlaku untuk daerah perkotaan ,
pengaturan penggunaan lahan daerah secara umum dilakukan melalui penyusunan dan
penetapan rencana Ruang Wilayah (RTRW). Termasuk dalam RTRW ini adalah penentuan
zoning yang juga dapat digunakan sebagai alatuntuk pengaturan tata ruang.
Dokumen RTRW ini pada dasarnya berisikan tiga hal pokok, yaitu :

Tujuan pemanfaatan ruang

Struktur dan pola pemanfaatan ruang

Pola pengendalian pemanfaatan ruang

RTRW ini ditetapkan dengan Peratran Daerah bersangkutan atau kota setempat sehingga
ketentuan di dalmnya bersift mengikat dan mempunyai implikasi hukum bila dilanggar.
Disamping RTRW yang bersifat umum, pemerintah kota juga diwajibkan oleh Undang-Undang
untuk menyusun Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) yang lebih bersifat Rinci mencakup
seluruh cabang jalan pada kota bersangkutan. Bahkan selanjutnya pemerintah kota juga
diwajibkan pula menyusun Rencana Teknik Ruang Kota (RTRK) yang sangat rinci dan bersifat
teknis yang sekaligus dapat menggambarkan lahan yang telah dipergunakaan untuk masing-

masing kegiatan. Dengan adanya ketiga dokumen perencanaan ruang tersebut akan dapat
dilakukan pengaturan dan pengawasan penggunaan lahan daerah perkotaan secaraa terarah.
Untuk dapat melakukan pengendalian dan pengawaasan pelaksanaan rencana tata ruang
wilayah tersebut , undang undang memberikan kewenangan kepada pemerintah kota untuk
melakukan pemberian sertifikat tanaah yang dikelola oleh Dinas Pertanahan kota tersebut.
Disaamping itu, pemerintah kota juga diberikan kewenangan untuk membrikan Izin Mendirikan
Bangunan (IMB) yang berfungsi baik sebagai pengendaalian, maupununtuk penembahan
pemasukan dana keuangan kota. Dengan demikian, warga masyarakaat yang ingin
memnfaatkan sebidang tanah untuk mendirikan bangunan harus memilki dua surat izin yaitu
sertifikat tanah dan IMB.pelanggaraan terhadap itu dapat diberikan sanksi dalam bentuk
penundaan pemberiaan izin atau pembongkaran bangunan bila konstruksi sudah selesai
dilakukan.
Namun demikian, kenyataaan menunjukkan bahwa samapai saat ini ketentuan tersebut di
Indonesia banyak yang dilanggar sehinggar pengaturan tata ruang kota menjadi tidak dapt
dilaksanakan secara baik. Hal ini terjadi karena pemahaman masyarakat tentang perlunya tat
ruang kota masih kurang. Masyarakat umumnya menganggap bahwa keharusan mendapatkan
IMB tersebut hanyalah alat pemerintah untuk memungut uang untuk menambah pendapatan
pemerintahkota saja.
Disamping itu , budaya korupsi yang masih sangat kuat dalam masyarakat ikut pula memicu
sulitnya dilakukan pengendalaian tersebut. Karena pelanggaran dengan mudah dilakukan oleh
pemilik bangunan dengan memberikan sejumlah uang kepada aparat pemerintah kota yang
berwenang dalam pemberian izin tersebut.
Akibat dari kondisi yang demikian , pengaturan tata ruang wilayaah perkotaan yang terdapat di
Indonesia dewasa ini umunya belum tertata dengan baik bahkan dapat dikatakan semrawut.
Kondisi ini selanjutnya akan cenderung pula menyebabkan tidak seimbangnya penggunaan
lahan untuk masing-masing kegiatan ekonomi kota yang selanjutnya akan cenderung
mengakibatkanterjadinya ketidak efisiensian penggunaan lahan perkotaan , kemacetan lalu
lintas, serta banyaknya daerah kumuh dan kurangnya keindahan kota . Kondisi tersebut
selanjutnya akan menyebabkan pula kebersihan daan kenyamanan kota serta kualitas
lingkungan hidup yang baik menjadi sukar untuk dapat terus dijaga. Kesemuanya ini akan
menyebabkan berkurangnya kenyamanan masyarakat untuk tinggal di daerah perkotaan yang
bersangkutan.

EKONOMI LAHAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang mempunyai lahan pertanian yang
membentang luas disertai dengan tanahnya yang subur sehinga dahulu
Indonesia disebut negara agraris namun sekarang, lahan pertanian kita setiap
tahunnya terus menyempit sehingga petanipun kian berkurang dan ini
menimbulkan masalah baaru mengenai pasok persediaan beras di dalam negri
yang terbatas di tambah dengan banyaknya para pengijonan yang menggerogoti
petani. Lahan merupakan sumberdaya alam sebagai wadah dan faktor produksi
strategis bagi kegiatan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan
manusia. Semua sektor pembangunan fisik memerlukan lahan, seperti sektor
pertanian, kehutanan, permukiman, industri, pertambangan, dan transportasi.
Tanah merupakan hal penting bagi kehidupan manusia. Diatas tanah
manusia mencari nafkah. Diatas tanah pula manusia membangun rumah sebagai
tempat bernaung dan membangun berbagai bangunan lainnya untuk
perkantoran dan sebagainya. Tanah juga mengandung berbagai macam
kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan manusia. Secara hakiki, makna dan
posisi strategis tanah dalam kehidupan masyarakat Indonesia, tidak saja
mengandung aspek fisik, tetapi juga aspek sosial, ekonomi, budaya, politik,
pertahanan keamanan dan aspek hukum. Tanah bagi masyarakat memiliki
makna multidimensional. Dari sisi ekonomi, tanah merupakan sarana produksi
yang dapat mendatangkan kesejahteraan. Secara politis tanah dapat
menentukan posisi seseorang dalam pengambilan keputusan masyarakat dan
sebagai budaya yang dapat menentukan tinggi rendahnya status sosial
pemiliknya. Aspek tersebut merupakan isu sentral yang terkait sebagai satu
kesatuan yang terintegrasi dalam pengambilan proses kebijakan hukum
pertanahan yang dilakukan pemerintah.

Tanah atau lahan merupakan sumber daya alam yang berperan penting
dalam kehidupan manusia. Hal ini mengingat tanah atau lahan dapat
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sosial maupun kebutuhan ekonomi
manusia. Pemanfaatannya hendaknya dilakukan seoptimal mungkin untuk
memenuhi kebutuhan dan memberikan kenyamanan bagi manusia. Oleh karena
itu dalam makalah ini akan membahas tentang pemanfaatan dan nilai ekonomi
lahan.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, adapun masalah yang muncul adalah


sebagai berikut:
1.

Pengertian Sumberdaya Lahan?

2.

Bagaimana penggunaaan Lahan?

3.

Bagaimana Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent)?

4.

Bagaimana Konsep Dasar Ekonomi Lahan?

5.

Faktor-faktor Mempengaruhi Penawaran dan Permintaan Lahan (Land Rent)


1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.

Untuk mengetahui Pengertian Sumberdaya Lahan?

2.

Untuk mengetahui jenis-jenis penggunaaan Lahan?

3.

Untuk mengetahui Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent)?

4.

Bagaimana Konsep Dasar Ekonomi Lahan?

5.

Untuk mengetahui Faktor-faktor Mempengaruhi Penawaran dan Permintaan


Lahan (Land Rent)
1.4 Manfaat

1.

Memberikan wawasan, pengetahuan, dan pemahaman mengenai nilai ekonomi


lahan dan sewa lahan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sumberdaya Lahan
Lahan merupakan sumberdaya, wadah, dan faktor produksi strategis bagi
pembangunan untuk meningkatkan kesejateraan manusia. Menurut Sitorus
dalam Kurniawati (2005), sumberdaya lahan adalah bagian dari bentang lahan
(land scape) yang mencakup pengertian lingkungan fisik termasuk iklim,
topografi/relief, hidrologi, termasuk keadaan vegetasi alami yang semuanya
secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan. Menurut Arsyad
dalam Kurniawati (2005), lahan dapat diartikan sebagai lingkungan fisik yang
terdiri atas iklim, relief, tanah, dan vegetasi, serta benda yang ada di atasnya

sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan termasuk di dalamnya


hasil kegiatan manusia di masa lampau dan sekarang, seperti reklamasi laut,
pembersihan vegetasi, dalam hal ini juga mengandung pengertian ruang dan
tempat.
2.2 Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan merupakan setiap bentuk campur tangan manusia
terhadap sumberdaya lahan baik yang bersifat menetap (permanen) maupun
daur (siklus) yang bertujuan memenuhi kebutuhan hidupnya baik materil
maupun spriritual (Priatmono dalam Sari, 2004). Penggunaan lahan pada
umumnya tergantung pada kemampuan lahan dan pada lokasi lahan. Untuk
aktivitas pertanian, penggunaan lahan tergantung pada kelas kemampuan lahan
yang dicirikan oleh adanya perbedaan atas sifat-sifat yang merupakan
penghambat bagi penggunaannya seperti tekstur tanah, lereng permukaan
tanah, kemampuan menahan air, dan tingkat erosi yang telah terjadi.
Penggunaan-penggunaan lahan juga tergantung pada lokasi khususnya untuk
daerah-daerah permukiman, untuk lokasi-lokasi industri, maupun untuk daerahdaerah rekreasi (Suparmoko, 1989).
Penggunaan lahan yang paling luas adalah untuk sektor pertanian yang
meliputi penggunaan untuk pertanian tanaman pangan, pertanian tanaman
keras, untuk kehutanan, maupun untuk ladang pengembalaan dan perikanan.
Tetapi
untuk daerah kota, penggunaan lahan yang utama adalah untuk permukiman,
industri, serta perdagangan. Penggunan lahan untuk rekreasi juga menempati
urutan yang tinggi karena meliputi pantai, pegunungan, dan danau (Suparmoko,
1989).
Menurut Harsono dalam Akib (2002), Penggunaan lahan secara garis besar
dibedakan menjadi dua golongan :
1.

Dalam kaitannya dengan pemanfaatan potensi alaminya, seperti kesuburan


tanah, kandungan mineral, atau terdapatnya endapan bahan galian
pertambangan di bawah permukaannya.

2.

Penggunaan tanah dalam kaitannya dengan pemanfaatannya sebagai ruang


pembangunan yang secara tidak langsung tidak memanfaatkan potensi alami
dari tanah, tetapi lebih ditentukan oleh adanya hubungan-hubungan antara tata
ruang dengan penggunaan-penggunaan lain yang telah ada, diantaranya
ketersediaan prasarana dan fasilitas umum lainnya.
2.3 Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent)
Lahan memiliki nilai ekonomi dan nilai pasar yang berbeda-beda. Lahan di
perkotaan yang digunakan untuk kegiatan industri dan perdagangan memiliki
nilai pasar yang tertinggi karena di tempat tersebut terletak tempat tinggal dan
sumber penghidupan manusia yang paling efisien dan memberikan nilai produksi

yang tertinggi. Para pemilik sumberdaya lahan cenderung menggunakan lahan


untuk tujuan-tujuan yang memberikan harapan untuk diperolehnya penghasilan
yang tertinggi. Mereka akan menggunakan lahannya sesuai dengan konsep
penggunaan yang tertinggi dan terbaik. Konsep ini memperhitungkan semua
faktor yang mempengaruhi kemampuan lahan, seperti aksebilitas serta kualitas
sumberdaya lahan dan lingkungan. Penggunaan yang terbaik dan tertinggi
biasanya untuk daerah industri dan perdagangan, menyusul untuk daerah
permukiman, kemudian untuk daerah pertanian, dan yang terakhir untuk ladang
penggembalaan dan daerah liar yang tidak ditanami (Suparmoko, 1989).
Menurut Hardjowigeno dalam Akib (2002), lahan paling sedikit mempunyai
tiga jenis nilai dalam ekonomi lahan, yaitu :
1.

