Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

IDENTIFIKASI BAHAN BAKU PELET, UJI BULKY, DAN UJI


STABILITAS PELET

Disusun oleh :
Kelompok 7 / Perikanan A
Ai Siti Nurhalimah
Cyntia Kurniati
Ade Reza Triandika
Suci Febnikayani
Setyo Widyanto
Rian Ramadhan

230110130011
230110130026
230110130030
230110130045
230110130051
230110130071

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan akhir praktikum Identifikasi
Pakan, Uji Bulky, dan Uji Stabilitas. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi
salah satu tugas laporan akhir mata kuliah Nutrisi Ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu penyelesaian laporan ini, terutama kepada yang
terhormat
1. Ibu Dr. Ir. Rita Rostika, MP. selaku koordinator mata kuliah Nutrisi Ikan
sekaligus membimbing dalam proses pembuatan laporan akhir ini.
2. Ibu Iis Rostini, S.Pi., M.Si., Ibu Dr. Yuli Andriani S.Pi, MP. dan Bapak
Ujang Subhan, S.Pi., M.Si. selaku dosen pengajar mata kuliah Nutrisi Ikan.
3. Tim asisten laboratorium Teknik Pembenihan Ikan yang telah membantu
dan mengarahkan dalam kegiatan praktikum.
4. Teman-teman sekelompok yang telah membantu dalam membuat laporan
akhir ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan imbalan yang setimpal atas
segala bantuan yang telah diberikan. Penyusun menyadari bahwa laporan akhir
praktikum ini masih banyak kekurangan dan sangat jauh dari kata sempurna. Akhir
kata, kami penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Jatinangor, Mei 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
BAB

Halaman
DAFTAR TABEL........................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................... iv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................. v

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2 Tujuan Praktikum .................................................................... 2
1.3 Manfaat praktikum ................................................................... 2

II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan umum pakan buatan ................................................
2.2 Tinjauan umum kandungan nutrisi pelet ................................
2.3 Tinjauan umum Rendemen Pakan ..........................................
2.4 Tinjauan umum uji Fisik pellet ...............................................
2.4.1 Uji Durabilitas .........................................................................
2.4.2 Uji Stabilitas............................................................................

3
6
14
14
15
17

III METODELOGI
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum ...........................
3.2 Alat dan Bahan .......................................................................
3.2.1 Alat ..........................................................................................
3.2.2 Bahan .....................................................................................
3.3 Prosedur Kerja ........................................................................

19
19
19
19
20

IV HASIL DAN PEMBAHSAN


4.1 Hasil .......................................................................................
4.1.1 Data Karakteristik Bahan Pakan Ikan Sumber Protein
Basal ....................................................................................
4.1.2 Data Karakteristik Bahan Pakan Ikan Sumber Protein
Suplemen ..............................................................................
4.1.3 Data Karakteristik Bahan Pakan Ikan Tambahan .................
4.1.4 Pengamatan Uji Bulky...........................................................
4.1.5 Data Uji Stabilitas Pelet Komersil ........................................
4.2 Pembahasan ...........................................................................
4.2.1 Karakteristik Bahan Pakan Ikan Sumber Protein Basal .......
4.2.2 Karakteristik Bahan Pakan Ikan Sumber Protein Suplemen
4.2.3 Karakteristik Bahan Pakan Ikan Tambahan .........................
4.2.4 Uji Bulky Dedak Halus .........................................................
4.2.5 Uji Stabilitas pelet Komersil .................................................

23
23
23
24
24
24
25
25
25
26
27
28

V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1
Kesimplan ............................................................................ 30
5.2
Saran .................................................................................... 30

ii

iii

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................... 31


LAMPIRAN ... ........................................................................ 32

DAFTAR TABEL
Nomor

Judul

Halaman

1. Identifikasi Bahan pakan sumber protein Basal ........................................ 23


2. Identifikasi Bahan pakan sumber protein Suplemen ................................ 23
3. Identifikasi Bahan pakan Tambahan ......................................................... 24

iv

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Judul

Halaman

1. Prosedur Kerja Identifikasi Fisik ............................................................. 20


2. Prosedur Kerja Uji Bulky ......................................................................... 20
3. Prosedur Kerja Uji Stabilitas .................................................................... 21

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Judul

Halaman

1. Alat dan bahan ......................................................................................... 32


2. Prosedur Kerja ........................................................................................... 34

vi

BAB I
PENDAHULUAN

3.2

Latar Belakang
Pakan merupakan kebutuhan terbesar dalam budidaya perikanan. Biaya

produksi untuk pakan mencapai 70 % dari total biaya produksi. Saat ini volume
pakan komersil di pasar sangat beragam baik jenis maupun komposisi. Hal ini tentu
menuntut sensitivitas dan selektifitas yang tinggi agar mampu memilih pakan yang
berkualitas untuk budidaya perikanan. Sejauh ini isu terpenting terkait masalah
pakan ikan adalah kesulitan memperoleh pakan yang memilki nutrisi dan sifat
sesuai dengan kebutuhan serta kondisi biologis ikan atau biota kultur itu sendiri.
Sehingga hal ini menjadi salah satu inhibitor dalam pengembangan budidaya ikan
Pakan ikan dikatakan bermutu jika mengandung nilai nutrisi dan gizi yang
dibutuhkan oleh ikan. Menurut Murtidjo (2001) bahwa Pakan yang berkualitas
mengandung 70% protein, 15% karbohidrat, 10% lemak, dan 5% vitamin, air, dan
mineral. Kualitas pakan tidak hanya sebatas pada nilai gizi yang dikandungnya
melainkan pada sifat fisik pakan seperti kelarutannya, ketercernaanya, warna, bau,
rasa dan anti nutrisi yang dikandung. Kualitas pakan juga dipengaruhi oleh bahan
baku yang digunakan dan nilai durabilitas pakan atau tingkat ketahanan pakan.
Pemilihan baku yang baik dapat dilihat berdasarkan indikator nilai gizi yang
dikandungnya; digestibility (kecernaan); dan biovaibility (daya serap). Pakan yang
berkualitas akan mendukung tercapainya tujuan produksi yang optimal.
Pengetahuan tentang nutrisi, gizi, komposisi serta kualitas secara fisik perlu
diketahui (Suryaningsih, 2010).
Uji fisik pakan merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk
mengetahui tingkat mutu pakan buatan yang dihasilkan perlu dilakukan pengujian,
yang meliputi kehalusan bahan baku, kekerasan, daya tahan di dalam air, dan daya
mengapungnya. Oleh karena pentingnya mengetahui sifat fisik pakan yang nantinya
akan diberikan pada ikan, maka diperlukan adanya praktikum uji fisik pakan yang
dapat menghasilkan pakan buatan berkualitas baik dan dapat mempercepat

pertumbuhan serta perkembangan ikan dengan nutrisi yang terkandung didalam


pakan tersebut.
Ilmu nutrisi pakan ikan tidak terbatas pada cara pembuatan pakan saja.
Pengetahuan tentang formulasi bahan dalam pembuatan pakan juga perlu diketahui.
Komposisi suatu pakan perlu kita ketahui baik sebelum atau sesudah pembuatan
pakan sebagai database dalam pembuatan pakan. Sebelum pembuatan pakan bobot
masing-masing bahan harus diketahui untuk menghasilkan jumlah pakan dengan
nilai nutrisi tertentu. Demikian juga setelah dalam bentuk pakan. Berdasarkan
uraian sebelumnya maka pengetahuan mengenai cara pembuatan pakan
(penyediaan bahan baku) dan teknik pengujian pakan (uji durabilitas dan stabilitas)
perlu dilatih melalui kegiatan praktikum.
1.2

Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Mengetahui cara pembuatan 2elati ikan.
2. Mengetahui kualitas atau mutu 2elati ikan melalui uji fisik 2elati.
3. Mengetahui nilai durabilitas dan stabilitas pellet ikan.

