Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Etika diperlukan dalampergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan
hidup tingkat internasional. Etika merupakan suatu sistem yang mengatur bagaimana
seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling
menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain.
Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang
terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya
serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang
berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari
tumbuh kembangnya etika di masyarakat.
Derasnya arus globalisasi yang semakin mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat
dunia, juga mempengaruhi munculnya masalah/penyimpangan etik sebagai akibat kemajuan
teknologi/ilmu pengetahuan yang menimbulkan konflik terhadap nilai. Arus kesejahteraan ini
tidak dapat dibendung, pasti akan mempengaruhi pelayanan kebidanan. Dalam hal ini bidang
yang praktek mandiri menjadi pekerja yang bebas Mengontrol dirinya sendiri. Situasi ini
akan besar sekali pengaruhnya terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan etik.
Istilah etik yang kita gunakan sehari-hari pada hakikatnya berkaitan dengan falsafah
moral yaitu menganai apa yang dianggap baik atau buruk di masyarakat dalam kurun waktu
tertentu, sesuai dengan perubahan atau perkembangan norma atau niali. Dikatakan kurun
waktu tertentu karena etik dan moral bisa berubah dengan lewatnya waktu.
Bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan pemberi pelayanan kepada masyarakat
harus memberikan pelayanan yang terbaik demi mendukung program pemerintah untuk
pembangunan dalam negeri, salah satunya dalam aspek kesehatan. 1.UU No. 23 Tahun 1992
Tentang Kesehatan

B. Rumusan Masalah
1. Apa tugas bidan berdasar etik dan kode etik profesinya?
2. Bagaimana teori pengambilan keputusan dalam menghadapi dilema etika dan moral
3.
4.
5.
6.

pelayanan kebidanan?
Apa saja Isu Etik yang terjadi dalam pelayanan kebidanan?
Apa aspek legal pelayanan kebidanan?
Apa itu etika moral dan nilai dalam praktik kebidanan?
Apa masalah yang berkaitan dengan etikolegal pelayanan kebidanan?

C. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui, mengerti dan menjelaskan tugas bidan berdasar etik
dan kode etik profesi.
2. Mengetahui teori pengambilan keputusan dalam menghadapi dilema etika dan moral
3.
4.
5.
6.

pelayanan kebidanan.
Mengetahui apa saja isu etik yang terjadi dalam pelayanan kebidanan
Mengetahui apa aspek legal pelayanan kebidanan?
Mengetahui apa itu etika moral dan nilai dalam praktik kebidanan?
Mengetahui masalah yang berkaitan dengan etikolegal pelayanan kebidanan?

BAB II
PEMBAHASAN

A. TUGAS BIDAN BERDASARKAN ETIK DAN KODE ETIK PROFESI


Dalam menjalankan praktiknya, ada 3 pengelompokan tugas bidan yang
dilakukan berdasar pada etik dan kode etik profesi, yaitu :
1.

Tugas Mandiri
a) Menerapkan Manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang di
berikan.
b) Memberikan pelayanan dasar pada anak remaja & wanita pra nikah dengan
melibatkan klien.
c) Memberikan asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal.
d) Memberikan asuhan kebidanan keoada klien dalam masa persalinan dengan
melibatkan klien dan kelurga.
e) Memberikan asuhan kebidanan pada BBL
f) Memberikan asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan melibatkan
klien dan keluarga.
g) Memberikan asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang membutuhkan
pelayanan kluarga berencana.
h) Memberikan asuhan kebidanan pada wanita gangguan sistem reproduksi dan
wanita dalam masa klimakternium dan menopause.
i) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi dan balita dengan melibatkan keluarga.

2.

Tugas Kolaborasi
a) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesua fungsi
kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.
b) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan resiko tinggi & pertolongan
pertama pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
c) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan resiko tinggi &
keadaan kegawatan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan
kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.
d) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan resiko tinggi &
pertolongan pertama dalam keadaan kegawatan yang memerlukan pertolongan
pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.
e) Memberikan asuhan kebidanan pada BBL dengan resiko tinggi yang mengalami
komplikasi serta kegawatan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan
kolaborasi dengan melibatkan keluarga.
f) Memberikan askeb pada balita dengan resiko tinggi yang mengalami komplikasi
serta kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan melibatkan keluarga.
3

3.

