Anda di halaman 1dari 57

Kumpulan Tugas & Makalah Kampus

Senin, 22 Juni 2015


Kewaspadaan Universal

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Infeksi adalah suatu keadaan saat tubuh kemasukan bibit penyakit (kuman) sehingga
menimbulkan gejala demam atau panas tubuh sebagai suatu reaksi tubuh menolak antigen
(kuman) agar dapat melumpuhkan atau mematikan kuman tersebut. Dalam Kamus Besar
Bahasa ndonesia, infeksi merupakan peradangan; kemasukan bibit penyakit; ketularan
penyakit.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas dalam rangka meningkatkan efektifitas
penanganan PONED (Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) di Puskesmas, maka pengendalian
penyakit infeksi penting dilaksanakan, mengingat dewasa ini di Indonesia telah memasuki
epidemi HIV/AIDS gelombang kelima yang ditandai dengan munculnya kasus HIV/AIDS
pada ibu rumah tangga/para isteri, bahkan Ibu dengan janin yang sedang dikandungnya.
Data sampai 2001 tercatat 2000 kasus HIV/AIDS yang dilaporkan di Indonesia dan
sepertiga diantaranya adalah wanita. Ternyata kasus infeksi HIV bertambah lebih cepat
diantara wanita dan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan menyusul jumlah infeksi pada
laki-laki. Kasus HIV (+) tidak menampilkan gejala dan tanda klinik yang spesifik, tetapi
dapat menularkan penyakit sebagaimana kasus Hepatitis B(+). Sementara itu dalam
melakukan pengelolaan kasus HIV/AIDS, petugas mesehatan dapat terinfeksi bila terjadi
kontak dengan cairan tubuh/darah pasien.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil, bersalin dan nifas,
ataupun diluar masa itu, petugas kesehatan selalu memiliki risiko terinfeksi oleh
mikroorganisme melalui darah/cairan tubuh. Maka setiap petugas pelaksana pelayanan
kesehatan perlu memegang prinsip-prinsip pencegahan infeksi, khususnya prinsip
Kewaspadaan Universal (KU). Kewaspadaan Universal adalah pedoman yang ditetapkan
untuk mencegah penyebaran berbagai penyakit yang ditularkan melalui darah/cairan tubuh di

lingkungan rumah sakit atau sarana kesehatan lainnya. Konsep yang dianut adalah bahwa
semua darah/cairan tubuh harus dikelola sebagai sumber yang dapat menularkan HIV,
Hepatitis B dan berbagai penyakit lain yang ditularkan melalui darah/cairan tubuh.
B.

TUJUAN
Ada beberapa tujuan dalm penulisan makalah ini, diantaranya:
a. Mahasiswa mampu menjaga diri dari penyebaran infeksi dan mampu mencegah infeksi.
b. Mengetahui tentang Kewaspadaan Universal di Pelayanan Kesehatan.
c. Mahasiswa dapat menerapkan Kewaspadaan Universal untuk mencegah terjadinya infeksi
dan mengurangi penularan penyakit yang diakibatkan oleh infeksi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Kewaspadaan Universal merupakan (Universal Precaution) adalah kewaspadaan
terhadap darah dan cairan tubuh yang tidak membedakan perlakuan terhadap setiap pasien,
dan tidak tergantung pada diagnosis penyakitnya (kamus-medis) .
Kewaspadaan universal merupakan bagian dari upaya pengendalian infeksi di sarana
pelayanan kesehatan. Merupakan salah satu cara untuk mencegah penularan penyakit dari
cairan tubuh, baik dari pasien ke petugas kesehatan atau sebaliknya.
Dasar Kewaspadaan Universal ini meliputi pengelolaan alat kesehatan, cuci tangan guna
mencegah infeksi silang, pemakaian alat pelindung diantaranya sarung tangan untuk
mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain, pengelolaan jarum dan alat
tajam untuk mencegah perlukaan, serta pengelolaan limbah (Depkes RI, 2003).
Dalam menggunakan Kewaspadaan Universal petugas kesehatan memberlakukan semua
pasien sama, tanpa memandang penyakit atau diagnosanya dengan asumsi bahwa risiko atau
infeksi berbahaya.
Dalam semua sarana kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas dan praktek dokter
gigi, tindakan yang dapat mengakibatkan luka atau tumpahan cairan tubuh, atau penggunaan
alat medis yang tidak steril, dapat menjadi sumber infeksi penyakit tersebut pada petugas
layanan kesehatan dan pasien lain. Jadi seharusnya ada pedoman untuk mencegah
kemungkinan penularan terjadi.
Pedoman ini disebut sebagai kewaspadaan universal. Harus ditekankan bahwa pedoman
tersebut dibutuhkan tidak hanya untuk melindungi terhadap penularan HIV, tetapi yang tidak
kalah penting terhadap infeksi lain yang dapat berat dan sebetulnya lebih mudah menular.
B. KEWASPADAAN UNIVERSAL DI PELAYANAN KESEHATAN
a. Penerapan Kewaspadaan Universal di Pelayaanan Kesehatan
Sebelum kewaspadaan universal pertama dikenalkan di AS pada 1987, semua pasien
harus dites untuk semua infeksi tersebut. Bila diketahui terinfeksi, pasien diisolasikan dan
kewaspadaan khusus lain dilakukan, misalnya waktu bedah.
Banyak petugas layanan kesehatan dan pemimpin rumah sakit masih menuntut tes HIV
wajib untuk semua pasien yang dianggap anggota kelompok berisiko tinggi infeksi HIV,
misalnya pengguna narkoba suntikan.

Karena akan sulit untuk mengetahui apakah pasien terinfeksi atau tidak, petugas layanan
kesehatan harus menerapkan kewaspadaan universal secara penuh dalam hubungan dengan
semua pasien, dengan melakukan tindakan berikut:
Cuci tangan setelah berhubungan dengan pasienatau setelah membuka sarung tangan.
Segera cuci tangan setelah ada hubungan dengan cairan tubuh.
Menggunakan sarung tangan bila mungkin ada hubungan dengan cairan tubuh.
Menggunakan masker dan kacamata pelindung jika kemungkinan terdapat percikan cairan
tubuh.
Buang jarum suntik dan alat tajam lain secara aman (yang sekali pakai, tidak boleh dipakai
ulang).
Bersihkan tumapahan cairan tubuh dengan bahan yang cocok.
Patuhi standar sterilisasi alat medis.
Tangani semua bahan yang tercemar dengan cairan tubuh sesuai dengan prosedur.
Buang limbah sesuai dengan prosedur.
Penerapan Kewaspadaan Universal (Universal Precaution) didasarkan pada keyakinan
bahwa darah dan cairan tubuh sangat potensial menularkan penyakit, baik yang berasal dari
pasien maupun petugas kesehatan. Prosedur Kewaspadaan Universal ini juga dapat dianggap
sebagai pendukung progran K3 bagi petugas kesehatan.
Dengan menerapkan KU, setiap petugas kesehatan akan terlindung secara maksimal dari
kemungkinan terkena infeksi penyakit yang ditularkan melalui darah/cairan tubuh, baik dari
kasus yang terdiagnosis maupun yang tidak terdiagnosis.
b. Alasan Kewaspadaan Universal Sering Diabaikan
Ada banyak alasan mengapa kewaspadaan universal tidak diterapkan, termasuk :
Kurangnya pengetahuan petugas pelayan kesehatan
Kurang dana untuk menyediakan pasokan yang dibutuhkan, misalnya sarung tangan dan
masker
Kurangnya pasokan pennyedia yang dibutuhkan
c.

Risiko jika Kewaspadaan Universal Kurang Diterapkan


Kewaspadaan universal diciptakan untuk melindungi terhadap kecelakaan yang dapat
terjadi. Kecelakaan yang paling umum adalah tertusuk jarum suntik, yaitu jarum suntik yang
dipakai pada pasien menusuk kulit seorang petugas layanan kesehatan.
Penelitian menunjukkan bahwa risiko penularan rata-rata dalam kasus pasien yang
bersangkutan terinfeksi HIV adalah kurang lebih 0,3%, dibandingkan dengan 3% untuk
hepatitis C dan lebih dari 30% untuk hepatitis B. Jika darah dari pasien yang terinfeksi
mengenai selaput mukosa (misalnya masuk mata) petugas layanan kesehatan, risiko

penularan HIV adalah kurang lebih 0,1%. Walaupun belum ada data tentang kejadian serupa
dengan darah yang dicemar hepatitis B, risiko jelas jauh lebih tinggi.
Kewaspadaan Universal yang tidak sesuai dapat menghasilkan bukan hanya risiko pada
petugas layanan kesehatan dan pasien lain, tetapi juga peningkatan pada stigma dan
diskriminasi yang dihadapi oleh ODHA.
C.
CONTOH KASUS TERKAIT KEWASPADAAN UNIVERSAL DI PELYANAN
KESEHATAN
Contoh kasus yang ditemukan terkait penerapan kewaspadaan universal dalam
pelayanan kesehatan yaitu Infeksi nosokomial.
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terdapat dalam sarana kesehatan. Nosokomial
berasal dari kata Yunani nosocomium, yang berarti rumah sakit. Maka, kata nosokomial
artinya "yang berasal dari rumah sakit" kata infeksi cukup jelas artinya, yaitu terkena hama
penyakit.
Menurut Patricia C Paren, pasien dikatakan mengalami infeksi nosokomial jika pada
saat masuk belum mengalami infeksi kemudian setelah dirawat selama 48-72 jam klien
menjadi terinfeksi Infeksi nosokomial bisa bersumber dari petugas kesehatan, pasien yang
lain, alat dan bahan yang digunakan untuk pengobatan maupun dari lingkungan rumah sakit.
Infeksi nosokomial mulai dengan penyebab (di bagian tengah gambar berikut), yang
ada pada sumber. Kuman keluar dari sumber melalui tempat tertentu, kemudian dengan cara
penularan tertentu masuk ke tempat tertentu di pasien lain. Karena banyak pasien di rumah
sakit rentan terhadap infeksi (terutama ODHA yang mempunyai sistem kekebalan yang
lemah), mereka dapat tertular dan jatuh sakit tambahan. Selanjutnya, kuman penyakit ini
keluar dari pasien tersebut dan meneruskan rantai penularan lagi.
Pada 1847, seorang dokter bernama Ignaz Semmelweis bekerja di bagian kebidanan di
sebuah rumah sakit di Vienna, Austria. Semmelweis mengamati bahwa angka kematian di
antara ibu di bangsal yang dilayani oleh mahasiswa kedokteran tiga kali lebih tinggi
dibandingkan bangsal yang dilayani oleh bidan. Semmelweis mendalilkan bahwa hal ini
terjadi karena mahasiswa langsung ke bangsal kebidanan setelah belajar otopsi (bedah
mayat), dan membawa infeksi dari mayat ke ibu yang melahirkan. Dia memerintahkan dokter
dan mahasiswa untuk mencuci tangannya dengan larutan klorin sebelum memeriksakan ibu
tersebut. Setelah aturan ini diterapkan, angka kematian menurun menjadi serupa dengan
bangsal yang dilayani oleh bidan.
Dengan masalah infeksi nosokomial menjadi semakin jelas, dicari kebijakan baru untuk
menguranginya. Solusi pertama pada 1877 adalah mendirikan rumah sakit khusus untuk
penyakit menular.
Pengenalan sarung tangan lateks pada 1887 membantu mengurangi penularan. Tetapi
dengan peningkatan mortalitas (angka kematian) di 1960-an, Departemen Kesehatan di

Amerika Serikat pada tahu 1970 mengeluarkan kebijakan untuk mengisolasikan semua pasien
yang diketahui tertular infeksi menular.
Namun kebijakan ini kurang berhasil serta menimbulkan banyak masalah lain.
Perhatian pada masalah ini menjadi semakin tinggi dengan munculnya HIV pada 1985,
kebijakan kewaspadaan universal dikenalkan pada 1985.
Sesuai dengan kebijakan ini yang dikembangkan pada 1970, semua pasien yang
diketahui terinfeksi penyakit menular melalui tes wajib diisolasi. Kebijakan ini menentukan
tujuh kategori isolasi berdasarkan sifat infeksinya (daya menular, ganas, dll.). Kewaspadaan
khusus (sarung tangan dsb.) dengan tingkat yang ditentukan oleh kategori hanya dipakai
untuk pasien ini.
Teknik isolasi mengurangi jumlah infeksi nosokomial, tetapi timbul beberapa
tantangan:
Peningkatan dalam jenis dan jumlah infeksi menular, sehingga semakin banyak tes harus
dilakukan, dan semakin banyak pasien harus diisolasi.
Hasil tes sering diterima terlambat, sering setelah pasien pulang.
Biaya sangat tinggi, bila semua orang dites untuk setiap infeksi
Stigma dan diskriminasi meningkat bila hanya pasien yang dianggap berisiko tinggi dites
untuk menenkankan biaya.
Hasil tes dapat negatif palsu (hasil negatif walau terinfeksi), terutama dalam masa jendela,
dengan akibat petugas layanan kesehatan kurang waspada.
Sebaliknya hasil tes positif palsu (hasil positif walau tidak terinfeksi), dengan akibat
kegelisahan untuk pasien dan petugas layanan kesehatan .
Perhatian pada hak asasi mengharuskan pasien memberi informed consent (disertai oleh
konseling untuk HIV).
Sejak AIDS diketahui, kebijakan baru yang bernama kewaspadaan universal (KU)
dikembangkan. Kebijakan ini menganggap bahwa setiap darah dan cairan tertentu lain dapat
mengandung infeksi, tidak memandang status sumbernya. Lagipula, semua alat medis harus
dianggap sebagai sumber penularan, dan penularan dapat terjadi pada setiap layanan
kesehatan, termasuk layanan kesehatan gigi dan persalinan, pada setiap tingkat (klinik dan
puskesmas sampai dengan rumah sakit rujukan).
Harus ditekankan bahwa kewaspadaan universal dibutuhkan tidak hanya untuk
melindungi terhadap penularan HIV tetapi yang tidak kalah penting terhadap infeksi lain
yang dapat parah dan sebetulnya lebih mudah menular, misalnya virus Hepatitis B dan C.
Petugas layanan kesehatan harus menerapkan kewaspadaan universal secara penuh dalam
hubungan dengan semua pasien.
Kita biasanya menganggap cairan yang dapat menular HIV sebagai darah, cairan kelamin
dan ASI saja. Namun ada cairan lain yang dapat mengandung kuman lain, dan dalam sarana

kesehatan, lebih banyak cairan tubuh biasanya tersentuh. Contohnya, walaupun tinja tidak
mengandung HIV, cairan berikut mengandung banyak kuman lain nanah, cairan ketuban,
cairan limfa, ekskreta (air seni, tinja).

