Anda di halaman 1dari 72

PRINSIP PEMBUATAN SIMPLISIA

Fitria Rahmawati, S.Farm., Apt.

DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR UPT MATERIA MEDICA BATU JL. LAHOR NO. 87 KOTA BATU TELP. (0341) 593396

S.Farm., Apt. DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR UPT MATERIA MEDICA BATU JL. LAHOR NO. 87 KOTA
SIMPLISIA Simplisia : bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga

SIMPLISIA

Simplisia : bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan

apapun juga dan kecuali

dinyatakan lain berupa berupa bahan yang telah dikeringkan.

Berdasarkan asalnya simplisia dibedakan menjadi tiga :

Simplisia nabati

Simplisia hewani

Simplisia pelikan atau mineral

Tata nama simplisia

Pemberian nama atau penyebutan simplisia didasarkan atas gabungan nama spesies diikuti

dengan nama bagian tanaman

Genus + nama bagian tanaman

Thymi Herba

(Thymus

vulgaris)

CONTOH :

Spesies + nama bagian tanaman

Belladonnae

Herba (Atropa belladonna)

Genus + spesies +

nama bagian tanaman

Curcuma

aeruginosae

Rhizoma

(Curcuma

aeruginosa)

NAMA LATIN DARI BAGIAN TANAMAN YANG DIGUNAKAN DALAM NAMA SIMPLISIA

NAMA LATIN

BAGIAN TANAMAN

Radix

Akar

Rhizome

Rimpang

Bulbus

Umbi Lapis

Tubera

Ubi

Flos

Bunga

Fructus

Buah

Semen

Biji

Lignum

Kayu

Cortex

Kulit Kayu

Caulis

Batang

Folia

Daun

Herba

Seluruh Tanaman

Amyllum

Pati

Thallus

Bagian dari tanaman rendah

Tujuan pengelolaan pasca panen (1)

• Mencegah kerugian karena perlakuan panen yang tidak tepat 1 • Menghindari kerusakan akibat waktu
• Mencegah kerugian karena perlakuan panen yang tidak
tepat
1
• Menghindari kerusakan akibat waktu dan cara panen
yang tidak tepat
2
• Mengurangi kerusakan saat pengumpulan, pengemasan,
dan pengangkutan saat distribusi hasil panen
3
• Menghindari kerusakan karena teknologi pascapanen
yang kurang tepat
4

Tujuan pengelolaan pasca panen (2)

• Menekan penyusutan kuantitatif dan kualitatif hasil 5 • Terjaminnya suplai bahan baku produksi tanaman
• Menekan penyusutan kuantitatif dan kualitatif hasil
5
• Terjaminnya suplai bahan baku produksi tanaman
6 obat meskipun bukan musimnya
• Pengelolaan limbah yang dapat memberikan nilai
7 tambah
• Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya
8 alam dan menjamin kelestariannya

CPOTB

BAB 1

MANAJEMEN MUTU

BAB 2

PERSONALIA

BAB 3 BANGUNAN,

FASILITAS, DAN PERALATAN

BAB 4

SANITASI DAN HIGIENE

BAB 5 DOKUMENTASI BAB 6 PRODUKSI

BAB 7 PENGAWASAN MUTU

BAB 8

PEMBUATAN DAN ANALISIS

BAB 9

BERDASARKAN KONTRAK CARA PENYIMPANAN DAN

PENGIRIMAN OBAT TRADISIONAL YANG BAIK BAB 10 PENANGANAN KELUHAN TERHADAP PRODUK, PENARIKAN KEMBALI PRODUK DAN PRODUK KEMBALIAN BAB 11 INSPEKSI DIRI

CPOB

BAB 1

MANAJEMEN MUTU

BAB 2

PERSONALIA

BAB 3 BANGUNAN DAN FASILITAS BAB 4 PERALATAN

BAB 5

SANITASI DAN HIGIENE

BAB 6 PRODUKSI BAB 7 PENGAWASAN MUTU

BAB 8

BAB 9

INSPEKSI DIRI, AUDIT MUTU DAN AUDIT & PERSETUJUAN PEMASOK PENANGANAN KELUHAN TERHADAP PRODUK DAN

PENARIKAN KEMBALI PRODUK

BAB 10 DOKUMENTASI

BAB 11 PEMBUATAN DAN ANALISIS BERDASARKAN KONTRAK BAB 12 KUALIFIKASI DAN VALIDASI

1. SARANA & PRASARANA

BANGUNAN

Cahaya dan ruang. Gedung paska panen sebaiknya menyediakan ruang dan cahaya yang cukup untuk kemudahan

jalannya proses paska panen.

Pengendalian serangga. Rancangan dan pengelolaan gedung paska panen harus dapat mencegah masuknya serangga dan

hewan pengerat.

Kebersihan. Rancangan dan pengelolaan gedung paska panen harus mengutamakan kebersihan guna mencegah terjadinya kontaminasi dari bahan pencemar.

