Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam suatu organisasi, unsur manusia menjadi salah satu sumber penentu
bagi perubahan dan jalannya organisasi tersebut. Pada konteks ini manusia
difahami sebagai alat pencapa tujuan, juga sebagai salah satu target. Artinya,
manusialah yang mengggerakkan organisasi, dan manusia pula yang menjadi
tujuan; entah kesejahteraannya ataupun tingkat pemahamannya. Terkait dengan
keberhasilan proses prganisasi, maka unsur pemimpin memegang peranan yang
sangat penting.
Kepemimpinan (leadership) dalam suatu organisasi, lembaga atau institusi
mempunyai peranan yang sangat penting. Karena tanpa adanya kepemimpinan,
kumpulan orang dan sistem kerja yang ada didalamnya hanya akan merupakan
suatu kumpulan yang tidak berarti. Dengan demikian tujuan organisasi yang telah
direncanakan dengan matang tidak akan tercapai.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa kesuksesan atau kegagalan yang
dialami sebagian besar organisasi ditentukan oleh kualitas kepemimpinan, yang
diserahi tugasnya mampu atau tidak dalam memimpin organisaasi tersebut.
Lembaga pendidikan adalah merupakan salah satu dari sekian banyak
organisasi, yang dalam kegiatan sehari-hari tidak lepas dari peran seorang
pemimpin untuk mengendalikan jalannya proses pendidikan agar tujuan
pendidikan yang telah diprogramkan dapat tercapai dengan sebaik-baiknya.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengertian dari kepemimpinan kependidikan?
2. Apa fungsi kepemimpinan pendidikan?
3. Apa saja tipe-tipe kepemimpinan pendidikan?
4. Apa saja syarat-syarat menjadi pemimpin pendidikan?
5. Apa saja keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin?
6. Apa saja pendekatan dan teori munculnya kepemimpinan pendidikan?
7. Apa saja model-model kepemimpinan dalam pendidikan?
8. Bagaimana kepemimpinan dalam pengajaran?
1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian dari kepemimpinan kependidikan
2. Untuk mengetahui fungsi kepemimpinan pendidikan
3. Untuk mengetahui tipe-tipe kepemimpinan pendidikan
4. Untuk mengetahui syarat-syarat menjadi pemimpin pendidikan
5. Untuk mengetahui keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang
pemimpin
6. Untuk mengetahui pendekatan dan teori munculnya kepemimpinan
pendidikan
7. Untuk mengetahui model-model kepemimpinan dalam pendidikan
8. Untuk mengetahui bagaimana kepemimpinan pendidikan dalam
pengajaran

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan berasal dari kata Pemimpin, maksudnya adalah orang
yang berusaha mempengaruhi para pengikutnya untuk merealisir visinya. Gardner
menyebutkan kepemimpinan adalah Leadership is the process of persuasion or
example by which an individual (or leadership team) induces a group to persue
objectives held by the leader or shared by the leader and his followers.
Menurut Stogdill pengertian kepemimpinan sama banyaknya dengan
jumlah orang yang mendefinisikan konsep ini. Kepemimpinan selalu di pahami
berdasarkan ciri dan perilaku, pengaruh, pola interaksi, hubungan peran, dan
posisi jabatan administrative.
Menurut Bass Kepemimpinan merupakan suatu interaksi antara anggota
suatu kelompok sehingga pemimpin merupakan agen pembaharu, agen perubahan,
orang yang perilakunya akan lebih mempengaruhi orang lain daripada perilaku
orang lain yang mempengaruhi mereka, dan kepemimpinan itu sendiri timbul
ketika suatu anggota kelompok mngubah motivasi kepentingan anggota lainnya
dalam kelompok.
Menurut Kottler Kepemimpinan adalah proses menggerakkan seseorang
atau sekelompok orang kepada tujuan-tujuan yang umumnya ditempuh dengan
cara-cara yang tidak memaksa.
Jadi secara umum kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan dan
kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mendorong, mengajak,
menuntun,

menggerakkan, mengarahkan kelompok agar menerima pengaruh

tersebut dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu
tujuan yang telah ditetapkan.

Kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakkan


pelaksanaan pendidikan sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat
tercapai secara efektif dan efesien.
Pada dasarnya setiap orang yang memiliki kelebihan dalam kemampuan
dan pribadinya, dan dengan kelebihannya itu dapat mempengaruhi, mengajak,
membimbing, mendorong, menggerakkan dan mengkoordinasi staf pendidikan
lainnya kearah peningkatan atau perbaikan mutu pendidikan dan pengajaran,
maka ia telah melaksanakan fungsi kepemimpinan pendidikan, dan ia tergolong
sebagai pemimpin pendidikan.
Dengan demikian pemimpin pendidikan itu dapat berstatus pemimpin
resmi dan pemimpin tidak resmi. Pemimpin pendidikan resmi adalah
kepemimpinan yang dimiliki oleh mereka yang menduduki posisi dalam struktur
organisasi pendidikan, baik secara resmi oleh pihak atasan atau yang berwenang
maupun karena dipilih secara resmi menjadi pemimpin oleh anggota staf
pelaksana pendidikan dimana ia bekerja. Misalnya kepala dinas, kepala sekolah.
Sedangkan pemimpin pendidikan tidak resmi bisa dimiliki oleh mereka
yang mempengaruhi, memberi tauladan, dan mendorong ke arah perbaikan
kualitas kerja petugas-petugas penyelenggara pendidikan dan pengajaran,
meskipun didalam hierarki struktu organisasi pendidikan mungkin ia tidak
menduduki posisi pemimpin. Kemampuannya itu semata-mata berasal dari
kelebihan tertentu yang ada pada pribadiya, dan bukan karena ia menduduki posisi
pemimpin, baik karena pengangkatan dari pihak yang berwenang maupun karena
dipilih secara resmi oleh kalangan kelompok kerja.
2.2 Fungsi Kepemimpinan Pendidikan
Fungsi utama dari pemimpin pendidikan adalah kelompok untuk belajar
memutuskan dan bekerja, antara lain:
1. Pemimpin membantu terciptanya suasana persaudaraan, kerja sama,
dengan rasa kebebasan.

2. Pemimpin membantu kelompok untuk mengorganisir diri yaitu ikut


serta dalam memberikan rangsangan dan bantuan kepada kelompok
dalam menetapkan dan menjelaskan tujuan.
3. Pemimpin membantu kelompok dalam menetapkan prosedur kerja yaitu
membantu kelompok dalam menganalisis situasi untuk kemudian
menetapkan prosedur mana yang lebih praktis dan Pemimpin
bertanggung jawab dalam mengambil keputusan bersama dengan
kelompok.
4. Pemimpin

bertanggung

jawab

dalam

mengembangkan

dan

mempertahankan eksistensi organisasi.


2.3 Tipe-tipe Kepemimpinan Pendidikan
Berdasarkan konsep, sifat, sikap dan cara-cara pemimpin tersebut
melakukan dan mengembangkan kegiatan kepemimpinan dalam lingkungan kerja
yang dipimpinya, maka kepemimpinan dapat di klasifikasikan ke dalam empat
tipe, yaitu:
a. Tipe Otoriter
Dalam kepemimpinan otoriter, pemimpin bertindak sebagai diktator
terhadap

anggota-anggota

kelompoknya.

Baginya

memimpin

adalah

menggerakkan dan memaksa kelompok. Pemimpin yang otoriter tidak


menghendaki rapat/musyawarah. Pengawasan bagi pemimpin yang otoriter
hanyalah berarti mengontrol, apakah segala perintah yang telah diberikan
ditaati atau dijalankan dengan baik oleh anggotanya.
b. Tipe Laissez Faire
Dalam tipe kepemimpinan ini sebenarnya pemimpin tidak memberikan
kepemimpinanya, dia membiarkan bawahannya berbuat kehendaknya.
Pemimpin sama sekali tidak memberikan kontrol dan koreksi terhadap
pekerjaan bawahannya.

c.