Ricardian Rent, nilai lahan yang berkaitan dengan sifat dan kualitas tanah

2.

Locational Rent, nilai lahansehubungan dengan sifat lokasi relatif dari lahan

3.

Enviromental Rent, sifat tanah sebagai komponen utama ekosistem


Menurut Barlowe (1978) nilai ekonomi lahan dapat dibedakan menjadi
dua yaitu :

1.

Sewa Lahan (contract rent) sebagai pembayaran dari penyewa kepada pemilik
dimana pemilik melakukan kontrak sewa dalam jangka waktu tertentu.

2.

Keuntungan usaha (economic rent atau land rent) yang merupakan surplus
pendapatan di atas biaya produksi atau harga input lahan yang memungkinkan
faktor produksi lahan dapat dimanfaatkan dalam proses produksi.
Lahan yang lokasinya dekat pasar oleh masyarakat digunakan untuk
daerah pusat kegiatan ekonomi yang akan memberikan pendapatan dan
kapasitas sewa yang tinggi untuk berbagai alternatif penggunaan, seperti untuk
industriindustri atau kegiatan lain yang lebih menguntungkan. Bila mekanisme
pasar terus berlangsung, maka penggunaan lahan yang mempunyai land
rent yang lebih besar relatif mudah menduduki lokasi utama dan menekan serta
menggantikan posisi penggunaan lahan yang mempunyai land rent yang lebih
kecil. Secara umum besaran land rent dari berbagai kegiatan dapat diurutkan
sebagai berikut : Industri > Perdagangan > Permukiman > Pertanian Intensif >
Pertanian Ekstensif (Barlowe, 1978). Hal ini dapat disimpulkan bahwa sektorsektor yang komersial dan strategis mempunyai land rent yang tinggi. Sehingga
sektor-sektor tersebut berada di kawasan strategis.

Menurut Mubyarto (1985), faktor-faktor yang mempengaruhi land rent


adalah :
1.

Perbedaan kesuburan tanah

2.

Perbedaan jarak dari pasar

3.
4.

Perbedaan biaya produksi


Perbedaan lahan yang terbatas (scarsity of land) sehubungan dengan kondisi
lingkungan lahan tersebut.
Adanya kelangkaan sumberdaya lahan menyebabkan lahan memiliki nilai
yang semakin tinggi. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan konsep sewa ekonomi
lahan (land rent) yang merupakan konsep penting dalam teori ekonomi
sumberdaya lahan. Ada dua aspek penting yang menentukan nilai ekonomi
lahan, yaitu faktor kesuburan lahan dan jarak lahan tersebut dari pusat fasilitas.
Terkait dengan aspek-aspek tersebut, ada beberapa ahli yang mengemukakan
teori sewa ekonomi lahan antara lain :
1) Teori Ricardian Rent
David Ricardo dalam Suparmoko (1989) mengemukakan bahwa sewa
tanah dapat didefinisikan sebagai surplus ekonomi atas tanah tersebut. Artinya,
keuntungan yang didapat atas dasar produksi dari tanah tersebut setelah
dikurangi biaya. Adanya perbedaan surplus ekonomi yang didapat pada suatu
tanah dikarenakan perbedaan tingkat kesuburan. Andaikan ada tiga jenis lahan
dengan tingkat kesuburan yang berbeda dipergunakan untuk memproduksi
komoditas yang sama dan menggunakan faktor-faktor lain yang sama. Menurut
teori ini, karena perbedaan kesuburan lahan, maka pada tingkat
harga output dan input yang sama akan diperoleh surplus yang berbeda seperti
dijelaskan pada Gambar 1.

2) Teori Lokasi Von Thunen


Berdasarkan teori lokasi Von Thunen dalam Suparmoko (1989), bahwa
surplus ekonomi suatu lahan banyak ditentukan oleh lokasi ekonomi (jaraknya ke
kota). Menurut Von Thunen, bahwa biaya transportasi dari lokasi suatu lahan ke
kota (pasar) merupakan input produksi yang penting, makin dekat lokasi suatu
lahan ke kota maka makin tinggi aksesibilitasnya atau biaya transport makin
rendah, oleh karena itu sewa lahan akan semakin mahal berbanding terbalik
dengan jarak. Semakin jauh jarak ke pusat pasar maka biaya transportasi
semakin mahal sehingga land rent semakin turun sejalan dengan semakin

meningkatnya biaya transportasi. Hal ini dapat diilustrasikan seperti pada


Gambar 2, misalkan pada jarak 0 km (tepat di lokasi pasar) biaya transportasi
tidak ada, maka biaya total produksi sebesar OC (land rent tinggi), kemudian
pada jarak OM biaya transportasi meningkat menjadi BA sehingga biaya total
produksi menjadi MA, sehingga land rent-nya menjadi lebih rendah. Pada jarak
OK biaya transportasi sebesar UT, sehingga biaya total produksi sebesar KT,
pada kondisi demikian tidak mendapatkan surplus. Oleh karena itu land
rent berbanding terbalik dengan jarak, semakin besar jarak maka land
rent semakin kecil.

Faktor yang mempengaruhi kelangkaan adalah


1.

Keterbasan sumber daya

2.

Perbedaan letak geografis

3.

Pertambahan jumlah penduduk

4.

Keterbatasan jumlah produksi

5.

Bencana alam

6.

Kemajuan peradaban
2.4 Konsep Dasar Ekonomi Lahan
Lahan mempunyai tempat yang khusus dalam kelompok sumber daya, karena
lahan diperlukan dalam semua aspek kehidupan manusia dan lahan juga menjadi faktor
utama dalam mempengaruhi sumber daya alam lainnya. Sebagai sumber daya, lahan
mempunyai karakteristik spesial dalam alokasinya. Banyak faktor yang mempengaruhi

nilai sebidang lahan seperti topografi, kesuburan, dan terutama yang membedakannya
dengan sumber daya lainnya adalah lokasinya yang tertentu. Lahan tidak bisa dipindahpindahkan. Jika dalam Ilmu Ekonomi umumnya faktor produksi dikelompokkan hanya
menjadi tenaga kerja dan modal, dalam Ilmu Ekonomi Pertanian, lahan yang juga masuk
katergori modal, disebut secara khusus karena sifat keterikatannya dengan lokasi.

Perhatian kita diarahkan pada empat konsep dasar dari ekonomi lahan
sebagai berikut: (a) konsep ekonomi tentang lahan dan sumber daya lahan, (b)
jenis penggunaan lahan, (c) konsep kapasitas guna lahan, dan (d) konsep
penggunaan terbaik.
a. Lahan dan Sumber Daya Lahan

Istilah lahan umumnya berarti bagian dari permukaan bumi. Dari sudut
pandang hukum, lahan berarti sebagian dari permukaan bumi pada mana hak
pemilikan berlaku. Hak pemilikan di sini tidak hanya berlaku bagi lahan saja tapi
juga bagi yang ada di atasnya, baik yang disediakan oleh alam maupun buatan,
dan di bawahnya. Dari sudut pandang ekonomi, lahan dapat diartikan sebagai
keseluruhan sumber daya baik yang bersifat alami maupun buatan yang terkait
dengan sebidang permukaan bumi. Ilmu ekonomi juga sering merujuk lahan
bersama-sama dengan tenaga kerja, modal dan pengelolaan sebagai empat
faktor produksi dasar. Dalam pengertian ini, lahan diartikan sebagai sumber daya
alami yang digunakan dalam proses produksi dalam menghasilkan pangan,
serat, bahan bangunan, bahan tambang atau bahan mentah yang diperlukan
dalam kehidupan modern.
b. Jenis Penggunaan Lahan

Jenis penggunaan lahan adalah kategori penggunaan lahan dari sudut


pandang kepentingan dan manfaatnya bagi manusia. Secara umum, jenis
penggunaan lahan dapat berupa: (1) lahan pemukiman, (2) lahan komersial dan
industri, (3) lahan pertanian, (4) padang penggembalaan, (5) hutan, (6) lahan
tambang, (7) transportasi dan pelayanan public, dan (8) lahan tandus dan tidak
dimanfaatkan.
c. Kapasitas Guna Lahan

Konsep dari kapasitas guna lahan merujuk pada kemampuan relatif dari
sebidang lahan dalam memberikan hasil atau kepuasan di atas biaya
penggunaannya. Konsep ini dapat diterapkan pada produktivitas lahan ketika
lahan tersebut digunakan pada suatu waktu tertentu dengan tingkat teknologi
dan kondisi produksi yang tertentu pula. Konsep ini merupakan ukuran yang
umum digunakan untuk mengukur kualitas sebidang lahan. Misalkan tiga bidang
lahan yang ukurannya sama dan digunakan untuk hal yang sama, jika masingmasing menghasilkan pendapatan bersih Rp 50, Rp 100 dan Rp 30, maka bidang
lahan yang kedua mempunyai kapasitas guna yang paling tinggi .
Kapasitas guna lahan mengandung dua komponen utama yakni: (1)
aksesibilitas, dan (2) kualitas sumber daya. Aksesibilitas berkaitan dengan lokasi

dari lahan terhadap pasar dan fasilitas transportasi, serta lokasinya terhadap
tempat-tempat penting lainnya. Juga berkaitan dengan biaya transporasi dan
komunikasi dan waktu tempuh.
Kualitas sumber daya berkaitan dengan kemampuan relatif dari lahan
dalam hal menghasilkan produk yang diinginkan, pendapatan, atau kepuasan.
Untuk lahan pertanian, kualitas lahan dipandang dari sudut kesuburannya.
Kualitas lahan juga berkaitan dengan faktor lingkungan lainnya seperti
kemudahan untuk memperoleh air irigasi, hujan, suhu, kecepatan angin dan
frekuensinya terkena badai.
d. Penggunaan Tertinggi dan Terbaik
Kebanyakan sebidang lahan bisa digunakan untuk berbagai jenis penggunaan
seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Sebidang lahan bisa digunakan untuk lokasi
bisnis, pemukiman, pertanian, hutan, dll. Pemilik lahan dapat menggunakan lahannya
bagi penggunaan yang mungkin. Akan tetapi, dari sudut pandang ekonomi, pemilik lahan
cenderung menggunakan lahannya pada penggunaan yang diperkirakan akan
memberikan pendapatan yang paling tinggi. Sehubungan dengan itu, lahan cenderung
dialokasikan menurut konsep penggunaan tertinggi dan terbaik.

