Anda di halaman 1dari 28

PENUKAR KALOR II

(HEAT EXCHANGER TYPE DOUBLE PIPE)

I.

TUJUAN PRAKTIKUM
Mengetahui prinsip kerja alat penukar kalor dan mempelajari karakteristik yang
dihasilkan dari perpindahan kalor antara fluida panas dan fluida dingin.

II.

ALAT DAN BAHAN


Seperangkat alat Heat Exchanger Type Double Pipe
Cooler
Pompa

III.

DASAR TEORI
Heat exchanger atau penukar panas adalah alat yang digunakan untuk menukarkan
panas secara kontinyu dari suatu medium ke medium lainnya dengan membawa energi panas.
Suatu heat exchanger terdiri dari elemen penukar kalor yang disebut sebagai inti atau matrix
yang berisikan di dinding penukar panas, dan elemen distribusi fluida seperti tangki, nozzle
masukan, nozzle keluaran, pipa-pipa, dan lain-lain. Biasanya, tidak ada pergerakan pada
bagian-bagian dalam heat exchanger. Namun, ada pengecualian untuk regenerator rotary
dimana matriksnya digerakan berputar dengan kecepatan yang dirancang. Dinding
permukaan heat exchanger adalah bagian yang bersinggungan langsung dengan fluida yang
mentransfer panasnya secara konduksi. ( Holman, 1994)
Prinsip Kerja Heat Exchanger
Prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas dari dua fluida pada
temperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak
langsung.

Gambar 1. Perpindahan Kalor pada Heat Exchanger


a. Secara kontak langsung, panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dingin
melalui permukaan kontak langsung berarti tidak ada dinding antara kedua fluida.
Transfer panas yang terjadi yaitu melalui interfase / penghubung antara kedua fluida.

Contoh : aliran steam pada kontak langsung yaitu 2 zat cair yang immiscible (tidak
dapat bercampur), gas-liquid, dan partikel padat-kombinasi fluida.
b. Secara kontak tak langsung, perpindahan panas terjadi antara fluida panas dan
dingin melalui dinding pemisah. Dalam sistem ini, kedua fluida akan mengalir.
Heat exchanger bekerja berdasarkan prinsip perpindahan panas (heat transfer), dimana
terjadi perpindahan panas dari fluida yang temperaturnya lebih tinggi ke fluida yang
temperaturnya lebih rendah. Biasanya, ada suatu dinding metal yang menyekat antara kedua
cairan yang berlaku sebagai konduktor . Suatu solusi panas yang mengalir pada satu sisi yang
mana memindahkan panasnya melalui fluida lebih dingin yang mengalir di sisi lainnya.
Energi panas hanya mengalir dari yang lebih panas kepada yang lebih dingin dalam
percobaan untuk menjangkau keseimbangan. Permukaan area heat exchanger mempengaruhi
efisiensi dan kecepatan perpindahan panas yang lebih besar area permukaan panas exchanger,
lebih efisien dan yang lebih cepat pemindahan panasnya. ( Sitompul, 1993)
Macam-macam Heat Exchanger Berdasarkan Desain Konstruksi
1. Shell and Tube
Jenis ini merupakan jenis yang paling banyak digunakan dalam industri
perminyakan. Alat ini terdiri dari sebuah shell (tabung/slinder besar) dimana didalamnya
terdapat suatu bandle (berkas) pipa dengan diameter yang relative kecil. Satu jenis fluida
mengalir didalam pipa-pipa sedangkan fluida lainnya mengalir dibagian luar pipa tetapi
masih didalam shell.
Heat exchanger tipe shell & tube menjadi satu tipe yang paling mudah dikenal. Tipe
ini melibatkan tube sebagai komponen utamanya. Salah satu fluida mengalir di dalam tube,
sedangkan fluida lainnya mengalir di luar tube. Pipa-pipa tube didesain berada di dalam
sebuah ruang berbentuk silinder yang disebut dengan shell, sedemikian rupa sehingga pipapipa tube tersebut berada sejajar dengan sumbu shell.

Heat Exchanger Tipe Shell & Tube


(a) satu jalur shell, satu jalur tube
(b) satu jalur shell, dua jalur tube

2. Jenis Double Pipe (Pipa Ganda)


Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Dalam jenis penukar panas
dapat digunakanberlawanan arah aliran atau arah aliran, baik dengan cairan panas atau dingin
cairan yang terkandung dalam ruangan nular dan cairan lainnya dalam pipa.
Pada alat ini, mekanisme perpindahan kalor terjadi secara tidak langsung (indirect
contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida sehingga kedua fluida
tidak bercampur. Fluida yang memiliki suhu lebih rendah (fluida pendingin) mengalir melalui
pipa kecil, sedangkan fluida dengan suhu yang lebih tinggi mengalir pada pipa yang lebih
besar (pipa annulus). Penukar kalor demikian mungkin terdiri dari beberapa lintasan yang
disusun dalam susunan vertikal. Perpindahan kalor yang terjadi pada fluida adalah proses
konveksi, sedang proses konduksi terjadi pada dinding pipa. Kalor mengalir dari fluida yang
bertemperatur tinggi ke fluida yang bertemperatur rendah.

3. Koil Pipa
Heat Exchanger ini mempunyai pipa berbentuk koil yang dibenamkan didalam sebuah
box berisi air dingin yang mengalir atau yang disemprotkan untuk mendinginkan fluida panas
yang mengalir di dalam pipa. Jenis ini disebut juga sebagai box cooler jenis ini biasanya
digunakan untuk pemindahan kalor yang relative kecil dan fluida yang didalam shell yang
akan diproses lanjut.