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Kewaspadaan Universal yaitu tindakan pengendalian infeksi yang dilakukan oleh
seluruh tenaga kesehatan untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi dan didasarkan pada
prinsip bahwa darah dan cairan tubuh dapat berpotensi menularkan penyakit, baik berasal
dari pasien maupun petugas kesehatan.
Perawat sebagai petugas kesehatan yang memberikan pelayanan keperawatan dan
melakukan prosedur keperawatan baik yang invansive maupun non invansive untuk
memenuhi kebutuhan passion akan kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh pasien.
Hal ini sangat berisiko terpapar infeksi yang secara potensial membahayakan jiwanya
dan menjadi tempat dimana agen infeksius dapat berkembang biak yang kemudian
menularkan infeksi dari satu pasien ke pasien lain. Oleh karena itu, tindakan Kewaspadaan
Univeersal sangat penting dilakukan.
Jadi kita harus mengerti dasar pemikiran kewaspadaan universal dan terus menerus
mengadvokasikan untuk penerapannya. Kita harus mengajukan keluhan jika kewaspadaan
universal diterapkan secara pilih-pilih (kewaspadaan Odha) dalam sarana medis. Kita harus
protes dan menolak bila ada tes HIV wajib sebelum kita diterima di rumah sakit. Kita
mungkin juga harus beradvokasi pada pemerintah daerah melalui KPAD dan pada DPRD
agar disediakan dana yang cukup untuk menerapkan kewaspadaan universal dalam sarana
medis pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA
http://kbbi.web.id/infeksi
http://kamuskesehatan.com/arti/infeksi/
http://deaulfiah.wordpress.com/2013/10/15/pencegahan-infeksi/
http://www.diskes.baliprov.go.id/id/PENGENDALIAN-PENYAKIT-INFEKSI---PPI--PADAPELAYANAN-OBSTETRI-NEONATAL-EMERGENSI-DASAR--PONEDDiposkan oleh Desi Supriyanti di 20.32
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Label: Dasar Pelayanan Kesehatan
Lokasi: Ama Yogyakarta, Jalan Pramuka No.70, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah
Istimewa Yogyakarta 55161, Indonesia

Sabtu, 28 Mei 2011


UNIVERSAL PRECAUTION
A. Pengertian
Universal Precaution (Kewaspadaan universal) adalah langkah sederhana pencegahan infeksi
yang mengurangi resiko penularan dari patogen yang ditularkan melalui darah atau cairan
tubuh diantara pasien dan pekerja kesehatan.
Universal precautions (Kewaspadaan Universal) merujuk pada praktek, dalam kedokteran,
menghindari kontak dengan cairan tubuh pasien, dengan cara pemakaian barang seperti
sarung tangan medis, kacamata, dan perisai wajah. Praktek ini diperkenalkan pada 1985-88.
[1] [2] Pada tahun 1987, praktek Universal precautions telah disesuaikan dengan seperangkat
aturan yang dikenal sebagai isolasi zat tubuh. Pada tahun 1996, kedua praktik tersebut diganti
dengan pendekatan terbaru yang dikenal sebagai kewaspadaan standar (perawatan kesehatan).
Saat ini dan di isolasi, praktek Universal precautions memiliki makna sejarah.
B. Sejarah pentingnya Universal precautions
Di bawah Universal precautions semua pasien dianggap pembawa kemungkinan patogen
melalui darah. Pedoman yang direkomendasikan memakai sarung tangan ketika mengambil
atau penanganan darah dan cairan tubuh yang terkontaminasi dengan darah, memakai perisai
hadapi ketika ada bahaya percikan darah pada selaput lendir dan membuang semua jarum dan
benda tajam dalam wadah tahan tusukan.
Universal precautions dirancang untuk dokter, perawat, pasien, dan pekerja perawatan
kesehatan dukungan yang diperlukan untuk datang ke dalam kontak dengan pasien atau
cairan tubuh. Ini termasuk staf dan orang lain yang mungkin tidak datang ke dalam kontak
langsung dengan pasien.
C. Penggunaan
Universal precautions yang biasanya dilakukan dalam lingkungan di mana para pekerja

terkena cairan tubuh, seperti:


1. Darah
2. Semen
3. Sekresi vagina
4. synovial cairan
5. cairan ketuban
6. Cerebrospinal cairan
7. cairan pleura
8. peritoneal cairan
9. perikardial cairan
Cairan Tubuh yang tidak memerlukan tindakan pencegahan seperti:
1. Tinja
2. Nasal sekresi
3. Urine
4. Muntahan
5. Keringat
6. Dahak
7. Air liur
Universal precautions adalah teknik pengendalian infeksi yang dianjurkan mengikuti wabah
AIDS di tahun 1980-an. Setiap pasien diperlakukan sebagai jika tindakan pencegahan
terinfeksi dan karena itu dilakukan untuk meminimalkan risiko.
Pada dasarnya, Universal precautions kebiasaan kebersihan yang baik, seperti mencuci
tangan dan penggunaan sarung tangan dan hambatan lainnya, penanganan yang tepat pada
jarum suntik dan pisau bedah, dan teknik aseptik.
Peralatan
Pakaian pelindung seperti:
1. Gaun
2. Sarung tangan
3. Eyewear (kacamata)
4. Perisai wajah
D. Tambahan tindakan pencegahan
Pencegahan tambahan digunakan selain untuk kewaspadaan universal untuk pasien yang
diketahui atau diduga memiliki kondisi menular, dan bervariasi tergantung pada pengendalian
infeksi diperlukan pasien tersebut. Tindakan pencegahan tambahan tidak diperlukan untuk
infeksi melalui darah, kecuali ada komplikasi. Kondisi menunjukkan tindakan pencegahan
tambahan:
1. Prion penyakit (misalnya, penyakit Creutzfeldt-Jakob)
2. Penyakit dengan transmisi udara ditanggung (misalnya, TBC)
3. Penyakit dengan transmisi tetesan (misalnya, gondok, rubella, influenza, pertusis)
4. Transmisi melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan kulit kering (misalnya,
kolonisasi dengan MRSA) atau permukaan yang terkontaminasi atau kombinasi di atas.
E. Standard Kewaspadaan
1. Cuci tangan
2. Pakai sarung tangan saat menyentuh cairan tubuh, kulit tak utuh dan membran mukosa
3. Pakai masker, pelindung mata, gaun jika darah atau cairan tubuh mungkin memercik

4. Tutup luka dan lecet dengan plester tahan air


5. Tangani jarum dan benda tajam dengan aman
6. Buang jarum dan benda tajam dalam kotak tahan tusukan dan tahan air
7. Proses instrumen dengan benar
8. Bersihkan tumpahan darah dan cairan tubuh lain segera dan dengan seksama
9. Buang sampah terkontaminasi dengan aman
F. Prosedur pencegahan infeksi
1. Cuci tangan
Cuci tangan adalah cara pencegahan infeksi yang penting. Cuci tangan harus dilakukan
dengan benar , sebelum melakukan tindakan.
Sarana untuk cuci tangan :
a. Air mengalir
b. Sabun dan detergan
c. Larutan anti septic
Gambar Langkah Cuci Tangan
2. Alat pelindung diri (APD)
Adalah peralatan yang dirancang untuk melindungi pekerja dari kecalakaan atau penyakit
yang serius ditempat kerja akibat kontak dengan potensi bahaya. Jenis pelindung APD antara
lain : sarung tangan,masker (pelindung wajah), kacamata (pelindung mata), penutup kepala
(kap), gaun pelindung, alas kaki (pelindung kaki).
3. Pengelolaan alat bekas pakai
Bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi melalui alat kesehatan, atau untuk menjamin
alat tersebut dalam kondisi steril dan siap pakai. Penatalaksanaan pengelolaan alat bekas
pakai melalui 4 tahap kegiatan yaitu : dekontaminasi, pencucian, sterilisasi atau DTT, dan
penyimpanan.
4. Pengelolaan alat tajam
Penyebab utama HIV adalah terjadinya kecelakaan kerja seperti tertusuk jarum atau alat
tajam yang tercemar.
Membuang benda tajam
1. Buang jarum dan spuit segera setelah digunakan diwadah benda tajam yang tahan tusukan
2. Jangan isi wadah melebihi ketinggian tiga perempat penuh
3. Insinerasi wadah pembuang benda tajam
5. Pengelolaan limbah
Limbah rumah sakit atau di pelayanan kesehatan adalah limbah yang dihasilkan oleh seluruh
kegiatan rumah sakit dan limbah yang terbanyak adalah limbah infeksium yang memerlukan
penerangan khusus.
6. Dalam Universal Precaution Tidak direkomendasikan
a. Sterilisasi panas kering karena tergantung listrik & waktu yang lama
b. Sterilisasi kimia karena waktu yang lama & glutaraldehid-beracun

c. Merebus instrument karena merupakan bentuk dari DTT


d. Menyimpan instrumen dalam antiseptik cair karena tidak efektif
e. Membakar instrument tidak efektif
Pencegahan HIV Dalam Kondisi Darurat
Penyuntikan yang aman
1. Minimalkan kebutuhan menangani jarum dan spuit
2. Gunakan spuit dan jarum steril sekali pakai untuk setiap penyuntikan
3. Tangani spuit dan jarum dengan aman
4. Tata ruang kerja untuk mengurangi risiko cedera
5. Gunakan vial dosis tunggal sebagai ganti vial multi dosis
6. Jika vial adalah untuk multi dosis, hindari meninggalkan jarum di karet penutup vial
7. Setelah dibuka, simpan vial multi dosis di kulkas
8. Jangan menutup kembali jarum
9. Posisikan dan peringatkan pasien dengan benar untuk penyuntikan
10. Praktekkan pembuangan limbah tajam medis yang aman
Paparan Kerja: PPPK
1. Luka akibat jarum atau benda tajam yang sudah dipakai dan kulit terluka
a. Jangan dipijat atau digosok
b. Segera cuci dengan air dan sabun atau cairan chlorhexidine gluconate
c. Jangan gunakan cairan yang keras. Pemutih atau yodium akan mengiritasi luka
2. Percikan darah atau cairan tubuh pada kulit yang luka
a. Cuci segera. Jangan gunakan desinfektan yang kuat
3. Percikan pada mata
a. Airi mata segera dengan air atau normal saline
b. Miringkan kepala ke belakang dan minta teman menuangkan air atau normal saline
c. Jangan gunakan sabun atau desinfektan pada mata
4. Percikan pada mulut
a. Ludahkan segera
b. Basuh mulut dengan menyeluruh menggunakan air atau saline. Ulang beberapa kali
c. Jangan gunakan sabun atau desinfektan pada mulut
d. Laporkan kejadiaan dan minum PEP jika ada indikasi.
Memastikan transfusi darah aman dan rasional
1. Mengumpulkan darah hanya dari Donor sukarela yang tidak dibayar dengan risiko rendah
terkena infeksi yang ditularkan lewat transfusi (TTI) dan kriteria donor darah yang ketat
2. Memeriksa semua darah yang didonorkan untuk TTI, golongan darah dan kompatibilitas;
3. Pemakaian darah yang sesuai secara klinis dan pemakaian alternatif dan obat untuk
meminimalkan transfusi yang tidak perlu
4. Praktek Transfusi aman di tempat tidur dan pembuangan kantung, jarum dan tabung darah
yang aman.

Kewaspadaan Universal (Universal Precaution)


Posted by Sanco Irianto A, S.Kep.Ns | Posted in AIDS , Materi | Posted on
8/10/2010

Apa
Kewaspadaan
Universal
Itu?
Kewaspadaan Universal (Universal Precaution) adalah kewaspadaan
terhadap darah dan cairan tubuh yang tidak membedakan perlakuan
terhadap setiap pasien, dan tidak tergantung pada diagnosis penyakitnya
(kamus-medis)
Cara agar petugas perawatan kesehatan dapat menghindari infeksi dari
infeksi yang diangkut aliran darah, seperti HIV atau hepatitis B dan C.
Kewaspadaan umum pertama dikembangkan pada 1987 di AS. Pedoman
termasuk penggunaan sarung tangan lateks, masker, dan kacamata
pelindung jika pekerjaan ada kaitannya dengan darah atau cairan tubuh
(Komunitas
AIDS
Indonesia)
Ada berbagai macam infeksi menular yang terdapat dalam darah dan
cairan tubuh lain seseorang, di antaranya hepatitis B dan C dan HIV.
Mungkin juga ada infeksi lain yang belum diketahui, harus diingat bahwa
hepatitis C baru ditemukan pada 1988. Sebagian besar pasien dengan
infeksi
tersebut
belum
tahu
dirinya
terinfeksi.
Dalam semua sarana kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas dan
praktek dokter gigi, tindakan yang dapat mengakibatkan luka atau
tumpahan cairan tubuh, atau penggunaan alat medis yang tidak steril,
dapat menjadi sumber infeksi penyakit tersebut pada petugas layanan
kesehatan dan pasien lain. Jadi seharusnya ada pedoman untuk
mencegah
kemungkinan
penularan
terjadi.
Pedoman ini disebut sebagai kewaspadaan universal. Harus ditekankan
bahwa pedoman tersebut dibutuhkan tidak hanya untuk melindungi
terhadap penularan HIV, tetapi yang tidak kalah penting terhadap infeksi
lain yang dapat berat dan sebetulnya lebih mudah menular.
Bagaimana Kewaspadaan Universal Diterapkan?
Karena akan sulit untuk mengetahui apakah pasien terinfeksi atau tidak,
petugas layanan kesehatan harus menerapkan kewaspadaan universal
secara penuh dalam hubungan dengan SEMUA pasien, dengan melakukan
tindakan berikut:

Cuci tangan setelah berhubungan dengan pasien atau setelah


membuka sarung tangan
Segera cuci tangan setelah ada hubungan dengan cairan tubuh

Pakai sarung tangan bila mungkin akan ada hubungan dengan


cairan tubuh

Pakai masker dan kacamata pelindung bila mungkin ada percikan


cairan tubuh

Tangani dan buang jarum suntik dan alat tajam lain secara aman;
yang sekali pakai tidak boleh dipakai ulang

Bersihkan dan disinfeksikan tumpahan cairan tubuh dengan bahan


yang cocok

Patuhi standar untuk disinfeksi dan sterilisasi alat medis

Tangani semua bahan yang tercemar dengan cairan tubuh sesuai


dengan prosedur

Buang limbah sesuai prosedur

Metode Mencuci Tangan


Gunakan sabun cair lebih bagus dan dilakukan di air hangat
mengalir.
Gosok tangan bersama-sama dengan selama minimal 30 detik.

Ingat untuk mencuci semua permukaan termasuk ibu jari,


pergelangan tangan, punggung tangan, antara jari dan sekitar dan
di bawah kuku.

Bilas tangan dengan baik pada air mengalir dari pergelangan ke jari
pada air mengalir.

Keringkan tangan dengan handuk kertas, lalu menggunakan handuk


yang sama untuk mematikan kran.

Buang handuk

Ingat, cuci tangan SELALU SAAT:


Ketika anda tiba di penitipan anak
Sebelum dan Sesudah pemberian obat

Sebelum memulai perawatan

Sebelum dan Setelah menggunakan kamar mandi

Sebelum penanganan peralatan bersih

Setelah penanganan peralatan bersih

Sebelum dan Sesudah makan

Sebelum menangani makanan

Sebelum meninggalkan ruang perawatan

Apakah Ada Pilihan Lain?


