Anda di halaman 1dari 17

METODE PENYUSUTAN

Penyusutan Aset Tetap (Depresiasi) menurut Pajak


Menurut Undang-undang Pajak Penghasilan, penyusutan atau deperesiasi merupakan
konsep alokasi harga perolehan harta tetap berwujud. Untuk menghitung besarnya
penyusutan harta tetap berwujud dibagi menjadi dua golongan.
Penyusutan Aset Tetap (Depresiasi) menurut Pajak
Menurut Undang-undang Pajak Penghasilan, penyusutan atau deperesiasi merupakan konsep
alokasi harga perolehan harta tetap berwujud. Untuk menghitung besarnya penyusutan
harta tetap berwujud dibagi menjadi dua golongan, yaitu:
1. Harta berwujud yang bukan berupa bangunan.
2. Harta berwujud yang berupa bangunan.
Harta berwujud yang bukan bangunan terdiri dari empat kelompok, yaitu:
1. Kelompok 1: kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa
manfaat 4 tahun.
2. Kelompok 2: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai masa
manfaat 8 tahun.
3. Kelompok 3: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai masa
manfaat 16 tahun.
4. Kelompok 4: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai masa
manfaat 20 tahun.
Harta terwujud yang berupa bangunan dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Permanen: masa manfaatnya 20 tahun.
2. Tidak permanen: bangunan yang bersifat sementara, terbuat dari bahan yang tidak
tahan lama, atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan. Masa manfaatnya tidak
lebih dari 10 tahun.
Metode penyusutan yang dipergunakan adalah metode garis lurus (straight line method) dan
metode saldo menurun (declining balance method).
Wajib pajak diperkenankan untuk memilih salah satu metode untuk melakukan penyusutan.
Metode garis lurus diperkenankan dipergunakan untuk semua kelompok harta tetap terwujud.

Sedangkan metode saldo menurun hanya diperkenankan digunakan untuk kelompok harta
berwujud bukan bangunan saja.
Tabel berikut menggambarkan kelompok harta berwujud, metode, serta tarif penyusutannya:
KELOMPOK HARTA
BERWUJUD

MASA
MANFAAT

I. Bukan Bangunan
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 4
II. Bangunan
Permanen
Tidak Permanen

TARIF DEPRESIASI
SALDO
GARIS LURUS
MENURUN

4 tahun
8 tahun
16 tahun
20 tahun

25%
12,5%
6,25%
5%

50%
25%
12,5%
10%

20 tahun
10 tahun

5%
10%

Saat penyusutan dapat dimulai pada:


1. Bulan dilakukan pengeluaran.
2. Untuk harta yang masih dalam pengerjaan, penyusutannya dimulai pada bulan
pengerjaan harta tersebut selesai.
3. Dengan ijin Direktur Jenderal pajak, penyusutan dapat dimulai pada bulan harta
berwujud mulai digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan atau pada bulan harta tersebut mulai menghasilkan.
Contoh Penghitungan : PT Agri Jaya pada bulan Juli 2009 membeli sebuah alat pertanian
yang mempunyai masa manfaat 4 tahun seharga sebesar Rp 1.000.000. Penghitungan
penyusutan atas harta tersebut adalah sebagai berikut:
Alternatif I: Metode Garis Lurus:
Penyusutan tahun 2009: 6/12 x 25% Rp 1.000.000 = Rp 125.000
Penyusutan tahun 2010: 25% x Rp 1.000.000 = Rp 250.000
Penyusutan tahun 1011: 25% x Rp 1.000.000 = Rp 250.000
Penyusutan tahun 1012: 25% x Rp 1.000.000 = Rp 250.000
Penyusutan tahun 1013: Sisanya disusutkan sekaligus = Rp 125.000
Alternatif II: Metode Saldo Menurun:
Penyusutan tahun 2009: 6/12 x 50% Rp 1.000.000 = Rp 250.000
Penyusutan tahun 2010: 50% x (Rp 1.000.000 Rp 250.000) = 50% x Rp 750.000 = Rp

375.000
Penyusutan tahun 2011: 50% x (Rp 750.000 Rp 375.000) = 50% x Rp 375.000 = Rp
187.500
Penyusutan tahun 2012: 50% x (Rp 375.000 Rp 187.500) = 50% x Rp 187.500 = Rp 93.750
Penyusutan tahun 2013: Sisanya disusutkan sekaligus = Rp 93.750

Penyusutan Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan


Menurut PSAK Nomor 17, penyusutan adalah alokasi umlah suatu aktiva yang dapat
disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Besarnya penyusutan untuk periode
akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Aktiva yang dapat disusutkan adalah yang:
1.

Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari periode akuntansi

2.

Memiliki suatu manfaat yang terbatas

3.

Ditahan oleh suatu perusahaan yang digunakan dalam produksi atau memasok
barang dan jasa untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi.

