Anda di halaman 1dari 16

[Type text]

30 Perencanaan Audit
Ikhtisar Kebijakan
Audit harus direncanakan sebaik-baiknya dan dikembangkan berdasarkan
tingkat risiko audit dan batasan materialitas yang telah ditetapkan
Perencanaan audit harus mempertimbangkan berbagai faktor yang
dipersyaratkan oleh standar
Audit dilaksanakan berdasarkan audit program
Pendahuluan
30. 1

Bagian ini memberikan pedoman tentang:


Apa yang dimaksud dengan perencanaan audit
Langkah-langkah dalam perencanaan

30. 2

Standar pekerjaan lapangan pertama mengharuskan bahwa Pekerjaan


harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus
disupervisi dengan semestinya. Standar tersebut kemudian dijabarkan
dalam Standar Audit (SA) Seksi 311.

30. 3

Perencanaan audit adalah prosedur-prosedur yang dilakukan setelah


proposal disetujui atau perikatan audit telah ditandatangani dan
merupakan jembatan untuk pekerjaan pengujian. Perencanaan audit
meliputi pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan dan lingkup
audit yang diharapkan.

30. 4

Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan:


Masalah yang berkaitan dengan bisnis entitas dan industri yang
menjadi tempat usaha entitas tersebut
Kebijakan dan prosedur akuntansi entitas tersebut
Metode yang digunakan oleh entitas tersebut dalam mengolah
informasi akuntansi yang signifikan, termasuk kemungkinan
penggunaan jasa dari luar
Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan
Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan audit
Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan koreksi
Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan
pengujian audit, seperti risiko kekeliruan atau kecurangan yang
material atau adanya transaksi antar pihak-pihak yang mempunyai
hubungan istimewa
Sifat laporan auditor yang diharapkan akan diserahkan

30. 5

Dengan perencanaan audit yang baik, diharapkan tim dapat:


Mencapai mutu sesuai standar yang telah ditetapkan
Melaksanakan pekerjaan audit secara efektif dan efisien
Melayani klien lebih baik

Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 1 / 15

[Type text]

30. 6

Langkah-langkah dalam kegiatan perencanaan audit meliputi:


Memahami bisnis dan industri klien
Memahami dan menilai struktur pengendalian intern
Menentukan tingkat materialitas awal dan salah saji yang bisa
diterima
Menentukan tingkat risiko audit awal
Melakukan komunikasi dengan auditor lain, jika bertindak sebagai
auditor utama
Menyusun rencana audit
Menyusun audit program

Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 2 / 15

[Type text]

Langkah 1: Memahami Bisnis dan Industri Klien


30. 7

SA Seksi 318 mewajibkan auditor untuk memperoleh pengetahuan


yang
cukup
tentang
bisnis
untuk
memungkinkan
auditor
mengidentifikasi dan memahami peristiwa, transaksi, dan praktik yang
menurut pertimbangan auditor kemungkinan berdampak signifikan
atas laporan keuangan atau atas laporan pemeriksaan atau laporan
audit.

30. 8

Pemahaman tentang bisnis dan informasi yang diperoleh berguna


untuk:
Penaksiran risiko bawaan dan identifikasi masalah
Perencanaan dan pelaksanaan audit secara efektif dan efisien
Pengevaluasian bukti audit
Penyediaan jasa yang lebih baik bagi klien

Informasi yang harus diperoleh dalam rangka pengetahuan tentang


bisnis yang diharapkan meliputi:
Kondisi ekonomi secara umum
Industri dimana klien berusaha
Rasio-rasio keuangan rata-rata industri
Entitas klien
Karakteristik penting kepemilikan dan manajemen: struktur
korporasi, pemilik, struktur permodalan, dewan komisaris,
manajemen dan fungsi audit intern
Bisnis entitas: produk, pasar, pemasok, sumber pembiayaan, dan
operasi
Kinerja keuangan (prosedur analitik)
Lingkungan pelaporan
Peraturan perundangan yang terkait
Kebijakan dan prosedur akuntansi
Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dan nama
auditornya
Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap
keputusan manajemen
Kasus hukum yang sedang dihadapi
Audit program standar untuk pemahaman bisnis klien dapat dilihat pada Formulir 30.01:
Pemahaman Bisnis Klien.
30. 9