Pipa Coil Heat Exchanger


HE jenis ini disusun dari tabung-tabung (tubes) dengan jumlah besar mengelilingi
tabung inti, dimana setiap HE terdiri dari lapisan-lapisan tabung sepanjang arah aksial

maupun radial. Aliran tekanan tinggi diberikan pada tube diameter kecil, sementara untuk
tekanan rendah dialirkan pada bagian luar tube diameter kecil.
HE jenis ini memiliki keuntungan untuk kondisi suhu rendah antara lain:
a. Perpindahan kalor dapat dilakukan lebih dari dari dua aliran secara simultan.
b. Memiliki jumlah unit Heat transfer yang tinggi.
c. Dapat dilakukan pada tekanan tinggi.
4. Jenis Pipa Terbuka (Open Tube Section)
Pada heat exchanger ini pipa-pipa tidak ditempatkan lagi didalam shell, tetapi
dibiarkan di udara. Prndinginan dilakukan dengan mengalirkan air atau udara pada bagian
pipa. Berkas pipa itu biasanya cukup panjang. Untuk pendinginan dengan udara biasanya
bagian luar pipa diberi sirip-sirip untuk memperluas permukaan perpindahan panas. Seperti
halnya jenis coil pipa, perpindahan panas yang terjadi cukup lamban dengan kapasitas yang
lebih kecil dari jenis shell and tube.

Alat penukar kalor jenis open tube section


5. Penukar Panas Plate and Frame ( plate and frame heat exchanger )
Plate Heat Exchanger adalah salah satu jenis alat penukar panas yang terdiri atas
paket pelat-pelat tegak lurus bergelombang atau dengan profil lain, yang dipisahkan antara
satu dengan lainnya oleh sekat-sekat lunak. Pelat-pelat ini dipersatukan oleh suatu perangkat
penekan dan jarak antara pelat-pelat ditentukan oleh sekat-sekat tersebut. Pada setiap sudut
dari pelat yang berbentuk empat persegi panjang terdapat lubang. Melalui dua di antara
lubang-lubang ini media yang satu disalurkan masuk dan keluar pada satu sisi, sedangkan
media yang lain karena adanya sekat mengalir melalui ruang antara disebelahnya. Dalam hal
itu hubungan ruang yang satu dan yang lainnya dimungkinkan. pelat-pelat yang dibentuk
sesuai kebutuhan dan umumnya terbuat dari baja (stainless steel type 304, 316, 317) atau
logam lainnya.
Produk akan dipanaskan dan masuk kedalam suatu larutan yang kemudian akan
mengalir pada sebuah pelat. Proses pemanasan ini terjadi dengan adanya medium pemanas
yang mengalir pada saluran dan pelat yang lainnya. Dimana pelat yang telah tersusun ini akan
secara bergantian mengalirkan produk dan medium pemanas. Pelat yang dialiri produk tidak
akan dialiri oleh komponen lain.

6. Spiral Tube
Heat exchanger tipe ini menggunakan pipa tube yang didesain membentuk spiral di
dalam sisi shell. Perpindahan panas pada tipe ini sangat efisien, namun di sisi hampir tidak
mungkin untuk melakukan pembersihan sisi dalam tube apabila kotor.

Heat Exchanger Tipe Spiral

Pengukuran Kinerja Heat Exchanger


Kinerja dari suatu Heat Exchanger dapat dilihat dari parameter-parameter berikut :
a. Faktor Pengotor (Fouling Factor)
Faktor pengotoran ini sangat mempengaruhi perpindahan panas pada heat exchanger.
Pengotoran ini dapat terjadi endapan dari fluida yang mengalir, juga disebabkan oleh korosi
pada komponen dari heat exchange rakibat pengaruh dari jenis fluida yang dialirinya. Selama
heat exchanger ini dioperasikan pengaruh pengotoran pasti akan terjadi. Terjadinya
pengotoran tersebut dapat menganggu atau memperngaruhi temperatur fluida mengalir juga
dapat menurunkan ataau mempengaruhi koefisien perpindahan panas menyeluruh dari fluida
tersebut. Beberapa faktor yang dipengaruhi akibat pengotoran antara lain :
Temperatur fluida
Temperatur dinding tube
Kecepatan aliran fluida
Faktor pengotoran (fouling factor, Rf) dapat dicari persamaan :

dimana U pipa yang sudah tua tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :

Jika fouling factor di atas sudah memiliki nilai sedemikian besar, maka HE tersebut dapat
disimpulkan sudah tidah baik kinerjanya.
b. Koefisien perpindahan panas
Semakin baik sistem maka semakin tinggi pula koefisien panas yang dimilikinya.
Koefisien perpindahan kalor, U, terdiri dari dua macam yaitu :
UC adalah koefisien perpindahan kalor keseluruhan pada saat alat penukar kalor masih
baru
UD adalah koefisien perpindahan kalor keseluruhan pada saat alat penukar kalor sudah
kotor
Secara umum kedua koefisien itu dirumuskan sebagai

c. Penurunan Tekanan (Pressure Drop)


Pada setiap aliran dalam HE akan terjadi penurunan tekanan karena adanya gaya gesek
yang terjadi antara fluida dan dinding pipa. Hal ini dapat terjadi pada sambungan pipa,
fitting,atau pada HE itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan kehilangan energi sehingga
perubahan suhu tidak konstan.
Untuk penurunan Tekanan pada Tube Side Besarnya penurunan tekanan pada tube side
alat penukar kalor telah diformulasikan, persamaan terhadap faktor gesekan dari fluida yang
dipanaskan atau yang didinginkan didalam tube.
Dimana :
n = Jumlah pass aliran tube
L = Panjang tube
L.n = Panjang total.lintasan dalam ft

Mengingat bahwa fluida itu mengalami belokan pada saat passnya, maka akan terdapat
kerugian tambahan penurunan tekanan.

d. Konduktivitas Termal
Daya hantar kalor yang dimiliki fluida maupun dinding pipa HE sangat berpengaruh
pada kemampuan kalor tersebut berpindah.
e. Aliran Fluida yang Bertukar Kalor

Aliran Kalor Sejajar, kurang efisien dan cepat untuk satu fluida.