Tugas Rujukan
a) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi
keterlibatan klien dan keluarga.
b) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi & rujukan pada ibu hamil dengan
resiko tinggi & kegawatdaruratan.
c) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi & rujukan pada masa persalinan
dengan penyulit tertentu dengan melibatkan klien dan keluarga.
d) Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi & rujukan pada ibu dalam masa
nifas dengan resiko tinggi & kegawat daruratan
e) Memberikan asuhan kebidanan pada BBL dengan kelaiana tertentu kegawatan yang
memerlukan konsultasi & rujukan dengan melibatkan keluarga.
f) Memberikan asuhan kebidanan pada anak balita dengan kelaiana tertentu &
kegawatan yang memerlukan konsultasi & rujukan dengan melibatkan keluarga.

B.

TEORI

YANG

MENDASARI

PENGAMBILAN

KEPUTUSAN

DALAM

MENGHADAPI DILEMA ETIK DALAM PELAYANAN KEBIDANAN


Proses pengambilan keputusan merupakan bagian dasar dan integral dalam
praktik suatu profesi dan keberadaanya sangat penting karena akan menentukan tindakan
selanjutnya. Menurut George R.Terry, pengambilan keputusan adalah memilih alternatif
yang ada. Ada 5 (lima) hal pokok dalam pengambilan keputusan:
1. Intuisi berdasarkan perasaan, lebih subyektif dan mudah terpengaruh.
2. Pengalaman mewarnai pengetahuan praktis, seringnya terpapar suatu kasus.
3.
4.
5.
6.

Sehingga, meningkatkan kemampuan mengambil keputusan terhadap suatu kasus.


Fakta, keputusan lebih riel, valit dan baik.
Wewenang lebih bersifat rutinitas.
Rasional, keputusan bersifat obyektif, trasparan, konsisten.
Keterlibatan Bidan Dalam Proses Pengambilan Keputusan

C. ISU ETIK DALAM PELAYANAN KEBIDANAN


a. Issue etik yang terjadi antara bidan dengan klien, keluarga, masyarakat
1) Pengertian
Issue etik yang terjadi antara bidan dengan klien, keluarga dan masyarakat
mempunyai hubungan erat dengan nilai manusia dalam menghargai suatu tindakan.
Seorang bidan dikatakan profesional bila ia mempunyai kekhususan sesuai dengan
peran dan fungsinya yang bertanggung jawab menolong persalinan.
2) Kasus

Di sebuah desa, ada seorang bidan yang sudah membuka praktek kurang
lebih selama satu tahun. Pada suatu hari datang seorang klien bernama Ny A usia
kehamilan 38 minggu dengan keluhan perutnya terasa kenceng kenceng dan terasa
sakit sejak 5 jam yang lalu. Setelah dilakukan VT, didapatkan hasil pembukaan 3
dan ternyata janin dalam keadaan letak sungsang. Oleh karena itu bidan
menyarankan agar di Rujuk ke Rumah Sakit untuk melahirkan secara operasi SC.
Namun keluarga klien terutama suami menolak untuk di Rujuk dengan alasan tidak
punya biaya untuk membayar operasi. Tapi bidan tersebut berusaha untuk memberi
penjelasan bahwa tujuan di Rujuk demi keselamatan janin dan juga ibunya namun
jika tetap tidak mau dirujuk akan sangat membahayakan janin maupun ibunya. Tapi
keluarga bersikeras agar bidan mau menolong persalinan tersebut. Sebenarnya,
dalam hal ini bidan tidak yakin bisa berhasil menolong persalinan dengan keadaan
letak sungsang seperti ini karena pengalaman bidan dalam hal ini masih belum
begitu mendalam. Selain itu juga dengan di Rujuk agar persalinan berjalan dengan
lancar dan bukan kewenangan bidan untuk menolong persalinan dalam keadaan
letak sungsang seperti ini. Karena keluarga tetap memaksa, akhirnya bidan pun
menuruti kemauan klien serta keluarga untuk menolong persalinan tersebut.
Persalinan berjalan sangat lama karena kepala janin tidak bisa keluar. Setelah bayi
lahir ternyata bayi sudah meninggal. Dalam hal ini keluarga menyalahkan bidan
bahwa bidan tidak bisa bekerja secara profesional dan dalam masyarakatpun juga
tersebar bahwa bidan tersebut dalam melakukan tindakan sangat lambat dan tidak
sesuai prosedur.
b. Issue Etik yang Terjadi antara Bidan dengan Teman Sejawat
1) Pengertian
Etika adalah kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, nilai
benar dan salah yang dianut suatu organisasi atau masyarakat. Konflik Moral
adalah suatu proses ketika 2 pihak atau lebih berusaha memaksakan tujuannya
dengan cara mengusahakan untuk menggagalkan tujuan yang ingin dicapai pihak
lain. (Setiawan. 1994). Dilema Moral adalah situasi yang menghadapkan individu
pada dua pilihan, dan tidak satupun dari pilihan itu dianggap sebagai jalan keluar
yang tepat. Issue Etik adalah topic yang cukup penting untuk dibicarakan sehingga
mayoritas individu akan mengeluarkan opini terhadap masalah tersebut sesuai

