Anda di halaman 1dari 28

Hubungan Bimbingan dan Konseling dan Kedudukan

Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan


Arif Ridiawan 9:05 PM

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur hanya bagi Allah Swt, Rabb semesta alam. Tidak ada daya dan
upaya selain dari Nya. Semoga kita selalu dilimpahkan rahmat dan karunia Nya dalam
mengarungi kehidupan ini.
Salawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw. Beserta
keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikutinya sampai akhir zaman di manapun
mereka berada.
Alhamdulillah dengan izin dan kehendak dari-Nyalah, sehingga makalah ini dapat
kami selesaikan. Makalah ini kami beri judul Hubungan Bimbingan dan
Konseling dan Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam
Pendidikan. Dalam makalah dijelaskan tentang Pengertian Bimbingan dan Konseling,
Hubungan Bimbingan dan Konseling, Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam
Pendidikan.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah
memberikan gambaran tentang materi yang harus selesaikan dan juga semua pihak yang turut
membantu menyelesaikan makalah ini.
Terakhir, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk lebih
menyempurnakan makalah ini, agar makalah ini lebih sempurna pada masa yang akan datang.

Jambi,

Mei 2013

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah


Setiap insan yang lahir ke dunia memerlukan pengembangan untuk menjadikan
manusia seutuhnya sebagaimana dikehendaki. Pengembangan tersebut pada dasarnya adalah
upaya memuliakan kemanusiaan yang telah terlahir itu.
Upaya pengembangan manusia tidak lain adalah untuk mengembangkan segenap
potensi yang ada pada diri manusia secara individu dalam segenap dimensi kemanusiaanya,
agar ia menjadi manusia yang seimbang antara kehidupan individual dan sosialnya,
kehidupan jasmaniah dan rohaniyah serta kehidupan dunia dan akhirat.

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka dapat dirancang rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian Bimbingan dan Konseling?
2. Apa hubungan Bimbingan dan Konseling?
3. Bagaimana kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan?
4. Bagaimana hubungan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan?

C.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Menjelaskan pengertian Bimbingan dan Konseling.

2. Menguraikan hubungan Bimbingan dan Konseling.


3. Menjelaskan keududukan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan.
4. Menjelaskan hubungan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan.

D.

Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pokok permasalahan, maka penulis menyusun makalah ini
dengan sistematika sebagai berikut:
BAB

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

B.

Rumusan Masalah

C.

Tujuan Penulisan

D.

Sistematika Penulisan
BAB

II

PEMBAHASAN

A.

Pengertian Bimbingan dan Konseling

B.

Hubungan Bimbingan dan Konseling

C.

Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan

D.

Hubungan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan


BAB

III

A.

Kesimpulan

B.

Saran

PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian Bimbingan dan Konseling


Pengertian bimbingan menurut Frank Parson (1951: 23) menjelaskan bahwa yang
dimaksud dengan bimbingan yaitu bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat
memilih, mempersiapkan diri, dan memangku jabatan serta mendapat kemajuan dalam
jabatan yang dipilihnya.
Dunsmoor and Miller (1969: 71) menjelaskan bahwa bimbingan yaitu suatu bentuk
bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk memperoleh penyesuaian yang
baik terhadap sekolah dan terhadap kehidupan.
Prayitno (1978: 21) membagi kepada beberapa kriteria, antara lain:
1. Bimbingan adalah usaha pemberian bantuan
2. Bimbingan diberikan kepada orang-orang dari berbagai usia
3. Bimbingan diberikan oleh tenaga ahli
4. Bimbingan bertujuan untuk perbaikan kehidupan orang yang dibimbing, yaitu untuk:
a.

Mengatur kehidupan sendiri

b. Mengembangkan atau memperluas pandangan


c.

Menetapkan pilihan

d. Mengambil keputusan
e.
f.

Memikul beban kehidupan


Menyesuaikan diri

g. Mengembangkan kemampuan
5. Bimbingan diselenggarakan berdasarkan prinsip demokrasi
6. Bimbingan merupakan bagian pendidikan secara keseluruhan
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa yang
dimaksud dengan bimbingan merupakan proses layanan yang diberikan kepada individu guna
membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam
membuat pilihan, rencana, dan interpretasi yang diperlukan untuk penyesuaian diri yang baik.
Dengan kata lain, bimbingan merupakan segala kegiatan yang bertujuan meningkatkan
realisasi pribadi setiap individu.
Berikut ini akan dijelaskan pengertian konseling. Prayitno (1982) mengemukakan
bahwa konseling mempunyai pengertian pertemuan empat mata antara klien dan penyuluh
yang berisi usaha laras, unik dan hubungan yang di lakukan dalam suasana keahlian dan
didasarkan norma-norma yang berlaku.
Kemudian Shertzer dan Stone (1974: 54) mengemukakan bahwa konseling adalah
proses di mana konselor membantu klien membuat interpretasi tentang fakta yang
berhubungan dengan pilihan, rencana atau penyesuaian yang perlu dibuatnya.
Berdasarkan pengertian dari para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa konseling
merupakan hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang, dimana
konselor melalui kemampuan khususnya menyediakan situasi belajar, dan bibantu untuk
memahami diri sendiri, keadaan sekarang, kemungkinan masa depan yang dapat ia ciptakan
melalui potensi yang dimilikinya demi kesejahteraan pribadi, masyarakat, serta dapat belajar
memecahkan masalah dan menemukan kebutuhan mendatang.