Aliran Kalor Berlawanan Arah, kalor yang ditransfer lebih banyak.


6 Metode-metode untuk menentukan efektivitas
Beda Suhu Rata-rata Log (LMTD)
Pada alat penukar-kalor pipa-ganda, fluidanya dapat mengalir dalam aliran-sejajar
maupun aliran lawan-arah. Untuk menghitung perpindahan kalor dalam susunan pipa-ganda
digunakan persamaan :
dimana : U = koefisien perpindahan-kalor menyeluruh
A = luas permukaan perpindahan-kalor
Tm = beda-suhu rata-rata yang tepat untuk digunakan dalam penukar kalor.
Untuk alat penukar-kalor aliran-sejajar , kalor yang dipindahkan melalui unsur luas dA
dapat dituliskan sebagai:

dimana subskrip h dan c masing-masing menandai fluida-panas dan fluida-dingin.


Perpindahan-kalor dapat pula dinyatakan sebagai

dimana,
dimana
Jadi,

dan
menunjukkan laju aliran-massa dan c adalah kalor spesifik fluida.

Jika dq diselesaikan dari persamaan (1) dan disubstitusikan ke dalam persamaan (2) maka
didapatkan

Hasil kali
dan
dapat dinyatakan dalam perpindahan kalor total q dan beda-suhu
menyeluruh antara fluida-panas dan fluida dingin. Jadi,

dan
Jika kedua hubungan di atas disubstitusikan ke persamaan (3) memberikan :

Jika persamaan diatas dibandingkan dengan persamaan sebelumnya terlihat bahwa beda
suhu rata-rata merupakan pengelompokan suku-suku dalam kurung, Jadi,

Beda suhu ini disebut beda suhu rata-rata log (log mean temperature difference = LMTD).
Dengan kata lain, LMTD ialah beda-suhu pada satu ujung penukar-kalor dikurangi beda-suhu
pada ujung yang satu lagi dibagi dengan logaritma alamiah dari perbandingan kedua beda
suhu tersebut.
Penurunan persamaan LMTD tersebut didasarkan atas dua asumsi :
(1) Kalor spesifik fluida tidak berubah menurut suhu
(2) Koefisien perpindahan-kalor konveksi tetap, untuk seluruh penukar-kalor.
Jika suatu penukar-kalor yang bukan jenis pipa-ganda digunakan, perpindahan-kalor
dihitung dengan menerapkan faktor koreksi terhadap LMTD untuk susunan pipa-ganda
aliran lawan-arah dengan suhu fluida-panas dan fluida dingin yang sama. Bentuk persamaan
perpindahan-kalor menjadi:

Metode NTU Efektivitas


Dalam analisis penukar-kalor, pendekatan dengan metode LMTD berguna apabila suhu
masuk dan suhu keluar fluida diketahui atau dapat ditentukan dengan mudah sehingga LMTD,
luas permukaan dan koefisien perpindahan kalor dapat dengan mudah ditentukan. Namun,
apabila kita harus menentukan terlebih dahulu suhu masuk dan suhu keluar fluida maka
analisis lebih mudah dilakukan dengan metode yang berdasarkan efektivitas penukar kalor
dalam memindahkan jumlah kalor tertentu atau disebut juga metode NTU (Number of
Transfer Unit). Metode NTU dikhususkan untuk menghitung perpindahan secara counter
currentHeat Exchanger sendiri adalah alat/perangkat yang energinya ditransfer dari satu fluida
menuju fluida lainnya melewati permukaan padat.
Metode NTU ini dijalankan/dikerjakan dengan menghitung laju kapasitas panas
(contohnya laju alir dikalikan dengan panas spesifik) Ch dan Cc berturut-turut untuk fluida
panas dan dingin. Dalam kasus dimana hanya ada temperatur awal untuk fluida panas dan cair

yang diketahui, LMTD tidak dapat dihitung sebelumnya dan aplikasi/penerapan metode
LMTD memerlukan pendekatan secara iterasi. Pendekatan yang dianjurkan adalah metode
keefektifan atau -NTU. Keefektifan dari Heat Exchanger, , didefinisikan dengan :

dimana : q adalah nilai laju sebenarnya dari perpindahan panas dari fluida panas menuju
fluida dingin, dan qmax merepresentasikan laju maksimum yang mungkin dari perpindahan
panas, yang diberikan dengan hubungan :

dimana Cmin adalah laju kapasitas dari dua panas yang terkecil. Dengan demikian laju
perpindahan panas sebenarnya diekspresikan sebagai :

dan dihitung, memberikan keefektifan heat exchanger, , laju alir massa, dan panas spesifik
dua fluida dan temperatur awal.
Untuk geometris aliran, , dapat dihitung menggunakan korelasi dengan istilah rasio
kapasitas panas :

dan Bilangan Satuan Perpindahan, NTU :

dimana U merupakan koefisien perpindahan panas keseluruhan dan A adalah area


perpindahan panas.
Beberapa masalah pada jenis heat exchanger.
Naiknya pressure drop didalam HE
1. Penyebab : Ada kotoran dalam HE (HE tersumbat)
Tindakan:
Bersihkan pipa-pipa sebelum start up
Bersihkan plate (jika kejadiannya setelah proses berjalan)
Media yang masuk HE perlu diberi filter.
2. Penyebab : Viskositas
Tindakan:
Check viskositas dan jika perlu setel sesuai desain.
Check apakah temperature turun sampai dibawah temperature desain
3. Penyebab : Kesalahan koneksi pada sistem perpipaan
Tindakan: Check koneksi dan sesuaikan dengan drawing.
4. Penyebab: Kuantitas aliran terlalu besar
Tindakan: Atur kuantitas aliran dengan benar.

