Anda di halaman 1dari 49

A.

LATAR BELAKANG
Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian
lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.(Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomo 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional). Berdasarkan
Penjelasan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, Peraturan
Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, dan Pasal 37 Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, adalah sebagai
berikut: Kawasan Hutan Lindung, Kawasan Bergambut, Kawasan Resapan Air, Sempadan Pantai,
Sempadan Sungai, Kawasan Sekitar Danau/Waduk, Kawasan Sekitar Mata Air, Kawasan Suaka Alam
(terdiri dari Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Hutan Wisata, Daerah Perlindungan Plasma Nutfah, dan
Daerah Pengungsian Satwa), Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan lainnya (termasuk perairan laut,
perairan darat, wilayah pesisir, muara sungai, gugusan karang atau terumbu karang dan atolyang
mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem), Kawasan Pantai Berhutan Bakau
(mangrove), Taman Nasional, Taman Hutan Raya,Taman Wisata Alam.
Hutan Harapan adalah unit managemen dari Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) yang tugas
utamanya melakukan pemulihan/restorasi ekosistem dengan luasan wilayah kelola 98.555hektar (ha), dan
52.170 ha diantaranya terletak di Kabupaten Musi Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan dan dikenal
sebagai kelompok Hutan Sungai Kapas-Sungai Meranti dan sisanya terletak di Propinsi Jambi.. Untuk itu,
kawasan Hutan Harapan sangat memiliki peranan dan fungsi penting bagi keanekaragaman hayati dan
lingkungan (hasil kajian menunjukkan keanekaragamannya tinggi). Dalam upaya mencapai tujuan
tersebut maka rencana pengelolaan kawasan telah disusun dalam bentuk buku rencana kerja usaha (RKU)
dan hal ini termasuk untuk rencana pengelolaan Kawasan Lindung (KL). Beberapa yang termasuk pada
kategori KL adalah Sempadan Sungai.
Definisi kawasan berfungsi lindung berdasarkan peraturan Kementerian Negara Lingkungan Hidup
Nomor 1 Tahun 2012 adalah kawasan yang secara fisik memiliki fungsi perlindungan tatanan lingkungan
hidup seperti kawasan tangkapan air, kawasan resapan air, lahan yang kemiringan lebih dari 40% (empat
puluh persen). Sedangkan berdasarkan pada pengertian dari buku RKU, kawasan perlindungan ekosistem
adalah kawasan yang memiliki kaitan erat dengan keberlangsungan fungsi hidrologis dan dapat
berpengaruh pada kawasan lainnya, dalam kategori ini adalah Sempadan Sungai dan areal yang curam
dengan kelerengan 40%. Sehubungan dengan hal tersebut maka areal hutan disepanjang Sempadan
Sungai ditetapkan sebagai kawasan perlindungan ekosistem yang bertujuan untuk menjaga
keberlangsungan fungsi hidrologis dan dapat berpengaruh terhadap kawasan lainnya.

Penetapan garis Sempadan Sungai ditentukan berdasarkan pada lebar ruas sungai. Pada undang-undang
nomor 38 tahun 2011 tentang Sungai pada pasal 10 ayat 1,2, dan 3; ditetapkan paling sedikit berjarak
100meter dari tepi kiri dan kanan sepanjang alur sungai dengan luasan DAS >500Kilometer persegi
(Km2). Terkait dengan hal diatas maka perlu dilakukan penataan batas areal serta pengelolaan Sempadan
Sungai yang berada didalam kawasan Hutan Harapan.
B. LUASAN KAWASAN LINDUNG
Berdasarkan kajian Geographical Information System (GIS) diketahui bahwa panjang sungai dalam
kawasan kelola Hutan Harapan adalah Sungai Kapas 97 km dan Sungai Meranti 64Km, dengan luas DAS
Kapas 61.667Ha dan luas DAS Meranti 33.642Ha. Dilihat dari luasan DAS yang ada di Hutan Harapan,
PT. REKI untuk wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) maka ditetapkan untuk Sungai Kapas memiliki garis
Sempadan Sungai 100 meter kiri kanan sungai dan Sungai Meranti memiliki garis sempadan 50 meter kiri
kanan sungai.sehingga total luas kawasan Sempadan Sungai yang akan dikelola

adalah 1.735 Ha

(Gambar 2).

Gambar 1. DAS Wilayah Sumsel PT.REKI

Gambar 2. Kawasan Lindung Sempadan Sungai Kapas

C. PENATAAN KAWASAN LINDUNG


1. Flora
1.1 Pendahuluan
Komposisi dan struktur vegetasi disepanjang Sempadan Sungai sangat perlu untuk diketahui, hal
ini dikarenakan komponen diatas akan memberikan dampak langsung terhadap laju aliran
permukaan dan besar erosi tanah, kemudian secara jauh akan berdampak terhadap kualitas air
sungai.
1.2 Metoda
Metoda untuk mengetahui komposisi dan struktur vegetasi di DAS adalah dengan melakukan
survey dan koleksi langsung dilapangan, dan kemudian akan dilakukan pembuatan jalur transek
dengan arah tegak lurus dari badan perairan.
1.3 Cara kerja
Dilakukan survey lapangan pada areal kerja yang telah ditetapkan, Teknik invetarisasi dilakukan
dengan pencatatan jenis tumbuhan yang ditemukan, disepanjang jalur transek yang disurvei,,
selain itu juga dilakukan pancatatan ukuran lingkar batang setinggi dada. Panjang transek adalah
100 meter dengan lebar kiri kanan yang masing-masingnya adalah 10 meter.
3

1.4 Hasil
Inventarisasi dilakukan dengan metoda survey potensi.
Jenis-jenis flora yang teridentifikasi di Hutan Harapan Wilayah Sumatera Selatan sebanyak 330
jenis tumbuhan dari 82 famili. Tumbuhan yang terdiri atas pohon 607 jenis, perdu 36 jenis, liana
33, herba 39, dan kategori epifyt 11 jenis. Berikut grafik perbandingan jenis tiap famili:
45

41

40
35
30
25
20
15

23
17

17

16
13

13
10

10

10

5
0

Gambar 3. Famili yang dominan di Kawasan Sumatera Selatan

Dari grafik diatas merupakan 10 Famili yang memiliki jumlah jenis paling banyak (Gambar
3). Euphorbiaceae merupakan famili yang memiliki jumlah jenis paling banyak dari jenis lain,
famili ini memiliki jumlah jenis keempat terbanyak didunia dan didominasi oleh jenis pionir
yang mudah tumbuh di hutan sekunder bekas logging. John (1997) menyatakan bahwa pohon
pionir berkecambah dan tumbuh secara cepat setelah penebangan hutan, dan beberapa spesies
dapat mencapai keliling lingkar batang pohon 30 cm dalam kurun waktu 5 6 tahun setelah
pembalakan. Kedua adalah famili yang didominasi oleh pohon ukuran kecil, dan yang ketiga
Rubiaceae yang didominasi oleh pohon ukuran kecil sebagai jenis tutupan bawah. Untuk
4

keluarga Dipterocarpaceae memiliki jumlah jenis sebanyak 25 spesies, jenis ini biasanya hidup
pada alami dengan tutupan kanopi sangat rapat.
Beberapa pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan jenis flora kunci, diantaranya adalah
sebagai berikut: Perlindungan dan pelestarian bagi jenis flora kunci yang dapat memberikan
dampak positif bagi sebagian besar jenis lainnya; Jenis yang endemik, terancam berdasarkan
status IUCN dan dilindungi Undang-Undang pemerintah Indonesia; Jenis yang memiliki habitat
yang spesifik dan sangat rentan terhadap gangguan manusia; serta jenis tersebut memiliki
peranan penting dalam proses regenerasi hutan.
Tabel1. Daftar spesies dengan status konservasi (Redlist IUCN) Hutan Harapan, Sumatera Selatan
No
Famili
IUCN
Nama Jenis
Genus & Species
.
Shorea acuminata Dyer
Dipterocarpaceae Critically
Meranti rambai (Light Red Meranti)
Endangered/IUCN
1
Dipterocarpaceae Critically
Merawan
Hopea mengerawan Miq.
Endangered/IUCN
2
Merawan daun
Dipterocarpaceae Critically
halus
Hopea sangal Korth.
Endangered/IUCN
3
Shorea leprosula Miq. (Light Dipterocarpaceae
Endangered/IUCN
Meranti bunga Red Meranti)
4
Dipterocarpaceae Endangered/IUCN
Mersawa
Anisoptera costata Korth.
5
Dyera costulata (Miq.)
Dipterocarpaceae
Jelutung
Hook. f.
6
Undang-undang
Aquilaria malaccensis Lamk. Thymelaeaceae
Vulnerable/IUCN
Gaharu
(Agarwood/Aloewood)
7
Vulnerable/IUCN
8
Mendarahan
Knema cinerea (Poir.) Warb. Myristicaceae
Kedondong
Vulnerable/IUCN
9
Hutan
Canarium ovatum Engl.
Burseraceae
Kedondong
Vulnerable/IUCN
10
Tunjuk
Dacryodes elmeri H.J. Lam. Burseraceae
Keruing
Dipterocarpus retusus
Vulnerable/IUCN
11
Blume.
Dipterocarpaceae
Bulia
Eusideroxylon zwageri
Vulnerable/IUCN
12
Teijsm. & Binn.
Lauraceae
Darah-darah
Knema hookeriana (Wall. ex
Vulnerable/IUCN
13
Hook. f. & Thoms.) Warb.
Myristicaceae
Langsat kero
Near
14
Aglaia odorata Lour.
Meliaceae
Threatened/IUCN
Mendarahan
Horsfieldia crassifolia
Near
15
(Hook.f. & Thomson) Warb.
Myristicaceae
Threatened/IUCN
Mendarahan
Horsfieldia macrothyrsa
Near
16
Warb.
Myristicaceae
Threatened/IUCN

Berdasarkan hasil suvei untuk Blok A, dari 148 jenis jenis tumbuhan dalam kategori semai,
tiang, dan pohon, ditemukan 15 jenis yang termasuk kedalam kategori IUCN dan satu jenis yang
dilindungi undang-undang. Adapun teknik restorasi habitat yang dapat dilaksanakan pada Blok A dan
B adalah pengayaan jenis. Secara umum vegetasi di Blok A didominasi oleh jenis klimak kecuali

pada tingkat vegetasi pancang (Gambar 3). Perbedaan persentase jenis klimak dan pionir cukup
besar pada tingkat semai, semakin berkurang ditingkat vegetasi pancang dan tiang. Jenis klimak
kembali dominan pada tingkat pohon, hal ini memperlihatkan kalau hutan di Blok A sebalumnya
didominasi oleh jenis klimak dan pernah mengalami kerusakan. Namun saat ini memperlihatkan
kalau di Blok A terlihat adanya regenerasi hutan menuju klimak yang terlihat dari ketersedian
jumlah permudaan alam pada tingkat semai dan pancang.

