Anda di halaman 1dari 8

JURNAL GEOFISIKA 2011/01

Pemograman Ray Tracing Metode Pseudo-Bending Medium 2-D


Untuk Menghitung Waktu Tempuh Antara Sumber dan Penerima

Andri Dian Nugraha1, Ahmad Syahputra1, Fatkhan1


Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung
(nugraha@gf.itb.ac.id / andridn104@gmail.com)

Abstrak
Rekonstruksi lintasan sinar gelombang melewati suatu medium dikenal dengan ray tracing. Ray tracing digunakan
untuk perhitungan waktu tempuh gelombang melewati suatu medium dari sumber ke stasiun penerima. Gelombang
merambat dengan mengikuti prinsip Fermat, melewati suatu medium dengan waktu tempuh yang minimum. Metode
yang digunakan merupakan aplikasi metode pseudo-bending dengan beberapa modifikasi untuk optimasi
perhitungan. Kami mengembangkan dan menguji pemograman dalam bahasa MATLAB ini dalam beberapa model
kecepatan 2-D dengan anomali kecepatan rendah, kecepatan tinggi hingga model dengan perubahan kecepatan
secara linier terhadap kedalaman. Hasil yang diperoleh, menunjukkan lintasan sinar gelombang akan selalu berusaha
melewati medium dengan kecepatan yang lebih tinggi dengan waktu tempuh yang minimum. Aplikasi dari
pemograman ini, dapat diterapkan pada inversi tomografi antara lubang bor 2-D untuk keperluan geoteknik dan
eksplorasi.
Kata kunci: Ray Tracing, Prinsip Fermat, Model Kecepatan 2-D

Abstract
We reconstructed seismic ray path through a medium from source to receiver by applying ray tracing pseudo bending
method. Basically, the ray tracing method based on Fermat principle to calculate minimum travel time. In this study,
we modified ray tracing method and created a MATLAB script that can be used for 2-D velocity model with varrying
anomalies. The results show seismic ray path travelling through high velocity medium with minimum travel time and
has a good agreement with Fermat principle. For the advance purposes, we can applied our script to 2-D cross hole
tomography inversion in geotechnic and exploration.
Keywords: Ray Tracing, Fermat principle, 2-D velocity model

1. Pendahuluan
Ray tracing sangat dibutuhkan untuk menghitung
waktu tempuh gelombang seismik dalam inversi
tomografi untuk memperoleh struktur kecepatan
gelombang P maupun S serta relokasi hiposenter
untuk kasus sumber gempa bumi. Ada 3 metode ray
tracing yang telah berkembang saat ini, antara lain:
1. Shooting menggunakan hukum Snell's.
2. Pseudo-bending menggunakan prinsip Fermat.
3. Full wave equation dengan menggunakan prinsip
Huygens.
Penentuan waktu tempuh gelombang antara sumber
dan penerima merupakan bagian yang penting pada

proses inversi tomografi. Beberapa pemanfataan


metode ray tracing tomografi global untuk
mencitrakan struktur zona subduksi sampai
kedalaman mantel (Widiyantoro dkk., 1997),
tomografi regional untuk mendelineasi heterogenitas
kerak di zona subduksi (Nugraha dan Mori, 2006 ) dan
tomografi gunung api untuk menduga zona lemah
(Priyono dkk., 2010). Pada penelitian ini, dilakukan
modifikasi dan pemograman metode ray tracing
metode pseudo bending (Um dan Thurber, 1987)
dalam medium 2-D untuk keperluan studi geoteknik
dan eksplorasi tomografi antara lubang bor. Ray
tracing metode pseudo bending pada medium 2-D
yang digunakan ini merupakan sebuah pendekatan
dalam proses minimisasi secara langsung waktu

45

JURNAL GEOFISIKA 2011/01

tempuh dengan cara memberikan gangguan kecil


secara bertahap pada lintasan sinar gelombang. Ray
tracing ini merupakan tahapan yang penting pada
proses inversi tomografi 2-D ataupun 3-D untuk
menghitung waktu tempuh antara sumber dan
penerima yang melewati medium suatu model
kecepatan. Pada studi ini telah dilakukan pemograman
dalam bahasa Matlab untuk proses ray tracing metode
pseudo-bending (Um dan Thurber, 1987) dalam
medium 2-D dengan beberapa modifikasi untuk
proses perhitungan. Tujuan dari studi ini yaitu untuk
membuat pemograman ray-tracing dalam bahasa
Matlab yang dapat diaplikasikan pada inversi
tomografi untuk keperluan geoteknik ataupun
eksplorasi seperti tomografi antara lubang bor untuk
memperoleh gambaran struktur kecepatan gelombang
seimik.