Sebelum kewaspadaan universal pertama dikenalkan di AS pada 1987,
semua pasien harus dites untuk semua infeksi tersebut. Bila diketahui
terinfeksi, pasien diisolasikan dan kewaspadaan khusus lain dilakukan,
misalnya waktu bedah. Banyak petugas layanan kesehatan dan pemimpin
rumah sakit masih menuntut tes HIV wajib untuk semua pasien yang
dianggap anggota kelompok berisiko tinggi infeksi HIV, misalnya
pengguna narkoba suntikan. Namun tes wajib ini tidak layak, kurang
efektif dan bahkan berbahaya untuk beberapa alasan:

Hasil tes sering baru diterima setelah pasien selesai dirawat


Bila semua pasien dites, biaya sangat tinggi

Jika hanya pasien yang dianggap berisiko tinggi dites, infeksi HIV
pada pasien yang dianggap tidak berisiko tidak diketahui

Hasil negatif
dibutuhkan

Hasil positif palsu menyebabkan kegelisahan yang tidak perlu untuk


pasien dan petugas layanan kesehatan

Tes hanya untuk HIV tidak melindungi terhadap infeksi virus


hepatitis dan kuman lain dalam darah termasuk yang belum
diketahui, banyak di antaranya lebih menular, prevalensinya lebih
tinggi dan hampir seganas HIV

Tes tidak menemukan infeksi pada orang yang dalam masa jendela,
sebelum antibodi terbentuk

Tes HIV tanpa konseling dan informed consent melanggar peraturan


nasional dan hak asasi manusia

palsu

menyebabkan

kurang

kewaspadaan

saat

Bila kewaspadaan universal hanya dipakai untuk pasien yang diketahui


terinfeksi HIV, status HIV-nya pasti diketahui orang lain, asas kerahasiaan
tidak terjaga, dengan akibat hak asasinya terlanggar.
Mengapa
Kewaspadaan
Universal
Sering
Diabaikan?
Ada banyak alasan mengapa kewaspadaan universal tidak diterapkan,
termasuk:

Petugas layanan kesehatan kurang pengetahuan


Kurang dana untuk menyediakan pasokan yang
misalnya sarung tangan dan masker

Penyediaan pasokan tersebut kurang

Petugas layanan kesehatan terlalu sibuk

Dianggap Odha harus mengaku bahwa dirinya HIV-positif agar


kewaspadaan dapat dilakukan

dibutuhkan,

Tambahannya, rumah sakit swasta enggan membebani semua pasien


dengan ongkos kewaspadaan yang pasien anggap tidak dibutuhkan.
Apakah Risiko Jika Kewaspadaan Universal Kurang Diterapkan?
Kewaspadaan universal diciptakan untuk melindungi terhadap kecelakaan
yang dapat terjadi. Kecelakaan yang paling umum adalah tertusuk jarum
suntik, yaitu jarum suntik yang dipakai pada pasien menusuk kulit

seorang petugas layanan kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa risiko


penularan rata-rata dalam kasus pasien yang bersangkutan terinfeksi HIV
adalah kurang lebih 0,3%, dibandingkan dengan 3% untuk hepatitis C
dan lebih dari 30% untuk hepatitis B. Jika darah dari pasien yang
terinfeksi mengenai selaput mukosa (misalnya masuk mata) petugas
layanan kesehatan, risiko penularan HIV adalah kurang lebih 0,1%.
Walaupun belum ada data tentang kejadian serupa dengan darah yang
dicemar hepatitis B, risiko jelas jauh lebih tinggi.
Apa
yang
Dapat
Dilakukan
Jika
Ada
Kecelakaan?
Fasilitas layanan kesehatan harus mempunyai prosedur tetap yang
dipakai bila ada kecelakaan. Satu pilihan untuk mencegah infeksi HIV
setelah diselidiki adalah untuk menawarkan profilaksis pascapajanan
(PPP).
Bagaimana Kita Dapat Mendorong Penerapan Kewaspadaan
Universal?
Jelas penerapan kewaspadaan universal yang tidak sesuai dapat
menghasilkan bukan hanya risiko pada petugas layanan kesehatan dan
pasien lain, tetapi juga peningkatan pada stigma dan diskriminasi yang
dihadapi oleh Odha. Jadi kita harus mengerti dasar pemikiran
kewaspadaan universal dan terus menerus mengadvokasikan untuk
penerapannya. Kita harus mengajukan keluhan jika kewaspadaan
universal diterapkan secara pilih-pilih (kewaspadaan Odha) dalam sarana
medis. Kita harus protes dan menolak bila ada tes HIV wajib sebelum kita
diterima di rumah sakit. Kita mungkin juga harus beradvokasi pada
pemerintah daerah melalui KPAD dan pada DPRD agar disediakan dana
yang cukup untuk menerapkan kewaspadaan universal dalam sarana
medis pemerintah.

5y4w1r Mr. Eyeglasses


Minggu, 29 Mei 2011
Universal Precautions

Universal Precautions
(Kewaspadaan Umum / Standar / Universal)
A. Pengertian

Kewaspadaan Universal atau Kewaspadaan Umum (KU) atau Universal


Precautions (UP) adalah suatu cara untuk mencegah penularan penyakit dari cairan
tubuh, baik dari pasien ke petugas kesehatan dan sebaliknya juga dari pasien ke
pasien lainnya. Menurut Prof. Dr. Sulianti Saroso (2006) Kewaspadaan Universal
adalah suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan pajanan darah dan cairan
tubuh dari semua pasien, tanpa memperdulikan status infeksi.
Kewaspadaan Universal hendaknya dipatuhi oleh tenaga kesehatan karena ia
merupakan panduan mengenai pengendalian infeksi yang dikembangkan untuk
melindungi para pekerja di bidang kesehatan dan para pasiennya sehingga dapat
terhindar dari berbagai penyakit yang disebarkan melalui darah dan cairan tubuh
tertentu.
Penerapan Kewaspadaan Standar diharapkan dapat menurunkan risiko
penularan patogen melalui darah dan cairan tubuh lain dari sumber yang diketahui
maupun yang tidak diketahui. Penerapan

ini merupakan pencegahan dan

pengendalian infeksi yang harus rutin dilaksanakan terhadap semua pasien dan di
semua fasilitas pelayanan kesehatan (FPK).
Komponen-komponen kewaspadaan umum, terdiri dari:
1. Kebersihan tangan (cuci tangan)
2. Alat Pelindung Diri (APD), yang terdiri dari:
a. Penggunaan sarung tangan
b. Pelindung wajah (masker, kacamata,)
c. Gaun pelindung
d. Penutup kepala
e. Sepatu pelindung
3. Pencegahan luka tusukan jarum dan benda tajam lainnya
4. Kebersihan pernapasan dan etika batuk
5. Kebersihan lingkungan
6. Linen
7. Pembuangan limbah
8. Peralatan perawatan pasien
B. Pelaksanaan Kewaspadaan Universal
Penerapan

Kewaspadaan

Universal

merupakan

bagian

dari

upaya

pengendalian infeksi di sarana pelayanan kesehatan yang tidak terlepas dari peran

masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya yaitu pimpinan termasuk staf


administrasi, staf pelaksana pelayanan termasuk staf penunjangnya dan juga
pengguna yaitu pasien dan pengunjung sarana kesehatan tersebut. Penerapan
Kewaspadaan Umum didasarkan pada keyakinan bahwa darah dan cairan tubuh
sangat potensial menularkan penyakit baik yang berasal dari pasien maupun
petugas kesehatan.
Penerapan Kewaspadaan Universal (Universal Precaution) didasarkan pada
keyakinan bahwa darah dan cairan tubuh sangat potensial menularkan penyakit,
baik yang berasal dari pasien maupun petugas kesehatan. Prosedur Kewaspadaan
Universal ini juga dapat dianggap sebagai pendukung progran K3 bagi petugas
kesehatan
Adapun prinsip utama prosedur Kewaspadaan Universal dalam pelayanan
kesehatan adalah menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan
sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan menjadi 5 kegiatan pokok
yaitu :
1. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang.
2. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah
kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain.
3. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai.
4. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan.
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.
Perawat harus memiliki buku pedoman dalam menerapkan Kewaspadaan
Universal dalam upayanya untuk mencegah terjadinya infeksi silang. Buku pedoman
penerapan Kewaspadaan Universal dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan
dan untuk membantu petugas kesehatan dalam mengurangi resiko infeksi pada diri
sendiri, pasien dan masyarakat. Perawat membantu administrator dan manajer
rumah sakit untuk membuat kebijakan pengendalian infeksi berdasarkan bukti dalam
dan panduan pelayanan yang seragam. Memperluas penggunaan praktik dan
prosedur yang dianjurkan serta mampu melaksanakan, walaupun di lingkungan
dengan sumber daya yang sangat terbatas, memberikan landasan ilmiah untuk
memperkuat prasarana pencegahan infeksi yang telah ada.
Adapun prosedur dari Kewaspadaan Universal meliputi :
1. Cuci tangan atau permukaan kulit segera secara rata untuk mencegah kontaminasi
kuman pada tangan.

2. Pemakaian sarung tangan bila akan menjamah darah atau cairan tubuh lain (cairan
amnion, cairan peritoneal, cairan pleura, sekret sinovial, cairan pericardial, cairan
ketuban, dan cairan tubuh yang mengandung darah secara kasat mata); bila
menyentuh selaput mukosa dan kulit yang luka setiap pasien; untuk menangani
benda-benda atau permukaan yang dikotori oleh darah atau cairan tubuh; atau untuk
melaksanakan tindakan yang melibatkan pembuluh darah atau tindakan invasif.
Sarung tangan diganti untuk setiap pasien dan cuci tangan segera setelah melepas
sarung tangan.
3. Perlu ada perhatian khusus untuk mencegah kecelakaan tusuk jarum, skalpel, dan
alat tajam lainnya selama melaksanakan tindakan medis, pada saat membawa,
membersihkan atau membuang, untuk membengkokkannya, mematahkan dengan
tangan melepaskan dari semprit bekas dengan tangan. Setelah dipakai maka benda
tajam seperti jarum suntik dan semprit, skalpel, pisau dan lain-lain, harus
ditempatkan pada wadah yang tahan tusukan dan letakkan di tempat yang mudah di
jangkau. Jarum dan alat tajam yang dipakai ulang ditaruh di dalam wadah yang
tahan tusukan untuk dibawa ketempat proses selanjutnya.
4. Masker dan pelindung mata, atau pelindung wajah dipakai untuk mencegah pajanan
pada mukosa mulut, hidung dan mata pada tindakan yang dapat menimbulkan
tetesan darah atau cairan tubuh lain yang mengharuskan Kewaspadaan Universal.
5. Jubah atau celemek dipakai pada tindakan yang dapat menimbulkan percikan atau
tumpahan darah atau cairan tubuh yang mengharuskan penerapan Kewaspadaan
Universal.
6. Mouthpiece, resusitation bags, atau alat bantu nafas tersedia dan siap digunakan
sewaktu-waktu sebagai pengganti resusitasi mulut ke mulut di tempat dimana
resusitasi sering dilakukan.
7. Petugas kesehatan yang mempunyai luka basah atau luka mengucurkan darah atau
cairan harus menjauhi tugas perawatan langsung kepada pasien atau menangani
alat perawatan pasien sampai sembuh. Hal tersebut ditekankan kembali untuk
melindungi kedua belah pihak baik pasien ataupun petugas itu sendiri.
8. Cara membawa linen dan bahan-bahan yang dikotori darah atau cairan tubuh harus
ditempatkan dalam kantong anti bocor.
9. Pengelolaan limbah medis dari lingkungan yang sesuai standar.
C. Komponen dan Pelaksanaan Kewaspadaan Umum

Komponen-komponen dari Kewaspaaan Universal yaitu :


1. Cuci Tangan
Mencuci tangan adalah prosedur kesehatan yang paling penting yang dapat
dilakukan oleh semua orang untuk mencegah penyebaran kuman. Mencuci tangan
adalah tindakan aktif, singkat dengan menggosok bersamaan semua permukaan
tangan yang bersabun, yang kemudian diikuti dengan membasuhnya dibawah air
hangat yang mengalir. Tujuannya adalah untuk membuang kotoran dan organisme
yang menempel dari tangan dan untuk mengurangi jumlah mikroba pada saat itu.
Cuci tangan harus selalu dilakukan dengan benar sebelum dan sesudah
melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau alat
pelindung lain untuk menghilangkan atau mengurangi mikroorganisme yang ada
ditangan sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan lingkungan terjaga dari
infeksi. Tangan harus dicuci sebelum dan sesudah memakai sarung tangan. Cuci
tangan tidak dapat digantikan oleh pemakaian sarung tangan.
Aspek terpenting dari mencuci tangan adalah pergesekan yang ditimbulkan
dengan menggosok tangan bersamaan mencuci tangan dengan sabun, dengan air
mengalir dan pergesekan yang dilakukan secara rutin.
Mikroorganisme pada kulit manusia dapat diklasifikasikan dalam dua
kelompok, yaitu flora risiden dan flora transien. Flora risiden adalah mikroorganisme
yang secara konsisten dapat diisolasi dari tangan manusia, tidak mudah dihilangkan
dengan gesekan mekanis yang telah beradaptasi pada kehidupan tangan manusia.
Flora transien yang disebut juga flora transit atau flora kontaminasi, jenisnya
tergantung dari lingkungan tempat bekerja. Mikroorganisme ini dengan mudah dapat
dihilangkan dari permukaan dengan gesekan mekanis dan pencucian dengan sabun
atau deterjen. Oleh karena itu cuci tangan adalah cara pencegahan infeksi yang
paling penting.
Tiga cara cuci tangan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan yaitu :
a. Cuci tangan higienik / rutin mengurangi kotoran dan flora yang ada di tangan
dengan menggunakan sabun atau detergen.
b. Cuci tangan aseptik sebelum tindakan aseptik pada pasien dengan menggunakan
anti septik.
c. Cuci tangan bedah (surgical handscrub) sebelum dilakukan tindakan bedah cara
aseptik dengan antiseptik dan sikap steril.
Pencucian tangan sangat penting dalam setiap lingkungan perawatan
kesehatan karena organisme transion dapat dengan mudah dihilangkan sebelum

pindah ke pasien lain. Pencucian tangan yang efektif adalah 10-15 detik, tetapi akan
dibutuhkan lebih banyak waktu jika tangan tersebut terlihat kotor.

a.

b.

a.

b.

c.