dengan asas ataupun nilai yang berkenaan dengan akhlak, niali benar salah yang
dianut suatu golongan atau masyarakat.
2) Contoh Issue Etik yang terjadi antara Bidan dengan Teman Sejawat
Di suatu desa yang tidak jauh dari kota dimana di desa tersebut ada dua
orang bidan yaitu bidan A dan bidan B yang sama sama memiliki BPS dan
ada persaingan di antara dua bidan tersebut.
Pada suatu hari datang seorang pasien yang akan melahirkan di BPS bidan
B yang lokasinya tidak jauh dengan BPS bidan A. Setelah dilakukan
pemeriksaan ternyata pembukaan masih belum lengkap dan bidan B menemukan
letak sungsang dan bidan tersebut tetap akan menolong persalinan tersebut meskipun
mengetahui bahwa hal tersebut melanggar wewenang sebagai seorang bidan demi
mendapatkan banyak pasien untuk bersaing dengan bidan A.
Sedangkan bidan A mengetahui hal tersebut. Jika bidan B tetap akan
menolong persalinan tersebut,bidan A akan melaporkan bidan B untuk
menjatuhkan bidan B karena di anggap melanggar wewenang profesi bidan.

3) Issu Etik Bidan dengan Team Kesehatan Lainnya


a) Pengertian
Yaitu perbedaan sikap etika yang terjadi pada bidan dengan tenaga medis
lainnya. Sehingga menimbulkanketidak sepahaman atau kerenggangan social.
b)

Kasus
Disuatu desa yang ada sebuah BPS, suatu hari ada seorang Ibu berusia 35
Tahun keadaannya sudah lemah. bidan menanyakan kepada keluarga pasien apa
yang terjadi pada pasien. Dan suami pasien menjawab ketika dirumah Px jatuh &
terjad iperdarahan hebat. Setelah itu bidan memberikan pertolongan ,
memberikan infuse dst. Bidan menjelaskan pada keluarga, agar istrinya di
bawa ke rumah sakit untuk dilakukan curretase.Kemudian keluarga px menolak
saran bidan tsb, dan meminta bidan yang melakukan currentase. selang waktu 2
6

hari px mengalami perdarahan lagi kemudian keluarga merujuk ke RS.Dokter


menanyakan kapeda suami px, apa yang sebenarnya terjadi dan suami px
menjelaskan bahwa 3 hari yang lalu istrinya mengalami keguguran & di
currentase bidan didesany. dokter mendatangi bidan terebut. Maka Terjadilah
konflik antara bidan & dokter.
D. DASAR HUKUM DAN ASPEK LEGAL DALAM PELAYANAN KEBIDANAN
1. Legislasi
a) Pengertian
Legislasi adalah proses pembuatan undang-undang atau penyempurnaan
perangkat hukum yang sudah ada melalui serangkaian kegiatan sertifikasi
( pengaturan kompetensi ), registrasi ( pengaturan kewenangan ), dan lisensi
( pengaturan penyelenggaraan kewenangan ).
Ketetapan hukum yang mengantur hak dan kewajiban seseorang yang berhubungan
erat dengan tindakan dan pengabdiannya. (IBI)
Rencana yang sedang dijalankan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sekarang adalah
dengan mengadakan uji kompetensi terhadap para bidan, minimal sekarang para bidan
yang membuka praktek atau memberikan pelayanan kebidanan harus memiliki ijasah
setara D3.
b) Tujuan Legislasi
Tujuan legislasi adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap
pelayanan yang telah diberikan. Bentuk perlindungan tersebut adalah meliputi :
1)
2)
3)
4)