30. 10 Pengetahuan tentang bisnis dan industri klien dapat diperoleh dengan

cara:
Mempelajari kertas kerja audit tahun sebelumnya (untuk audit
berulang)
Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 3 / 15

[Type text]

Mempelajari berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku


bagi industri maupun klien secara khusus
Mempelajari berbagai publikasi tentang klien, misalnya profil
perusahaan, prospektus, laporan tahunan dan kliping majalah atau
koran yang bisa diperoleh di luar perusahaan, termasuk situs-situs
yang memuat data klien
Mengunjungi pabrik dan kantor klien
Meminta keterangan kepada manajemen dari berbagai tingkatan
Mempelajari berbagai dokumen yang diterbitkan oleh klien,
misalnya notulen rapat, pedoman dan sistem akuntansi, uraian
jabatan dan anggaran Perusahaan
Meminta keterangan kepada pihak-pihak luar yang mempunyai
hubungan dengan klien, misalnya notaris, lawyer, konsultan,
pemasok, konsumen, dan pesaing
Melakukan prosedur analitik
30. 11 Meskipun pemahaman tentang bisnis dan industri klien ini
dikategorikan ke dalam kelompok perencanaan audit, tetapi proses
pemerolehan pemahaman telah dimulai sejak calon klien menghubungi
KAP untuk meminta jasa audit. Proses ini terus diakumulasikan hingga
penyelesaian audit.
30. 12 Rasio-rasio keuangan yang digunakan untuk pemahaman bisnis dan

entitas meliputi:
Kemampuan pembayaran utang jangka pendek
Kemampuan memenuhi kewajiban jangka panjang
Rasio operasi dan kinerja
30. 13 Kesimpulan atas pemahaman bisnis klien harus didokumentasikan

dalam kertas kerja dan dijadikan dasar penyusunan rencana audit.

Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 4 / 15

[Type text]

Langkah 2: Memahami dan Menilai Struktur Pengendalian Intern


30. 14 SA Seksi 319 memberikan panduan tentang pertimbangan auditor atas

pengendalian intern klien dalam perencanaan dan pelaksanaan suatu


audit terhadap laporan keuangan berdasarkan standar auditing yang
ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Panduan ini merupakan
penjabaran dari standar pekerjaan lapangan yang kedua Pemahaman
memadai
atas
pengendalian
intern
harus
diperoleh
untuk
merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup
pengujian yang akan dilakukan. Sedangkan pengendalian intern untuk
bisnis kecil mengacu kepada SA Seksi 710 (lihat penjelasan pada
paragraf 30.23 untuk karateristik bisnis kecil).
30. 15 Pengendalian intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan

komisaris, manajemen, dan personel lain entitas yang didesain untuk


memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan
tujuan berikut ini:
Keandalan pelaporan keuangan
Efektivitas dan efisiensi operasi
Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
30. 16 Tujuan

pemahaman terhadap pengendalian intern adalah untuk


merencanakan audit. Pemahaman atas pengendalian intern meliputi
pemahaman atas desain pengendalian yang relevan dengan audit atas
laporan keuangan dan pemahaman atas operasi pengendalian intern.
Pengetahuan tersebut harus digunakan untuk:
Mengidentifikasi tipe salah saji potensial dan kecurangan yang
mungkin mempengaruhi laporan keuangan
Mempertimbangkan faktor-faktor yang berdampak terhadap risiko
salah saji material
Mendesain pengujian substantif

Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 5 / 15

[Type text]

30. 17 Pengendalian terdiri dari lima komponen yang saling terkait berikut ini:

Lingkungan pengendalian menetapkan corak suatu organisasi dan


mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya.
Penaksiran risiko adalah identifikasi dan analisis entitas terhadap
risiko yang relevan untuk mencapai tujuannya dan membentuk
suatu dasar dalam menentukan bagaimana risiko harus dikelola.
Informasi dan komunikasi adalah pengidentifikasian, penangkapan,
dan pertukaran informasi dalam suatu bentuk dan waktu yang
memungkinkan orang melaksanakan tanggung jawab mereka.
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang
membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan.
Pemantauan adalah proses yang menentukan kualitas kinerja
pengendalian intern sepanjang waktu.