Cuci tangan harus dilakukan pada saat yang diantisipasi akan terjadi perpindahan
kuman melalui tangan, yaitu sebelum melakukan tindakan yang dimungkinkan terjadi
pencemaran, seperti:
Sebelum melakukan tindakan
Misalnya memulai pekerjaan (baru tiba di kantor/RS), saat akan memeriksa (kontak
langsung dengan pasien), saat akan memakai sarung tangan steril atau sarung
tangan yang telah didesinfeksi tingkat tinggi (DTT) untuk melakukan suatu tindakan,
saat akan memakai peralatan yang telah di-DTT, saat akan melakukan injeksi, dan
saat hendak pulang ke rumah.
Setelah melakukan tindakan yang dimungkinkan terjadi pencemaran
Misalnya setelah memeriksa pasien, setelah memegang alat-alat bekas pakai dan
bahan-bahan lain yang berisiko terkontaminasi, setelah menyentuh selaput mukosa,
darah, atau cairan tubuh lainnya, setelah membuka sarung tangan, setelah dari
toilet/ kamar kecil, setelah bersin atau batuk. Cuci tangan sesudah membuka sarung
tangan perlu dilakukan karena ada kemungkinan sarung tangan berlubang atau
robek.
Sarana Cuci Tangan
Air Mengalir
Sarana utama untuk cuci tangan adalah ketersediaan air mengalir dengan saluran
pembuangan atau bak penampung yang memadai. Dengan guyuran air mengalir
tersebut maka mikroorganisme yang terlepas karena gesekan mekanis atau kimiawi
saat cuci tangan akan terhalau dan tidak menempel lagi di permukaan kulit. Air
mengalir tersebut dapat berupa kran atau dengan cara mengguyur dengan gayung.
Namun cara mengguyur dengan gayung memiliki risiko cukup besar untuk terjadinya
pencemaran, baik melalui gagang gayung ataupun percikan air bekas cucian
kembali ke bak penampungan air bersih. Air kran bukan berarti harus dari PAM,
namun dapat diupayakan secara sederhana degan tangki berkran di ruang
pelayanan atau perawatan kesehatan agar mudah dijangkau oleh para petugas
kesehatan yang memerlukannya.
Sabun dan Deterjen
Bahan ini tidak membunuh mikroorganisme tetapi menghambat dan mengurangi
jumlah mikroorganisme dengan jalan mengurangi tegangan permukaan sehingga
mikroorganisme terlepas dari permukaan kulit dan mudah terhalau oleh air. Jumlah
mikroorganisme semakin berkurang dengan meningkatnya frekuensi cuci tangan.
Namun dilain pihak, dengan seringnya menggunakan sabun atau deterjen maka
lapisan lemak akan hilanh dan membuat kulit menjadi kering dan pecah-pecah.
Hilangnya lapisan lemak akan memberi peluang untuk tumbuhnya kembali
mikroorganisme.
Larutan Antiseptik
Larutan antiseptik atau disebut juga antimikroba topikal yang dipakai pada kulit atau
jaringan hidup lainnya untuk menghambat aktivitas atau membunuh mikroorganisme
pada kulit. Antiseptik memiliki bahan kimia yang memungkinkan untuk digunakan
pada kulit dan selaput mukosa. Antiseptik memiliki keragaman dalam hal efektivitas,
aktivitas, akibat dan rasa pada kulit setelah dipakai sesuai dengan keragaman jenis
antiseptik tersebut dan reaksi kulit masing-masing individu.

Kulit manusia tidak dapat disterilkan. Tujuan yang ingin dicapai adalah penurunan
jumlah mikroorganisme pada kulit secara maksimal terutama kuman transien.
Kriteria memilih antiseptik adalah:
Memiliki efek yang luas, menghambat atau merusak mikroorganisme secara luas
(gram positif dan gram negatif, virus lipofilik, basilus dan tuberkulosis, fungi,
endospora)
Efektifitas
Kecepatan aktifitas awal
Efek residu, aksi yang lama setelah pemakaian untuk meredam pertumbuhan
Tidak mengakibatkan iritasi kulit
Tidak menyebabkan alergi
Efektif sekali pakai, tidak perlu diulang-ulang
Dapat diterima secara visual maupun estetik
Beberapa jenis larutan antiseptik yang sering digunakan diantaranya adalah
Alkohol

(etil/isopropil),

Chlorhexedin

(Hibitane R, HibiscrubR), Hexachlorophen

(pHisoHexR), Yodium/Yod + Alkohol, dan Yodophor (Betadine R).

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Hal-hal yang harus diperhatikan pada penggunaan antiseptik antara lain:


Semua antiseptik dapat tercemar
Siapkan wadah yang lebih kecil untuk kebutuhan sehari-hari
Jangan merendam kasa atau lainnya di dalamnya
Botol yang sudah dibuka harus habis dalam 1 minggu
Simpan dalam tempat dingin dan gelap
Cuci wadah setiap kali mengganti dan keringkan terlebih dahulu
Beri label dan catat tanggal penggantian
Pemakaiannya dengan cara menuang dan bukan dengan mencelupkan kasa
Cuci Tangan Higienis/Rutin
Persiapan:
Sarana cuci tangan disiapkan di setiap ruang penderita dan tempat lain misalnya
ruang bedah, koridor
Air bersih yang mengalir (dari kran, ceret atau sumber lain)
Sabun sebaiknya dalam bentuk sabun cair
Lap kertas atau kain yang kering
Kuku dijaga selalu pendek
Cincin dan gelang perhiasan harus dilepas dari tanga
Prosedur:
Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air mengalir.
Taruh sabun di bagian telapak tangan yang telah basah. Buat busa secukupnya
tanpa percikan.
Gerakan cuci tangan terdiri dari gosokan kedua telapak tangan, gosokan telapak
tangan kanan di atas punggung tangan kiri dan sebaliknya, gosok kedua telapak
tangan dengan jari saling mengait, gosok kedua ibu jari dengan cara menggenggam
dan memutar, gosok telapak tangan.
Proses berlangsung selama 10-15 detik.
Bilas kembali dengan air sampai bersih.
Keringkan tangan dengan handuk atau kertas yang bersih atau tisu atau handuk
katun kain sekali pakai.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Matikan kran dengan kertas atau tisu.


Pada cuci tangan aseptik/ bedah diikuti larangan menyentuh permukaan yang tidak
steril.
Cuci Tangan Aseptik
Cuci tangan aseptik biasanya dilakukan saat akan melakukan tindakan aseptik pada
pasien atau saat akan kontak dengan penderita pada keadaan tertentu misalnya
penderita dengan imunitas rendah. Persiapan dan prosedur pada cuci tangan
aseptik sama dengan persiapan dan prosedur pada cuci tangan higienis hanya saja
bahan deterjen atau sabun diganti dengan antiseptik dan setelah mencuci tangan
tidak boleh menyentuh bahan yang tidak steril.
Cuci Tangan Bedah
Persiapan:
Air mengalir
Sikat dan spons steril
Sabun antiseptik
Lap kain atau handuk steril
Kuku dijaga selalu pendek dan bersihkan dengan alat berupa batang kayu kecil yang
lunak
Lepaskan semua perhiasan tangan.
Prosedur:
Nyalakan kran.
Basahi tangan dan lengan bawah dengan air.
Taruh sabun antiseptik di bagian telapak tangan yang telah basah. Buat busa
secukupnya tanpa percikan.
Sikat bagian bawah kuku dengan sikat yang lembut.
Buat gerakan mencuci tangan seperti cuci tangan biasa dengan waktu lebih lama.
Gosok tangan dan lengan satu per satu secara bergantian dengan gerakan
melingkar.
Sikat lembut hanya digunakan untuk membersihkan kuku saja bukan untuk menyikat
kulit yang lain oleh karena dapat melukainya. Untuk menggosok kulit dapat
digunakan spon steril sekali pakai.
Proses cuci tangan bedah berlangsung selama 3 hingga 5 menit dengan prinsip
sependek mungkin tapi cukup memadai untuk mengurangi jumlah bakteri yang
menempel di tangan.
Selama cuci tangan jaga agar letak tangan lebih tinggi dari siku agar air mengalir
dari arah tangan ke wastafel.
Jangan sentuh wastafel, kran atau gaun pelindung.
Keringkan tangan dengan lap steril.
Gosok dengan alkohol 70 % atau campuran alkohol 70 % dan klorheksidin 0,5%
selama 5 menit dan keringkan kembali.
Kenakan gaun pelindung dan sarung tangan steril setelah tangan betul-betul kering.
Cuci tangan alternatif
Cuci tangan alternatif merupakan cara lain yang biasanya dilakukan oleh
masyarakat, berbeda dengan cuci tangan higienis ataupun aseptik yang
menggunakan sabun atau antiseptik, cuci tangan alternatif bisa menggunakan
bahan cuci tangan yang berbeda. Cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air,
suatu cara yang sudah diketahui sejak lama, ternyata merupakan cara terbaik dalam
membebaskan tangan dari kuman penyakit. Walaupun saat ini telah bermunculan
berbagai produk untuk membersihkan tangan seperti gel anti bakteri dan tisu basah.
Studi di delapan provinsi mendapati warga memandang praktik cuci tangan hanya

dengan air sebagai praktik yang mudah dilakukan. Bagi warga, mencuci tangan
dapat dilakukan di berbagai tempat, seperti kamar mandi, sumur, kran air, tempat
wudhu, ladang, sawah, sampai air diam di ember atau baskom asalkan air tersedia.
Bahkan, ada warga di pedesaan memiliki alternatif lain selain sabun yang dipercayai
dapat membuat tangan mereka bersih setelah kotor akibat bekerja.
2. Alat Pelindung Diri (APD)
Alat pelindung tubuh digunakan untuk melindungi kulit dan selaput lendir petugas
dari resiko pajanan darah, semua cairan tubuh, sekret, ekskreta, kulit yang tidak
utuh dan selaput lendir pasien. Jenis tindakan yang dianggap beresiko dan
memerlukan penggunaan alat pelindung diri mencakup tindakan rutin, tindakan
bedah tulang, otopsi atau perawatan gigi yang menggunakan bor dengan kecepatan
putar yang tinggi.
Jenis-jenis alat pelindung yaitu :
a. Sarung tangan
b. Pelindung wajah / masker / kaca mata
c. Penutup kepala
d. Gaun pelindung ( baju kerja / celemek )
e. Sepatu pelindung
Untuk lebih jelasnya alat pelindung diri (APD) akan dipaparkan sebagai berikut:
a. Sarung Tangan
Berikut beberapa alasan mengenakan sarung tangan sebagai alat pelindung diri
adalah :
Mengurangi kemungkinan pekerja kontak dengan organisme infeksi yang
menginfeksi klien.
Mengurangi kemungkinan pekerja memindahkan flora endogen mereka sendiri ke
klien.
Mengurangi kemungkinan pekerja menjadi tempat kolonisasi sementara
mikroorganisme yang dapat dipindahkan pada klien lain.
Penggunaan sarung tangan harus segera dipakai bilamana :
Akan terjadi kontak tangan pemeriksa dengan darah, cairan tubuh, selaput lendir,
atau kulit yang terluka.
Akan melakukan tindakan medik invasif (pemasangan alat-alat vaskular seperti
intravena perifer).
Akan membersihkan sampah terkontaminasi atau memegang permukaan yang
terkontaminasi.
Sarung tangan mencegah penularan kuman patogen melalui cara kontak
langsung maupun tidak langsung. Ada 3 jenis sarung tangan, yaitu :
Sarung tangan bedah, dipakai sewaktu melakukan tindakan invasif atau
pembedahan.
Sarung tangan pemeriksaan, dipakai untuk melindungi petugas kesehatan sewaktu
melakukan pemeriksaan atau pekerjaan rutin.
Sarung tangan rumah tangga, dipakai sewaktu memproses peralatan menangani
bahan-bahan terkontaminasi dan sewaktu membersihkan permukaan yang
terkontaminasi.
Hal-hal yang perlu dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam pemakaian sarung
tangan :
Pakailah ukuran yang sesuai.
Gantilah sarung tangan secara berkala pada tindakan yang memerlukan waktu lama.
Potonglah kuku cukup pendek untuk mengurangi risiko robek atau berlubang.

Tariklah sarung tangan sampai meliputi tangan baju (jika pakai baju operasi).
Pakailah cairan pelembab untuk mencegah kulit dari kekeringan atau berkerut.
Jangan pakai cairan atau krim berbasis minyak, karena akan merusak sarung
tangan.
Jangan pakai cairan pelembab yang terlalu wangi karena dapat merangsang kulit
dan menyebabkan iritasi.
Jangan simpan sarung tangan di tempat dengan suhu terlalu panas atau terlalu
dingin.
Langkah-langkah atau prosedur dalam penggunaan sarung tangan :
Siapkan kemasan sarung tangan steril yang sesuai.
Lakukan cuci tangan dengan seksama.
Buka pembungkus bagian paling luar dari kemasan sarung tangan. Pisahkan dan
lepaskan sisi-sisinya.
Pegang bagian dalam kemasan dan letakkan pada permukaan yang bersih datar
tepat di atas tinggi siku. Buka kemasan, jaga supaya sarung tangan tetap di atas
permukaan bagian dalam pembungkus.
Jika sarung tangan tidak dibedak, ambil pak bedak dan pakai tipis-tipis pada tangan
diatas wastafel atau keranjang sampah.
Identifikasi sarung tangan kanan dan kiri. Kenakan sarung tangan dominan terlebih
dahulu.
Dengan ibu jari dan telunjuk serta jari tengah dari tangan non dominan, pegang tepi
dari manset sarung tangan untuk tangan dominan sentuh hanya permukaan bagian
dalam sarung tangan.
Pakai sarung tangan pada tangan dominan, biarkan manset dan pastikan manset
tidak bertumpuk di pergelangan tangan. Pastikan ibu dan jari lainnya berada pada
tempat yang tepat.
Dengan tangan yang dominan yang bersarung tangan selipkan jari di dalam manset
sarung tangan kedua.
Kenakan sarung tangan kedua pada tangan nondominan. Jangan biarkan jari
tangan dan ibu jari tangan dominan yang bersarung tangan menyentuh setiap
bagian tangan non dominan yang dibuka. Jaga supaya ibu jari tangan dominan
terabduksi kebelakang.
Setelah sarung tangan kedua dikenakan tautkan kedua tangan.
Cara yang dilakukan didalam melepaskan sarung tangan yang telah dipakai :
Pegang bagian luar dari satu manset dengan tangan yang bersarung tangan hindari
menyentuh pergelangan tangan.
Lepaskan sarung tangan, balikan menjadi bagian dalam keluar. Buang ke
pembuangan.
Dengan jari yang telah lepas tersebut ambil bagian dalam dari sarung tangan yang
masih dikenakan lepaskan sarung tangan bagian dalam keluar. Buang di tempat
pembuangan.
b. Masker
Masker harus dikenakan bila diperkirakan ada percikan atau semprotan dari darah
atau cairan tubuh ke wajah. Selain itu, masker menghindarkan perawat menghirup
mikroorganisme dari saluran pernapasan klien dan mencegah penularan kuman
patogen dari saluran pernapasan perawat ke klien.