Gambar 4. Gambaran vegetasi Blok A secara umum


Pada Gambar 4 dapat dilihat gambaran vegetasi untuk masing-masing jalur transek
dengan persentase temuan jenis klimaks dan pionir untuk masing-masing tingkat vegetasi berupa
semai, pancang, tiang dan pohon.

Gambar 5. Tingkat vegetasi jalur transek


Berdasarkan data survei potensi pengayaan akan dilakukan di Jalur transek A3J3, A8J1,
A8J2, A8J3, A9J1, A9J2, A9J3, A10J1, A10J2 dan A11J1. Pengayaan ini didasarkan pada
ketersediaan vegetasi pohon per hektar yaitu 50-<100. Tetapi jika dilihat dari potensi semai dan
pancang pengayaan tidak perlu dilakukan, karena pada tingkat vegetasi semai dan pancang masih
cukup tersedia untuk regenerasi secara alami (Tabel 1).
Di lokasi ini rata-rata terdapat anakan pohon klimak sebanyak 2349 individu pada tingkat
semai dan 435 individu tingkat pancang, serta 56 untuk tiang. Penanaman tidak dianjurkan
dilokasi ini tetapi sebaliknya pengayaan, dikarenakan stok permudaan alam mencukupi untuk
mendukung regenerasi hutan. Dari kajian survei potensi yang telah di lakukan pada blok A di
jalur A3J2 A3J3, A8J1, A8J2, A8J3, A9J1, A9J2, A9J3, A10J1, A10J2 dan A11J1, diketahui
persentase jenis pakan satwa, jenis komersial dan jenis yang terancam punah perhektar (Tabel 1.)
Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.18/Menhut-II/2004 hutan di jalur
transek A3J3, A8J1, A8J2, A8J3, A9J1, A9J2, A9J3, A10J1, A10J2 dan A11J1 termasuk kategori
hutan kurang produktif. Hal ini dikarenakan pohon inti yang berdiameter >50 kurang hanya
terdiri dari 16 batang begitu juga dengan pohon yang berdiameter 20-49 cm ditumbuhi oleh
kurang dari 39 batang/hektar. Namun, Permudaan alam tingkat semai (seedling) >1.000 (seribu)
batang setiap hektar, pohon dalam tingkat pancang > 240 (dua ratus empat puluh) batang setiap
hektar, dan pohon dalam tingkat tiang > 75 (tujuh puluh lima) batang setiap hektar.

Gambar 6. Jumlah pohon komersial berdasarkan kelas diameter

Tabel 2. Rata-rata jumlah individu per hektar pada masing-masing tingkat vegetasi
Tingkat vegetasi
Semai

Pancang

Tiang

Pohon

Tipe
Klimaks
Pionir
(blank)
Total
Klimaks
Pionir
(blank)
Total
Klimaks
Pionir
(blank)
Total
Klimaks
Pionir
(blank)
Total

Persentase (%)
54.2
43.5
2.3
53.5
42.8
3.7
43.4
52.7
4.0
54.2
42.1
3.6

Rata2 ind/Ha
2425
1935
90
4451
419
299
28
747
54
70
6
130
38
30
3
71

Di lokasi ini rata-rata terdapat anakan pohon klimak sebanyak 2425 individu pada tingkat
semai dan 419 individu tingkat pancang. Penanaman tidak dianjurkan dilokasi ini tetapi
disarankan untuk dilakukan

Acceslaris Naturally Regeneration (ANR), dikarenakan stok

permudaan alam mencukupi untuk mendukung regenerasi hutan. Dari kajian survei potensi yang
telah di lakukan pada blok A diketahui bahwa pada masing-masing jalur tansek juga terdapat
didalamnya pakan satwa, jenis pohon komersial dan jenis terancam punah.
9

Oleh karena tujuan kita adalah untuk restorasi ekosistem maka pertimbangan utama yang
sangat perlu diperhatikan adalah memastikan keanekaragaman hayati pada masing-masing jalur
transek. Beberapa faktor penentu diantaranya adalah ketersediaan jenis pakan satwa, jenis kayu
komersial serta jenis-jenis yang terancam punah dan dilindungi.
Dari Gambar 7 dan 8 di bawah ini dapat dilihat bahwa jumlah pohon klimak terlihat lebih
tinggi dari pada pohon pionir pada masing-masing tingkat vegetasi. Kecuali pada tingkat
vegetasi tiang. Hal ini memperlihatkan hutan di lokasi ini mengalami suksesi menuju vegetasi
klimak.

Gambar 7.

Persentase jenis penyusun di jalur A3J2 A3J3, A8J1, A8J2, A8J3, A9J1, A9J2,
A9J3, A10J1, A10J2 dan A11J1

Kerapatan pohon tingkat semai adalah 4451 ind/Ha dimana 2425 individu merupakan
jenis klimak. Sedangkan pada tingkat pancang kerapatannya adalah 747 ind/Ha, 419 ind/Ha
merupakan jenis klimak. Jumlah ini sudah mencukupi untuk dibiarkan mengalami regenerasi
secara alami dan tidak perlu dilakukan pengayaan.
Seandainya dilakukan penanaman dengan jarak 5 x 5 m akan dibutuhkan bibit sebanyak
400 batang. Jika diasumsikan kematian bibit sekitar 20 % berarti jumlah bibit yang dibutuhkan
hanya 480 batang, sedangkan jenis permudaan alami jenis klimak yang tersedia lebih kurang
2844 individu per hektar.

10

Gambar 8. Kerapatan Individu per Hektar

Hasil di atas memberikan gambaran bahwa potensi jenis klimaks cukup tinggi pada
kategori jenis semai dan ini dapat diartikan bahwa dengan melakukan monitoring pemeliharaan
pada semai dan mencatat pertumbuhan semai tersebut adalah sangat penting dilakukan untuk
memastikan semai tersebut dapat tumbuh dengan baik menjadi pohon pada 30 tahun kedepan.
Dari hasil temuan tersebut maka direkomendasikan untuk dilakukan ANR yang disertai dengan
monitoring pertumbuhan.
Begitu juga dengan Blok B, tingkat vegetasi semai didominasi oleh merawan (Shorea
beccariana), kopi-kopi (Chaetocarpus castanopsis), kempas (Koompassia malaccensis), merpayang
(Scaphium macropodum) dan kedondong hutan (Canarium patentinerium). Memperhatikan jenis yang
mendominasi di tingkat vegetasi semai dapat disimpulkan bahwa tingkat vegetasi semai telah didominasi
oleh sebaran jenis klimaks.
Untuk tingkat vegetasi pancang, didominasi oleh semubi (Pternandra coerulescens), sulai
(Dacryodes spp.), serkid, sempagar, petanang (Dryobalanops oblongifolia), merawan (Shorea
beccariana), kedondong hutan (Canarium patentinerium) dan jambu eropa. Tingkat vegetasi tiang sendiri
didominasi oleh kedondong hutan (Canarium patentinerium), kopi-kopi (Chaetocarpus castanopsis) dan
rambutan (Nephelium sp.). Sementara itu, tingkat vegetasi pohon didominasi oleh kedondong hutan
(Canarium patentinerium), kelat (Eugenia spp.), kempas (Koompassia malaccensis) dan petaling
(Ochanostachys amentaceae).
Dari setiap tingkat vegetasi dapat dilihat bahwa kempas, merpayang, kopi-kopi dan kedondong
hutan mendominasi. Melihat dominasi komposisi penyusun tegakan hutan di Blok B dapat dikatakan
bahwa tegakan hutan ini masih didominasi oleh penyusun tegakan hutan klimaks.
11

2. Fauna
2.1 Pendahuluan
Hutan Harapan merupakan salah satu sisa kawasan hutan dataran rendah kering di Pulau Sumatera yang
wilayahnya mencakupi Propinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Sebagian dari kawasan Hutan Harapan
sebelumnya adalah bekas konsesi hak pengusahaan hutan (HPH) PT Asialog dan saat ini izin kelola
kawasan tersebut diberikan kepada PT REKI untuk Restorasi Ekosistem. Izin kelola kawasan Hutan
Harapan tersebut diperoleh pada tahun juni 2008 untuk Propinsi Sumatera Selatan dan Mei 2010 untuk
Propinsi Jambi dengan total luas kawasan kelola adalah 98.554 Ha.
Adapun visi misi dari Hutan Harapan adalah restorasi ekosistem dengan salah satunya menciptakan masa
depan yang lebih cerah bagi hutan dan hidupan satwa liar. Untuk mencapai visi misi tersebut perlu
dilakukan serangkaian kegiatan penelitian terhadap biodiversitas flora fauna yang ada di Hutan Harapan.
Tingginya biodiversitas fauna juga memberikan arti penting ekosistem di Hutan Harapan.
Salah satu kegiatan penelitian fauna di Hutan Harapan adalah studi inventarisasi dan populasi mamalia,
burung, reptile-amphibi. Ada beberapa cara yang digunakan untuk melakukannya yaitu dengan
pengamatan langsung dan/atau pengamatan tidak langsung. Pengamatan tidak langsung biasanya
dilakukan dengan mengidentifikasi tanda-tanda yang ditinggalkan oleh satwa liar seperti kotoran, jejak
ataupun cakaran. Untuk mengetahui jenis-jenis satwa apa saja dan estimasi populasi dan persebarannya,
perlu dilakukan kegiatan survey transek agar data yang diperoleh tepat waktu.
2.2 METODE
Untuk mengetahui jenis-jenis spesies kunci satwa teresterial yang ada di dalam kawasan Hutan Harapan
dapat dilakukan melalui pengamatan secara langsung maupun tidak langsung. Pengamatan tidak langsung
dapat dilakukan melalui beberapa metode, diantaranya;

2.2.1Survei Transek
Secara sistematis transek ini tersebar dikeseluruhan kawasan Hutan Harapan dengan bentuk transek
berupa jalur garis lurus dengan panjang transek adalah 3 km dengan rentang jarak antara 1 transek dengan
transek lainnya adalah 1 km. Khusus dalam survei burung di kawasan lindung sempadan sungai
menggunakan survei transek namun dengan mengasumsikan dan menjadikan badan perairan sungai
sebagai transek.
12

Gambar 9. Peta transek dengan panjang 3 km yang tersebar di Hutan Harapan


2.2.2 Survei Okupansi
Metode survey ini adalah adaptasi dari protokol Tiger Forever WCS (Karanth dkk. 2006
unpubl). Survey okupansi ini berupa petak petak penelitian berbentuk bujur sangkar (Grid Cell) dengan
ukuran pada tiap-tiap sisinya adalah 17kmX 17km. Dasar daripada ukuran petak ini adalah mengacu
kepada jarak jelajahnya Harimau yang mana tujuan awal metode ini dibuat adalah untuk studi Harimau
dan diharapkan metode survey yang digunakan adalah sama untuk seluruh bentang pulau Sumatra.
Adaptasi dari petak-petak penelitian untuk Harimau ini, dapat diturunkan kembali menjadi ukuran yang
lebih kecil dengan ukuran 4.25kmX4.25km dan hal ini adalah untuk melakukan studi satwa mangsa dan
mamalia ukuran sedang.
2.2.3Survei Pemasangan Kamera Trap
Tipe kamera trap yang digunakan di Hutan Harapan adalah jenis Reconyx. Cara bekerjanya kamera
tersebut adalah dengan pasif infrared dan deteksi gerak, sehingga alat ini dapat merekam benda bergerak
yang melintas didepan kamera trap terpasang.
Ada dua metode pemasangan kamera trap yang dilakukan di Hutan Harapan;

13

2.2.3.1 Sistematis sampling desain


Penggunaan desain pemasangan kamera trap ini dilakukan ketika estimasi kekayaan keanekaragaman
hayati berdasarkan habitat adalah merupakan tujuan utama dari survei dilakukan (OBrien. 2008).
Berkaitan dengan hal tersebut maka kamera trap dipasang secara single dan sistematis dengan rentang
jarak antara satu kamera trap dengan lainnya adalah 1.8km. Lokasi pemasangan kamera trap secara
sistematis ini telah ditentukan melalui system Geography Information System (GIS). Adapun lamanya
kamera trap ini dipasang dilapangan adalah untuk rentang waktu selama satu bulan.

