Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengendalian manajemen digambarkan sebagai pengendalian manajer
terhadap manajer yang lain. Hal tersebut menunjukkan proses dimana para
manajer tingkat perusahaan memastikan para manajer tingkat menengah
menyelesaikan strategi dan tujuan organisasi (Merchant, 1989). Pengendalian
dapat diterapkan pada berbagai tingkat dalam suatu organisasi dan pengendalian
yang dibutuhkan mungkin berbeda di antara tingkat tersebut. Selain itu makalah
ini juga akan memaparkan riset-riset pengendalian kontinjensi yang telah
dilakukan serta kesempatan untuk riset mendatang.
Pengendalian manajemen dilakukan untuk menjaga agar aktivitas
organisasi tetap mengarah kepada tujuan organisasi semula. Pengendalian
manajemen didefinisikan sebagai pengendalian seseorang manajer terhadap
manajer yang lain. Sebuah pengendalian dalam organisasi dapat disesuaikan
dengan tingkatan yang ada dalam organisasi itu sendiri. Dalam hal ini, organisasi
dibagi ke dalam tingkat korporasi, tingkat manajemen, dan tingkat operasional.
Pengendalian tingkat korporasi dilakukan terhadap CEO dan pejabat-pejabat
korporasi. Pengedalian tingkat operasional ditujukan pada eselon yang lebih
rendah dalam organisasi, untuk memastikan kinerja pelaksanaan tugas.
Pengendalian yang efektif dapat mendorong manajer untuk membuat keputusan
yang mengarah kepada tujuan organisasi. Aktivitas pengendalian berusaha dalam
memotivasi pada karyawan untuk mencapai tujuan perusahaan. Pengendalian
berbeda dengan perencanaan. Perencanaan berkaitan dengan penentuan tujuan dan
sasaran perusahaan sedangkan pengendalian memotivasi karyawan untuk
mencapai tujuan.
Penggunaan teori kontinjensi untuk analisis dalam akuntansi manajemen
telah lama menarik minat para peneliti. Pendekatan kontinjensi yang digunakan
dalam akuntansi manajemen berdasarkan premis bahwa tidak terdapat satu sistem
akuntansi-akuntansi manajemen secara universal selalu tepat untuk bisa
diterapkan pada seluruh organisasi dalam setiap keadaan, sistem akuntansi
manajemen tergantung pada faktorfaktor situasional yang ada dalam setiap

keadaan.

Dalam

penelitian-penelitian

akuntansi

manajemen,

pendekatan

kontinjensi diperlukan untuk mengevaluasi faktor-faktor kondisional yang


menyebabkan sistem pengendalian manajemen lebih efektif. Zimmerman
mendefinisikan teori sebagai kumpulan variabel-variabel yang saling terkait serta
hipotesis untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena-fenomena yang terjadi di
dunia nyata.

1.2 Rumusan Masalah


1.
2.
3.
4.
5.

Apa pengertian teori kontingensi?


Apa saja kerangka dan variabel teori kontingensi?
Bagaimana penerapan teori kontingensi di dalam organisasi?
Apa contoh kasus pengendalian kontingensi?
Bagaimana bentuk penelitian dengan menggunakan teori kontingensi?

1.3 Tujuan Yang Diharapkan


1.
2.
3.
4.
5.

Untuk mengetahui pengertian dari teori kontingensi.


Memahami kerangka dan variable teori kontingensi.
Mengetahui penerapan teori kontingensi di dalam organisasi.
Mengetahui contoh kasus pengendalian kontingensi.
Mengetahui bentuk penelitian dengan menggunakan teori kontingensi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Teori Kontingensi
Menurut Kamus Bisnis dan Bank, kontingensi adalah
contingency yaitu keadaan yang masih diliputi ketidakpastian
mengenai kemungkinan diperolehnya laba atau rugi oleh suatu
perusahaan, yang baru akan terselesaikan dengan terjadi atau
tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa pada masa yang akan
datang.
Teori kontinjensi berargumen bahwa desain dan sistem
pengendalian adalah tergantung pada konteks organisasi dimana
pengendalian tersebut dilaksanakan (Fisher dalam Lathifah,
2014). Sedangkan menurut Otley dalam Lathifah (2014) dalam
penelitiannya yang berjudul Sistem Pengendalian Manajemen
dan Tujuan Perusahaan (Sebuah Tinjauan Teori Kontinjensi)
berargumen bahwa teori akuntansi dalam akuntansi yang paling
sesuai untuk sebuh kondisi.
Teori

kontingensi

penggunaan

dari

pengaturan

perusahaan

dioperasikan.

