Anda di halaman 1dari 9

Asisten praktikum :

Ari
Wakhid
Subekti
(F14120045)
M.
Ilham
Kurniawan
(F14120080)
Radia
Ariza
Pratama
(F14120109)
Husna
Hanifatul
M.
(F14120116)

LAPORAN PRAKTIKUM MATA KULIAH


TEKNOLOGI GREENHOUSE DAN HIDROPONIK
Analisis Greenhouse di ICDF
Oleh :
Unggul Teguh Prasetyo (F14130009)
M. Haris Fakhrullah (F14130008)
Kresnanto Herlambang. (F14130039)
Christiandy Hawino (F14130057)
Wahyu Setiadi Siregar (F14130047)
M. Iqbal Effendy (F14130101)
Anggy Yanwar (F14130109)
Dosen Praktikum :
Lilis Sucahyo, S.TP, M.Si

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN BIOSISTEM


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia memiliki potensi yang besar sekali dalam pengembangan pertanian. Sumber
daya alam yang berlimpah serta kondisi iklim Indonesia yang menunjang menjadikan negara ini
memiliki peluang yang besar bagi kemajuan agroindustri. Dalam memproduksi berbagai produk
pertanian, Indonesia masih harus dapat bersaing dengan negara-negara lain yang juga
menitikberatkan perekonomiannya di bidang agroindustri. Oleh karena itu, komoditi pertanian
Indonesia haruslah memiliki kualitas yang baik serta produktivitas yang tinggi sehingga mampu
mengungguli produk-produk pertanian negara pesaing. Untuk mewujudkan hal itu, maka
diperlukan penerapan precision agriculture dalam proses produksi berbagai komoditi tersebut.
Precision agriculture merupakan suatu usaha pertanian dengan pendekatan dan teknologi
yang memungkinkan perlakuan yang teliti (precise treatment) terhadap rantai agribisnis. Adapun
penerapannya dalam bioproses yaitu dengan cara mengkondisikan lingkungan sistem produksi
agar tercipta atmosfer yang menunjang sehingga produk pertanian yang dihasilkan memiliki
kualitas dan produktivitas yang tinggi serta hasil yang lebih seragam. Salah satu metode
pencapaiannya yaitu dengan cara bercocok tanam secara hidroponik dan menggunakan
greenhouse sebagai tempat budidaya tanaman produksi, terutama untuk komoditi yang bernilai
tinggi disertai penerapan aplikasi teknologi yang dapat menekan biaya produksi.
Greenhouse merupakan suatu bangunan yang berfungsi untuk melindungi tanaman dari
pengaruh keadaan lingkungan yang kurang baik, seperti tiupan angin kencang, radiasi matahari
yang terlalu panas bagi tanaman, terpaan hujan, serta melindungi tanaman dari serangga dan
penyakit. Berbagai faktor lingkungan tersebut dapat berpengaruh pada tanaman, seperti angin
kencang ataupun intensitas hujan yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman
sehingga pertumbuhan tanaman dapat terganggu. Dengan menggunakan greenhouse sebagai
tempat pembudidayaan tanaman, maka lingkungan tanaman dapat dikondisikan agar sesuai
dengan kebutuhan dimana tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Tujuan
1. Menganalisa parameter lingkungan tumbuh tanaman di greenhouse
2. Menghitung rancangan anggaran biaya dalam pembuata greenhouse