Gambar 10. Peta sebaran titik lokasi pemasangan kamera trap


2.2.3.2 Random sampling desain
Pemasangan kamera trap secara acak ini bertujuan untuk memantau populasi Harimau Sumatra dikawasan
Hutan Harapan. Harimau Sumatra merupakan top predator pada kerajaan hewan yang memiliki peranan
penting dalam keseimbangan ekosistem alam. Untuk diperlukan informas tepat waktu tentang pergerakan
Harimau Sumatra di kawasan Hutan Harapan serta jumlah individunya. Melalui pemasangan kamera trap
ini diharapkan dapat menangkap informasi pergerakan dan jumlah individu Harimau Sumatra yang ada di
Hutan Harapan.
Jarak minimal pemasangan kamera trap dilapangan dari satu lokasi kamera trap terpasang dengan lokasi
lainnya adalah dengan rentang jarak 3 km. Penentuan rentang jarak pemasangan kamera trap ini
14

berdasarkan pada daerah jelajah Harimau Sumatra dimana Harimau Sumatra betina selalu tumpang tindih
daerah jelajahnya dengan yang jantan.
Untuk mengidentifikasi individu satu dengan yang lainnya adalah melalui belang pada tubuhnya. Untuk
mendapatkan ini maka kamera trap dipasang secara berpasangan yang bertujuan untuk mendapatkan
kedua bagian sisi tubuh dari Harimau Sumatra.
2.3 Hasil
2.3.1 Mamalia
Dari hasil survei transek yang dilakukan pada blok A,AH, dan Blok AI dapat diketahui kelimpahan
relative untuk masing masing temuan spesies. Pada tabel 1 terlampir dapat dilihat bahwa Harimau
Sumatra ditemukan keberadaannya pada 3 blok RKT tersebut dan dengan total panjang transek
diselesaikan untuk setiap blok RKT adalah blok A; 16.8 km, blok AH; 8.4 km, dan blok AI; 8.4km.
Tabel 3. Kelimpahan relative spesies mamalia pada setiap blok RKT
Nomor
1
2
3
4
5
6
7
8

Nama Indonesia
Harimau Sumatra
Beruang madu
Tapir
Rusa
Kijang
Kucing hutan
Kancil
Napu

Nama Ilmiah
Panthera tigris sumatrae
Helarctos malayanus
Tapirus indicus
Cervus unicolor
Muntiacus muntjack
Prionailurus bengalensis
Tragulus kanchil
Tragulus napu

Blok A
0.0001
0.0008
0.0003
0.0006
0.0005
0.0000
0.0000
0.0000

Blok
AH
0.0002
0.0011
0.0004
0.0024
0.0008
0.0001
0.0000
0.0001

Blok AI
0.0001
0.0014
0.0004
0.0011
0.0008
0.0000
0.0002
0.0000

Sementara itu, hasil rekaman photo pemasangan kamera trap yang telah dilaksanakan pada blok RKT
A,B,C,AI dengan total hari efektif kamera dilapangan pada setiap blok RKT adalah: blok A; 966.07,
blok B; 331.91, blok C;192.06 dan blok AI dengan keseluruhan total hari efektifnya adalah 374.58. Blok
RKT A,B,C,AI ini merupakan satu bagian dari kawasan lindung -Sempadan Sungai yang berperan
penting untuk sebagai daerah tangkapan air sungai, dan juga sebagai tempat hidup bagi satwa liar kunci
yang dilindugi oleh Negara. Daftar temuan spesies untuk setiap blok RKT dapat dilihat pada lampiran 4.
2.3.2 Burung
Komposisi Jenis

Survei keanekaragaman jenis burung di lakukan di sepanjang sempadan Sungai Kapas yang
bersinggungan dengan Blok AH, AI dan B Propinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan Hasil
pengamatan burung di areal sempadan sungai kapas, Sumatera Selatan ditemukan sebanyak 80
jenis yang termasuk ke dalam 30 Family dengan jumlah total 219 individu. Jumlah tersebut
termasuk 1 jenis Bangau, yaitu Bangau sandang lawe (Ciconia episcopus) yang tercatat di luar
15

periode pengamatan. Dari jumlah tersebut ditemukan sebanyak 21 jenis yang tergolong dalam
status IUCN, 15 jenis burung yang dilindungi oleh Undang-undang dan 6 jenis yang termasuk
dalam kategori Appendix CITES (Tabel 4)
Tabel 4. Jenis Burung terancam dan dilindungi di Areal Sempadan Sungai Kapas
N0
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29

Nama Ilmiah
Aegithina viridissima
Psittinus cyanurus
Anthracoceros malayanus
Treron capellei
Rhinoplax vigil
Buceros rhinoceros
Aceros corrugatus
Argusianus argus
Megalaima henricii
Eurylaimus ochromalus
Gracula religiosa
Harpactes diardii
Pelargopsis capensis
Alcedo meninting
Macronous ptilosus
Stachyris maculata
Malacopteron magnum
Malacocincla malaccense
Malacopteron affine
Trichastoma rostratum
Calyptomena viridis
Mesophoyx intermedia
Ciconia episcopus
Oriolus xanthonotus
Arachnothera longirostra
Arachnothera flavigaster
Antreptes singalensis
Nectarinia sperata
Iole olivacea

Nama Indonesia
Cipoh jantung
Nuri tanau
Kangkareng hitam
Punai besar
Rangkong gading
Rangkong badak
Julang Jambul hitam
Kuau raja
Takur topi emas
Sempur hujan darat
Tiong emas
Luntur diard
Pekaka emas
Raja udang meninting
Ciung-air pongpong
Tepus tungging-merah
Asi besar
Pelanduk ekor-pendek
Asi topi-jelaga
Pelanduk dada-putih
Madi-hijau kecil
Kuntul perak
Bangau sandang lawe
Kepudang hutan

IUCN
NT
NT
NT
VU
NT
NT
NT
NT
NT
NT
NT

Appendix
CITES

Ya

II
II

Ya
Ya
Ya
Ya

I
II
II
II

Ya
Ya
Ya
Ya

NT
NT
NT
NT
NT
NT
NT
Ya
Ya

NT

Pijantung kecil
Pijantung tasmak
Burung madu belukar
Burung-madu penganten
Brinji mata putih

Dilindungi
UU

Ya
Ya
Ya
Ya
NT

Keterangan :
Status Keterancaman mengacu kepada Redlist IUCN 2007 (Sukmantoro dkk. 2007)
yang meliputi:
16

CR
EN
VU
NT

: Critically Endangered (Sangat terancam punah)


: Endangered (Terancam punah)
: Vulnerable (Terancam)
: Near Threatened (Mendekati terancam)

UU : Status perlindungan satwa menurut tata aturan di Indonesia yang mengacu


kepada UU N0.5 tahun 1990 tentang Konservas Sumber Daya Alam hayati dan
Ekosistemnya dan PP N0. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan
dan Satwa
CITES : Status Peraturan perdagangan Internasional yang dikelompokkan menjadi 3 Appendix
Appendix I : Semua jenis yang terancam punah dan berdampak apabila diperdagangkan
Appendix II : Jenis yang statusnya belum terancam, tetapi akan terancam punah apabila
dieksploitasi berlebihan
Keanekaragaman dan Kelimpahan Jenis

Hasil identifikasi satwa burung di areal sempadan sungai juga didapatkan hasil jenis yang
memiliki kelimpahan tertinggi adalah pergam hijau (Ducula aenea) dengan kelimpahan
sebanyak 14 individu. Jenis dari family Columbidae memang sering terlihat di lapangan secara
berkelompok di Pohon. Sedangkan jenis burung lainnya yang memiliki kelimpahan besar
berturut-turut adalah Arachnothera longirostra (Family Nectarinidae) dengan kelimpahan 12
individu, Pycnonotus simplex (Pycnonotidae) kelimpahan 8 individu, Macronous gularis
(Timaliidae) kelimpahan 7 individu, kemudian jenis rangkong Anthracoceros malayanus
(Bucerotidae), Pelargopsis capensis (Alcedinidae), Malacopteron affine (Timaliidae), Iole
olivacea (Pycnonotidae), dan Aegithinia viridissima (Aegithinidae) masing-masing memiliki
kelimpahan 6 individu. Beberapa jenis rangkong lain juga ditemukan di areal Sempadan sungai,
diantaranya Buceros rhinoceros dan Rhinoplax vigil dengan kelimpahan masing-masing 2
individu, serta Aceros corrugatus dengan kelimpahan 1 individu.
Hasil survei juga memberikan Nilai Indeks keanekaragaman Shannon Wiener H 4.08.
Nilai tersebut menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis burung di areal sempadan sungai
sangat tinggi. Berdasarkan Barbour et al. 1987 (lihat Suwena 2007), kriteria nilai indeks
keanekaragaman jenis berdasarkan Shanon-Wiener sebagai berikut: jika H<1 dikategorikan
sangat rendah, H>12 kategori rendah, H>23 kategori sedang (medium), H>34 kategori
tinggi, dan jika H>4 kategori sangat tinggi. Tingginya keanekaragaman jenis burung di areal
sempadan sungai disebabkan di areal sempadan sungai memiliki beberapa tipe habitat mulai dari
17

habitat semak belukar, hutan sekunder rendah hingga hutan sekunder tinggi sehingga jenis
burung yang menempati kawasan sempadan sungai lebih beragam mulai dari jenis burung yang
umum di lahan terbuka, jenis burung spesialis tumbuhan bawah hingga jenis burung arboreal.
Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa cukup banyak terdapat jenis burung pemakan
buah di tajuk kanopi (Arboreal frugivore), yaitu sekitar 14 jenis yang terdiri dari beberapa jenis
burung family Bucerotidae, Columbidae, Capitonidae, Eurylaimidae, dan Psittacidae. Tingginya
kekayaan jenis burung Arboreal frugivore di areal sempadan sungai, mungkin saja disebabkan
karena terdapatnya beberapa jenis pohon pakan bagi satwa burung. Jenis tumbuhan yang
dimanfaatkan oleh burung sebagai sumber pakan pastilah cukup banyak, namun Jenis pohon
buah di Areal sempadan sungai Kapas yang sudah teridentifikasi sebagai tumbuhan pakan satwa
adalah jenis Ficus caulacarpa.