IV.

V.

PROSEDUR PERCOBAAN
Menghidupkan alat penukar kalor, kemudian dilanjutkan dengan
menghidupkan pompa dan cooler.
Memanaskan fluida air dengan menggunakan heater.
Mengatur salah satu laju dari fluida panas atau dingin konstan.
Mencatat temperatur yang terlihat pada display.
Mematikan pemanas tangki di fluida panas setelah selesai.
Mematikan aliran fluida dingin pada cooler setelah 2 menit dahulu dari fluida
panas.
Mematikan peralatan penukar kalor.
DATA PENGAMATAN
a. Cold Constant : 0.2 L/min
Tabel. Pengamatan Cold Constant : 0.2 L/min
Q. Hot Water
(L/min)

T. Water
Tank (0C)

0.1
0.2
0.3
0.4

54
55
56
58

Hot Water
Tout
Tin (oC)
(oC)
54,1
46,6
56,0
51,1
57,1
52,1
58,1
55,1

Cold Water
Tin (oC)

Tout (oC)

16,8
18,8
20,2
21,1

30,6
34,4
35,6
38,5

b. Hot Constant : 0.2 L/min


Tabel. Pengamatan Hot Constant : 0.2 L/min
Q. Hot Water
(L/min)

T. Water
Tank (0C)

0.1
0.2
0.3
0.4

61
62
63
64

Hot Water
Tout
Tin (oC)
(oC)
57,4
49,7
57,6
50,1
57,8
50,2
58,1
50,4

Cold Water
Tin (oC)

Tout (oC)

22,7
22,9
30,1
30,3

34,2
34,5
34,6
34,8

c. Perhitungan LMTD
Table. Perhitungan LMTD
No
1
2
3
4

HOT Constant
Laju
LMTD
Fluida
0.1
23,8240
0.2
23,8908
0.3
21,0742
0.4
21,1158

Cold Constant
Laju
LMTD
Fluida
0.1
25,1653
0.2
25,6740
0.3
25,5948
0.4
25,4518

GRAFIK LMTD VS LAJU ALIR (PANAS KONSTAN)


24.5
24
23.5
23
22.5
22

GRAFIK LMTD VS LAJU


ALIR (PANAS KONSTAN)

21.5
21
20.5
20
19.5
0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45

GRAFIK LAJU ALIR VS LMTD (DINGIN KONSTAN)


25.8
25.7
25.6
25.5
25.4
25.3
25.2
25.1
25
24.9
0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45

GRAFIK LAJU ALIR VS


LMTD (DINGIN
KONSTAN)

VI.

PERHITUNGAN

Run 1 (Dingin Konstan)


Data untuk fluida inner pipe (Fluida
Panas)

Laju fluida

T1 (hot in)
129,38oF

T2 (hot out)

Laju fluida

= 0.2

T3 (Cold in)

L/min
= 0.1 L/min
= 54,1 0C =
0

= 46,6 C =

115,88oF
Data untuk fluida annulus (Fluida

16,80C = 62,24oF

T4 (Cold out) =

18.3 0C = 87,08oF

Dingin)
Konversi laju alir fluida inner pipe

v = 0.1 L/min

v = 0.1 L/min x 987 kg/1 m3


3

x 1 m /10 L x 60 menit/jam

w = 5,922 kg/jam x 2,2046


lb/kg

w = 13,0556 lb/jam

Konversi laju alir fluida annulus

v = 0.2 L/min

v = 0.2 L/min x 987

kg/1 m3 x 1 m3/103 L x 60
menit/jam

w = 11,844 kg/jam x

2,2046 lb/kg

w = 26,1113 lb/jam

1. Menghitung Neraca Panas


2. Qfluida panas = Qfluida dingin
3. w. C(T1 T2)
= w. C(T3 T4)
a) Fluida Inner Pipe
4.
w = 13,0556 lb/jam
5.
T1 = 54,1 0C
TRata-rata = (54,1 + 46,6)0C = 50,35 0C
6.
T2 = 46,6 0C
2
7.
Interpolasi nilai Cp
8.
T(0C)
Cp(kJ/Kg.K)
9.
50
4,182
10.
50,35

11.
55
4,183

12.
13.

Cp (50,35)

= 4,182 kJ/Kg.K + 50,350C 500C (4,183 4,182)


550C 500C

14.
15.

= 4,182 kJ/Kg.K + 7 x 10-5 kJ/Kg.K

16.

= 4,18207 kJ/Kg.K

17.

Cp = 4,178207 kJ/Kg.K x 0,238846 (Btu/lb.0F) / (kJ/Kg.K)


= 0,9989 Btu/lb0F

18.
19.

Sehingga :

20.

QInner Pipe

= w. Cp (T1 T2)

21.

= 13,0556 lb/jam x 0.9989 Btu/lb0F (13,5)0F

22.