Masa manfaatnya diukur dengan periode suatu aktiva yang diharapkan digunakan
oleh perusahaan atau jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aktiva
oleh perusahaan.
Sedangkan jumlah yang dapat disusutkan adalah biaya perolehan suatu aktiva, atau
jumlah lain yang disubtitusikan untuk biaya dalam laporan keuangan, dikurangi nilai sisanya.
METODE PENYUSUTAN
Aktiva tetap kecuali tanah akan makin berkurang kemampuannya untuk memberikan
jasa bersamaan dengan berlakunya waktu. Jumlah yang dapat disusutkan dialokasikan
kesetiap periode akuntansi selama masa manfaat aktiva dengan berbagai metode yang
sistematis dan diterapkan secara konsisten/taat asas, tanpa memandang tingkat profitabilitas
perusahaan dan pertimbangan perpajakan, agar dapat menyediakan daya banding hasil afiliasi
perusahaan dari periode penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang
dikelompokkan menurut akuntansi komersial:
1.

Berdasarkan kriteria waktu


a.

Metode garis lurus

b.

Metode pembebanan menurun

2.

3.

1)

Metode jumlah angka tahun

2)

Metode saldo menurun/saldo menurun ganda

Berdasarkan kriteria penerimaan


a.

Metode jam jasa

b.

Metode jumlah unit produksi

Berdasarkan kriteria lainnya


a.

Metode berdasarkan jenis dan kelompok

b.

Metode anuitas

ACCRUAL VS MODIFIED CASH BASIS ACCOUNTING

Stelsel akrual adalah suatu metode penghitungan penghasilan dan biaya dalam arti
penghasilan diakui pada waktu diperoleh dan biaya diakui pada waktu terutang. Jadi, tidak
tergantung kapan penghasilan itu diterima dan kapan biaya itu dibayar secara tunai. Termasuk
dalam pengertian stetsel akrual adalah pengakuan penghasilan berdasarkan metode persentase
tingkat penyelesaian pekerjaan yang umumnya dipakai daiam bidang konstruksi dan metode
lain yang dipakai dalam bidang usaha tertentu seperti build operate and transfer (BOT) dan
real estat.
Stelsel kas adalah suatu metode yang penghitungannya didasarkan atas penghasilan
yang diterima dan biaya yang dibayar secara tunai. Menurut stelsei kas, penghasilan baru
dianggap sebagai penghasilan apabila benar-benar telah diterima secara tunai dalam suatu
periode tertentu serta biaya baru dianggap sebagai biaya apabila benar-benar telah dibayar
secara tunai dalam suatu periode tertentu. Stelsel kas biasanya digunakan oleh perusahaan
kecil orang pribadi atau perusahaan jasa, misalnya transportasi, hiburan, dan restoran yang
tenggang waktu antara penyerahan jasa dan penerimaan pembayarannya tidak berlangsung
lama. Dalam stetsel kas murni, penghasilan dari penyerahan barang atau jasa ditetapkan pada
saat pembayaran dari pelanggan diterima dan biaya-biaya ditetapkan pada saat barang, jasa,
dan biaya operasi lain dibayar.
Dengan cara ini, pemakaian stelsel kas dapat mengakibatkan penghitungan yang
mengaburkan terhadap penghasilan, yaitu besarnya penghasilan dari tahun ke tahun dapat
disesuaikan dengan mengatur penerimaan kas dan pengeluaran kas. Oleh karena itu, untuk
penghitungan Pajak Penghasilan dalam memakai stelsel kas harus memperhatikan hal-hal
antara lain sebagai berikut:

1) Penghitungan jumlah penjualan dalam suatu periode harus meliputi seluruh penjualan,
baik yang tunai maupun yang bukan. Dalam menghitung harga pokok penjualan harus
diperhitungkan seluruh pembeiian dan persediaan.
2) Dalam memperoleh harta yang dapat disusutkan dan hak- hak yang dapat
diamortisasi, biaya-biaya yang dikurangkan dari penghasilan hanya dapat dilakukan
melalui penyusutan dan amortisasi.
3) Pemakaian
stelsel
kas
harus
dilakukan
secara
taat
asas
(konsisten).
Dengan demikian penggunaan stelsel kas untuk tujuan perpajakan dapat juga
dinamakan stelsel campuran.

