Anda di halaman 1dari 3

Mekanisme Kerja Hidroterapi

Hidroterapi sangat direkomendasikan bagi anak anak dengan kebutuhan khusus.


Pengaruh air pada hidroterapi adalah adanya buoyancy atau daya apung. Daya apung ini
berfungsi mengurangi jumlah berat badan dengan cara menurunkan kekuatan yang dihasilkan
oleh tekanan pada sendi. Viscosity atau sifat kental yang dihasilkan air merupakan sumber
tahanan terbaik yang dapat memudahkan program latihan. Gaya hambatan pada air yang
merupakan hasil turbulensi dan viskositas pada air akan memberikan resisten saat melakukan
latihan. Semakin cepat pergerakan objek dalam air, maka gaya hambatan air akan semakin besar.
Gaya hambatan juga semakin tinggi saat penggunaan alat untuk latihan pada air seperti
pelampung. Gaya hambatan air ini akan memberikan tahanan alami pada otot saat bergerak.
Tahanan tersebut digunakan untuk penguatan otot tanpa membutuhkan beban. Menggunakan
double tahanan yang dimiliki air (buoyancy dan viscosity) memungkinkan pasien untuk
melakukan gerakan pada bidang gerak untuk menguatkan grup otot yang apabila dilaksanakan
diluar air tidak bisa atau bahkan tidak mungkin tetapi ketika dilaksanakan di air penguatan grup
otot ini dapat dilaksanakan.
Tekanan hidrostatik menghasilkan tekanan yang tegak lurus dengan permukaan tubuh
pasien. Tekanan ini membuat sendi lebih menyadari di posisi mana dia berada, sehingga hasilnya
terjadi peningkatan propioseptif dan mekanoreseptor, meningktkan tekanan pada paru paru,
dan organ dalam lainnya. Hal ini akan meningkatkan koordinasi, pernafasan, dan fungsi menelan
dan berbicara ( Broach & Dattilo 1996). Untuk menjaga keseimbangan dalam air, perlu adaptasi
terhadap perubahan mekanikal yang terjadi pada lingkungan sekitar. Adaptasi ini adalah hasil
dari proses psiko-senso-motor learning yang membuat seseorang berusaha untuk menjaga
keseimbangan pada lingkungan yang tidak stabil. Ketika keseimbangan sudah bisa dijaga, maka
pergerakan dapat diinisiasi dan dikontrol (Lambec & Stanant, 2001). Penelitian yang dilakukan
Dong Koog Noh, Jae Young Lim, Hyung Ik Shin dan Nam Jong Paik (Seoul National University
College of Medicine, Seoul National University Bundang Hospital, Gyeonggi-do, korea) pada
tahun 2007 dengan menggunakan 13 sample untuk hidroterapi dengan metode halliwick dan ai
chi yang dilakukan 3 kali seminggu dengan durasi latihan 1 jam. Setelah 8 minggu hidroterapi
menunjukkan peningkatan control postural dan kekuatan otot knee fleksor pada penderita stroke
hemiparesis.

Air menjalarkan panas 25 kali lebih cepat dibandingkan dengan udara, lebih meningkat
apabila seseorang bergerak dalam air dan molekul air melewati dan mengenai tubuh. Perubahan
kecil pada temperature air akan lebih dirasakan oleh reseptor kulit dibandingkan perubahan
temperature pada udara. Temperature air berpengaruh terhadap postural kontrol dan efek
rileksasi. Temperature yang digunakan untuk fleksibilitas, kekuatan otot, latihan berjalan, dan
relaksasi adalah 26C and 35C. Perpindahan panas dari air hangat ke dalam tubuh secara
konduksi akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah sehingga dapat melancarkan peredaran
darah, penurunan ketegangan otot, meningkatkan metabolisme jaringan dan meningkatkan
permeabilitas kapiler. Perendaman dengan air hangat juga dapat meningkatkan fungsi dari sistem
kardiovaskular, yaitu peningkatan curah jantung dan redistribusi darah dari organ yang kurang
aktif ke organ yang aktif. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Destia Damayanti
(2014) menganai Perbedaan Tekanan Darah Sebelum dan Sesudah Dilakukan Hidroterapi
Rendam Hangat pada Penderita Hipertensi di Desa Kebondalem Kecamatan Jambu Kabupaten
Semarang dengan hasil penelitian menunjukan sebelum dilakukan hidroterapi rendam hangat
tekanan darah sistolik rata-rata 152,8 mmHg dan diastolik 97,1 mmHg. Hasil sesudah dilakukan
hidroterapi rendam hangat tekanan darah sistolik rata-rata 133,7 mmHg dan diastolik 85,2
mmHg.