B.

Hubungan Bimbingan dan Konseling


Dalam mencapai semua pengembangan potensi yang ada pada manusia tidak terlepas
dari upaya layangan bimbingan dan konseling, karena bimbingan merupakan bantuan yang
diberikan kepada klien, dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan
merencanakan masa depan, dalam arti kata mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Ponpon Harahap (1981) mengatakan bahwa konseling itu merupakan alat yang paling
penting dalam keseluruhan program bimbingan. Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa
hubungan antara bimbingan dengan konseling itu sangat erat sekali. Dari satu segi dapat kita
lihat bahwa kedua istilah tersebut mempunyai arti yang sama yaitu proses pemberian bantuan

terhadap seseorang atau kelompok orang, dan dari segi lain konseling merupakan alat dalam
pemberian bimbingan, di samping alat-alat yang lain. Namun demikian konseling merupakan
alat yang utama dan paling ampuh dalam keseluruhan program bimbingan atau dengan kata
lain konseling merupakan titik sentral dari keseluruhan kegiatan bimbingan.

C.

Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan


Secara formal kedudukan bimbingan dan konseling ada dalam Sistem Pendidikan di
Indonesia, antara lain :
a) UU No. 2 tahun 1989 bab I pasal 1 ayat 1 yang menyatakan bahwa :
Pendidikan adalah usaha sadar menyiapkan peserta didik melalui bimbingan dan atau
latihan bagi peranannya di masa yang akan datang
b) PP No. 28 untuk SD dan PP No. 29 untuk SMP dan SMA tahun 1990 Bab X pasal 25 ayat 1
yang menyatakan :
Bimbingan adalah bantuan peserta didik untuk memahami diri, mengenal lingkungan dan
merencanakan masa depan
Bimbingan dilaksanakan oleh guru pembimbing
c) UU No. 20 tahun 2003 bab I pasal 1 ayat 6
Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, dan
konselor, widyaiswara, pamong belajar, fasilitator dan sebutan lain sesuai dengan
kekhususannya serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan

Tiga bidang utama pendidikan dijelaskan sebagai berikut:


1. Bidang Administrasi dan Kepemimpinan
Bidang ini menyangkut kegiatan pengelolaan program secara efisien. Pada bidang ini
terletak tanggung jawab kepemimpinanan (kepala sekolah dan staf administrasi lainnya) yang
terkait dengan kegiatan perencanaan organisasi, deskripsi jabatan atau pembagian

tugas, pembiayaan, penyediaan fasilitas atau sarana prasarana (material), supervisi, dan
evaluasi program.
2. Bidang intruksional dan kurikuler
Bidang ini terkait dengan kegiatan pengajaran yang bertujuan untuk memberikan
pengetahuan, keterampilan, dan pengembangan sikap. Pihak yang bertanggung jawab secara
langsung terhadap bidang ini adalah para guru.
3. Bidang Pembinaan Siswa (Bimbingan dan Konseling)
Bidang ini terkait dengan program pemberiaan layanan bantuan kepada peserta didik
(siswa) dalam upaya mencapai perkembangannya yang optimal, melalui interaksi yang sehat
dengan lingkungannya. Personel yang paling bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
bidang ini adalah guru pembimbing atau konselor.
jelaslah bahwa bimbingan dan konseling tidak sekedar tempelan saja. Layanan
bimbingan dan konseling mempunyai posisi dan peran yang cukup penting dan strategis.
Bimbingan dan konseling berperan untuk memberikan layanan kepada siswa agar dapat
berkembang secara optimal melalui proses pembelajaran secara efektif.
Dari penjelasan di atas dan keseluruhan kegiatan pendidikan khususnya pada tatanan
persekolahan, layanan bimbingan dan konseling mempunyai posisi dan peran yang cukup
penting dan strategis. Bimbingan dan konseling berperan untuk memberikan layanan kepada
siswa agar dapat berkembang secara optimal melalui proses pembelajaran secara efektif.
Untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran, pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan pribadi agar dapat membantu keseluruhan proses belajarnya. Dalam kaitan ini
para pembimbing diharapkan untuk:
a) Mengenal dan memahami setiap siswa baik secara individual maupu kelompok,
b) Memberikan informasi-informasi yang diperlukan dalam proses belajar,
c) Memberi kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan karakter
istik pribadinya,
d) Membantu setiap siswa dalam menghadapi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya,
e) Menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukan.