Tipe Demokratis
Pemimpin pada tipe ini menafsirkan kepemimpinannya bukan sebagai
diktator,

melainkan

sebagai

pemimpin

ditengah-tengah

anggota

kelompoknya. Pemimpin yang demokratis selalu berusaha menstimulasi


anggota-anggotanya agar bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan
d.

bersama.
Tipe Pseudo Demokratis
Pemimpin yang bertipe pseudo demokratis hanya tampaknya saja
sikapnya demokratis padahal sebenarnya dia bersikap otokratis. Pemimpin
menganggap dirinya sebagai pemimpin yang demokratis, tetapi sebenarnya ia
adalah, pemimpin yang memanipulasi demokrasi, menganut demokrasi semu
dan lebih mengarah kepada kegiatan pemimpin yang otoriter dalam bentuk
yang halus dan samar-samar.

2.4 Syarat-syarat Kepemimpinan Pendidikan


Dalam memangku jabatan pemimpin pendidikan yang dapat melaksanakan
tugas-tugasnya dan memainkan perannya sebagai pemimpin yang baik dan sukses,
maka dituntut beberapa persyaratan jasmani, rohani, dan moralitas yang baik,
bahkan persyaratan sosila ekonomis yang layak. Persyaratan-persyaratan tersebut
sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Rendah hati dan sederhana


Bersifat suka menolong
Sabar dan memiliki kestabilan emosi
Percaya kepada diri sendiri
Jujur, adil dan dapat dipercaya
Keahlian dalam jabatan

Adanya syarat-syarat kepemimpinan seperti diuraikan diatas menunjukkan


bahwa kepemimpinan bukan hanya memerlukan kesanggupan dan kemampuan
saja, tetapi lebih lagi kemampuan dan kesediaan pemimpin.

2.5 Keterampilan Kepemimpinan Pendidikan


Seorang pemimpin harus mempunyai keterampilan. Dibawah ini akan
diuraikan beberapa keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin
pendidikan, keterampilan-keterampilan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Keterampilan dalam memimpin
Pemimpin harus menguasai

cara-cara

kepemimpinan,

memiliki

keterampilan memimpin supaya dapat bertindak sebagai pemimpin yang


baik. Untuk hal itu antara lain ia yang harus menguasai bagaimana caranya
: menyusun rencana bersama,mengajak anggota berpartisipasi,memberi
bantuan kepada anggota kelompok,memupuk moral kelompok,bersamasama membuat keputusan,membagi dan menyerahkan tanggung jawab,dan
sebagainya. Untuk memperoleh keterampilan diatas perlu pengalaman, dan
karena itu pemimpin harus benar-benar banyak bergaul,bekerjasama,dan
berkomunikasi dengan orang yang dipimpinnya. Yang penting jangan
hanya tahu, tetapi harus dapat melaksanakan.
b. Keterampilan dalam hubungan insani
Hubungan insani adalah hubunga antar manusia. Ada dua macam
hubungan yang biasa kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari : (1)
hubungan fungsiional atau hubungan formal,yaitu hubungan karena tugas
resmi atau pekerjaan resmi; dan (2) hubungan pribadi atau hubungan
informal atau hubungan personel, ialah hubungan yang tidak didasarkan
atas tugas resmi atau pekerjaan tetapi lebih bersifat kekluargaan. Yang
menjadi inti dalam hubungan ini,apakah itu hubungan fungsional atau
hubungan personal,adalah saling menghargai. Bawahan menghargai atasan
dan sebaliknya atasanpun harus menghargai bawahannya.
c. Keterampilan dalam proses kelompok
Maksud utama dalam proses kelompok ialah bagaiman meningkatkan
partisipasi anggota-anggota kelompok setinggi-tingginya sehingga potensi
yang dimiliki para anggota kelompok itu dapat diefektifkan secara
maksimal. Inti dari proses kelompok adalah hubungan insani dan
tanggungjawab bersama. Pemimpin harus jadi penengah, pendamai,
moderator dan bukan menhajadi hakim.
7