18

Gambar 11. Peta Sebaran burung kunci di Sempadan Sungai Kapas Blok AH

Gambar 12. Peta sebaran burung kunci di Sempadan Sungai Kapas Blok AI dan B
3. Abiotik
3.1 Pendahuluan

Alih fungsi hutan di Indonesia belakangan ini sangat banyak terjadi. Tindakan ini terjadi
hampir di seluruh wilayah Indonesia. Indonesia merupakan daerah tropis yang mempunyai
hutan yang luas, yaitu 120.53 juta ha atau 62.6 % dari luas daratan Indonesia. Hasil analisis
data Inventarisasi Hutan Nasional (NFI) tahun 1985-1997 menunjukan bahwa angka deforestasi
cukup besar yaitu 22,46 juta ha atau laju deforestasi nasional per tahun sebesar 1.8 juta ha/tahun.
Deforestasi terbesar terjadi di Propinsi Riau yaitu 160 ribu ha/tahun. Luas hutan yang tersisa di
Provinsi Riau hanya sebesar 1.2 juta ha. (Kementrian Kehutanan, 2008).
Hutan sebagai salah satu penentu ekosistem cenderung mengalami degradasi dengan
adanya campur tangan manusia. Sebagai salah satu ekosistem yang sangat berkaitan dengan
19

kehidupan

makhluk

mempertahankan

hidup,

fungsi

hutan

sangat

siklus hidrologi agar tetap stabil.

berkaitan

dengan

kemampuannya

Diantara fungsi hutan adalah sebagai

penjaga ekosistem, menjaga sifat fisika tanah, dan menjaga tanah dari bahaya erosi, banjir dan
longsor. Bagi sebagian manusia hutan difungsikan sebagai sarana untuk menghasilkan kayu
untuk berbagai kepentingan.
Hutan Harapan merupakan salah satu hutan sekunder yang terdegradasi akibat logging di
daerah dataran rendah, yang terletak pada Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi. Mengingat hal
diatas, PT. Restorasi Ekosistem Indonesia (PT.REKI) berinisiasi untuk mengembalikan
(Restorasi) kondisi ekosistem hutan dataran rendah yang telah terdegradasi tersebut di Sumatera.
Dalam usaha untuk mewujudkan restorasi ekosistem yang baik, maka salah satu langkah
awalnya adalah melakukan kajian atau studi awal terhadap ekosistem itu sendiri, kajian atau
studi tersebut meliputi tiga komponen penting dari suatu ekosistem yaitu hayati (flora dan fauna)
dan non-hayati abiotik. Untuk mencapai salah satu tujuan restorasi ekosistem perlu melakukan
studi pengukuran besar aliran permukaan, erosi, sedimentasi dan kualitas. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui kualitas hutan sebagai penjaga ekosistem.
Tujuan
1. Mengetahui besar aliran permukaan dan erosi di kawasan lindung
2. Mengetahui daerah rawan erosi di kawasan lindung
3. Mengetahui tebal tanah yang tererosi.
4. mengetahui besar unsure hara yang terangkut/tererosi
5. Mengetahui seberapa besar dampak erosi terhadap lingkungan dan menemukan
tindakan konservasi tanah dan air
6. Mengeluarkan rekomendasi untuk teknik konservasi tanah dan air
3.2 Metoda
Pelaksaan kegiatan ini dilaksanakan mulai dari bulan Januari sampai Desember setiap tahun dan
untuk pengukuran besar erosi di lapangan (plot erosi), dilakukan secara berkelanjutan selama 10
tahun. Lokasi pembuatan plot erosi dan pengambilan sampel tanah dilakukan di Sungai Kapas
(Blok AH (1400.223) dan AI (1541.337) Sumatera Selatan).
3.2.1 Metoda Plot Erosi di Lapangan
20

Pembuatan plot erosi dilakukan berdasarkan peta satuan lahan yaitu overlay peta tanah,
peta lereng dan peta tutupan lahan di sekitar Smpadan Sungai.

Perhitungan aliran permukaan dan besar erosi berdasarkan plot dilakukan berdasarkan
perhitungan langsung.

Besarnya aliran permukaan dan erosi tanah di ukur berdasarkan banyaknya air dan tanah
yang tertampung didalam wadah penampung pada setiap kejadian hujan. Cara
pengukuran tanah yang tererosi adalah dengan mengumpulkan tanah dalam wadah
penampung pada setiap kejadian hujan kemudian ditimbang, dikeringkan dan
konversikan dalam ton/ha.

Berdasarkan tanah yang terbawa erosi ditentukan berapa kandungan unsure hara yang
terbawa (N,P,K, C-organik,) dan tebal tanah yang tererosi/tahun

Data unsure hara dan tebal tanah tererosi digunakan untuk mengkaji kulaitas dampak
tanah serta menentukan teknik konservasi tanah yang akan dilakukan.

Alat dan bahan


Alat dan Bahan yang digunkan selama pelaksaan
ring sampel
plastik sampel ukuran 5 kg
plastik sampel ukuran 1 kg
Karet
triplex untuk ring sampel
kertas label
spidol permanent
pisau komando
Pena
buku kerja lap
box tempat kumpulan sampel
Bor belgi
Cangkul
GPS
Kamera
meteran (max 5 meter)
alat PH test lapangan
munsell soil color chart
Parang
21

Abney level
Peta saatuan lahan
Plat aluminium
Talang air
Drum
Pembuatan plot erosi di Lapangan
Plot erosi di lapangan dibuat dengan ukuran 22 m x 11 m (Plot standar). Gambar
11.

Gambar 13. Plot erosi di lapangan

Pengamatan di lapangan meliputi pengamatan, pengukuran, parameter yang berhubungan


dengan erosi.
1. Jumlah aliran permukaan
Pengukuran jumlah aliran permukaan dilakukan setiap kejadian hujan. Besarnya jumlah
aliran permukaan adalah banyaknya air yang tertampung di dalam wadah penampung. Besarnya
jumlah aliran permukaan setiap bulan, dihitung berdasarkan pengukuran jumlah aliran
permukaan pada bulan yang sama.
2. Jumlah tanah tererosi

22

Besarnya erosi tanah di ukur berdasarkan banyaknya tanah yang tertampung didalam
wadah penampung pada setiap kejadian hujan. Cara pengukuran tanah yang tererosi adalah
dengan mengumpulkan tanah dalam wadah penampung pada setiap kejadian hujan kemudian
ditimbang, dikeringkan dan dikonversikan dalam ton/ha.
Analisis Tanah di Laboratorium
Dari sampel tanah yang tererosi dapat ditentukan

Bahan organik tanah yang terbawa erosi : metode walkley and black
% C- Organik
=
mg C- kurva x 100% x kka
mg contoh
% bahan organik
=
1,72 x % C-Organik
Jumlah N Total yang terbawa erosi dengan metode Kjeldahl
Perhitungan : N total (%) = ( t-b ) x 0,05 x 14 x 100/500 x KKA
Dimana :
t
= ml H2SO4 untuk penitar contoh
b
= ml H2SO4 untuk penitar blonko
0,1
= normalitas H2SO4 penitar
14
= bobot atom nitrogen
KKA = 1 + kadar air
P tersedia dengan metode Bray 2

15
Perhitungan : P tanah (ppm) = P terukur (ppm) x 1,5 x KKA
Penetapan K dapat ditukarkan dengan metode Amonium Asetat

K-dd (me/100g)

50 / 2,5 x ppm K
x KKA
10 x BE K
=

3.2.2 Metoda USLE


Pengambilan sampel di Lapangan
Sampel tanah di lapangan diambil berdasarkan peta satuan lahan, degan metode random
sampling.
Sampel tanah utuh : untuk kebutuhan (berat volume tanah dengan menggunakan
metode gravimetric dan permeabilitas dengan menggunakan metode constan head
method berdasarkan hokum darcy.)

23

Sampel tanah terganggu : untuk kebutuhan penentuan bahan organic dan tekstur
tanah

Penentuan kelas struktur tanah diamati dengan menggunakan Lup Struktur Tanah
Nilai Struktur Tanah

Structure Struktur

Nilai

Very fine granular (Granuler sangat halus)

Fine granular (Granuler halus)

Medium, coarse granular (Granuler kasar)

Blocky, palty, massive (Gumpal, lempeng, pejal)

Analisis Tanah di Laboratorium


Analisis tanah di Laboratorium meliputi : Berat volume, permeabilitas, bahan organik dan
tekstur tanah.

Sampel tanah Utuh (Ring sampel)

1. Berat volume : BV = berat tanah kering oven


Volume total
2. Permeabilitas : K = Q x L
txHxA
dimana :

K = permeabilitas tanah (cm/jam)


Q = volume air yang tertampung (cm3)
L = tebal contoh tanah (cm)
A = luas permukaan contoh tanah (cm2)
H = tinggi permukaan air (cm)
t = waktu (jam)
sampel tanah terganggu (Komposit)
1. tekstur : metode ayak dan pipet (Lampiran 5)
% pasir
% debu

= ___P____x 100 %
(P+L+D)
= ___D___ x 100 %
24

% liat

(P+D+L)
= ___L___x 100 %
(P+D+L)

Kriteria permeabilitas tanah


Permeability Class

Kelas permeabilitas (cm/jam)

Nilai

Rapid (Cepat)

> 25,4

Moderate to rapid (Sedang sampai cepat)

12,7 25,4

Moderate (Sedang)

6,3 12,7

Moderate to slow (Sedang sampai lambat)

2,0 6,3

Slow (Lambat)

0,5 2,0

Very slow (Sangat lambat)

< 0,5

2. Bahan organik tanah

: metode walkley and black

% C- Organik

mg C- kurva x 100% x kka


mg contoh

% bahan organik

1,72 x % C-Organik

Analisis Data (Perhitungan Estimasi Erosi)


Menentukan factor C dan P
Panduan Penetapan Nilai Faktor Pengelolaan Tanaman (C)
Jenis Tanaman
Alang-alang permanen
Cabe, bawang, sayuran lain
Cengkeh
Coklat
Jambu mete
Kacang tanah
Kacang hijau
Kapas
Padi sawah
Hutan alam, sedikit serasah
Hutan alam, banyak serasah
Jahe dan sejenisnya
Padang rumput (permanen) bagus
Padang rumput (permanen) jelek
Kebun campuran rapat