TINJAUAN PUSTAKA

GREEN HOUSE
Greenhouse merupakan suatu bangunan tempat tanaman tumbuh dan berkembang dengan
kondisi lingkungan dalam bangunan yang dapat diatur agar mendekati kondisi yang optimum.
Khususnya di Indonesia, fungsi greenhouse lebih mengarah pada perlindungan tanaman dari
pengaruh buruk iklim dan mengurangi intensitas matahari yang berlebihan. Menurut Nelson
(1981), istilah greenhouse digunakan untuk menyatakan sebuah bangunan yang memiliki
struktur atap dan dinding yang bersifat tembus cahaya, sehingga tanaman tetap memperoleh
cahaya matahari dan terhindar dari kondisi iklim yang tidak menguntungkan. Kondisi iklim yang
tidak menguntungkan antara lain: curah hujan yang deras, tiupan angina yang kencang atau
keadaan suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi yang dapat menghambat pertumbuhan
tanaman.
Megasari (2006), menyatakan bahwa greenhouse yang terbuat dari kaca atau plastik
merupakan bahan tembus cahaya yang dapat berpengaruh pada: (1) peningkatan suhu udara di
dalam greenhouse, (2) melindungi dari siraman hujan secara langsung, (3) melindungi dari
berbagai hama serta berbagai pengaruh perubahan intensitas cahaya matahari yang mengenai
tanaman.
Menurut Bot (1983) dalam Romdhonah (2002) didefinisikan bahwa penggunaan greenhouse
sebagai rumah tanaman akan berpengaruh terhadap iklim mikro yang berbeda sama sekali
dengan lingkungan luar. Hal ini disebabkan oleh:
1. Udara di dalam greenhouse tetap, sehingga pertukaran udara dengan lingkungan luar
sangat kurang dibandingkan dengan udara tanpa penutup. Pergerakan udara di dalam
greenhouse sangat kecil. Hal ini berpengaruh langsung terhadap keseimbangan massa dan
energi dalam greenhouse dan menyebabkan kenaikan suhu
2. 2. Radiasi panjang gelombang pendek dirubah menjadi radiasi gelombang panjang oleh
penutup greenhouse (atap). Perubahan panjang gelombang ini menyebabkan pantulan
sinar oleh permukaan lantai atau yang lainnya di dalam greenhouse naik.
Menurut Walls (1993), pemilihan bentuk greenhouse yang digunakan pada suatu lahan
pertanian tergantung pada keadaan lingkungan dan jenis tanaman yang dibudidayakan. Bentukbentuk greenhouse yang telah umum digunakan antara lain bentuk yang menempel pada
bangunan yang sudah ada, berdiri sendiri (singlespan greenhouse) dengan kemiringan atap yang
sama, atau dengan kemiringan atap yang berbeda yang disesuaikan dengan kemiringan lahan,
dan ada yang terdiri dari dua atau lebih greenhouse (multi-span greenhouse) yang berhubungan
satu dengan yang lainnya (Nelson, 1981).
Green House Tunnel memiliki bentuk rangka semi sirkular atau parabolic arch (lengkungan
parabolik). Jenis rangka seperti ini jarang digunakan untuk iklim tropis seperti Indonesia, karena
bentuk tunnel merupakan pengumpul panas yang baik. Dengan iklim tropisnya, Indonesia
merupakan negara yang memiliki radiasi matahari yang melimpah sepanjang tahun. Untuk
menambah laju ventilasi pada bangunan biasanya bukaan pada atap bangunan yang berfungsi
sebagai ventilasi bangunan (Megasari, 2006).

SUHU
Suhu merupakan ukuran panas dan dingin dari suatu benda. Suhu udara sangat
berpengaruh pada proses-proses yang terjadi pada tanaman seperti proses fotosintesis,
transpirasi, dan respirasi. Suhu udara yang optimum sangat diperlukan bagi tanaman agar dapat
tumbuh dengan baik. Tanaman memerlukan suhu udara optimum yang berbeda-beda (Tiwari and
Goyal, 1998).
Hanan et al. (1978) menyatakan bahwa garis lintang merupakan faktor utama yang
mempengaruhi suhu greenhouse. Faktor lain adalah ketinggian matahari, kondisi topografi yang
mempengaruhi pergerakan angin dan panjang hari. Suhu lingkungan berpengaruh terhadap
proses fisik dan kimiawi tanaman dan selanjutnya mengendalikan proses biologi dalam tanaman
seperti transpirasi.
Harjadi (1984) menyatakan bahwa suhu optimum tanaman berbedabeda tergantung pada
spesies dan varietasnya, serta sesuai dengan tahap fisiologis pekembangannya. Suhu rendah
menguntungkan bagi proses pertumbuhan tanaman, suhu sedang menguntungkan bagi proses
pemanjangan batang dan perkembangan buah, sedangkan suhu tinggi menguntungkan bagi
proses pembungaan.
Suhu yang ekstrim dapat merusak tanaman. Suhu yang terlalu dingin membekukan, dan
suhu terlalu tinggi dapat mematikan tanaman sebagai akibat dari koagulasi protein. Terhentinya
pertumbuhan pada suhu tinggi merupakan suatu gambaran dari suatu keseimbangan metabolik
yang terganggu (Harjadi, 1984). Faktor yang mempengaruhi besarnya suhu dalam greenhouse
adalah tingkat intensitas panas dari radiasi matahari, besar kecilnya panas yang hilang melalui
atap atau dinding, besar kecilnya rambatan panas yang diserap tanaman untuk proses fotosintesis
dan besar kecilnya panas yang hilang melalui ventilasi serta bahan konstruksi. Suhu lingkungan
selain mempengaruhi kecepatan pertumbuhan tanaman dan metabolisme, juga berperan di dalam
pengendalian tanaman spesies tertentu.
KECEPATAN ANGIN
Angin merupakan suatu vektor yang memiliki besaran dan arah. Besaran yang dimaksud
adalah kecepatan sedangkan arahnya adalah darimana datangnya angin. Secara mikro, angin
penting artinya dalam proses pertukaran udara khusunya oksigen dan karbondioksida dari dan ke
lingkungan (Handoko, 1995).
Dalam bentuk yang sangat sederhana, angin dapat dibatasi sebagai gerakan horizontal
udara relatif terhadap permukaan bumi. Batasan ini berasumsi bahwa seluruh gerakan udara
secara vertikal kecepatannya dapat diabaikan karena relatif rendah (<1 m/s) akibat diredam oleh
gaya gravitasi bumi (Handoko, 1995). Sedangkan arah angin dibatasi sebagai arah asal angin itu
bertiup (merupakan lawan arah gerak udara). Walaupun aliran udara ke atas penting dalam
pembentukan awan dan hujan, kecepatan pergerakan horizontal jauh lebih besar dan
mempengaruhi proses-proses cuaca.
Menurut Esmay dan Dixon (1986), pada umumnya kecepatan angin sebesar 0.1 - 0.25
m/s yang mengenai permukaan daun akan memudahkan daun menangkap CO2. Untuk kecepatan