Dalam dunia modern sekarang ini, penggunaan lahan untuk komersial dan
industri akan memberikan pendapatan tertinggi. Pemukiman merupakan
penggunaan lahan tertinggi berikutnya, kemudian lahan pertanian, dan hutan
serta padang penggembalaan. Oleh karena itu, apabila kita memperhatikan pola
penggunaan lahan dari sudut jaraknya dari pusat kota atau pasar, maka pola
penggunaan akan terlihat seperti tadi.
Secara grafik, konsep ini dapat digambarkan dalam kurva fungsi tawar
sewa lahan (bid rent function) seperti digambarkan dalam Gambar 8.1. Sumbu
mendatar menunjukkan jarak lokasi lahan dari pusat kegiatan atau pasar,
sedangkan sumbu vertikal menunjukkan nilai sewa. Seperti sudah dijelaskan di
atas, semakin dekat dengan pusat kegiatan, nilai tawar untuk penggunaan
komersial dan industri lebih tinggi daripada nilai tawar penggunaan lainnya.
Ketika jarak semakin jauh, pada satu titik nilai tawar untuk pemukiman melebihi
untuk penggunaan komersial dan industri, sehingga akhirnya lahan yang paling
jauh hanya cocok untuk penggunaan yang nilai tawarnya paling rendah. Nilai
tawar untuk sebuah penggunaan bisa bergeser ke kanan-atas atau naik jika
terdapat perubahan penilaian konsumen atas satu penggunaan tertentu.
Misalnya ketika masyarakat lebih menyenangi rekreasi dan pemandangan
alam, maka nilai tawar sewa untuk penggunaan ini menjadi naik dan mungkin
dapat mengalahkan nilai tawar untuk pemukiman untuk suatu lokasi tertentu .

2.5 Penawaran dan Permintaan Lahan

Dalam pengertian lahan sebagai bagian dari permukaan bumi, luas lahan
bersifat tetap. Dalam konteks ini, lahan dapat dianggap sebagai sumber daya
dengan jumlah cadangan (stok) yang tetap. Akan tetapi, berbeda dengan
sumber daya dapat habis atau takterbarukan lainnya, penggunaan lahan tidak
menghabiskan cadangan lahan. Ini berbeda dengan minyak bumi, misalnya,
penggunaan minyak bumi dari tahun ke tahun pada akhirnya akan
menghabiskan cadangan minyak bumi. Konsep ini berkaitan dengan konsep
ketersediaan lahan secara fisik.
Dari sudut pandang ekonomi, kurva penawaran lahan seperti kurva
penawaran barang lainnya mempunyai slope yang positif karena berkaitan
dengan konsep produktivitas marjinal dari lahan. Berarti dengan naiknya harga,
semakin banyak unit (luas) lahan yang mau dijual oleh produsen atau pemilik
lahan. Naiknya penawaran lahan bisa berasal dari lahan yang tadinya kurang
sesuai untuk sebuah penggunaan tertentu, atau dari alih fungsi lahan dari satu
penggunaan lahan ke penggunaan lainnya. Dalam bidang pertanian misalnya,
ketika permintaan terhadap lahan pertanian naik (berarti harga per unit lahan
naik), lahan-lahan marjinal atau kurang subur yang awalnya tidak digunakan
untuk pertanian karena tidak menguntungkan sekarang menjadi menguntungkan
digunakan sebagai lahan pertanian. Dalam contoh yang lain, lahan pertanian
bisa beralih fungsi menjadi lahan pemukiman karena secara ekonomi lebih
menguntungkan bila lahan tersebut digunakan untuk pemukiman.
Permintaan terhadap lahan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti adat
dan kebiasaan, pendidikan, budaya, pendapatan, preferensi, tujuan individu dan
lain-lain. Akan tetapi, faktor yang paling penting yang mempengaruhi
permintaan agregat (pasar) terhadap lahan adalah jumlah penduduk. Penduduk
memerlukan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, pemukiman, pangan, serat,
dan lain-lain. Semua kebutuhan itu berkaitan dengan penggunaan lahan. Dengan
semakin banyaknya penduduk, semakin banyak pemukiman diperlukan, semakin
banyak pangan harus diproduksi, semakin banyak fasilitas publik yang harus
dibangun, dan semuanya memerlukan lahan. Dengan alasan tadi, permintaan
akan lahan untuk masing-masing penggunaan juga semakin tinggi, sehingga
konversi lahan dari satu penggunaan ke penggunaan lainnya menjadi hal yang
tidak bisa dihindarkan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan sebagai berikut :


1.

Kualitas tanah/kesuburan tanah

2.

Lokasi

3.

Pendapatan/ tingkat kesejahteraan

4.

Jumlah penduduk

5.

Perkembangan teknologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi kegunaan/kepuasaan sebagai berikut:

1.

Biaya produksi dan kemudahan akses

2.

Kualitas pelayanan

3.

Kebutuhan dan keinginan (peruntukkan)

4.

Kualitas produk yang di hasilkan


Faktor-faktor yang mempengaruhi transferbility antara lain Ketersedian
infrastruktur, Ukuran/luas tanah, Prospek perkembangan wilayah Status
penguasaan tanah dan Kemudahan akses.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Lahan dapat diartikan sebagai lingkungan fisik yang terdiri atas iklim,
relief, tanah, dan vegetasi, serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada
pengaruhnya terhadap penggunaan lahan termasuk di dalamnya hasil kegiatan
manusia di masa lampau dan sekarang, seperti reklamasi laut, pembersihan
vegetasi, dalam hal ini juga mengandung pengertian ruang dan tempat.
Menurut Mubyarto (1985), faktor-faktor yang mempengaruhi land rent
adalah :
1.

Perbedaan kesuburan tanah

2.

Perbedaan jarak dari pasar

3.

Perbedaan biaya produksi

4.

Perbedaan lahan yang terbatas (scarsity of land) sehubungan dengan kondisi


lingkungan lahan tersebut

Jenis penggunaan lahan adalah kategori penggunaan lahan dari sudut


pandang kepentingan dan manfaatnya bagi manusia. Secara umum, jenis
penggunaan lahan dapat berupa: (1) lahan pemukiman, (2) lahan komersial dan
industri, (3) lahan pertanian, (4) padang penggembalaan, (5) hutan, (6) lahan
tambang, (7) transportasi dan pelayanan public, dan (8) lahan tandus dan tidak
dimanfaatkan.
3.2 Saran

Dalam penggunaan lahan atau


sewa lahan seharusnya kita
memperhatikan
kesuburan tanah atau kualitas tanah supaya dalam
produktivitas akan di capai dengan maksimal khususnya dalam bidang
pertanian. Bukan kualitas lahan saja di perhatikan tapi kita juga harus
perhatikan transportasinya, infrastrukturnya dll, supaya dalam melakukan
transportasi ke pasar dalam berjalan dengan baik tanpa merusak tanaman hasil
panen terutama tanaman yang mudah rusak harus di perhatikan infrastruktur.

DAFTAR PUSTAKA
Akib, Novi Narilla. 2002. Studi Keterkaitan Antara Nilai Manfaat Lahan (Land Rent) dan
Konversi Lahan Pertanian di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok. Tesis.Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Kurniawati, Yoyoh. 2005. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian ke Non
Pertanian dan Pengaruhnya Terhadap daya dukung Lahan di Kecamatan
Lembang Kabupaten Bandung. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor.
Mubyarto. 1977. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta
Suparmoko. 1989. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan: Suatu Pendekatan
Teoritis. PAU-UGM. Yogyakarta
www.geoggle.sumberdayalahan.PDF.

ANALISIS KREDIT AGRIBISNIS

EKONOMI REGIONAL : 10. UKURAN


KOTA OPTIMAL
Leave a reply

PEMBAHASAN

1. A.

Perkembangan kota di Indonesia

Sebagai sebuah negara sedang berkembang perkembangan pertumbuhan kota di Indonesia


ternyata cukup cepat. Dengan menggunakan data sensus penduduk selama 10 tahun terakhir
yaitu 2000 2010 ternyata telah terjadi pertumbuhan penduduk kota (tingkat urbanisasi) yang
cukup pesat di Indonesia

Jumlah
Nama Kota

Penduduk 2010 (jiwa)

Pertmbuhan 2000 2010 (Persentase)

DKI Jakarta

9.607.787

14,17

Surabaya

2.611.506

4,50

Bandung

2.288.570

9,91

Medan

2.029.797

6,40

Semarang

1.438.733

12,59

Palembang

1.342.258

15,45

Makassar

1.194.583

10,48

Dari table diatas, ternyata pertumbuhan penduduk pada beberapa kota-kota utama di Indonesia
adalah cukup pesat yaitu berkisar antara 4-15 % setiap tahunnya, maka pertumbuhan penduduk
perkotaan yang cukup tinggi mengindikasikan tinggi pula tingkat perpindahan penduduk dari
desa ke kota (urban-rural-migration).
Perkembangan ukuran kota tersebut menggunakan penduduk sebagai indicator bahwa
Indonesia pada dewasa ini telah terdapat indikasi terjadinya primate city. Alasannya adalah
bahwa penduduk kota Jakarta sudah mencapai sekitar 4 kali lipat dari jumlah penduduk kota
Surabaya. Akibatnya adalah terjadinya inifisiensi dalam penggunaan lahan secara nasional.
Karena konsentrasi yang sangat besar di Jakarta dibandingkan dengan kota lainnya di
Indonesia. Untuk mengatasi prihal tersebut maka kebijakan pengendalian penduduk secara lebih
ketat harus dilakukan pada kota-kota besar khususnya kota Jakarta. Dengan cara demikian
diharapkan dalam jangka panjang akan dapat dicagah terjadinya primate city tersebut dan
perkembangan penduduk kota akan dapat lebih diseimbangkan sehingga dapat terwujud
efisiensi kegiatan ekonomi dan penggunaan lahan didaerah perkotaan.

1. B.

Ukuran Kota Optimal

Dalam menentukan ukuran optimal kebijakan urbanisasi dan pertumbuhan penduduk kota,
apakah akan dibatasi atau dibiarkan saja secara alamiah. Alasannya adalah bahwa kebijakan
pembatasan urbanisasi dan perpindahan penduduk kota hanya akan logis dan dapat dibenarkan
untuk kota dengan jumlah penduduk yang relative besar. Sedangkan penduduk kota dengan
jumlah penduduk relative kecil, urbanisasi dan pertumbuhan penduduk sebaiknya dibiarkan saja
karena hal tersebut dapat menimbulkan dampak positif dalam bentuk peningkatan keuntungan
aglomerasi yang dapat memberikan dampak positif bagi kegiatan ekonomi kota tersebut.
Alonso(1975) dan Richardson(1978), ukuran kota optimal (optimal city size) dari sudut pandang
ekonomi dapat dianalisis dengan menggunakan dua pendekatan yaitu: pendekatan biaya
minimum (minimum cost approach) dan pendekatan biaya marginal (marginal cost approach).
Masing-masing pendekatan ini menggunakan peraltan analisis berbeda dan akan menghasilkan
ukuran kota optimal yang berbeda pula satu sama lainnya. Karena itu , pendekatan mana yang
paling tepat dan sesuai dengan keinginan mengambil keputusan yang sangat bergantung pada
tujuan, sifat dan sasaran utama pembangunan kota bersangkutan dalam jangka pandang.
1. 1.