d. Keterampilan dalam administrasi personel


Administrasi personel mencakup segala usaha untuk menggunakan
keahlian dan kesanggupan yang dimiliki oleh petugas-petugas secara
efektif dan efesien. Kegoiatan dalam administrasi personil ialah : seleksi,
pengangkatan, penempatan, penugasan, orientasi, pengawasan, bimbingan
dan pengembangan serta kesejahteraan. Menemukan yang paling dari
kegiatan diatas ialah kegiatan sleksi dalam memilih orang yang paling
sesuai dengan tugas dan pekerjaanya.
e. Keterampiln dalam menilai
Adapun teknik dan prosedur evaluasi ialah : Menentukan tujuan penilaian,
menetaapkan norma/ukuran yang akan dinilai, mengumpulkan data-data
yang dapat diolah menurut kriteria yang ditentukan, pengolahan data, dan
menyim[ulkan hasil penilaian.
Menurut Davis keterampilan kepemimpinan yaitu :
1. Technial Skills; diperlukan pemimpin agar ia mampu mengawasi dan
menilai pekerjaan sesuai dengan keahlian yang digelutinya. Contohnya
pemimpin pendidikan perlu menguasai cara-cara menyusun renstra,
membuat silabus, memahami PBM, menguasai teknik penilaian, dan
sebagainya.
2. Human Skills; kemampuan dalam membangun relasi dan dapat bekerja
sama dengan orang lain adalah kualifikasi yang dipersyaratkan seorang
pemimpin baik dalam situasi formal maupun informal. Untuk membangun
relasi yang lebih baik harus dikembangkan sikap respek dan saling
menghargai satu sama lain.
3. Conceptual Skills; pemimpin yang disegani adalah pemimpin yang mampu
memberi solusi yang tepat yang timbul dari pemikirannya yang cerdas
tentang suatu persoalan.
2.6 Pendekatan dan Teori Munculnya Kepemimpinan Pendidikan
1. Pendekatan Teori Sifat Pemimpin (Traits Theory)
Pendekatan teori ini lebih menekankan kepada atribut-atribut atau iriciri pribadi yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Dasar pemikiran
8

dari teori ini adalah keberhasilan seorang ditentukan oleh sifat-sifat


atau watak, kualitas pribadi yang dimiliki oleh seorang pemimpin.
Pemimpin yang memiliki ciri kepemimpinan adalah seorang yang
memiliki kualitas diri yang baik tercermin dari sifat-sifat atau watak.
Biasanya sifat-sifat atau watak yang diharapkan anggota dari
pemimpinnya adalah cerdas, bijak, semangat, tanggung jawab, dan
dapat dipercaya.
Davis mengikhtisari 4 sifat utama yang dapat mempengaruhi
keberhasilan pemimpin yaitu: (1) cerdas, (2) kedewasaan dan keluasan
hubungan sosial, (3) motivasi diri dan dorongan berprestasi, (4) sikapsikap hubungan manusiawi.
Hicks dan Gullet menunjukkan 8 sifat kepemimpinan yang harus
dimiliki pemimpin, yaitu:
a. Bersikap adil
b. Memberikan sugesti (suggesting)
c. Mendukung tercapainya tujuan (Supplying Objectives)
d. Katalisator (Catalysing)
e. Menciptakan rasa aman (Providing Security)
f. Sebagai wakil organisasi (Representing)
g. Sumber inspirasi (Inspiring)
h. Bersikap menghargai (Praising)

Sedangkan Ordway Tead berpendapat bahwa peranan pemimpin akan berhasil


apabila memiliki 10 sifat kepemimpinan sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Energi jasmaniah dan mental.


Kesadaran akan tujuan dan arah.
Antusiasme.
Keramahan dan kcintaan.
Integritas.
Penguasaan teknis.
Ketegasan dalam mengambil keputusan.
Kecerdasan.
Keterampilan mengajar.
Kepercayaan (Faith).

2. Pendekatan Perilaku Pemimpin (Behavior Theory)


Studi kepemimpinan yang menekankan kepada berbagai perilaku
pemimpin. Pendekatan ini memandang bahwa kepemimpinan dapat
dipelajari dari pola tingkah laku bukan dari sifat-sifat pemimpin karena
sifat seseorang kadang menipu penglihatan sehingga sulit diidentifikasi
secara pasti. Seseorang menjadi pemimpin karena keadaan yang
bersangkutan berada pada tempat dan situasi yang tepat atau karena
berbagai faktor seperti umur, pendidikan, pengalaman, serta latar
belakang keluarga dan kekayaan. Bagaimana pemimpin berperilaku
akan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan, nilai-nilai, dan
pengalaman mereka (kekuatan diri pemimpin).
Menelaah perilaku kepemimpinan dapat diidentifikasi dari dua aspek yaitu
dari fungsi kepemimpinan yang dijalankan dan dari gaya yang ditunjukan
pemimpin.
a. Fungsi Kepemimpinan
Kepemimpinan akan terjadi secara efektif apabila pemimpin dapat
menjalankan dua fungsi utama yaitu: (1) yang berkaitan dengan
tugas (task-related) atau fungsi pemecahan masalah, dan (2)
berkaitan dengan pembinaan kelompok atau fungsi sosial (group
maintance).
Fungsi tugas