angin sebesar 0.5 m/s, CO2 yang ditangkap akan berkurang. Untuk kecepatan angin sebesar 1.0
m/s akan menghambat pertumbuhan dan kecepatan angin diatas 4.5 m/s akan terjadi kerusakan
proses fisik tanaman.
INTENSITAS CAHAYA
Energi cahaya yang diserap tanaman dirubah menjadi energi kimia dengan proses
fotosintesis yang digunakan untuk pertumbuhan, perkembangan dan produksi tanaman. Bagian
spektrum PAR (Photosynthetically Active Radiation) yang paling potensial dalam fotosintesis
adalah spektrum biru (0.41 nm 0.51 nm). Penurunan intensitas cahaya, khususnya spektrum
biru menyebabkan penurunan kadar ATP dan NADPH2, sehingga laju fotosintesis akan
berkurang. Peningkatan intensitas cahaya dapat meningkatkan kecepatan fotosintesis. Salah satu
komponen yang terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah titik
kompensasi cahaya. Pada saat tanaman ditempatkan pada lingkungan yang mempunyai intensitas
cahaya sebanding atau lebih rendah daripada titik kompensasi cahaya, pertumbuhan akan terhenti
dan tanaman akan mati dalam periode waktu yang pendek (Briggs and Calvin, 1987).
Secara fisiologis cahaya mempunyai pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung.
Pengaruh pada metabolisme secara langsung melalui fotosintesis sedangkan secara tidak
langsung melalui pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Harjadi, 1984). Fotosintesis yang
terjadi dalam keadaan ternaungi sangat bergantung kepada intensitas cahaya yang ada.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Parameter
Suhu Bola Kering
Suhu Bola Basah
Intensitas Cahaya
Kecepatan Angin

Depan
27 C
26 C
16540 Lux
0 m/s

Lokasi Pengukuran
Tengah
27 C
26 C
19250 Lux
0 m/s

Belakang
27 C
25 C
5040 Lux
0 m/s

Pembahasan
Analisis lingkungan dilakukan pada rumah tanaman (greenhouse) tipe tunnel yang
berlokasi di ICDF Bogor. Pengambilan data primer meliputi suhu udara di dalam greenhouse,
kecepatan angin, intensitas cahaya, dan pengukuran dimensi greenhouse.
Suhu merupakan ukuran panas dan dingin dari suatu benda. Suhu udara sangat
berpengaruh pada proses-proses yang terjadi pada tanaman seperti proses fotosintesis,
transpirasi, dan respirasi. Suhu udara yang optimum sangat diperlukan bagi tanaman agar dapat
tumbuh dengan baik. Tanaman memerlukan suhu udara optimum yang berbeda-beda (Tiwari and
Goyal, 1998). Begitu juga dengan intensitas cahaya. Faktor ini berperan besar

