Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN

Disusun Oleh :
ROSALINA DYAH LESTARI

(P1337420614017)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SEMARANG


PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN SEMARANG
TAHUN AJARAN 2016

I.

Jenis Kasus (Diagnosa Medik) : Fraktur Shoulder


1. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari pada yang
dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya
meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot ekstrem. Meskipun
tulang patah , jaringan di sekitarnya juga akan terpengaruh mengakibatkan edema
jaringang lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendo,
kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah. Organ tubuh dapat mengalami
cedera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau akibat fragmen tulang.
2. Etiologi
a. Trauma
b. Langsung (kecelakaan lalu lintas)
c. Tidak langsung (jatuh dari ketinggian dengan posisi berdiri/duduk sehingga
terjadi fraktur )
d. Patologis : Metastase dari tulang
e. Degenerasi
f. Spontan : Terjadi tarikan otot yang sangat kuat

II.

Fokus Assesment (Bentuk Pathway)


Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk
menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang
dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan
rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpenito, 1995). Setelah terjadi
fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan
jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan
tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera
berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini
menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi
plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan
dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya (Black, J.M, et al, 1993).
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur :
1. Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap
besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
2. Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk
timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan,
dan kepadatan atau kekerasan tulang.
3. Biologi penyembuhan tulang
Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur
merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan

membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh
aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:
a. Stadium Satu-Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Selsel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai
tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 2448
jam dan perdarahan berhenti sama sekali.
b. Stadium Dua-Proliferasi Seluler
Pada stadium initerjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago
yang berasal dari periosteum,`endosteum,dan bone marrow yang telah
mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke
dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan
terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru
yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung
selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.
c. Stadium Tiga-Pembentukan Kallus
Selsel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik,
bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan
juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan
osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati.
Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk
kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang
yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada
tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.
d. Stadium Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah
menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan
osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat
dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen
dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu
beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.
e. Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama
beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses
resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih
tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang
tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk

struktur yang mirip dengan normalnya. (Black, J.M, et al, 1993 dan Apley,
A.Graham,1993)
Trauma (langsung/tidak langsung),
patologi
Fraktur
(terbuka/tertutup)
Kehilangan
integritas
tulang

Perubahan fragmen tulang


kerusakan pada jaringan dan
pembuluh darah

Ketidakstabil
an posisi
fraktur

Perdarahan
lokal

Fragmen tulang
yang patah
menusuk organ
sekitar

Hematoma
pada daerah
fraktur

Gangguan
rasa
nyaman

Aliran darah ke daerah


distal berkurang atau
terhambat

Sindroma
kompartemen
keterbatasan

III.

Kerusakan
neoromuskuler

Fraktur terbuka ujung


tulang menembus otot
dan kullit
Luk
a
Gangguan
integritas
kulit
Kuman mudah
masuk
Resiko tinggi
infeksi

Gangguan fungsi organ


distal

Defisit perawatan
diri Keperawatan
Diagnosa

Gangguan
mobilitas
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan
dengan fragmen tulang yang patah
fisik

menusuk organ sekitar.

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan fungsi organ distal.


3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka yang menembus
otot dan kulit.
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kuman yang mudah masuk.
IV.

Intervensi Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan fragmen tulang yang patah
menusuk organ sekitar.
Intervensi :

a. Kaji tingkat skala nyeri


b. Jelaskan sebab timbulnya nyeri
c. Anjurkan klien untuk melakukan tenik relaksasi dan distraksi
d. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat antibiotik.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
Intervensi :
a. Pertahankan pelaksanaan aktivitas rekreasi terapeutik (radio,
koran, kunjungan teman/keluarga) sesuai keadaan klien.
b. Bantu latihan rentang gerak pasif aktif pada ekstremitas yang
sakit maupun yang sehat sesuai keadaan klien.
c. Berikan papan penyangga kaki, gulungan trokanter/tangan
sesuai indikasi.
d. Bantu dan dorong perawatan diri (kebersihan/eliminasi) sesuai
keadaan klien.
e. Kolaborasi pelaksanaan fisioterapi sesuai indikasi.
f. Evaluasi kemampuan mobilisasi klien dan program imobilisasi.
g. Memfokuskan

perhatian,

meningkatakan

rasa

kontrol

diri/harga diri, membantu menurunkan isolasi sosial.


h. Meningkatkan

sirkulasi

darah

muskuloskeletal,

mempertahankan tonus otot, mempertahakan gerak sendi,


mencegah kontraktur/atrofi dan mencegah reabsorbsi kalsium
karena imobilisasi.
i. Mempertahankan posis fungsional ekstremitas.
j. Meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan diri sesuai
kondisi keterbatasan klien.
k. Kalori dan protein yang cukup diperlukan untuk proses
penyembuhan dan mem-pertahankan fungsi fisiologis tubuh.
l. Kerjasama dengan fisioterapis perlu untuk menyusun program
aktivitas fisik secara individual.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka yang menembus
otot dan kulit.
Intervensi :

a. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.


b. Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan
luka
c. Pantau peningkatan suhu tubuh. Suhu tubuh yang
meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses
peradangan.
d. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
e. Pertahankan tempat tidur yang nyaman dan aman (kering,
bersih, alat tenun kencang, bantalan bawah siku, tumit).
f. Observasi keadaan kulit, penekanan gips/bebat terhadap
kulit
g. Teknik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka
dan mencegah terjadinya infeksi.
h. Menurunkan risiko kerusakan/abrasi kulit yang lebih luas.
i. Meningkatkan
sirkulasi
perifer
dan
meningkatkan
kelemasan kulit dan otot terhadap tekanan yang relatif
konstan pada imobilisasi.
j. Mencegah gangguan integritas kulit dan jaringan akibat
kontaminasi fekal.
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan terputusnya kontonuitas jaringan
akibat prosedur pembedahan.
Intervensi :
a.
b.
c.
d.
e.

Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptic


Inspeksi luka,perhatikan karakteristik drainase.
Awasi tanda-tanda vital.
Kalaborasi Pemberian antibiotik.
Analisa hasil pemeriksaan laboratorium (Hitung darah
lengkap, LED, Kultur dan sensitivitas luka/serum/tulang)
f. teknik aseptic dapat mengurangi bakteri pathogen oada
daerah luka.

V.

Buku Sumber