Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN TEORI
A. Pengertian dari Luka bakar
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh pengalihan energi dari
suatu

sumber

panas

pada

tubuh,

panas

dapat

dipindahkan

oleh

hantaran/radiasi electromagnet (Brunner & Suddarth, 2002).


Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus
listrik bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang
lebih dalam (Kusumaningrum, 2008)
Luka bakar bisa berasal dari berbagai sumber, dari api, matahari, uap,
listrik, bahan kimia, dan cairan atau benda panas. Luka bakar bisa saja hanya
berupa luka ringan yang bisa diobati sendiri atau kondisi berat yang
mengancam nyawa yang membutuhkan perawatan medis yang intensif
(PRECISE, 2011).
Jadi Luka bakar atau combustio adalah luka yang disebabkan oleh
berbagai sumber yaitu dari api, matahari, uap, listrik, bahan kimia, dan cairan
atau benda panas yang mengenai kulitmukosa dan jaringan yang lebih dalam.
B. Etiologi dari Luka bakar
Menurut Rahayuningsih (2012), etiologi atau penyebab terjadinya luka
bakar, antara lain :
a. Luka bakar suhu tinggi (Thermal burn)
Luka bakar thermal disebabkan oleh karena terpapar atau kontak
dengan api, cairan panas dan bahan padat (solid).
b. Luka bakar bahan kimia (Chemical burn)
Luka bakar kimia disebabkan oleh kontaknya jaringan kulit dengan
asam atau basa kuat. Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan
banyaknya jaringan yang terpapar menentukan luasnya injuri karena zat
kimia ini. luka bakar kimia dapat terjadi misalnya karena kontak dengan
zat-zat pembersih yang sering digunakan untuk keperluan rumah tangga
dan berbagai zat kimia yang digunakan dalam bidang industri, pertanian

dan militer. Lebih dari 25.000 produk zat kimia diketahui dapat
menyebabkan luka bakar kimia.
c. Luka bakar sengatan listrik (Electrical burn)
Lewatnya tenaga listrik bervoltase tinggi melalui jaringan
menyebabkan perubahannya menjadi tenaga panas, ia menimbulkan
luka bakar yang tidak hanya mengenai kulit dan jaringan sub kutis,
tetapi juga semua jaringan pada jalur alur listrik tersebut. Luka bakar
listrik biasanya disebabkan oleh kontak dengan sumber tenaga
bervoltase tinggi. Anggota gerak merupakan kontak yang terlazim,
dengan tangan dan lengan yang lebih sering cedera daripada tungkai
dan kaki. Kontak sering menyebabkan gangguan jantung dan atau
pernafasan, dan resusitasi kardiopulmonal sering diperlukan pada saat
kecelakaan tersebut terjadi. Luka pada daerah masuknya arus listrik
biasanya gosong dan tampak cekung.
d. Luka bakar radiasi (Radiasi injury)
Luka bakar radiasi disebabkan oleh terpapar dengan sumber
radioaktif. Tipe injury ini seringkali berhubungan dengan penggunaan
radiasi ion pada industri atau dari sumber radiasi untuk keperluan
terapeutik pada dunia kedokteran. Terpapar oleh sinar matahari akibat
terpapar yang terlalu lama juga merupakan salah satu tipe luka bakar
radiasi.
Fase Luka Bakar
a. Fase akut.
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal
penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas),
breathing (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi).
Gangguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa
saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran
pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma.
Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderita pada

fase akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan


cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik.
b. Fase sub akut.
Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah
kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber
panas. Luka yang terjadi menyebabkan:
Proses inflamasi dan infeksi.
Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka
telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur
atau organ organ fungsional.
Keadaan hipermetabolisme.
c. Fase lanjut.
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut
akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem
yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang
hipertropik,

kleoid,

gangguan

pigmentasi,

deformitas

dan

kontraktur

C. Tanda dan Gejala dari Luka bakar


Luka bakar memiliki tanda dan gejala tergantung derajat keparahan dari
luka bakar tersebut, yaitu :
a. Derajat I : Kemerahan pada kulit (Erythema), terjadi pembengkakan
hanya pada lapisan atas kulit ari (Stratum Corneum), terasa sakit,
merah dan bengkak.
b. Derajat II : Melepuh (Bullosa) pembengkakan sampai pada lapisan
kulit ari, luka nyeri, edema, terdapat gelembung berisi cairan kuning
bersih (eksudat).
c. Derajat III : Luka tampak hitam keputih-putihan (Escarotica), kulit

terbuka dengan lemak yang terlihat, edema, tidak mumcat dengan


tekanan, tidak nyeri, folikel rambut dan kelenjar keringat rusak.
d. Derajat IV : Luka bakar sudah sampai pada jaringan ikat atau lebih

dari kulit ari dan kulit jangat sudah terbakar.