= 176,0567 Btu/hr

b) Fluida Annulus
23. w = 26,1113 lb/jam
24. T3 = 16,8 0C
25. T4 = 30,6 0C
26. Interpolasi nilai Cp
27.
T(0C)
28.
20
29.
23,7
30.
25
31.

Cp (23,7)

TRata-rata = (16,8 + 30,6)0C = 23,70C


2
Cp(kJ/Kg.K)
4,183

4,181
= 4,183 kJ/Kg.K + 23,70C 200C (4,183 4,181)
32.

250C 200C

33.

= 4,183 kJ/Kg.K 1,48 x 10 -3 kJ/Kg.K

34.

= 4,18152 kJ/Kg.K

35. Cp = 4,18152 kJ/Kg.K x 0,238846 (Btu/lb.0F) / (kJ/Kg.K)


= 0,9987 Btu/lb0F

36.
37. Sehingga :
38.

QInner Pipe

= w. Cp (T3 T4)

39.

= 26,1113 lb/jam x 0.9987 Btu/lb0F (24,84)0F

40.

= 647,7615 Btu/hr

41. Logarithmic Mean Temperature Difference (LMTD)


42.
LMTD = (T1 T3) (T2 T4)
43.
In (T1-T3 / T2-T4)
44.
= (54,1 16,8)0C (46,6 30,6)0C
45.
In 54,10C 16,80C
46.
46,60C 30,60C
47.
= 25,16530C = 77,297540F
48.
49. Nilai Temperature Rata rata
TRata-rata = (62,24 + 87,08)0F

Inner Pipe
TRata-rata = (129,38 +
115,88)0F

Annulus

2
2
= 122,63 F

50. Menentukan Flow Area


L = 1,32 m = 4,33021 ft
Inner Pipe
in sch 40
OD = 0,240/12 ft = 0,07 ft
ID = 0,622/12 ft = 0,0518
ft
p

HE = double pipe sch


(D1) ID = 0,824/12 ft =
0,0687 ft
a

= /4 (D22 D12)

= 3,14/4
(0,08752 0,06872)

= 2,3052 x

= /4 x D2

= 3,14/4
(0,0518)2

= 2,1063 x

= 74,66 0F

De

10-3 ft2

10-3 ft 2
= (D22 D12) / D1

= (0,08752 ft2
0,06872 ft2)/

Annulus
in sch 40
(D2) OD = 1,05/12 ft =

0,0687 ft

= 0,0427 ft

0,0875 ft
51. Perhitungan Mass Vel
Inner Pipe
Gp
= w/ p

lb/jam

= 13,0556

2,1063 x

10-3 ft2

Ga

= 6197,7688

= w/ a
= 26,1113

lb/jam / 2,3052 x 10-3 ft2

lb/jam.ft2
Annulus

11327,12997 lb/jam.ft2

52. Perhitungan Reynold


T = 74,860F
= 0,96 Cp = 0,96 (2,42) =

Inner Pipe
T = 122,630F
= 0,6 Cp = 0,6 (2,42) =
1,452 lb/ft.hr
maka:

Re

= (D x Crp) /

= (D x Ga) /

= 0,0518 ft x

(6197,7688 lb/jam.ft2)/

lb/ft.hr

Annulus

2,3232 lb/ft.hr
maka:

Re

= 0,0472 ft x

(11327,12997 lb/jam.ft2)/
2,3232 lb/ft.hr

1,452

208,1906

= 221,1050

53. Berdasarkan Grafik jH, didapat jH


Inner Pipe
54.L/D = 4,33071 ft / 0,0518 ft

Annulus
57.L/D = 4,33071 ft / 0,0687 ft

= 83,6044
55.jH = 1,4
56.

= 63,0379
58.jH = 1,3

59.
8. Penentuan nilai k
Inner pipe

Dari tabel Thermal


Conductivity Liquid didapat k =
0,8730 Btu/hr. Ft2 (oF/ft)

Cp = 0,9989 Btu/ lboF

c . 13
=
k

( )

Btu
lb
.1,452 (hr ) 3
o
ft
lb F
=1,1844
0,8730 Bru /hr

0,9989

Annulus

Dari tabel Thermal


Conductivity Liquid didapat k =
0,9987 Btu/hr. Ft2 (oF/ft)

Cp = 0,9989 Btu/ lboF

c . 13
=
k

( )

1
Btu
lb
3
.2,3232
(hr
)
ft
lb o F
=1,3654
0,9152 Bru /hr

0,9987

9. Koefisien perpindahan panas


Inner pipe

hi=JH .

k c . 13
.
Da k
w

0,14

( )( )

Annulus

ho=JH .

27,9454

0,14

( )( )

Btu
0,8730 o
lb F
1,4.
.1,1844
0,0518 ft

k c . 13
.
Da k
w

1,3.

Btu
hr ft 2 F

Btu
lb o F
.1,3654
0,0427 ft

0,9152

38,0445

Btu
2
hr ft F

10. Correct hi to the surface at OD


ID
hio=hi x

OD
Btu
0,0518 ft
x
2
0,07 ft
hr ft F

27,9454

20,6796 Btu /hr ft 2

11. Clean Overall Coefficient


2
hio .ho ( 20,6794 x 38,0445 ) Btu/ hr ft
Uc=
=
=13,3972 Btu /hr ft 2
2

hio+ho ( 20,6794+38,0445 ) Btu / hr ft

12. Design Overall Coefficient, UD


1
1
=
+ Rd
13.
UD UC

14.
1
=
UD

1
Btu
13,3972

2
hr ft

+ 0,001

15.

20.