Berkenaan dengan hubungan antara bimbingan dan pendidikan tersebut di atas,


Rochma Natawidjaja (1990: 16) Memberikan penjelasan sebagai berikut:
...bimbingan dan konseling memiliki fungsi dan posisi kunci dalam pendidikan di sekolah,
yaitu sebagai pendamping fungsi utama sekolah dalam bidang pengajaran dan perkembangan
intelektual siswa dalam bidang menangani ihwal sisi sosial pribadi siswa..
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa bimbingan dan konseling memiliki fungsi
memberikan bantuan kepada siswa dalam rangka memperlancar pencapaian tujuan
pendidikan, yaitu membantu meratakan jalan menuju ALLAH Swt.; berguna bagi manusia,
dan bermanfaat bagi kesejahteraan dan pembangunan bangsa, negara, dan umat manusia.

D.

Hubungan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan


1. Bimbingan dan Pendidikan
Bimbingan dengan pendidkan tidak ada perbedaan yang prinsip. Namun bimbingan
tidak identik dengan pendidikan. Kegiatan bimbingan tidak dapat di pisahkan dari kegiatan
pendidikan , secara keseluruhan. Sehingga pelaksanaan bimbingan yang baik akan menjadi
salah satu factor keberhasilan dari kegiatan pendidikan. Untuk mencapai tujuan yang
maksimal dari segala pendidikan, dituntut adanya pelayanan bimbingan di sekolah.
2. Hubungan antara Bimbingan dan Pendidikan
Ada lima pola hubungan fungsional antara bimbingan dengan pendidikan, bimbingan
identik dengan pendidikan, bimbingan sebagai pelengkap pendidikan, pola kurikuler
bimbingan dan konseling, pola layanan, urusan, kesiswaan, dan bimbingan sebagai subsistem
pendidikan pendidikan (Tohari Musnamar).
Sedang Moh. Surya mengatakan: Dalam bidang pendidikan bimbingan mendapat
tempat dan peranan yang amat penting dalam proses pendidikan secara keseluruhan.
Bimbingan dipandang sebagai salah satu komponen yang tak terpisahkan dari komponen
lainya.(Moh.Surya dalam Zainal Aqif, 2012: 31)
3. Hubungan bimbingan dan konseling dalam Pendidikan
Dalam proses pembelajaran siswa setiap guru mempunyai keinginan agar semua
siswanya dapat memperoleh hasil belajar yang baik dan memuaskan. harapan tersebut
seringkali kandas dan tidak terwujut, karena banyak siswa tidak seperti yang diharapkan.

maka sering mengalami berbagai macam kesulitan dalam belajr. untuk mengatasi masalah
kesulitan belajar maka bimbingan dan konseling dapat memberikan layanan dalam bimbingan
belajar, bimbingan sosial, dan bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.
a) Bimbingan Belajar
Bimbingan ini di maksudkan untuk mengatasi masalah-masalah yang berhubungan
dengan kegiatan belajar baik di sekolah maupun diluar sekolah. bimbingan ini antara lain
meliputi :
1. cara belajar, baik secara kelompok maupun individual
2. cara bagaimana merencanakan waktu dan kegiatan belajar
3. efesiensi dalam menggunakan buku-buku pelajaran
4. cara mengatasi kesulitan-kesuitan yang berkaitan dengan mata pelajaran tertentu
5. cara, proses dan prosedur tentang mengikuti pelajaran
b) Bimbingan Sosial
dalam proses belajar dikelas siswa juga harus mampu menyesuaikan diri dengan
kehidupan kelompok. bimbingan sosial ini dimaksudkan untuk membantu siswa dalam
memecahakan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan masalah sosial,
sehingga terciptalah suasana belajar mengajar yang kondusif.

c) Bimbingan dalam Mengatasi Masalah-Masalah Pribadi


Bimbingan dimaksudkan untuk membantu siswa dalam mengatasi masalah-masalah
pribadinya, yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya. siswa yang mempunyai masalah
dan belum dapat diatasi atau dipecahkan, akan cenderung mengganggu konsentrasinya dalam
belajar, akibat prestasi belaar yang di capai rendah.

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Bimbingan konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang
bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan
lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang
diyakininya sehingga konseling merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Hubungan antara bimbingan dengan konseling itu sangat erat sekali. Dari satu segi
dapat kita lihat bahwa kedua istilah tersebut mempunyai arti yang sama yaitu proses
pemberian bantuan terhadap seseorang atau kelompok orang, dan dari segi lain konseling
merupakan alat dalam pemberian bimbingan, di samping alat-alat yang lain.
Secara formal kedudukan bimbingan dan konseling ada dalam Sistem Pendidikan di
Indonesia, antara lain :
a) UU No. 2 tahun 1989 bab I pasal 1 ayat 1

b) PP No. 28 untuk SD dan PP No. 29 untuk SMP dan SMA tahun 1990 Bab X pasal 25 ayat 1
c) UU No. 20 tahun 2003 bab I pasal 1 ayat 6
Dalam bidang pendidikan bimbingan mendapat tempat dan peranan yang amat
penting dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Bimbingan dipandang sebagai salah
satu komponen yang tak terpisahkan dari komponen lainya
B.