1.3

Manfaat Praktikum
Manfaat praktikum ini adalah dapat membuat pakan ikan dengan kualitas

yang baik dengan komposisi yang sesuai dengan kebutuhan ikan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

3.2

Tinjauan Umum Pakan Buatan


Pakan adalah makanan atau asupan yang diberikan kepada hewan ternak

atau peliharaan. Istilah ini diadopsi dari bahasa Jawa. Pakan merupakan sumber
energi dan materi bagi pertumbuhan dan dan kehidupan makhluk hidup. Pakan
Buatan adalah pakan yang dibuat dengan formulasi tertentu berdasarkan
pertimbangan pembuatnya. Pembuatan pakan buatan sebaiknya didasarkan pada
pertimbangan kebutuhan nutrisi hewan ternak yang bersangkutan, sumber dan
kualitas bahan baku, dan nilai ekonomis, dengan berbagai pertimbangan tersebut,
diharapkan dapat dihasilkan pakan ikan yang memiliki standar mutu tinggi dengan
biaya yang murah, dalam budidaya ikan secara intensif, pakan buatan merupakan
sumber energi utama bagi perkembangan dan pertumbuhan ikan. Berdasarkan
tingkat kebutuhannya, pakan buatan dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu: (1)
pakan tambahan, (2) pakan suplemen, dan (3) pakan utama.
Pakan tambahan adalah pakan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan
kebutuhan pakan, dalam hal ini, ikan yang dibudidayakan sudah mendapatkan
pakan dari alam, tetapi jumlahnya belum memenuhi kebutuhan untuk
perkembangan dan pertumbuhan yang lebih baik. Sementara itu pakan suplemen
adalah pakan yang dibuat untuk memenuhi komponen nutrisi tertentu yang tidak
bisa atau minim disediakan oleh pekan alamai. Sedangkan pakan utama adalah
pakan yang dibuat untuk menggantitikan sebagian besar atau keseluruhan pakan
alami. Pakan utama ini biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan pada
budidaya ikan yang dilakukan secara intensif.
Pabrik pakan berupaya menciptakan pakan buatan yang disukai dan mudah
dicerna oleh ikan, sehingga nutrisi yang terkandung dalam pakan tersebut dapat
digunakan untuk perkembangan dan pertumbuhan ikan secara optimal. Komponen
bahan baku pembuatan pakan dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu
komponen penghasil energi dan komponen bukan penghasil energi.

Fungsi Pakan Pada Ikan


Ikan memenuhi kebutuhan energinya dari pakan, baik pakan alami maupun
pakan buatan, namun, pakan tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan
energi bagi ikan. Beberapa fungsi pakan bagi pertumbuhan dan perkembangan ikan
antara lain
a.

Fungsi pakan pada ikan sebagai pengobatan


Pada dasarnya, ikan yang memperoleh kecukupan pakan dengan kualitas

dan kuantitas yang memadai akan tumbuh dengan baik dan tidak mudah terserang
penyakit. Pakan akan membantu terciptanya sistem ketahanan tubuh pada ikan.
Sistem ketahanan tubuh tersebut akan menciptakan imunitas atau kekebalan
terhadap serangan penyakit, dan sangat dipengaruhi oleh sistem hormonal.
Sementara mekanisme sistem hormonal sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan
yang dikonsumsi, dengan demikian, apabila pakan yang dikonsumsi berkualitas
baik, maka sistem hormonal juga akan berjalan dengan baik dan dengan sendirinya
akan terbentuk sistem ketahanan tubuh yang baik pula.
b.

Fungsi pakan pada ikan sebagai pembentuk warna tubuh


Salah satu fungsi pakan bagi ikan adalah sebagai pembentuk warna tubuh

atau pigmen. Biasanya fungsi pakan tersebut terkandung dalam pakan buatan dan
dimanfaatkan dalam budidaya ikan hias. Pakan buatan yang digunakan untuk
mementuk warna tubuh pada ikan tidak beda jauh dengan pakan buatan lainnya,
hanya ditambah dengan pigmen. Pakan buatan yang diperkaya dengan pigmen
mudah dibedakan karena memiliki warna yang khas, biasanya berwana hijau atau
merah, selain itu, keterangan yang menyebutkan adanya tambahan pigmen biasanya
juga tertera pada kemasan. Ikan yang diberi pakan dengan kandungan pigmen yang
proporsional akan memiliki warna tubuh yang lebih cemerlang dan tajam.
c.

Fungsi pakan pada ikan sebagai peningkat cita rasa


Cita rasa ikan dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi, baik pakan buatan

maupun pakan alami. Setiap lingkungan perairan memiliki pakan alami yang
berbeda-beda. Dengan demikian, ikan disuatu perairan akan memiliki aroma dan
citarasa yang relatif berbeda dengan ikan sejenis yang hidup di lingkungan perairan

lain. Demikian pula ikan sejenis yang ditangkap di lingkungan perairan yang sama
namun pada musim berbeda akan memiliki aroma dan cita rasa yang relatif berbeda.
Cita rasa ikan yang dipelihara di kolam tradisional juga berbeda dengan ikan yang
dipelihara secara intensif. Ikan bandeng yang dipelihara ditambak yang banyak
ditumbuhi ganggang tertentu ternyata memiliki cita rasa dengan aroma lumpur yang
kuat. Pemberian pakan berupa tepung darah di Amerika, bungkil kacang di Israel,
dan kepompong ulat sutra di Jepang ternyata telah menghasilkan cita rasa daging
ikan yang lebih baik dibanding dengan ikan Indonesia yang diberi pakan pelet.
d.

Fungsi pakan pada ikan untuk mempercepat reproduksi


Fungsi lain dari pakan buatan adalah untuk membantu mempercepat proses

pematangan gonad sehingga proses reproduksi bisa dipercepat. Pakan yang baik
akan menunjang kerja organ tubuh sehingga dapat bekerja lebih baik, termasuk
sistem hormon dan endokrin. Sistem endokrin sangat membantu proses reproduksi,
yaitu dengan cara mengatur pengangkutan hormon reproduksi menuju organ
reproduksi. Jenis pakan yang dapat memacu perkembangan dan pematangan gonad
adalah cumi-cumi, udang, kepiting, dan kerang yang masih segar. Penambahan
vitamin E ke dalam pakan juga diketahui dapat merangsang pematangan gonad.
Vitamin E berfungsi untuk mencegah oksidasi EPA (eikosapentanoic acid). EPA
diubah menjadi prostaglandin yang berberan dalam mempercepat pematangan
gonad. Bersama dengan vitamin A yang berperan sebagai antioksidan, penambahan
vitamin E juga akan meningkatkan fungsi PUFA (polyunsaturated fatty acid) yang
diperlukan dalam proses pembentukan hormon.
e.

Fungsi Pakan Pada Ikan Untuk Perbaikan Metabolisme Lemak


Ikan lebih mudah mencerna protein untuk memenuhi kebutuhan energinya

daripada mencerna lemak atau karbohidrat. Kondisi ini kurang menguntungkan,


mengingat sebaiknya protein diperuntukkan bagi pertumbuhan, sedangkan energi
diperoleh dari lemak dan karbohidrat. Beberapa upaya telah dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan ikan dalam mencerna lemak dan karbohidrat sehingga
energi yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan. Beberapa pabrik pakan
menggunakan asam bile untuk meningkatkan kemampuan ikan dalam mencerna

lemak. Asam bile merupakan cairan yang dihasilkan oleh hati. Senyawa ini banyak
mengandung garam natrium dan garam kalium. Proses pencernaan lemak, kedua
jenis garam ini akan menurunkan tegangan permukaan lemak dan mengubah bentuk
lemak menjadi bola-bola kecil (micelle). Lemak berbentuk bola-bola kecil ini
relatif larut dalam air (membentuk emulsi) sehingga mudah diserap oleh tubuh.
Meningkatkan daya cerna ikan terhadap lemak juga dapat dilakukan
dengan penambahan lesitin. Lesitin merupakan lemak yang mengandung gliserol
dan asam fosfat. Senyawa ini banyak terdapat di otak, kedelai, biji bunga matahari,
jagung, dan kuning telur. Selain sebagai sumber lemak, lesitin juga berfungsi untuk
menstabilkan lemak dalam saluran pencernaan, dengan kandungan gliserol yang
tinggi, lesitin mudah dicerna oleh ikan. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah
dengan penambahan mikroba. Selain menguraikan lemak sehingga mudah dicerna
oleh ikan, mikroba juga dapat membantu pencernaan karbohidrat dan protein.
Mikroba ini juga bisa ditambahkan dalam formulasi pakan ikan.
3.2

Tinjauan Umum Kandungan Nutrisi Pelet


Pada usaha budidaya ikan yang dilakukan secara tradisional, kebutuhan

pakan ikan dapat dipenuhi oleh pakan alami yang tumbuh di kolam. Akan tetapi
pada usaha budidaya ikan secara intensif, ketersediaan pakan alami tersebut sudah
tidak mampu menopang pertumbuhan ikan secara optimal. Telah kita sebutkan
bahwa komponen bahan baku pembuatan pakan ikan dikelompokkan menjadi dua
golongan, yaitu komponen penghasil energi dan komponen bukan penghasil energi.
1.