mid

mid

k-1
k+1

(2)

2. Metode
Waktu tempuh (T) sepanjang lintasan gelombang
antara sumber dan penerima dapat diekspresikan
sebagai sebuah persamaan integral, seperti di bawah
ini (Thurber, 1993) :

Dan jarak Rc dihitung dengan rumus sebagai berikut :

(3)

(1)
dimana L = XK - X mid dan c = (
Dimana dl = segmen panjang lintasan gelombang dan
V = kecepatan medium yang dilewati sinar
gelombang. Dalam proses perhitungan, lintasan sinar
gelombang dapat didiskritisasi dengan menggunakan
n titik (jumlah titik bending) pada X1, X2 ,..........., X n
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Setelah
direlokasi posisi Xk-1 dan Xk+1 didapat titik lintasan
yang baru X k .

VK+1

VK1

( 2

Sehingga didapat titik lintasan sinar gelombang yang


baru, sebagai berikut: XK =X mid nRc
(4)
n
dimana n
n

Gambar 2. Skema urutan titik pertubasi dari kiri ke


kanan yang digunakan dalam pemograman ray tracing
pada studi ini.
Gambar 1. Ilustrasi dari skema tiga titik pertubasi

2.1. Algoritma

k-1

k+1
k

46

Untuk memudahkan dalam pemograman ray tracing


metode pseudo-bending ini, kami membuat diagram
alir, sebagai berikut :

JURNAL GEOFISIKA 2011/01

Pada pemograman ini, ray tracing berawal dengan


lintasan ray lurus. Kemudian lintasan ray yang lurus
ini diberi gangguan arah n sejauh Rc pada setiap titik
tekuknya. Lintasan ray diperbaharui sebanyak jumlah
pertubasi.

Posisi
Sumber & Penerima
Parameterisasi Model
Model Kecepatan

Masing-masing ray hasil setiap pertubasi dihitung


pajangnya pada setiap blok dengan cara membagi ray
tersebut menjadi segmen-segmen kecil. Semakin kecil
segmennya semakin tinggi tingkat ketelitian dalam
menghitung ray pada setiap blok.

Model Gradien Kecepatan


Jumlah Titik Tekuk
Banyak Pertubasi

Waktu tempuh gelombang merambat dihitung dengan


mengalikan panjang ray setiap blok dengan nilai
slowness (1/kecepatan) pada setiap blok.

Ray Tracing Awal (Lurus)

Waktu Tempuh =

Ray Tracing Psedo-Bending

(6)

Dimana Sf adalah slowness pada blok ke-f yang


dilewati oleh ray. dLf merupakan segmen panjang ray
pada blok ke-f yang dilewati ray. Kemudian dari
waktu tempuh masing-masing pertubasi pada ray
tracing dipilih waktu minimumnya dan kemudian
pertubasi ke-i dengan waktu minimum ini menjadi ray
tracing akhir yang memenuhi prinsip Fermat.

Panjang Ray Setiap Blok


Waktu Tempuh
Minimum Waktu Tempuh
Ray Tracing

3. Hasil Uji Ray Tracing


Gambar 3. Diagram alir pemograman ray tracing
metode pseudo-bending pada penelitian ini.
Berangkat dari posisi sumber dan penerima, kemudian
parameterisasi model dilakukan. Parameterisasi
model yang digunakan pada penelitian ini berupa blok
(grid 2-D). Ukuran blok ditentukan tergantung dari
tingkat heterogenitas dalam arah vertikal dan arah
horizontal dari model kecepatan. Setelah membuat
model kecepatan sesuai dengan parameterisasi model
kemudian dihitung gradien kecepatan yang
merupakan turunan kecepatan terhadap jarak spasial
arah X dan Z untuk kasus 2-D.

Dalam pemograman ray tracing 2-D metode pseudobending pada penelitian ini kami mengujinya dalam
beberapa model kecepatan sehingga program ray
tracing ini dapat digunakan dalam berbagai model
kecepatan.
Model Kecepatan 2 Lapis : Homogen

(5)

Salah satu tahapan penting dalam algortima ini adalah


penentuan jumlah titik tekuk dan banyaknya
pertubasi. Tahapan ini sangat berpengaruh terhadap
optimasi waktu algoritma ini dalam mencapai nilai
konvergensinya. Penentuan kedua nilai tersebut
dipengaruhi oleh parameterisasi model yang berujung
dengan tingkat heterogenitas model awal.