FIFO VS LIFO DAN COMWIL


METODE PERSEDIAAN
Akuntansi Perpajakan Persediaan
Dari sisi praktik akuntansi komersial dan akuntansi pajak, tidak ada perbedaan prinsip
dalam metode pencatatannya, sehingga metode pencatatan yang dapat digunakan adalah
sistem perpetual, baik rata-rata maupun fifo, atau metode pencatatan fisikal yang ada pada
penjelasan pada pasal 10 ayat (6) Undang Undang Pajak Penghasilan. Namun demikian
mengacu pada pasal10 ayat (6) Undang Undang Pajak penghasilan tersebut bahwa persediaan
dan pemakaian persediaan untuk menghitung harga pokok dinilai berdasarkan harga
perolehan :
1. Average
2. Fifo
Untuk kepentingan perhitungan pajak penghasilan, Pasal 10 ayat (6) Undang Undang
Pajak Penghasilan menyatakan bahwa persediaan harus dinilai berdasarkan harga perolehan.
Oleh karena itu bila wajib pajak melakukan penilaian berdasarkan metode selain harga
perolehan maka diperlukan penyesuaian. Penetapan besarnya nilai persediaan atau nilai
pemakaian menjadi sangat penting karena berpengaruh ke harga pokok produksi. Sebagai
contoh, pada bulan Desember 2007 PT A telah melakukan pembelian barang dengan
perjanjian dengan harga Rp.300.000.000. barang tersebut diterima pada bulan maret tahun
2008 dan pada Desember 2007 harga turun menjadi Rp. 100.000.000 . sesuai praktik
akuntansi komersial kerugian sebesar Rp.100.000.000 dibebankan sebagai kerugian tahun
2007 dengan ayat jurnal :
Kerugian Perubahan Harga 200.000.000
Persediaan 200.000.000
Praktik akuntansi pajak tidak mengakui kerugian sebesar 200.000.000 karena pajak
melihat fakta riil dan tidak menerima antisipasi kerugian. Pajak akan mengakui sebagai
kerugian apabila barang yang dijual tersebut benar-benar mengalami kerugian.
Pajak tidak mengakui metode LIFO Karena dengan menggunakan metode LIFO
perusahaan dapat meminimalkan laba sehingga memperkecil biaya pajak penghasilan. Seiring

dengan berjalannya waktu harga pembelian persediaan terus mengalami peningkatan yang
dapat disebabkan oleh inflasi, maka jika perusahaan menggunakan metode LIFO akan
mengakibatkan kerugian bagi negara karena setoran ke kas negara semakin sedikit. Oleh
karena itu, metode yang boleh digunakan berdasarkan ketentuan perpajakan di Indonesia
hanya metode Average atau FIFO.

PSAK 14 Persediaan
Persediaan adalah salah satu aset lancar signifikan bagi perusahaan pada umumnya,
terutama perusahaan dagang, manufaktur, pertanian, kehutanan, pertambangan, kontraktor
bangunan, dan penjual jasa tertentu. Hal ini menyebabkan akuntansi untuk persediaan
menjadi suatu masalah penting bagi perusahaan-perusahaan tersebut.
Menurut IAS No.2 inventory dan PSAK No.14 persediaan :
Persediaan adalah :
a. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
b. Dalam proses produksi untuk penjualan tersebut, atau
c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses
produksi atau pemberian jasa.
Terdapat beberapa poin penting terkait dengan definisi tersebut diatas :
1. Persediaan merupakan aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.
Ini berarti aset yang dikelompokkan sebagai persediaan adalah aset yang memang
selalu dimaksudkan untuk dijual atau digunakan dalam proses produksi atau
pemberian jasa.
2. Perlengkapan yang dimaksudkan sebagai persediaan adalah perlengkapan yang
digunakan dalam proses produksi, sehingga perlengkpan kantor (seperti alat tulis
kantor) dengan tujuan untuk digunakan administrasi kantor dan bukan untuk dijual,
bukanlah bagian dari persediaan.
3. Perlengkapan tersebut juga harus merupakan perlengkapan yang digunakan secara
regular dalam proses produksi dan bukan perlengkapan yang hanya bisa digunakan
bersamaan dengan aset tetap.
PSAK 14 tidak ditetapkan untuk pengukuran persediaan yang dimiliki oleh produsen
produk agrikultur dan kehutanan, hasil agrikultur setelah panen, dan mineral dan produk
mineral (sepanjang produk tersebut diukur pada nilai realisasi bersih sesuai dengan praktik
yang berlaku diindustri tersebut) dan juga tidak berlaku untuk pialang dagang komoditas
yang mengukur persediaannnya pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual.
Klasifikasi persediaan tergantung dari jenis usaha entitas. Perusahaan dagang
lazimnya hanya mempunyai persediaan barang dagang. Sedangkan perusahaan manufaktur
mengelompokkan persediaan sebagai berikut :
1. Persediaan barang jadi, yaitu barang yang setelah selesai diproduksi dan siap untuk
dijual.
2. Persediaan barang dalam proses, yaitu barang yang sedang dalam proses produksi.
3. Persediaan barang mentah atau bahan baku, yaitu barang yang akan menjadi input
dalam proses produksi.

Akuntansi untuk Persediaan


Nilai persediaan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu berdasarkan hasil
perkalian dua faktor yaitu jumlah kuantitas atau unit fisik yang ada pada tanggal tersebut dan
biaya perolehan per unit barang persediaan yang bersangkutan :
Nilai persediaan = kuantitas (jumlah unit) * biaya perolehan satuan
Akuntansi persediaan pada dasarnya membahas dua masalah pokok yaitu :
a. Metode penetuan kuantitas atau jumlah unit persediaan yang dimiliki perusahaan pada
suatu waktu.
b. Metode penilaian persediaan.