Pendekatan ongkos minimum

Pendekatan ongkos minimum mendasarkan analisisnya pada pertimbangan bahwa


pembangunan kota yang optimal dari sudut pandang ekonomi adalah bilamana kota
bersangkutan dapat dikelola dengan biaya pengelolaan rata-rata yang minimum. Pandangan ini
sesuai dengan tujuan dan sasaran pemerintah dalam pengelolaan kota ( urban public
management).
Prinsip ilmu ekonomi yang mendasari pendekatan ini adalah ekonomi skala besar(economies of
ralgescale) yang menyatakan bahwa ukuran kota akan dapat diperbesar sampai suatu titik
dimana tercapai biaya pengelolaan rata-rata perkapita yang minimum. Pada titik ini, pengelolaan
kota akan bejalan secara efisien karena dapat menyelenggarakan pengelolaan kota deengan
biaya per kapita terendah. Bilamana ukuran kota masih tetap diperbesar dengan membiarkan
jumlah penduduk terus bertambah, setelah meleati titik tersebut maka biaya oeneglolaan ratarata meningkat. Dengan demikian, titik biay minimu dapat dijadikan sebgai dasar utama
penentuan ukuran kota yang optimal dari sudut pandang ekonomi.
Presentasi secara grafis dari penentuan ukuran kota optimum tersebut dapat dilihat dari grafik
11.1

Biaya Produksi

MC
MP

AP

AC

Penduduk

Pd

Pa

Pb

Pe

Disini terlihat bahwa ada tiga macam titikmukuran kota optimal yang dapat dihasilkan. Pada
grafik ini terlihat bahwa, kurva ongkos rata-rata pengelolaan kota, AC, merupakn kurva berbentuk
huruf U ( U shafe curve). Kurva ini mula-mula menurun bilamana jumlah penduduk kota
bersangkitan meningkat yang memperlihatkan adanya proses keuntungan skala besar
(economies of scale). Dengan demikian, bilamana sasaran utama pengelolaan kota adalah untuk
mewujudkan tingkat efisiensi penggunaan biaya yang paling baik, maka titik P a merupakan
ukuran kota yang terbaik untuk dapat memenuhi skala ekonomi yang terbaik.

1. 2.

Pendekatan Marginal Cost Marginal Product

Dari sudut pandang pertumbuhan perekonomian kota turut diperhatikan, maka pendekatan
marginal cost (MC) dan Marginal Product (MP) akan menjadi lebih tepat. Dalam hal ini ukuran
kota optimal akan didasarkan pada prinsip maksimum pertumbuhan ekonomi secara
keseluruhan dengan kriteria penilaian terletak pada titik MC = MP. Menggunakan prinsip ini maka
jumlah penduduk kota optimal ditentukan pada titik Pc dalam grafik 11.1. dengan menggunakan
kriteria ini ternyata ukuran penduduk kota optimal akan menjadi lebih besar dibandingkan dengan
pada pendekatan AC dan AP.

1. C.

Ukuran Kota Minimum dan Maksimum

Ukuran kota minimum sebaiknya di capai oleh Negara sedang berkembang yang ditunjukkan
pada titik Pa pada grafik 11.1. Alasannya adalah karena pada titik ini, pada suatu pihak, biaya
rata rata untuk pengelolaan kota (AC) sudah berada pada titik minimum sehingga efsiensi
biaya dapat terwujud. Sedangkan di pihak lain, selisih antara AP dan AC melambangkan
manfaat bersih yang diterima oleh seluruh warga kota yang belum maksimal. Karena itu
besarnya kota pada titik Pb akan lebih menarik sebagai ukuran kota minimum dibandingkan titik
Pa karena mempertimbangkan manfaat yang diterima oleh warga kota bersangkutan.

Penentuan ukuran kota maksimum biasanya dilihat dari kaca mata kepentingan dunia usaha
karena kegiatan bisnis lebih menyukai kota untuk dapat menyerap keuntungan aglomerasi yang
biasanya dihasilkan oleh kota besar. Karena pertimbangan tersebut, maka dengan
menggunakan analisis pada grafik 11.1 itu, maka ukuran kota maksimum itu adalah pada titik
Pe dimana marginal cost (MC) pengelolaan kota akan sama dengan marginal Product (MP).
Melalui kriteria ini, manfaat yang diterima pada dunia usaha di kota akan dapat dimaksimumkan.

1. D.

Keuntungan Aglomerasi dan Ukuran Kota Optimal

Cara lain yang dapat dilakukan dalam mengklasifikasikan keuntungan aglomerasi adalah dalam
bentuk
( a ). rumah tangga (household)
( b ). perusahaan (firms)
( c ). Kegiatan social
Aglomerasi social meliputi 2 jenis yaitu : efisiensi dalam pelayanan social yang dapt
menguntungkan baik rumah tangga maupun perusahaan.

Keuntungan
aglomerasi
total produk kota

II

Keuntungan

constant

Aglomerasi

Aglomeration

III
decreasing
Aglomeration

Grafik 11.2 Hubungan Keuntungan Aglomerasi dengan Ukuran Kota

Kaitan antara keuntungan aglomerasi denga ukuran kota optimal sebegitu jauh menuju kepada 3
arah utama yaitu :
1. Hubungan antara struktur ekonomi kota dengan ukuran kota
2. Pengukuran keuntungan kota skala besar
3. Konsentasi kegiatan ekonomi tertentu pada pusat kota (CBD) yang cenderung
menyebabkan adanya tendensi terjadinya desentralisasi kegiatan ekonomi lainnya
kepinggiran kota (suburban areas).

1. E.

Tingkat urbanisasi berlebihan

Analisis tentang keterkaitan antara tingkat industrialisasi dengan urbanisasi dalam suatu daerah
dapat dilakukan dengan regresi antara persentase jumlah angkatan kerja yang tidak terlibat
dalam kegiatan pertanian dengan persentase penduduk yang tinggal didaerah perkotaan.
Penelitian ini pertama telah dilakukan oleh Davis dan Golden (1954) dan menemukan tingkat
korelasi yang cukup tinggi yaitu sekitar 0,86 yang berarti membenarkan keterkaitan tersebut.
Namun demikian, analisis ini juga memperlihatkan bahwa ada beberapa Negara yang tidak
sejalan dengan analisis ini yaiutu antara lain adalah mesir. Karena itu kesimpulan umum masih
dapat ditarik yaitu bahwa ada hubungan keterkaitan yang cukup erat antara tingkat industrialisasi
dan urbanisasi.

Analisis berikutnya yang juga sangat menarik adalah menyangkkut dengan penyebab terjadinya
urbanisasi yang berlebihan . terdapat unsur pendorong (push factor) dan unsur penarik ( pull
factor) yang menyebabkan terjadinya urbanisasi tersebut. Kedua unsur telah menyebabkan
terjadinya perpindahan pendudik yang cukup besar dari daerah pedesaan menuju daerah
pekotaan sehingga terjadi kelebihan urbanisasi yang menimbulkan berbagai dampak negative
bagi perkembangan daerah perkotaan.

Unsur pendorong utama adalah adanya tingkat pengangguran terbuka (open


unemployment) dan setengah menganggur ( dissguidsed unemployment) yang cukup tinggi di
daerah pedesaan, tingkat pendapataan usaha tani yang rendah juga menjadi faktor pendorong
lainya yang cukup kuat. Kondisi demikian menimbulkan daya dorong yang cukup kuat bagi
penganggur untuk pindah ke perkotaan karena mengharapkan mendapatkan pekerjaan dan
tingkat upah yang lebih tinggi.

Sedangkan unsur penarik dari daerah perkotaan adalah meningkatnya permintaan


terhadap tenaga kerja dan tingkat upah yang lebih baik karena semakin berkembangnya
kegiatan industry , perdagangan dan jasa. Disamping kondisi kehidupan yang lebih baik dan
menyenagkan di daerah perkotaan karena adanya sarana dan prasarana kehidupan yang lebih
baik juga menjasi daya tarik yang cukup besar bagi penduduk daerah pedesaan untuk pindak ke
daerah perkotaan.
Beberapa dampak negative yang dapat terjadi dari sebagai akibat dari adanya urbanisasi yang
berlebihan tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
1. Meninglkatnya kemacetan lalu lintas (traffic conestion) karena kepadatan penduduk yang
sangat tinggi.

2. Meniningkattnya pengangguran pada daerah perkotaan (urban unemployment) karena


penambahan jumlah angkatan kerja daerah perkotaan sebagai akibat dari peningkatan
urbanisasi.
3. Meningkatnya tingkat kemiskinan daerah perkotaan (urban poverty) sebagai konsekuensi
dari peningkatan pengangguran tersebut diaatas.
4. Meningkatnya jumlah daerah kumuh (slump areas) sehingga mengganggu kebersihan
dan keindahan kota.
5. Meningkatkan kejahatan dan kriminalitas kota yang dipicu olehtingkat pengangguran
dan kemiskinan yang tinggi.

Kebijakan penanggulangan urbanisasai berlebihan.


1. Pembatasan perpindahan penduduk masuk kota
kebijakan ini dapat dilakukan dengan dengan jalan membatasi pemberian KTP Untuk para
pendatang baru dengan menetapkan syarat-syarat yang lebih berat.

1. Pengembangan Kota-kota Skala Kecil dan menengah


Kebijakan ini dapat dilakukan dengan menetapkan kota-kota kecil, misalnya ibukota kecamatan
sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

1. Pengembangan Transportasi Kota


Penangulangan arus perpindahan penduduk ke daerah perkotaan juga dapat dilakukan melalui
pembangunan dan pengembangan jaringan transportasi kota secara lebih meluas samppai ke
daerah pinggiran kota.

1. Pengembangan Perumahan dan Lingkungan Pemukiman Kota


Kebijakan ini dialkukan untuk dapat memenuhi kebutuhan warga kota akan fasilitas
perumahansehingga dapat meningkatkan kesejahteraan warga kota yang jumlahnya semakin
banyak.

1. Penanggulangan Pengangguran dan Kemiskinan Kota


Karena urbanisasi berlebih cendrung meningkatkan jumlah pengangguran dan kemiskinan kota,
maka upaya yang terus-menerus untuk menanggulangi permasalahan tersebut menjadi
kebijakan yang sangat strategis.

EKONOMI PERKOTAAN
Konsep :
merupakan suatu
disiplin ilmuekonomi
baru
yang
membahas analisis ekonomi terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh
kota dalam perkembangannya
Ciri atau sifat esensial daerah perkotaan adalah konsentrasi basis
berbagai kegiatan ekonomi, social, dan politik pada tata ruang perkotaan.
Masalah perkotaan sangat luas dan bervariasi, sehingga untuk
menanganinya diperlukan langkah dan upaya pemecahan dengan menggunakan
analisis ekonomi agar dapat dicapai hasil yang efektif dan efisien.
Ekonomi perkotaan merupakan salah satu disiplin ilmu karena mempunyai :
Objek : Kota itu sendiri dengan segala macam permasalahannya
Batasan :
FUNGSI KOTA BESAR
FUNGSI TEMPAT TINGGAL (WISMA)
Perumahan (papan) merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia.
perumahan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan stabilitas social,
dinamika masyarakat dan produktivitas kerja. Namun pertambahan penduduk
kota yang sangat pesat akan meningkatkan kebutuhan terhadap perumahan
yang semakin besar pula hal ini menimbulkan banyak hambatan disebabkan
karena rendahnya kemampuan ekonomi sebagaian besar penduduknya dan
tingginya biaya pembangunan perumahan. Tingginya biaya disebabkan karena
keterbatasan factor-faktor produksi perumahan seperti tanah
( lahan), bahan bangunan, dll.
Permasalahan : Semakin banyak tumbuh perumahan yang kurang memenuhi
persyaratan bagi perumahan yang layak dan lingkungan yang sehat (kumuh).
Solusi : Dibangunnya perumahan rakyat yang memenuhi standart yang telah
ditetapkan yaitu jumlah yang memadai di dalam lingkungan yang sehat, kuat
dari segi teknis dan dalam jangkauan masyarakat.