Gambar 4. Hasil ray tracing metode pseudo bending


(garis hitam) untuk setiap pertubasi dengan 200 titik
tekuk dan jumlah pertubasi 100 pada model 1

47

JURNAL GEOFISIKA 2011/01

lapisan sama dengan ukuran dimensi blok arah z. Ray


tracing yang memenuhi waktu tempuh minimum
adalah ray tracing dengan warna merah tebal.

Gambar 5. Waktu tempuh pada setiap pertubasi rayt


racing. Pada pertubasi ke 50, waktu tempuh tiba-tiba
turun dengan signifikan dikarenakan ray tracing
gelombang langsung menjadi gelombang refraksi.
Waktu tempuh minimum dicapai pada pertubasi ke59.
Model Kecepatan N-Lapis: Gradasi terhadap Kedalaman

Gambar 6. Hasil ray tracing metode pseudo bending


(garis hitam) untuk setiap pertubasi dengan 80 titik
tekuk dan jumlah pertubasi 200 pada model kecepatan
N lapis dengan gradasi kecepatan pada masing-masing
lapisan. Ray tracing yang memenuhi waktu tempuh
minimum adalah ray tracing dengan warna merah
tebal.

48

Gambar 7. Waktu tempuh pada setiap pertubasi rayt


racing. Saat ray melewati lapisan dengan kecepatan
yang sama terlihat waktu tempuh semakin bertambah
seiring pertubasi yang membuat jarak tempuh
semakin jauh. Pada saat ray berhasil melewati batas
lapisan, waktu tempuh berubah dengan signifikan.
Waktu tempuh minimum dicapai pada pertubasi ke189.
Model Kecepatan N-Lapis: Gradasi terhadap
Kedalaman dengan Undulasi

Gambar 8. Hasil ray tracing metode pseudo bending


(garis hitam) untuk setiap pertubasi dengan 40 titik
tekuk dan jumlah pertubasi 300 pada model kecepatan
N lapis dengan gradasi kecepatan pada masingmasing lapisan dan batas lapisan berundulasi. Ray
tracing yang memenuhi waktu tempuh tercepat adalah
ray tracing dengan warna merah. Ray tracing
menunjukkan waktu tempuh minimum berada pada
saat gelombang merambat di sekitar batas lapisan.

JURNAL GEOFISIKA 2011/01

Model Kecepatan Gradasi dengan Anomali Positif


dan Negatif

Gambar 9. Waktu tempuh pada setiap pertubasi ray


tracing. Pada model kecepatan gradasi terhadap
kedalaman, ray akan selalu ditekuk ke arah kecepatan
yang lebih tinggi. Waktu tempuh semakin lama
semakin menurun seiring nilai pertubasi. Pada
pertubasi ke-200 waktu tempuh sudah menunjukkan
konvergensi. Waktu tempuh minimum dicapai pada
pertubasi ke-300. Jika pertubasi diperbesar maka ray
tracing tidak akan banyak berubah pada posisi dan
nilai waktu tempuh.

Gambar 11. Hasil ray tracing dengan metode pseudobending (20 titik tekuk dan 20 kali pertubasi) pada
model kecepatan gradasi terhadap kedalaman dengan
anomali negatif di tengahnya. Ray (hitam) berasal dari
20 posisi sumber dan diterima oleh 1 stasiun penerima.
Ray berusaha menjauhi kecepatan yang lebih rendah
sehingga ditekuk ke arah kecepatan yang lebih tinggi.

Model Kecepatan Homogen dengan Anomali


Positif dan Negatif

Gambar 10. Hasil ray tracing dengan metode pseudobending (20 titik tekuk dan 20 kali pertubasi) pada
model kecepatan homogen dengan anomali positif
(kotak biru) dan negatif (kotak merah) di tengahnya.
Ray (hitam) berasal dari 20 posisi sumber dan diterima
oleh 1 stasiun penerima. Terlihat gelombang
merambat menjauhi medium dengan kecepatan
rendah dan melewati medium dengan kecepatan tinggi
sehingga memenuhi prinsip Fermat.

Gambar 12. Hasil ray tracing dengan metode pseudobending (20 titik tekuk dan 20 kali pertubasi) pada
model kecepatan gradasi terhadap kedalaman dengan
anomali positif di tengahnya. Ray ditekuk ke arah
kecepatan yang lebih tinggi sehingga ray tertarik ke
anomali positif.

49

JURNAL GEOFISIKA 2011/01

3.1. Optimasi Jumlah Titik Tekuk dan Banyak


Pertubasi

Gambar 13. Ray tracing dengan menggunakan 30 titik


tekuk dan banyak pertubasi 50. Pada pertubasi ke-41
ray tracing berada pada waktu tempuh minimum yaitu
0.0378 s. Dari jumlah titik tekuk = 30 ini, dapat dilihat
saat ray tracing diperbaharui setiap pertubasinya
memiliki jarak yang jauh (renggang) terhadap
pertubasi sebelumnya.