1
=0,0756 Btu . fthr ft 2
UD

16.
UD=13,2275 Btuu /hr ft 2
17.
18. Area yang dibutuhkan
Q
A=
19.
UD . LMTD

647,7615 Btu /hr


=0,6312 ft 2
Btu
13,2275
.77,29754
hr ft 2

21.
Dari tabel dimmension of steel
pipes (IPS) untuk pipe standar in IPS
luas permukaan adalah perfect adalah
0,275.
22.
2

panjang yang dibutuhkan=

23.
24. Pressure Drop
Inner pipe
R1 = 221,1050
f =0,0035+

25.

0,0035+

26.

0,6312 ft
=2,2953 ft
0,275 ft

0,264
0,42

0,264
221,10500,42

0,0308

27.
28.

4. f . Gp 2 . L
2. g . 2 . Dl

29.

FP=

30.

4 ( 0,0308 ) ( 6197,7688 jam ft 2 ) .4,33011 ft 2

=0,0001470 ft
2.4,18 ( 62,5 )2 .0,0427 ft .108

31.

P=

FPx 0,0001470 ft x 62,5


=
=6,38620 x 105 Psi
144
144

32.
Annulus
De ' =( D 2D 1 )=( 0,08750,06866 ) ft=0,01884 ft
33.

'

a=

0,01844 ft x (11327,12997 lb hr ft )
=91,8574
2,3232lb / ft (hr )

f =0,0035+

0,264
0,42

0,0035+

34.

0,264
0,42
(91,8574)

35. 0,0430

S = 1,

=62,5 x 1=62,5

4. f .Gp 2 . L
36. FA = 2. g . 2 . Dl
2

4 ( 0,436 ) ( 11327,2997 jam ft 2 ) .4,33011 ft 2


=0,00155 ft
37.
2.4,18 ( 62,5 )2 .(0,01884 ft )

v=

G
=
3600

2>=3 x

Pa=

38.

lb
2
hr ft
=0,05034 fps
3600.62,5

11827,2997

( 0,05034 fps )2
=0,008118 ft
2 x 32,2
v2
ft=3 x

( Fa+ft ) ( 0,00155 ft +0,000118 ft ) 62,5


4
=
=7,2396 x 10 psi
144
144

P yang diizinkan adalah<10 psi

39.
Panjang yang sebenarnya = 120 cm = 3,9730 ft
A (aktual) = 3,9730 ft x 0,275
= 1,0827 ft2
Btu
647,7615
hr
Btu
UD (aktual)=
=7,7400

2
1,0827 ft x 77,29792
hr ft 2

40.
41.
42.
43.
44.

45.
46.
47.

Menentukan Neraca Panas


Q= A . UD . LMTD
1,0827 ft 2 .7,7400

Btu
.747,29754
hr . ft 2

647,7609 Btu / hr

48.
Menentukan efisiensi

Q2= 647,7609 Btu/hr

Q1= 647,7615 Btu/hr

effisiensi=

Q2
x 100
Q1

Btu
hr

x 100
Btu
647,7615
hr
647,7609

99,98

Persen panas

( 647,7609647,7615 ) Btu
hr

x 100
Btu
647,7609
hr
0,000093

x 100
|Q2Q1
Q2 |

%panas=

Run 2 (Panas Konstan)


Data untuk fluida inner pipe (Fluida
Panas)

Laju fluida

T1 (hot in)
135,32oF

T2 (hot out)

Laju fluida

= 0.2

T3 (Cold in)

L/min
= 0.2 L/min
= 57,40C =
0

= 49,7 C =

121,46oF
Data untuk fluida annulus (Fluida

22,70C = 72,86oF

T4 (Cold out) =

34,20C = 93,56oF

Dingin)
Konversi laju alir fluida inner pipe

v = 0.2 L/min

v = 0.2 L/min x 987 kg/1 m3


x 1 m3/103 L x 60 menit/jam

w = 11,844 kg/jam x 2,2046


lb/kg

w = 26,1113 lb/jam
Konversi laju alir fluida annulus

v = 0.1 L/min x 987

kg/1 m3 x 1 m3/103 L x 60
menit/jam

w = 5,922 kg/jam x

2,2046 lb/kg

w = 13,0556 lb/jam

v = 0.1 L/min

1. Menghitung Neraca Panas


2. Qfluida panas = Qfluida dingin
3. w. C(T1 T2)
= w. C(T3 T4)
c) Fluida Inner Pipe
4.
w = 26,1113 lb/jam
5.
T1 = 57,4 0C
TRata-rata = (57,4 + 49,7)0C = 53,55 0C
0
6.
T2 = 49,7 C
2

= 326,55 K

7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Interpolasi nilai Cp
T(0C)
50
53,55
55
Cp (53,55)

Cp(kJ/Kg.K)
4,182

4,183

= 4,182 kJ/Kg.K + 53,550C 500C (4,183 4,182)


550C 500C

14.
15.
16.

= 4,18271 kJ/Kg.K
Cp = 4,18271 kJ/Kg.K x 0,238846 (Btu/lb.0F) / (kJ/Kg.K)
= 0,99902 Btu/lb0F

17.
18.

Sehingga :

19.

QInner Pipe

= w. Cp (T1 T2)

20.

= 26,1113 lb/jam x 0,99902 Btu/lb0F (13,86)0F

21.

= 361,5479 Btu/hr

d) Fluida Annulus
22. w = 13,0556 lb/jam
23. T3 = 22,7 0C
24. T4 = 34,2 0C
25. Interpolasi nilai Cp
26.
T(0C)
27.
25
28.
28,45
29.
30
30.

Cp (28,45)

TRata-rata = (22,7 + 34,2)0C = 28,450C = 301,45 K


2
Cp(kJ/Kg.K)
4,181

4,179
= 4,181 kJ/Kg.K + 28,450C 250C (4,179 4,181)
31.