Komponen Penghasil Energi


Komponen yang termasuk dalam kelompok ini akan menghasilkan energi

bila dicerna oleh ikan. Tiga komponen zat gizi yang dapat menghasilkan energi
yaitu protein, lemak, dan karbohidrat. Sebagian penulis menyebut ketiga komponen
pakan tersebut merupakan komponen makro (macro component) karena dibutuhkan
oleh ikan dalam jumlah relatif besar. Nilai energi dari komponen pakan adalah 4,0
kkal/g untuk protein; 9,0 kkal/g untuk lemak; dan 4,0 kkal/g untuk karbohidrat.
Efisiensi energi pakan dalam budi daya ikan dianggap baik apabila berkisar antara
25-40%. Artinya, untuk memperoleh energi bagi pertumbuhanan sebesar 100 kkal

dibutuhkan energi dalam pakan sehesar 250-400 kkal. Hal ini berarti energi yang
dapat digunakan untuk pertumbuhan kurang dari 50% total energi dalam pakan,
selebihnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup (cost of living).
2.

Komponen Bukan Penghasil Energi


Meskipun tidak menghasilkan energi, komponen yang termasuk dalam

kelompok ini tetap diperlukan oleh ikan untuk menjaga keseimbangan gizi di dalam
tubuhnya. Komponen pakan yang tidak menghasilkan energi adalah vitamin dan
mineral. Kedua komponen ini sangat besar peranannya dalam mempertahankan
kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan. Sebagian penulis menyebut komponen
zat gizi ini merupakan komponen mikro (micro component) karma dibutuhkan oleh
tubuh ikan dalam jumlah relatif kecil.
Beberapa penulis menambahkan air sebagai zat gizi keenam. Meskipun
bukan pakan dalam arti sehenarnya, air tetap diperlukan sebagai media proses
metabolisme dan pembentukan cairan tubuh ikan.
a. Protein
Protein adalah senyawa yang terbentuk dari rangkaian asam amino yang
berikatan sesamanya melalui ikatan peptida dan ikatan silang antara ikatan
sulfhidril, ikatan hidrogen, dan ikatan van der waal. Dengan kata lain, protein
merupakan suatu polimer heterogen yang terdiri atas ratusan, bahkan ribuan,
molekul senyawa asam amino, yaitu komponen terkecil yang menyusun protein.
Protein merupakan material organik utama dalam jaringan dan organ tubuh ikan.
Persentase protein di dalam tuhuh ikan berada pada posisi kedua setelah air, yakni
berkisar antara 18-30%. Protein bersama komponen nitrogen lainnya juga
membentuk senyawa-senyawa tertentu, seperti asam nukleat, enzim, hormon,
vitamin, dan lain-lain. Fungsi Protein. Ikan menggunakan protein secara efisien
sebagai sumber energi. Sebagian besar energi yang dapat dicerna (digestible
energy) dalam protein dapat dimetabolisme dengan lebih baik oleh ikan
dibandingkan dengan hewan lainnya. Demikian pula, peningkatan panas akibat
mengonsumsi protein pada ikan lebih rendah, yang berarti nilai energi produktif

yang diberikan oleh protein kepada ikan lebih besar. Secara garis besar fungsi
utama protein di dalam tubuh ikan adalah sebagai berikut :
1. Merupakan sumber energi bagi ikan, terutama apabila komponen lemak dan
karbohidrat yang terdapat di dalam pakan tidak mampu memenuhi kebutuhan
energi.
2. Berperan dalam pertumbuhan maupun pembentukan jaringan tubuh.
3. Berperan dalam perbaikan jaringan tubuh yang rusak.
4. Merupakan komponen utama dalam pembentukan enzim, hormon, dan
antibodi.
5. Turut berperan dalam pembentukan gamet.
6. Berperan dalam proses osmoregulasi di dalam tubuh.
Protein yang diserap oleh ikan akan digunakan sebagai sumber energi,
untuk memperbaiki protein jaringan, dan untuk pertumbuhan. Ketersediaan protein
dibutuhkan secara terus-menerus karena asam amino digunakan secara terusmenerus untuk membentuk protein baru (selama pertumbuhan dan reproduksi) atau
mengganti protein yang rusak (pemeliharaan).
b. Lemak
Lemak adalah senyawa organik yang mengandung unsur karbon (C),
hidrogen (H), dan oksigen (0) sebagai unsur utama. Beberapa di antaranya ada yang
mengandung nitrogen (N) atau fosfor (P). Secara umum, lemak dan minyak
(keduanya sering disebut lipid) merupakan sumber energi paling tinggi dalam
pakan ikan. Perbedaan antara lemak dan minyak hanya terletak pada titik cairnya
(melting point). Lemak cenderung mempunyai titik cair lebih tinggi. Selain itu,
lemak memiliki rantai molekul lebih panjang dan bobot molekul lebih berat. Lemak
dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu lemak sederhana, lemak campuran, dan
lemak turunan. Lemak sederhana (simple lipids) terdiri atas lemak netral
(trigliserida), ester gliserol, wax (ester kolesterol, ester vitamin A atau D), dan lainlain. Wax merupakan ester asam lemak dari alkohol berantai panjang, berperan
sebagai sumber energi dan memperbaiki karakteristik fisika dan kimia.
Lemak campuran (compound lipids), misalnya fosfolipid yang merupakan
ester asam lemak dan asam fosfatidik. Lemak ini merupakan komponen utama

lemak pada membran sel. Lemak turunan (derived lipids), yaitu produk hidrolisis
dari lemak sederhana dan lemak campuran. Komponen utama lemak turunan adalah
asam lemak. Berdasarkan kejenuhannya, lemak dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu lemak jenuh dan tidak jenuh. Kejenuhan lemak dapat diketahui
berdasarkan ada tidaknya ikatan rangkap di antara atom karbon penyusunnya.
Lemak tidak jenuh mempunyai satu atau lebih ikatan rangkap, sedangkan lemak
jenuh tidak mempunyai ikatan rangkap. Lemak jenuh relatif sulit bereaksi karena
titik cairnya relatif tinggi dibandingkan dengan lemak tidak jenuh. Fungsi Lemak.
Ikan menggunakan lemak sebagai sumber energi utama, pembentuk struktur sel
prekursor, dan pemelihara keutuhan biomembran yang berperan dalam
pengangkutan antarsel untuk nutrien yang larut lemak, seperti sterol dan vitamin.
Sterol adalah alkohol berantai panjang yang polisiklik. Fungsi utama senyawa ini
adalah sebagai komponen pada sistem hormon, terutama dalam proses pematangan
gonad dan fungsi fisiologis yang berkaitan dengan pemijahan. Aktivitas
biomembran sangat dipengaruhi oleh asam lemak yang terdapat dalam fosfolipid.
Pakan maupun daging ikan, lemak umumnya terdapat dalam bentuk
trigliserida, fosfolipid, dan kadang-kadang wax. Trigliserida terbentuk dari molekul
gliserol dengan tiga asam lemak. Fosfolipid juga dibentuk dari molekul gliserol,
tetapi dengan hanya dua asam lemak. Pengganti asam lemak ketiga adalah asam
fosfor dan jenis molekul lain (kolin, inositol, dan lain-lain). Wax merupakan ester
yang terbuat dari asam lemak dan alkohol berantai panjang. Trigliserida berperan
dalam penyimpanan lemak. Fosfolipid penting dalam pembentukan membran sel.
Wax merupakan bentuk umum penyimpanan asam lemak pada beberapa
zooplankton.
Sumber energi utama, kemampuan lemak untuk menghasilkan energi jauh
lebih besar dibandingkan dengan karbohidrat atau protein, namun, karena ikan
mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam mengonsumsi protein, peranan
lemak sebagai sumber energi menempati kedudukan kedua setelah protein. Peranan
penting lemak sebagai sumber energi terutama terdapat pada ikan karnivor. Pada
ikan karnivor, ketersediaan karbohidrat sangat rendah. Penambahan lemak sebagai