memudahkan

dan

mengkoordinasikan

usaha

kelompok dan memilih, mendefinisikan dan memecahkan masalah


10

bersama. Fungsi sosial membantu kelompok berjalan lebih lancar,


menengahi perbedaan pendapat, meredam konflik, dan dapat
memancarkan perasaan hangat dan empatik kepada anggota.
b. Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan merupakan norma atau dapat juga diartikan
sebagai pola perilaku dalam mempragakan kepemimpinannya.
Terdapat dua gaya kepemimpinan yaitu gaya dengan orientasi
tugas (task oriented), dan gaya dengan orientasi pada anggota
(employee-oriented).
Gaya kepemimpinan yang berorientasi tugas ingin pekerjaan
selesai dengan memuaskan, tepat waktu, dan sempurna sehingga ia
betul-betul mengendalikan pergawai agar konsisten dan serius
dalam pekerjaannya, kadang-kadang pemimpin tidak tahu dengan
urusan-urusan karyawannya.
Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada pegawai/anggota
organisasi melaksanakan kepemimpinannya dengan berupaya
memberikan dorongan semangat, membimbing dan mengarahkan
secara empatik dan memberikan kepercayaan kepada anggota
untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan karyanya sendiri.
3. Pendekatan Kontingensi
Studi kepemimpinan ini menyatakan bahwa yang membuat kepemimpinan
itu efektif bukan hanya karena keberadaan pemimpinnya itu sendiri tetapi
ada variabel lain yang turut menentukan. Para pemimpin tidak dapat
memiliki seluruh sifat baik yang dipersyaratkan pendekatan siat dan juga
tidak dapat berharap satu gaya dapat efektf untuk semua situasi. Situasi
dan

kondisi

yang

dihadapi

pemimpin

mengharuskan

pemimpin

menerapkan perilaku yang berbeda-beda dari situasi satu ke situasi lain.

11

2.7 Model-model Kepemimpinan Pendidikan


Salah satu perubahan mendasar dalam organisasi pendidikan adalah sistem
menejemen yang sentralistik diganti dengan sistem manajemen desentralistik
melalui Undang-undang No. 22 Tahun 1999 yang direvisi menjadi Undangundang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, menuntut perubahan
berbagai komponen dalam organisasi dan juga gaya kepemimpinan. Artinya
dalam situasi yang tidak menentu, penuh dengan perubahan dan ketidakpastian
diperlukan keahlian manajerial yang baik dan sekaligus dapat mengembangkan
keahliannya dalam bidang kepemimpinan.
Keahlian manajerial dengan kepemimpinan merupakan dua peran yang
berbeda. Seorang manajer yang baik adalah seseorang yang mampu menangani
kompleksitas organisasi, dia adalah ahli perencanaan startegik dan operasional
yang hebat dan jujur, mampu mengorganisasikan ativitas organisasi secara
terkoordinasi, dan mampu mengevaluasi secara reliabel dan valid. Sedangkan
seorang pemimpin yang efektif mampu membangun motivasi staf, menentukan
arah, menangani perubahan secara benar dan menjadi katalisator yang mampu
mewarnai sikap dan perilaku staf.
Era desentralisasi adalah era perubahan yang memberikan peluang besar
kepada para pemimpin mengembangkan nilai-nilai kepemimpinan. Pada era ini
berbagai tantangan dan ancaman yang datang silih berganti memerlukan keteguhn
sikap dan kecerdasan menangkap peluang dan meranang masa depan. Oleh karena
itu diperlukan pemimpin yang sesuai dengan kondisi yang memiliki komitmen
kualitas dan selalu memperbaharuinya sesuai dengan stakeholders.
Terdapat tiga jenis kepemimpinan yang dipandang representatif dengan
tuntutan era desentralisasi yaitu kepemimpinan transaksional, kepemimpinan
trasformasional, dan kepemimpinan visioner.
a. Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan

transaksional

adalah

kepemimpinan

yang

menekankan kepada tugas yang diemban bawahan. Pemimpin adalah

12

seseorang yang mendesain pekerjaan beserta mekanismenya dan staf


adalah seseorang yang melaksakan tugas sesuai dengan kemampuan dan
keahlian.
Peran kepemimpinan transaksional lebih menekankan kepada
peran sebagai manajer, karena ia sangat terlibat dalam aspek-asek
prosedural manajerial yang metodologi dan fisik. Oleh karena itu
kepemimpinan transaksional dihadapkan pada orang-orang yang ingin
memenuhi kebutuhan hidupnya dari segi pandang, pangan, dan papan.
b. Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional dibangun dari dua kata, yaitu
kepemimpinan

dan

tranformasional.

Kepemimpinan

sebagaimana

dijelaskan diawal merupakan setiap tindakan yang dilakukan oleh


seseorang untuk mengkoordinasikan, mengarahkan dan mempengaruhi
orang lain dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Istilah transformasi berasal dari kata to transform, yang bermakna
mentransformasikan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang
berbeda, misalnya mentransformasikan visi menjadi realita atau menubah
sesuatu yang potensi menjadi aktual.
Dengan demikian seorang kepala sekolah dapat dikatakan
menerapkan kepemimpinan transormasional jika dia mampu mengubah
energi sumber-sumber daya baik manusia ataupun non manusia untuk
mencapai tujuan-tujuan sekolah. Gaya kepemimpinan semacam ini akan
mampu membawa kesadaran para pengikut dengan memunculkan ide-ide
produktif, hubungan yang sinergikal, kebertanggungjawaban, kebetulan
edukasi, dan cita-cita bersama. Pemimpin dengan kepemimpinan
transformasional adalah kepemimpinan yang memiliki visi kedepan dan
mampu

mengidentifikasi

perubahan

lingkungan

serta

mampu

mentransformasi perubahan tersebut kedalam organisasi,mempelopori


perubahan dan memberikan motivasi dan inspirasi kepada individuindividu karyawan untuk kreatif dan inovatif , serta membangun team
13

yang solid ,membawa pembaharuan dalam etos kerja dan kinerja


manajemen, berani dan bertanggung jawab memimpin dan mengendalikan
organisasi.
Kepemimpinan transformasional dapat dipandang secara makso
dan mikro, kepemimpinan mikro dipandang sebagai proses mempengaruhi
antar individu sementara secara makro merupakan proses memobilisasi
kekuatan untuk merubah sistem sosial dan mereformasi kelembagaan.
Dimensi-dimensi kepemimpinan transformasional :
Bass dan Avolio (1994) mengusulkan empat dimensi dalam kadar
kepemimpinan seseorang dengan konsep 4I yang artinya :
1. I Pertama adalah idealized influence yang dijelaskan sebagai perilaku
yang menghasilkan rasa hormat dan rasa percaya diri dari oarang-orang
yang dipimpinnya. Idealized influence mengandung makna saling berbagi
resiko melalui pertimbangan atas kebutuhan yang dipimpin diatas
kebutuhan pribadi, dan perilaku moral serta etis.
2. I Kedua adalah inspirasional motivation, yang tercermin dalam perilaku
yang senantiasa menyediakan tantangan dan makna atas pekerjaan orangorang yang dipimpin termasuk didalamnya adalah perilaku yang mampu
mengartikulasikan ekspektasi yang jelas dan perilaku yang mampu
mendemonstrasikan komitmen terhadap sasaran organisasi. Semangat ini
dibangkitkan melalui optimisme.
3. I Ketiga adalah intellectual

simulation.