terhadap lingkungan greenhouse. Besarnya intensitas cahaya yang diterima


oleh tanaman di dalam greenhouse berbeda-beda, salah satunya tergantung
dari jenis bahan penutup atap atau naungan. Bahan penutup atap yang
digunakan dapat terbuat dari kaca, dan plastik. Penutup plastik dapat
menggunakan plastik standard (UV), dan plastik kaku (FRP, polyethylene,
plexiglass, dan PVC) (Widyarti, 2005).
Pengukuran parameter lingkungan di dalam greenhouse dilakukan pada tiga titik, yaitu
bagian depan, tengah, dan belakang greenhouse. Pengukuran suhu digunakan thermometer bola
basah bola kering, pengukuran intensitas cahaya digunakan luxmeter, dan pengukuran kecepatan
angin digunakan anemometer digital. Berikut hasil pengukuran parameter lingkungan di dalam
greenhouse:
Secara keseluruhan, suhu udara di luar greenhouse lebih rendah dibandingkan dengan
suhu udara di dalam greenhouse. Hal ini terjadi karena adanya penghalang berupa bahan penutup
atap yang akan berpengaruh terhadap suhu udara di dalam greenhouse. Intensitas cahaya
mempengaruhi besarnya suhu udara di dalam greenhouse. Suhu udara akan naik dengan
meningkatnya nilai intensitas cahaya, dan suhu udara akan turun jika intensitas cahaya
berkurang. Namun, pada waktu-waktu tertentu perubahan suhu udara tidak sebanding dengan
perubahan intensitas cahaya. Walaupun intensitas cahaya meningkat atau menurun cukup drastis,
tetapi perubahan suhu udara tidak terlalu besar. Hal ini disebabkan suhu udara tidak dapat
berubah cepat seperti intensitas cahaya, karena ada pengaruh dari pergerakan udara.
Angin merupakan suatu vektor yang memiliki besaran dan arah. Besaran yang dimaksud
adalah kecepatan sedangkan arahnya adalah darimana datangnya angin. Pergerakan angin
penting dalam proses pertukaran udara khususnya oksigen dan karbondioksida dari dan ke dalam
bangunan (Handoko, 1995). Kecepatan angin merupakan salah satu faktor penentu dari kondisi
lingkungan dalam bangunan yang terdapat di dalam greenhouse. Hasil pengukuran kecepatan
angin pada tiga titik pengukuran menunjukan kecepatan angin di dalam greenhouse tidak terlalu
signifikan (0 m/s), hal ini dikarenakan perbedaan suhu yang rendah di luar dan di dalam
greenhouse sehingga tidak terjadi pergerakan angin di dalam greenhouse.
KESIMPULAN
Parameter lingkungan yang berpengrauh besar dalam proses tumbuh kembangnya
tanaman dalan greenhouse meliputi intensitas cahaya, kecepatan angin, serta suhu dan

kelembapan. Rancangan anggaran biaya perlu disusun untuk menghitung nilai keekonomian dari
greenhouse yang akan dibuat serta mengetahui berapa dana yang harus dipersiapkan untuk
membangun greenhouse tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Briggs, G, B. and Clyde L. Calvin. 1987. Indoor Plants. John Wiley and Sons, Inc. New York.
Esmay, Merle L. and John E. Dixon. 1986. Environmental Control for Agricultural Building. Avi
Publishing Company Inc. Connecticut.
Hanan, J. J., W. D. Holley and K. L. Goldsberry. 1978. Greenhouse Management. SpringerVerlag Berlin, New York.
Handoko. 1995. Klimatologi dasar. PT. Dunia Pustaka Jaya. Jakarta.
Harjadi, M. 1984. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia Pustaka. Jakarta.
Megasari, D. 2006. Profil Iklim Mikro dan Konstruksi Greenhouse (Studi Kasus di Bogor dan
Cianjur). Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian, FATETA, IPB. Bogor.
Nelson, P. V. 1981. Greenhouse Operation and Management. Reston Publishing Company, Inc.
Virginia
Romdhonah, Y. 2002. Analisis Sudut Datang Radiasi Matahari dan Pengembangan Model
Pindah Panas pada Greenhouse. Skripsi. Departemen Teknik Pertanian. FATETA. IPB.
Bogor.
Tiwari, G. N., and Goyal, R. K. 1988. Greenhouse Technology. Narosa Publishing House, 6
Community Centre, Panchsheel Park, New Delhi, India
Walls, Ian G. 1993. The Complete Book of the Greenhouse. 5th ed. Ward Lock Ltd., London..
Widyarti, M. 2005. Konstruksi Greenhouse. Departemen Teknik Pertanian,
FATETA, IPB. Bogor.

LAMPIRAN