10

sumber energi akan meningkatkan keefektifan penggunaan protein (protein sparing


effect).
c. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan salah satu komponen sumber energi. Tampaknya,
peranan karbohidrat sebagai sumber energi bagi ikan belum dapat dipahami
sepenuhnya. Ikan mempunyai kemampuan untuk menggunakan karbohidrat
sebagai sumber energi, akan tetapi juga dapat hidup tanpa pemberian karbohidrat.
Diduga, ikan tidak mempunyai kebutuhan karbohidrat secara khusus, tetapi akan
tumbuh lebih baik apabila pakan yang diberikan mengandung karbohidrat. Bahan
baku pakan yang mengandung karbohidrat antara lain jagung, beras, dedak, tepung
terigu, tapioka, dan sagu. Sebagian bahan di atas, selain berperan sebagai sumber
karbohidrat juga berfungsi sebagai alat perekat (hinder) untuk mengikat komponen
bahan baku dalam pembuatan pakan.
Karbohidrat terdiri atas serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Serat
kasar sangat sulit dicerna oleh ikan, namun kehadirannya dalam pakan tetap
diperlukan, yakni untuk meningkatkan gerak peristaltik usus. Pemberian serat kasar
dalam pakan perlu diperhatikan. Kandungan serat kasar di dalam pakan udang
sebaiknya tidak lebih dari 30%. Pemberian serat kasar dalam jumlah berlebihan
dapat rnenyebabkan gangguan pada proses penyerapan pakan di dalam usus halus.
Unsur utama yang membentuk karbohidrat adalah karbon, hidrogen, dan oksigen.
Apabila dibandingkan dengan lemak dan protein, karbohidrat relatif lebih mudah
larut di dalam air, terutama golongan karbohidrat sederhana.
Selain berfungsi sebagai sumber energi bagi ikan, karbohidrat juga berperan
dalam menghemat penggunaan protein sebagai sumber energi. Apabila pakan yang
diberikan kekurangan karbohidrat, ikan akan kurang efisien dalam penggunaan
pakan berprotein untuk menghasilkan energi dan kebutuhan metabolik lainnya.
Hubungan antara protein dan karbohidrat sering disebut protein sparing effect dari
karbohidrat, di mana karbohidrat dapat menghemat protein. Diduga bahwa 0,23
gram karbohidrat per 100 gram pakan dapat menghemat 0,05 gram protein.
Karbohidrat juga berperan sebagai prekursor untuk berbagai metabolisme
internal

(intermediate

metabolism)

yang

produknya

dibutuhkan

untuk

11

pertumbuhan, misalnya asam amino non esensial dan asam nukleat. Di dalam tubuh
ikan, karbohidrat disimpan sebagai cadangan energi di dalam hati dan otot dalam
bentuk glikogen.
d. Vitamin
Vitamin adalah senyawa organik yang esensial bagi pertumbuhan.
Meskipun hanya dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, vitamin berperan
sangat penting untuk menjaga agar proses-proses yang terjadi di dalam tubuh ikan
tetap berlangsung dengan balk. Vitamin harus selalu didatangkan melalui pakan
sebab tubuh ikan tidak mampu membuatnya sendiri. !kan yang mengandalkan
pakan alami hampir tidak pernah kekurangan vitamin. Namun, apabila ikan
dibudidayakan secara intensif di kolam, saluran, dan karamba, di mana pakan alami
yang tersedia sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan ikan, penambahan vitamin
sangat diperlukan.
Kandungan vitamin di dalam pakan buatan tergantung dari bahan baku yang
digunakan dan bahan yang ditambahkan. Jumlah vitamin dapat berkurang atau
rusak selama proses pembuatan dan penyimpanan pakan buatan. Oleh karena itu,
perlu selalu dilakukan penambahan vitamin.Sebagian besar vitamin akan rusak
karena penanganan yang kurang cermat, baik selama proses pembuatan maupun
penyimpanan pakan yang terlalu lama (lebih dari tiga bulan). Tiamin akan
kehilangan aktivitasnya apabila pembuatan atau penyimpanan pakan dilakukan
dalam kondisi basa atau mengandung sulfida. Beberapa vitamin akan mengalami
perombakan lebih lanjut apabila terkena cahaya matahari secara langsung.
Riboflavin harus dilindungi dari cahaya matahari atau cahaya lampu. Piridoksin
tidak tahan terhadap udara dan cahaya matahari. Asam pantotenat kurang stabil
apabila disimpan di tempat yang panas dan lembap. Cahaya matahari dan
penyimpanan yang terlalu lama akan merusak aktivitas asam folat. Fungsi vitamin
B-12 akan menurun apabila disimpan di tempat yang bersuhu tinggi. Vitamin E
sangat sensitif terhadap proses oksidasi. Vitamin K dalam bentuk sintetis harus
terlindung dari cahaya matahari secara langsung.
Tampak jelas bahwa fungsi vitamin mudah terganggu sehingga lebih baik
segera digunakan. Jika terpaksa disimpan, sebaiknya vitamin di letakkan di tempat

12

kering dan dingin, serta terhindar dari pengaruh cahaya matahari maupun cahaya
lampu yang terlalu terang. Klasifikasi dan Fungsi Vitamin. Secara garis besar,
vitamin dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu vitamin yang larut dalam
lemak dan vitamin yang larut dalam air. Golongan vitamin yang larut dalam lemak
yaitu vitamin A, D, E, dan K. Sementara, goloagan yang larut dalam air yaitu
vitamin B dan C. Vitamin B terdiri atas tiamin (B-1), riboflavin (B-2), piridoksin
(B-6), sianokobalamin (B-12), niasin, biotin, kolin, asam folat, inositol, dan asam
pantotenat.
Didalam proses osmoregulasi tubuh, vitamin mempunyai peranan yang
penting, di antaranya sebagai berikut:
1. Merupakan katalisator (pemacu) dalam proses metabolisme. Vitamin
merupakan bagian dari enzim atau koenzim yang berperan dalam pengaturan
berbagai

proses

metabolisme.

Vitamin

mampu

mempercepat

proses

perombakan pakan tanpa mengalami perubahan.


2. Membantu protein dalam memperbaiki dan membentuk sel baru.
3. Mempertahankan fungsi berbagai jaringan tubuh sebagaimana mestinya.
4. Turut berperan dalam pembentukan senyawa-senyawa tertentu di dalam tubuh.
e. Mineral
Mineral merupakan elemen anorganik yang dibutuhkan oleh ikan dalam
pembentukan jaringan dan berbagai fungsi metabolisme dan osmoregulasi. Ikan
juga

menggunakan

elemen

anorganik

tersebut

untuk

mempertahankan

keseimbangan osmosis antara cairan tubuh dan cairan di sekitarnya. Mineral


dibutuhkan dalam jumlah relatif kecil, namun berperan sangat penting dalam
menjaga kelangsungan hidup, mengingat beberapa proses yang berlangsung di
dalam tubuh ikan membutuhkan mineral.
Berdasarkan kebutuhannya, mineral dapat dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu mineral esensial dan mineral nonesensial. Mineral esensial harus selalu
tersedia di dalam tubuh ikan dan harus disuplai dari pakan karena tubuh ikan tidak
mampu memproduksi mineral ini. Sementara, mineral nonesensial yaitu mineral
yang sebaiknya tersedia di dalam tubuh ikan. Berdasarkan jumlah kebutuhannya,
mineral dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu makromineral dan

13

mikromineral. Makromineral yaitu mineral yang dibutuhkan oleh tubuh ikan dalam
jumlah relatif besar, seperti kalsium (Ca), fosfor (P), belerang (S), natrium (Na),
klorida (CI), magnesium (Mg), dan kalium (K). Sebaliknya, mikromineral adalah
mineral yang dibutuhkan oleh tubuh ikan dalam jumlah relatif kecil, yaitu kobalt
(Co), selenium (Se), tembaga (Cu), seng (Zn), mangan (Mn), krom (Cr), fluor (F),
iodium (I), besi (Fe), dan molibdenum (Mo). Mikromineral sering pula disebut
sebagai trace mineral.
Kelengkapan mineral dalam pakan buatan belum memberikan jaminan akan
kualitas nutrien pakan yang baik. Kelengkapan mineral akan memberikan dampak
positif apabila diikuti dengan komposisi yang tepat dari nutrisi lainnya, seperti
protein, lemak, karbohidrat, dan vitamin. Komposisi pakan tersebut sangat
berpengaruh terhadap penyerapan mineral oleh tubuh ikan. Sebagai contoh,
penyerapan mineral esensial oleh ikan berlangsung dalam bentuk garam atau
senyawa sukar larut (kecuali K dan Na). Bentuk-bentuk ini memerlukan protein
yang berfungsi sebagai pembawa dan bahan-bahan lain untuk mempermudah
penyerapan. Fungsi utama mineral adalah berperan dalam proses pembentukan
rangka, pernapasan, dan metabolisme. Mineral pembentuk rangka berperan dalam
pembentukan struktur tubuh ikan, seperti tulang, gigi, dan sisik ikan. Mineral yang
termasuk kelompok ini adalah Ca, P, F, dan Mg. Mineral Fe, Cu, dan Ca berperan
besar dalam proses pernapasan. Sementara, mineral yang membantu proses
metabolisme meliputi semua mineral, baik yang esensial maupun nonesensial.
Mineral-mineral tersebut berperan dalam pembentukan enzim dan pengaturan
keseimbangan antara cairan tubuh dan cairan lingkungannya.
Selain fungsi-fungsi utama tersebut, beberapa fungsi lain dari mineral adalah
sebagai berikut:
1. Mengatur keseimbangan asam basa dan proses osmosis antara cairan tubuh dan
lingkungannya (terutama Na, K, Ca, dan CI).
2. Berperan dalam proses pembekuan darah dan pembentukan hemoglobin
(terutama Fe, Cu, dan Co).
3. Berperan penting dalam proses metabolisms (terutama Cl, Mg, dan P).