Metode Penetuan Kuantitas Persediaan


Berapa banyak jumlah barang yang tersedia untuk dijual atau dipakai yang dimiliki
perusahan pada suatu waktu tertentu adalah sangat penting untuk diketahui dalam mengelola
suatu perusahaan, dan tentunya juga harus diketahui ketika penyusutan laporan keuangan.
Dalam menentukan jumlah persediaan yang dimiliki perusahaan, selain keberadaan fisik
barang, juga sangat penting untuk dipahami apakah barang yang tersedia secara fisik memang
milik perusahaan, dan sebaliknya juga harus diperhatikan barang dalam perjalan atau barang
konsinyasi yang telah atau masih merupakan milik perusahaan. Sehubungan dengan itu perlu
dipahami dengan baik peraturan hukum dagang yang berlaku dan perjanjian jual beli yang
telah dibuat dengan rekanan.
Dalam dunia usaha pada lazimnya dikenal beberapa syarat secara serah terima
kepemilikan (ownership) barang yang diperdagangkan sebagai berikut ;
FOB (free on board) shipping point : barang menjadi milik pembeli ketika dinaikkan ke
kapal dipelabuhan pengiriman.
Fob (free on board) destination : barang menjadi milik pembeli ketika diturunkan dari
kapal dipelabuhan tujuan.
Berkaitan dengan persyaratan jual beli, dikenal barang dalam perjalanan, yaitu barang
yang terjual dan sudah dikirim tapi masih belum sampai ditempat tujuan sesuai perjanjian,
sehingga hak milik belum pindah tangan, atau barang yang dibeli dan sudah menjadi milik
perusahaan tapi masih belum tiba diperusahaan. Jadi barang yang ada diperusahaan belum
tentu dimiliki, dan sebaliknya barang yang dimiliki belum tentu berada diperusahaan.
Persediaan barang konsinyasi yang dititipkan untuk dijual adalah masih merupakan
persediaan milik penitip barang dagangan (consignor). Dalam transaksi penjualan cicilan,
harus diperhatikan isi perjanjian dan taksiran kemampuan pelunasan. Jika entitas dapat
mengestimasi berapa persen yang tidak dapat dilunasi, maka persediaan dapat dianggap
sudah terjual.
Selain itu, terkadang entitas melakukan penjualan barang dagangan dengan perjanjian
untuk membeli kembali barang tersebut dikemudian hari. Dalam hal ini perlu dianalisis isi
dari perjanjian untuk mengetahui apakah secara substansial dari pembeli ke penjual. jika
penjual tetap mempertahankan resiko dan manfaat kepemilikan barang dagangan tersebut,
walaupun secara fisik telah dialihkan, maka transaksi tersebut merupakan transaksi
pendanaan dan persediaan tetap dicatat oleh entitas penjual.
Metode Pencatatan Periodeik dan Perpetual
Metode periodik

Dalam metode periodik, jumlah persediaan ditentukan secara berkala (periodic)


dengan melakukan penghitungan fisik dan mengalihkan jumlah unit tersebut dengan harga
satuan untuk memperoleh nilai persediaan yang ada pada saat itu. Dalam metode ini, setiap
kali ada pembelian persediaan akan dicatat pada akun pembelian. Sedangkan pada saat
penjualan hanya dibukukan penjualan sejumlah harga penjualan, dan tidak dihitung harga
pokok penjualan untuk setiap transaksi. Pada akhir periode usaha untuk menyusun laporan
keuangan harus diperhitungkan fisik persediaan untuk mengetahui nilai persediaan akhir dan
harga pokok penjualan.
Kelebihan menggunakan metode periodik adalah mudah untuk diterapkan. Sedangkan
kelemahnnya adalah perusahaan tidak mengetahui dengan pasti kuantitas dan total biaya
perolehan persediaan sampai dilakukannya penghitungan fisik.
Metode perpetual
Dalam metode perpetual, catatan persediaan selalu dimutakhirkan (update) setiap kali
terjadi transaksi yang melibatkan persediaan, sehingga perusahaan selalu mengetahui
kuantitas dan nilai persediaannya setiap saat.
Setiap kali dilakukan pembelian barang maka perusahaan akan mendebitkan akun
persediaan (bukan akun pembelian). Setiap kali terjadi penjualan, selain membukukan
penjualan sejumlah harga jual, sekaligus juga dihitung dan dibukukan harga pokok penualan
dengan mengurangi langsung akun persediaan sejumlah harga pokok, dengan mendebit akun
harga pokok penjualan dan mengkredit akun persediaan. Untuk dapat melaksanakan metode
perpetual, akun kontrol persediaan harus ditunjang dengan buku tambahan persediaan untuk
mencatat setiap arus masuk keluar masing-masing jenis barang baik unit maupun harga
satuan.
Tapi untuk meningkatkan pengendalian intern, penghitungan fisik sebaiknya tetap
dilakukan, walupun perusahaan menggunakan metode perpetual. Mengapa? Karena metode
apapun yang digunakan oleh perusahaan, selalu ada resiko barang yang hilang atau kesalahan
dalam pencatatan yang menyebabkan terdapat perbedaan antara catatan persediaan dan nilai
aktual persediaan. Sebaliknya bila digunakan metode penghitungan fisik, tetap harus dibuat
kartu gudang dan buku tambahan persediaan untuk mencatat arus barang dan harga pokok
setiap pembelian, selain untuk tujuan pengendalian, juga akan memudahkan menghitung nilai
persediaan akhir dan harga pokok penjualan pada akhir periode.
Asumsi Arus Biaya
Penilaian persediaan dan harga pokok penjualan berdasarkan biaya perolehan dapat
dilakukan dengan 3 macam metode :
Identifikasi khusus (specific identification)
Rata-rata (average)
Masuk pertama keluar pertama (MPKP/FIFO)
Identifikasi Khusus
Metode identifikasi khusus lazimnya diaplikasikan untuk perdagangan atau produksi
barang dagang yang khusus atau unik dan lazimnya bernilai tinggi. Misalnya barang antik
karya seni, intan mustika, gaun pengantin yang dirancang khusus, bangunan rumah,

