Anda di halaman 1dari 6

Axiologi

Axiologi (aksiologi) artinya nilai atau sesuatu yang berharga


Logos artinya akal, teori
Axiologi artinya teori nilai.
Problem utama aksiologi menurut Runes, berkaitan dengan
empat faktor penting sebagai berikut :
Pertama, kodrat nilai berupa problem mengenai :
keinginan (Voluntarisme : Spinoza)
Kesenangan (Hedonisme : Epicurus, Bentham,
Meinong)
Kepentingan (Perry)
Preferensi (Martineau)
Apakah nilai Keinginan rasio murni (Kant)
itu Berasal Pemahaman mengenai kualitas tersier (Santayana)
dari Pengalaman sinoptik kesatuan kepribadian
(Personalisme : Green)
Berbagai Pengalaman yang mendorong semangat
hidup (Nitzsche)
Relasi benda-benda sebagai sarana untuk mencapai
tujuan atau konsekuensi yang sungguh-sungguh
dapat dijangkau (Pragmatisme : Dewey).
Kedua, jenis-jenis nilai menyangkut perbedaan pandangan
antara nilai intrinsik, ukuran untuk kebijaksanaan nilai itu sendiri, nilai-
nilai instrumental yang menjadi penyebab (baik barang-barang
ekonomis atau peristiwa-peristiwa alamiah) mengenai nilai-nilai
intrinsik.
Ketiga, Kriteria nilai artinya ukuran untuk menguji nilai yang
dipengaruhi sekaligus oleh teori psikologi dan logika. Bahwa ukuran
nilai terletak pada :

1
 Menurut penganut hedonist pada sejumlah kenikmatan yang
dilakukan oleh seseorang (Aristippus) atau Masyarakat
(Bentham).
 Menurut penganut intuisionist menonjolkan suatu wawasan
yang paling akhir dalam keutamaan.
 Menurut Penganut idealist mengakui sistem objektif norma-
norma rasional atau norma-norma ideal sebagai kriteria
(Plato).
 Menurut Penganut naturalist menemukan keunggulan biologis
sebagai ukuran yang standar.
Keempat, status metafisik nilai mempersoalkan tentang
bagaimana hubungan antara nilai terhadap fakta-fakta bagaimana
hubungan antara nilai terhadap fakta-fakta yang diselidiki melalui
 Ilmu-ilmu kealaman (Koehler)
 Kenyataan terhadap keharusan (Letze)
 Pengalaman manusia tentang nilai pada realitas
kebebasan manusia (Hegel).
Ada tiga jawaban penting yang diajukan dalam persoalan status
metafisika nilai ini yaitu :
1. Subjektivisme menganggap bahwa nilai merupakan sesuatu
yang terikat pada pengalaman manusia, seperti halnya :
hedonisme, naturalisme, positivisme.
2. Objektiovisme logis menganggap bahwa nilai merupakan hakikat
atau subsistensi logis yang bebas dari keberadaannya yang
diketahui, tanpa status eksistensial atau tindakan dalam realitas.
3. Objektivisme metafisik menganggap bahwa nilai atau norma
adalah integral, objektif dan unsur-unsur aktif kenyataan
metafisik, seperti yang dianut oleh : Theisme, absolutisme,
realisme,
Bebas Nilai (Value Free)
Dewasa ini perkembangan ilmu bukan hanya sebagai alat untuk
membantu dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh
manusia, bahkan sudah berada diambang kemajuan yang
mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri.
Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi, namun
bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau
dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang
membantu manusia mencapai tuijuan hiduonya, bahkan kemungkinan
mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dapat dikatakan ilmu
bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai
tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri.
Interaksi Antara Ilmu dan Moral
Ketika Copernicus (1473-1543), menyatakan pendapatnya
bahwa : “Bumi yang berputar mengelilingi Matahari” hal tersebut
berlawanan dengan agama (Nasrani), maka timbullah interaksi antara
ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama), yang
berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam
sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain terdapat keinginan agar
ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang
terdapat dalam ajaran diluar bidang keilmuwan diantaranya agama.
Hal tersebut muncul dua pendapat
Bebas nilai, bersifat netral dan hanya berhubungan
dengan hal yang empiris (Sekuler, Positifisme,
Empirisme)
Ilmu
Tidak bebas nilai, mempunyai kepentingan dan tidak
hanya berhyubungan dengan hal yang empiris saja
tetapi juga berhubungan dengan hal-hal yang
metafisik (idealisme, Theistic dll).