Mempertahankan kualitas pelayanan


Memberi kewenangan
Menjamin perlindungan hukum
Meningkatkan profisionalisme

SIB adalah bukti Legislasi yang dikeluarkan oleh DEPKES yang menyatakan
bahwa bidan berhak menjalankan pekerjaan kebidanan .
2. Registrasi
a) Pengertian
Registrasi adalah sebuah proses dimana seorang tenaga profesi harus
mendaftarkan dirinya pada suatu badan tertentu secara periodic guna mendapatkan

kewenangan dan hak untuk melakukan tindakan profesionalnya setelah memenuhi


syarat-syarat tertentu yang ditetapkan oleh badan tesebut.
Registrasi adalah proses pendaftaran, pendokumentasian dan pengakuan
terhaap bidan, setelah dinyatakan memenuhi minimal kopetensi inti atau standar
penampilan minimal yang ditetapkan, sehingga secara fisik dan mental mampu
melaksanakan praktik profesinya. (Registrasi menurut keputusan menteri kesehatan
republik indonesia nomor 900/MENKES/SK/VII/2002)
Dengan teregistrasinya seorang tenaga profesi, maka akan mendapatkan
haknya untuk ijin praktik ( lisensi ) setelah memenuhi beberapa persyaratan
administrasi untuk lisensi.
b) Tujuan Registrasi
1) Meningkatkan keemampuan tenaga profesi dalam mengadopsi kemajuan ilmu
pengetahuan dan tehnologi yang berkembang pesat.
2) Meningkatkan mekanisme yang obyektif dan komprehensif dalam penyelesaian
kasus mal praktik.
3) Mendata jumlah dan kategori melakukan praktik
Aplikasi proses regisrtasi dalam praktek kebidanan adalah sebagai berikut,
bidan yang baru lulus mengajukan permohonan dan mengirimkan kelengkapan
registrasi kepada kepala Dinas Kesehatan Propinsi dimana institusi pendidikan berada
guna memperoleh SIB ( surat ijin bidan ) selambat-lambatnya satu bulan setelah
menerima

Ijasah

bidan.

Kelengkapan

registrasi

menurut

Kepmenkes

No.

900/Menkes/SK/VII/2002 adalah meliputi: fotokopi ijasah bidan, fotokopi transkrip


nilai akademik, surat keterangan sehat dari dokter, pas foto sebanyak 2 lembar.
SIB berlaku selama 5 tahun dan dapat diperbaharui, serta merupakan dasar
untuk penerbitan lisensi praktik kebidanan atau SIPB ( surat ijin praktik bidan ). SIB
tidak berlaku lagi karena: dicabut atas dasas ketentuan perundang-undangan yang
berlaku, habis masa berlakunya dan tidak mendaftar ulang, dan atas permintaan
sendiri.
c) Syarat Registrasi
Pada saat akan mengajukan registrasi, maka akan diminta untuk melengkapi dan
membawa beberapa syarat, antara lain :
1) Fotokopi ijasah bidan
2) Fotokopi Transkrip nilai akademik
8

3) Surat keterangan sehat dari dokter


4) Pas foto ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar.
3. Otonomi dalam Praktek Kebidanan
Akuntabilitas bidan dalam praktik kebidanan merupakan suatu hal yang penting
dan di tuntut dari suatu profesi, terutama profesi yang berhubungan dengan
keselamatan jiwa manusia, adalah pertanggungjawaban dan tanggung guguat
(accountability) atas semua tindakan yang dilakukanya. Sehingga semua tindakan yang
dilakukan oleh bidan harus berbasis kopetensi dan didasari suatu evidence based.
Accountability diperkuat dengan suatu landasan hukum yang mengatur batas-batas
wewenang profesi yang bersangkutan.
Dengan adanya legitimasi kewenangan bidan yang lebih luas, bidan memiliki
hak otonomi dan mandiri untuk bertindak secara profesional yang dilandasi
kemampuan berfikir logis dan sistematis serta bertindak sesuai standar profesi dan etika
profesi.