mengatakan

sistem

Padu

bahwa

pengendalian
dimana

padan

yang

desain

tergantung

pengendalian
sesuai

antara

dan
pada

tersebut
sistem

pengendalian dan variabel kontingensi kontekstual diperkirakan


akan menghasilkan kinerja perusahaan atau individual yang
semakin meningkat. Teori kontingensi timbul sebagai respon dari
pendekatan

universal

yang

menyatakan

bahwa

desain

pengendalian yang optimal itu dapat diterima pada semua


pengaturan dan perusahaan. Pendekatan pengendalian universal
merupakan pengembangan alami dari teori manajemen ilmiah.
Menurut teori kontingensi, sistem pengendalian yang sesuai
berbeda-beda tergantung pada pengaturan perusahaan.

2.2 Variabel Kontingensi


Beberapa variabel kontinjensi yang dapat terjadi dalam
suatu sistem pengendalian manajemen sebuah perusahaan
dapat dibagi ke dalam lima kategori (Fisher dalam Lathifa, 2014):
a. Variabel

yang

terkait

dengan

unsur

ketidakpastian

(uncertainty). Sumber utama dari ketidakpastian termasuk


ketidakpastian tugas dan lingkungan eksternal. Menurut Hirst
ketidakpastian tugas merupakan perluasan dari aktivitas
yang dilakukan manajer untuk mencapai hasil (outcome)
yang

diharapkan.

Ketidakpastian

tugas

serupa

dengan

pengetahuan proses transformasi yang didefinisikan oleh


Ouchi. Jika seorang evaluator memahami proses transformasi
input menjadi output, evaluator dapat merinci tindakan yang
dibutuhkan evaluatee dan hal membawa implikasi bahwa
proses transformasi pengetahuan adalah tinggi. Variasi sifatsifat yang diajukan oleh peneliti untuk menggambarkan
lingkungan
Beberapa

eksternal
dikotomi

mewakili
digunakan

tingkat
untuk

ketidakpastian.
menggambarkan

lingkungan eksternal termasuk seperti pasti vs tidak pasti,


statis vs dinamis, sederhana vs kompleks, dan sebagainya.
Sebagai

tambahan

variabel

ketidakpastian

lingkungan

misalnya hubungan dengan pelanggan, pemasok, pasar kerja,


dan perwakilan pemerintah.
b. Variabel yang terkait dengan teknologi dan interdependensi
perusahaan.
bagaimana

Teknologi
proses

menurut

operasi

Zainuddin

organisasi

menyangkut

(mengubah

input

menjadi output) dan termasuk hardware, mesin-mesin, alatalat, manusia, software, dan pengetahuan.
c. Variabel yang terkait dengan dengan industri, perusahaan,
dan unit bisnis. Diversifikasi, struktur, dan ukuran perusahaan
adalah contoh dari variabel ini. Diversifikasi berkaitan dengan
kompleksitas produk maupun struktur perusahaan. Struktur

menurut Zainuddin merupakan spesifikasi formal dari peran


yang berbeda untuk anggota organisasi atau tugas-tugas
untuk kelompok dalam rangka menjamin bahwa aktivitas
organisasi dilaksanakan. Penyusunan struktur mempengaruhi
efisiensi kerja, motivasi individu, aliran informasi dan sistem
pengendalian serta membantu mengarahkan masa depan
organisasi.
d. Varibel
misi

dan

strategi

kompetitif.