FUNGSI TEMPAT PEKERJAAN (KARYA)


Kota-kota besar sebagai pusat-pusat kegiatan dapat ditandai dengan terjadinya
aglomerasi industry dan arus urbanisasi. Sehingga fungsi dan peranan kota
sangat penting sebagai pusat kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi.
Permasalahan :

Pertumbuhan penduduk kota yang sangat cepat sering kali tidak diimbangi
dengan penyediaan lapangan kerja yang memadai yang pada akhirnya akan
menimbulkan pengangguran, beban pemerintah, keonaran sering terjadi di
dalam masyarakat, perkampungan kumuh dan peningkatan angka kriminalitas.
Sebagian kegiatan produktif di perkotaan terjadi atau berada pada
gedung-gedung dan antar gedung. Pembangunan gedung-gedung tersebut

berkembang cepat , bahkan sebagian tidak terarah atau tidak terkontrol dengan
baik.
Solusi:
Pemerintah harus berusaha menciptakan iklim yang menggairahkan
terhadap kegiatan ekonomi, baik dalam arti menciptakan lapangan kerja baru
maupun memperluas kegiatan yang sudah ada. Diantaranya, mengadakan
perbaikan kondisi pemukiman, penentuan lokasi kegiatan industry yang tepat,
mendorang inisiatif (prakarsa) dan usaha swasta seluas mungkin serta usahausaha lainnya dalam rangka penciptaan dan perluasan lapangan kerja di dalam
wilayah perkotaan.
Pemerintah kota harus menciptakan lingkungan fisik perkotaan (urban
setting) yang serasi dan harmonis. Keadaan tempat-tempat pekerjaan harus
diusahakan sedapat mungkin memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan,
kebersihan dan keindahan.
FUNGSI LALU LINTAS (MARGA)
Pemukiman penduduk yang terpusat di daerah perkotaan menimbulkan
kebutuhan akan prasarana dan sarana transportasi yang digunakan untuk
melayani angkutan penduduk. secara teoritis permintaan akan jasa transportasi
adalah bersifat turunan (derived demand). Kenaiakan terhadap kegiatan
perdagangan dan industry serta kegiatan mobilitas lainnya akan menimbulkan
permintaan akan jasa transportasi. Berbagai jenis perjalanan tersebut dapat
dikelompokkan menjadi aksebilitas antar kegiatan tempat tinggal, aksebilitas
antar kegiatan non tempat tinggal.
Permasalahan
: Banyaknya
angkutan
yang
ada
di
kota
kadang
mengakibatkan kesemrawutan tata kota. Angkutan kota banyak diantaranya
yang telah tua dan diantaranya memproduksi emisi yang mengakibatkan polusi
udara di daerah perkotaan.
Solusi : Adanya perencanaan angkutan umum di daerah perkotaan yang baik
dan serasi. Lokasi kegiatan-kegiatan ekonomi dapat diatur dan disesuaikan
dengan perumahan yang dihubungkan melalui jalur angkutan yang tepat. Selain
itu diperlukan juga konsolidasi antar berbagai jenis alat angkutan, penyusunan
pola trayek angkutan, penerapan tariff angkutan, pembarian izin, pembangunan
terminal, peremajaan kendaraan, pengujian emisi berkala.

FUNGSI REKREASI
Kota sebagai pusat kegiatan juga memenuhi fungsi rekreas
TERBENTUKNYA KOTA KARENA TUNTUTAN EFISIENSI
Kota sebagai pusat kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi.
MENGAPA TIMBUL URBANISASI
Faktor pendorong

Daerah belum maju


pekerjaan
Penghasilan rendah
Faktor penarik

Proses aglomerasi/polarisasi
Penghasilan/upah yang lebih tinggi
Melanjutkan sekolah
Kebebasan pribadi
Hiburan
adat
Pertumbuhan dan Struktur Kota
Kriteria Pertumbuhan Kota
Kota merupakan konsentrasi pemukiman penduduk yang makin lama makin
meluas. Konsentrasi di dalam pemukiman penduduk di daerah perkotaan sangat
tinggi kepadatannya. Gejala yang sering ditemukan di daerah perkotaan adalah
urbanisasi. Perkembangan kota mencakup kegiatan pembangunan dan
perkembangan kota itu sendiri.Perkembangan kota juga mencakup kegiatan
pelayanan bagi daerah hinterland (daerah belakang).
Prinsip Pertumbuhan Kota
Menurut Boulding Pertumbuhan kota sebagai suatu proses yang cukup pelik.
Prinsip yang diungkapkan Boulding :
1. Dalam gerak pertumbuhan, maka bentuk dari setiap objek, organisme atau
organisasinya merupakan akibat dari hukum pertumbuhannya.
2. Equal adventege, menjelaskan bagaimana terjadinya distribusi atau
kemampuan tumbuh diantara bagian-bagian struktur kota diupayakan agar
relative lebih berimbang.

Konsep Struktur Kota


Teori The Concentric Zone oleh E. W Burges
Dalam
2. Teori Radial Sector oleh Homer Hyot
3. Konsep Multiple Nuclei oleh Harris dan Ullman

TEORI-TEORI PERTUMBUHAN KOTA


CENTRAL PLACE DAN URBAN BASE

Formulasi Teori Central Place


Pusat kota dapat dikatakan pula dengan istilah central place (tempat sentral)
yang didefinisikan dalam arti fungsi-fungsi sentral yang dilaksanakan
untuk suatu daerah. Fungsi utama kota adalah bertindak sebagai suatu
pusat pelayanan untuk daerah hinterland di sekitarnya (yang disebut
sebagai daerah komplementer/daearah belakang), yang menyuplai kebutuhan
barang dan jasa untuk kota.
Menurut teori central place atau tempat sentral, kota tumbuh dan berkembang
sebagai akibat dari permintaan barang dan jasa daerah sekitarnya. Atau dengan
kata lain pertumbuhan kota merupakan suatu fungsi dari penduduk
daerah hinterlandnya dan merupakan fungsi dari tingkat pendapatannya.

1.
Keterbatasan/kelemahan teori central place
1. Pada kenyataannya kota besar tidak mengkususkan fungsinya pada produksi
barang dan jasa yang akan dipasarkan ke darah pasar yang luas sebagaimana di
klaim oleh teori central place.
contoh: Kepadatan penduduk kota diikuti oleh peningkatan kebutuhan. Persoalan
yang timbul bahwa dalam pertumbuhan kota ternyata tidak sederhana seperti
pemasaran barang dan jasa yang diproduksi oleh central place yang berada di
dalam kota untuk daearh-daerah sekitarnya. Kebutuhan pelayanan kepada
penduduk kota yang cukup banyak jenisnya dab sangat luas jangkauannyaharus
ditempuh dan disediakan secara cukup, merata, dan murah.
2. Analisis central place ternyata lebih menekankan pada peranan sektor
perdagangan dan kegiatan jasa dari pada kegiatan produktif lainnya seperti
manufacturing dan transportasi.
3. Pertumbuhan kota meningkat terus dan setelah sampai pada tingkat tertentu
mereka memerlukan sumber daya (tenaga kerja, modal, dll) yang
didatangkan dari luar daerah. Dalam hal ini tidak dapat dijelaskan dalam
pengertian permintaan barang dan jasa dari daerah hinterland seperti yang
dikemukakan oleh teori central place.
Diakui
bahwa hinterland dan
kota
berkaitan
satu
sama
lainnya.
Tanpa hinterland pertumbuhan
kota
tidak
akan
pesat,
sebaliknya hinterland tanpa kota juga tidak akan menikmati kemajuan teknologi
yang pada umumnya ditransfer dari kota-kota besar.

Pendekatan Urban Base (Basis Ekonomi Perkotaan)


Perbedaan dari teori central place dan urban base adalah pada teori central
place menyatakan bahwa sumber utama pertumbuhan kota adalah
melayani permintaan barang dan jasa daerahhinterlandnya sedangkan
menurut teori urban base sumberdaya adalah permintaan dari mana
saja di luar pusat kota.
Menurut teori urban base struktur ekonomi perkotaan terdiri dari dua katehori
utama yaitu kegiatan-kegiatan dasar (basic activities). yang memproduksi dan
mendistribusikan barang dan jasa untuk di ekspor ke luar daerah perkotaan, dan
kegiatan-kegiatan jasa non dasar (non basic activities) dimana barang-barang
dan jasa-jasa yang dihasilkan akan dikonsumsi di daerah perkotaan sendiri.
Menurut teori urban base suatu kota bertumbuh sebagai akibat dari spesialisasi
dalam kegiatan ekspor. Dengan ekspor tentunya akan diperoleh devisa, hal ini
berarti dapat meningkatkan kekayaan dan kemampuan suatu Negara atau
daerah untuk melaksanakan pembangunan dan membayar harga barang yang
diimpornya dari luar negeri.
1.
Kelemahan teori urban base :
1. Terdapat kesulitan dalam mengukur economic base, khusunya masalah
bagaimana membedakan antara kegiatan dasar dan kegiatan non dasar.
2. Tidak dapat meramalkan pertumbuhan kota di masa depan

3. Terdapat kelemahan teoritik yaitu pembagian ke dalam dua sektor (dasar dan
non dasar) dapat dikatakan tidak mempunyai arti yang penting.

TEORI AMBANG PINTU (THRESHOLD THEORY)


Teori ambang pintu (threshold theory) adalah suatu usaha pemikiran untuk
menjabarkan desain perencanaan kota atau regional ke dalam teoru kuantitatif.
Perencanaan kota menghadapi beberapa jenis keterbatasan atau limitasi,
misalnya dalam penggunaan dan pengembangan lingkungan. Prosedur yang
konvensional dari studi-studi kelayakan, baiasanya dalam metodologi tidak
mengemukakan cara-cara penanggulangannya secara jelas dan lengkap
terhadap keterbatasan-keterbatasan tersebut.
Sebagai contih usaha pemukiman menghadapi tantangn dari waktu kewaktu
dalam bentuk keterbatasan-keterbatasan yang bersifat ambang pintu.
Keterbatasan itu adalah:
1. Keterbatasan secara fisik, contoh : tipe lahan yang sulit untuk dilakukan
pengembangan karena mempunyai kontur yang curam/barbatu/dll. Namun
keterbatasan ini tidak absolute karena masih bisa diatasi dengan teknologi
modern.
2. Keterbatasan ambang pintu teknologis, contoh: dalam pengembangan fasilitas
kota perlu adanya system baru yang berteknologi mutakhir.
3. Keterbatasan structural, keterbatasan ini terjadi sebagai akibat pertambahan
penduduk kota dan arus urbanisasi yang terus meningkat, maka peremajaan
kota perlu dilakukan.