Gambar 15. Waktu tempuh untuk setiap pertubasi.


Dengan menggunakan 30 titik tekuk konvergensi
waktu tempuh mulai terlihat pada pertubasi ke-35

parameterisasi model. Gradien kecepatan yang


merupakan turunan kecepatan terhadap dimensi
spasial dipengaruhi oleh parameterisasi model yang
menjadi dimensi spasial dalam pemograman ini. Jika
ray melewati medium homogen maka ray tidak akan
mengalami gangguan karena gradien kecepatan pada
medium tersebut bernilai 0.
Salah satu cara untuk mengatasi kelemahan ini yaitu
untuk setiap dimensi parameterisasi model diharapkan
memiliki nilai gradien kecepatan (asal tidak 0) dengan
cara membuat model gradasi di dalam setiap lapisan.
Model gradasi ini akan membuat gradien kecepatan
akan memiliki nilai dan ray tracing metode pseudobending ini akan dapat dijalankan.
4. Kesimpulan

Gambar 14. Ray tracing dengan menggunakan 50


titik tekuk dan banyak pertubasi 150. Pada pertubasi
ke-113 ray tracing berada pada waktu tempuh
minimum yaitu 0.0378 s. Dari jumlah titik tekuk = 50
ini, dapat dilihat saat ray tracing diperbaharui setiap
pertubasinya memiliki jarak yang dekat (rapat)
terhadap pertubasi sebelumnya.

Modifikasi algoritma ray tracing metode pseudobending pada penelitian ini terletak pada jumlah titik
tekuk yang ditentukan diawal, sedangkan Um dan
Thurber (1987) berawal dari 1 titik bending kemudian
jumlah titik bending bertambah seiring pertubasi.
Selain itu Um dan Thuber (1987) menggunakan
double paths segment dalam mengeksplorasi ruang
model.

Dari pengujian ray tracing metode pseudo-bending


dengan menggunakan beberapa model kecepatan,
jumlah titik tekuk dan banyak pertubasi berpengaruh
terhadap hasil ray tracing dengan metode ini. Faktor
utama yang paling mempengaruhi tekukkan ray pada
metode ini adalah gradien kecepatan dan

Dari pemograman dan pengujian beberapa model


kecepatan pada penelitian ini, ray tracing metode
pseudo-bending ini sangat baik diterapkan dalam
rekonstruksi penjejakan sinar gelombang yang
memenuhi prinsip fermat dengan waktu tempuh
tercepat. Persamaan matematika dalam menghitung
Rc merupakan sebuah pendekatan dari penyelasaian

50

JURNAL GEOFISIKA 2011/01

dalam penelitian ini, dapat diaplikasikan pada inversi


tomografi waktu tempuh antara lubang bor, untuk
memperoleh struktur kecepatan gelombang seismik
bawah permukaan.
5. Daftar Pustaka
Nugraha, A. D.,
dan Mori, J., Threedimensional velocity structure in the Bungo
channel and Shikoku area, Japan, and its
relationship to low-frequency earthquakes,
Geophysical Research Letters, Vol. 33,
L24307, doi:10.1029/2006GL028479,
2006.
Gambar 16. Waktu tempuh untuk setiap pertubasi.
Dengan menggunakan 50 titik tekuk konvergensi
waktu tempuh mulai terlihat pada pertubasi ke-100.
persamaan gelombang. Dalam hal ini Rc kadang dapat
memiliki nilai imajiner dan akan bernilai sangat besar.
Dalam menjaga kestabilan tekukkan (gangguan) yang
diberikan kepada ray ditekuk ke arah n sejauh Rc,
nilai Rc diberi syarat dalam penerimaan jarak tekukkan
ray, yaitu Rc dapat diterima jika bernilai 0 1 dan jika
Rc ditemukan bernilai imajiner maka Rc dianggap
bernilai 0 pada pertubasi tersebut.
Optimasi ray tracing metode pseudo bending dari segi
waktu perhitungan ini dipengaruhi oleh jumlah titik
tekuk dan banyak pertubasi. Jumlah titik tekuk dan
banyak pertubasi akan dipengaruhi oleh parameterisasi
model dan model kecepatan. Semakin banyak titik
tekuk maka ray tracing akan semakin halus tetapi
membutuhkan waktu yang semakin lama dalam
mencapai konvergensi waktu tempuh minimum.
Pemograman ray tracing metode pseudo bending