bangunan kantor, kevling tanah menurut lokasi atau ukuran dan lain produk terancang secara
khusus
Rata-Rata
Dalam metode rata-rata atau metode rata-rata tertimbang biaya barang tersedia untuk
dijual (persediaan awal dan pembelian) dibagi dengan unit tersedia untuk dijual, untuk
mendapatkan biaya rata-rata per unit. Apabila perusahaan menggunakan metode pencatatan
periodik, maka biaya rata-rata per unit akan dihitung diakhir periode saja. Sedangkan dalam
metode pencatatan perpetual, setiap kali dilakukan pembelian maka akan dihitung biaya ratarata per unit yang baru. Untuk metode pencatatan perpetual, asumsi arus biaya rata-rata
dikenal dengan nama metode biaya rata-rata bergerak (moving averagemethod).
Karena metode pencatatan periodik menghitung biaya rata-rata hanya 1 kali saja
diakhir periode sedangkan metode pencatatan perpetual menghitung biaya rata-rata setiap kali
terjadi pembelian, maka nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan akan berbeda
antara metode pencatatan periodik dan metode pencatatan perpetual.
Masuk Pertama Keluar Pertama (First in First out FIFO)
Metode ini mengasumsikan bahwa barang yang pertama dibeli merupakan barang
yang pertama dijual. Keunggulan metode ini terletak pada nilai persdiaan yang dilaporkan
dilaporan diposisi keuangan (neraca). Karena barang yang dibeli pertama diasumsikan dijual
pertama, maka nilai barang yang dilaporkan sebagai persediaan dineraca mencerminkan
harga perolehan yang terbaru, sehingga dalam keadaan perputaran persediaan normal, nilai
persdiaan dineraca lazimnya lebih mendekati nilai sekarang dari persediaan. Tetapi,
kelemahan metode ini adalah pada nilai harga pokok penjualan yang dilaporkan dilaporan
laba/rugi. Harga pokok penjualan merupakan biaya perolehan masa lalu yang ditandingkan
dengan pendapatan sekarang. Sehingga bila tingkat inflasi cukup tinggi dapat timbul laba
semu, terutama untuk barang yang perputarannya agak lambat.
Metode ini akan menghasilkan nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan yang
sama , baik menggunakan metode pencatatan periodik maupun pencatatan perpetual.
Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last in First out LIFO)
Dalam metode ini, diasumsikan barang yang dibeli terakhir adalah barang yang dijual
pertama, sehingga persediaan yang tersisa dipersediaan akhir adalah barang yang paling awal
diperoleh. Hal ini umumnya tidak mencerminkan penyajian yang handal dari arus aktual
persediaan. IAS 2 dan PSAK 14 melarang menggunakan metode LIFO.
Penggunaan LIFO dalam pelaporan keuangan sering kali disebabkan karena faktor
pajak. Dalam keadaan tren harga barang menunjukkan kenaikan, khususnya dalam inflasi,
metode LIFO umumnya menghasilkan harga pokok penjualan yang lebih tinggi dan laba
bersih yang lebih rendah dibandingkan metode lainnya, sehingga beban pajak perusahaan
lebih rendah.
Oleh karena itu IASB memutuskan untuk menghilangkan metode LIFO karena
metode tersebut secara umum tidak mencerminkan penyajian yang handal dari arus akrual
persediaan. Dibeberapa Negara, penggunaan metode LIFO diperbolehkan untuk tujuan pajak
hanya jika metode tersebut juga digunakan untuk tujuan akuntansi. Tetapi ISAB berpendapat

pertimbangan pajak tidak menjadi dasar konseptual yang memadai untuk memilih perlakuan
akuntansi yang sesuai, sehingga tidak dapat diterima untuk memperbolehkan perlakuan
akuntansi yang inferior semata-mata karena peraturan perpajakan dinegara-negara tertentu.