D. Klasifikasi dari Luka bakar


1. Berdasarkan penyebab:
a. Luka bakar karena api
b. Luka bakar karena air panas
c. Luka bakar karena bahan kimia
d. Luka bakar karena listrik
e. Luka bakar karena radiasi
f. Luka bakar karena suhu rendah (frost bite)
2. Berdasarkan kedalaman luka bakar:
a. Luka bakar derajat I (super ficial partial-thickness)
Luka bakar derajat pertama adalah setiap luka bakar yang di
dalam proses penyembuhannya tidak meninggalkan jaringan parut.
Luka bakar derajat pertama tampak sebagai suatu daerah yang
berwarna kemerahan, terdapat gelembung gelembung yang ditutupi
oleh daerah putih, epidermis yang tidak mengandung pembuluh darah
dan dibatasi oleh kulit yang berwarna merah serta hiperemis.
Luka bakar derajat pertama ini hanya mengenai epidermis dan
biasanya sembuh dalam 5-7 hari, misalnya tersengat matahari. Luka
tampak

sebagai

eritema

dengan

keluhan

rasa

nyeri

atau

hipersensitifitas setempat. Luka derajat pertama akan sembuh tanpa


bekas.
b. Luka bakar derajat II (Deep Partial-Thickness)
Kerusakan yang terjadi pada epidermis dan sebagian dermis,
berupa reaksi inflamasi akut disertai proses eksudasi, melepuh, dasar
luka berwarna merah atau pucat, terletak lebih tinggi di atas
permukaan kulit normal, nyeri karena ujungujung saraf teriritasi. Luka
bakar derajat II ada dua:
1.

Derajat II dangkal (superficial)


Kerusakan yang mengenai bagian superficial dari dermis,
apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat,
kelenjar sebasea masih utuh. Luka sembuh dalam waktu 10-14

2.

hari.
Derajat II dalam (deep)
Kerusakan hampir seluruh bagian dermis. Apendises kulit
seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea

sebagian masih utuh. Penyembuhan terjadi lebih lama,


tergantung

apendises

kulit

yang

tersisa.

Biasanya

penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.


c. Luka bakar derajat III ( Full Thickness)
Kerusakan meliputi seluruh ketebalan dermis dan lapisan yang lebih
dalam, apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat,
kelenjar sebasea rusak, tidak ada pelepuhan, kulit berwarna abu-abu
atau coklat, kering, letaknya lebih rendah dibandingkan kulit sekitar
karena koagulasi protein pada lapisan epidermis dan dermis, tidak
timbul rasa nyeri. Penyembuhan lama karena tidak ada proses
epitelisasi spontan.
3. Berdasarkan tingkat keseriusan luka
a. Luka bakar ringan/ minor
1) Luka bakar dengan luas < 15 % pada dewasa
2) Luka bakar dengan luas < 10 % pada anak dan usia lanjut
3) Luka bakar dengan luas < 2 % pada segala usia (tidak mengenai
b.

muka, tangan, kaki, dan perineum).


Luka bakar sedang (moderate burn)
1) Luka bakar dengan luas 15 25 % pada dewasa, dengan luka
bakar derajat III kurang dari 10 %
2) Luka bakar dengan luas 10 20 % pada anak usia < 10 tahun atau
dewasa > 40 tahun, dengan luka bakar derajat III kurang dari 10
%
3) Luka bakar dengan derajat III < 10 % pada anak maupun dewasa

c.

yang tidak mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum.


Luka bakar berat (major burn)
1) Derajat II-III > 20 % pada pasien berusia di bawah 10 tahun atau
di atas usia 50 tahun
2) Derajat II-III > 25 % pada kelompok usia selain disebutkan pada
butir pertama
3) Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki, dan perineum
4) Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa
memperhitungkan luas luka bakar
5) Luka bakar listrik tegangan tinggi
6) Disertai trauma lainnya
7) Pasien-pasien dengan resiko tinggi.