AGLOMERASI
Pengertian Aglomerasi
Aglomerasi menurut teori lokasi modern merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi aktifitas ekonomi, aglomerasi juga menjadi salah satu faktor
disamping keunggulan komparatif dan skala ekonomi menjelaskan mengapa
timbul daerah-daerah dan kota-kota (Soepono, 2002). Terdapat dua macam
aglomerasi, yaitu aglomerasi produksi dan aglomerasi pemasaran (Soepono,
2002). Dikatakan aglomerasi produksi bilamana tiap perusahaan yang
mengelompok/kluster atau beraglomerasi mengalami eksternalitas positif di
bidang produksi, artinya biaya produksi perusahaan berkurang pada waktu
produksi perusahaan lain bertambah.
Aglomerasi pemasaran adalah perusahaan-perusahaan dagang atau banyak toko
mengelompok dalam satu lokasi. Ada eksternalitas belanja (shopping externality)
yang dapat dinikmati yaitu penjualan suatu toko dipengaruhi oleh toko lain
disekitarnya. Ada dua produk yang menimbulkan eksternalitas belanja, yaitu

barang subtitusi tidak sempurna dan barang komplementer. Barang subtitusi


tidak sempurna merupakan barang yang mirip namun tidak sama, pembeli
membutuhkan perbandingan (comparison shopping) menyangkut corak, harga,
kualitas dan merek sebelum memutuskan untuk membeli. Misalnya dalam
membeli sepeda motor, ada Honda, Yamaha, Susuki, Kawasaki dan yang lainlain. Barang komplementer adalah barang-barang saling melengkapi, misalnya
kopi dan gula, CD dan CD Player, toko baju olah raga dengan sepatu olah raga,
dan lain-lain.
Aglomerasi Industri yaitu pemusatan industri di suatu kawasan tertentu
dengan tujuan agar pengelolanya dapat optimal. Gejala aglomerasi
industri itu disebabkan karena hal-hal berikut :

Adanya persaingan industri yang semakin hebat dan semakin banyak.


Melaksanakan segala bentuk efisiensi di dalam penyelenggaraan industri.
Untuk meningkatkan produktivitas hasil industri dan mutu produksi.
Untuk memberikan kemudahan bagi kegiatan industri.
Untuk mempermudah kontrol dalam hubungan tenaga kerja, bahan baku,
dan pemasaran.
Untuk menyongsong dan mempersiapkan perdagangan bebas di kawasan
Asia Pasifik yang dimulai tahun 2020.
Melakukan pemerataan lokasi industri sesuai dengan jumlah secara tepat
dan berdaya guna serta menyediakan fasilitas kegiatan industri yang
berwawasan lingkungan.
Proses aglomerasi (pemusatan) industri keberhasilannya banyak ditentukan oleh
faktor teknologi lingkungan, produktivitas, modal, SDM, manajemen dan lain-lain.
Pada Negara-negara yang sedang mengalami aglomerasi industri, terdapat
dualisme bidang teknologi. Dualisme teknologi adalah suatu keadaan dalam
suatu bidan ekonomi tertentu yang menggunakan tehnik dan organisasi produksi
yang sangat berbeda karakteristiknya. Kondisi ini mengakibatkan perbedaan
besar pada tingkat produktivitas di sektor modern dan sektor tradisional, seperti
keadaan berikut ini :
a.

Jumlah penggunaan modal dan peralatan yang digunakan.

b.

Penggunaan pengetahuan teknik, organisasi, dan manajemen.

c.

Tingkat pendidikan dan keterampilan para pekerja.

Faktor-faktor ini menyebabkan tingkat produktivitas berbagai kegiatan sektor


modern sering kali tidak banyak berbeda dengan kegiatan yang sama yang
terdapat di Negara maju. Sebaliknya sektor tradisional menunjukkan perbedaan
banyak karena keadaan sebagai berikut :
a.

Terbatasnya pembentukan modal dan peralatan industri.

b.

Kekurangan pendidikan dan pengetahuan.

c.

Penggunaan teknik produksi yang sederhana.

d.

Organisasi produksi yang masih tradisional.

Ekonomi perkotaan
Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas

Perkotaan ekonomi secara luas studi ekonomi daerah perkotaan, dengan


demikian, melibatkan menggunakan alat ekonomi untuk menganalisis isu-isu
perkotaan seperti kriminalitas, pendidikan, angkutan umum, perumahan, dan
keuangan pemerintah daerah. Lebih sempit, itu adalah cabang
dari mikroekonomi yang mempelajari struktur ruang perkotaan dan lokasi rumah
tangga dan perusahaan. ( Quigley 2008 )
Banyak analisis ekonomi perkotaan bergantung pada model tertentu dari
struktur ruang perkotaan, model kota monocentric dirintis pada tahun 1960
oleh William Alonso , Richard Muth, dan Edwin Mills. Sementara bentuk-bentuk
lain yang paling ekonomi neoklasik tidak memperhitungkan hubungan spasial
antara individu dan organisasi, ekonomi perkotaan berfokus pada hubungan
spasial untuk memahami motivasi ekonomi yang mendasari pembentukan,
fungsi, dan perkembangan kota.
Sejak perumusannya pada tahun 1964, William Alonso 's model kota monocentric
dari cakram berbentuk Central Business District (CBD) dan daerah sekitarnya
perumahan telah menjabat sebagai titik awal untuk analisis ekonomi perkotaan.
Monocentricity telah menjadi lebih lemah dari waktu ke waktu karena perubahan
dalam teknologi, terutama karena transportasi yang lebih cepat dan lebih murah
(yang memungkinkan penumpang untuk hidup jauh dari pekerjaan mereka di
CBD) dan komunikasi (yang memungkinkan operasi back-office untuk pindah
keluar dari CBD).
Selain itu, penelitian terbaru telah berupaya untuk menjelaskan polycentricity
dijelaskan dalamJoel Garreau 's Kota Ujung . Beberapa penjelasan untuk ekspansi
polisentris telah diusulkan dan diringkas dalam model yang memperhitungkan
faktor-faktor seperti utilitas keuntungan dari sewa lahan rata-rata lebih rendah
dan meningkatkan (atau hasil konstan) karena ekonomi aglomerasi . ( Aneh
2008 )

Pendahuluan
Perkotaan ekonomi adalah berakar pada teori-teori lokasi von
Thnen , Alonso , Christaller , danLsch yang dimulai proses analisis ekonomi
spasial ( Capello & Nijkamp 2004 :3-4). Ekonomi adalah studi tentang alokasi
sumber daya yang langka, dan sebagai semua fenomena ekonomi berlangsung
dalam ruang geografis, ekonomi perkotaan fokus alokasi sumber daya di seluruh

ruang dalam kaitannya dengan daerah perkotaan ( Arnott & McMillen 2006 : 7)
( McCann 2001 : 1). Cabang lain dari ekonomi mengabaikan aspek tata ruang
pengambilan keputusan, tetapi ekonomi perkotaan berfokus tidak hanya pada
keputusan lokasi perusahaan, tetapi juga kota-kota mereka sebagai kota itu
sendiri mewakili pusat-pusat kegiatan ekonomi ( O'Sullivan 2003 : 1).
Banyak topik ekonomi spasial dapat dianalisis dalam salah sebuah kerangka
ekonomi perkotaan atau regional seperti beberapa fenomena ekonomi terutama
mempengaruhi daerah perkotaan lokal sementara yang lain merasa lebih dari
wilayah regional yang lebih besar ( McCann 2001 : 3). Arthur O'Sullivan percaya
perkotaan ekonomi dibagi menjadi enam tema yang berkaitan: kekuatan pasar
dalam pengembangan kota, penggunaan lahan dalam kota, pengeluaran
pemerintah transportasi perkotaan, masalah perkotaan dan kebijakan publik,
perumahan dan kebijakan publik, dan lokal dan pajak. ( O'Sullivan 2003 :13-14)

Kekuatan pasar dalam pengembangan kota


Kekuatan pasar dalam pengembangan kota-kota berhubungan dengan
bagaimana keputusan lokasi perusahaan dan rumah tangga menyebabkan
perkembangan kota. Sifat dan perilaku pasar tergantung agak pada lokasi
mereka sehingga kinerja pasar sebagian tergantung pada geografi (McCann
2001 : 1). Jika menempatkan perusahaan di wilayah geografis terisolasi, kinerja
pasar mereka akan berbeda dari perusahaan yang terletak di wilayah
terkonsentrasi. Keputusan lokasi dari kedua perusahaan dan rumah tangga
menciptakan kota yang berbeda dalam ukuran dan struktur ekonomi. Ketika
industri cluster, seperti di Silicon Valley di California, mereka menciptakan
daerah perkotaan dengan perusahaan dominan dan ekonomi yang berbeda.
Dengan melihat keputusan lokasi perusahaan dan rumah tangga, ekonom
perkotaan dapat alamat mengapa kota-kota berkembang di mana mereka
lakukan, mengapa beberapa kota besar dan lainnya kecil, apa yang
menyebabkan pertumbuhan ekonomi dan penurunan, dan bagaimana
pemerintah daerah mempengaruhi pertumbuhan perkotaan ( O ' Sullivan 2003 :
14). Karena ekonomi perkotaan yang bersangkutan dengan mengajukan
pertanyaan tentang sifat dan cara kerja perekonomian kota, model dan teknik
yang dikembangkan dalam bidang ini terutama dirancang untuk menganalisis
fenomena yang terbatas dalam batas-batas satu kota ( McCann 2001 : 2).

Penggunaan Lahan
Melihat penggunaan lahan di daerah metropolitan, ekonom perkotaan berusaha
untuk menganalisis organisasi spasial dari kegiatan di dalam kota. Dalam usaha
untuk menjelaskan pola yang diamati penggunaan lahan, ekonom perkotaan
meneliti pilihan lokasi intra-kota perusahaan dan rumah tangga. Mengingat
organisasi spasial kegiatan dalam kota, perkotaan ekonomi alamat pertanyaan
dalam hal apa yang menentukan harga tanah dan harga bervariasi mengapa
mereka melintasi ruang, kekuatan ekonomi yang menyebabkan penyebaran
kerja dari inti pusat kota luar, mengidentifikasi lahan menggunakan kontrol,

seperti zonasi, dan menafsirkan bagaimana kontrol tersebut dapat


mempengaruhi perekonomian perkotaan (O'Sullivan 2003 : 14).

Kebijakan ekonomi
Kebijakan ekonomi sering dilaksanakan di tingkat perkotaan sehingga kebijakan
ekonomi sering terikat dengan kebijakan perkotaan ( McCann 2001 : 3). Masalah
perkotaan dan dasi kebijakan publik dalam ekonomi perkotaan sebagai tema
terkait masalah perkotaan, seperti kemiskinan atau kejahatan, untuk ekonomi
dengan berusaha untuk menjawab pertanyaan dengan bimbingan ekonomi.
Misalnya, apakah kecenderungan masyarakat miskin untuk tinggal dekat satu
sama lain membuat mereka bahkan lebih miskin? ( O'Sullivan 2003 : 15).

Transportasi dan ekonomi


Transportasi perkotaan adalah tema ekonomi perkotaan karena hal itu
mempengaruhi pola penggunaan lahan sebagai transportasi mempengaruhi
aksesibilitas relatif dari situs yang berbeda. Isu bahwa transportasi perkotaan
dasi ke ekonomi perkotaan termasuk defisit yang berwenang transit yang paling
memiliki, dan pertanyaan tentang perkembangan efisiensi transportasi diusulkan
seperti cahaya-rel ( O'Sullivan 2003 : 14).

Perumahan dan kebijakan publik


Perumahan dan kebijakan publik berhubungan dengan ekonomi perkotaan
seperti perumahan adalah jenis komoditas yang unik. Karena perumahan
bergerak, ketika rumah tangga memilih sebuah hunian, juga memilih lokasi.
Perkotaan ekonom menganalisis pilihan lokasi rumah tangga dalam
hubungannya dengan efek pasar kebijakan perumahan ( O'Sullivan 2003 : 15).