Porter

mengklasifakasikan strategi menjadi differentiation strategy,


low cost strategy,dan competive stategy. Miles dan Snow
mengklasifikasikan unit bisnis menjadi defenders, prospector
dan analyzer sedangkan Simon menghubungkannya dengan
product life cycle yang terdiri dari build, hold, harvest, dan
divest strategy.
e. Variabel terkait dengan faktor-faktor yang dapat diobservasi
(observability) Variabel ini diajukan oleh Thompson dan
Ouchi. Faktor ini meliputi pengukuran, evaluasi, dan umpan
balik terhadap aktivitas personal dan hasil (outcome) dalam
sistem pengendalian manajemen. Pengukuran, evaluasi, dan
umpan balik ini dilakukan dalam rangka menilai keefektifan
sistem pengendalian manajemen.
2.3 Kerangka Kerja Pengendalian Kontingensi
Sistem kontingensi berupa lingkaran yang tak terputus
saling

berimplikasi

dan

mempengaruhi.

Faktor

kontingensi

ditentukan oleh keputusan manajer, dan faktor faktor yang lain


ditentukan sesuai dengan kondisi luar. Organisasi memilih pasar
dimana ada kompetisi dan strategi yang dilakukan. Kemudian
setelah stategi yang jelas dan keputusan garis produk, beberapa
faktor tidak lebih bertahan dibawah pengendalian langsung
organisasi.

Oleh

karena

itu,

penentuan

faktor

kontingensi

mungkin adalah proses interaktif, beberapa faktor dipilih oleh

perusahaan, sedangkan yang lain adalah hasil dari keputusan


utama dan faktor-faktor lain dari luar. Variabel kontingensi dibagi
menjadi dua yaitu variabel yang tidak dapat dipengaruhi oleh
organisasi serta tujuan organisasi. Variabel kontingensi tersebut
akan mempengaruhi rangkaian pengendalian organisasi yang
meliputi desain sistem informasi akuntansi, sistem informasi
manajemen, organisasi, dan rencana pengendalian lain. Hal ini
akan mempengaruhi efektivitas organisasi (diukur dalam kaitan
dengan tujuan) yang mungkin terdapat variable intervening
antara

pengendalian

dengan

tujuan.

Setelah

perusahaan

menyusun tujuan dan faktor kontingensi, kemudian organisasi


memusatkan pada pencapaian objek perusahaan. Perusahaan
menggunakan

paket

dari

pengendalian

perusahaan

dalam

pencapaian tujuan perusahaan.


2.4 Penelitian Pengendalian Kontingensi
Konsep penelitian pengendalian kontigensi yang terdiri
dari pengaruh teknologi, struktur organisasi, dan lingkungan
diharapkan

dapat

menjelaskan

bagaimana

desain

sistem

akuntansi disusun.
a. Pengaruh Teknologi
Teknologi mempunyai
informasi

akuntansi

akhirnya

akan

pengaruh

yang

perlu

berpengaruh

penting

terhadap

disediakan

terhadap

yang

kinerja.

tipe
pada
Piper

menunjukkan bahwa kompleksitas tugas organisasi relevan


untuk menjelaskan struktur pengendalian keuangan yang
tepat. Daft dan Macintosh mengidentifikasi bahwa variasi
tugas mempengaruhi desain sistem informasi akuntansi
manajemen yang tepat.
b. Pengaruh Struktur Organisasi
Terdapat bukti bahwa struktur organisasi mempengaruhi
sikap

dimana

informasi

anggaran

digunakan.

Hopwood

membedakan antara gaya Budget-Constrained (BC) dimana


pencapaian anggaran merupakan faktor yang paling penting
dalam mengevaluasi bawahan dan Profit-Conscious (PC)
dimana efektivitas jangka panjang juga dipertimbangkan.
Penelitiannya mengindikasikan bahwa gaya BC yang rigid
berkorelasi tinggi dengan tekanan pekerjaan, berkorelasi
rendah

dengan

perilaku

disfungsional

bawahan

seperti

manipulasi data akuntansi. Sedangkan PC tidak mempunyai


korelasi tersebut. Ia kemudian menyimpulkan bahwa gaya
anggaran fleksibel membawa kinerja organisasi yang lebih
efektif.
c. Pengaruh Lingkungan
Faktor lingkungan juga dapat menerangkan perbedaan dalam
penyusunan sistem informasi akuntansi. Khandwalla menguji
efek

lingkungan

yang

kompetitif

perusahaan

terhadap

penggunaan pengendalian manajemen dan menyimpulkan


bahwa sistem pengendalian dan akuntansi yang canggih
dipengaruhi oleh intensitas kompetisi. Ketika pembelajaran
mengenai kontingensi menyediakan pengetahuan tentang
sistem pengendalian, hasilnya tidak dapat dikembangkan
menjadi teori pengendalian manajemen yang diterima secara
luas. Beberapa alasan yang menyebabkan hasil akhir kurang
meyakinkan:
1. Pengendalian cybernetic bersifat multidimensional dan
merupakan bagian dari keseluruhan sistem pengendalian
namun penelitian yang dilakukan hanya mencakup sub
bagian yang kecil dari pengendalian.
2. Sebagian besar peneliti hanya menguji

satu

faktor

kontingensi pada satu waktu tertentu.