32.

300C 250C

= 4,17962 kJ/Kg.K

33. Cp = 4,17962 kJ/Kg.K x 0,238846 (Btu/lb.0F) / (kJ/Kg.K)


= 0,9983 Btu/lb0F

34.
35. Sehingga :
36.

QInner Pipe

= w. Cp (T3 T4)

37.

= 13,0556 lb/jam x 0.9983 Btu/lb0F (20,7)0F

38.

= 269,7915 Btu/hr

39. Logarithmic Mean Temperature Difference (LMTD)


40.
LMTD = (T1 T3) (T2 T4)
41.
In (T1-T3 / T2-T4)
42.
= (57,4 22,7)0C (49,7 34,2)0C
43.
In 57,40C 22,70C
44.
49,70C 34,20C
45.
= 23,82430C = 74,88370F
46.
47. Nilai Temperature Rata rata
Inner Pipe
48. TRata-rata = (135,32 + 121,46)0F
49.
2
0
50.
= 128,39 F
Annulus
51. TRata-rata = (72,86 + 93,56)0F
52.

2
= 83,21 0F

53.

54.
55. Menentukan Flow Area
56. L = 1,32 m = 4,33021 ft
Inner Pipe
in sch 40
OD = 0,240/12 ft = 0,07 ft
ID = 0,622/12 ft = 0,0518
ft
p

HE = double pipe sch


(D1) ID = 0,824/12 ft =
0,0687 ft
a

(0,08752 0,06872)

= 2,3052 x

= /4 x D2

= 3,14/4
2

(0,0518)

= 2,1063 x
10-3 ft2
Annulus
in sch 40
(D2) OD = 1,05/12 ft =
0,0875 ft

57. Perhitungan Mass Vel

= /4 (D22 D12)

= 3,14/4

De

10-3 ft 2
= (D22 D12) / D1

= (0,08752 ft2
0,06872 ft2)

0,0687 ft

= 0,0427 ft

Inner Pipe
Gp
= w/ p

= 26,1113
lb/jam

Annulus
Ga
= w/ a

= 13,0556
lb/jam / 2,3052 x 10-3 ft2

= 5663,5433

2,1063 x

10-3 ft2

lb/jam.ft2
=

12396,7621 lb/jam.ft2

58. Perhitungan Reynold


Inner Pipe
T = 128,390F
= 0,55 Cp = 0,55 (2,42) =

1,331 lb/ft.hr
maka:
Re
= (D x Crp) /
= 0,0518 ft x

T = 83,210F
= 0,88 Cp = 0,88 (2,42) =
2,1296 lb/ft.hr
maka:

Re

= (D x Ga) /

(2396,7621 lb/jam.ft )/ 1,331 lb/ft.hr

= 282,4585

Annulus

= 0,0472 ft x

(5663,5433 lb/jam.ft2)/
2,1296 lb/ft.hr
=

113,5581

59. Berdasarkan Grafik jH, didapat jH


Inner Pipe
L/D = 4,33071 ft / 0,0518 ft

Annulus
L/D = 4,33071 ft / 0,0687 ft

= 83,6044
jH = 1,8

= 63,0379
jH = 1,2

8. Penentuan nilai k
Inner pipe
Dari tabel Thermal Conductivity
Liquid didapat k = 0,8756 Btu/hr. Ft2
(oF/ft)
Cp = 0,99902 Btu/ lboF

c . 13
=
k

( )

Annulus

1
Btu
lb
3
.1,331
(hr)
ft
lb o F
=1,149
0,8756 Btu /hr

0,99902

Dari tabel Thermal Conductivity


Liquid didapat k = 0,8739 Btu/hr. Ft2
(oF/ft)
Cp = 0,9983 Btu/ lboF

c . 13
=
k

( )

0,9983

1
Btu
lb
3
.2,12961
(hr
)
ft
lb o F
=1,36
0,8739 Btu /hr

9. Koefisien perpindahan panas


Inner pipe

k c . 13
.
Da k
w

0,14

( )( )

hi=JH .

Annulus
1

k c. 3
.
ho=JH . Da k
w

( )( )

1,8.

Btu
lb o F
.1,1494
0,0518 ft

0,8756

34,9719

Btu
hr ft 2 F

0,14

1,2.

Btu
lb o F
.1,3639
0,0427 ft

0,8379

32,1165

Btu
2
hr ft F

10. Correct hi to the surface at OD


ID
hio=hi x

OD
Btu
0,0518 ft
x
2
0,07 ft
hr ft F

34,9719

25,8792 Btu/hr ft

11. Clean Overall Coefficient


2
hio .ho ( 25,8792. 32,1165 ) Btu/hr ft
Uc=
=
=14,3312 Btu/ hr ft 2
2

hio+ho ( 25,8792+32,1165 ) Btu/hr ft

12. Design Overall Coefficient,


1
1
=
+ Rd
13.
UD UC

14.
1
=
UD

1
Btu
14,3312

hr ft 2

+ 0,001

15.

18. Area yang dibutuhkan


Q
A=
19.
UD . LMTD

UD=14,1243 Btu /hr ft


16.
17.

20.

21.

269,7915 Btu /hr


=0,2551 ft 2
Btu
Dari tabel dimmension of steel
14,1243
.74,8837
hr ft 2

pipes (IPS) untuk pipe standar in IPS luas permukaan adalah perfect adalah 0,275
ft.
2
0,2551 ft
panjang
yang
dibutuhk
an=
=0,9276 ft
22.
0,275 ft
23.
24. Pressure Drop
Inner pipe
R1 = 482,4585
25.
26.
27.

f =0,0035+
0,0035+

0,264
0,42

0,264
482,45850,42

0,0232

28.
29.