Masker yang dipakai dengan tepat terpasang pas nyaman di atas mulut dan hidung
sehingga kuman patogen dan cairan tubuh tidak dapat memasuki atau keluar dari
sela-selanya.
Langkah-langkah penggunaan masker :
Ambil bagian atas masker (biasanya sepanjang tepi tersebut ada stip motal yang
tipis).
Pegang masker pada 2 tali atau ikatan bagian atas belakang kepala dengan tali
melewati atas telinga.
Ikatkan dua tali bagian bawah masker sampai ke bawah dagu.
Dengan lembut jepitkan pita motal bagian atas pada batang hidung.
c. Gaun / baju pelindung
Gaun / baju pelindung atau jubah atau celemek, merupakan salah satu jenis pakaian
kerja. Seperti diketahui bahwa pakaian kerja dapat berupa seragam kerja, gaun
bedah, jas laboratorium dan celemek.
Tujuan pemakaian gaun pelindung adalah untuk melindungi petugas dari
kemungkinan genangan atau percikan darah atau cairan tubuh lain yang dapat
mencemari baju atau seragam.
Adapun jenis gaun pelindung tersebut ada berbagai macam bila dipandang dari
berbagai macam aspeknya, seperti gaun pelindung tidak kedap air dan gaun
pelindung kedap air, gaun pelindung steril dan non steril.
Gaun pelindung steril dipakai oleh ahli bedah dan para asistennya pada saat
melakukan pembedahan sedang gaun pelindung non-steril dipakai di berbagai unit
yang berisiko tinggi, misalnya pengunjung kamar bersalin, ruang pulih di kamar
bedah, ruang rawat intensif (ICU), rawat darurat dan kamar bayi.
Gaun pelindung dapat dibuat dari bahan yang dapat dicuci dan dapat dipakai ulang
(kain), tetapi dapat juga terbuat dari bahan kertas kedap air yang hanya dapat
dipakai sekali saja (disposable). Gaun pelindung sekali pakai ini biasanya dipakai
dalam kamar bedah, karena lebih banyak terpajan cairan tubuh yang dapat
menyebabkan infeksi.
Gaun pelindung kedap air dapat pula dibuat dari bahan yang dapat dicuci melalui
proses dekontaminasi dan dapat dipakai ulang. Seperti misalnya plastik. Biasanya
dipakai sebagai pelapis di bagian dalam gaun pelindung steril tidak kedap air, untuk
mencegah tembusnya cairan tubuh kepada pemakai atau untuk keperluan lain,
seperti misalnya pada saat membersihkan luka, melakukan irigasi, melakukan
tindakan drainase, menuangkan cairan terkontaminasi ke dalam lubang
pembuangan WC atau toilet, mengganti pembalut, menangani pasien dengan
pendarahan masif, melakukan tindakan bedah termasuk otopsi, perawatan gigi, dan
sebagainya.
Sebaiknya setiap kali bertugas, tenaga kesehatan selalu memakai pakaian kerja
yang bersih, termasuk gaun pelindung atau celemek. Gaun pelindung harus segera
diganti bila terkena kotoran, darah atau cairan tubuh.
Tata cara penggunaan gaun pelindung :
Lepaskan jam tangan anda dan letakkan di sisi yang bersih dari handuk kerja yang
terbuka.
Cuci tangan anda.
Gaun dapat dipakai sendiri oleh pemakai atau dipakaikan oleh orang lain.
Kenakan gaun pelindung dengan memasukkan kedua lengan ke dalam lengan baju.
Selipkan jari-jari anda di bawah dalam tali leher baju dan tarik tali-tali tersebut ke
belakang. Ikat tali leher tersebut dengan simpul yang sederhana.

Raihlah bagian belakang dan tarik sisi gaun sehingga seragam anda tertutup
seluruhnya. Ikat tali pinggang dengan simpul sederhana.
3. Pencegahan luka tusukan jarum dan benda tajam lainnya
Dalam mencegah luka tuuskan jarum dan benda tajam lainnya, maka
seorang perawat harus berhati-hati dalam melakukan
a. Memegang jarum, pisau, dan alat-alat tajam lainnya.
b. Bersihkan alat-alat yang telah digunakan.
c. Buang jarum dan alat-alat tajam lainya yang telah digunakan.
4. Kebersihan pernapasan dan etika batuk
Seseorang dengan gejala gangguan napas harus menerapkan langkahlangkah pengendalian sumber dengan cara tutup hidung dan mulut saat batuk/bersin
dengan tisu dan masker, serta membersihkan tangan setelah kontak dengan sekret
saluran napas.
Fasilitas pelayanan kesehatan harus:
a. Menempatkan pasien dengan gejala gangguan pernapasan akut setidaknya 1 meter
dari pasien lain saat berada di ruang umum jika memungkinkan.
b. Letakkan tanda peringatan untuk melakukan kebersihan pernapasan dan etika batuk
pada pintu masuk fasilitas pelayanan kesehatan.
c. Pertimbangkan untuk meletakkan perlengkapan/ fasilitas kebersihan tangan di
tempat umum dan area evaluasi pasien dengan gangguan pernapasan.
5. Kebersihan Lingkungan
Gunakan prosedur yang memadai untuk kebersihan rutin dan disinfeksi
permukaan lingkungan dan benda lain yang sering disentuh.
6. Linen
Penanganan, transportasi, dan pemrosesan linen yang telah dipakai dengan cara:
a. Cegah pajanan pada kulit dan membran mukosa serta kontaminasi pada pakaian.
b. Cegah penyebaran patogen ke pasien lain dan lingkungan.
7. Pembuangan Limbah
a. Pastikan pengelolaan limbah yang aman.
b. Perlakukan limbah yang terkontaminasi darah, cairan tubuh, sekret, dan ekskresi
sebagai limbah infeksius, berdasarkan peraturan setempat.
c. Jaringan manusia dan limbah laboratorium yang secara langsung berhubungan
dengan pemrosesan spesimen harus juga diperlakukan sebagai limbah infeksius.
d. Buang alat sekali pakai dengan benar.
8. Peralatan perawatan pasien
a. Peralatan yang ternoda oleh darah, cairan tubuh, sekret, dan ekskresi harus
diperlakukan sedemikian rupa sehingga pajanan pada kulit dan membran mukosa,

kontaminasi pakaian, dan penyebaran patogen ke pasien lain atau lingkungan dapat
dicegah.
b. Bersihkan, disinfeksi, dan proses kembali perlengkapan yang digunakan ulang
dengan benar sebelum digunakan pada pasien lain.
D. Dekontaminasi
Dekontaminasi adalah menghilangkan mikroorganisme patogen dan kotoran dari
suatu benda sehingga aman untuk pengelolaan selanjutnya dan dilakukan sebagai
langkah pertama bagi pengelolaan alat kesehatan habis pakai.
Dekontaminasi bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi melalui alat
kesehatan atau suatu permukaan benda, misalnya HIV, hepatitis dan kotoran lain
yang tidak tampak, sehingga dapat melindungi petugas maupun pasien.
Dekontaminasi dilakukan dengan menggunakan bahan desinfektan, yaitu
suatu bahan atau larutan kimia yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme
pada benda mati, dan tidak digunakan untuk kulit dan jaringan mukosa.
Dapat dijumpai berbagai macam desinfektan di pasaran dengan daya kerja masingmasing. Desinfektan yang biasa dipergunakan di negara berkembang seperti
Indonesia adalah larutan klorin 0,5% atau 0,05% sesuai dengan intensitas cemaran
dan jenis alat atau permukaan yang akan didekontaminasi.
Kebanyakan alat kesehatan terkontaminasi oleh darah atau cairan tubuh yang
membawa berbagai organisme penyakit. Oleh karena itu petugas kesehatan yang
bekerja dengan resiko terpajan oleh darah dan cairan tubuh harus menggunakan
alat pelindung yang memadai dan melaksanakan prosedur kerja yang meminimalkan
resiko pajanan terhadap lapisan mukosa dan kontak parenteral melalui bahan-bahan
terkontaminasi.
Sedapat mungkin pemilahan dilakukan oleh sipemakai di tempat segera setelah
pemakaian selagi mereka mengenakan alat pelindung yang memadai, seperti
misalnya di ruang operasi. Apabila pemilahan harus dilakukan diluar tempat
pemakai maka harus dibatasi pada pemilahan antara alat yang akan diproses lebih
lanjut dan alat sekali pakai. Pemilahan meliputi pelepasan alat dari engsel dan
kuncinya agar mudah dibersihkan namun harus dijaga agar alat tersebut tetap
berada dalam satu bungkus untuk memudahkan pemasangan kembali kala akan
digunakan nanti.
E. Sterilisasi
Sterilisasi adalah suatu proses untuk menghilangkan seluruh mikroorganisme dari
alat kesehatan termasuk endospora bakteri. Sterilisasi biasanya dilaksanakan di
rumah sakit baik secara fisik maupun secara kimiawi. Cara dan zat yang sering
digunakan untuk sterilisasi di rumah sakit adalah uap panas bertekanan, pemanasan
kering, gas etilin oksida, zat kimia cair. Istilah steril mengandung arti mutlak yang
berarti semua bentuk dan jenis mikroorganisme betul-betul musnah. Bila kontak
dengan bahan kimia tersebut lebih singkat maka hanya sebagian mikroorganisme
saja yang mati dann proses tersebut disebut proses desinfeksi. Jadi tidak ada istilah
semi steril.
Sterilisasi adalah proses pengelolaan suatu alat atau bahan dengan tujuan
mematikan semua mikroorganisme termasuk endospora. Sterilisasi adalah cara
yang paling aman dan paling efektif untuk pengelolaan alat kesehatan yang
berhubungan langsung dengan darah atau jaringan di bawah kulit yang secara
normal bersifat steril.

Sterilisasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara fisik dan kimiawi. Sterilasi
secara fisik yaitu dengan pemanasan, radiasi, dan filtrasi sedangkan sterilisasi
secara kimiawi adalah dengan menggunakan bahan kimia dengan cara merendam
(misalnya dalam larutan glutardehid) dan menguapi dengan gas kimia (diantaranya
dengan gas etilin oksida).
Pada sterilisasi fisik dengan pemanasan basah (uap panas) bertekanan tinggi
(otoklaf) sterilisasi terjadi melalui koagulasi dan denaturasi protein. Perlu diingat
bahwa merebus bukan cara untuk sterilisasi melainkan cara untuk desinfeksi.
Sterilisasi dengan otoklaf adalah cara yang paling efisien karena suhu yang dicapai
melebihi titik didih air, yaitu setinggi 121o C dengan membutuhkan waktu sterilisasi
selama 20-30 menit yang dihitung setelah suhu 121 o C tercapai. Untuk mengawasi
kualitas sterilisasi maka digunakan indikator spora tahan panas seperti bacillus
stearothermophilus. Sterilisasi harus dikalibrasi setiap 6 bulan.
Sterilisasi fisik dengan pemanasan kering (dryheat) dapat dilakukan dengan
menggunakan oven, membakar dan sinar ultraviolet. Sterilisasi terjadi melalui
oksidasi dan denaturasi protein. Pada pemanasan dengan oven dibutuhkan panas
setinggi 150-170o C dengan waktu yang lebih lama dari otoklaf. Sebagai gambaran
untuk mematikan spora dibutuhkan waktu 2 jam dengan suhu 180 o C.
Sterilisasi fisik radiasi dilakukan dengan menggunakan sinar gamma. Namun cara ini
tidak sesuai untuk sterilisasi skala kecil seperti rumas sakit. Cara ini hanya cocok
digunakan untuk industri besar seperti jarum suntik, semprit sekali pakai, dan alat
infus.
Sterilsasi fisik filtrasi dilakukan untuk mensterilkan cairan yang tidak tahan terhadap
panas seperti serum, plsama atau vaksin. Sterilisasi ini menggunakan saringan atau
filter yang terbuat dari selulosa berpori. Ukuran penyaring untuk sterilisasi adalah
0,22 m, yang berarti lebih kecil dari bakteri.

a.
b.
c.
d.

F. Tujuan Kewaspadaan Umum / Standar / Universal


Tujuan Kewaspadaan Universal ini adalah mencegah penularan dan penyebaran
infeksi dari :
Pasien ke petugas kesehatan
Petugas kesehatan ke pasien
Pasien ke pasien lainnya
Pasien ke keluarga dan pengunjung sarana kesehatan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Budiarto, E. And Anggraeni, D. 2003. Pengantar Epidemiologi Edisi 2, Jakarta: EGC.

Bustan, M.N. ,2006. Pengantar Epidemiologi Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Lapau,B. 2007. Prinsip dan Metode Epidemiologi. Jakarta: Uhamka Press.
Murti,B. 1995. Pengantar dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Noor, Nur Nasry. 2008. Epidemiologi Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. 2007. Kesehatan Masyarakat, Ilmu dan Seni, Jakarta , Rineka Cipta.

Diposkan oleh syawir-uimkeperawatan di 04.04


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Nilai:
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Link ke posting ini
Buat sebuah Link
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Welcome
Selamat Datang di Blog Saya....
Blog ini berisi materi-materi dunia Nursing... Baik itu ASKEP maupun tugas-tugas
tentang keperawatan lainnya....

Twitter
Pendidikan
SD Neg. 23 Soreang Maros
SLTP Neg. 2 Maros
SMA Neg. 2 Maros
Jurusan Keperawatan Universitas Islam Makassar (UIM)

Lencana Facebook

Syawiermreyeglassez Nackzmhayostz

Buat Lencana Anda

Mengenai Saya

syawir-uimkeperawatan
Maros, Makassar, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Penilaian tentangblog ini?


Amazon MP3 Clips
Yahoo News: Top Stories
Kunjungi Blog & Web Lainnya

ALL PROBLEM NURSING CARE


teori dan model KEPERAWATAN MENURUT SISTER CALISTA ROY
3 tahun yang lalu

askep-askeb
cara cepat hamil
3 tahun yang lalu

Hizbut Tahrir Indonesia


[FOTO] HTI Sulsel Bahas Pemufakatan Jahat Dibalik Tax Amnesty
4 jam yang lalu

http://dastodebelto.blogspot.com
JUDUL SKRIPSI
6 tahun yang lalu

Kotak Musik - Music Box


szgfdbnd
5 tahun yang lalu

KUMPULAN ASUHAN KEPERAWATAN


Asuhan Keperawatan Pada Pasien Meningitis
2 tahun yang lalu

Live Information Update Olahraga SepakBola Liga Champion Liga Eropa Liga
Inggris Liga Italia 2011
Bocoran Jitu Togel Hk 16 November 2015
10 bulan yang lalu

menyentuh batinku
Hidup ini pilihan
5 tahun yang lalu

My Life Is Perfect Because Of You


Pemilik Hatiku
4 tahun yang lalu

Ocehan Bg Ary
Strategi Bersaing Mengadapi ASEAN Economic Community 2015
1 tahun yang lalu

PARIANTO
Glomerulonefritis akut
5 tahun yang lalu

Rizki Sulistyanto, S.Ked


Rizki Sulistyanto, S.Ked: Fraktur Pelvis
6 tahun yang lalu

www.trinoval.web.id

Pengikut
Arsip Blog

2012 (12)

2011 (37)
o

Mei (12)

Universal Precautions

ASKEP : Meniere

ASKEP : Trauma Ekstremitas

ASKEP : Tumor Uterus

ASKEP : Carsinoma Mammae

ASKEP : Scabies

ASKEP : Plasenta Previa

ASKEP : Glaukoma

ASKEP : Enchepalitis

ASKEP : Ekstraksi Vacum

ASKEP : Katarak

ASKEP : Retansio Placenta

April (14)

Februari (6)

Januari (5)

2010 (9)

Ada kesalahan di dalam gadget ini

T0taL PeN9unJunG
98745
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Laman

Beranda

Cari Blog Ini

Template Awesome Inc.. Gambar template oleh enjoynz. Diberdayakan oleh Blogger.

nursing student archive


share : laporan pendahuluan berbagai penyakit, asuhan keperawatan, nursing intervention :)

Tuesday, August 2, 2011


UNIVERSAL PRECAUTION
1. FLU BURUNG
A. Pengertian
Influenza burung atau avian influenza merupakan penyakit infeksi akibat virus influenza tipe
A dan ditularkan melalui unggas. Penyakit flu burung disebabkan oleh virus avian influenza
jenis H5N1 (FAO, Buku Petunjuk bagi Paramedik Veteriner).
B. Cara penularan
Penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui :

Binatang : Kontak langsung dengan unggas atau binatang lain yang sakit atau produk unggas
yang sakit.