Saran
Dengan kerendahan hati, penulis merasa makalah ini sangat sederhana dan jauh dari
kesempuraan. Saran kritik yang konstuktif sangat diperlukan demi kesempurnaan makalah
sehingga akan lebih bernanfaat kontibusinya bagi hazanah keilmuan. Wallahu alam.

DAFTAR PUSTAKA

Tohirin,. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta : PT


RAJAGRAFINDO PERSADA
Furqon,. 2005. Konsep Aplikasi Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar. Bandung :
Pustaka Bany Quraisy
Mamat. Supriatna,. 2001. Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi. Jakarta : PT
RAJAGRAFINDO PERSADA
Hidayat,. 2010. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Surabaya : CV. Putra Media
Nusantara

kedudukan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka kami dapat menyelesaikan sebuah
makalah dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul
Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Sistem Pendidikan, yang menurut
kami dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari
masalah yang menyangkut dengan bimbingan konseling.
Melalui kata pengantar ini kami lebih dahulu meminta maaf dan memohon
permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang
kami buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima
kasih dan semoga tuhan memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan
manfaat. Saran dan kritik dari pembaca yang bersifat menyempurnakan
makalah ini sangat dinantikan.

Bandar Lampung, 10 September 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

COVER.......................................................................................................
.... i

KATA
ii

PENGANTAR...................................................................................

DAFTAR
ISI.................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................................... 1
B.

Rumusan Masalah................................................................................. 2

C. Tujuan................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Latar belakang Bimbingan dan Konseling di sekolah......................... 3


B.

Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam system


operasional pendidikan di sekolah....................................................... 8

C.

Kedudukan Bimbingan dan Konseling secara formal


dan dalam setting pendidikan formal.................................................. 12

BAB III KESIMPILAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan aset yang tak ternilai bagi individu dan masyarakat.
Pendidikan tidak pernah dapat dideskripsikan secara gamblang hanya dengan
mencatat banyaknya jumlah siswa, personel yang terlibat, harga bangunan, dan
fasilitas yang dimiliki. Pendidikan merupakan proses yang esensial untuk
mencapai tujuan dan cita-cita pribadi individu (siswa). Pendidikan yang hanya
melaksanakan bidang administratif dan pengajaran dengan mengabaikan bidang
bimbingan mungkin hanya akan menghasilkan individu yang pintar dan terampil
dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan
dalam aspek psikososiospiritual.

Sebagai
individu,
siswa
memiliki
berbagai
potensi
yang
dapat
dikembangkan. Kenyataan yang dihadapi, tidak semua siswa menyadari potensi
yang dimiliki untuk kemudian memahami dan mengembangkannya. Disisi lain
sebagai individu yang berinterksi dengan lingkungan, siswa juga tidak dapat
lepas dari masalah.

Menyadari hal di atas siswa perlu bantuan dan bimbingan orang lain agar dapat
bertindak dengan tepat sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya. Sekolah
sebagai institusi pendidikan tidak hanya berfungsi memberikan pengetahuan
tetapi jugamengembangkan kesluruhan kepribadian anak. Sebagai profesional
guru memegang peran penting dalam membantu murid mengembangkan
seluruh aspek kepribadian dan lingkungannya.

1.2 Rumusan Masalah


a.

Bagaimana latar belakang Bimbingan dan Konseling di sekolah?

b.

Bagaimana kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam system operasional


pendidikan di sekolah?

c.

Bagaimana kedudukan Bimbingan dan Konseling secara formal dan dalam


setting pendidikan formal?
1.3 Tujuan
Setelah mempelajari topik ini diharapkan mahasiswa dapat :

a) Mengetahui latar belakang Bssimbingan dan Konseling di sekolah


b) Mengetahui kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam system operasional
pendidikan di sekolah
c) Mengetahui kedudukan Bimbingan dan Konseling secara formal dan dalam
setting pendidikan formal

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Latar Belakang Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dalam keseluruhan


sistem pendidikan khususnya di sekolah. Guru sebagai salah satu pendukung
unsur pelaksana pendidikan yang mempunyai tanggung jawab sebagai
pendukung pelaksana layanan bimbingan pendidikan di sekolah, di tuntut untuk
memiliki wawasan yang memadai terhadap konsep konsep dasar bimbingan
dan konseling di sekolah.

Sebagai
individu,
siswa
memiliki
berbagai
potensi
yang
dapat
dikembangkan. Kenyataan yang dihadapi, tidak semua siswa menyadari potensi
yang dimiliki untuk kemudian memahami dan mengembangkannya. Disisi lain
sebagai individu yang berinterksi dengan lingkungan, siswa juga tidak dapat
lepas dari masalah.