Nilai C
0,02
0,70
0,50
0,80
0,50
0,40
0,35
0,70
0,01
0,005
0,001
0,80
0,04
0,40
0,10
25

Pohon reboisasi tahun 1


Pohon reboisasi tahun 2
Semak tak terganggu
Tanah kosong tak diolah
Tanah kosong diolah
Tanpa tindakan
Ubi jalar
Semak belukar
Sawah irigasi
Sawah tadah hujan
Tegalan (tidak dispesifikasi)

Teknik Konservasi Tanah

0,32
0,10
0,01
0,95
1.00
0,10
0,40
0,30
0,01
0,05
0,70

Nilai P

Teras bangku, baik


Teras bangku, sedang
Teras bangku, jelek
Teras tradisional
Bedengan untuk sayuran
Kontur cropping kemiringan 1 3%
Kontur cropping kemiringan 3 - 8%
Kontur cropping kemiringan 8 15%
Kontur cropping kemiringan 15 25%
Kontur cropping kemiringan >25%
Strip rumput permanen, baik, rapat, dan
Strip rumput permanen, jelek
Mulsa jerami sebanyak 6 ton/Ha/tahun
Mulsa jerami sebanyak 3 ton/Ha/tahun
Mulsa jerami sebanyak 1 ton/Ha/tahun
Mulsa jagung sebanyak 3 ton/Ha/tahun
Tanaman perkebunan penutup tanah rapat
Tanaman perkebunan penutup tanah sedang
Reboisasi
Tanpa tindakan

0,04
0,15
0,40
0,35
0,15
0,40
0,50
0,60
0,80
0,90
0,04
0,40
0,15
0,25
0,60
0,35
0,10
0,50
0,30
1,00

Factor R
ditentukan dengan data curah 10 tahun
Dengan perhitungan :
R = 6; 119(RAIN)1.21 (DAY S)-.047(MAXP)0.53
Keterangan :
R
: erosivitas rata-rata bulanan
RAIN : adalah curah hujan rata-rata bulanan (cm)
DAYS : adalah jumlah hari hujan rata-rata perbulan
26

MAXP: adalah curah hujan maksimum selama 24 jam dalam bulan bersangkutan
Menetukan nilai factor K
K = 2,1M1.14(10-4)(12 - a) + 3, 25(b - 2) + 2,5(c - 3)
Keterangan :
K : erodibilitas
M : ukuran partikel (% debu + % pasir halus)
a : adalah kandungan bahan organik
b : kelas struktur tanah
c : kelas permeabilitas
Faktor LS
Tentukan panjang dan sudut lereng lalu lihat di grafik monograph.
Perhitungan Estimasi Erosi
A = R.K.L.S.C.P
A = Banyaknya tanah tererosi (ton ha-1 yr-1)
R = Faktor curah hujan dan aliran permukaan, yaitu jumlah satuan
indeks erosi hujan tahunan yang merupakan perkalian antara energi
hujan total (E) dengan intensitas hujan maksimum 30 menit (I30).
K = faktor erodibilitas tanah
LS = faktor panjang dan kemiringan lereng (dimensionless)
C = faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman (dimensionless)
P = faktor tindakan-tindakan khusus konservasi tanah (dimensionless)

3.3 Hasil
3.3.1 Hasil survey dan pengambilan sampel tanah
Hasil survey, pengambilan sampel tanah dan pembuatan plot erosi di Blok AH dan AI
dapat dilihat pada Tabel 4 dan 5.

27

Tabel 5. Hasil pengukuran beberapa paremeter di Lapangan dan pengambilan sampel


Tgl
27/4/201
3

27/4/201
3

27/4/201
3

27/4/2013

wilayah
Sumsel
(AH)

jumlah
sampel

ID di SLH
(blok)

kode
sampel

kelem
baban
(%)

ph
(lapanga
n)

kode
Lereng
struk
(%)
tur

ring

bor

10 AH1

21

5.8

5
5
5
5

5
5
5
5

10 AH2
10 AH3
10 AH4
10 AH5

20
30
20
30

5.7
5.4
5.8
5.8

2
2
2
2

37 (Planosol
datar5
rubber)

37 AH1

50

4.8

37 AH2
37 AH3
37 AH4
37 AH5

40
50
37
40

4.3
4.1
5
4.5

3
3
3
3

11AH1

40

4.3

11 AH2
11 AH3
11 AH4
11 AH5

30
31
50
40

5.6
4.8
4.2
5

2
2
2
2

12 AH1

30

5.2

12 AH2
12 AH3
12 AH4
12 AH5

30
30
32
31

5.7
5.7
5.2
5.6

3
3
3
3

15 AH1

60

5.0

15 AH2
15 AH3
15 AH4
15 AH5

90
60
50
60

5.1
5
5
5.5

3
3
3
3

10 (alluvial
datarrubber)

11 (alluvial
datar-scrub)

12 (Alluvial
landai-HSF)

15 (alluvial
landairubber)

4%

4%

6%

9%

10 %

28

29/4/201
3

57 (Alluvial
landai rubber)

44 (planosol
landairubber)

2 (Alluvial
agak curamLSF)

16 (Alluvial
landaiscrub)

13 (Alluvial
5
landai -LSF)

29/4/201
3

8 (Alluvial
datar-LSF)

57 AH1

30

5.5

57 AH2
57 AH3
57 AH4
57 AH5

30
50
30

6
5
6

44 AH1

60

4.9

44 AH2
44 AH3
44 AH4
45 AH5

30
50
40
50

5
5
5.2
4.9

2 AH1

50

2 AH2
2 AH3
2 AH4
2 AH5

50
50
70
70

16 AH1

30

5.5

16 AH2
16 AH3
16 AH4
16 AH5

30
60
60
40

5.8
5.8
5
5.1

13 AH1

40

5.3

13 AH2
13 AH3
13 AH4
13 AH5

50
60
30
30

5
5
5.5
5.5

8 AH1

60

5.0

8 AH2

40

11 %

14 %

15 %

9%

8%

2%

29

45 (planosol
landaiscrub)

30 (planosol
agak curamHSF)

26 (planosol
agak curamHSF)

21 (Latosol
datar-HSF)

8 AH3
8 AH4
8 AH5

40
40
50

5
5.5
5.5

45 AH1

68

5.5

45 AH2
45 AH3
45 AH4
45 AH5

79
75
65
70

4.9
5.8
5.8
6

30 AH1

50

5.5

30 AH2
30 AH3
30 AH4
30 AH5

63
80
52
48

6
6.5
5.8
4.8

26 AH1

60

5.8

26 AH2
26 AH3
26 AH4
26 AH5

37
30
35
42

6.4
6
6.4
5.8

21 AH1

30

21 AH2
21 AH3
21 AH4
21 AH5

25
25
20
48

6.4
6.3
6.8
6.2

8%

15 %

17 %

2%

Tabel 6. Titik pembuatan plot erosi di Blok AH dan AI Sumsel


Sumsel
Tgl
SLH
Titik koordinat
(AH)
27/4/201
12 (Alluvial landai0308159;9752095
3
HSF)
28/4/201
44 (planosol landai0308612;9752363
3
rubber)
30

29/4/201
3
29/4/201
3
30/4/201
3
30/4/201
3

26 (planosol agak
curam-HSF)
2 (Alluvial agak
curam-LSF)
Sumsel (AI)
8 (Alluvial datarHSF)
22 (planosol datarLSF)

0307061;9754762
0306959;9752709
0309866;974987
4
0310677;975011
0

3.3.2. Hasil Analisis tanah di Laboratorium


Tabel 7. Hasil analisis sifat fisika tanah di Laboratorium
Permebailita
BV
TRP
No. Urut
KODE
s
(cm
( g cm -3)
(% volume)
jam -1)
1
2
AH1
1.47
0.79
70.19
2
2
AH2
0.73
0.96
63.77
3
2
AH3
1.05
0.87
67.17
4
2
AH4
7.17
0.96
63.77
5
2
AH5
0.90
0.92
65.28
Rata-rata
2.26
0.90
66.04
6
8
AH1
1.30
0.75
71.70
7
8
AH2
4.75
0.82
69.06
8
8
AH3
2.15
0.75
71.70
9
8
AH4
1.05
0.90
66.04
10
8
AH5
1.13
0.75
71.70
Rata-rata
2.08
0.79
70.04
11
10
AH1
0.20
1.09
58.87
12
10
AH2
2.20
1.06
60.00
13
10
AH3
2.20
1.17
55.85
14
10
AH4
0.30
1.28
51.70
15
10
AH5
1.80
1.20
54.72
Rata-rata
1.34
1.16
56.23
16
11
AH1
0.94
0.93
64.91
17
11
AH2
0.33
0.90
66.04
18
11
AH3
0.86
0.85
67.92
19
11
AH4
0.20
0.81
69.43
20
11
AH5
1.13
0.93
64.91
Rata-rata
0.69
0.88
66.64
21
12
AH1
1.13
0.94
64.53
31

22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55

12
12
12
12
Rata-rata
13
13
13
13
13
Rata-rata
15
15
15
15
15
Rata-rata
16
16
16
16
16
Rata-rata
21
21
21
21
21
Rata-rata
26
26
26
26
26
Rata-rata
30
30
30
30
30

AH2
AH3
AH4
AH5
AH1
AH2
AH3
AH4
AH5
AH1
AH2
AH3
AH4
AH5
AH1
AH2
AH3
AH4
AH5
AH1
AH2
AH3
AH4
AH5
AH1
AH2
AH3
AH4
AH5
AH1
AH2
AH3
AH4
AH5

1.92
3.77
0.89
0.47
1.64
0.89
2.59
2.83
2.94
0.40
1.93
0.50
2.57
2.33
0.47
2.55
1.68
1.31
1.51
4.64
0.70
1.62
1.96
2.12
6.27
2.12
7.15
1.69
3.87
0.30
3.74
0.28
6.79
1.57
2.54
0.70
0.50
1.02
0.53
0.56

0.83
0.93
1.15
0.86
0.94
0.74
0.97
0.70
0.70
0.86
0.79
0.81
1.13
1.09
0.79
0.70
0.90
0.85
1.06
0.90
1.07
0.80
0.94
0.73
0.62
0.62
0.98
1.40
0.87
1.14
1.14
0.89
0.84
1.13
1.03
0.80
0.82
0.96
0.68
0.99

68.68
64.91
56.60
67.55
64.45
72.08
63.40
73.58
73.58
67.55
70.04
69.43
57.36
58.87
70.19
73.58
65.89
67.92
60.00
66.04
59.62
69.81
64.68
72.45
76.60
76.60
63.02
47.17
67.17
56.98
56.98
66.42
68.30
57.36
61.21
69.81
69.06
63.77
74.34
62.64
32