Lingkungan : Udara atau peralatan yang tercemar virus tersebut baik yang berasal dari tinja
atau sekret unggas yang terserang Flu Burung.

Manusia : Sangat terbatas dan tidak efisien (ditemukannya beberapa kasus dalam kelompok /
cluster).

Makanan : Mengkonsumsi produk unggas mentah atau yang tidak dimasak dengan sempurna
di wilayah yang dicurigai atau dipastikan terdapat hewan atau manusia yang terinfeksi H5N1
dalam satu bulan terakhir.

C. Universal Precaution
1. Tujuan penerapan Universal Precaution pada pasien Flu Burung

Untuk mencegah penularan lebih luas.

Menjalankan perawatan sesuai dengan prosedur


2. Penerapan Universal Precaution pada pasien Flu Burung
Untuk mencegah penyebaran virus flu burung di rumah sakit, semua pasien flu burung mulai
dari kasus suspek hingga kasus terkonfirmasi harus dirawat di ruang isolasi dengan
menerapkan isolasi ketat (strict barrier) dan selalu menerapkan Universal Precaution di
setiap ruangannya.
Ruang Perawatan isolasi terdiri dari :

Ruang ganti umum

Ruang bersih dalam

Stasi perawat

Ruang rawat pasien

Ruang dekontaminasi

Kamar mandi petugas


Selain itu UP juga bisa diterapkan di Bandara Internasional, tempat petugas hewan,
tempat pemeliharaan hewan unggas, petugas kesehatan hewan. Prinsip kewaspadaan airborne
harus diterapkan di setiap ruang perawatan isolasi yaitu:

Ruang rawat harus dipantau agar tetap dalam tekanan negative dibanding tekanan di koridor.

Pergantian sirkulasi udara 6-12 kali perjam.

Udara harus dibuang keluar, atau diresirkulasi dengan menggunakan filter HEPA (HighEfficiency Particulate Air)
3.

Macam-macam alat pelindung yang dibutuhkan dalam penanganan Flu Burung serta

Fungsi alat pelindung tersebut:


Jenis-jenis alat pelindung :

1.

Sarung tangan

Sarung tangan kesehatan pendek

Sarung tangan kesehatan panjang/obgyn

Sarung tangan rumah tangga pendek

Sarung tangan rumah tangga panjang

2.

Pelindung wajah

Visor

Goggle / kacamata pelindung

Masker N 95 / N 100

Masker bedah / disposible

3.

Penutup Kepala

4.

Gaun Pelindung

Apron / celemek kedap air

Jas operasi

5.

Sepatu pelindung

Manfaat Alat Pelindung :


Alat Pelindung
Sarung Tangan

Masker

Terhadap Pasien

Terhadap Tenaga

Mencegah kontak

Kesehatan
Mencegah kontak tangan

Mikroorganisme dari

dengan

tenaga kesehatan kepada

tubuh, mukosa, kulit luka

pasien.

atau alat kesehatan yang

darah/

cairan

terkontaminasi.
Mencegah kontak droplet Mencegah mukosa tenaga
dari mulut dan hidung kesehatan
tenaga

kesehatan,

saat mulut)

(hidung

kontak

dan

dengan

bernafas, bicara atau batuk darah atau cairan tubuh


Kacamata Pelindung

di dekat pasien.
-

pasien.
Mencegah mukosa tenaga
kesehatan kontak dengan
darah atau cairan tubuh
pasien.

Penutup Kepala

Mencegah jatuhnya

mikroorganisme
rambut/kepala tenaga
Jubah

dan

kesehatan ke daerah steril.


Celemek Mencegah
kontak Mencegah

Plastik

mikroorganisme
tubuh/

Sepatu Pelindung

pakaian

kulit

tenaga

dari kesehatan kontak dengan


tenaga darah atau cairan tubuh

kesehatan kepada pasien.


pasien.
Mengurangi terbawanya Mencegah
mikroorganisme
ruangan lain.

kaki

terluka

dari oleh benda tajam yang


terkontaminasi

atau

terjepit benda berat dan


mencegah kontak dengan
darah atau cairan tubuh
lainnya.

2. SARS
A. Pengertian
SARS singkatan dari Severe Acute Respiratory Syndrome adalah sekumpulan gejala sakit
pernapasan yang mendadak dan berat atau disebut juga penyakit infeksi saluran pernafasan
yang disebabkan oleh virus Corona Family Paramyxovirus.
SARS (severe acute respiratory syndrome) adalah suatu jenis kegagalan paru-paru dengan
berbagai kelainan yang berbeda, yang menyebabkan terjadinya pengumpulan cairan di paruparu (edema paru). SARS merupakan kedaruratan medis yang dapat terjadi pada orang yang
sebelumnya mempunyai paru-paru yang normal.
Alat Pelindung Diri adalah alat-alat yang mampu memberikan perlindungan terhadap bahayabahaya kecelakaan (Sumamur,1991). Alat Pelindung Diri harus mampu melindungi
pemakainya dari bahaya-bahaya kecelakaan yang mungkin ditimbulkan, oleh karena itu, APD
dipilih secara hati-hati agar dapat memenuhi beberapa ketentuan yang diperlukan.

B. Cara Penularan

Metode penularannya melalui udara serta kontak langsung dengan pasien atau terkena cairan
pasien. Misalnya terkena ludah (droplet) saat pasien bersin dan batuk. Dan kemungkinan juga
melalui pakaian dan alat-alat yang terkontaminasi.
Cara penularan : SARS ditularkan melalui kontak dekat, misalnya pada waktu merawat
penderita, tinggal satu rumah dengan penderita atau kontak langsung dengan secret atau
cairan tubuh dari penderita suspect atau probable.
Penularan melalui udara, misalnya penyebaran udara, ventilasi, dalam satu kendaraan atau
dalam satu gedung diperkirakan tidak terjadi, asal tidak kontak langsung berhadapan dengan
penderita SARS. Untuk sementara, masa menular adalah mulai saat terdapat demam atau
tanda-tanda gangguan pernafasan hingga penyakitnya dinyatakan sembuh. Masa penularan
berlangsung kurang dari 21 hari. Petugas kesehatan yang kontak langsung dengan penderita
mempunyai risiko paling tinggi tertular, lebih-lebih pada petugas yang melakukan tindakan
pada sistem pernafasan seperti melakukan intubasi atau nebulasi.
Corona menyebar lewat udara, masuk melalui saluran pernapasan, lalu bersarang di paruparu. Lalu berinkubasi dalam paru-paru selama 2-10 hari yang kemudian menyebabkan paruparu akan meradang sehingga bernapas menjadi sulit.
C. Universal Precaution

PRINSIP JENIS-JENIS ALAT PELINDUNG DIRI

1.

SARUNG TANGAN : melindungi tangan dari bahan yang dapat menularkan penyakit dan
melindungi pasien dari mikroorganisme yang berada di tangan petugas kesehatan. Sarung
tangan merupakan penghalang (barrier) fisik paling penting untuk mencegah penyebaran
infeksi. Sarung tangan harus diganti antara setiap kontak dengan satu pasien ke pasien
lainnya, untuk menghindari kontaminasi silang

KAPAN PEMAKAIAN SARUNG TANGAN DIPERLUKAN


Meskipun efektifitas pemakaian sarung tangan dalam mencegah kontaminasi dari petugas
kesehatan telah terbukti berulang kali (Tenorio et al. 2001) tetapi pemakaian sarung tangan
tidak menggantikan kebutuhan untuk mencuci tangan. Sebab sarung tangan bedah lateks
dengan kualitas terbaik sekalipun, mungkin mengalami kerusakan kecil yang tidak terlihat,
sarung tangan mungkin robek pada saat digunakan atau tangan terkontaminasi pada saat
melepas

sarung

tangan(Bagg,

Jenkins

dan

Barker

1990;

Davis

2001).

Tergantung keadaan, sarung tangan periksa atau serbaguna bersih harus digunakan oleh
semua petugas ketika

Ada kemungkinan kontak tangan dengan darah atau cairan tubuh lain, membran mukosa atau
kulit yang terlepas

Melakukan prosedur medis yang bersifat invasif misalnya menusukkan sesuatu kedalam
pembuluh darah, seperti memasang infuse

Menangani bahan-bahan bekas pakai yang telah terkontaminasi atau menyentuh permukaan
yang tercemar

Menerapkan Kewaspadaan Berdasarkan Penularan melalui kontak (yang diperlukan pada


kasus penyakit menular melalui kontak yang telah diketahui atau dicurigal), yang
mengharuskan petugas kesehatan menggunakan sarung tangan bersih, tidak steril ketika
memasuki ruangan pasien. Petugas kesehatan harus melepas sarung tangan tersebut sebelum
meninggalkan ruangan pasien clan mencuci tangan dengan air dan sabun atau dengan
handrub berbasis alkohol.
Satu pasang sarung tangan harus digunakan untuk setiap pasien, sebagai upaya menghindari
kontaminasi silang (CDC 1987). Pemakaian sepasang sarung tangan yang sama atau mencuci
tangan yang masih bersarung tangan, ketika berpindah dari satu pasien ke pasien lain atau
ketika melakukan perawatan di bagian tubuh yang kotor kemudian berpindah ke bagian tubuh
yang bersih, bukan merupakan praktek yang aman. Doebbeling dan Colleagues (1988)
menemukan bakteri dalam jumlah bermakna pada tangan petugas yang hanya mencuci tangan
dalam keadaan masih memakai sarung tangan dan tidak mengganti sarung tangan ketika
berpindah dari satu pasien ke pasien lain.
HAL YANG HARUS DILAKUKAN BILA PERSEDIAAN SARUNG TANGAN
TERBATAS
Bila sumber daya terbatas dan jumlah sarung tangan periksa tidak memadai, sarung tangan
bedah sekali pakai (disposable) yang sudah digunakan dapat diproses ulang dengan cara :

Dekontaminasi dengan merendam dalam larutan Morin 0,5% selama 10 menit

Dicuci dan bilas, serta dikeringkan

Sterilkan dengan menggunakan autoklaf atau didisinfeksi tingkat tinggi (dengan dikukus).
Bila sarung tangan rumah tangga tidak tersedia, gunakan dug lapis sarung tangan periksa atau
sarung tangan bedah yang telah diproses untuk memberikan perlindungan yang cukup bagi
petugas kebersihan, petugas laundry, pekarya serta petugas yang menangani dan membuang
limbah medis.

HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PEMAKAIAN SARUNG TANGAN

Gunakan sarung tangan dengan ukuran yang sesuai, khususnya untuk sarung tangan bedah.
Sarung tangan yang tidak sesuai dengan ukuran tangan dapat menggangu ketrampilan dan
mudah robek

Jaga agar kuku selalu pendek untuk menurunkan risiko sarung tangan robek
Tarik sarung tangan ke atas manset gaup Oika Anda memakainya) untuk melindungi
pergelangan tangan

Gunakan pelembab yang larut dalam air (tidak mengandung lemak) untuk mencegah kulit
tangan kering/berkerut

Jangan gunakan lotion atau krim berbasis minyak, karena akan merusak sarung tangan bedah
maupun sarung tangan periksa dari lateks

Jangan menggunakan cairan pelembab yang mengandung parfum karena dapat


menyebabkan iritasi pada kulit

Jangan menyimpan sarung tangan di tempat dengan suhu yang terlalu pangs atau terlalu
dingin misalnya di bawah sinar matahari langsung, di dekat pemanas, AC, cahaya ultraviolet,
cahaya fluoresen atau mesin rontgen, karena dapat merusak bahan sarung tangan sehingga
mengurangi efektifitasnya sebagai pelindung
REAKSI ALERGI TERHADAP SARUNG TANGAN
Reaksi alergi terhadap sarung tangan lateks semakin banyak dilaporkan oleh berbagai petugas
di fasilitas kesehatan, termasuk bagian rumah tangga, petugas laboratorium dan dokter gigi..
Jika memungkinkan, sarung tangan bebas lateks (nitril) atau sarung tangan lateks rendah
alergen harus digunakan, jika dicurigai terjadi alergi (reaksi alergi terhadap nitril juga terjadi,
tetapi lebih jarang). Selain itu, pemakaian sarung tangan bebas bedak juga direkomendasikan.
Sarung tangan dengan bedak dapat menyebabkan reaksi lebih banyak, karena bedak pada
sarung tangan membawa partikel lateks ke udara. Jika hal ini tidak memungkinkan,
pemakaian sarung tangan kain atau vinil di bawah sarung tangan lateks dapat membantu
mencegah sensitisasi kulit. Meskipun demikian, tindakan ini tidak akan dapat mencegah
sensitisasi pada membran mukosa mata dan hidung .(Garner dan HICPAC 1996).
Pada sebagian besar orang yang sensitif, gejala yang muncul adalah warna merah pada kulit,
hidung berair dan gatal-gatal pada mata, yang mungkin berulang atau semakin parah
misalnya menyebabkan gangguan pernafasan seperti asma. Reaksi alergi terhadap lateks
dapat muncul dalam waktu 1 bulan pemakaian. Tetapi pada umumnya reaksi barn terjadi
setelah pemakaian yang lebih lama, sekitar 3-5 tahun, bahkan sampai 15 tahun (Baumann

1992), meskipun pada orang yang rentan. Belem ada terapi atau desensitisasi untuk mengatasi
alergi lateks, satu-satunya pilihan adalah menghindari kontak.
2.