30. 18 Lingkungan

pengendalian merupakan landasan untuk semua


komponen pengendalian intern lainnya, yang membentuk disiplin dan
struktur. Lingkungan pengendalian mencakup faktor-faktor berikut ini:
Integritas dan nilai-nilai etika
Komitmen terhadap kompetensi
Partisipasi dewan komisaris dan/atau komite audit dalam
pengawasan
Filosofi dan gaya operasi manajemen
Struktur organisasi
Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab
Kebijakan dan praktik sumber daya

Karena lingkungan pengendalian merupakan landasan untuk semua


komponen pengendalian intern lainnya, maka apabila hasil pemahaman
menunjukkan bahwa lingkungan pengendalian diragukan, partner harus
mempertimbangkan untuk meneruskan atau memutuskan perikatan.
30. 19 Tim audit harus memperoleh pengetahuan memadai tentang sistem

informasi yang relevan dengan pelaporan keuangan untuk memahami:


Sistem akuntansi untuk transaksi rutin
Sistem akuntansi untuk transaksi tidak rutin dan estimasi
Proses penyusunan laporan keuangan
Pengolahan data elektronik
30. 20 Standar auditing (SA Seksi 314, SA Seksi 335, SA Seksi 343, SA Seksi

344 dan SA Seksi 345) mengharuskan tim audit memperoleh


pemahaman lingkungan pengendalian data elektronik (PDE) apabila
pengolahan informasi keuangan klien dilakukan oleh komputer.
Pemahaman lingkungan pengendalian data elektronik meliputi:
Pengendalian umum

Pengendalian organisasi dan manajemen


Pengendalian terhadap pengembangan dan pemeliharaan sistem aplikasi

Pengendalian terhadap operasi sistem

Pengendalian terhadap perangkat lunak sistem

Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 6 / 15

[Type text]

Pengendalian terhadap perangkat keras dan perangkat lunak


Pengendalian terhadap keamanan data, termasuk program pemulihan
kembali (disaster recovery program)
Pengendalian aplikasi
Pengendalian atas masukan
Pengendalian atas pengolahan data
Pengendalian atas keluaran
Pengendalian masukan, pengolahan, dan keluaran dalam sistem on-line

30. 21 Aktivitas pengendalian oleh manajemen yang relevan dengan audit

atas laporan keuangan dapat digolongkan sebagai kebijakan dan


prosedur yang berkaitan dengan:
Pengolahan informasi

Otorisasi yang memadai atas transaksi

Perancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang


memadai

Pengecekan yang independen


Pemisahan tugas
Pengendalian fisik atas aktiva dan catatan
Review atas kinerja
30. 22 Prosedur yang harus dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan

memadai tentang desain pengendalian yang relevan antara lain:


Memutakhirkan dan mengevaluasi pengalaman sebelumnya dengan
klien
Meminta keterangan kepada personel klien
Mempelajari pedoman-pedoman kebijakan dan sistem klien
Menguji dokumen dan catatan klien
Mengamati aktivitas dan operasi klien
30. 23 Berbeda dengan prosedur di atas, pada bisnis kecil pemahaman atas

pengendalian intern tidak perlu dilakukan secara mendalam karena


auditor dapat langsung melakukan pengujian substantif. Karakteristik
bisnis kecil adalah:
Pemisahan tugas yang terbatas; atau
Dominasi oleh manajemen senior atau pemilik terhadap semua
aspek pokok bisnis
Identifikasi bahwa klien termasuk dalam kategori bisnis kecil atau tidak
telah diidentifikasi pada saat KAP melakukan survei pendahuluan (lihat
paragraf 20.12).
30. 24 Cara pendokumentasian pemahaman pengendalian intern adalah:

Mengisi
formulir
30.02:
Pemahaman
Terhadap
Struktur
Pengendalian Intern;
Membuat bagan alir (flow chart) untuk melengkapi informasi yang
diperoleh dari wawancara; dan melengkapi bagan alir dengan narasi

Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 7 / 15

[Type text]

Narasi harus secara khusus menjelaskan aspek pengendalian yang


ada, yaitu:
Siapa melakukan
Dokumen-dokumen yang digunakan
Tujuan pengendalian
Informasi yang diperoleh ditempatkan pada Berkas Permanen
(Permanent File)

30. 25 Kesimpulan

atas efektifitas struktur pengendalian intern harus


didokumentasikan dalam Formulir 30.02: Pemahaman Terhadap
Pengendalian Intern sebagai dasar penyusunan strategi dan rencana
audit. Kesimpulan tersebut meliputi hal-hal berikut ini:
Penilaian menyeluruh atas struktur pengendalian intern klien dan
sikap tim terhadap pengendalian, yaitu:
Pengendalian
intern memadai dan tim akan menguji
pengendalian tersebut (rely on control)
Pengendalian intern memadai tetapi tim tidak akan menguji
pengendalian karena lebih efektif langsung melakukan pengujian
substantif
Pengendalian intern tidak memadai dan tim tidak mengandalkan
pada pengendalian intern
Penilaian atas risiko kecurangan (risk of fraud)
Tindak lanjut yang diperlukan apabila ditemukan kemungkinan
risiko audit yang tidak bisa ditanggulangi oleh pengendalian intern
klien.

30. 26 Apabila tim tidak mengandalkan pada pengendalian intern dan tidak

akan melakukan pengujian pengendalian (test of control), tim tetap


harus menguji asersi kelengkapan (completeness).
30. 27 Tindak lanjut setelah pemahaman adalah:

Melakukan walkthrough test dengan menguji sejumlah transaksi


untuk memastikan bahwa gambaran bagan alir dan narasi yang
dibuat sudah sesuai dengan kenyataan.
Mengobservasi dokumen yang memuat jejak bukti pengendalian
tersebut untuk melihat apakah pengendalian tersebut dilaksanakan
secara konsisten.
Menganalisis dan menyimpulkan kelemahan-kelemahan dalam
perancangan pengendalian intern serta dampaknya terhadap
entitas.

Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 8 / 15

[Type text]

Langkah 3: Menentukan Tingkat Materialitas Awal dan Salah Saji


Yang Bisa Diterima
30. 28 SA

Seksi
312
memberikan
panduan
bagi
auditor
dalam
mempertimbangkan risiko dan materialitas pada saat perencanaan dan
pelaksanaan audit atas laporan keuangan berdasarkan standar
auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

30. 29 Materialitas adalah besarnya nilai yang jika dihilangkan atau salah saji

informasi akuntansi yang dapat mengakibatkan perubahan atau


berpengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan
kepercayaan terhadap informasi tersebut.
30. 30 Penentuan materialitas ditujukan untuk mengarahkan audit pada pos-

pos yang material.


30. 31 Dalam perencanaan audit, tim melakukan pertimbangan awal tentang

tingkat materialitas. Pertimbangan materialitas mencakup pertimbangan


kuantitatif dan kualitatif.
Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 9 / 15

[Type text]

30. 32 Pertimbangan

kuantitatif berkaitan dengan prosentase salah saji

terhadap:

Laba bersih sebelum pajak

Total aktiva

Total aktiva lancar

Total ekuitas pemegang saham


30. 33 Pertimbangan

kualitatif

berkaitan

dengan

penyebab

salah

saji,

misalnya:

Kemungkinan terjadinya pembayaran yang melanggar hukum

Kemungkinan terjadinya ketidakberesan

Intensitas kesalahan yang tinggi

Syarat yang tercantum dalam perjanjian penarikan kredit dari bank


yang mengharuskan klien untuk mempertahankan beberapa rasio
keuangan pada tingkat minimum tertentu