3. Kurangnya kemudahan dalam mengakses database dan
rumitnya tekhnik statistik sehingga mempersulit dalam
menguji apapun selain hubungan yang sederhana.
2.5 Pendekatan Kontinjensi

Pendekatan

kontinjensi

untuk

akuntansi

manajemen

didasari oleh anggapanbahwa tidak ada sistem akuntansi yang


tepat secara universal yang dapat digunakan oleh semua
organisasi dalam berbagai keadaan. Sistem akuntansi yang tepat
tergantung pada keadaan khusus dimana organisasi tersebut
berada.

Oleh

karenanya

mengidentifikasikan

aspek

teori

khusus

kontinjensi
dari

sistem

harus
akuntansi

perusahaan dimana keadaan dapat didefinisikan dengan pasti


dan sistem dapat dicobakan dengan tepat.
Walaupun kerangka kontinjensi adalah hal baru, tapi
Hongren pernah mengulasnya tahun 1972, hanya saja Hongren
tidak

menyediakan

panduan

mengenai

bagaimana

desain

tanggung jawab bersama ini dijalankan. Dermer menyatakan


bahwa desain sistem perencanaan dan pengendalian sangatlah
spesifik. Tulisannya tidak untuk menunjukkan pada perancang
sistem

tentang

apa

yang

harus

dilakukan

tetapi

untuk

menunjukkan berbagai kemungkinan fakta yang bisa dilakukan


dalam berbagai situasi.
2.6 Timbulnya Formula Kontingensi
Konsep teknologi, struktur organisasi, dan lingkungan
diharapkan

dapat

menjelaskan

mengapa

sistem

akuntansi

berbeda untuk suatu situasi dengan situasi yang lain. Ada dua
pengaruh yang menyebabkan timbulnya formula kontinjensi:
1. Pengaruh hasil penelitian empiris
a. Efek Teknologi
Simpel atau tidaknya variabel kontinjensi yang digunakan
dalam akuntansi manajemen tergantung pada teknologi
produksi, unit produksi, besar kecilnya batch dan jenis
produksi massa atau produksi terus menerus.
b. Efek Struktur Organisasi
Struktur organisasi berpengaruh terhadap bagaimana
informasi anggaran digunakan. Hopwood membedakan

budget

constrained

yang

menggunakan

informasi

akuntansi dengan profit conscious. BC diasosiasikan


dengan konsentrasi pada pekerjaan yang sangat tinggi,
hubungan yang tidak dekat, dan perilaku menyimpang. PC
lebih fleksibel dan tidak diasosiasikan seperti di atas.
c. Efek Lingkungan
Faktor lingkungan juga dapat menjelaskan perbedaan
penggunaan informasi akuntansi. Khandwalls menguji
efek tipe persaingan yang dihadapi oleh perusahaan
terhadap

sistem

pengendalian

digunakan

menemukan

bahwa

manajemen
sistem

yang

pengendalian

manajemen dipengaruhi oleh intensitas persaingan yang


dihadapi.
2. Pengaruh Teori Organisasi
Pendekatan yang saat ini popular yang berpengaruh pada
perkembangan

teori

kontinjensi.

Akuntansi

manajemen

adalah perkembangan teori kontinjensi dari organisasi.