RUPIAH Vs DOLAR
Perlakuan Pajak Atas Kewajiban Penggunaan Rupiah di Indonesia

Pemerintah telah mewajibkan penggunaan mata uang Rupiah di Indonesia sesuai


dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang namun perlu dikaji tentang
penerapan aturan ini yang dapat berpengaruh pada peraturan pajak, baik Pajak Penghasilan
(PPh) atau Pajak Pertambahan Nilai (PPN) khususnya pada Wajib Pajak Badan yang tentunya
memerlukan perencanaan pajak agar ketentuan penggunaan Rupiah tidak menimbulkan
masalah pajak atau agar dapat meminimalkan masalah pajak dalam kewajiban penerapan
Rupiah.
Berdasarkan UU tentang Mata Uang tersebut, dijelaskan bahwa ada sanksi jika mata
uang selain Rupiah digunakan dalam transaksi di Indonesia secara tunai maupun non tunai,
maka bagi yang melanggar dapat dipidana kurungan maksimal 1 tahun dan denda hingga dua
ratus juta Rupiah. Kewajiban penggunaan Rupiah, berdasarkan UU No. 7 Tahun 2011
tentang Mata Uang mempunyai beberapa perkecualian diantaranya:
1. transaksi tertentu dalam rangka pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara;
2. penerimaan atau pemberian hibah dari atau ke luar negeri;
3. transaksi perdagangan internasional;
4. simpanan di Bank dalam bentuk valuta asing; atau
5. transaksi pembiayaan internasional.
Karena kewajiban diatas, maka Wajib Pajak dapat dipastikan akan menggunakan mata
uang Rupiah dalam transaksi di Indonesia sehingga hal ini dapat menimbulkan pertanyaan
atas perlakuan pajak seperti, sebagai contoh :

Pembukuan dalam mata uang asing,

Perlakuan pajak atas selisih kurs,

Hedging dan pembukuan dalam Rupiah, dan

Pelaporan PPN dan transaksi dalam Rupiah

Tulisan ini akan melihat peraturan perpajakan yang dapat diterapkan oleh Direktorat
Jenderal Pajak (DJP) atas kewajiban penggunaan mata uang Rupiah di Indonesia karena
penerapan UU Mata Uang tersebut.
A.

Pembukuan dalam mata uang asing


Wajib Pajak Badan diperkenankan untuk menggunakan mata uang asing dalam
pembukuan dan pelaporan pajak sesuai Pasal 3 UU KUP dimana pembukuan dalam mata
uang asing harus memperoleh ijin terlebih dahulu dari Menteri Keuangan berdasarkan Pasal
28 ayat (8) UU KUP.
Wajib Pajak yang dapat menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa
asing dan satuan mata uang selain Rupiah yaitu bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar
Amerika Serikat yakni:

Wajib Pajak Penanaman Modal Asing

Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya pertambangan

Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama minyak dan gas bumi;

Bentuk Usaha Tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) UU PPh;

Wajib Pajak yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun seluruhnya di
bursa efek luar negeri;

Kontrak Investasi Kolektif (KIK);

Wajib Pajak yang berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri, yaitu
perusahaan anak (subsidiary company), atau

Wajib Pajak yang menyajikan laporan keuangan dalam mata uang fungsionalnya
menggunakan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat sesuai Standar Akuntansi
Keuangan yang berlaku di Indonesia.

Penerapan kewajiban penggunaan mata uang Rupiah dalam transaksi dalam negeri
tidak hanya berpengaruh pada pembukuan, dimana pembukuan untuk kepentingan komersil
dapat menggunakan mata uang asing, seperti Dollar Amerika Serikat, namun transaksi dalam
negeri termasuk pelaporan pajak menggunakan mata uang Rupiah dan hal ini akan dapat
mempengaruhi harga jual, harga pembelian, biaya gaji, beserta PPh Potongan Pungutan
(withholding tax) yang akan juga mempengaruhi pelaporan PPN.
Untuk pembukuan bagi Wajib Pajak yang melakukan transaksi dalam mata uang asing ,

tentunya harus mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia
khususnya pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tentang Transaksi Dalam Mata
Uang Asing (PSAK No. 10). PSAK tersebut menjadi acuan, diantaranya, untuk pengakuan
dan penghitungan selisih kurs, penentuan kurs yang digunakan hingga pengakuan atas
pengaruh keuangan dari perubahan kurs valuta asing dalam laporan keuangan.
B. Perlakuan Pajak atas Selisih Kurs
Selisih kurs, menurut PPh, dapat menimbulkan permasalahan kerugian dan keuntungan
karena selisih kurs. Keuntungan selisih kurs merupakan objek pajak penghasilan sesuai Pasal
4 ayat (1) UU PPh begitu juga dengan kerugian karena selisih kurs dapat menjadi biaya
pengurang PPh sesuai Pasal 6 ayat (1) UU PPh
Permasalahan nilai tukar dapat terjadi karena beberapa hal, misalkan Wajib Pajak yang
mengimpor barang dengan mata uang asing namun harus menjualnya di Indonesia dengan
mata uang Rupiah. Oleh karenanya, perlu diperhatikan cara menghitung keuntungan dan
kerugian karena cara perhitungan selisih kurs yang tidak diatur rinci dalam UU PPh dan dapat
didasarkan atas PSAK No. 10, contohnya :

Pengakuan selisih kurs, baik sebagai laba atau kerugian dalam laporan rugi laba Wajib
Pajak, atas transaksi dalam mata uang asing akibat devaluasi atau depresiasi luar biasa
suatu mata uang yang tidak memungkinkan dilakukannya hedging.

Pengakuan selisih kurs, yang akan diakui sebagai keuntungan atau kerugian kurs
periode berjalan, karena selisih kurs tunai (spot rate) dan kurs masa depan (forward
rate) misalnya karena adanya swap valuta asing untuk hedging.