Menyadari hal di atas siswa perlu bantuan dan bimbingan orang lain agar dapat
bertindak dengan tepat sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya. Sekolah
sebagai institusi pendidikan tidak hanya berfungsi memberikan pengetahuan
tetapi jugamengembangkan kesluruhan kepribadian anak. Sebagai profesional
guru memegang peran penting dalam membantu murid mengembangkan
seluruh aspek kepribadian dan lingkungannya.

Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang bersumber pada kehidupan


manusia. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia di dalam kehidupannya selalu
menghadapi persoalan-persoalan yang silih berganti. Persoalan yang satu dapat
diatasi, persoalan yang lain muncul, demikian seterusnya. Manusia tidak sama
satu dengan yang lain, baik dalam sifat maupun kemampuannya. Ada manusia
yang sanggup mengatasi persoalan tanpa bantuan pihak lain, tetapi tidak sedikit
manusia yang tidak mampu mengatasi persoalan bila tidak dibantu orang lain.
Khususnya bagi yang terakhir inilah bimbingan dan konseling sangat diperlukan.

Manusia perlu mengenal dirinya sendiri dengan sebaik-baiknya. Dengan


mengenal dirinya sendiri, mereka akan dapat bertindak dengan tepat sesuai

dengan kemampuan yang ada pada pada dirinya. Walaupun


semua manusia mampu mengenal segala kemampuan
memerlukan bantuan orang lain agar dapat mengenal diri
dengan segala kemampuan yang dimilikinya dan bantuan
diberikan oleh bimbingan dan konseling.

demikian, tidak
dirinya. Mereka
sendiri, lengkap
tersebut dapat

Pada kenyataannya, bimbingan dan konseling juga diperlukan, baik oleh


masyarakat yang belum maju maupun masyarakat yang modern. Persoalanpersoalan yang timbul dalam masyarakat modern sangat kompleks. Makin maju
suatu masyarakat maka akan semakin kompleks persoalan-persoalan yang
dihadapi oleh anggota masyarakatnya.

Traxler mengidentifikasi adanya 5 faktor yang melahirkan bimbingan di sekolah


yaitu sebagai berikut:

1). Philanthropy dan Humanisme


Kedua aliran ini mempunyai keyakinan bahwa masyarakat yang miskin dapat
dikembangkan melalui bimbingan pekerjaan, agar pengangguran dapat
dihapuskan. Mereka berpandangan bahwa sekolah adalah tempat yang baik
untuk memberikan bimbingan pekerjaan dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.Dari bimbingan pekerjaan berkembanglah bimbingan
pendidikan dan bimbingan sosial pribadi di sekolah.Sampai sekarang bimbingan
pekerjaan mengarah pada menjadikan sekolah sebagai pusat pengembangan
tenaga kerja.

2). Gerakan Agama


Kaum beragama beranggapan bahwa didunia ini terdapat pertentangan yang
tetap antara kekuatan golongan yang baik dan kekuatan golongan yang jahat.
Karena itu sekolah harus mempersiapakan kaum muda untuk menghadapi
kekuatan yang jahat ini melalui pembinaan kehidupan moral mereka.Alasan
inilah yang mendorong adanya bimbingan disekolah, khususnya bimbingan yang
berkaitan dengan kehidupan moral.

3). Mental Hygiene

Tahun 1909 di Amerika serikat lahir Komite Nasional Kesehatan Mental. Gerakan
ini memusatkan perhatiannya pada penelitian , terapi, dan rehabilitasi terhadap
para anggota masyarakat yang menderita gangguan mental yang serius.
Mengingat banyak gangguan jiwa dapat diterapi dengan baik bila diketahui sejak
dini.Para ahli kesehatan mental menganjurkan para pendidik disekolah untuk
lebih banyak berperan dalam memperhatikan kesehatan jiwa para siswa,
khususnya yang berkaitan dengan rasa aman dan penemuan identitas diri
dikalangan kaum muda. Dengan demikian, bimbingan akan mempunyai andil
besar dalam perkembangan kesehatan mental para siswa disekolah.

4). Gerakan Untuk Mengenal Murid Secara Individual


Traxler mengatakan bahwa gerakan ini sangat berkaitan dengan sejarah gerakan
dan evaluasi pendidikan disekolah. Melalui gerakan ini ditemukan suatu nilai
mengenai siswa sebagai pribadi yang individual dan unik.Oleh karena itu
bimbingan disekolah mempunyai tugas untuk mengenal setiap muridnya secara
individual melalui program analisis individual.