Rata-rata
0.66
0.85
56
37
AH1
1.09
0.99
57
37
AH2
0.50
0.92
58
37
AH3
1.03
1.02
59
37
AH4
0.53
0.97
60
37
AH5
0.56
0.67
Rata-rata
0.74
0.91
61
44
AH2
0.20
1.02
62
44
AH3
1.08
1.17
63
44
AH4
0.56
1.03
64
44
AH5
7.15
1.05
65
44
AH1
2.12
0.73
Rata-rata
2.22
1.00
66
45
AH1
0.50
0.93
67
45
AH2
0.78
0.55
68
45
AH3
0.83
0.60
69
45
AH4
0.28
0.69
70
45
AH5
1.26
0.90
Rata-rata
0.73
0.73
71
57
AH5
1.02
1.30
72
57
AH3
1.26
1.32
73
57
AH4
4.42
0.80
74
57
AH1
1.09
0.80
75
57
AH2
5.09
0.70
Rata-rata
2.58
0.98
*data hasil analisis Laboratorium Universitas Andalas, Padang
*ket : 2 AH = Alluvial agak curam-Low Secondary Forest
8 AH = Alluvial datar-Low secondary forest
10 AH = Alluvial datar-Rubber
11 AH = Alluvial datar-Scrub
12 AH = Alluvial landai-High secondary forest
13 AH = Alluvial landai-Low secondary forest
15 AH = Alluvial landai-Rubber
16 AH = Alluvial landai-Scrub
21 AH = Latosol datar-High secondary forest
26 AH = Planosol Agak curam-High secondary forest
30 AH = Planosol Agak curam-Scrub
37 AH = Planosol datar-Rubber
44 AH = Planosol Landai-Rubber
45 AH = Planosol landai-Scrub
57 AH = Alluvial landai-Rubber

67.92
62.64
65.28
61.51
63.40
74.72
65.51
61.51
55.85
61.13
60.38
72.45
62.26
64.91
79.25
77.36
73.96
66.04
72.30
50.94
50.19
69.81
69.81
73.58
62.87

33

Berdasarkan hasil analisis laboratorium, dapat dilihat bahwa rata-rata nilai permeabilitas
tanah pada setiap satuan lahan tergolong sedang, sedang sampai lambat dan lambat dengan nilai
kode yang dimasukan ke dalam formulasi 3, 4 dan 5. Dari nilai permeabilitas tersebut dapat
digunakan untuk memprediksi bahwa nilai air yang masuk ke dalam tanah per satuan jam dari
total curah hujan, sedikit sekali. Hal ini akan mengakibatkan besarnya nilai aliran permukaan.
Nilai aliran permukaan merupakan salah satu factor penyebab erosi. Pada tanah yang memilki
struktur paltty, blocky dan massive akan mudah mengalami erosi, karena tanah tersebut
merupakan tanah yang stabiltas tanah tersebut tergolong rendah (Luki, 2007)
Kondisi struktur tanah sangat berkaitan erat dengan nilai bahan organic tanah, semakin
tinggi kandungan bahan organic tanah maka stabilitas agregat tanah juga akan meningkat,
sehingga tanah tersebut akan lebih stabil terhadap tekanan dari luar (ex:splash erosion). Splash
erosion atau erosi percikan, merupakan salah erosi yang diakibatkan oleh air hujan yang jatuh ke
permukaan tanah dan terjadi erosi percikan. Erosi percikan akan mengakibatkan pecahnya
butiran struktur tanah, sehingga pecahan butiran agregat tersebut akan menutupi pori tanah, hal
ini akan mengakibatkan kecilnya nilai infiltrasi tanah. Nilai infiltrasi tanah yang rendah, akan
mengakibatkan air yang masuk ke dalam tanah menjadi menurun dan aliran permukaan yang
terjadi akan semakin besar, sehingga nilai erosi tanah akan semakin meningkat (Syarief, 1985)
Memperhatikan nilai berat volume tanah, secara keseluruhan nilai berat volume tanah per
satuan lahan tergolong sedang-rendah, ini juga menjukan bahwa tanah tersebut lebih memiliki
total ruang pori yang besar sehingga air yang masuk kedalam tanah juga bisa lebih besar.
Donahue (1983), menyatakan bahwa semakin rendah nilai berat volume tanah, maka nilai total
ruang pori tanah akan semakin tinggi dan kemampuan menyimpan air juga semakin tinggi.
Berdasarkan nilai kelerengan tanah maka dapat dilihat bahwa pada blok AH kawasan
Hutan Harapan tergolong ke dalam daerah dataran rendah, karena didominasi oleh lereng datar
dan landai. Hanya beberapa saja yang tergolong ke dalam kelas agak curam. Berdasarkan nilai
lereng sebagai salah satu factor yang menentukan besar atau kecilnya erosi, maka di prediksi
nilai erosi yang dengan lereng datar sampai landai akan menunjukan nilai erosi yang rendah
sampai sedang. Menurut Arsyad (1989), Salah satu factor yang menyebabkan terjadinya erosi
adalah kemiringan. Semakin besar sudut lereng maka erosi yang terjadi juga akan semakin besar.

34

Berdasarkan pengukuran di lapangan tingkat bahaya erosi di prediksi tidak terlalu tinggi untuk
wilayah yang telah dilakukan pengambilan sampel.
Untuk data sifat tanah yang lain, yang dimasukan ke dalam forrmula USLE, masih dalam
proses analisa tanah di Laboratorium Universitas Jambi. Untuk pengamatan besar erosi secara
langsung dengan metoda plot erosi di lapangan, data besar erosi belum bisa ditampilkan, karena
sampel tanah yang tererosi masih berada di camp, untuk dilakukan pengovenan dan
penimbangan ke Laboratorium.

D. PEMANTAUAN DAN EVALUASI


Kegiatan PT.REKI dalam restorasi ekosistem hutan produksi di wilayah hutan S. Meranti-S. Kapas,
Kecamatan Batanghari Leko, Kab. Musi Banyuasin seluas 51.312Ha dengan masa ijin usaha 55 tahun
akan memberikan dampak besar, baik positif maupun negative.
Pemantauan kawasan lindung berupaya mencari kekurangan ataupun penyimpangan yang terjadi
terhadap kinerja pengelolaan kawasan lindung, baik dalam menyusun rencana, pelaksanaan hingga
hasilnya. Dengan pemantauan, maka kekeliruan atau penyimpangan dapat segera diketahui, dicari
permasalahannya dan segera dilakukan tindakan pemecahan masalah.
Tujuan dari pemantauan kawasan lindung antaralain menyusun SOP pemantauan kawasan
lindung dan menyusun RO pemantauan kawasan lindung, melakukan pemantauan terhadap rencana
kegiatan pengelolaan kawasan lindung, melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan
pengelolaan yang telah direncanakan, melakukan pemantauan terhadap komponen fisik-kimia, biologi
social dan budaya masayarakat yang terkena dampak, mendiikan stasiun pengamatan pemantauan dan
pengamanan secara periodic ataupun insidensial.
Pemantauan Tanah dan Hidrologi
35

Pemantauan ini dilakukan pada daerah Terbukanya penutupan lahan yang menyebabkan
meningkatnya aliran permukaan, erosi, dan sedimentasi terutama pada lahan yang tidak ada tutupan
vegetasi setelah dilakuan kegiatan pemanenan hutan. Selain itu juga diakibatkan oleh tingkat kelerengan
dan kondisi tanah yang tidak stabil. Kemudian kegiatan penanaman dan pengayaan pada daerah
bertipologi 1 dan 2 menyebabkan penutupan lahan meningkat sehingga aju erosi, sedimentasi dan aliran
permukaannya menurun.
Parameter lingkungan yang dipantau adalah tingkat laju erosi, sedimentasi, dan aliran permukaan.
Tujuan pemantauan ini adalah untuk memantau gejala timbulnya tingkat aliran permukaan, erosi dan
sedimentasi yang diakibatkan oleh kegiatan penanaman dan pengayaan maupun kegiatan pamanenan hasil
hutan.
Metoda pengukuran yang digunakan untuk pemantauan laju erosi dan aliran permukaan dengan
menggunakan patok berskala atau bak pengukur erosi dengan memperhatikan sarasah, tingkat penutupan
vegetasi, top soil, factor kelerengan dan iklim di hamparan areal bekas tebangan meliputi seluruh land
unit yang mewakili. Kemudian untuk laju sedimentasi digunakan metoda pengamatan secara langsung
dengan menggunakan SPAS dan perlengkapanya

dan pengambil contoh air sungai dengan volume

tertentu yang diendapkan, lalu endapan ditimbang dalam keadaan kering. Besar tingkatan sedimentasi
tersuspensi dihitung berdasarkan kandungan berat sedimen kering per volume air sampel yang kemudian
dikalikan dengan satuan waktu.
Periode pemantauan erosi dan aliran permukaan dilakukan secara rutin dan hasilnya dievaluasi
setiap 6 bulan sekali disesuaikan dengna kegiatan penanaman, pemeliharaan tanaman dan pemanenan
hasil hutan. Pengamatan sedimentasi pada SPAS dilakukan secara rutin setiap hari selama kegiatan
restorasi, pengamatan sedimentasi pada setiap sungai dilakukan 4 kali dalam satu tahun yaitu Maret, Juni,
September, dan Desember setiap pengamatan dilakukan selama 10 hari di Sungai Kapas dan Meranti.
Pemantauan Kualitas Air
Perubahan kualitas air sebagai akibat kegiatan perbaikan dan restorasi hutan akan lebih
berdampak pada fisik kualitas air, terutama parameter padatan total, sebagai dampak turunan dari erosi
lahan. Sebagai parameter kunci yang dipantau adalah padatan terlarut dan kekeruhan. Tujuan dari
pemantauan ini adalah untuk mengetahui dinamika perubahan kualitas air selama tahap restorasi hingga
pasca restorasi, dan sebagai bahan evaluasi terhadap efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan yang
sedang dan telah dilakukan.
Metoda pengumpulan dan analisis data yang digunakan teknik gravimetric yaitu dengan
melakukan pengambilan contoh air di batas bawah areal restorasi disetiap sungai sebanyak 500ml secara

36

komposit di tepi-tengah-tepi pada tiap stasiun sampling sungai. Kemudian air tersebut dibawa ke
laboratorium untuk dianalisa nilai TSS, TDS, Turbidity, dan biota air.
Lokasi pemantauan dilakukan di hilir batas areal restorasi di Sungai Kapas dan hilir Sungai
Meranti, dengan frekuensi pemantuan 4 kali setahun, mewakili kondisi musim kemarau dan musim
penghujan.
Pemantauan Biodiversity
Pemantauan biodiversity mencakup kedalam pemantauan flora dan fauna di sekitar kawasan
lindung Sempadan Sungai, diantaranya pemantauan komposisi jenis, struktur komunitas flora dan fauna
serta potensi hutan. Tujuan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui apakah rencana kegiatan
pengelolaan kawasan lindung berjalan dengan baik dimana terjadi perbaikan komposisi jenis dan struktur
komunitas flora dan fauna.
Metoda pemantauan menggunakan rapid survey dengan teknik pengumpulan data menggunakan
transek sepanjang 100meter dengan lebar transek 10 meter kiri kanan di sepanjang aliran sungai.
Periode pemantauan dilakukan 2 kali dalam setahun di sepanjang Sungai Kapas dan Meranti dan
sesuaikan dengan rencana penanaman dan pengayaan.