1. SARANA & PRASARANA

BANGUNAN (2)

Rancang bangun. Penataan ruangan pembuatan, hendaklah sesuai urutan proses pembuatan, sehingga tidak menimbulkan

lalu lintas kerja yang simpang siur dan pencemaran silang

Penyekatan. Penyekatan ruang pembuatan disesuaikan dengan kegiatan pembuatan sehingga tidak terjadi pencemaran silang

Pembuangan limbah. Mempunyai sarana pembuangan dan atau

pengolahan limbah yang memadai dan berfungsi dengan baik

1. SARANA & PRASARANA

PERALATAN

Material Alat. Bahan tidak beracun, bersifat inert (netral), serta mudah dibersihkan.
Material Alat. Bahan tidak beracun, bersifat inert (netral),
serta mudah dibersihkan.
Perawatan.Perawatan berkala untuk mesin harus dijadwalkan, dan alat timbang harus ditara secara teratur.
Perawatan.Perawatan berkala untuk mesin harus
dijadwalkan, dan alat timbang harus ditara secara teratur.
Bersih. Peralatan setelah digunakan hendaklah dibersihkan serta dijaga dan disimpan dalam kondisi bersih dan diberi
Bersih. Peralatan setelah digunakan hendaklah
dibersihkan serta dijaga dan disimpan dalam kondisi bersih
dan diberi tanda.
Hindari pencemaran silang. Bersihkan alat yang digunakan untuk paska panen, sebelum digunakan untuk penanganan bahan
Hindari pencemaran silang. Bersihkan alat yang
digunakan untuk paska panen, sebelum digunakan untuk
penanganan bahan panen yang lain.

1. SARANA & PRASARANA

PERALATAN (2)

Sesuai proses pembuatan dan bentuk sediaan yang akan dibuat :

- Alat / mesin yang memadai pencucian dan penyortiran

- Alat / mesin pengering mengeringkan simplisia (kadar air sesuai

yang dipersyaratkan)

- Alat / mesin pembuat serbuk merubah simplisia menjadi serbuk (derajat kehalusan tertentu) - Alat / mesin pengayak mengayak serbuk (derajat kehalusan tertentu)

- Alat penimbang / pengukur

- Peralatan pengolahan bentuk rajangan merubah simplisia menjadi rajangan (ukuran yang dikehendaki)

2. SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)

Sehat. Karyawan yang sakit atau menderita luka terbuka dilarang melakukan proses pengolahan
Sehat. Karyawan yang sakit atau menderita luka
terbuka dilarang melakukan proses pengolahan
Karyawan mengenakan pakaian kerja, penutup rambut, masker, sarung tangan yang bersih
Karyawan mengenakan pakaian kerja, penutup
rambut, masker, sarung tangan yang bersih
Terlatih dan memiliki kompetensi di bidang paska panen
Terlatih dan memiliki kompetensi di bidang
paska panen
Identifikasi tanaman, guna mencegah kesalahan dalam penanganan paska panen
Identifikasi tanaman, guna mencegah kesalahan
dalam penanganan paska panen
Menjaga kebersihan diri dan lingkungannya  mencegah pencemaran simplisia dari mikroba
Menjaga kebersihan diri dan lingkungannya 
mencegah pencemaran simplisia dari mikroba

3. PROSES PEMBUATAN SIMPLISIA

PANEN PENGERINGAN KADAR AIR SORTASI SORTASI PENGUBAHAN BASAH BENTUK KERING PENIRISAN SIMPLISIA PENCUCIAN
PANEN
PENGERINGAN
KADAR AIR
SORTASI
SORTASI
PENGUBAHAN
BASAH
BENTUK
KERING
PENIRISAN
SIMPLISIA
PENCUCIAN

PEMANENAN

PEMANENAN Faktor yang paling berperan dalam tahapan ini adalah masa panen dan cara pemungutan atau panen

Faktor yang paling berperan dalam tahapan ini adalah masa panen dan cara pemungutan atau panen

WAKTU PANEN

Waktu yang tepat untuk panen tanaman obat disesuaikan dengan :

kadar kandungan senyawa aktif

bagian tanaman yang akan dipanen

kondisi iklim untuk menghindari pengeringan,

fermentasi, pertumbuhan jamur, atau pembusukan bahan

jumlah biomasa

PEMANENAN

BIJI

• Pengambilan biji dapat dilakukan pada saat mulai mengeringnya buah atau sebelum semuanya pecah
• Pengambilan biji dapat dilakukan pada saat mulai
mengeringnya buah atau sebelum semuanya pecah

BUAH

• Pengambilan buah tergantung tujuan dan pemanfaatan kandungan aktifnya. Panen buah dilakukan saat menjelang masak
• Pengambilan buah tergantung tujuan dan pemanfaatan
kandungan aktifnya. Panen buah dilakukan saat
menjelang masak (misalnya, Piper nigrum), setelah
benar-benar masak (misalnya adas), atau dengan cara
melihat perubahan warna/bentuk dari buah yang
bersangkutan (misalnya jeruk, asam, dan pepaya)