Praktik kebidanan merupakan inti dari berbagai kegiatan bidan dalam


penyelenggaraan upaya kesehatan yang harus terus menerus ditingkatkan mutunya
melalui:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Pendidikan dan pelatihan secara berkelanjutan


Pengembangan ilmu dan tekhnologi dalam kebidanan
Akreditasi
Sertifikasi
Registrasi
Uji kompetensi
Lisensi

Beberapa dasar dalam otonomi pelayanan kebidanan antara lain sebagai berikut:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Kepmenkes 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktik bidan


Standar praktik kebidan
UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
PP No. 32/Tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
Kepmenkes 1277/Menkes/SK/XI/2001 tentang organisasi dan tata kerja Depkes
UU No. 22/1999 tentang Otonomi daerah
UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan
UU tentang aborsi, adopsi, bayi tabung, dan transplantasi

E. KONSEP ETIKA MORAL DAN KODE ETIK PROFESI KEBIDANAN

Etika adalah penerapan dari proses dan teori filsafah dary moral pada situasi
nyata. Etika erpusat pada prinsip dasar dan konsep bahwa manusia dalam berpikir dan
tindakannya didasari nilai-nilai. Etika dibagi menjadi tiga bagian , meliputi :
1. Metaetika
Metaetika adalah ucapan-ucapan kita dibidang moralitas atau bahasa ang
diucapkan dibidang moral. Metetika mengenai status moral ucapan dan bahasa yang
digunakan dalam batasan baik, buruk atau bahagia.
2. Etika atau teori moral
Etika atau teori etika untuk memformulasikan proedur atau mekanisme untuk
memecahkan masalah etika.
3.

Etika praktik
Etika praktik merupakan penerapan etika dalam praktik sehari-hari, dimana
dalam situasi praktek ketika kecelakaan terjadi keputusan harus segera dibuat.
Bagaimana menjaga prinsip moral, teori etika , dan penentuan suatu tindakan.
Etika pada hakekatnya berkaitan dengan etika dan moral, yaitu mengenai apa
yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk di masyarakat dalam kurung waktu
tertentu. Etika khusus adalah etika yang dikhususkan bagi profesi tertentu, misalnya
etika kedokteran, etika rumah sakit, etika keperawatan dll.
Guna etika adalah memberi arahan bagi perilaku manusia tentang : apa yang
diamggap baik atau buruk, apa yang benar atau salah, hak dan kewajiban moral
(akhlak) apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan.

4.

Kode Etik Bidan


Kode etik adalah norma-norma yang harus dipatuhi oleh setiap profesi dalam
melaksanakan tugas-tugas profesinya dan di masyarakat. Norma-norma tersebut berisi
petunjuk bagi anggota profesi tentang bagaimana mereka harus menjalankan
profesinya, dan larangan-larangan, termasuk ketentuan-ketentuan apa yang boleh dan
tidak boleh diperbuat atau dilaksanakan oleh anggota profesi., tidak hanya
menjalankan tugas profesinya melainkan juga mengenai tingkah laku secara umum
dalam pergaulan sehari-hari di masyarakat. Kode etik merupakan suatu ciri prifesi
yang bersumber dari nilai-nilai interna dan eksterna suatu disiplin ilmu dan
10

pengetahuan yang menyeluruh dalam suatu profesi yang menuntut anggotanya dalam
melaksanakan pengabdian profesi.
Profesi adalah sekumpulan orang yang memiliki cita-cita dan nilai bersama
yang disatukan oleh latar belakang pendidikan dan keahlian yang sama untuk menjadi
suatu kelompok yang mempunyai kekuasaan tersendiri karena memiliki tujuan yang
khusus. Dalam suatu profesi terdapat kode etik digunakan untuk memperkuat
kepercayaan msyarakat terhadap profesi, agar klien terjamin kepentinganya dan
sebagai pembentuk mutu moral profesi dimasyarakat. Kode etik harus selalu
mengikuti perkembangan sesuai dengan perubahan lingkungan, ilmu pengetahuan dan
teknologi serta kemajuan dalam profesi itu sendiri, sehingga sewaktu-waktu kode etik
perlu untuk dinilai dan direvisi kembali oleh profesi.
Secara umum tujuan merumuskan kode etik adalah untuk kepentingan anggota
dan organisai meliputi :
a)
b)
c)
d)

Menjunjung tinggi martabat dan citra profesi.