Pembukuan untuk selisih kurs harus taat asas berdasarkan sistem pembukuan yang dianut,
sesuai Standar Akuntansi Keuangan, agar tidak dianggap melanggar UU PPh.
Apabila Wajib Pajak diizinkan untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan
bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, berlaku ketentuan konversi ke
satuan mata uang Dollar Amerika Serikat sebagaimana diatur dalam Pasal 6 dari PMK No.
196/PMK.03/2007 yang menjelaskan diantaranya mengenai kurs yang harus digunakan oleh
Wajib Pajak pada awal tahun buku dan pada tahun berjalan untuk beragam transaksi.
C. Hedging dan Kewajiban Penggunaan Rupiah
Wajib Pajak dapat melakukan hedging atau lindung nilai untuk mengatasi masalah resiko
nilai tukar karena kewajiban penggunaan Rupiah. Permasalahan dari hedging adalah apakah
keuntungan atau kerugian karena hedging dapat diakui dalam perhitungan PPh. Untuk itu
pembukuan menurut Standar Akuntansi Keuangan diperlukan untuk menentukan apakah
pembukuan hedging, yang menjadi dasar perhitungan laba atau rugi karena hedging, telah
dilakukan dengan benar.

PSAK No. 55 tentang Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai mengatur tentang
pembukuan atas laba dan rugi instrumen lindung nilai terhadap risiko :
1. Nilai wajar aktiva atau kewajiban yang sudah diakui.
2. Nilai arus kas, atau
3. Risiko valuta asing.
Contoh dari hedging yang dilakukan atas risiko diatas :

ikatan pasti (komitmen) yang belum diakui (lindung nilai atas nilai wajar valuta
asing), atau

transaksi yang diperkirakan akan terjadi (lindung nilai arus kas valuta asing).

Bagi DJP, yang menjadi pertimbangan atas transaksi hedging adalah objek PPh yaitu setiap
tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah
kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun, contohnya
atas bunga dan keuntungan selisih kurs sesuai Pasal 4 ayat (1) UU PPh. Demikian juga
dengan biaya yang dapat dikurangkan atas transaksi hedging seperti biaya bunga dan
kerugian selisih kurs, sesuai Pasal 6 ayat (1) UU PPh.
Jika transaksi hedging meliputi pembayaran, contohnya adalah bunga termasuk premium,
diskonto atau premi swap kepada pihak asing di luar negeri, pembayaran akan terutang PPh
Pasal 26 dengan tarif yang dapat berubah sesuai dengan tax treaty.
D. Pelaporan PPN dan transaksi dalam Rupiah
Untuk penjualan dan pembelian dalam negeri, maka transaksi harus menggunakan mata uang
Rupiah sehingga pelaporan PPN juga harus menggunakan dasar pengenaan pajak dalam
Rupiah.
Dalam prakteknya, pembeli dan penjual di Indonesia dapat saja membuat perjanjian
penjualan atau pembelian yang memungkinkan perubahan harga bila terjadi perubahan nilai
tukar dengan menggunakan proforma invoice, yang dapat dikatakan sebagai komitmen
penjualan atau faktur sementara sehingga faktur komersial akan diterbitkan di kemudian
hari.
Proforma invoice juga terkadang dilakukan untuk menghindari pembayaran PPN yang harus
dilakukan sedangkan pembayaran dari konsumen baru akan dibayar dalam jangka waktu
lama setelahnya. Penggunaan proforma invoice dapat menjadi masalah bila ada perbedaan
antara informasi antara proforma invoice seperti jumlah pembayaran hingga tanggal transaksi
dengan informasi yang ada di faktur pajak.

Untuk pelaporan faktur pajak, penggunaan faktur pajak elektronik (e-faktur) akan lebih
memudahkan pengawasan oleh DJP untuk menemukan ketidaksesuaian informasi faktur
pajak dengan keadaan yang sebenarnya. Dalam pelaporan faktur pajak elektronik, mata uang
yang bisa digunakan hanya Rupiah dan untuk penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau
penyerahan Jasa Kena Pajak yang menggunakan mata uang selain Rupiah maka harus
terlebih dahulu dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs yang
berlaku menurut Keputusan Menteri Keuangan pada saat pembuatan e-faktur.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2012, untuk kepentingan perhitungan PPN,
penggunaan mata uang asing dimungkinkan asalkan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah tersebut juga dijelaskan bahwa dalam
transaksi atas:

Impor Barang Kena Pajak;

Penyerahan Barang Kena Pajak;

Penyerahan Jasa Kena Pajak;

Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak berwujud dari luar Daerah Pabean; atau

Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean,

yang dilakukan dengan mempergunakan mata uang asing maka penghitungan besarnya PPN
atau PPn BM, harus dikonversi ke dalam mata uang Rupiah dengan mempergunakan kurs
yang ditetapkan Menteri Keuangan yang berlaku pada saat pembuatan Faktur Pajak.
Berdasarkan aturan diatas, dapat dilihat bahwa meskipun Faktur Pajak elektronik hanya
mengatur pelaporan PPN dalam Rupiah namun peraturan pajak untuk PPN belum mengatur
kewajiban
penggunaan
Rupiah
dalam
transaksi
di
dalam
negeri.
E.