5). Perubahan-perubahan Sosial


Dizon (1983) mengungkapkan 5 perubahan sosial yang sangat mempengaruhi
kehidupan para remaja.
a. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Pilihan karir merupakan masalah bagi banyak siswa. Mereka sering merasa
bingung untuk menentukan pilihan karir yang tepat, karena yang dapat dipilih
cukup banyak dan umumnya mereka belum mengenal dirinya sendiri. Dipihak
lain, orangtua dan sekolah tidak dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan
anak, karena mereka tidak memahami bimbingan karier. Akibatnya banyak
ditemukan beberapa mahasiswa dengan indeks prestasi rendah, walaupun
kemampuannya cukup tinggi.Hal ini disebabkan ketidaksesuaian minat mereka
dengan jurusan yang mereka pilih.Para remaja bingung terhadap pilihan karirnya
dan tidak mendapat bantuan yang baik dari pihak sekolah ataupun orang
tua.Untunglah, beberapa sekolah telah mengadakan bimbingan karir yang dapat
meringankan beban mereka.

b. Penggunaan waktu senggang dan Rekreasi

Mereka umumnya menghadapi konflik batin, karena di satu pihak mereka harus
belajar keras untuk memenuhi tuntutan sekolah yang makin berat, sedangkan di
pihak lain mereka tergiur akan hiburan yang menarik di masyarakatnya. Hiburan
ini seringkali dapat memerosotkan perkembangan mereka yang dalam waktu
singkat harus terjun dalam dunia kerja dan sosial.Dalam hal ini sekolah harus
berani mulai mengadakan bimbingan rekreasi bagi para siswanya, khususnya
pada waktu liburan sekolah.Pertandingan antarsekolah, festival seni, kemah
kerja dapat digalakan di antara para pelajar dan mahasiswa.

c. Pola kehidupan keluarga dalam masyarakat modern telah mengalami banyak


perubahan
Tidaklah mengherankan bahwa karena kesibukan orang tua mengakibatkan
kurangnya komunikasi personal. Karena mereka kurang menikmati waktu
bersama dalam keluarga.Anak-anak merasa kurang nyaman dan aman dirumah
sendiri.Karena itu, pelayana bimbingan konseling berupa konsultasi bagi orang
tua dan konseling bagi anak-anak yang tersisih dalam keluarga.Untuk itu
bimbingan ini diharapkan dapat terlaksana disekolah.

d. Perubahan nilai-nilai sosial dan moral/agama


Para remaja tidak memiliki pegangan hidup yang pasti. Nilai lama sudah kabur,
sedangkan nilai baru belum pasti. Free-sex dipandang hal yang lumrah bagi
golongan remaja tertentu, sedangkan di pihak lain keluarga dan agama masih
keras melarangnya. Dikalangan mahasiswa terjangkit penyakit cepat wisuda,
agar mereka mendapatkan kedudukan dan gaji yang tinggi, tetapi yang
diimpikan tidak mudah terlaksana. Semuanya ini tentu akan menambah masalah
dipundak para remaja. Untuk itu mereka membutuhkan bimbingan spiritual agar
mereka bisa berfikir dengan baik dan berbuat sesuai dengan norma-norma
agama yang berlaku di lingkungan masyarakat.

e. Tuntutan masyarakat yang makin kompleks


Pada waktu sekarang gelar Drs. Tidak menjadi bangsawannya masyarakat
lagi, tetapi gelar doktor barulah dipandang sebagai bangsawan atau priyayinya
masyarakat modern ini. Hal ini menunjukan bahwa tuntutan masyarakat makin

berat dan meningkat.Disinalah letak panggilan kita, melalui program bimbingan


kita tingkatkan perkembangan anak seoptimal mungkin sesuai dengan tuntutan
masyarakat modern.

B.

Kedudukan Bimbingan dan


Pendidikan di Sekolah

Konseling dalam

Sistem

Operasional

Pendidikan merupakan aset yang tak ternilai bagi individu dan masyarakat.
Pendidikan tidak pernah dapat dideskripsikan secara gamblang hanya dengan
mencatat banyaknya jumlah siswa, personel yang terlibat, harga bangunan, dan
fasilitas yang dimiliki. Pendidikan memang menyangkut hal itu semua, namun
lebih dari itu semuanya. Pendidikan merupakan proses yang esensial untuk
mencapai tujuan dan cita-cita pribadi individu (siswa).

Siswa merupakan unsur utama dalam pendidikan. Siswa sebagai individu sedang
berada dalam proses berkembang atau menjadi (becoming), yaitu berkembang
ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kemandirian tersebut,
siswa memerlukan bimbingan, karena mereka masih kurang memiliki
pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman
dalam menentukan arah kehidupannya.
Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan pengajaran
dengan mengabaikan bidang bimbingan mungkin hanya akan menghasilkan
individu yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki
kemampuan atau kematangan dalam aspek psikososiospiritual.
Aspek psikososiospiritual diantaranya sebagai berikut:
1. Manusia sebagai mahluk psikologis:
a. Memiliki struktur kepribadian yang terdiri dari Id ( aspek bio ), Ego ( aspek
psikologi ) dan Super ego ( aspek social ).
b. Dipengaruhi perasaan dan kata hati
c. Memiliki daya pikir dan kecerdasan

d. Memiliki kebutuhan psikologis agar pribadi dapat berkembang.Kebutuhan


psikologis terdiri dari pengurangan ketegangan, kemesraan dan cinta, kepuasan
alturistik, kehormatan dan kepuasan ego.
e. Memiliki kepribadian yang unik