14

4. Mengatur fungsi sel (Cu dan Zn), membentuk fosfolipid dan bahan inti sel (S
dan P), mematangkan kelenjar kelamin (Br), dan membentuk hormon tiroid (I).

3.2

Tinjauan Umum Rendemen Pakan


Rendemen adalah presentase produk yang didapatkan dari membandingkan

berat awal bahan dengan berat akhirnya. Sehingga dapat di ketahui kehilangan
beratnya proses pengolahan. Rendeman didapatkan dengan cara (menghitung)
menimbang berat akhir bahan yang dihasilkan dari proses dibandingkan dengan
berat bahan awal sebelum mengalami proses. Sehinga dapat diketahui kehilangan
beratnya ketika mengalami proses pengolahan. Rendemen didapat dengan cara
menimbangkan hasil berat akhir yang dihasilkan dari proses dibandingkan dengan
berat awal sebelum mengalami proses (Sudarmadji dan Suhadi, 1998).
Rendemen Pakan = (Berat akhir / Berat awal) x 100%
3.2

Tinjauan Umum Uji Fisik Pelet


Membuat pakan ikan sendiri memang memberikan keuntungan yang lebih

dalam budidaya ikan. Untuk menghasilkan pakan ikan yang bermutu, maka perlu
dilakukan pengujian. Pengujian yang dilakukan adalah baik secara fisik, kimiawi
maupun secara biologis. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui tingkatan mutu
pakan yang kita buat.
Pengujian kualitas pakan dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu :
a.

Pengujian Fisik
1. Kehalusan bahan baku
2. Kekerasannya
3. Daya tahan dalam air
4. Daya apung
Kehalusan bahan penyusun pelet dapat dilihat dengan mata. Kehalusan
bahan baku dapat diuji dengan jalan menggiling ulang, berdasarkan besar
kecilnya ukuran butiran kita dapat membedakannya menjadi sangat halus,
agak kasar, sangat kasar dan sebagainya. Kekerasan dapat diuji dengan
memberi baban pada pelet sampai batas beban tertentu pelet akan hancur.

15

Pelet yang baik harus mempunyai kekerasan yang tinggi, dan biasanya
berasal dari bahan baku yang cukup halus.
Pengujian ketahanan dalam air (water stability), dilakukan dengan cara
mengambil pakan, selanjuntnya merendam pakan dalam air dingin. Waktu yang
diperlukan sampai saat pelet hancur merupakan ukuran daya tahan pelet tersebut.
Pengujian daya apung, kita lakukan dengan jalan menjatuhkan pelet kedalam air,
waktu yang diperlukan mulai saat pelet menyentuh permukaan air sampai
tenggelam di dasar, adalah merupakan ukuran daya apungnya.
b.

Pengujian Kimiawi
Setelah dilakukan pengujian secara fisik dapat dilakukan pengujian secara
kimiawi. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui kandungan gizi dari
pakan tersebut, yaitu kadar protein, lemak, karbohidrat, abu, serat dan kadar
air. Pengujian ini dapat dilakukan di laboratorium. Parameter yang diuji
antara lain energi gross, protein kasar, lemak kasar dan kandungan serat.

c.

Pengujian Biologis
Setelah melakukan pengujian secara fisik dan secara kimiawi perlu juga

dilakukan lainnya yaitu pengujian secara biologis. Pengujian biologis sangat


penting terutama untuk milihat nilai konversi pakan (Feed Conversion Ratio). Nilai
ini sebenarnya bukan merupakan angka mutlak, karena tidak hanya ditentukan oleh
kualitas, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti jenis, ukuran ikan,
kepadatan, kualitas air dan lain-lain. Semakin kecil nilai konversi pakan, semakin
baik kualitas pakan karena akan semakin ekonomis, untuk mengetahui nilai
konversi pakan perlu dilakukan dilakukan pengujian lapangan pada berbagai tipe
percobaan.
3.2.2

Uji Durabilitas
Durabilitas pelet adalah ketahanan partikel pelet yang dirumuskan sebagai

persentase dari banyaknya pakan pelet utuh setelah melalui perlakuan fisik dalam
alat uji tumbling cane terhadap jumlah pakan semula sebelum dimasukkan ke dalam
alat. Pelet yang baik mempunyai durabilitas di atas 90 % atau kandungan tepung di
bawah 10 %. Nilai durabilitas pelet sangat ditentukan oleh penggunaan bahan baku

16

dalam formulasi pakan dan teknis operasional pelet mil. Untuk memperoleh
durabilitas tinggi digunakan bahan baku yang mempunyai peletabilitas tinggi,
sebagai contoh jagung bernilai sedang, katul bernilai rendah, dan wheat pollard
bernilai tinggi. Apabila perhitungan formulasi least cost tidak memungkinkan maka
biasa ditambahkan binder (perekat sintetis) untuk meningkatkan durabilitas.
Penyesuaian teknis operasional pelleting dapat mempengaruhi durabilitas yaitu
penggunaan ukuran die yang tepat (diameter dan compression ratio / perbandingan
antara panjang lubang efektif terhadap ketebalan die), kombinasi steam conditioner
dan kecepatan feeder yang efektif, kerja cooler pendingin yang optimal dan lainlain.
Uji durabilitas menggunakan tumbling cane. Terbaik dilakukan segera
setelah bahan pelet melewati cooler pada saat suhu partikel sudah dianggap dingin.
Apabila nilai durabilitas diperoleh dari perlakuan setelah 1 jam sejak cooling maka
hasil 95 harus dituliskan sebagai (95). Apabila uji dilakukan sebelum cooler maka
nilai durabilitas akan lebih kecil disebabkan oleh adanya penguapan kandungan air.
Penambahan gula juga berpengaruh pada kekentalan gel yang terbentuk.
Gula akan menurunkan kekentalan, hal ini disebabkan gula akan mengikat air
sehingga pembengkakan butirbutir pati terjadi lebih lambat akibatnya gelatinnya
lebih tinggi. Durabilitas diperoleh dengan membagi berta pellet setelah ditumbing
dibagi berta pellet sebelum ditumbing dikali 100 %.
Pakan atau pelet yang baik adalah pelet yang memiliki index ketahanan
(pellet durability index) yang baik sehingga dalam proses penanganan dan
transportasi pelet tidak mengalami kerusakan secara fisik, tetap kompak, kokoh dan
tidak mudah rapuh. Dozier (2001) menyatakan bahwa standar spesifikasi pellet
durability index (PDI) minimum adalah 80%. Daya tahan pelet dipengaruhi oleh
komposisi kimiawi bahan yaitu lemak, pati, protein, serta serat (Ginting 2009).
Pellet Durability Index juga dapat dipengaruhi oleh ukuran partikel pelet. Makin
kecil ukuran pelet maka semakin menunjang kekerasan dan ketahanan pelet yang
dihasilkan, karena semakin banyak pati yang diubah oleh uap panas menjadi
perekat maka dapat membantu proses perekatan partikel-partikel dalam bahan
baku.

17

3.2.2

Uji Stabilitas
Uji coba pakan secara fisik bertujuan untuk mengetahui stabilitas pelet di

dalam air (Water Stability Feed) yaitu daya tahan pakan buatan di dalam air.
Stabilitas pakan dalam air adalah tingkat ketahanan pakan di dalam air atau berapa
lama waktu yang dibutuhkan hingga pakan lembek dan hancur. Stabilitas pakan
dalam air, meliputi uji kecepatan pecah dan dispersi padatan. Uji kecepatan pecah
mengukur berapa lama waktu sampai pakan hancur di dalam air. Uji pecah diamati
secara visual.
Uji stabilitas dimaksudkan untuk menjamin kualitas produk yang telah
diluluskan dan beredar di pasaran. Dengan uji stabilitas dapat diketahui pengaruh
faktor lingkungan seperti suhu dan kelembaban terhadap parameterparameter
stabilitas produk seperti kadar zat aktif, pH, berat jenis dan netto volume sehingga
dapat ditetapkan tanggal kadaluwarsa yang sebenarnya.
Berdasarkan durasinya, uji stabilitas dibagi menjadi dua, yakni :
1.

Uji stabilitas jangka pendek (dipercepat)


Uji stabilitas jangka pendek dilakukan selama 6 bulan dengan kondisi

ekstrim (suhu 40 20 C dan Rh 75% 5%). Interval pengujian dilakukan pada


bulan ke-3 dan ke-6.
2.