4. Luas Permukaan Tubuh yang Terbakar

10

Dalam menentukan ukuran luas luka bakar kita dapat menggunakan


beberapa metode yaitu :
i. Rule of Nine
a. Kepala dan leher
b. Lengan masing-masing 9%
c. Badan depan 18%, badan belakang 18%
d. Tungkai maisng-masing 18%
e. Genetalia/perineum
Total

: 9%
: 18%
: 36%
: 36%
: 1%
: 100%

ii. Diagram
Penentuan luas luka bakar secara lebih lengkap dijelaskan dengan
diagram Lund dan Browder sebagai berikut :

11

E. Patofisiologi dari Luka bakar


Luka bakar (Combustio) disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber
panas kepada tubuh. Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi
elektromagnetik. Destruksi jaringan terjadi akibat koagulasi, denaturasi protein
atau ionisasi isi sel. Kulit dan mukosa saluran nafas atas merupakan lokasi
destruksi jaringan. Jaringan yang dalam termasuk organ visceral dapat mengalami
kerusakan karena luka bakar elektrik atau kontak yang lama dengan burning
agent. Nekrosis dan keganasan organ dapat terjadi.
Kedalam luka bakar bergantung pada suhu agen penyebab luka bakar dan
lamanya kontak dengan gen tersebut. Pajanan selama 15 menit dengan air panas
dengan suhu sebesar 56.10 C mengakibatkan cidera full thickness yang serupa.
Perubahan patofisiologik yang disebabkan oleh luka bakar yang berat selama awal
periode syok luka bakar mencakup hipoperfusi jaringan dan hipofungsi organ
yang terjadi sekunder akibat penurunan curah jantung dengan diikuti oleh fase
hiperdinamik serta hipermetabolik. Kejadian sistemik awal sesudah luka bakar
yang berat adalah ketidakstabilan hemodinamika akibat hilangnya integritas

12

kapiler dan kemudian terjadi perpindahan cairan, natrium serta protein dari ruang
intravaskuler ke dalam ruanga interstisial.
Curah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada
volume darah terlihat dengan jelas. Karena berkelanjutnya kehilangan cairan dan
berkurangnya volume vaskuler, maka curah jantung akan terus turun dan terjadi
penurunan tekanan darah. Sebagai respon, system saraf simpatik akan melepaskan
ketokelamin yang meningkatkan vasokontriksi dan frekuensi denyut nadi.
Selanjutnya vasokontriksi pembuluh darah perifer menurunkan curah jantung.
Umumnya jumlah kebocoran cairan yang tersebar terjadi dalam 24 hingga 36
jam pertama sesudah luka bakar dan mencapai puncaknya dalam tempo 6-8 jam.
Dengan terjadinya pemulihan integritas kapiler, syok luka bakar akan menghilang
dan cairan mengalir kembali ke dalam kompartemen vaskuler, volume darah akan
meningkat. Karena edema akan bertambah berat pada luka bakar yang melingkar.
Tekanan terhadap pembuluh darah kecil dan saraf pada ekstremitas distal
menyebabkan obstruksi aliran darah sehingga terjadi iskemia. Komplikasi ini
dinamakan sindrom kompartemen.
Volume darah yang beredar akan menurun secara dramatis pada saat terjadi
syok luka bakar. Kehilangan cairan dapat mencapai 3-5 liter per 24 jam sebelum
luka bakar ditutup. Selama syok luka bakar, respon luka bakar respon kadar
natrium serum terhadap resusitasi cairan bervariasi. Biasanya hipnatremia terjadi
segera setelah terjadinya luka bakar, hiperkalemia akan dijumpai sebagai akibat
destruksi sel massif. Hipokalemia dapat terhadi kemudian dengan berpeindahnya
cairan dan tidak memadainya asupan cairan. Selain itu juga terjadi anemia akibat
kerusakan sel darah merah mengakibatkan nilai hematokrit meninggi karena
kehilangan plasma. Abnormalitas koagulasi yang mencakup trombositopenia dan
masa pembekuan serta waktu protrombin memanjang juga ditemui pada kasus
luka bakar.
Kasus luka bakar dapat dijumpai hipoksia. Pada luka bakar berat, konsumsi
oksigen oleh jaringan meningkat 2 kali lipat sebagai akibat hipermetabolisme dan
respon lokal. Fungsi renal dapat berubah sebagai akibat dari berkurangnya volume
darah. Destruksi sel-sel darah merah pada lokasi cidera akan menghasilkan
hemoglobin bebas dalam urin. Bila aliran darah lewat tubulus renal tidak
memadai, hemoglobin dan mioglobin menyumbat tubulus renal sehingga timbul
nekrosis akut tubuler dan gagal ginjal.
13