3
Konflik Ilmu dan Agama
Konflik ini berawal dengan dominasi gereja dan sifat pemaksaan
dogma-dogmanya ke dalam aturan-aturan ilmu, sehingga para
ilmuwan bereaksi untuk memposisikan ilmu terbebas dari nilai-nilai di
luar bidang keilmuwan dan ajaran-ajaran diluar keilmuwan yang ingin
menjadikan nilai-nilainya sebagai penafsiran metafisik keilmuwan.
Pergulatan ini terus-menerus selama 250 tahun dan mencapai titik
kulminasi dengan lahirnya Renaissance, Aufklarung dan
Enlightenment, dan akhirnya para ilmuwan Eropa memenangkan
pertarungannya dengan lahirnya sekulerisasi dan berkibarnya filsafat
Positivisme.

Otononomi Ilmu
Setelah Ilmu terbebas dari dogmatik agama, maka
pengembangan konsepsional yang bersifat kontemplatif kemudian
disusul dengan penerapan konsep-konsep ilmiah kepada masalah-
masalah praktis.
Konsep ilmiah yang bersifat abstrak menjelma dalam bentuk
konkret yang berupa Teknologi. Teknologi disini diartikan sebagai
penerapan konsep ilmiah dalam memecahkan masalah-masalah
praktis baik yang berupa perangkat keras (hardware) dan perangkat
lunak (soft ware).
Ilmu mengembangkan teknologi untuk memecahkan
masalah.
Contoh : hutan gundul dan mengakibatkan banjir.

Menurut Bertrand Russell :


Dari “Kontemplasi ke Manipulasi”.
Dalam tahap manipulasi inilah maka masalah moral muncul kembali,
namum dalam kaitan dengan faktor lain.
Kalau dalam tahap kontemplasi masalah moral berkaitan dengan
metafisika keilmuwan, maka dalam tahap manipulasi ini masalah
moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah.

Secara Filosofis
Dalam tahap pengembangan konsep terdapat masalah moral
yang ditinjau dari segi ontologi keilmuwan. Dalam tahap penerapan
konsep terdapat masalah moral ditinjau dari segi aksiologi keilmuwan.

 Ontologi diartikan sebagai pengkajian mengenai hakikat


realitas dari objek yang ditelaah dalam membuahkan
pengetahuan.
 Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan
dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh
 Epistemologi membahas cara untuk mendapatkan
pengetahuan yang dalam kegiatan keilmuwan disebut
Metode Ilmiah.
Secara konseptual maka hal ini berarti bahwa suatu
masyarakat harus menetapkan strategi pengembangan teknologinya
agar sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dijunjungnya.

Dalam melakukan penafsiran ada 3 komponen secara integral


harus dimanfaatkan :
Fakta (data objektif).
Ini menampakkan diri pada gejala-gejala yang berlalu lalang
dihadapan kita, tampil sebagai realitas indrawi dalam kesadaran kita,
untuk selanjutnya ke semua itu ditatanya dalam kategori-kategori
apriori sebagai landasan berpijak agar hasil penafsiran bukan sesuatu
yang tanpa dasar.
Teori.
Teori merupakan perangkat/rangkaian konsep yang langsung

5
atau tidak, bersumber ke arah data objektif dengan teori sebagai dasar
dan kerangka dalam memahami data objektif. Kita akan mendapatkan
hubungan causa antara satu dengan yang lain dan lebih jauh kita akan
dapat merekayasa data objektif, secara artifisial.
Value (nilai)
Nilai adalah suatu preskretif (normative/ yang seharusnya) untuk
kita jadikan tolak ukur agar suatu kesimpulan tidak saja menunjukkan
arti maknanya dengan melihat komponen secara utuh (integral), maka
suatu hasil penafsiran di satu pihak akan menunjukkan sesuatu yang
maknawi, di lain pihak sesuatu penafsiran itu akan terhindari dari
subjektifikasi, sebab apabila dengan data objektif, tanpa teori dan nilai,
maka proses penafsiran itu akan terjerumus ke dalam kekaburan,
tanpa mengalami kaitan, sebab dan ke arah mana. Penafsiran itu
hanya data objektif dan teori saja, tanpa value, maka penafsiran akan
hanya empirisme dan berhenti pada dataran teoritis saja, kehilangan
idealisme dan kehilangan gairah serta prespektif ke depan.
Teori dan nilai saja, tanpa dukungan data objektif, penafsiran
akan didorong pada konsumsi penafsiran yang rasionalistik, empiristik,
steril dan kehilangan nilai realistiknya.
Data objektif dan nilai saja tanpa dukungan teori, maka
penafsiran akan didorong pada kritisisme atau rasionalisme dan
hasilnya tidak dapat dipertanggungjawabkan nilai ilmiahnya.