MASKER : harus cukup besar untuk menutupi hidung, mulut, bagian bawah dagu, dan
rambut pada wajah Oenggot). Masker dipakai untuk menahan cipratan yang keluar sewaktu
petugas kesehatan atau petugas bedah berbicara, batuk atau bersin serta untuk mencegah
percikan darah atau cairan tubuh lainnya memasuki hidung atau mulut petugas kesehatan.
Bila masker tidak terbuat dari bahan tahan cairan, maka masker tersebut tidak efektif untuk
mencegah kedua hal tersebut.
Masker yang ada, terbuat dari berbagai bahan seperti katun ringan, kain kasa, kertas dan
bahan sintetik yang beberapa di antaranya tahan cairan. Masker yang dibuat dari katun atau
kertas sangat nyaman tetapi tidak dapat menahan cairan atau efektif sebagai filter. Masker
yang dibuat dari bahan sintetik dapat memberikan perlindungan dari tetesan partikel
berukuran besar (>5 m) yang tersebar melalui batuk ate bersin ke orang yang berada di
dekat pasien (kurang dari 1 meter). Namun masker bedah terbaik sekalipun tidak dirancang
untuk benar-benar menutup pas secara erat (menempel sepenuhnya pada wajah) sehingga
mencegah kebocoran udara pada bagian tepinya. Dengan demikian, masker tidak dapat secara
efektif menyaring udara yang dihisap (Chen dan Welleke 1992) dan tidak dapat
direkomendasikan untuk tujuan tersebut.
Pada perawatan pasien yang telah diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular
melalui udara atau droplet, masker yang digunakan hares dapat mencegah partikel mencapai
membran mukosa dari petugas kesehatan.
Masker dengan efisiensi tinggi merupakan jenis masker khusus yang direkomendasikan, bila
penyaringan udara dianggap penting misalnya pada perawatan seseorang yang telah diketahui
atau dicurigai menderita flu burung atau SARS. Masker dengan efisiensi tinggi misalnya N95
melindungi dari partikel dengan ukuran < 5 mikron yang dibawa oleh udara . Pelindung ini
terdiri dari banyak lapisan bahan penyaring dan harus dapat menempel dengan erat pada
wajah tanpa ada kebocoran. Dilain pihak pelindung ini juga lebih mengganggu pernafasan
dan lebih mahal daripada masker bedah. Sebelum petugas memakai masker N95 perlu
dilakukanfit test pada setiap pemakaiannya.
Ketika sedang merawat pasien yang telah diketahui atau dicurigai menderita penyakit
menular melalui airborne maupun droplet, seperti misalnya flu burung atau SARS, petugas
kesehatan harus menggunakan masker efisiensi tinggi. Pelindung ini merupakan perangkat N-

95 yang telah disertifikasi oleh US National Institute for Occupational Safety dan Health
(NIOSH), disetujui oleh European CE, atau standard nasional/regional yang sebanding
dengan standar tersebut dari negara yang memproduksinya. Masker efisiensi tinggi dengan
tingkat efisiensi lebih tinggi dapat juga digunakan. Masker efisiensi tinggi, seperti khusus nya
N-95 , harus diuji pengepasannya (fit test) untuk menjamin bahwa perangkat tersebut pas
dengan

benar

pada

wajah

pemakainya.

Pemakaian masker efisiens itinggi Petugas Kesehatan harus :

Memeriksa sisi masker yang menempel pada wajah untuk melihat apakah lapisan utuh dan
tidak cacad. Jika bahan penyaring rusak atau kotor, buang masker tersebut. Selain itu, masker
yang ada keretakan, terkikis, terpotong atau, terlipat pada sisi dalam masker, juga tidak dapat
digunakan

Memeriksa tali-tali masker untuk memastikan tidak terpotong atau rusak. Tali harus
menempel dengan balk di semua titik sambungan

3.

TOPI : digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala sehingga serpihan kulit dan
rambut tidak masuk ke dalam luka selama pembedahan Topi harus cukup besar untuk
menutup semua rambut. Meskipun topi dapat memberikan sejumlah perlindungan pada
pasien, tetapi tujuan utamanya adalah untuk melindungi pemakainya dari darah atau cairan
tubuh yang terpercik atau menyemprot.

4.

GAUN PELINDUNG : digunakan untuk menutupi atau mengganti pakaian biasa atau
seragam lain, pada saat merawat pasien yang diketahui atau dicurigai menderita penyakit
menular melalui dropletlairborne. Pemakaian gaun pelindung terutama adalah untuk
melindungi baju dan kulit petugas kesehatan dari sekresi, espirasi.Ketika merawat pasien
yang diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular tersebut, petugas kesehatan harus
mengenakan gaun pelindung setiap memasuki ruangan untuk merawat pasien karena ada
kemungkinan terpercik atau tersemprot darah, cairan tubuh, sekresi atau ekskresi. Pangkal
sarung tangan harus menutupi ujung lengangan sepenuhnya. Lepaskan gaun sebelum
meninggalkan areap asien. Setelah gaun dilepas, pastikan bahwa pakaian dan kulit tidak
kontak dengan bagian yang potensial tercemar lalu cuci tangan segera untuk mencegah
berpindahnya organisme.

5.

APRON : yang terbuat dari karet atau plastik, merupakan penghalang tahan air untuk
sepanjang bagian depan tubuh petugas kesehatan (Gambar 5-5). Petugas kesehatan harus
mengenakan apron di bawah gaun penutup ketika melakukan perawatan langsung pada
pasien.membersihkan pasien, atau melakukan prosedur dimana ada risiko tumpahan darah,
cairan tubuh atau sekresi. Hal mencegah cairan tubuh pasien ini penting jika gaun pelindung
tidak tahan air Apron mengenai baju dan kulit petugas kesehatan

6.

PELINDUNG KAKI : digunakan untuk melindungi kaki dari cedera akibat benda tajam
atau benda berat yang mungkin jatuh secara tidak sengaja ke atas kaki. Oleh karena itu,
sandal, "sandal jepit" atau sepatu yang terbuat dari bahan lunak (kain) tidak boleh dikenakan.
Sepatu boot karet atau sepatu kulit tertutup memberikan lebih banyak perlindungan, tetapi
harus dijaga tetap bersih dan bebas kontaminasi darah atau tumpahan cairan tubuh lain.
Penutup sepatu tidak diperlukan jika sepatu bersih. Sepatu yang tahan terhadap benda tajam
atau kedap air harus tersedia di kamar bedah. Sebuah penelitian menyatakan bahwa penutup
sepatu dari kain atau kertas dapat meningkatkan kontaminasi karena memungkinkan darah
merembes melalui sepatu dan seringkali digunakan sampai di luar ruang operasi. Kemudian
dilepas tanpa sarung tangan sehingga terjadi pencemaran (Summers e t al. 1992)
PEMAKAIAN

APD

DI

SARANA

PELAYANAN

KESEHATAN:

BAGAIMANA MENGENAKAN, MENGGUNAKAN DAN MELEPAS APD


Farktor-faktor penting yang harus diperhatikan pada pemakaian APD
Kenakan APD sebelum kontak dengan pasien, umumnya sebelum memasuki ruangan
Gunakan dengan hati-hati- jangan menyebarkan kontaminasi
Lepas dan buang secara hati-hati ke tempat sampah infeksius yang telah disediakan di ruang
ganti khusus . Lepas masker di luar ruangan
Segera lakukan pencucian tangan dengan 7 langkah higiene tangan

Mengenakan APD
Urutan* mengenakan APD
1. Pelindung Kaki
2. Apron, Gaun Pelindung dan Topi

3. Masker
4. Kacamata atau Pelindung wajah
5. Sarung tangan

Gaun pelindung
Tutupi badan sepenuhnya dari leher hingga lutut, lengan hingga bagian dan selubungkan ke
belakang punggung Ikat di bagian belakang leher dan pinggang

Masker

- Eratkan tali atau karet elastis pada bagian tengah kepala dan leher
- Paskan klip hidung dari logam f leksibel pada batang hidung
- Paskan dengan erat pada wajah dan dibawah dagu baik
- Periksa ulang pengepasan masker sehingga melekat dengan

Kacamata atau pelindung wajah


Pasang pada wajah dan mata dan sesuaikan agar pas

Sarung Tangan
Tarik hingga menutupi pergelangan tangan gaun isolasi
Cara Melepas APD
Kecuali masker, lepaskan APD di pintu atau di anteroom. Masker dilepaskan setelah
meninggalkan ruangan pasien dan menutup pintunya.
Urutan Melepaskan APD

1. Sarung tangan
2. Kacamata atau pelindung wajah
3. Apron, Gaun pelindung dan Topi
4. Masker
5. Pelindung kaki
*likuti urutan untuk meminimalkan penyebaran penyakit!
1. Sarung tangan
-

Ingatlah bahwa bagian luar sarung tangan telah terkontaminasi!

Pegang bagian luar sarung tangan dengan sarung tangan lainnya, lepaskan

Pegang sarung tangan yang telah dilepas dengan menggunakan tangan yang masih memakai
sarung tangan

Selipkan jari tangan yang sudah tidak memakai sarung tangan di bawah sarung tangan yang
belum dilepasdi pergelangan tangan

Lepaskan sarung tangan di atas sarung tangan pertama

Buang sarung tangan di tempat sampah infeksius

2. Kacamata atau pelindung wajah

Ingatlah bahwa bagian luar kacamata atau pelindung wajah telah terkontaminasi!

Untuk melepasnya, pegang karet atau gagang kacamata

Letakkan di wadah yang telah disediakan untuk diproses ulang atau dalam tempat sampah
infeksius

3.

Gaun pelindung

Ingatlah bahwa bagian depan gaun dan lengan gaun pelindung telah terkontaminasi!

Lepas tali

Tarik dari leher dan bahu dengan memegang bagian dalam gaun pelindung saja

Balik gaun pelindung

Lipat atau gulung menjadi gulungan dan letakkan di wadah yang telah disediakan untuk
diproses ulang atau buang di tempat sampah infeksius

4.

Masker

Ingatlah bahwa bagian depan masker telah terkontaminasi - JANGAN SENTUH!

Lepaskan tali bagian bawah dan kemudian tali atau karet bagian atas

Buang ke tempat sampah infeksius

3. FLU BABI
A. Pengertian
Flu babi merupakan penyakit yang menyerang saluran pernafasan babi yang disebabkan virus
influenza tipe A subtype H1N1.
B. Cara Penularan
Virus influenza diperkirakan menyebar dari orang yang terinfeksi dan babi untuk orang lain
dan terutama babi menular melalui droplet dikeluarkan saat batuk atau bersin. Bukti lainya
virus influenza dapat ditularkan melalui kontak dengan permukaan terkontaminasi dengan
virus influenza. modus yang mungkin penularan adalah melalui rute udara di mana partikel
kecil yang berisi virus yang terhirup , penularan ini belum dapat dibuktikan
C.Universal Precaution
Infection controll untuk mencegah penularan virus flu babi dari babi ke manusia adalah :
Cuci tangan

Kebersihan tangan harus dilakukan setelah kontak dengan hewan atau lingkungan mereka,
peralatan dan permukaan yang mungkin terkontaminasi dengan virus influenza, dan setelah
melepas peralatan pelindung pribadi (PPE) dan / atau mungkin pakaian yang terkontaminasi.
Kebersihan tangan yang baik harus terdiri dari cuci dengan sabun dan air selama 20 detik
atau penggunaan standar lainnya tangan desinfeksi prosedur sebagaimana ditentukan oleh
negara, industri pemerintah, Pedoman pengendalian H1N1 di babi di Amerika Serikat untuk
membatasi kemungkinan penularan virus influenza dan patogen lainnya. Pekerja harus
menghindari menyentuh atau menggosok mata, hidung, dan mulut ketika bekerja di sekitar
babi.
Vaksinasi babi
Vaksinasi babi dengan vaksin flu yang efektif terhadap strain beredar dapat mengurangi risiko
flu pada babi dan mungkin mengurangi risiko orang terinfeksi dengan virus influenza babi.
Namun, karena berbagai strain virus influenza mungkin menjadi co-beredar dalam populasi
babi AS dan karena vaksin flu babi tidak 100% efektif, vaksinasi babi tidak akan
menghilangkan risiko infeksi manusia dari virus flu babi.
Para pekerja harus mematuhi rekomendasi untuk penggunaan peralatan pelindung diri
(APD).
Peralatan

Perlindungan

Pribadi

(Personal

Protective

Equipment

/PPE)

Pekerja peternakan babi harus diminta untuk memakai APD setiap kali mereka mungkin
terkena hidup babi mungkin terinfeksi dengan virus influenza babi. Kepatuhan terhadap
rekomendasi APD mungkin mengurangi eksposur pekerja untuk virus influenza dan dapat
mengurangi kemungkinan membawa bahan terkontaminasi luar gudang atau tempat kerja.
Pekerja harus disediakan dengan PPE yang sesuai dan instruksi dan pelatihan dalam
perawatan dan penggunaan APD. APD harus mencakup respirator untuk mengurangi paparan
inhalasi partikel kecil yang mungkin mengandung influenza viruses1. (NIOSH,2009)
Pekerja peternakan babi harus mematuhi praktek-praktek berikut:
Pakailah pakaian pelindung, pakaian luar sebaiknya sekali pakai atau baju yang dicuci di
tempat kerja setelah setiap penggunaan. Untuk meminimalkan risiko stres panas/ kegerangan,
memakai pakaian ringan di bawah pakaian pelindung saat yang tepat.
Pakailah sepatu karet atau poliuretan yang dapat dibersihkan dan didesinfeksi atau pakai
penutupsepatupelindung.

Kenakan sarung tangan sekali pakai yang terbuat dari nitril ringan atau vinil atau sarung
tangan kerjatugasberatkaretyangdapatdidesinfeksi.
o Untuk melindungi dermatitis, yang dapat terjadi dari paparan jangka panjang dari kulit
untuk kelembaban dalam sarung tangan yang disebabkan oleh keringat, memakai sarung
tangan katun tipisdidalamsarungtanganeksternal.
oGanti sarung tangan jika mereka robek atau rusak.
o Lepas sarung tangan segera setelah digunakan, sebelum menyentuh barang yang tidak
terkontaminasiataupermukaanlingkungan.
o Lepaskan sarung tangan sekali pakai dengan mengubahnya dalam ke luar atas tangan dan
ditempatkan di tempat sampah setelah digunakan.
Cuci tangan setelah sarung tangan dan APD lainnya dilepaskan.
Pakailah kacamata pengaman untuk melindungi selaput lendir maya .Kenakan masker
penutup wajah sesuai rekomendasi NIOSH berfungsi menyaring udara pernapasan
(misalnya, N-95, P-100 atau N-100 filtering penutup wajah respirator) yang merupakan
tingkat minimum perlindungan pernapasan. Tingkat atau perlindungan pernapasan yang lebih
tinggi mungkin telah digunakan dalam operasi babi karena bahaya lain yang ada di
lingkungan (misalnya, debu). Pekerja harus menegnakan perlindungan yang
direkomendasikan NIOSH-bersertifikat tingkat perlindungan yang lebih tinggi mungkin
diperlukan pada kasus swine flu seperti :masker wajah yang sesuai , pelindung rambut yaitu,
helm atau berkerudung, powered air purifying respirator (PAPR) dilengkapi dengan filter
efisiensi tinggi.
Kenakan pelindung , kepala ringan atau rambut mencakup untuk mencegah kontaminasi
rambut ketika mandi atau keluar peternakan.
Buang APD sekali pakai dengan benar, serta membersihkan dan membersihkan non-sekali
pakai APD sebagaimana ditentukan dalam pemerintahan negara, industri. (misalnya
nondisposible pakaian harus dicuci setiap hari atau setelah setiap kali digunakan).
Menegakkan tindakan biosekuriti dan praktek untuk mencegah masuknya agen infeksius
dari satu unit rumah babi yang lain. Informasi lebih lanjut tentang penggunaan disinfektan
dan daftar produk antimikroba yang terdaftar untuk digunakan melawan flu H1N1 dan virus
influenza lainnya . Membersihkan kandang babi dengan desinfektan.
Segera mandi. Mandi di peternakan bila tersedia mencegah penularan keluar peternakan.
Mencuci pakaian kerja di lokasi atau tempat dalam kantong plastik untuk mencuci secara
terpisah

dari

non-kerja

binatu

keluarga.

Cuci tangan selama 20 detik dengan sabun dan air setelah melepasakan APD atau kontak
dengan hewan yang terinfeksi atau permukaan yang mungkin terkontaminasi.
PERAWATAN JENAZAH PASIEN
FLU BURUNG
Penatalaksanaan terhadap jenazah pasien flu burung dilakukan secara khusus sesuai dengan
Undang Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular :
a.