Menjaga dan memelihara kesejahteraan anggota.
Meningkatkan pengabdian para anggota profesi
Meningkatkan mutu profesi.

Dimensi etik meliputi :


1)
2)
3)
4)

Anggota profesi dan klien


Anggota profesi dan sistem
Anggota profesi dan profesi lain
Semua anggota profesi

Prinsip kode etik terdiri dari :


1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Menghargai otonomi
Melakukan tindakan yang benar
Mencegah tindakan yang merugikan
Memperlakukan manusia secara adil
Menjelaskan dengan benar
Menepati janji yang telah disepakati
Menjaga kerahasiaan
Agar kode etik dapat berfungsi dengan baik, dalam pelaksanaannya sebaiknya

diawasi dan dikontrol. Dalam kode etik pada umumnya mengandung sanksi-sangsi
yang dikenakan pelanggar kode. Kasus pelanggaran akan dinilai oleh suatu dewan

11

kehormatan profesi atau komeita etik. Maka dalam profesi bidan dibentuk Majelis
Pertimbangan Etika Bidan ( MPEB)
F. MASALAH YANG

BERKAITAN

DENGAN

ETIKOLEGAL PELAYANAN

KEBIDANAN
1. Seorang ibu hamil berdasarkan hasil pemeriksaan USG hamil kembar, tetapi ibu tidak
menerima bahwa dirinya hamil kembar.
2. Seorang ibu hamil yang tidak bisa mengambil keputusan apakah harus bersalin
ditolong bidan atau dukun, kerena mertuanya menyarankan bersalin supaya ditolong
dukun.
3. Seorang ibu hamil yang mengalami anemia berat / pre-eklamsi, ibu memandang hal
itu sebagai bawaan bayi dan tidak membahayakan kehamilannya sehingga tidak perlu
penanganan yang khusus.
4. Ibu hamil menolak kehamilannya kerena hamil akibat kegagalan penggunaan alat
kontrasepsi.
5. Ibu hamil ingin mengugurkan kehamilannya karena suaminya belum siap dengan
penghasilan untuk membiayai perawatan kehamilan dan persalinannya.
6. Ibu hamil di luar nikah yang tidak disetujui.

12

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Materi ini sangat penting bagi mahasiswa bidan untuk mengetahui tentang apa itu

etika, apa itu moral dan bagaimana menerapkannya dalam praktik kebidanan sehingga
seorang bidan akan terlidung dari kegiatan pelanggaran etik ataupun pelanggaran moral yang
sedang berkembang dihadapan public dan erat kaitannya dengan pelayanan kebidanan
sehingga seorang bidan sebagai provider kesehatan harus kempeten dalam menyikapi dan
mengambil keputusan yang tepat untuk bahan tindakan selanjutnya sesuai standar asuhan dan
kewenangan bidan

B.

Saran
Dalam Makalah ini terdapat penjelasan tentang Issue Etik yang terjadi dalam

Pelayanan Kebidanan (Issue Moral) berharap agar mahasiswi dapat mengetahui Issue etik
yang terjadi dalam pelayanan kebidanan khususnya Issue Moral sesuai dengan pembahasan
yang ada dalam makalah ini.

13

DAFTAR PUSTAKA

http://francescomiswary.blogspot.com/2015/07/makalah-aspek-legal-dalam-pelayanan.html
http://amalniam.blogspot.com/2016/03/bab-i-pendahuluan-a.html
http://makalahkesehatanraze.blogspot.com/2016/01/makalah-etika-profesi-kebidanan.html
https://wijayanti82.wordpress.com/2014/06/17/konsep-etika-moral-dalam-pelayanankebidanan-2/
http://kumpulan-segalamacam.blogspot.com/2008/07/pengertian-etika-dan-moraldalam.html

14