Gambar Kerangka Evaluasi Teori Kontingensi Akuntansi
Manajemen

(Sumber: Atiek Sri Purwati dan Siti Zulaikha. 2006. Teori


Kontinjensi, Sistem Pengendalian Manajemen dan Outcomes
Perusahaan : Implikasinya dalam Riset Masa Kini dan Masa
yang akan Datang)

2.7 Penerapan teori kontingensi di dalam organisasi


Kepemimpinan dalam organisasi yang efektif bergantung
pada situasi ketika kepemimpinan tersebut dilaksanakan. Teori
kontingensi dari Fiedler adalah teori yang membahas gaya
kepemimpinan

yang

bergantung

pada

situasi

organiasasi

tersebut. Karakteristik situasi kepemimpinan yang paling penting


terdapat dalam 3 variabel, yaitu:
1. Leader-Member

Orientation:

hubungan

pribadi

antara

pemimpin dengan para anggotanya. Jika sebuah organisasi


memiliki situasi leader-member orientation yang baik, itu
artinya anggota menyukai, mempercayai dan menghargai
pemimpin. Hal ini dianggap efektif dalam kepemimpinan
sebuah organisasi.
2. Task Structure: Tingkat struktur tugas yang diberikan oleh
pemimpin untuk dikerjakan oleh anggota organisasi. Semakin
tugas terstruktur maka pemimpin makin memiliki pangaruh
besar dalam sebuah organisasi.
3. Kekuasaan jabatan: tingkat hukuman, penghargaan, kenaikan
pangkat, disiplin, teguran yang dapat diberikan pemimpin
kepada anggotanya. Pemimpin mempunyai kekuasaan besar
dalam

sebuah

penghargaan

organisasi

dan

bila

menjatuhkan

ia

mampu

hukuman

member

bagi

yang

melakukan kesalahan.
Efektifitas pemimpin ditentukan oleh kesesuaian antara
gaya pemimpin dengan keharmonisan situasinya. Alasan yang
menyebabkan gaya kepemimpinan tertentu lebih efektif dalam
beberapa situasi berbeda dapat diterangkan memalui harmonis
dan tidak harmonis.
Misalnya dalam sebuah organisasi Himpunan Mahasiswa,
dalam situasi yang harmonis, pemimpin menjadi orang yang
disukai,

memberikan

tugas

yang

10

jelas

dan

mempunyai

kekuasaan yang besar. Dalam kondisi seperti ini jelas semua


variable situasi yang baik telah tersedia, jadi pemimpin harus
meningkatkan kewibawaan bagi anggotanya. Jika pemimpin dari
Himpunan Mahasiswa tersebut ada dalam situasi organisasi yang
harmonis, maka anggotanya akan bersedia mengikuti usaha
pemimpin dalam mengarahkan mereka.
Sebaliknya jika sebuah organisasi himpunan mahasiswa
memiliki pemimpin yang tudak disukai, penjelasan tugas samarsamar dan kekuasaan lemah, maka itu merupakan situasi yang
tidak harnonis. Dalam keadaan seperti ini, pemimpin dalam
organisasi HIMA harus memusatkan perhatian pada pekerjaan
dan mengarahkan anggota dengan mempergunakan pengaruh
anda sebagai pemimpin yang memiliki kewenangan untuk hal
tersebut.
2.8 Contoh Kasus
Yahoo Inc. Perusahaan berbasis di Sunnyvale, California mengumumkan
pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 2.000 karyawannya, atau sekitar 14%
dari total 14.100 karyawan. Langkah ini merupakan bagian dari gebrakan CEO
baru Yahoo, Scott Thompson. Ia menghapus job yang tidak sesuai dengan
rencananya. Dengan PHK ini, Yahoo memperkirakan akan menghemat sekitar
US$ 375 juta setiap tahun setelah PHK selesai akhir tahun ini.
Yahoo menyiapkan dana US$ 125 juta hingga US$ 145 juta untuk
pembayaran pesangon. Biaya tersebut akan mengurangi pendapatan Yahoo di
kuartal ini.Beberapa karyawan yang terkena PHK akan tetap dipekerjakan dalam
jangka waktu yang tidak ditentukan untuk menyelesaikan berbagai proyek.
Bersih-bersih ini merupakan PHK massal keenam dalam empat tahun terakhir di
bawah tiga CEO yang berbeda.Namun, kali ini merupakan yang terbanyak.
PHKterbanyak sebelumnya terjadi pada 2008 yang merumahkan 1.500 pekerja.
Saat itu, Yahoo mencoba mengatasi resesi besar.
Sebelumnya, PHK terjadi di bawah pendiri Yahoo, Jerry Yang, dan di
eraCarol Bartz. PHK ini didorong oleh menurunnya pendapatan. Tapi ini ternyata