Memperhatikan norma agama atau kepercayaan dan perundangan yang berlaku.

b. Pemeriksaan terhadap jenazah dilakukan oleh petugas kesehatan.


c.

Perlakuan terhadap jenazah dan penghapus-hamaan bahan dan alat yang digunakan dalam
penatalaksanaan jenazah dilakukan oleh petugas kesehatan.
Jenazah tidak akan menimbulkan ancaman kesehatan jika ditangani secara benar. Sebaliknya,
jenazah bisa menimbulkan penyakit jika penanganannya tidak memadai. Menurut
Departemen Kesehatan RI, urutan perlakuan yang diberikan pada jenazah pasien flu burung
adalah berikut :

1. Luruskan tubuh pasien.


2. Lepaskan alat kesehatan yang terpasang pada tubuh pasien.
3. Tutup mata, telinga, dan mulut dengan kapas maupun plester kedap air.
4. Setiap luka harus diplester dengan rapat.
5. Jenazah ditutup dengan kain kafan atau bahan atau bahan dari plastik (bahan tidak tembus
air). Dapat juga jenazah ditutup dengan bahan kayu atau bahan lain yang tidak mudah
tercemar.
6. Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi.
7. Jenazah tidak boleh dibalsem ataupun disuntik pengawet (formalin atau formaldehida).
8.

Jika jenazah akan diautopsi, maka akan dilakukan oleh petugas khusus dan autopsi dapat
dilakukan jika sudah ada izin dari pihak keluarga dan direktur rumah sakit.

9. Jenazah hanya boleh diangkut oleh mobil jenazah.


10. Jenazah tidak boleh disemayamkan lebih dari 4 jam di dalam pemulasaran jenazah.
11. Jenazah dapat dikubur dalam tempat pemakaman umum dan dapat disaksikan oleh seluruh
anggota keluarga setelah semua prosedur di atas telah dilalui.
Commonwealth of Australia Interim Pandemic Influenza Infection Control Guidelines tidak
merekomendasikan untuk membalsem jenazah pasien korban flu burung apabila terjadi
pandemi flu burung. Namun jika ini harus dilakukan untuk alasan budaya dan sosial, maka
pembalseman dapat dilakukan dengan syarat :

Petugas yang melakukan pembalseman harus memiliki sertifikat dari institusi yang disetujui
oleh direktur umum dari Departemen Kesehatan New South Wales (NSW).

Petugas yang melakukan pembalseman harus mengenakan alat perlindungan diri yang
lengkap (masker N95, baju panjang, sarung tangan, penutup kepala, dan kaca mata khusus).
Sebenarnya pelarangan Departemen Kesehatan RI terhadap penggunaan formalin terhadap
jenazah pasien flu burung sudah tidak tepat, karena ini akan membuat risiko petugas yang
mengurus jenazah untuk tertular flu burung menjadi lebih besar. Jika jenazah pasien flu
burung bisa diformalin, maka akan menurunkan risiko menularnya virus flu burung karena
virus ini mudah mati dalam formalin.
Perawatan jenazah pasien flu burung di Laboratorium/SMF Forensik Universitas Udayana
RSUP Sanglah sendiri sedikit berbeda dengan yang direkomendasikan oleh Departemen
Kesehatan RI. Berikut ini adalah tata cara perawatan jenazah pasien dengan infeksi menular
seperti: HIV/AIDS, hepatitis, flu burung, anthrax, kholera, dan pes di RSUP Sanglah :

1. Jenazah diberi label merah.


2.

Jenazah dibiarkan dalam suhu ruangan selama minimal 4 jam sebelum jenazah di bawa
pulang atau dimasukkan dalam cooling unit.

3. Mandikan jenazah dengan larutan pemutih pakaian dengan perbandingan 1:10.


4. Apabila ada luka di tubuh jenazah, harus ditutup dengan plester kedap air.
5.

Setiap lubang alamiah tubuh ditutup dengan kapas yang dibasahi dengan larutan pemutih
pakaian dengan perbandingan 1:10.

6. Jenazah harus segera diawetkan dengan larutan formalin.


7. Setelah dikafani, jenazah dimasukkan dalam kantung jenazah yang kedap air.
8. Jenazah dimasukkan ke dalam peti dan disegel.
Menurut WHO, apabila jenazah akan diautopsi maka jenazah dapat disimpan dalam lemari
pendingin. Apabila anggota keluarga ingin menyentuh tubuh jenazah, hal itu dapat diizinkan
dengan memakai apron dan sarung tangan setelah sebelumnya keluarga mencuci tangan
dengan sabun dan tubuh jenazah yang disentuh sebelumnya dibersihkan dengan antiseptik
standar (alkohol 70%).
Petugas di pemulasaran jenazah harus menjalankan proseduruniversal precaution, yaitu
dengan memakai alat perlindungan seperti:
1. Apron lengan panjang dari bahan plastik.
2. Tutup kepala.
3. Kaca mata google.

4. Masker.
5. Sarung tangan.
6. Sepatu boot.
Apabila alat-alat ini setelah dipakai harus direndam dalam larutan pemutih pakaian dengan
perbandingan 1:10 selama 10 menit. Setelah merawat jenazah pasien tersebut, petugas wajib
mencuci tangan dengan sabun sebelum dan setelah membuka sarung tangan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Tatalaksana Jenazah Dengan flu Burung.
http://www.scribd.com/doc/25785459/Tatalaksana-Jenazah-Kasus-Flu-Burung [akses: 18 Juli 2011]
Anonim. Pedoman Penatalaksanaan Flu Burung di Rumah Sakit.
http://www.depkes.go.id/downloads/flu_H1N1/tata_laksana_avian_influenza.pdf [akses: 18 Juli 2011]
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Penanganan Jenazah di Daerah Bencana; 18 Juli
2011.

Diunduh

dari:

http://www.depkes.go.id/index.php?

option=news&amp;task=viewarticle&amp;

sid=3025.

18

Juli

2011.
www.cdc.gov/ Preventing transmission of influenza viruses from pigs to people
diakses pada 18 juli 2011

Infeksi Nosokomial dan Kewaspadaan


Universal
1. Apakah itu infeksi nosokomial?
2. Rantai penularan
3. Sejarah pengendalian infeksi di rumah sakit

4. Teknik isolasi
5. Dasar pemikiran kewaspadaan universal
6. Kegiatan yang paling berisiko
7. Alat pelindung
8. Perawatan di rumah

Apakah itu infeksi nosokomial?


Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terdapat dalam sarana kesehatan. Sebetulnya rumah
sakit memang sumber penyakit! Di negara maju pun, infeksi yang didapat dalam rumah sakit
terjadi dengan angka yang cukup tinggi. Misalnya, di AS, ada 20.000 kematian setiap tahun
akibat infeksi nosokomial. Di seluruh dunia, 10 persen pasien rawat inap di rumah sakit
mengalami infeksi yang baru selama dirawat 1,4 juta infeksi setiap tahun. Di Indonesia,
penelitian yang dilakukan di 11 rumah sakit di DKI Jakarta pada 2004 menunjukkan bahwa
9,8 persen pasien rawat inap mendapat infeksi yang baru selama dirawat.

Rantai penularan
Infeksi nosokomial mulai dengan penyebab (di bagian tengah gambar berikut), yang ada pada
sumber. Kuman keluar dari sumber melalui tempat tertentu, kemudian dengan cara penularan
tertentu masuk ke tempat tertentu di pasien lain. Karena banyak pasien di rumah sakit rentan
terhadap infeksi (terutama Odha yang mempunyai sistem kekebalan yang lemah), mereka
dapat tertular dan jatuh sakit tambahan. Selanjutnya, kuman penyakit ini keluar dari pasien
tersebut dan meneruskan rantai penularan lagi.

Sejarah pengendalian infeksi di rumah sakit

Pada 1847, seorang dokter bernama Ignaz Semmelweis bekerja di bagian kebidanan di
sebuah rumah sakit di Vienna, Austria. Semmelweis mengamati bahwa angka kematian di
antara ibu di bangsal yang dilayani oleh mahasiswa kedokteran tiga kali lebih tinggi
dibandingkan bangsal yang dilayani oleh bidan. Semmelweis mendalilkan bahwa hal ini
terjadi karena mahasiswa langsung ke bangsal kebidanan setelah belajar otopsi (bedah
mayat), dan membawa infeksi dari mayat ke ibu yang melahirkan. Dia memerintahkan dokter
dan mahasiswa untuk mencuci tangannya dengan larutan klorin sebelum memeriksakan ibu
tersebut. Setelah aturan ini diterapkan, angka kematian menurun menjadi serupa dengan
bangsal yang dilayani oleh bidan.
Dengan masalah infeksi nosokomial menjadi semakin jelas, dicari kebijakan baru untuk
menguranginya. Solusi pertama pada 1877 adalah mendirikan rumah sakit khusus untuk
penyakit menular. Pengenalan sarung tangan lateks pada 1887 membantu mengurangi
penularan. Tetapi dengan peningkatan mortalitas (angka kematian) di 1960-an, Departemen
Kesehatan di AS pada 1970 mengeluarkan kebijakan untuk mengisolasikan semua pasien
yang diketahui tertular infeksi menular. Namun kebijakan ini kurang berhasil serta
menimbulkan banyak masalah lain. Perhatian pada masalah ini menjadi semakin tinggi
dengan munculnya HIV pada 1985, kebijakan kewaspadaan universal dikenalkan pada 1985.

Teknik isolasi
Sesuai dengan kebijakan ini yang dikembangkan pada 1970, semua pasien yang diketahui
terinfeksi penyakit menular melalui tes wajib diisolasi. Kebijakan ini menentukan tujuh
kategori isolasi berdasarkan sifat infeksinya (daya menular, ganas, dll.). Kewaspadaan khusus
(sarung tangan dsb.) dengan tingkat yang ditentukan oleh kategori hanya dipakai untuk
pasien ini.
Teknik isolasi mengurangi jumlah infeksi nosokomial, tetapi timbul beberapa tantangan:

Peningkatan dalam jenis dan jumlah infeksi menular, sehingga semakin banyak tes
harus dilakukan, dan semakin banyak pasien harus diisolasi
Hasil tes sering diterima terlambat, sering setelah pasien pulang

Biaya sangat tinggi, bila semua orang dites untuk setiap infeksi

Stigma dan diskriminasi meningkat bila hanya pasien yang dianggap berisiko tinggi
dites untuk menenkankan biaya

Hasil tes dapat negatif palsu (hasil negatif walau terinfeksi), terutama dalam masa
jendela, dengan akibat petugas layanan kesehatan kurang waspada

Sebaliknya hasil tes positif palsu (hasil positif walau tidak terinfeksi), dengan akibat
kegelisahan untuk pasien dan petugas layanan kesehatan

Perhatian pada hak asasi mengharuskan pasien memberi informed consent (disertai
oleh konseling untuk HIV) apa yang dilakukan bila pasien tidak menyetujui tes?

Sangat sulit menjaga kerahasiaan

Dasar pemikiran kewaspadaan universal

Sejak AIDS diketahui, kebijakan baru yang bernama kewaspadaan universal (KU)
dikembangkan. Kebijakan ini menganggap bahwa setiap darah dan cairan tertentu lain dapat
mengandung infeksi, tidak memandang status sumbernya. Lagi pula, semua alat medis harus
dianggap sebagai sumber penularan, dan penularan dapat terjadi pada setiap layanan
kesehatan, termasuk layanan kesehatan gigi dan persalinan, pada setiap tingkat (klinik dan
puskesmas sampai dengan rumah sakit rujukan). Harus ditekankan bahwa kewaspadaan
universal dibutuhkan tidak hanya untuk melindungi terhadap penularan HIV tetapi yang tidak
kalah penting terhadap infeksi lain yang dapat parah dan sebetulnya lebih mudah menular,
mis. virus hepatitis B dan C. Petugas layanan kesehatan harus menerapkan kewaspadaan
universal secara penuh dalam hubungan dengan SEMUA pasien.
Kita biasanya menganggap cairan yang dapat menular HIV sebagai darah, cairan kelamin dan
ASI saja. Namun ada cairan lain yang dapat mengandung kuman lain, dan dalam sarana
kesehatan, lebih banyak cairan tubuh biasanya tersentuh. Contohnya, walaupun tinja tidak
mengandung HIV, cairan berikut mengandung banyak kuman lain:

Nanah
Cairan ketuban

Cairan limfa

Ekskreta: air seni, tinja

dll...

Kegiatan yang paling berisiko


Jelas ada beberapa kegiatan yang umum dilakukan oleh petugas layanan kesehatan yang
menimbulkan risiko, termasuk:

Suntikan/ambil darah
Tindakan bedah

Tindakan kedokteran gigi

Persalinan

Bersihkan darah/cairan lain

Sebaliknya ada beberapa perilaku yang salah, yang menempatkan petugas layanan kesehatan
atau pasien dalam keadaan berisiko, termasuk:

Tutup jarum suntik kembali


Salah letak jarum atau pisau/alat tajam

Sentuh pasien tanpa cuci tangan

Unsur kewaspadaan universal yang berikut melindungi terhadap tindakan ini:

Cuci tangan
Pakai alat pelindung yang sesuai

Pengelolaan alat tajam (disediakan tempat khusus untuk membuang jarum suntik dan
semprit)

Dekontaminasi, sterilisasi, disinfeksi

Pengelolaan limbah

Alat pelindung

Unsur kedua kewasapadaan universal adalah penggunaan alat pelindung yang sesuai
tindakan. Alat yang dibutuhkan dapat hanya sarung tangan (mis. untuk ambil darah) hingga
semua alat ini yang dibutuhkan oleh seorang bidan waktu membantu kelahiran. Namun
perawat yang hanya menyentuh pasien tidak membutuhkan sarung tangan yang penting
cuci tangan sebelum dan sesudahnya.

Sarung tangan
Celemek

Masker pelindung muka

Kacamata

Pelindung kaki

Perawatan di rumah
Kewaspadaan universal tidak hanya dibutuhkan dalam sarana kesehatan resmi, tetapi juga
terkait perawatan di rumah. Sekali lagi, tujuan utama adalah untuk melindungi Odha dan
keluarga/tim perawatan dari berbagai infeksi, bukan hanya HIV justru risiko penularan HIV
pada keluarga di rumah sangat amat rendah. Jadi kita harus menganggap sebagian besar
cairan tubuh sebagai sumber infeksi.
Prosedur kewaspadaan universal untuk perawatan di rumah serupa dengan di rumah sakit,
hanya mungkin lebih sederhana. Bila tidak ada sarung tangan, secara darurat kita dapat
memakai kantong plastik yang utuh. Yang penting kita menutup semua luka pada kulit
dengan plester luka. Mungkin yang paling penting adalah untuk menjaga kebersihan di
rumah. Cucian biasanya tidak membutuhkan perhatian khusus asal tidak tercermar cairan;

bila tercemar lebih baik dicuci dengan pemutih dulu (larutan klorin 0,5%) dengan memakai
sarung tangan, kemudian dapat dicuci dengan sabun seperti biasa.
Edit terakhir: 24 Desember 2006