BUNGA

• Pemanenan bunga tergantung dari tujuan pemanfaatan kandungan aktifnya. Panen dapat dilakukan pada saat menjelang
• Pemanenan bunga tergantung dari tujuan pemanfaatan
kandungan aktifnya. Panen dapat dilakukan pada saat
menjelang penyerbukan, saat bunga masih kuncup,
(seperti pada Jasminum sambac, melati), atau saat
bunga sudah mulai mekar (misalnya Rosa sinensis,
mawar)

DAUN

ATAU

HERBA

• Panen daun atau herba dilakukan pada saat fotosintesis berlangsung maksimal, yaitu ditandai dengan saat-saat
• Panen daun atau herba dilakukan pada saat
fotosintesis berlangsung maksimal, yaitu ditandai
dengan saat-saat tanaman mulai berbunga atau buah
mulai masak. Untuk pengambilan pucuk daun,
dianjurkan dipungut pada saat warna pucuk daun
berubah menjadi daun tua

KULIT

BATANG

warna pucuk daun berubah menjadi daun tua KULIT BATANG UMBI LAPIS • Pemanenan kulit batang hanya

UMBI

LAPIS

• Pemanenan kulit batang hanya dilakukan pada tanaman yang sudah cukup umur. Saat panen yang
• Pemanenan kulit batang hanya dilakukan pada
tanaman yang sudah cukup umur. Saat panen yang
paling baik adalah awal musim kemarau
• Panen umbi dilakukan pada saat akhir pertumbuhan
• Panen umbi dilakukan pada saat akhir pertumbuhan
kemarau • Panen umbi dilakukan pada saat akhir pertumbuhan RIMPANG • Panen rimpang dilakukan pada saat

RIMPANG

• Panen rimpang dilakukan pada saat awal musim kemarau
• Panen
rimpang
dilakukan
pada
saat
awal
musim
kemarau

AKAR

• Panen akar dilakukan pada saat proses pertumbuhan berhenti atau tanaman sudah cukup umur. Panen
• Panen akar dilakukan pada saat proses pertumbuhan
berhenti atau tanaman sudah cukup umur. Panen
yang dilakukan terhadap akar umumnya akan
mematikan tanaman yang bersangkutan

Alat panen

harus bersih dan bebas dari

cemaran serta dalam keadaan

kering. Alat disiapkan sebelum panen dilakukan dan

disesuaikan dengan bahan yang

akan dipanen untuk mengurangi

terbawanya bahan atau tanah yang tidak diperlukan

Wadah panen penempatan dalam wadah (keranjang, kantong, karung,

dan lain-lain) tidak boleh terlalu

penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak

(keranjang, kantong, karung, dan lain-lain) tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak

Cara Pemilihan Simplisia Daun :

Pilih daun yang sehat

Cara Pemilihan Simplisia Daun : Pilih daun yang sehat

Cara Panen Daun

dipilh daun yang tua sebelum menguning, dipetik secara manual (satu persatu) dengan tangan contoh : daun jati belanda, daun sirsak

yang tua sebelum menguning, dipetik secara manual (satu persatu) dengan tangan contoh : daun jati belanda,
yang tua sebelum menguning, dipetik secara manual (satu persatu) dengan tangan contoh : daun jati belanda,

Cara Panen Umbi

Cara Panen Umbi

Cara Panen Umbi Lapis

Tanaman dicabut, umbi dipisahkan dari daun dan akar, dibersihkan

Contoh : umbi bawang merah (Allium cepa Bulbus)

Cara Panen Akar

Akar digali pada jarak minimal 30 cm dari batang atau

akar utama.

Hanya akar pada bagian tepi yang dipanen.

Setelah penggalian, lubang ditutup kembali untuk

perlindungan dari infeksi dan hama.

Contoh : akar pule pandak (Rauwolfia serpentina)

Cara Panen Akar :

Jangan Memotong Pangkal Akar

Cara Panen Akar : Jangan Memotong Pangkal Akar

Cara Panen Akar (2) Kumpulkan Akar Lateral Dan Tutup Kembali Akar Yang Tersisa Dengan Tanah

Cara Panen Akar (2)  Kumpulkan Akar Lateral Dan Tutup Kembali Akar Yang Tersisa Dengan Tanah

Cara Panen Kulit Batang (Cortex)

Dari batang utama atau cabang dikelupas dengan panjang dan lebar tertentu. Untuk bahan yang mengandung minyak

atsiri atau senyawa fenol hindari penggunaan alat logam

Contoh : kulit kayu manis (Burmani Cortex)

minyak atsiri atau senyawa fenol hindari penggunaan alat logam • Contoh : kulit kayu manis (Burmani