E. PENGELOLAAN
Dari hasil penataan dan pemantauan kawasan lindung Sempadan Sungai yang telah dilakukan
dapat diberikan rekomendasi teknik pengelolaan yang akan dilakukan. Pada daerah lahan terbuka akibat
logging, illegaloging dan perambahan direkomendasikan untuk dilakukan kegiatan penanaman dan
pengayaan jenis tanaman kunci dan pakan satwa, sedangkan untuk daerah yang masih memiliki tutupan
vegetasi direkomendasikan untuk dilakukan ANR dan pengamanan rutin untuk mencegah terjadinya
ilegalloging dan perambahan pada daerah kawasan lindung Sempadan Sungai, serta dibangunya Pos
Pantau dan pengamanan serta akses jalan untuk mempermudah kegiatan pengelolaan kawasan lindung.
Tujuan dari pengelolaan ini nantinya agar komponen ekosistem berupa flora, fauna, dan habitat
dapat tumbuh dan berkembang dangan baik, serta terjaminnya keberlangsungan proses pemulihan
ekosistem yang dipercepat melalui kegiatan restorasi sehingga akan tercipta suatu ekosistem hutan yang
berfungsi dengan baik.

37

Periode pengelolaan kawasan lindung dimulai dari ditetapkannya Sempadan Sungai kapas dan
meranti sebagai kawasan lindung, yang lebih di arahkan kepada kegiatan pemulihan ekosistem hutan
melalui serangkaian kegiatan persemaian, penanaman, pengayaan dan pemeliharaan. Kegiatan pendekatan
kepada masyarakat juga harus ditingkatkan untuk mengurangi bayaha tekanan berupa gangguan
penebangan liar dan perambahan. Juga peningkatan sumber daya manusia dan pembentukan regu Damkar
dan jagawana untuk mengantisipasi gangguan yang tidak terduga.

F. Framework

Kegiatan
Penentuan Areal
Kerja dan penataan
tata batas

Lokasi
DAS Sungai Kapas dan
Meranti

Penanggung jawab
Dept. Riset dan Konservasi
Dept. Data Management dan
Komunikasi
Dept. Perlidungan Hutan

Keterangan
Peta lokasi kegiatan dan
tanda
batas kawasan
dilapangan

Akses Jalan

Sungai Kapas dan


Meranti

Jalan dan Jembatan

Inventarisasi Flora,
Fauna dan Abiotik

DAS Sungai Kapas dan


Meranti

Dept. Support Service


Dept. Linhut
Dept Kemitraan
Dept. Riset dan Konservasi

Sosialisasi Kawasan
lindung

9 Rumpok disepanjang
sungai Kapas.
Desa Sakosuban
Desa Bintialo

Dept. Kemitraan
Dept. Riset dan Konservasi
Dept. Perlindungan Hutan
Dinas Terkait

Dokumen Pengakuan
parapihak dan Perda
Penetapan Kawasan
Lindung

Data dan informasi flora,


fauna dan abiotik

38

Pemasangan papan
informasi

DAS Sungai Kapas dan


Meranti

Dept. Perlindungan Hutan


Dept. Data management dan
Komunikasi
Dept. Riset dan Konservasi
Dinas Terkait

Papan informasi dan


Perda Penetapan
Kawasan Lindung

Monitoring dan
Evaluasi

DAS Sungai Kapasdan


Meranti

Dept. Riset dan Konservasi


Dept. Perlindungan Hutan
Dept. kemitraan

Informasi dan
rekomendasi

G. Schedule kegiatan
No

Kegiatan

Sosialisasi Perda Kawasan


Lindung Sempadan Sungai
Kapas dan Meranti

2
3
4
5
6
7
8

Jan

Feb

Mar

Aprl

Waktu pelaksanaan
Mei Jun Jul Agus

Sept

Okt

Nov

Penetuan Areal Kerja


Penataan tata batas
dilapangan
Pemasangan papan
informasi
Inventarisasi
Pengelolaan
Monitoring dan evaluasi
Patroli dan Pengamanan

H. Anggaran Biaya
Anggaran biaya
N
o
1
2

Kegiatan
Penetuan Areal Kerja
Penataan tata batas
dilapangan

Item
peta
Cat warna merah
kuas
Kompas
GPS

Harga satuan
Rp25,000.00
Rp30,000.00
Rp10,000.00

Flora
Fauna

Rp2,000,000.00
Rp2,000,000.00

Inventarisasi

Jumlah
4 bh
40 klg
16 bh

Total harga
Rp100,000.00
Rp1,200,000.00
Rp160,000.00

2 kali
suvey
2 kali
suvey

Rp4,000,000.00
Rp4,000,000.00

39

Des

Sosialisasi

Papan informasi

Abiotik
Rumpok
Desa
plank
Total biaya

2 kali
suvey
9 bh
2 bh
36 bh

Rp5,000,000.00
Rp300,000.00
Rp1,000,000.00
Rp1,000,000.00

Rp10,000,000.00
Rp2,700,000.00
Rp2,000,000.00
Rp36,000,000.00
Rp95,160,000.00

Ket: * = tersedia

LAMPIRAN
Lampiran 1. Persentase temuan jenis pakan satwa, komersial dan jenis terancam punah pada

masing-masing jalur transek


Persentase pakan satwa
A3J
2

A3J
3

A8J
1

A8J
2

A8J
3

A9J
1

A9J
2

A9J
3

A10J
1

A10J
2

A11J
1

% Total

Semai
Pakan satwa

39

53

62

60

57

55

50

55

58

63

65

57

(blank)

61

47

38

40

43

45

50

45

42

37

35

43

Pakan satwa

48

47

57

55

55

52

59

58

59

54

53

54

(blank)

52

53

43

45

45

48

41

42

41

46

47

46

Pancang

40

Tiang
Pakan satwa

59

59

59

78

68

58

43

44

52

53

47

57

(blank)

41

41

41

22

32

42

57

56

48

47

53

43

Pakan satwa

59

62

64

66

65

68

53

63

60

59

63

62

(blank)

41

38

36

34

35

32

47

38

40

41

37

38

A10J2

A11J1

% Total

Pohon

Persentase Kayu Komersial


A3J
2

A3J
3

A8J
1

A8J
2

A8J
3

A9J
1

A9J
2

A9J
3

A10J
1

Semai
Komersial 1

10

13

15

15

18

16

12

10

13

13

Komersial 2

13

36

50

51

40

41

37

39

46

50

45

42

Indah 1

Indah 2

13

82

56

35

32

37

39

39

40

37

33

29

40

Komersial 1

12

12

21

19

15

14

11

24

11

19

13

16

Komersial 2

JL
Pancang

17

12

31

39

31

21

33

32

36

40

28

29

Indah 1

Indah 2

67

74

45

39

52

61

55

39

45

37

53

51

Komersial 1

13

17

11

13

10

Komersial 2

27

27

42

36

34

18

36

35

41

50

38

35

JL
Tiang

Indah 1
Indah 2

60

53

40

56

59

71

42

57

49

36

56

52

Komersial 1

11

17

13

11

16

15

12

13

11

11

10

13

Komersial 2

34

34

42

39

44

35

34

36

49

54

41

39

Indah 1

Indah 2

50

43

40

46

34

45

44

43

37

27

45

42

A8J
1

A8J
2

JL
Pohon

JL

Persentase jenis dilindungi


A3J
2
Semai
Near
Threatened
Undang-undang
RI
Vunerable
(blank)

A3J
3

A8J
3

A9J
1

A9J
2

A9J
3

A10J
1

A10J
2

A11J
1

% Total

100

99

100

99

99

98

98

97

100

100

100

99

Pancang

41

Near
Threatened
Undang-undang
RI
Vunerable
(blank)
Tiang
Undang-undang
RI
(blank)
Pohon
Undang-undang
RI
Vunerable
(blank)

99

98

96

99

97

99

100

96

98

97

100

98

100

97

99

99

98

99

98

100

100

98

100

99

97

96

99

98

95

97

99

96

99

99

94

97

Lampiran 2. Persentase tingkat vegetasi berdasarkan temuan jenis pakan satwa, jenis komersial
dan terancam punah pada masing-masing jalur transek
% JENIS
Nomor
% PAKAN
KATEGORI
% KOMERSIAL
TERANCAM
transek
SATWA
PUNAH
A3J2

A3J3

A8J1

A8J2

A8J3

A9J1

Semai
Pancang
Tiang
Pohon
Semai
Pancang
Tiang
Pohon
Semai

39
48
59
59
53
47
59
62
62

18
29
31
46
42
23
40
50
60

0
1
0
3
1
2
3
4
0

Pancang
Tiang
Pohon
Semai
Pancang
Tiang
Pohon
Semai
Pancang
Tiang
Pohon
Semai
Pancang
Tiang
Pohon

57
59
64
60
55
78
66
57
55
68
65
55
52
58
68

53
59
55
64
58
44
49
55
46
39
60
55
35
29
50

4
1
1
1
1
1
2
1
3
2
5
2
1
1
3
42

A9J2

A9J3

A10J1

A10J2

A11J1

Semai
Pancang
Tiang
Pohon
Semai
Pancang
Tiang
Pohon
Semai
Pancang
Tiang
Pohon
Semai
Pancang
Tiang
Pohon
Semai
Pancang
Tiang
Pohon

50
59
43
53
55
58
44
63
58
59
52
60
63
54
53
59
65
53
47
63

54
44
49
47
55
55
43
49
58
47
50
60
60
59
60
65
58
41
44
51

3
0
2
1
3
4
0
4
0
2
0
1
0
3
2
1
0
0
0
6

Lampiran 3. Daftar jenis flora(tumbuhan)


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

NamaJenis
Raja bunga
Langsatkeru
Kopi-kopi
Sigampisang
Pulaihutan
Pulai
Ribu-ribu
Mersawa
Jabon
Gaharu
Kabau
Jengkol
Suren,surian
Terap
Tampang
Selentikan
Tampoi
Asam-asam