Uji stabilitas jangka panjang (real time study)


Uji stabilitas jangka panjang dilakukan sampai dengan waktu kadaluwarsa

produk seperti yang tertera pada kemasan. Pengujiannya dilakukan setiap 3 bulan
sekali pada tahun pertama dan setiap 6 bulan sekali pada tahun kedua. Pada tahun
ketiga dan seterusnya, pengujian dilakukan setahun sekali. Misalkan untuk produk
yang memiliki ED hingga 3 tahun pengujian dialkukan pada bulan ke-3, 6, 9, 12,
18, 24 dan 36. Sedangkan produk yang memiliki ED selama 20 bulan akan diuji
pada bulan ke-3, 6, 9, 12, 18 dan 20.
Untuk uji stabilitas jangka panjang, sampel disimpan pada kondisi :
a. Ruangan dengan suhu 30 20 C dan Rh 75 5% untuk menyimpan
produk-produk dengan klaim penyimpanan pada suhu kamar.
b. Ruangan dengan suhu 25 20 C dan Rh 75 5% untuk menyimpan
produk-produk dengan klaim penyimpanan pada suhu sejuk

18

Ruangan untuk uji stabilitas dibagi menjadi empat bagian, yaitu :


a. Ruangan dengan suhu 40 20 C dan Rh 75% 5%
b. Ruangan dengan suhu 30 20 C dan Rh 75 % 5%
c. Ruangan dengan suhu 25 20 C dan Rh 40% 5 %
d. Ruangan dengan suhu 40 20 C dan Rh 35%
Pengujian daya tahan (stabilitas) pelet dilakukan dengan cara merendam
contoh pelet yang akan diuji selama beberapa waktu di dalam air. Tingkat daya
tahan pelet dalam air (water stability) diukur sejak pelet direndam sampai pecah.
Makin lama waktu yang dibutuhkan untuk membuyarkan pelet dalam proses
perendaman, berarti makin baik mutunya. Pelet ikan yang baik mempunyai daya
tahan dalam air minimal 10 menit. Sedangkan pelet pakan udang harus mempunyai
daya tahan lebih lama lagi, yaitu sekitar 30 60 menit (Perius 2011).
Menurut Murdinah (1989), beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas
pakan dalam air, seperti kehalusan bahan baku pakan dan proses pencampuran
bahan dalam proses pembuatan pakan. Semakin halus bahan pakan, semakin baik
pula pakan yang dihasilkan. Bahan pakan akan tercampur merata sehingga
menghasilkan produk yang lebih kompak dan stabil di dalam air.
Dominy dan Lim (1991), menyatakan disamping proses pembuatan, bahan
perekat yang tepat juga sangat menentukan stabilitas pakan dalam air dan sifat-sifat
fisik pelet yang lain.
Binder atau bahan perekat adalah bahan tambahan yang digunakan untuk
menyatukan semua bahan baku dalam pembuatan pakan. Bahan tambahan yang
digunakan sebagai perekat sangat menentukan stabilitas pakan dalam air. Stabilitas
pakan dalam air merupakan problem utama dalam pelet pakan ikan, terutama
dengan kandungan bahan nabati yang tinggi. Oleh karena itu membutuhkan bahan
perekat atau binder, dengan demikian stabilitas pakan dalam air dapat ditingkatkan

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 24 Mei 2016 pukul 13.00

15.00 di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan


Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran.
3.2

Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan praktikum yaitu:

3.2.1

Alat-alat

Wadah/toples kemasan: sebagai wadah untuk perendaman pakan pelet

Saringan/ayakan

: alat bantu saat merendam pelet saat uji stabilitas

pakan

Sedok

: alat untuk mengambil pakan pelet dan

Timbangan

: untuk menimbang bahan-bahan

Gelas ukur 19elativ

: untuk mengukur volume air yang diperlukan

Penggaris

: untuk mengukur tinggi pakan saat direndam

3.2.2

Bahan-bahan

Tepung ikan, sebagai bahan uji identifikasi

Tepung bungkil kedelai, sebagai bahan uji identifikasi

Tepung jagung, sebagai bahan uji identifikasi

Tepung daging, sebagai bahan uji identifikasi

Tepung tulang, sebagai bahan uji identifikasi

Wheat pollard, sebagai bahan uji identifikasi

Dedak, sebagai bahan uji identifikasi

Tepung sagu, sebagai bahan uji identifikasi

Tepung susu, sebagai bahan uji identifikasi

Tepung tapioka, sebagai bahan uji identifikasi

Tepung grit, sebagai bahan uji identifikasi

Minyak ikan, sebagai bahan uji identifikasi

19

20

3.3

Pakan dedak, sebagai bahan uji bulky

Pakan pelet, sebagai bahan uji stabilitas pakan.


Prosedur Kerja
Adapun langkah-langkah praktikum diantaranya sebagai berikut

a. Praktikum Identifikasi Fisik Bahan Baku Pelet

Sampel bahan diambil

Dilakukan pengamatan secara fisik

Diamati karakter warna, tekstur, aroma,


dan bentuk bahan pakan

Hasil pengamatan dibuat tabel lalu dibuat


kesimpulan
Gambar 1. Prosedur Kerja Identifikasi Fisik Bahan Baku

b. Praktikum Uji Sifat Bulky/Keamanan Bahan

Gelas ukur diambil dan diisi bagian

Bahan dicelupkan kedalam gelas ukur

Dibiarkan beberapa menit sampai


sebagian bahan tengelam

21

Diamati bagian yang terapung dan


tenggelam

Diamati apakah bahan terlarut atau tidak

Diaduk dan diamati apakah bahan


terapung jadi tenggelam
Gambar 2. Prosedur Kerja Uji Bulky
c. Praktikum Uji Stabilitas Pakan

Beaker glass (1000 ml) kosong ditimbang

Pakan ditimbang 30 gr, lalu dimasukkan


kedalam saringan dan diletakkan diatas
beaker glass

Diamati setiap 5, 10, dan 15 menit apakah ada


pemisahan partikel dan perubahan bentuk
pakan

Setelah 15 menit, pakan diangkat lalu


dikeringkan kemudian ditimbang berat
akhirnya lalu dihitung dengan rumus

22

Gambar 3. Prosedur Kerja Uji Stabilitas

Catatan :
Nilai stabilitas pakan dihitung dengan rumus :
(%) =

1
100%

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil
Adapun hasil yang didapat dari kelompok 7 yaitu

4.1.1

Data Karaktistik Bahan Pakan Ikan Sumber Protein Basal


Hasil data karakteristik pakan ikan protein basal
Tabel 1. Identifikasi Bahan Pakan Sumber Protein Basal

No
1
2
3
4
5

4.1.2

Nama
Asal
Bahan
Bahan
Warna
Tepung
Nabati
Kuning
jagung (jagung) keemasan
Tepung
Nabati
Putih
terigu (gandum)
Wheat
Nabati
Cream
pollard (gandum)
Nabati
Kuning
Dedak
(kedelai) keemasan
Tepung
Nabati
Putih
sagu
(sagu)

Ciri Fisik
Bentuk Tekstur
Granula

Kasar

Powder

Halus

Granula

Agak
kasar

Granula

Kasar

Powder

Halus

Aroma
Bau khas
jagung
Bau khas
terigu
Bau
gandum
Bau
kedelai
Khas
tepung

Ket
Konvensional
Konvensional
Konvensional
Konvensional
Konvensional

Data Karakteristik Bahan Pakan Ikan Sumber Protein Suplemen


Tabel 2. Identifikasi Bahan Pakan Sumber Protein Suplemen

No

Nama
Bahan

Asal
Bahan

Tepung
tulang

Tepung
ikan

Tepung
susu
Tepung
daging

Hewani
(Tulang
ikan)
Hewani
(ikan/limb
ah ikan)
Hewani
(susu)
Hewani
(daging)
Nabati
(Lemna
sp.)