Sortasi basah

Sortasi basah

SORTASI BASAH

Tujuan : memisahkan kotoran atau bahan asing serta bagian tanaman lain yang tidak diinginkan dari
Tujuan : memisahkan kotoran atau
bahan asing serta bagian tanaman lain
yang tidak diinginkan dari bahan
simplisia.
Kotoran yang dimaksud  tanah, kerikil, rumput/gulma, tanaman lain yang mirip, bahan yang telah busuk/rusak,
Kotoran yang dimaksud  tanah,
kerikil, rumput/gulma, tanaman lain
yang mirip, bahan yang telah
busuk/rusak, bagian tanaman lain yang
memang harus dipisahkan dan dibuang.
Pemisahan bahan simplisia dari kotoran
bertujuan menjaga kemurnian dan mengurangi

kontaminasi awal yang dapat mengganggu proses selanjutnya, mengurangi cemaran mikroba serta memperoleh simplisia dengan

jenis dan ukuran seragam. Maka, dalam tahapan

ini juga dilakukan pemilihan bahan berdasarkan panjang, lebar, besar, kecil, dll.

PENCUCIAN

SECARA MANUAL

PENCUCIAN SECARA MANUAL DENGAN MESIN

DENGAN MESIN

PENCUCIAN SECARA MANUAL DENGAN MESIN

Hindari pencucian bahan simplisia seperti ini

Hindari pencucian bahan simplisia seperti ini

PENCUCIAN

Tujuan : menghilangkan tanah dan kotoran lain yang melekat pada bahan simplisia.
Tujuan : menghilangkan tanah dan kotoran lain
yang melekat pada bahan simplisia.
Sumber air : mata air, sumur, PDAM, yang bersih dan tidak tercemar.
Sumber air : mata air, sumur, PDAM, yang bersih
dan tidak tercemar.
Proses : Direndam dulu, bersihkan sisa tanah. Cuci dengan air mengalir sampai bersih. Jika perlu
Proses :
Direndam dulu, bersihkan sisa tanah.
Cuci dengan air mengalir sampai bersih. Jika perlu
dengan disikat untuk menghilangkan kotoran.
Tiriskan (biarkan sehari  jemur)
Khusus untuk bahan yang mengandung senyawa aktif mudah larut dalam air, pencucian dilakukan secepat mungkin
Khusus untuk bahan yang mengandung senyawa
aktif mudah larut dalam air, pencucian dilakukan
secepat mungkin (tidak direndam).

PENIRISAN

PENIRISAN

PENIRISAN

Untuk mengurangi atau menghilangkan kandungan air di permukaan bahan
Untuk mengurangi atau menghilangkan
kandungan air di permukaan bahan
Dilakukan sesegera mungkin sehabis pencucian
Dilakukan sesegera mungkin sehabis
pencucian
Selama penirisan bahan dibolak-balik untuk mempercepat penguapan
Selama penirisan bahan dibolak-balik untuk
mempercepat penguapan
Dilakukan di tempat teduh dengan aliran udara cukup agar terhindar dari fermentasi dan pembusukan
Dilakukan di tempat teduh dengan aliran
udara cukup agar terhindar dari fermentasi
dan pembusukan

PENGUBAHAN

BENTUK/PERAJANGAN

PENGUBAHAN BENTUK/PERAJANGAN
PENGUBAHAN BENTUK/PERAJANGAN
PENGUBAHAN BENTUK/PERAJANGAN

Hindari perajangan seperti ini

Hindari perajangan seperti ini

PENGUBAHAN

BENTUK/PERAJANGAN

Dimaksudkan memenuhi standar kualitas

Memudahkan kegiatan pengeringan, pengemasan, penggilingan dan

penyimpanan, pengolahan selanjutnya

Praktis

Tahan lebih lama dalam penyimpanan.

Gunakan pisau atau alat pemotong khusus.

Pengubahan bentuk dilakukan dengan hati-hati dengan pertimbangan

tepat karena perlakuan yang salah justru berakibat turunnya kualitas

simplisia yang diperoleh.

Hasil pengubahan bentuk : irisan, potongan dan serutan.

Rimpang, daun, herba dirajang.

Untuk rimpang tidak boleh terlalu tipis agar minyak atsiri tidak berkurang. Ketebalan ± 3 mm

Buah, kayu, kulit kayu pengupasan

Akar, batang, kayu, kulit kayu, ranting dipotong

Kayu diserut

PENGERINGAN

PENGERINGAN
PENGERINGAN

Hindari pengeringan/penjemuran seperti ini

.

Hindari pengeringan/penjemuran seperti ini .

PENGERINGAN

Bertujuan untuk mengurangi kadar air agar bahan simplisia tidak rusak dan

1

2

3

dapat disimpan

Menghentikan reaksi enzimatis

Mencegah pertumbuhan kapang, jamur dan jasad renik lain.

Hal yang perlu diperhatikan suhu pengeringan, kelembaban udara, aliran

4

5

6

udara, waktu pengeringan dan luas permukaan bahan

Pengeringan umumnya suhu < 60 o C.