Pemerintah pengeluaran dan pajak


Tema akhir dari pengeluaran pemerintah daerah dan pajak berkaitan dengan
ekonomi perkotaan seperti menganalisis efisiensi pemerintah daerah
terfragmentasi memimpin di daerah metropolitan ( O'Sullivan 2003 : 15).

Referensi

Arnott, Richard; McMillen, Daniel P., eds (2006) A Companion to Ekonomi


Perkotaan..Blackwell Publishing. ISBN 1405106298 .

Capello, Roberta; Nijkamp, Peter ., eds (2004) Dinamika dan Pertumbuhan


Perkotaan: Kemajuan Ekonomi Perkotaan. Elsvier Inc

McCann, Philip (2001). Ekonomi Perkotaan dan Daerah. Oxford University


Press.

O'Sullivan, Arthur (2003) ekonomi Perkotaan.. Boston, Mass: McGrawHill/Irwin. ISBN0-07-248784-4 .

Quigley, John M. (2008). "Kota ekonomi". Dictionary Palgrave Baru


Ekonomi . Abstrak.

Aneh, William C. (2008). "Aglomerasi perkotaan". Dictionary Palgrave Baru


Ekonomi.Abstrak.

Bacaan lebih lanjut

Garreau, Joel. Ujung Kota: Kehidupan di New Frontier. 1992. Jangkar. ISBN
978-0385424349 .

Kahn, Matius. Hijau Kota: Pertumbuhan Perkotaan dan Lingkungan. 2006.


BrookingsISBN 978-0-8157-4816-8 .

Posted by Ardy Giawa


Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has
been the industrys standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a
galley of type and scrambled it to make a type specimen book.

Kirimkan Ini lewat Email


GAMBARAN UMUM TENTANG TEORI KOTA Awal terjadinya permukiman
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah perpindahan penduduk
hingga menetap pada suatu wilayah. Kota tumbuh dengan sendirinya
selanjutnya manusia mengembangkan untuk kebutuhannya, selain itu ada juga
kota yang tumbuh karena direncanakan. Dengan demikian kota dapat diartikan
sebagai berikut. 1) Dalam arti sempit, kota merupakan perwujudan geografis
yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik dan budaya
di suatu wilayah. 2) Dalam arti luas, kota merupakan perwujudan geografis yang
ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik, dan budaya di
suatu wilayah dalam hubungannya dan pengaruh timbal balik dengan wilayah
lain. 3) Kota, adalah tempat tinggal dari beberapa ribu penduduk atau lebih. 4)
Kota, menurut definisi universal, adalah sebuah area urban yang berbeda dari
desa ataupun kampung berdasarkan ukurannya, kepadatan penduduk,
kepentingan, atau status hukum. Dari beberapa definisi diatas mungkin tidak
dapat menggambarkan pengertian kota yang paling tepat karena ketika melihat

dari fungsional kota itu sendiri terdapat berbagai macam definisi yang diberikan
sesuai dengan sudut pandang masing-masing orang yang berargumen
berdasarkan bidang dan pengetahuannya, misalnya ketika ditanyakan kepada
orang pertanian maka mereka akan menjawab bahwa kota adalah suatu wilayah
yang mata pencaharian penduduknya bukan merupakan pertanian tetapi
sebagian besar merupakan industry. Ketika kita menanyakan kepada orang
hokum maka mereka akan menjawab dari segi hokum yang mengatur tata ruang
wilayah, ketika orang politik mendefinisikan kota maka ia akan berbicara tentang
bentuk pemerintahan kota yang berbeda dengan pemerintahan desa, dsb.
PENGERTIAN KOTA DARI BEBERAPA BIDANG Kota Ditinjau Dari Segi Fisik
Morfologis Suatu daerah tertentu dengan karakteristik pemanfaatan lahan non
pertanian, pemanfaatan lahan dimana sebagian besar tertutup oleh bangunan
baik yang bersifat residensial (secara umum tutupan bangunan/building
coverage, lebih besar dari ttutupan vegetasi/vegetation coverage), kepadatan
bangunan khususnya perumahan yang tinggi, pola jaringan jalan yang kompleks,
dalam satuan pemukiman yang kompak (contigous) dan relatif lebih besar dari
satuan pemukiman kedesaan di sekitarnya. Sementara itu daerah yang
bersangkutan sudah/mulai terjamah fasilitas kota. Kota secara fisik adalah areaarea terbangun di perkotaan yang terletak saling berdekatan, yang meluas dari
pusatnya hingga keluar daerah pinggiran kota. Pada kota-kota kecil radius
perkembangannya mungkin mencapai setengah mil atau kurang, sedangkan
pada kota-kota metropolitan yang luas, perkembangannya bisa mencapai bermilmil, yang umumnya terdiri dari 30 kota-kota kecil atau lebih. Dalam pandangan
kota secara keseluruhan, batas antara kota-kota kecil ini secara yuridis tidak
dapat dikenali. Kota Ditinjau Dari Segi Yuridis Administratif Kota dapat
didefinisikan sebagai suatu daerah tertentu dalam wilayah Negara dimana
keberadaannya diatur oleh Undang-Undang (peraturan tertentu), daerah mana
dibatasi oleh batas-batas administrative yang jelas yang keberadaannya diatur
oleh Undang-Undang/peraturan tertentu dan ditetapkan berstatus sebagai kota
dan berpemerintahan tertentu dengan segala hak dan kewajibannya dalam
mengatur wilayah kewenangannya. Menurut Sujarto (1970) kota ditinjau dari
fisik morfologis merupakan salah satu nodal point dalam suatu wilayah yang luas
dan merupakan konsentrasi penduduk yang padat, bangunan yang didominasi
oleh sturktur permanen dan kegiatan-kegiatan fungsionalnya. Kota Ditinjau Dari
Jumlah Penduduk Daerah tertentu dalam wilayah Negara yang mempunyai
aglomerasi jumlah penduduk minimal yang telah ditentukan dan penduduk mana
bertempat tinggal pada satuan pemukiman yang kompak. Kota Ditinjau Dari
Segi Sosio-Kultural Menurut Sujarto (1970), kota merupakan kesatuan
masyarakat yang heterogin dan masyarakat kota mempunyai tingkat tuntutan
kebutuhan yang lebih banyak apabila dibandingkan dengan penduduk pedesaan.
Menurut Bintarto (1977) kota adalah sebuah bentang budaya yang ditimbulkan
oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala pemusatan penduduk yang
cukup besar dan corak kehidupan yang bersifat heterogin dan materialistis
dibandingkan dengan daerah belakangnya. Kota Ditinjau dari Segi Ekonomi Kota
dari segi ekonomi dicirikan dengan hidup yang non agraris ; kota fungsi khasnya
lebih kultural, industri, perdagangan. Dari itu semua yang nyatanya menonjol
adalah yang ekonomi perniagaan. Adanya pasar dengan keramaian perniagaan

mencirikan kota. Kota ditinjau dari segi ekonomi memiliki fungsi untuk
menghasilkan penghasilan yang cukup melalui produksi barang dan jasa, untuk
mendukung kehidupan penduduknya dan untuk keberlangsungan kota itu
sendiri. Ekonomi Perkotaan dapat ditinjau dari 3 bagian, yaitu : Ekonomi
Pemerintahan, meliputi pelaksanaan pemerintah kota sebagaimana terlihat pada
anggaran pendapatan dan belanja departemen-departemen yang
melaksanakannya secara regular, distrik sekolah dan distrik-distrik khusus yang
ditetapkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Ekonomi Swasta yang terdiri atas
berbagai macam kegiatan yang diselenggarakan oleh perusahaan swasta, mulai
dari perusahaan industri dan komersial yang besar hingga kegiatan usaha yang
independen atau seorang profesional yang menyediakan bergagai bentuk jasa.
Ekonomi Khusus yang terdiri atas bermacam-macam organisasi nirlaba,
organisasi yang bekerja secara sukarela, organisasi yang dibebaskan dari pajak,
yang kesemuanya bukan diselenggarakan oleh badan-badan pemerintahan,
maupun perusahaan-perusahaan yang tujuan utamanya mencari keuntungan.
Kota Ditinjau Dari Segi Sosial Dari aspek sosial kota merupakan hubunganhubungan antarpenduduk yang secara sosial disebut impersonal; orang bergaul
serba lugas, sepintas lalu. Mereka hidup seperti terkotak-kotak oleh kepentingan
yang berbeda-beda dan manusia bebas memilih hubungannya dengan siapa
yang diinginkannya. . Kota Ditinjau dari Segi Lingkungan Kota Dari aspek
lingkungan perhatian terhadap kota dipusatkan pada unsure vegetatif kota,
misalnya taman-taman kota, tempat bermain anak-anak, dan tempat terbuka
lainnya, pohon-pohon yang ditanam sepanjang tepi jalan, atau pertamanan
sepanjang jalan dan jalan bebas hambatan, termasuk pemilihan jenis tanaman
penghijau kota yang berfungsi untuk mengurangi tingkat erosi, mengurangi
tingkat polusi kota akibat pulusi udara, menahan api dan memberantas
serangga. Kota Ditinjau dari Segi Statistik Kota merupakan suatu wilayah yang
secara statistik besaran atau ukuran jumlah penduduknya sesuai dengan
batasan atau ukuran untuk kriteria kota. PERKOTAAN Perkotaan, adalah area
terbangun dengan struktur dan jalan-jalan , sebagai suatu permukiman yang
terpusat pada suatu area dengan kepadatan tertentu yang membutuhkan sarana
dan pelayanan pendukung yang lebih lengkap dibandingkan dengan yang
dibutuhkan di daerah pedesaan. UKURAN KOTA Ukuran Kota, pada kota-kota
besar bergantung pada tingkat segregasi atau pengelompokkan penduduk yang
biasanya berdasarkian ras terutama pada kota-kota besar. (Urban size, spatial
segregation and educational outcomes. Ian Gordon and Vassilis Monastiriotis.
Department of Geography and Environment London School of Economics. August
2003) Metropolitan Metropolitan atau metropolis; merupakan istilah yang berasal
dari bahasa Yunani Kuno yang berarti ibukota suatu negara; kota yang menjadi
pusat kegiatan tertentu baik pemerintahan maupun perekonomian, suatu kota
besar yang penting (Kamus Tata Ruang, IAP & Cipta Karya, 1997). Metropolitan
merupakan sebuah pusat populasi besar yang terdiri sebuah kota besar dan
wilayah bersebelahannya, atau beberapa kota tetangga dan wilayah yang
menempel dengan kota tersebut. Pengertian umum tentang kota metropolitan
diindikasikan dengan jumlah penduduk lebih dari 1 juta jiwa. Hal tersebut
sesungguhnya merupakan simplifikasi dari beberapa variabel yang merupakan
faktor-faktor pembentuk kota metropolitan. Istilah metropolitan berasal dari kata