Adanya gangguan dalam trend laba


30. 34 Dalam perencanaan audit, tim harus menetapkan materialitas pada

dua tingkat berikut ini:

Tingkat laporan keuangan (materialitas awal)

Tingkat saldo akun (salah saji yang bisa diterima)


30. 35 Penentuan materialitas awal biasanya didasarkan dari sudut pandang

pemakai laporan keuangan. Selain itu, materialitas awal juga dipengaruhi


pengalaman tim audit terhadap salah saji yang ditemukan pada audit tahuntahun sebelumnya (jika audit berulang). Untuk menentukan besarnya
materialitas awal, lihat Kebijakan Materialitas.
30. 36 Angka yang dijadikan dasar perhitungan materialitas adalah angka

setahun. Oleh karena itu, apabila tim melakukan audit dalam periode interim,
laporan keuangan yang disajikan klien harus disetahunkan dengan metode
ekstrapolasi.
30. 37 Penentuan

besarnya salah saji yang bisa diterima (tolerable


misstatement) bisa dipengaruhi oleh pengalaman tim terhadap audit tahun (tahun) sebelumnya. Untuk menentukan besarnya salah saji yang bisa
diterima, lihat Kebijakan Materialitas.
30. 38 Partner dapat menentukan tingkat materialitas yang berbeda dari

Kebijakan Materialitas
alasannya.

sepanjang

penyimpangan

itu

didokumentasikan

30. 39 Dasar penentuan materialitas awal dan salah saji yang bisa diterima

harus didokumentasikan dalam Formulir 30.03: Perhitungan Materialitas dan


harus disetujui oleh Partner.

Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 10 / 15

[Type text]

Langkah 4: Menentukan Tingkat Risiko Audit Awal


30. 40 SA
Seksi
312
memberikan
panduan
bagi
auditor
dalam
mempertimbangkan risiko dan materialitas pada saat perencanaan dan
pelaksanaan audit atas laporan keuangan berdasarkan standar auditing yang
ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
30. 41 Risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari,

tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan


keuangan yang mengandung salah saji material. Jenis-jenis risiko:
Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 11 / 15

[Type text]

Risiko audit yang dapat diterima adalah suatu ukuran seberapa besar
auditor menerima salah saji material dalam laporan keuangan setelah
audit diselesaikan dan opini wajar tanpa pengecualian telah dikeluarkan
Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan
transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak
terdapat kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang terkait
Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material dalam
suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu
oleh struktur pengendalian intern entitas.
Risiko deteksi adalah risiko yang timbul sebagai akibat auditor tidak
dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi

30. 42 Faktor-faktor yang dapat dipertimbangkan untuk menentukan risiko

audit yang dapat diterima adalah:

Tingkat kepercayaan pengguna laporan keuangan terhadap laporan


keuangan, yang meliputi:

Ukuran klien

Distribusi kepemilikan

Jumlah dan sifat kewajiban

Kemungkinan klien mengalami kesulitan keuangan setelah laporan


audit diterbitkan, meliputi:

Posisi likuiditas

Kerugian terus menerus

Metode pertumbuhan pembiayaan

Sifat bisnis operasi klien

Kompetensi manajemen

Evaluasi terhadap integritas manajemen


Penilaian risiko yang dapat diterima telah dilakukan pada saat survei
pendahuluan dan berlaku untuk keseluruhan, baik siklus maupun akun.
30. 43 Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan pada waktu menilai risiko

bawaan adalah:

Sifat bisnis klien

Faktor-faktor yang berkenaan dengan salah saji yang timbul dari


kecurangan

Hasil audit tahun sebelumnya

Audit pertama kali atau audit berulang

Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa

Transaksi-transaksi tidak rutin dan estimasi

Pertimbangan yang diperlukan untuk mencatat saldo-saldo akun dan


transaksi-transaksi secara benar

Kecurigaan terhadap penggunaan yang kurang semestinya terhadap


aktiva

Unsur-unsur populasi
Penilaian atas risiko bawaan dilakukan pada saat memahami dan menilai
pengendalian intern.

Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 12 / 15

[Type text]

30. 44 Risiko pengendalian telah dievaluasi pada saat melakukan pemahaman

dan penilaian terhadap struktur pengendalian intern. Kesimpulan tersebut


masih sementara karena harus dicocokkan dengan hasil pengujian
pengendalian pada tahap selanjutnya, jika tim memutuskan untuk
mengandalkan pada pengendalian intern.
30. 45 Hasil penentuan risiko audit harus didokumentasikan dalam Formulir

30.04: Penilaian Risiko Audit.


30. 46 Risiko deteksi yang direncanakan dapat digunakan oleh tim untuk

memutuskan luas pengujian. Contoh hubungan keempat risiko audit dalam


berbagai situasi dan jumlah bukti yang harus dikumpulkan dapat
digambarkan dalam tabel berikut ini:
SITUAS
I
1
2
3
4
5

RISIKO
YANG
DAPAT
DITERIMA
Tinggi
Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi

RISIKO
RISIKO
PENGENDALIA
BAWAAN
N
Rendah
Rendah
Tinggi
Sedang
Rendah

Rendah
Rendah
Tinggi
Sedang
Sedang

RISIKO
DETEKSI

JUMLAH
BAHAN
BUKTI

Tinggi
Sedang
Rendah
Sedang
Sedang

Rendah
Sedang
Tinggi
Sedang
Sedang

30. 47 Risiko deteksi rendah artinya tim hanya dapat menerima tingkat risiko

yang rendah dalam pengujian saldo rinci, sehingga jumlah bukti audit harus
banyak. Sebaliknya, jika risiko deteksi tinggi artinya tim hanya dapat
menerima tingkat risiko yang tinggi dalam pengujian saldo rinci, sehingga
jumlah bukti audit lebih sedikit.
30. 48 Kesimpulan Rendah, Sedang dan Tinggi pada risiko yang dapat

diterima, risiko bawaan dan risiko pengendalian ditetapkan oleh Manager


berdasarkan hasil penilaian risiko. Kesimpulan tersebut kemudian digunakan
sebagai dasar dalam penentuan jumlah bukti.

Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 13 / 15

[Type text]

Langkah 5: Melakukan Komunikasi Dengan Auditor Lain


30. 49 Komunikasi dengan auditor lain tergantung dari posisi KAP, sebagai

auditor utama atau sebagai auditor lain.


KAP sebagai auditor utama
30. 50 Apabila bertindak sebagai auditor utama, KAP wajib memberikan

instruksi kepada KAP lain.


30. 51 Hal-hal yang harus diinstruksikan meliputi:

Petunjuk audit
Jadwal penyerahan laporan-laporan yang diinginkan dari auditor lain
Pernyataan independen dari auditor lain
Rencana audit yang disusun oleh auditor lain
Audit clearence oleh auditor lain
Kuesioner audit yang harus diisi oleh auditor lain
Catatan penyelesaian audit
Rincian saldo dan transaksi antar afiliasi
Check list pengungkapan
Reviu kejadian setelah tanggal neraca

30. 52 Instruksi Audit ini harus disiapkan oleh In-charger (Formulir 30.05:

Instruksi Kepada Auditor Lain) dan direview oleh Manager.


30. 53 Surat pengantar instruksi kepada auditor lain ini harus ditandatangani

oleh Partner dan tembusan kepada klien. Tim harus memastikan bahwa
auditor lain memahami seluruh instruksi yang diberikan dan memberikan
tanggapan sesuai jadwal yang telah ditentukan.
30. 54 Seluruh jawaban dari auditor lain harus dimasukkan ke dalam Berkas

Lancar (Current File).


KAP sebagai auditor lain
30. 55 Apabila bertindak sebagai auditor lain dan menerima instruksi dari

auditor utama, KAP wajib menjawab setiap pertanyaan auditor lain.


30. 56 Jawaban atas instruksi audit yang diberikan oleh auditor utama

disesuaikan dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh auditor utama.