11

tidak mengatasai masalah kemerosotan pendapatan,di tengah keinginan investor


pada pertumbuhan iklan yang makin mengalir ke internet.
Analisis kasus
Kasus diatas ada hubungannya dengan teori kontingensi dari Fiedler
dimana perusahaan menghadapai hubungan antara tingkah laku dan gaya
kepemimpinan dan situasi yang dialami perusahaan tersebut. mengambil sebuah
keputusan bergantung pada situasi yang dialami oleh sebuah organisasi tersebut.
CEO baru Yahoo Inc Scott Thompson memutuskan untuk melakukan
PHK terhadap 2000 karyawan dengan alasan penghematan pengeluaran
perusahaan karena adanya job yang dianggapnya tidak sesuai dengan yang ia
rencanakan.
Strategi yang dilakukan Thompson cukup mengagetkan namun
merupakan tindakan yang benar karena melihat situasi dan kondisi dari
perusahaan Yahoo Inc sebelumnya yang hampir merosot pendapatannya. Dalam
kasus ini, Thompson memiliki gaya kepemimpinan berdasarkan variable situasi
yaitu:
1.

Task Structure: Thompson ingin melakukan yang terbaik untuk Yahoo, maka
dari itu struktur tugas yang harus dijalankan benar-benar diutamakan olehnya
apalagi ketika perusahaan Yahoo mengalami masalah yang besar. Ia juga
mencoba mengefektifkan sebuah kondisi perusahaan dengan PHK karyawan
yang tidak memiliki job yang sesuai dengan rencananya karena Thompson
adalah CEO baru Yahoo Inc. Namun karyawan yang di PHK tersebut tetap

2.

dipekerjakan hingga tugasnya selesai.


Kekuasaan Jabatan: Thompson memiliki kekuasaan yang kuat atasa jabatannya
sebagai CEO Yahoo Inc maka dari itu ia berhak untuk melakukan apa saja
kepada karyawannya namun setelah dilakukan berbagai pertimbangan agar
Thompson dilihat sebagai pemimpin yang berwibawa.

12

BAB III
KESIMPULAN
Dari berbagai uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
pengendalian kontingensi menjadi dominan dalam penelitian
sistem pengendalian manajemen. Teori kontingensi berpendapat
bahwa desain dan penggunaan sistem pengendalian adalah
mengatur

konteks

dari

organisasi

kontingen

yang

sedang

berlangsung diman pengendalian ini dijalankan. Pendekatan


kontingensi menyediakan pandangan untuk mengatur sistem
pengendalian manajemen. Meskipun penelitian ini menyediakan
pandangan yang berguna, namun pada kenyataannya apa yang
dihasilkan dari penelitian ini kurang begitu menjelaskan, dan
masih perlunya mengembangkan hubungan variabel-variabel
kontingensi, selain itu masih banyak faktor kontingensi yang
terkait yang belum teridentifikasi.

13

DAFTAR PUSTAKA
Kusumastuti,

Septi.,

Masyarakat

Jatiningsih,

Terhadap

Oksiana.

Kepemimpinan

2015.
Tri

Persepsi

Rismaharini

sebagai Walikota Surabaya. Jurnal


Lathifah, Ifah. 2014. Sistem Pengendalian Manajemen dan Tujuan
Perusahaan (Sebuah Tinjauan Teori Kontinjensi). Jurnal
Dinamika Akuntansi
Pace, R. Wayne., Faules, Don F. 2005. Komunikasi Organisasi:
Strategi Meningkatkan Kinerja

Perusahaan. Bandung:

Remaja Rosda Karya


Purwati, Atiek Sri., Zulaikha, Siti. 2006. Teori Kontinjensi, Sistem
Pengendalian Manajemen dan Outcomes Perusahaan:
Implikasinya dalam Riset Masa Kini dan Masa yang akan
Datang. Jurnal
Sundoluhur,

Ali.

2012.

Jurus

http://ekonomi.inilah.com/
Oktober 2016)

14

Yahoo

(diakses

untuk
pada

Bangkit.

tanggal

23

Anda mungkin juga menyukai