Lemna

Ciri Fisik

Keterangan

Warna
Putih
tulang

Bentuk
Crumble

Tekstur
Kasar

Aroma
Bau khas
tulang

Cokelat
tua

Crumble

Halus

Bau khas
ikan

Konvensional

Putih
pucat
Hitam

Powder

Halus

Powder

Kasar

Bau khas
susu
Khas
daging

Non
konvensional
Konvensional

Crumble

Kasar

Khas
tumbuhan

Non
konvensional

Hijau
pekat

23

Konvensional

24

4.1.3

Tepung
kedelai

Nabati
(kedelai)

Hijau

Granula

Kasar

Bau khas
kedelai

Konvensional

Data Karakteristik Bahan Pakan Ikan Tambahan (Feed Additive)


Tabel 3. Identifikasi Bahan Pakan Tambahan (Feed Additive)

No

Nama
Bahan

Asal
Bahan

Grit

Minyak
ikan

Hewani
(cangkang
kerang)
Hewani
(ikan)

4.1.4

Ciri Fisik

Keterangan

Warna
Putih
keabuan

Bentuk
Granula

Tekstur
Kasar

Aroma
Khas
pasir

Kuning
bening

Cair /
larutan

Halus

Khas
ikan

Konvensional

Konvensional

Pengamatan Uji Bulky

1. Apakakah terdapat bahan pakan yang terapung dan tenggelam?


Jawab : iya, sebagian ada yang terapung dan sebagian tenggelam
2. Berapa lama waktu bahan pakan tersebut dapat sebagian tenggelam?
Jawab : 10 menit
3. Apakah terdapat perubahan pada bahan pakan dari terapung menjadi
tenggelam ?
Jawab : iya, terjadi perubahan karena terdapat sebagian bahan yang
tercampur itu memiliki massa jenis yang sama dengan air.
4. Apakah bahan tersebut dapat terlarut sepenuhnya ?
Jawab : tidak
5. Berapakah ketebalan (cm) bahan pakan yang terapung dan tenggelam
setelah pengadukan ?
Jawab : ketebalan terapung = 3 cm sedangkan ketebalan tenggelam = 2,5
cm
4.1.5

Data Uji Stabilitas Pelet Komersil


Data Kelompok 7

1. Berat 24elati komersil (sebelum diuji)

= 30 gram

2. Berat 24elati komersil kering (sesudah diuji) = 24,88 gram


3. Nilai stabilitas

= 17,06 %

25

4.2

Pembahasan

4.2.1

Karakteristik Bahan Pakan Ikan Sumber Protein Basal


Berdasarkan pengamatan kelompok kami yang termasuk bahan pakan ikan

sumber protein basal yaitu dedak, tepung jagung, tepung terigu, wheat pollard, dan
tepung sagu. Dedak mengandung protein kasar 11,5%, lemak kasar 1,3%, serat
kasar 16 % dan BETN 13%. Dedak padi ini adalah bahan berasal dari tumbuhan
(nabati), termasuk bahan baku pakan komersil golongan 5. Tepung jagung ini
adalah sumber protein berasal dari nabati (tumbuhan), termasuk bahan baku pakan
komersil. Tepung jagung adalah bahan yang dapat juga dijadikan bahan baku dalam
pembuatan pakan ikan. Meskipun kandungan tersebut rendah, namun tepung
jagung memiliki aroma yang dapat menarik perhatian ikan. Untuk mendapatkan
tepung jagung yang baik, maka kita harus memperhatikan warna tepung jagung dan
tekstur tepung. Tepung jagung yang baik adalah yang berwarna kuning sesuai
dengan butiran jagung dan memiliki tekstur yang halus dengan beberapa kali
penggilingan dan pengayakkan (Mujiman, 2003).
Tepung terigu mengandung protein 8,9%, lemak 1,3%, karbohidrat 77,3%,
abu 0,06% dan air 13,25%. Tepung terigu berasal dari biji gandum yang berfungsi
sebagai bahan perekat, sebagai sumber protein nabati (gandum) termasuk bahan
baku pakan konvensional. Pollard mengandung protein kasar 17,1%, lemak kasar
4,4%, serat kasar 11,3 %, abu 6,9% dan BETN 60,3%. Pollard ini adalah bahan
berasal dari tumbuhan (nabati), termasuk bahan baku pakan komersil golongan 5.
Tepung sagu mengandung kadar air 14,8 %, protein 1,9 %, lemak 0,3%, karbohidrat
91,9 %, serat kasar 1,7 % dan abu 4,2 %. Komponen terbesar pada tepung sagu
yaitu pati. Tepung sagu berasal dari sagu yang berfungsi sebagai bahan perekat,
sebagai sumber protein nabati (tumbuhan) termasuk bahan baku pakan
inkonvensional.
4.2.2

Karakteristik Bahan Pakan Ikan Sumber Protein Suplemen


Berdasarkan pengamatan kelompok kami yang termasuk bahan pakan ikan

sumber protein suplemen yaitu tepung tulang, tepung susu, tepung ikan, tepung daging,
tepung kedelai, dan lemna. Tepung tulang mengandung protein kasar 46,8%, lemak

26

kasar 2,4%, serat kasar 4,8% dan abu 3,8%. Cara pengolahan tepung tulang ini dimulai
dari membersihkan kotoran dan daging pada tulang. Kemudian dilakukan perebusan
selama 30 menit. Hal ini dilakukan agar pada saat penggilingan tidak terlalu sulit.
Setelah direbus, tulang kemudian dijemur sampai kering. Setelah kering tulang
ditumbuk dan dijemur lagi, hal ini untuk memudahkan proses penggilingan menjadi
tepung (Mujiman, 2003). Tepung tulang ini adalah sumber protein berasal dari hewan
(hewani), termasuk bahan baku pakan konvensional.
Tepung susu mengandung protein 35,6%, lemak 1,0%, karbohidrat 52%, dan
air 3,5%. Tepung susu ini adalah sumber protein berasal dari hewan (hewani), termasuk
bahan baku pakan komersil. Tepung ikan mengandung protein kasar 71,2%, lemak
kasar 4,5%, serat kasar 1,1%, abu 16,1% dan BETN 7,1%. Tepung ikan ini adalah
sumber protein berasal dari hewan (hewani), termasuk bahan baku pakan konvensional
dan golongan 5. Tepung ikan merupakan bahan/ kompnen utama dalam pembuatan
pakan ikan. Tepung ikan dianggap paling utama karena kandungan protein nya
melebihi tepung-tepung lainnya. Tepung daging mengandung protein kasar 68,2%,
lemak kasar 5,1%, serat kasar 0,8%, abu 25,4% dan BETN 0,5%. Tepung daging ikan
ini adalah sumber protein berasal dari hewan (hewani), termasuk bahan baku pakan
komersil dan golongan 5.
Tepung kedelai mengandung protein kasar 46%, serat kasar 6,5%, abu 7%,
kadar air 12% dan lemak kasar 3,7%. Tepung kedelai ini adalah sumber protein berasal
dari nabati (kedelai), termasuk bahan baku pakan non konvensional. Lemna

merupakan suatu makrofit yang hidup terapung di air, terdapat di seluruh dunia dan
banyak ditemukan di air tawar yang kaya nutrien. Lemna adalah tumbuhan yang
lebih dikenal sebagai gulma di perairan yang cenderung sulit untuk
dikendalikan. Lemna secara umum dengan kandungan protein > 43 %, lemak 5 %
dan bahan kering mudah dicerna, duckweed berpotensi untuk bahan substitusi
sumber protein dalam pakan unggas maupun akua.
4.2.3

Karakteristik Bahan Pakan Ikan Tambahan (Feed Additive)


Berdasarkan pengamatan kelompok kami identifikasi bahan pakan ikan

yang termasuk bahan pakan ikan tambahan yaitu minyak ikan dan grit. Feed
additive yaitu bahan makanan pelengkap yang dipakai sebagai sumber penyedia

27

vitamin-vitamin, mineral-mineral dan antibiotik (Anggorodi, 1985). Fungsi dari


Feed additive yaitu untuk menjaga dan mempertahankan kesehatan tubuh ikan
terhadap serangan penyakit dan pengaruh stress, merangsang pertumbuhan ikan dan
meningkatkan nafsu makan ikan. Minyak ikan mengandung vitamin A yang
merupakan jenis vitamin yang larut dalam lemak.
Minyak ikan merupakan salah satu zat gizi yang mengandung 25% asam
lemak jenuh dan 75% asam lemak tidak jenuh. Minyak ikan merupakan sumber
lemak yang biasa terdapat pada pakan ikan sehingga berfungsi untuk sumber energi
metabolisme, sumber asam lemak esensial (EFA), komponen penting pada
membran sel dan sumber steroid. Minyak ikan merupakan komponen utama dalam
pembuatan pakan ikan. Minyak ikan berfungsi sebagi sumber lemak dan sebagai
bahan atraktan atau penyedap aroma untuk menarik perhatian ikan agar mau makan
pakan yang diberikan. Kandungan omega 3 dari minyak ikan mampu memenuhi
kebutuhan ikan (Mujiman, 2003).
Grit adalah zat butiran mineral yang terbuat dari granit yang sifatnya tidak
mudah larut. Grit terdiri dari berbagai macam campuran bahan, seperti batu kali
yang kecil-kecil, pecahan granit, mica, kapur, kulit kerang. Grit kerang merupakan
sumber kalsium asal hewan yang mempunyai tingkat kecernaan yang tinggi. Grit
yang terbuat dari bahan kulit kerang ini mengandung 3,5% grit kulit kerang.
4.2.4