Kehilangan integritas kulit diperparah lagi dengan pelepasan faktor-faktor


inflamasi yang abnormal, perubahan immunoglobulin serta komplemen serum,
gangguan fungsi neutrofil, limfositopenia. Imunosupresi membuat pasien luka
bakar bereisiko tinggi untuk mengalmai sepsis. Hilangnya kulit menyebabkan
ketidakmampuan pengaturan suhunya. Beberapa jam pertama pasca luka bakar
menyebabkan suhu tubuh rendah, tetapi pada jam-jam berikutnya menyebabkan
hipertermi yang diakibatkan hipermetabolisme
F. Penatalaksanaan Luka bakar
Pengobatan luka bakar diberikan berdasarkan luas dan beratnya luka bakar
serta pertimbangan penyebabnya. Resusitasi cairan penting dalam menangani
kehilangan cairan intravascular. Oksigen diberikan melalui masker atau ventilasi
buatan. Luka bakarnya sendiri dapat di tutupi balutan steril basah atau kering.
Penambahan obat topikal dapat juga diindikasikan. Luka baka berat memerlukan
debridement

luka

dan

transpalasi.

Menurut

R.

Sjamsuhidajat,

(2010)

Penatalaksanaan medis pada penderita luka bakar sebagai berikut:


a

Mematikan sumber api


Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada seluruh tubuh
(menyelimuti, menutup bagian yang terbakar, berguling, menjatuhkan

diri ke air).
Merendam atau mengaliri luka
Setelah sumber panas hilang adalah dengan merendam luka bakar
dalam air atau menyiram dengan air mengalir selama kurang lebih 15
menit. Pada luka bakar ringan tujuan ini adalah untuk menghentikan
proses koagulasi protein sel jaringan dan menurunkan suhu jaringan
agar memperkecil derajat luka dan mencegah infeksi sehingga sel-sel

epitel mampu berfoliferasi.


Rujuk ke Rumah Sakit
Pada luka bakar dalam pasien harus segera di bawa ke Rumah Sakit
yang memiliki unit luka bakar dan selama perjalanan pasien sudah

terpasang infus.
Resusitasi
Pada luka bakar berat penanganannya sama seperti diatas. Namun bila
terjadi syok segera di lakukan resusitasi ABC.
1)

Airway Management

14

a) Bersihkan jalan napas dengan tangan dan mengangkat dagu


pada pasien tidak sadar.
b) Lindungi jalan napas dengan nasofarigeal.
c) Pembedahan (krikotiroldotomi) bila indikasi

trauma

silafasial/gagal intubasi.
2)

Breathing/Pernapasan
a) Berikan supplement O2.
b) Nilai frekuensi napas dan pergerakkan dinding toraks.
c) Pantau oksimetri nadi dan observasi.

3)

Circulation
a) Nilai frekuensi nadi dan karakternya
b) Ambil darah untuk cross match, DPL, ureum dan elektrolit.
c) Perawatan lokal
Untuk luka bakar derajat I dan II bisa dilakukan perawatan
lokal yaitu dengan pemberian obat topical seperti salep
antiseptic contoh golongan: silver sulfadiazine, moist
exposure burn ointment, ataupun yodium providon.

Pemberian cairan intravena


Untuk pemberian cairan intravena pada pasien luka bakar bisa
menggunakan rumus yang di rekomendasikan oleh Envans, yaitu:

Luas luka dalam persen x BB(kg) = mL NaCl /24 jam


Luas luka dalam persen x BB (kg) = mL Plasma/24 jam
2000 cc gluksosa 5%/24 jam

Separuh jumlah 1+2+3 diberikan 8 jam pertama sisanya 16 jam


berikutnya.
Hari kedua diberikan setengah dari jumlah cairan hari pertama.
Hari ketiga diberikan setengah dari jumlah cairan hari kedua.
Penderita mula-mula dipuasakan karena keadaan syok menyebabkan
peristaltik usus terhambat. Dan di berikan minum setelah fungsi usus
normal kembali. Jika diuresis pada hari ketiga memuaskan dan

15

penderita dapat minum tanpa kesulitan, infuse dapat dikurangi, bahkan


dihentikan.
f

Pemberian obat-obatan
Pemberian obat seperti antibiotic spectrum luas bertujuan untuk
mencegah infeksi terhadap pseudomonas yang dipakai adalah golongan
aminoglikosida. untuk mengatasi nyeri diberikan opiate dalam dosis
rendah melalui intravena.