metro yang mengambil dari sistem perkereta-apian ringan (light train


system) di wilayah perkotaan. Kebutuhan sistem transportasi perkotaan tersebut
adalah akibat dari pertumbuhan kota dimana sistem commuter penduduk
perkotaan sudah terjadi (dari kota-kota dormitory ke kota induknya). The
metropolitan area is created by combining those counties which are integrated in
terms of commuting with the central city and the county in which it lies. (Larry
S. Bourne, 1971, hal. 15). Kondisi tersebut terjadi pada kota yang telah mencapai
penduduk lebih dari 1 juta jiwa dimana sistem metro/kereta api bawah
tanah/subway mulai diperkenalkan untuk melancarkan pergerakan penduduk
dalam melakukan kegiatan sehari-hari (bekerja, belanja, dll). Megalopolitan
Megalopolitan atau megalopolis; merupakan nama yang diberikan kepada sistem
kota yang bersifat kompleks, merupakan kota besar dan berpenduduk berjutajuta yang terdiri atas banyak metropolis (Kamus Tata Ruang, IAP & Cipta Karya,
1997). Megalopolitan biasanya didefinisikan sebagai sebuah gabungan beberapa
wilayah metropolitan dengan total populasi yang melebihi 10 juta jiwa. Beberapa
definisi lainnya menetapkan kepadatan penduudk minimum untuk megalopolitan
adalah 2.000 jiwa/km2. Megalopolitan bisa jadi merupakan sebuah wilayah
metropolitan tunggal atau gabungan dari beberapa wilayah metropolitan yang
saling berkaitan satu sama lain. PERENCANAAN KOTA Perencanaan Kota salah
satu bagian dari perencanaan tatqa guna lahan yang berhadapan dengan
masalah fisik, social, dan pengembangan ekonomi dari wilayah metropolitan,
kotamadya, dan wilayah sekitar. PERENCANAAN GUNA LAHAN Perencanaan
Guna Lahan adalah salah satu istilah dalam kebijakan public di mana
mengkombinasikan berbagai macam disiplin ilmu untuk menata dan mengatur
penggunaan lahan dengan cara yang efisien. PERANCANGAN KOTA Perancangan
Kota ( Urban Design ) Perancangan Kota adalah proses dan hasil
pengorganisasian dan pengintegrasian seluruh komponen lingkungan (buatan
dan alam), sedemikian rupa sehingga akan meningkatkan citra setempat dan
perasaan berada di suatu tempat (sense of place), dan kesetaraan fungsional,
serta kebanggaan warga dan diinginkannya suatu tempat menjadi tempat
tinggal. Hal tersebut dapat diterapkan pada berbagai setting dan kepadatan fisik,
mulai dari daerah perkotaan, pinggiran perkotaan, hingga pedesaan.
Perancangan ini juga diterapkan mulai dari skala lingkungan pemukiman hingga
keseluruhan daerah, dan dapat terpusatkan pada permasalahan kota secara
keseluruhan atau komponen khusus, misalnya lingkungan pemukiman, pusat
bisnis, sistem ruang terbuka atau karakter jalan utama. PERENCANAAN TAPAK
Perencanaan Tapak (Site Planning) Site Planning berkaitan dengan tahap prosese
perancangan lansekap. Melibatkan beberapa bagian antara lain penataan guna
lahan, akses, sirkulasi, privasi, keamanan, drainase, dll. Dilakukan dengan
menyusun elemen-elemen lahan, tanaman, air, bangunan, dll. MANAJEMEN
PERKOTAAN Manajemen Perkotaan (Urban Management) Manajemen perkotaan
adalah pengelolaan sumber daya perkotaan yang berkaitan dengan bidangbidang tata ruang, lahan, ekonomi, keuangan, lingkungan hidup, pelayanan jasa,
investasi, prasarana dan sarana perkotaan; serta disebutkan pula bahwa
pengelola perkotaan adalah para pejabat (Pemerintah) pengelola perkotaan.
KAJIAN PERKOTAAN Kajian Perkotaan (Urban Studies) Kajian Perkotaan adalah
salah satu disiplin ilmu dimana mempelajari berbagia aspek dari kota, daerah

suburban, dan kawasaan perkotaan lainnya. Berkaitan dengan ekonomi


perkotaan, perencanaan kota, arsitektur kota, ekologi kota, system transportasi
kota, politik perkotaan, dan hubungan social perkotaan. KEBIJAKAN PERKOTAAN
(URBAN POLICY) Istilah Kebijakan perkotaan diguankan untuk pengertian luas
terhadap aktivitas, yang berkaitan dengan : - Perkembangan ekonomi, termasuk
aktivitas ekonomi lokal, pemasukan wilayah, dan kebijakan tenaga kerja Perkembangan sosial, termasuk perumahan dan wilayah sekitar, hubungan di
dalam dan antara komunitas, inklusi sosial, dan - Isu geografi, yang terpusat
pada hubungan spasial kota, perencanaan, transportasi, lingkungan dan
infrastruktur perkotaan. SUMBER : http://www.wikipedia.com Yunus, Hadi S,.
2005.Manajemen Kota: Perspektif Spasial.Pustaka Pelajar, Yogyakarta
http://www2.rgu.ac.uk/publicpolicy/introduction/housing.htm#Urban%20policy
Branch, Melville C,. 1985. Comprehensive City Planning : Introduction and
Explanation. APA Planners Press. Indianapolis. Daldjoeni. 1987. Geografi Kota
dan Desa. Penerbit Alumni. Bandung. SK Mendagri No. 65 tahun 1995. Robert
F. Dannenbrink. Jr.: The Community Design Element-Blueprint for Local Form and
Image, Orange Country Architect, Oktober/November, 1980.
Today Deal $50 Off : https://goo.gl/efW8Ef
Pengaruh Aglomerasi Kawasan Industri terhadap Kependudukan di Kota Metropolitan 23 Desember 2013
06:13:11 Diperbarui: 24 Juni 2015 03:36:04 Dibaca : 712 Komentar : 0 Nilai : 2 13877531641220920150
Berdasarkan perkembangan zaman kita dituntut dalam pemenuhan kebutuhan manusia yang sangat besar. Dari
hal tersebut timbul pembangunan kawasan yang bertujuan sebagai penunjang dari kebutuhan tersebut. Melalui
pengelolaan sebuah kawasan industri di sebuah perkotaan segala produksi hingga persebaran konsumen
tercakup dalam salah satu kawasan perkotaan. Dengan pembangunan suatu kawsan industri lah hal tersebut
akan terlaksana. Ada sebuah teori yang menjelaskan pengelolahan perusahaan yang dibangun pada suatu
kawsan yang berdasarkan perkembangan dalam sektoral industri. Aglomerasi adalah sebuah pengelompokkan
beberapa perusahaan dalam suatu daerah atau wilayah sehingga membentuk daerah khusus industri. Dimana
aglomerasi dibagi menjadi dua macam, yaitu aglomerasi primer di mana perusahaan yang baru muncul tidak ada
hubungannya dengan perusahaan lama, dan aglomerasi sekunder jika perusahaan yang baru beroperasi adalah
perusahaan yang memiliki tujuan untuk memberi pelayanan pada perusahaan yang lama. Semua teori tersebut
semata-mata timbul dikarenakan perkembangan suatu perusahaan tetapi ada beberapa sebab yang memicu
terjadinya aglomerasi : Tenaga kerja tersedia banyak ,memiliki kemampuan dan keahlian yang lebih baik
dibanding dari luar daerah. Suatu perusahaan menjadi daya tarik bagi perusahaan lain. Berkembangnya suatu
perusahaan dari kecil menjadi besar, sehingga menimbulkan perusahaan lain untuk menunjang perusahaan
yang membesar tersebut. Perpindahan suatu kegiatan produksi dari satu tempat ke beberapa tempat lain.
Perusahaan lain mendekati sumber bahan untuk aktifitas produksi yang dihasilkan oleh perusahaan yang sudah
ada untuk saling menunjang satu sama lain. Dari sedikit pengertian tentang aglomerasi timbul beberapa dampak
baik dan buruk . Dimana dari segi positifnya dapat terlihat meningkatnya lapangan pekerjaan bagi penduduk di
sekitar kawasan tersebut. Ini beberapa dampak baik dari aglomerasi bagi sektoral industri, yaitu : mengurangi
pencemaran atau kerusakan lingkungan, karena terjadi pemusatan kegiatan sehingga memudahkan dalam
penanganannya. mengurangi kemacetan di perkotaan, karena lokasinya dapat disiapkan di sekitar pinggiran
kota. memudahkan pemantauan dan pengawasan, terutama industri yang tidak mengikuti ketentuan yang telah
disepakati. tidak mengganggu rencana tata ruang. dapat menekan biaya transportasi dan biaya produksi
serendah mungkin. Namun dilihat dari dampak buruknya muncul masalah baru di masyarakat sekitar yaitu
permasalahan ekonomi yang tinggal di sekitar aglomerasi kawsan industri. Menimbulkan kesenjangan ekonomi
dimana dari segi penunjang fasilitas masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industrui akan sangat minim
dikarenakan kawasan tersebut di prioritaskan sebagai pembangunan dari segi sektoral perindustrian. Salah satu
kawasan industri di Kota Surabaya Selain itu aglomerasi juga menimbulkan permasalahan. Misalkan kota-kota
besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Banten dan kota besar lain nya. Bagian barat
berkembang jauh lebih dinamis dibandingkan kota-kota di wilayah timur. Hal inilah yang menyebabkan mobilitas
penduduk bergeser dari timur ke barat dengan alasan perbaikan ekonomi. Sehingga menjadi salah satu masalah
nasional di banyak negara sedang berkembang seperti Indoneisa adalah ketidakmerataan penduduk.Aglomerasi

mempengaruhi di segi ekonomi juga secara tak langsung menjadikan syarat dari segi hal kepadatan modal
ekonomi yang dimana dasarnya adalah industri pengolahan. Berbanding terbalik untuk daerah yang tertinggal
dan tidak dilirik secara spasial oleh industri pengolahan, maka semakin lama semakin tertinggal. Konsep
aglomerasi pada akhirnya malah akan makin memperuncing disparitas wilayah secara perekonomian
masyarakat. Kecuali indikator-indikator ekonomi nya sendiri diubah secara radikal, seperti menyertakan daya
dukung lingkungan, pencemaran dan sebagainya. Sehingga pada saat penerapan aglomerasi di sebuah wilayah.
Indikator-indikator tersebut disertakan dan daerah yang memiliki nilai terbaik pada salah satu indikator tersebut
dapat menerima kompensasi dari wilayah yang jelek nilai indikatornya yang bisa terlihat adalah kota-kota besar
atau metropolitan. Dimana ujung-ujungnya akan terjadi akumulasi modal pada wilayah terbelakang tersebut.
Oleh karena itu pemerintah harus memberikan kebijakan yang tepat dan jelas dalam hal pembangunan. Tidak
terkecuali bagi kawasan industri yang memang diperlukan bagi penunjang kebutuhan masyarakat. Akan tetapi
juga kita harus melihat dari segi penduduk yang tinggal di sekitar kawasan. Dimana mereka mengalami sedikit
permasalahan ekonomi, lingkungan dan permukiman. Melalui perencanaan kawasan dan kebijakan yang benar
maka tidak akan timbul lagi permasalahan di masyarakat. Peran tersebut lah yang akan menjadikan indonesia
lebih maju pada segi pembangunan. Abi Syarawan Wimardana /abisyarwanw Mahasiswa Program Studi
Perencanaan Wilayah dan Kota - Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Selengkapnya... IKUTI Share 0
00
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/abisyarwanw/pengaruh-aglomerasi-kawasan-industri-terhadapkependudukan-di-kota-metropolitan_55295ab0f17e61dd648b4596