FP=

4. f . Gp 2 . L
2
2. g . . Dl
2 2

30.

4 ( 0,0232 ) ( 12396,7621 jam ft ) .4,33071 ft

31.

Pp=

2 . 4,18 x 10 ( 62,5 ) .0,0427 ft

=0,00044292 ft

FPx 0,00044292 ft x 62,5


=
=1,9224 x 104 Psi
144
144

32.
Annulus
De ' =( D 2D 1 )=( 0,08750,06866 ) ft=0,01884 ft
33.

' =

0,01844 ft x (5663,5433 lbhr ft )


=50,1038
2,1296 lb/ft (hr )

f =0,0035+

0,264
0,42

0,0035+

34.

0,264
0,42
(950,1038)

35. 0,0545

S = 1,

=62,5 x 1=62,5

4. f .Gp 2 . L
36. FA = 2. g . 2 . Dl
2

4 ( 0,545 ) ( 5663,5433 jam ft 2 ) .4,33071 ft 2


=4,9220 x 104 ft
8
2
37.
2.4,18 x 10 ( 62,5 ) . (0,01884 ft )

v=

G
=
3600

2>=3 x

lb
2
hr ft
=0,02517 fps
3600.62,5

5663,5433

( 0,02517 fps )2
=2,9512 x 105 ft
2 x 32,2
v2
ft=3 x

Pa=
38.

( Fa+ft ) ( 4,9220 x 104 ft +2,9512 x 105 ft ) 62,5


=
=2,2644 x 104 psi
144
144
P yang diizinkan adalah<10 psi

39.
Panjang yang sebenarnya = 120 cm = 3,9730 ft
A (aktual) = 3,9730 ft x 0,275
= 1,0827 ft2
Btu
269,7915
hr
Btu
UD (aktual)=
=3,3276

2
1,0827 ft x 74,8037
hr ft 2

40.
41.
42.
43.
44.

45.
46.
47.

Menentukan Neraca Panas


Q= A . UD . LMTD
1,0827 ft 2 .3,3276

Btu
.74,8837
2
hr . ft

269,7904 Btu /hr

48.
Menentukan efisiensi
Q2= 269,7904Btu/hr
Q1= 269,7915Btu/hr

effisiensi=

Q2
x 100
Q1

Btu
hr

x 100
Btu
269,7915
hr
269,7904

99,99

Persen panas

x 100
|Q2Q1
Q2 |

%panas=

( 269,7904269,7915 ) Btu
hr

x 100
Btu
269,7904
hr
0,000408

VII. ANALISA PERCOBAAN

Pada praktikum Heat Exchanger Type Double Pipe yang telah dilakukan,
tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui prinsip kerja alat penukar kalor dan
mempelajari karakteristik yang dihasilkan dari perpindahan kalor antara fluida panas dan
fluida dingin. Heat Exchanger merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk menukarkan
energi dalam bentuk panas antara fluida yang berbeda temperatur.

Pada praktikum ini, aliran yang digunakan berbeda dari praktikum


sebelumnya, yaitu co-current. Fluida akan mengalir satu arah, baik fluida dengan suhu rendah
yang ada di annulus, begitu juga fluida dengan suhu tinggi yang mengalir pada bagian inner.
Perpindahan kalor terjadi secara kontak tidak langsung. Karena terdapat dinding pemisah
antara kedua fluida sehingga tidak bercampur.

Dilakukan proses pemeriksaan suhu setiap 10 menit dna proses dilakukan


ketika suhu telah mencapai 40oC. Parameter yang diukur adalah laju alir, suhu water tank,
suhu fluida panas (T1,T2, dan T3) dan suhu fluida dingin (T4, T5, dan T6). Suhu pendingin
(cooler) pada alat ini diusahakan berada dibawah 20 oC, sehingga tidak ada hasil minus pada
perhitungan/ data yang diperoleh.

Pada praktikum Heat Exchanger II yang telah dilakukan, didapatkan nilai


LMTD yang berbeda dari percobaan pertama, yaitu nilai LMTD dengan aliran co-current
memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan aliran counter current. Hal tersebut
dapat dilihat pada data run 1, dimana LMTD untuk hot constant pada aliran co-current sebesar
23,8240 sedangkan pada counter current sebesar 17,8990. Untuk cold constant, LMTD hot
constant sebesar 25,1653 pada co-current. Sedangkan LMTD untuk counter current sebesar
20,2274. Jadi, dapat diketahui bahwa nilai LMTD lebih besar pada aliran co-current.

Pada perhitungan efisiensi, efisiensi untuk panas konstan pada praktikum I


(counter current) lebih kecil dibanding pada aliran co-current, yaitu masing-masing sebesar
99,98% dan 99,99%. Sedangkan pada dingin konstan, kedua aliran memiliki efisiensi yang
sama yaitu sebesar 99,98%.

VIII. KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:


Pada alat Heat Exchanger Double Pipe, perpindahan kalor terjadi secara tidak
langsung (indirect contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida
sehingga kedua fluida tidak bercampur.

Nilai LMTD yang didapat pada aliran co-current lebih besar dibandingkan dengan
LMTD pada aliran counter current.
Dari data praktikum yang didapat, maka diperoleh efisiensi:
Hot constant = 99,99 %
Cold constant = 99,98 %

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. 2016. Penuntun Praktikum Satuan Operasi II. Palembang:


Politeknik Negeri
Sriwijaya
www.Academia.edu

www.scribd.com