Nutrisi
Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan
keseimbangan nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu
sebanyak 2.500-3.000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi.

G. Komplikasi Luka Bakar


1. Burn shock (shock hipovolemik)
Merupakan komplikasi yang pertama kali dialami oleh klien dengan luka
bakar luas karena hipovolemik yang tidak segera diatasi.
2. Sepsis
Kehilangan kulit sebagai pelindung menyebabkan kulit sangat mudah
terinfeksi. Jika infeksi ini telah menyebar ke pembuluh darah, dapat
mengakibatkan sepsis.
3. Pneumonia
Dapat terjadi karena luka bakar dengan penyebab trauma inhalasi sehingga
rongga paru terisi oleh gas (zat-zatinhalasi).
4. Gagal ginjal akut
Kondisi gagal ginjal akut dapat terjadi karena penurunan aliran darah
keginjal.
5. Hipertensi jaringan akut
Merupakan komplikasi kuloit yang biasa dialami pasien dengan luka bakar
yang sulit dicegah, akan tetapi bisa diatasi dengan tindakan tertentu.
6. Kontraktur
Merupakan gangguan fungsi pergerakan.
7. Dekubitus
Terjadi karena kurangnya mobilisasi pada pasien denganlu kabakar yang
cenderung bedrest terus.
H. Pemeriksaan Penunjang

16

Menurut Schwartz (2000) & Engram (2000), Kidd (2010)


pemeriksaan diaknostik pada penderita luka bakar meliputi :
1) Pemeriksaan Laboratorium
a) Hitung darah lengkap, elektrolit dan profil biokimia standar perlu
diperoleh segera setelah pasien tiba di fasilitas perawatan.
b) Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat
menurun pada luka bakar masif
c) Konsetrasi gas darah dan PO2 yang rendah (kurang dari 10 kPa
pada konsentrasi oksigen 50 %, FiO2= 0,5) mencurigakan adanya
trauma inhalasi. PaO2 biasanya normal pada fase awal, tetapi dapat
meningkat pada fase lanjut.
d) Karboksihemoglobin perlu segera diukur oleh karena pemberian
oksigen dapat menutupi keparahan keracunan kerbon monoksida
yang dialami penderita. Pada trauma inhalasi, kadar COHb akan
menurun setelah penderita menghirup udara normal. Pada kadar
COHb 35-45% (berat), bahkan setelah tiga jam dari kejadian kadar
COHb masih pada batas 20-25%. Bila kadar COHb lebih dari 15%
setelah 3 jam kejadian ini merupakan bukti kuat adanya trauma
inhalasi
e) Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan
biokimia. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium terhadap
peningkatan dalam 24 jam pertama karena peningkatan kalium
dapat menyebabkan henti jantung.
f) Albumin serum, kadarnya mungkin rendah karena protein plasma
terutama albumin hilang ke dalam jaringan yang cedera sekunder
akibat peningkatan permeabilitas kapiler.
g) Urinalis menunjukkan mioglobin dan hemokromagen menandakan
kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.

17

h) BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal


i) Pemeriksaan penyaring terhadap obat-obatan, antara lain etanol,
memungkinkan penilaian status mental pasien dan antisipasi
terjadinya gejala-gejala putus obat.
2) Rontgen dada : Semua pasien sebaiknya dilakukan rontgen dada,
tekanan yang terlalu kuat pada dada, usaha kanulasi pada vena
sentralis, serta fraktur iga dapat menimbulkan pneumothoraks atau
hematorak. Pasien yang juga mengalami trauma tumpul yang
menyertai luka bakar harus menjalani pemeriksanaann radiografi dari
seluruh vertebrata, tulang panjang, dan pelvis
3) Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap
4) Elektrocardiogram : EKG terutama diindikasikan pada luka bakar
listrik karena disritmia jantung adalah komplikasi yang umum
5) CT scan : menyingkirkan hemorargia intrakarnial pada pasien dengan
penyimpangan neurologik yang menderita cedera listrik.

18