2. Manusia sebagai mahluk social


Manusia membutuhkan manusia lain didalam menjalani kehidupannya. Ciri-ciri
mahluk sosial adalah :
a. Sebagai mahluk yang tidak dapat lepas dari orang lain. manusia memiliki cipta
(kemampuan untuk melakukan sesuatu), rasa (perasaan), dan karsa (tujuan).
b. Manusia hidup dalam kelompoknya (keluarga, masyarakat), manusia suci bagi
manusia lain (Homosacra Res Homonim
c.

Manusia selalu bersosialisasi, berhubungam, menyesuaikan diri, saling


mencintai, menghormati, dan saling menghargai manusia lain dari masa kanakkanak sampai dengan meningal dunia.

3. Manusia sebagai mahluk spiritual


Manusia diciptakan oleh Allah SWT, dalam bentuk yang sebaik-baiknya, memiliki
jiwa yang sempurna, untuk menjadi khalifah dibumi. Bukti manusia mahluk
spiritual :
a. Memiliki keyakinan dan kepercayaan
b. Menyembah tuhan

Bidang-bidang utama pendidikan:


1. Bidang Administrasi dan Kepemimpinan
Bidang ini menyangkut kegiatan pengelolaan program secara efisien. Pada
bidang ini terletak tanggung jawab kepemimpinanan (kepala sekolah dan staf
administrasi lainnya) yang terkait dengan kegiatan perencanaan organisasi,
deskripsi jabatan atau pembagian tugas, pembiayaan, penyediaan fasilitas atau
sarana prasarana (material), supervisi, dan evaluasi program.

2. Bidang intruksional dan kurikuler


Bidang ini terkait dengan kegiatan pengajaran yang bertujuan untuk
memberikan pengetahuan, keterampilan, dan pengembangan sikap. Pihak yang
bertanggung jawab secara langsung terhadap bidang ini adalah para guru.
3. Bidang Pembinaan Siswa (Bimbingan dan Konseling)
Bidang ini terkait dengan program pemberiaan layanan bantuan kepada peserta
didik (siswa) dalam upaya mencapai perkembangannya yang optimal, melalui
interaksi yang sehat dengan lingkungannya. Personel yang paling bertanggung
jawab terhadap pelaksanaan bidang ini adalah guru pembimbing atau konselor.

Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan khususnya pada tatanan persekolahan,


layanan bimbingan dan konseling mempunyai posisi dan peran yang cukup
penting dan strategis. Bimbingan dan konseling berperan untuk memberikan
layanan kepada siswa agar dapat berkembang secara optimal melalui proses
pembelajaran secara efektif. Untuk membantu siswa dalam proses
pembelajaran, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pribadi agar
dapat membantu keseluruhan proses belajarnya. Dalam kaitan ini para
pembimbing diharapkan untuk:
1.
Mengenal
dan memahami
maupun kelompok,

setiap

siswa

baik

secara

individual

2. Memberikan informasi-informasi yang diperlukan dalam proses belajar,


3. Memberi kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai
dengan karakteristik pribadinya,
4. Membantu setiap siswa dalam menghadapi masalah-masalah pribadi yang
dihadapinya,
5. Menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukan.

Berkenaan dengan hubungan antara bimbingan dan pendidikan tersebut di atas,


Rochma Natawidjaja (1990: 16) Memberikan penjelasan sebagai berikut:

...bimbingan dan konseling memiliki fungsi dan posisi kunci dalam pendidikan di
sekolah, yaitu sebagai pendamping fungsi utama sekolah dalam bidang
pengajaran dan perkembangan intelektual siswa dalam bidang menangani ihwal
sisi sosial pribadi siswa..

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa


memberikan bantuan kepada siswa
tujuan pendidikan, yaitu membantu
bagi manusia, dan bermanfaat bagi
negara, dan umat manusia

bimbingan dan konseling memiliki fungsi


dalam rangka memperlancar pencapaian
meratakan jalan menuju Tuhan, berguna
kesejahteraan dan pembangunan bangsa,

Ragam Bimbingan dan konseling


Dilihat dari masalah individu ada empat jenis bimbingan yaitu:
a.

Bimbingan Akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk membantu para


individu dalam menghadapi masalah-masalah akademik seperti pengenalan
kurikulum, pemilihan jurusan/konsentrasi, cara belajar dsb. Bimbingan akademik
dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar- mengajar yang
kondusif agar terhindar dari kesulitan belajar. Dalam bimbingan akademik
pembimbing berupaya memfasilitasi individu dalam mencapai tujuan akademik
yang diharapkan.

b.