Bahan kimia simplisia bersifat volatil, termolabil dikeringkan pada suhu antara 30-40 o C

Face Hardening

face hardening yaitu bagian luarnya kering tetapi bagian dalam masih basah

Irisan/rajangan simplisia terlalu tebal sehingga panas sulit menembusnya
Irisan/rajangan simplisia terlalu tebal sehingga
panas sulit menembusnya
Suhu pengeringan terlalu tinggi dengan waktu yang singkat
Suhu pengeringan terlalu tinggi dengan waktu
yang singkat
Keadaan yang menyebabkan penguapan air di permukaan bahan jauh lebih cepat dari pada difusi air
Keadaan yang menyebabkan penguapan air di
permukaan bahan jauh lebih cepat dari pada
difusi air dari dalam ke permukaan bahan.
Akibatnya bagian luar bahan menjadi keras dan
menghambat proses pengeringan lebih lanjut

PENGERINGAN SINAR MATAHARI

Sinar matahari langsung :

Bagian tanaman yang relatif keras (kayu, akar, buah, kulit batang, biji)

Senyawa aktif relatif stabil

Tergantung iklim (udara panas dan kelembaban rendah)

Mudah dan murah

Suhu, kelembaban, dan aliran udara

• Mudah dan murah • Suhu, kelembaban, dan aliran udara tidak terkontrol • Maksimal : jam
• Mudah dan murah • Suhu, kelembaban, dan aliran udara tidak terkontrol • Maksimal : jam

tidak terkontrol

Maksimal : jam 11 siang

Tidak langsung (dianginkan/gedung (dianginkan/gedung

pengering):

Daun, bunga, rimpang

TO yang memiliki senyawa tidak stabil dan mudah menguap

(dianginkan/gedung pengering): • Daun, bunga, rimpang • TO yang memiliki senyawa tidak stabil dan mudah menguap

PENGERINGAN OVEN

 Suhu pengeringan merata  Tidak dipengaruh cuaca – Suhu maks 60°C – Untuk bunga
Suhu pengeringan
merata
Tidak dipengaruh
cuaca
– Suhu maks 60°C
– Untuk bunga 25-
35°C
– OVEN  Suhu pengeringan merata  Tidak dipengaruh cuaca – Suhu maks 60°C – Untuk

Contoh Simplisia Hasil Proses Pengeringan

Contoh Simplisia Hasil Proses Pengeringan PEGAGAN
Contoh Simplisia Hasil Proses Pengeringan PEGAGAN

PEGAGAN

PENGUKURAN KADAR AIR

Kadar air merupakan salah satu parameter

kontrol kualitas proses pengeringan

Kadar air maksimal yang dipersyaratkan dalam suatu simplisia adalah 10%

Kadar air yang tinggi dapat memperpendek

waktu simpan simplisia karena lebih cepat ditumbuhi jamur/kapang

adalah 10% Kadar air yang tinggi dapat memperpendek waktu simpan simplisia karena lebih cepat ditumbuhi jamur/kapang
adalah 10% Kadar air yang tinggi dapat memperpendek waktu simpan simplisia karena lebih cepat ditumbuhi jamur/kapang

Bagian tanaman, cara pengumpulan dan kadar air simplisia

No

Bagian tanaman

Cara pengumpulan

Kadar air

1.

Kulit

Dari batang utama dan cabang, dikupas dengan ukuran panjang dan lebar tertentu, untuk kulit batang mengandung minyak atsiri atau golongan senyawa fenol digunakan alat pengupas dari logam

10 %

batang

2.

Batang

Dari cabang dipotong-potong dengan panjang tertentu dan diameter cabang tertentu.

10%

3.

Kayu

Dari batang atau cabang, dipotong kecil atau diserut (disugu) setelah dikupas kulitnya.

10%

4.

Daun

Tua atau muda ( daerah pucuk),

5%

dipetik dengan tangan satu persatu

5.

Bunga

Kuncup atau bunga mekar atau mahkota bunga , atau daun bunga , dipetik dengan tangan.

5%

Bagian tanaman, cara pengumpulan dan kadar air

simplisia

No

Bagian tanaman

Cara pengumpulan

Kadar air

6.

Pucuk

Dari batang utama dan cabang, dikupas dengan ukuran panjang dan lebar tertentu,

8%

untuk kulit batang mengandung minyak

atsiri atau golongan senyawa fenol digunakan alat pengupas dari logam

7.

Akar

Dari cabang dipotong-potong dengan panjang tertentu dan diameter cabang

10%

tertentu.

8.

Rimpang

Dari batang atau cabang, dipotong kecil atau diserut (disugu) setelah dikupas kulitnya.

8%

9.

Buah

Tua atau muda ( daerah pucuk), dipetik dengan tangan satu persatu

8%

10.

Biji

Kuncup atau bunga mekar atau mahkota bunga , atau daun bunga , dipetik dengan tangan.

10%

11.

Kulit buah

Seperti biji, kulit buah dikumpulkan dan dicuci

8%

12.