Kesimpulan
Kewajiban penggunaan mata uang Rupiah di Indonesia berdasarkan UU No. 7 Tahun
2011 dapat membuat Wajib Pajak bertransaksi hanya menggunakan mata uang Rupiah yang
akan mempunyai pengaruh dalam perhitungan PPh serta pelaporan PPN. Wajib Pajak
memerlukan perencanaan pajak atas kewajiban ini seperti dalam hal pembukuan, selisih kurs,
transaksi hedging hingga pelaporan PPN. DJP mungkin perlu merubah beberapa peraturan,
contohnya atas peraturan PPN, untuk turut mendukung penerapan kewajiban penggunaan
mata uang Rupiah untuk transaksi di dalam negeri.
Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing (PSAK 10)

Mata Uang Fungsional Dan Mata Uang Pelaporan


Pada dasarnya, mata uang fungsional (mata uang pengukuran) adalah mata uang yang
digunakan dalam transaksi pengukuran. Sedangkan mata uang pelaporan adalah mata uang
yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan.
PSAK 10 mensyaratkan bahwa suatu perusahaan mengukur transaksinya
menggunakan mata uang fungsionalnya dan membolehkan perusahaan menyajikan laporan
keuangannya dengan menggunakan mata uang apa saja. Namun PSAK 10 paragraf 38 juga
menyatakan bahwa mata uang pelaporan di Indonesia adalah Rupiah.
Faktor-faktor dalam menentukan mata uang fungsional menurut PSAK 10 adalah:
1. Mata uang utama yang memengaruhi harga jual barang dan jasa
2. Mata uang utama yang memengaruhi biaya tenaga kerja, nahan baku, dan biaya
lainnya dalam penjualan barang dan jasa.
Jika kedua faktor tersebut tumpang tindih, maka PSAK 10 mensyaratkan bahwa suatu
perusahaan juga dapat mempertimbangkan pendukung lain dalam menentukan mata uang
fungsionalnya, diantaranya:
1. Mata uang yang digunakan dalam menghasilkan aktivitas pendanaan
2. Mata uang yang digunakan dalam menahan pendapatan dari aktivitas operasi
PSAK 10 lebih lanjut menyatakan bahwa setelah ditentukan, mata uang fungsional
tidak boleh diubah, kecuali terjadi perubahan transaksi, peristiwa, atau kondisi (paragraf 13).
Jika diubah, mata uang fungsional itu harus diperhitungkan secara prospektif sejak tanggal
perubahan itu (paragraf 35).
AKUNTANSI UNTUK TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING
Dalam akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing, terdapat 2 isu terkait, yaitu:
1. Kurs mana yang digunakan untuk menyaji ulang mata uang asing ke dalam mata uang
fungsional, dan
2. Bagaimana cara menangani perbedaan kurs yang timbul
KURS
Tentang kurs valuta asing yang digunakan untuk menyaji ulang mata uang asing ke dalam
mata uang fungsional, PSAK 10 menyatakan bahwa:

1. Pada saat pengakuan awal: Transaksi dalam mata uang asing harus disaji ulang ke
dalam mata uang fungsional menggunakan kurs tanggal transaksi (paragraf 21), dan
2. Pada setiap tanggal pelaporan (paragraf 23):
1. Pos-pos moneter disaji ulang menggunakan kurs penutup
2. Pos-pos non-moneter yang dicatat pada biaya historis harus dilaporkan
menggunakan kurs tanggal transaksi, dan
3. Pos-pos non-moneter yang dicatat pada nilai wajar harus disaji ulang
menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai etrsebut ditentukan.

PENJABARAN LAPORAN KEUANGAN


Merujuk pada PSAK 10, ada 2 skenario dimana penjabaran laporan keuangan dianggap perlu,
yaitu:
1. Ketika mata uang pelaporan suatu entitas tidak sama dengan mata uang
fungsionalnya, dan
2. Ketika untuk kepentingan penyajian laporan keuangan konsolidasian mata uang
pelaporan anak perusahaan dan perusahaan asosiasi tidak sama dengan induk
perusahaan.
Dalam penjabaran laporan keuangan mata uang asing, 2 persoalan akuntansi akan muncul:
1. Manakah kurs yang akan digunakan untuk menjabarkan berbagai laporan posisi
keuangan serta pos-pos laba rugi, dan
2. Bagaimana menangani perbedaan kurs (disebut perbedaan penjabaran) yang
diakibatkan oleh penjabaran ini.
Oleh karena adanya perubahan kurs, pertanyaan pun muncul berkenaan dengan kurs mana
yang harus digunakan untuk menjabarkan berbagai pos dalam laporan keuangan
Persoalan lain adalah bagaimana menangani perbedaan penjabaran. Perbedaan penjabaran
terjadi ketika pos-pos dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berbeda dalam laporan
keuangan suksesif (atau dalam laporan keuangan yang berbeda pada periode yang sama)
Kedua persoalan tersebut, yaitu:
1. Kurs mana yang akan digunakan

2. Bagaimana perbedaan penjabaran ini harus dijelaskan, dapat dijawab dengan cara
yang berbeda bergantung pada metode penjabaran yang digunakan