Bimbingan Sosial-Pribadi, merupakan bimbingan untuk membantu para


individu dalam memecahkan masalah-masalah sosial-pribadi. Contohnya:
masalah sosial pribadi adalah hubungan sesama teman, dengan dosen, serta
staf, pemahaman sifat dan kemampuan diri penyesuaian diri dengan lingkungan
pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal dan penyelesaian konflik.

c.

Bimbingan Karir, yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam


perencanaan, pengembangan, dan pemecahan masalah-masalah karir seperti:
pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan
kemampuan diri dsb.

d.

Bimbingan Keluarga, merupakan upaya pemberian bantuan kepada para


individu sebagai pemimpin/anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan
keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara produktif, dapat

menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, serta


berperan/berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.

C.

Kedudukan Bimbingan dan Konseling secara formal dan dalam setting


pendidikan formal

1. Kedudukan Bimbingan dan Konseling secara formal


Secara formal kedudukan bimbingan dan konseling ada dalam Sistem Pendidikan
di Indonesia, antara lain :
a.

UU No. 2 tahun 1989 bab I pasal 1 ayat 1 yang menyatakan bahwa :


Pendidikan adalah usaha sadar menyiapkan peserta didik melalui bimbingan
dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang

b.

PP No. 28 untuk SD dan PP No. 29 untuk SMP dan SMA tahun 1990 Bab X pasal
25 ayat 1 yang menyatakan :
Bimbingan adalah bantuan peserta didik untuk memahami diri, mengenal
lingkungan dan merencanakan masa depan
Bimbingan dilaksanakan oleh guru pembimbing

c.

UU No. 20 tahun 2003 bab I pasal 1 ayat 6


Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen,
dan konselor, widyaiswara, pamong belajar, fasilitator dan sebutan lain sesuai
dengan
kekhususannya serta berpartisipasi
dalam menyelenggarakan
pendidikan

2.

Kedudukan Bimbingan dan Konseling dalam Setting Pendidikan Formal


Pemetaan layanan BK seperti yang tertera pada gambar di atas, menampilkan
dengan jelas kesejajaran antara posisi layanan BK yang memandirikan dengan
layanan manajemen pendidikan dan layanan pembelajaran yang dibingkai oleh
kurikulum khusus sistem persekolahan sebagai bentuk kelembagaan dalam jalur
pendidikan formal. Wilayah bimbingan dan konseling yang memandirikan
menjadi tanggung jawab konselor.
Pelayanan bimbingan dan konseling dapat memberikan sumbangan yang berarti
terhadap pengajaran. Misalnya, siswa dapat mencapai prestasi belajar yang
optimal apabila terbebas dari masalah-masalah yang dapat mengganggu proses
belajarnya. Pembebasan masalah tersebut dapat dilakukan melalui pelayanan

bsssssimbingan dan konseling. Materi layanan bimbingan dan konseling dapat


dimanfaatkan oleh guru untuk penyesuaian pengajaran dengan individualitas
siswa.
Pelayanan bimbingan dan konseling juga memberikan sumbangan dalam
manajemen dan supervisi. Misalnya, berkaitan dengan penyusunan kurikulum,
pengembangan program-program belajar, pengambilan belajar yang tepat dalam
rangka penciptaan iklim sekolah yang benar-benar menunjang bagi pemenuhan
kebutuhan dan perkembangan siswa.
Begitu pula sebaliknya, bidang pengajaran, manajemen, dan supervisi
memberikan sumbangan besar bagi pelayanan bimbingan dan konseling. Jika
ketiganya berjalan dengan baik, maka akan mencegah timbulnya masalah pada
siswa juga sebagai wahana pengentasan masalah-masalah siswa.

BAB III
KESIMPULAN

Jadi bimbingan dan konseling merupakan suatu proses yang berkesinambungan,


sistematis, berencana yang mengarah kepada pencapaian tujuan. Bimbingan
merupakan bantuan atau pertolongan dalam membantu individu mengambil
keputusannya
sendiri,
pembimbing
hanya
bertindak
sebagai
fasilitator. Keseluruhan proses kegiatan atau layanan kepada individu untuk
mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal dan didalamnya
terdapat Konseling yang merupakan inti dari kegiatan Bimbingan.
Ada tiga bidang utama pendidikan, yaitu Bidang Administrasi dan
Kepemimpinan, Bidang intruksional dan kurikuler, dan Bidang Pembinaan Siswa
(Bimbingan dan Konseling). Layanan bimbingan dan konseling mempunyai posisi
dan peran yang cukup penting dan strategis. Bimbingan dan konseling berperan
untuk memberikan layanan kepada siswa agar dapat berkembang secara optimal
melalui proses pembelajaran secara efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.
2011. Fungsi
Bimbingan
dan
Konseling.http://walidrahmanto.blogspot.com/2011/06/fungsi-bimbingan-dankonseling-di.html (diakses pada tanggal 10September 2014)

Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling. Jakarta: Rineka
Cipta.

Ketut S, Dewa. 2000. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling.


Jakarta: Rineka Cipta.