Uji Bulky Dedak Halus


Berdasarkan pada pengamatan uji bulky terdapat bahan pakan yang

terapung dan tenggelam, pada perlakuan tersebut bahan pakan dapat sebagian
tenggelam berlangsung selama 10 menit. Perlakuan uji bulky terdapat perubahan
pada pakan dari terapung menjadi tenggelam. Selama uji bulky berlangsung bahan
pakan tersebut tidak dapat terlarut sepenuhnya. Ketebalan bahan pakan yang
teapung yaitu 3 cm sedangkan ketebalan tenggelamnya yaitu 2,5 cm. Uji bulky dari
pengamatan kelompok kami memiliki nilai ketebalan terapung lebih besar dari pada
tenggelam sehingga kualitas bahan pakan tersebut kualitasnya tidak bagus atau
kurang bagus. Fungsi dari uji bulky dapat mengetahui keambaan bahan pakan,
mengetahui kualitas bahan pakan. Menurut Agus (2007) menyatakan bahwa uji

28

bulky bahan pakan bertujuan mengetahui kualitas bahan sekaligus untuk


meminimalkan pemalsuan (pencemaran) bahan.
4.2.5

Uji Stabilitas Pelet Komersil


Stabilitas pakan dalam air adalah tingkat ketahanan pakan di dalam air atau

berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga pakan lembek dan hancur. Uji stabilitas
dimaksudkan untuk menjamin kualitas produk yang telah diluluskan dan beredar di
pasaran. Uji stabilitas terhadap pakan komersil ini dilakukan dengan cara
merendam pakan ke dalam toples yang berisi air penuh setiap lima menit sekali
dalam jangka waktu pengamatan 15 menit. Pakan dipegang atau ditekan dengan jari
untuk mengetahui apakah pakan sudah lembek atau belum.
Hasil praktikum menunjukkan bahwa nilai stabilitas pakan komersil yang
didapat sebesar 17,06% dimana pakan tersebut mampu bertahan dalam air selama
kurang lebih 10 menit. Hal ini menandakan bahwa pakan komersil yang diuji
memiliki kualitas yang kurang baik karena pakan tidak mampu bertahan selama 10
menit dalam air. Mujiman (1985) menyatakan bahwa stabilitas pelet dalam air
minimal harus mencapai waktu 10 menit agar pelet tidak terbuang percuma karena
hancur di dalam air.
Water stability feed yaitu stabilitas pakan dalam air merupakan faktor
penting dalam menentukan efisiensi pakan. Pakan yang tahan dalam air yang hanya
mengalami sedikit perubahan kualitas dan kuantitas adalah pakan yang mempunyai
persyaratan fisik yang cukup baik. Pada dasarnya semakin halus bahan baku yang
digunakan untuk menyusun pakan, bentuk fisiknya akan semakin baik pula, karena
akan tercampur lebih baik sehingga menghasilkan produk yang lebih kompak dan
stabil di dalam air, sehingga relative lebih mudah dicerna. Hal ini didukung dengan
pernyataan Murdinah (1989), beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas pakan
dalam air, seperti kehalusan bahan baku pakan dan proses pencampuran bahan
dalam proses pembuatan pakan. Semakin halus bahan pakan, semakin baik pula
pakan yang dihasilkan. Bahan pakan akan tercampur merata sehingga
menghasilkan produk yang lebih kompak dan stabil di dalam air. Dominy dan Lim

29

(1991), menyatakan disamping proses pembuatan, bahan perekat yang tepat juga
sangat menentukan stabilitas pakan dalam air dan sifat-sifat fisik pelet yang lain.
Penggunaan atau kadar binder tapioka dalam pakan juga dapat
mempengaruhi nilai stabilitas. Selain sebagai sumber energi, tepung tapioka juga
berperan sebagai bahan perekat yang baik sehingga pakan yang dihasilkan
mempunyai tekstur yang baik dan tahan lama di dalam air dan pada akhirnya ketika
dilakukan uji stabilitas akan memberikan nilai stabilitas yang cukup tinggi.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan praktikum nutrisi ini adalah

bahwa dalam pakan haruslah terkandung protein (basal dan suplemen) dan feed
additive. Agar gizi ikan dapat terpenuhi dalam pakan dan ikan akan tumbuh dengan
baik. Dan juga dapat mengidentifikasi bahan baku pakan yang akan digunakan.
Bahan pakan yang termasuk protein basal yaitu dedak, tepung jagung, tepung
terigu, wheat pollard, tepung sagu, daun sente, gulma air, gulma air (lempeng), daun
sengon dan daun papaya. Sedangkan bahan pakan yang termasuk protein suplemen
yaitu tepung tulang, tepung susu, tepung ikan, tepung daging, ampas tahu, tepung
darah dan tepung bungkil kedelai. Bahan pakan ikan yang termasuk bahan pakan
ikan tambahan yaitu minyak ikan dan premix. Uji bulky bahan pakan mengetahui
kualitas pakan dan memberikan petunjuk untuk kapasitas tampung dari suatu bahan
pakan. Pakan komersil yang diuji memiliki kualitas yang baik karena mampu
bertahan dalam air selama lebih dari 10 menit. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kualitas pakan diantaranya penambahan binder, ukuran partikel bahan baku,
kandungan air dalam bahan, serta suhu air yang digunakan dalam proses pembuatan
pakan.
5.2

Saran
Penentuan bahan baku pakan untuk digolongkan kedalam golongan protein

basal atau suplemen dan feed additive harus disertai dengan kandungan gizi pada
bahan baku pakan yang lebih banyak dan detail. Sebaiknya pengadaan alat-alat
praktikum lebih dilengkapi guna mendukung pelaksanaan praktikum agar
praktikum dapat berjalan lebih lancar dan proses berjalannya praktikum akan lebih
cepat.

30

DAFTAR PUSTAKA

Agus, a. 2007. Panduan Bahan Pakan Ternak Ruminansia. Badan Nutrisi dan
Makanan Ternak, Fakultas peternakan Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta
Anggorodi, H., 1985. Ilmu Makanan Ternak Unggas, PT. Gramedia, Pustaka
Utama, Jakarta
Dozier, W. A. 2001. Pellet quality for more economical poultry meat. J. Feed
International. 52 (2): 40-42
Ginting. S. P. 2009. Prospek penggunaan pakan komplit pada kambing tinjauan
manfaat dan aspek bentuk fisik pada kambing serta respon ternak.
Wartazoa 19(2): 64-75.
Handajani dkk, 2010. Nutrisi Ikan. Universitas Muhamadiyah Malang Press.
Malang.
.
Lim C. and Dominy W. G. 1991. Utilization of Plant Proteins by Warmwater Fish,
In : Akiyama DM, Tan RKH (Eds). Proc Aquaculture Feed Processing and
Nutrition Workshop. Thailand and Indonesia, 19-25 Sept 1991. Pp 163-172.
Mudjiman, A, dan Suyanto, R. 2003. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya.
Jakarta. 211 hal.
Mudjiman, A., 2000. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta
.
Murtidjo, (2001). Pedoman meramu pakan ikan. Kanisius. Yogyakarta
Murdinah. 1989. Studi stabilitas dalam air dan daya pikat pakan udang bentuk
pellet. Jurnal penelitian pascapanen perikanan 15 : 29-36
Suryaningsih, 2010. Makanan Ikan. ITB. Bandung
Sudarmadji. S. B Haryono dan Suhadi, 1998. Prosedur Analisa untuk Bahan
Makanan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta.

31

LAMPIRAN

Lampiran 1. Alat dan Bahan


Alat

Wadah dan saringan

Gelass ukur Plastik

Bahan

Grit

Minyak Ikan

Tepung Susu
Minyak Ikan

Tepung Sagu

Tepung jagung

Tepung Daging

Tepung Susu

Tepung Susu

Minyak Ikan

Tepung Susu

Minyak
32 Ikan

Minyak Ikan

Minyak Ikan

Minyak Ikan

Minyak Ikan

Dedak
Tepung Susu
Minyak Ikan

Minyak Ikan

Tepung Ikan

W. pollard

Tepung Susu

Tepung Susu

Minyak Ikan

Minyak Ikan

Minyak Ikan

Minyak Ikan

Tepung Terigu

Tepung Tulang

Lemna

Tepung Susu

Tepung Susu

Tepung Susu

Minyak Ikan

Minyak Ikan

Minyak Ikan

Minyak Ikan

33

Minyak Ikan

Minyak Ikan

Lampiran 2. Prosedur kerja


Uji Bulky

Gelas Plastik di isi air


50 ml

Kemudian dimasukan dedak


dan tunggu sampai dedak
tenggelam

Uji Stabilitas

Tepung Susu
Minyak Ikan

Minyak Ikan

Di isi air 1000 ml


kedalam beaker glass

Dimasukan pakan sebanyak


30 g dan tunggu selama 15
menit

34