Genus & Species


IUCN
AdenantherapavoninaL.
AglaiaodorataLour.
Aidiaracemosa(Cav.) Tirveng.
Alphonseajavanica
Alstoniaangustiloba
Alstoniascholaris(L.) R. Br.
Anisophylleadisticha
AnisopteracostataKorth.
Endangered/IUCN
Anthocephalluschinensis
AquilariamalaccensisLamk.
Vulnerable/IUCN
Archidendronbubalinum(Jack) I.C.Nielsen
Archidendronjiringa(Jack) Nielsen
ArtocarpusanisophyllusMiq.
ArtocarpuselasticusReinw. ex Blume
ArtocarpusnitidusTrec.
Baccaureadeflexa
Baccaureamacrocarpa(Miq.) Mll. Arg.
Baccaurearacemosa(Reinw.) Mll. Arg.
43

19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56

Kayuasam
Putatdaunkecil
Putat
Jambueropa
Kayukepinding
Kayubatu
Raman
Terentang
Setepung
Ketapung
Kayubiawak
Kedondong
Kedondongbatu
Kayumanis
Kemutun
Kayubantan
Sulai
Keranji
Keranjikijang
Kayulilin
Simpurkijang
Simpur
Arangparo
Arangarangpematang
Arangarang,kayuarang
Keruing
Petanang
Jelutung
Sendok-sendok
Pasakbumi
Tembesu
Kayuaro
Rukam
Asamkandis,kand
is
Samakpunai
Manggis
Manggisburung
Siluk

Baccaureaspp
Barringtoniamacrostachya (Jeck) Kurz
BarringtoniascortechiniiKing
BelluciapentameraNaudin
Bhesapaniculata
BhesapaniculataArn
Boueaoppositifolia(Roxb.) Meisn.
Buchananiaarborescens(Blume ) Blume
CallicarpaarboreaRoxb
CallicarpapentandraRoxb.
Canariumlittorale
CanariumpatentinerviumMiq.
Canariumspp
Cinnamomumsp
Cratoxylumformosum(Jack) Dyer
DacryodeselmeriH.J.Lam
Dacryodesrostrata(Blume) Lam
DialiumindumL.
DialiumplatysepalumBaker
Dialium spp.
Dilleniaexcelsa(Jack) Gilg
DilleniaeximiaMiq.
Diospyros spp.
Diospyros spp.
Diospyros spp.
Dipterocarpussp
DryobalanopsoblongifoliaDyer
Dyeracostulata(Miq.) Hook. f.
Endospermumdiadenum(Miq.) Airy Shaw
EurycomalongifoliaJack.
FagraeafragransRoxb.
FicusvariegataBlume
FlacourtiarukamZoll. &Moritzi

Undang-undang

Garciniaparvifolia
GaleariafiliformisBoerl.
GarciniamangostanaL.
GarciniamangostanaL.
Gironniera nervosa Planch.
44

57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95

Silukdaunbesar
Rengasburung
Serkid
Ramin
Kayubuluh
Kersik
Merawan
Merawandaunhal
us
Merbau
Sepah
Sempagar
Mendarahan
Kempas
Medang
Medangbekam
Medangdaun
Medangjahe
Medangkemalan
Medangkerupuk
Medangmabuk
Medangpasir
Medangpauh
Medangpayo
Medangrawas
Medangseluang
Medangtelur
Medangterung
Mahangketam
Perkat
Mahangputih
Mahang
Mahangkapur
Kemang
Mangga
Manggahitam
Manggahutan
Pauh
Sengkuang
Temeras

Gironnierasubaequalis Planch.
GlutarenghasL.
GonocaryumgracileMiq.
Gonystylus spp.
GynotrochesaxillarisBlume
Hanceapenangensis(Mll.Arg.)
HopeamengerawanMiq.
HopeasangalKorth.
IntsiapalembanicaMiq.
IrvingiamalayanaOliv. ex A. W. Benn.
Ixonanthes spp.
Knemacinerea(Poir.) Warb.
KoompassiamalaccensisMaing.
Litsea spp.
Litsea spp.
Litsea spp.
Litsea spp.
Litsea spp.
Litsea spp.
Litsea spp.
Litsea spp.
Litsea spp.
Litsea spp.
Litsea spp.
Litsea spp.
Litsea spp.
Litsea spp.
Macarangaconifera
Macarangagigantea
Macarangahypoleuca
Macaranga spp.
Macaranga spp.
MangiferacaesiaJack
Mangiferaspp
Mangiferaspp
Mangiferaspp
Mangiferaspp
MeliosmanitidaBlume
Memecxylon spp.

Critically
Endangered/IUCN
Critically
Endangered/IUCN

Vulnerable/IUCN

45

96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108

Pala hutan
Medangdarah
Pala
Kelampayan
Rambutan
Petaling
Kacang-kacang
Petai
Sungkai
Antui
Antui
Sigam
Sigampematang

109 Kelapatupai
110 Semubi
111 Kecapi
112 Merpayang
113 Kulim
114 Rengas
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130

Merantirambai
Merantibunga
Meranti
Merantibalur
Merantibayung
Sindur
Pasir-pasir
Kelumpang,kelo
mpang
Kemenyan
Kelatmerah
Jambu air
Jambubol
Kayukelat
Kayumalam
Kayumalan,mala
n
Kayumalan,mala
n

MyristicaellipticaWall. exHook.f.
&Thoms.
Myristica maxima
Myristicaspp
Neolamarckiacadamba(Roxb.) Bosser
Nephelium spp.
OchanostachysamentaceaMast.
Ormosiasumatrana(Miq.) Prain
ParkiaspeciosaHassk
PeronemacanescensJack
PolyalthiahypoleucaHook. f. &Thoms.
PolyalthiahypoleucaHook. f. &Thoms.
Polyathia spp.
Polyathiaxanthopetala
Porterandiaanisophylla(Jack ex Roxb.)
Ridl.
PternandracordataBaill.
Sandoricumkoetjape(Burm. f.) Merr.
Scaphiummacropodum(Miq.) Beume ex
K. Heyne
ScorodocarpusborneensisBecc.
SemecarpusheterophyllaBlume.
ShoreaacuminateDyer (Light Red
Meranti)
ShorealeprosulaMiq. (Light Red Meranti)
shorea spp.
shorea spp.
shorea spp.
Sindoraleiocarpa De Witt
StemonurusscorpioidesBecc.

Critically
Endangered/IUCN
Endangered/IUCN

Sterculia spp.
Styrax benzoin Dryand
SyzygiumlaxiflorumDC.
Syzygium spp.
Syzygium spp.
Syzygium spp.
Syzygium spp.
Syzygium spp.
Syzygium spp.
46

131
132
133
134
135
136
137
138

Kelat
Kelatakoh
Kelatputih
Malan bekam
Malan serai
Timurbadak
Ridan
Ridangading

Syzygium spp.
Syzygium spp.
Syzygium spp.
Syzygium spp.
Syzygium spp.
TabernaemontanamacrocarpaJack
Xerospermumnoronhianum
Xerospermumspp

139
140

Ridanpematang
Pisang-pisang
Kedondong
Hutan
Kedondong
Tunjuk
Keruing
Bulia
Darah-darah

Xerospermumspp
Xylopia spp.

141
142
143
144
145
146
147
148

Vulnerable/IUCN
Canarium ovatum Engl.
Vulnerable/IUCN
Dacryodes elmeri H.J. Lam.
Dipterocarpus retusus Blume.
Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn.
Knema hookeriana (Wall. ex Hook. f. &
Thoms.) Warb.

Langsat kero
Mendarahan

Aglaia odorata Lour.


Horsfieldia crassifolia (Hook.f. &
Thomson) Warb.

Mendarahan
Horsfieldia macrothyrsa Warb.

Vulnerable/IUCN
Vulnerable/IUCN
Vulnerable/IUCN
Near
Threatened/IUCN
Near
Threatened/IUCN
Near
Threatened/IUCN

Keterangan:
Status Keterancaman mengacu kepada Redlist IUCN2007 (Sukmantoro dkk. 2007) yang meliputi:
CR : Critically Endangered (sangat terancam punah/ kritis)
EN : Endangered (Terancam punah/ genting)
VU : Vulnerable (Terancam)
NT : Near Threatened (Mendekati terancam)
UU : Status perlindungan satwa menurut tata aturan di Indonesia yang mengacu kepada UU N0.5
tahun 1990 tentang KonservasSumber Daya Alam hayati danEkosistemnya dan PP N0. 7
tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa
Lampiran 4. Daftar temuan spesies-spesies dan statusnya pada setiap blok RKT
N
o

Nama Ilmiah

Nama
Indonesia

PP No. 7
tahun 1999

Statu
s
IUCN

CITESAPPENDI
X

Blo
kA

Blo
kB

Blo
kC

Blo
k AI

Panthera tigris

Harimau

dilindungi

CR

47

sumatrae

Sumatra

Tapirus indicus

Tapir

dilindungi

EN

Cuon alpines

Ajag

Dilindungi

EN

II

Neofelis diardi
diardi

Macan
Dahan

Dilindungi

EN

Helarctos
malayanus

Beruang
Madu

Dilindungi

VU

Hemigalus
derbyanus

Musang
Belang

Tidak
terdaftar

VU

II

Viverra
tangalunga

Tenggalung
Malaya

Tidak
terdaftar

LC

Martes flavigula

Musang
Leher
Kuning

Tidak
terdaftar

LC

Cervus unicolor

Rusa
Sambar

Dilindungi

VU

10

Muntiacus
muntjak

Kijang

Dilindungi

LC

11

Tragulus kanchil

Kancil

Dilindungi

LC

12

Tragulus napu

Napu

Dilindungi

LC

13

Sus scrofa

Babi Hutan

Tidak
terdaftar

LC

14

Sus barbatus

Babi
Jenggot

Tidak
terdaftar

VU

15

Prionailurus
bengalensis

Kucing
Hutan

Dilindungi

LC

16

Paradoxurus
hermaphroditu
s

Musang
Luwak

Tidak
terdaftar

LC

17

Herpestes
brachyurus

Garangan
ekor
pendek

Tidak
terdaftar

LC

18

Macaca

Monyet

Tidak

LC

III

II

II

48

fascicularis

ekor
panjang

terdaftar

19

Macaca
nemestrina

Beruk

Tidak
terdaftar

VU

20

Lariscus
insignis

Bajing
Tanah
Bergaris
Tiga

Dilindung
i

21

Hystrix
brachyuran

Landak

Dilindung
i

22

Trichys
fasciculate

Angkis
Ekor
Panjang

Tidak
terdaftar

23

Paguma larvata

Musang
Galing

Tidak
terdaftar

24

Arctictis
binturong

Binturong

25

Lophura
erythrophtalm
a

26

LC

LC

LC

Dilindung
i

VU

Sempidan
Merah

Tidak
terdaftar

VU

Argusianus
argus

Kuau
Raja

Dilindung
i

NT

27

Chalcophaps
indica

Delimuka
n Zamrud

Tidak
terdaftar

LC

28

Lophura
inornata

Sempidan
Biru

Tidak
terdaftar

NT

II

49