Bulbus

Tanaman dicabut, bulbus dipisah dari daun dan

8%

akar dengan memotongnya, dicuci

SORTASI KERING

SORTASI KERING
SORTASI KERING

SORTASI KERING

Menjamin simplisia benar-benar bebas dari bahan asing
Menjamin simplisia benar-benar bebas dari bahan asing
Menjamin simplisia benar-benar bebas dari bahan asing
Menjamin simplisia benar-benar bebas dari bahan asing

Menjamin simplisia benar-benar bebas dari bahan asing

Menjamin simplisia benar-benar bebas dari bahan asing
Menjamin simplisia benar-benar bebas dari bahan asing
Menjamin simplisia benar-benar bebas dari bahan asing
Menjamin simplisia benar-benar bebas dari bahan asing
Dilakukan dengan cara memisahkan : - bahan-bahan asing, serangga, kotoran lain - simplisia yang belum
Dilakukan dengan cara memisahkan :
- bahan-bahan asing, serangga, kotoran lain
- simplisia yang belum kering seutuhnya.
Dilakukan setelah penjemuran
Dilakukan setelah penjemuran
Dilakukan setelah penjemuran
Dilakukan setelah penjemuran

Dilakukan setelah penjemuran

Dilakukan setelah penjemuran
Dilakukan setelah penjemuran
Dilakukan setelah penjemuran
Dilakukan setelah penjemuran
Dilakukan sebelum simplisia di bungkus
Dilakukan sebelum simplisia di bungkus
Dilakukan sebelum simplisia di bungkus
Dilakukan sebelum simplisia di bungkus

Dilakukan sebelum simplisia di bungkus

Dilakukan sebelum simplisia di bungkus
Dilakukan sebelum simplisia di bungkus
Dilakukan sebelum simplisia di bungkus
Dilakukan sebelum simplisia di bungkus

PENGGILINGAN

PENGGILINGAN

PENGGILINGAN

Hal yang perlu diperhatikan dalam pengolahan bentuk serbuk

1

2

3

4

Untuk mengendalikan bahan berdebu hendaklah diterapkan suatu sistem yang dapat mencegah penyebaran debu

Sistem penyaringan dan penghisap debu efektif dan dipasang dengan letak lubang pembuangan tepat untuk mencegah pencemaran

produk, karyawan dan lingkungan sekitar

Hendaklah diberikan perhatian khusus untuk melindungi produk dari pencemaran serpihan logam, kaca, kayu atau batu dari peralatan yang

digunakan

Karyawan yang bekerja di ruang pembuatan serbuk hendaklah memakai masker dan penutup kepala yang bersih.

PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN

PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN
PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN
PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN

PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN

PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN
PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN
PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN
PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN

PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN

1 Tidak cepat rusak

TUJUAN

2 Menghindari pengotor (debu , pasir)

3 Menghindari lembab agar tidak tumbuh jamur

4 Menghindari gangguan serangga

5 Menghindari dehidrasi

6 Menghindari pengaruh udara, cahaya

7 Stok untuk menjaga kesinambungan ketersediaan bahan jamu

PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN

TEMPAT/WADAH

Tidak beracun Tidak bereaksi dengan bahan  terjadi perubahan warna, bau, rasa Mampu melindungi simplisia
Tidak beracun Tidak bereaksi dengan bahan  terjadi perubahan warna, bau, rasa Mampu melindungi simplisia

Tidak beracun

Tidak beracun Tidak bereaksi dengan bahan  terjadi perubahan warna, bau, rasa Mampu melindungi simplisia dari
Tidak beracun Tidak bereaksi dengan bahan  terjadi perubahan warna, bau, rasa Mampu melindungi simplisia dari

Tidak bereaksi dengan bahanterjadi perubahan warna, bau, rasa

dengan bahan  terjadi perubahan warna, bau, rasa Mampu melindungi simplisia dari kerusakan mekanis Mampu
dengan bahan  terjadi perubahan warna, bau, rasa Mampu melindungi simplisia dari kerusakan mekanis Mampu
Mampu melindungi simplisia dari kerusakan mekanis Mampu mencegah kerusakan fisologis, misal karena pengaruh sinar dan
Mampu melindungi simplisia dari kerusakan mekanis Mampu mencegah kerusakan fisologis, misal karena pengaruh sinar dan
Mampu melindungi simplisia dari kerusakan mekanis Mampu mencegah kerusakan fisologis, misal karena pengaruh sinar dan
Mampu melindungi simplisia dari kerusakan mekanis Mampu mencegah kerusakan fisologis, misal karena pengaruh sinar dan
Mampu melindungi simplisia dari kerusakan mekanis Mampu mencegah kerusakan fisologis, misal karena pengaruh sinar dan

Mampu melindungi simplisia dari kerusakan mekanis

Mampu mencegah kerusakan fisologis, misal karena pengaruh sinar dan kelembaban

simplisia dari kerusakan mekanis Mampu mencegah kerusakan fisologis, misal karena pengaruh sinar dan kelembaban

PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN

JENIS WADAH & GUNANYA

Kaleng atau aluminium  untuk simplisia kering, dg tutup vakum. Untuk aluminium dilapisi oleoresin, vinil,
Kaleng atau aluminium  untuk simplisia kering, dg tutup
vakum. Untuk aluminium dilapisi oleoresin, vinil, malam agar
tidak bereaksi dengan bahan
Wadah gelas  inert, untuk semua jenis, tetapi berat menyulitkan pengangkutan
Wadah gelas  inert, untuk semua jenis, tetapi berat
menyulitkan pengangkutan
Kertas atau karton  kurang baik untuk pembungkus, perlu dilapisi lilin, damar, lak atau plastik
Kertas atau karton  kurang baik untuk pembungkus, perlu
dilapisi lilin, damar, lak atau plastik
Plastik  untuk simplisia kering , tetapi tidak tahan panas dan mudah mengembun
Plastik  untuk simplisia kering , tetapi tidak tahan panas
dan mudah mengembun
Aluminium foil  lebih mudah dipakai, tidak menyerap udara dan air
Aluminium foil  lebih mudah dipakai, tidak menyerap udara
dan air

PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENYIMPANAN

Cahaya dapat mempengaruhi mutu simplisia secara fisik

dan kimiawi (misal terjadi proses isomerasi dan polimerasi).

Oksidasi oksigen dari udara dapat menyebabkan teroksidasinya senyawa aktif simplisia kualitas menurun

kemasan vakum

Dehidrasi bila kelembaban di luar lebih rendah dari pada di

dalam simplisia, akan terjadi proses kehilangan air yang disebut ”shrinkage

Absorpsi air pada simplisia yang higroskopis dapat menyerap air dari lingkungan sekitarnya

Kontaminasi

Serangga kerusakan dan pengotoran simplisia dalam bentuk larva, imago dan sisa-sisa metamorfosisnya (kulit telur,

kerangka yang telah usang, dll).

Kapang

PENYIMPANAN DI GUDANG

Suhu kamar ( 15-30 o C )

Kelembaban (kelembaban relatif tidak lebih dari 60 %)

Tempat kering, tidak terkena sinar matahari langsung

Tempat khusus, tidak campur dengan bahan lain

Konstruksi permanen

Bahan dan material yang disimpan tidak boleh bersentuhan

langsung dengan lantai

Jarak antar bahan mempermudah pembersihan dan inspeksi

Sirkulasi udara lancar tetapi tidak terlalu terbuka

Bersih dan higienis

Sistem FIFO (first in first out) yang pertama masuk, keluar

lebih dahulu

Beri label : nama bahan, tanggal penyimpanan, berat/ jumlah

Penyimpanan jangan terlalu lama pengecekan berkala

Simplisia yang rusak dan tercemar segera dimusnahkan

4. DOKUMENTASI
4. DOKUMENTASI

Mengapa dokumentasi penting?

Mengkomunikasikan bagaimana dan apa yang harus dilakukan

“ TULIS APA YANG TELAH DILAKUKAN,

LAKUKAN APA YANG TELAH DITULIS “

TUJUAN DOKUMENTASI • Memastikan telah ada spesifikasi untuk semua material dan telah 1 ada metode

TUJUAN DOKUMENTASI

Memastikan telah ada spesifikasi untuk semua material dan telah

1 ada metode pembuatan beserta kontrolnya

Memastikan aktivitas yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang

2 tertulis

Memastikan personel yang melakukan aktivitas tersebut tahu apa

3 yang harus dilakukan dan kapan harus melakukannya

Memastikan bahwa personel yang berwenang memiliki semua

4 informasi cukup yang diperlukan untuk menetapkan keputusan

5 Sebagai data riwayat suatu aktivitas yang dilakukan

6 Sebagai dasar dari perbaikan

DOKUMENTASI CATATAN TERTULIS TENTANG FORMULA, PROSEDUR, PERINTAH, DAN CATATAN TERTULIS LAINNYA YANG BERHUBUNGAN
DOKUMENTASI
CATATAN TERTULIS
TENTANG FORMULA,
PROSEDUR, PERINTAH,
DAN CATATAN TERTULIS
LAINNYA YANG
BERHUBUNGAN DENGAN
PEMBUATAN OBAT
TRADISIONAL
TENTANG FORMULA, PROSEDUR, PERINTAH, DAN CATATAN TERTULIS LAINNYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBUATAN OBAT TRADISIONAL

Tingkatan dokumen

Kebijaksanaan/ Pedoman Mutu

Prosedur Sistem

Mutu/Kerja Baku,

Prosedur Produksi Induk Instruksi Kerja, Struktur

Organisasi, Uraian & Spesifikasi

Tugas, Program/jadwal, Sertifikat, Logbook, Kartu, Label

Catatan Mutu

Jenis-jenis dokumen cpotb

PEDOMAN MUTU

Jenis-jenis dokumen cpotb PEDOMAN MUTU PROSEDUR MUTU Dokumen Pembuatan Spesifikasi/ Metode Protokol Kerja