Widiyantoro, S., &, van der Hilst, R.D., Mantle


structure beneath Indonesia inferred from
high-resolution tomographic imaging.
Geophys. J. Int., 130, 167-182, 1997.
Priyono, A., Suantika, G., Widiyantoro, S., Priadi, B.,
dan Surono., Three-dimensional P- and Swave Velocity Structures of Mt. Guntur,
West Java, Indonesia, from Seismic
Tomography, Int. J. Tomogr. Stat., Vol.16.,
W11., 2010.
Thurber, C. H., Local earthquake tomography
velocities and Vp/Vs theory, in Seismic
Tomography: Theory and Practice, pp. 563583, edited by H. M. Iyer and K. Hirahara,
CRC Press, Boca Raton, Fla, 1993.
Um, Junho and Clifford Thurber. A Fast Algorithm
for Two Point Seismic Ray Tracing. Bulletin
of the Seismological Society of America,
Vol.77, No.33, pp. 972-986, 1987.

51

JURNAL GEOFISIKA 2011/01

SYARAT DAN FORMAT PENULISAN JURNAL GEOFISIKA


Umum
Redaksi menerima artikel berupa hasil penelitian atau
hasil studi, baik dalam bentuk kajian teoritik maupun
eksperimental atau gabungan keduanya dalam bidang
Geofisika.
Naskah harus berisi informasi yang benar, jelas dan
memiliki kontribusi substantif terhadap bidang kajian.
Penulisan harus singkat dan jelas sesuai dengan format
penulisan Jurnal Geofisika. Informasi dalam naskah
belum pernah dimuat atau tidak sedang dalam proses
untuk dimuat di media lain, baik media cetak maupun
elektronik.
Pengiriman dan Penilaian Naskah
Naskah asli yang dikirimkan ke redaksi Jurnal
Geofisika harus sesuai dengan format penulisan
naskah yang ditentukan. Naskah tersebut sebaiknya
dikirimkan dalam bentuk softcopy. Penulis yang
memasukkan naskahnyake redaksi Jurnal Geofisika
sebaiknya melampirkan biografi ringkas, afiliasi, dan
alamat lengkap termasuk alamat e-mail (bila ada).

Makalah yang masuk akan diseleksi oleh Tim Editor


yang memiliki wewenang penuh untuk mengoreksi,
mengembalikan untuk diperbaiki, dan menolak tulisan
yang masuk meja redaksi bila dirasa perlu. Penilaian
akan dilakukan secara obyektif dan tertulis. Naskah
yang ditolak untuk dimuat dalam Jurnal Geofisika
akan dikembalikan kepada penulis.
Format Penulisan Naskah
Format penulisan Jurnal Geofisika dapat dilihat pada
halaman berikut. Panduan penulistersebut sesuai
dengan format baku Jurnal Geofisika, dan dapat
dijadikan sebagai contoh.
Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia atau
Bahasa Inggris. Bila menggunakan BahasaIndonesia,
menggunakan bahasa yang benar. Penggunaan bahasa
dan istilah asing sebaiknya disertai makna/arti istilah
tersebut.

JUDUL MAKALAH
PenulisPertama1, Penulis Kedua1, Penulis Ketiga2
1)
Afiliasi Penulis Pertama dan Kedua
2)
Afiliasi Penulis Ketiga
Abstrak
Abstrak berisi latar belakang, tujuan, metodologi, hasil, dan kesimpulan secara ringkas. Sebaiknya jumlah kata
dalam abstrak tidak lebih dari 300 kata. Abstrak ditulis dengan huruf Times New Roman dengan font 11 yang dicetak
miring. Tata letak abstrak ini dapat dijadikan contoh format baku penulisan dalam Jurnal M,eteorologi dan
Geofisika.
Abstract
An abstract consists of background, objectives, methodology, results, and conclution in brief. The abstract should be
less than 300 words, in 11 point Italic Times New Roman font. The layout of this abstract can be used as a template.
Keywords: terdiri dari tiga sampai lima kata dalam Bahasa Inggris.

1. Struktur Naskah

2. Format Makalah

Struktur naskah adalah judul, nama penulis (tanpa


gelar), afiliasi tempat bekerja, abstrak, kata kunci,
pendahuluan/latar belakang dan tujuan, isi naskah,
kesimpulan, ucapan terima kasih, dan daftar pustaka.

Tata Letak

52

Naskah dicetak dengan format kertas ukuran A4.


Setiap halaman diberi nomor dan panjang naskah
antara 10 sampai 15 halaman.