30. 57 Jawaban

atas instruksi
ditandatangani oleh Partner.

Perencanaan Audit

audit

10/25/16

disiapkan

oleh

Manager

dan

30 - 14 / 15

[Type text]

Langkah 6: Menyusun Rencana Audit (Audit Plan)


30. 58 Rencana

audit adalah ringkasan perikatan, ikhtisar sifat


karakteristik operasi bisnis klien dan strategi audit secara keseluruhan.

dan

30. 59 Tujuan penyusunan Rencana Audit adalah:

Menyediakan bukti dokumentasi bahwa kantor telah memenuhi standar


lapangan pertama
Menyediakan
alat
bagi
in-charge
untuk
mengkoordinasikan,
menjadwalkan dan mensupervisi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan
oleh anggota tim yang terlibat dalam perikatan

30. 60 Manager

bertanggung jawab terhadap Rencana Audit. Meskipun


demikian, pelaksanaan pembuatan Rencana Audit dapat dilimpahkan kepada
In-charge yang kemudian direview oleh Manager. Rencana Audit ini kemudian
harus disetujui oleh Partner.
30. 61 Cakupan Rencana Audit meliputi:

Tujuan perikatan
Kondisi bisnis dan industri klien
Pengendalian intern
Area-area kritis dan penting
Penetapan materialitas
Risiko audit
Rencana sample
Personalia dan jadwal

30. 62 Rencana audit didokumentasikan dalam Formulir 30.06: Rencana

Audit.
30. 63 Rencana audit yang telah disetujui dikomunikasikan kepada seluruh

anggota tim audit.


30. 64 Rencana audit dimasukkan sebagai bagian dari kertas kerja di Bagian

Perencanaan Audit.
30. 65 Rencana Audit merupakan proses akumulatif, artinya apa yang sudah

ditetapkan dalam Rencana Audit bukanlah harga mati yang tidak dapat
diubah. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan lapangan dijumpai adanya
ketidaksesuaian antara yang direncanakan dengan kondisi lapangan, maka
in-charge segera menginformasikan adanya penyimpangan ini, termasuk
saran perubahan terhadap rencana audit, kepada manager dalam sebuah
memorandum. Manager kemudian menginformasikan perubahan ini kepada
Partner untuk mendapatkan persetujuan. Perubahan terhadap rencana audit
yang telah disetujui oleh Partner diringkaskan dalam Revisi Rencana Audit.

Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 15 / 15

[Type text]

Langkah 7: Menyusun Audit Program


30. 66 Audit program adalah daftar terinci dari prosedur-prosedur audit yang

akan dilakukan dalam sebuah proses audit. Audit program tentatif dibuat
sebagai bagian dari perencanaan audit. Karena sifatnya tentatif, audit
program seringkali memerlukan modifikasi sesuai perkembangan audit.
30. 67 Audit program dirancang untuk memenuhi tujuan audit atas transaksi

dan akun-akun utama dalam laporan keuangan. Tujuan audit adalah untuk
menguji asersi manajemen dalam laporan keuangan yang meliputi:

Eksistensi atau keberadaan

Kelengkapan

Hak dan kewajiban

Penilaian atau alokasi

Penyajian dan pengungkapan


30. 68 Format audit program untuk pengujian pengendalian dan transaksi

setidaknya terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:

Uraian mengenai tujuan audit

Asersi manajemen yang akan diuji

Prosedur pengujian atas kendali dan transaksi

Jumlah bukti yang akan diuji (sampel)

Pelaksana
30. 69 Format audit program untuk pengujian atas saldo akun setidaknya

terdiri dari unsur-unsur berikut ini:

Uraian mengenai tujuan audit

Asersi manajemen yang akan diuji

Prosedur pengujian atas saldo

Jumlah bukti yang akan diuji (sampel)

Pelaksana
30. 70 Audit program harus disetujui oleh Manager sebelum dilaksanakan.

Perencanaan Audit

10/25/16

30 - 16 / 15