PROSEDUR MUTU

Jenis-jenis dokumen cpotb PEDOMAN MUTU PROSEDUR MUTU Dokumen Pembuatan Spesifikasi/ Metode Protokol Kerja
Jenis-jenis dokumen cpotb PEDOMAN MUTU PROSEDUR MUTU Dokumen Pembuatan Spesifikasi/ Metode Protokol Kerja
Jenis-jenis dokumen cpotb PEDOMAN MUTU PROSEDUR MUTU Dokumen Pembuatan Spesifikasi/ Metode Protokol Kerja
Jenis-jenis dokumen cpotb PEDOMAN MUTU PROSEDUR MUTU Dokumen Pembuatan Spesifikasi/ Metode Protokol Kerja
Jenis-jenis dokumen cpotb PEDOMAN MUTU PROSEDUR MUTU Dokumen Pembuatan Spesifikasi/ Metode Protokol Kerja
Dokumen Pembuatan Spesifikasi/ Metode Protokol Kerja Label/identitas Induk standar Analisa Protokol Validasi
Dokumen Pembuatan
Spesifikasi/
Metode
Protokol Kerja
Label/identitas
Induk
standar
Analisa
Protokol Validasi
Status Peralatan
Formula Induk
Bahan baku & kemasan
Status Bahan
Prosedur
Pengolahan Induk
Ruahan
Status Produk
Produk Jadi
Catatan Pengolahan Bets
Prosedur
Pengemasan Induk
Catatan Penanganan Produk Kembalian
Catatan Sampling
Catatan Penarikan Produk
Catatan dan Laporan Hasil Uji
Catatan Pemusnahan Produk
Catatan Pemantauan Mikroba & Partikel
Catatan Keluhan
Catatan Uji Stabilitas
Catatan Distribusi

Catatan pengolahan bets

Catatan pengolahan bets merupakan catatan proses pengolahan produk mulai dari penimbangan bahan baku sampai dihasilkan produk ruahan untuk tiap bets. Melalui catatan tersebut dapat ditelusuri riwayat pengolahan bets yang bersangkutan. Catatan pengolahan bets hendaklah memuat:

1.Nama produk; 2.Bentuk sediaan;

3.Nomor bets dan jumlah produk tiap bets;

4.Tanggal mulai dan selesai pengolahan; 5.Urutan tiap tingkat proses pengolahan; 6.Jumlah bahan baku yang digunakan; 7.Jumlah produk yang diperoleh; 8.Data lain yang diperlukan.

NAMA TANAMAN OBAT : TANGGAL MASUK : NO. BETS : BERAT (KG) : NAMA PEMASOK
NAMA TANAMAN OBAT : TANGGAL MASUK : NO. BETS : BERAT (KG) : NAMA PEMASOK

NAMA TANAMAN OBAT :

TANGGAL MASUK

:

NO. BETS

:

BERAT (KG)

:

NAMA PEMASOK

:

ASAL TANAMAN

:

5. PENGAWASAN

Pengawasan dalam proses dilakukan untuk mencegah hal-hal yang menyebabkan kerugian terhadap produk jadi.

Hasil pengawasan dalam proses (in process control)

dari produk antara dan produk ruahan setiap bets hendaklah dicatat dicocokkan terhadap persyaratan yang berlaku.

Bila ada penyimpangan yang berarti hendaklah diambil

perbaikan sebelum pengolahan bets tersebut dilanjutkan.

1.

Nama Latin

2.

Uraian Bahan

3.

Nama Daerah

4.

Gambaran Makroskopik & Mikroskopik

5.

Kemurnian

Kadar Abu

Kadar sari larut Air Kadar sari larut Etanol Bahan Organik Asing Cemaran Mikroba Cemaran Aflatoksin Cemaran Residu Aflatoksin Cemaran Logam Berat

6.

Susut Pengeringan

7.

Kadar Air

8.

Zat Identitas

9.

Pengeringan Tertentu

10.

Cara Penyimpanan

Parameter mutu simplisia nabati
Parameter
mutu
simplisia
nabati
Air 8. Zat Identitas 9. Pengeringan Tertentu 10. Cara Penyimpanan Parameter mutu simplisia nabati
1. Pemanenan dilakukan dari sumber yang jelas pada waktu dan cara yang tepat 2. Penyediaan

1.

Pemanenan dilakukan dari sumber yang jelas pada waktu dan cara yang tepat

2.

Penyediaan dan pengerjaan bahan dilakukan

melalui prosedur baku meliputi sortasi, pembersihan, pengubahan bentuk, pengeringan, pengemasan dan penyimpanan

3.

Pengawetan dan penyimpanan dilakukan secara

tepat terhadap bahan yang sudah bersih, kering, tidak tercampur bahan lain dan dijaga dari pencemaran debu, basah, lembab, jamur, serangga

dan gangguan binatang pengerat

DAFTAR PUSTAKA

Farmakope Indonesia edisi 3

Acuan Sediaan Herbal jilid 2

Farmakope Herbal Indonesia edisi 1 dan Suplemen Farmakope Herbal Indonesia

Materia Medika Indonesia jilid 6

WHO Quality Control Methods for Medicinal

Plant Materials