Pemimpin

yang

memdemonstrasikan tipe kepemimpinan senantiasa menggali ide-ide baru


dan solusi yang kreatif dari orang-orang yang dipimpinnya. Ia juga selalu
mendorong pendekatan baru dalam melakukan pekerjaannya.
4. I Keempat adalah individualized consideration yang direfleksikan oleh
pemimpin yang selalu mendengarkan dengan penuh perhatisn, dan
memberikan perhatian khusus kepada kebutuhan prestasi dan kebutuhan
dari orang-orang yang dipimpinnya.
c. Kepemimpinan Visioner

14

Pemimpin yang bervisi merupakan syarat pemimpin di era otonomi,


dimana organisasi harus menampilkan kekuatan dan ciri khas budayanya
menuju kualitas pendidikan yang diharapkan. Visionary Leadership muncul
sebagai respon dari

statement yang menuntut pemimpin memiliki

kemampuan dalam menentukan arah masa depan melalui visi. Visi merupakan
idealisasi pemikiran pemimpin tentang masa depan organisasi yang shared
dengan stakehold dan merupakan kekuatan kunci bagi perubahan organisasi
yang menciptakan budaya yang maju dan antisipasi terhadap persaingan
global.
Kepemimpinan visioner adalah kemampuan
menciptakan,

merumuskan,

mengkomunikasikan/

pemimpin dalam
mensosialisasikan/

mentransfosmasikan dan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal


yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil interaksi sosial diantara anggota
organisasi yang diyakini sebagai cita-cita organisasi dimasa depan yang harus
diraih atau diwujudkan melalui komitmen semua personil.
Agar menjadi pemimpin yang visioner ,maka seseorang harus :
a. Memahami konsep visi
Visi adalah idealis pemikiran tentang masa depan organisasi yang
menciptakan budaya dan perilaku organisasi yang maju dan antisipatif
terhadap persaingan global sebagai tantangan zaman.
b. Memahami karekteristik dan unsur visi
Suatu visi memiliki karekteristik sebagai berikut : (1) memperjelas arah
dan tujuan, mudah dimengerti dan diartikulasikan, (2) mencerminkan citacita yang tinggi dan menetapkan standar, (3) menumbuhkan inspirasi,
semangat, kegairahan dan komitmen, (4) menciptakan makna bagi anggota
organisasi, (5) merefleksikan keunikan atau keistimewaan organisasi, (6)
menyiratkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh organisasi (7)
konsektual dalam arti memperhatikan secara seksama hubungan organisasi
dengan

lingkungan

dan

sejarah

perkembangan

organisasi

yang

bersangkutan.
c. Memahami tujuan visi
Visi yang baik memiliki tujuan utama yaitu : (1) memperjelas arah umum
perubahan kebijakan organisasi, (2) memotivasi karyawan untuk bertindak
15

dengan arah yang benar, (3) membantu proses mengkoordinasi tindakantindakan tertentu dari orang yang berbeda-beda.
Langkah-langkah menjadi visionary leadership :
a. Penciptaan visi
Visi tercipta dari hasil kreatifitas pikir pemimpin dari pengalaman pribadi
atau sebagai hasil pemikiran mendalam dengan personil lain berupa ideide tentang cita-cita organisasi dimasa depan yang ingin diwujudkan
bersama.
b. Perumusan visi
Kesadaran akan pentingnya visi dirumuskan dalam statement yang jelas
agar menjadi komitmen semua personil dalam mewujudkannya sehingga
pemimpin berupaya mengelaborasi informasi, cita-cita, keinginan pribadi
dipadukan dengan cita-cita/gagasan personil lain dalam forum komunikasi
yang intensif sehingga menghasilkan visi organisasi.
c. Transformasi Visi
Kemampuan membangun kepercayaan melalui komunikasi yang itensif
dan efektif.
d. Implementasi visi
Implementasi visi merupakan kemampuan dalam menjabarkan dan
menterjemahkan visi kedalam tindakan.

16

Sifat-sifat seorang visioner selain dia mampu melihat dan memanfaatkan


peluang-peluang dimasa depan ia juga memiliki prinsip kepemimpinan seperti
yang dikemukakan Stephen R.Covey tentang pemimpin yang berprinsip dengan
ciri-ciri sebagai berikut :
Selalu belajar
Berorientasi pada pelayan
Memancarkan energi positif
Mempercayai orang lain
Hidup seimbang
Melihat hidup sebagai pertualangan
Sinergisttik
Selalu berlatih untuk memperbaharui diri agar mampu mencapai
prestasi yang tinggi.
Seseorang dapat dikatakan sebagai pemimpin yang visioner dalam
menghasilkan

pendidikan

yang

produktif,

bila

selama

melaksanakan

tanggungjawab sebagai seorang pemimpin dapat mengelola proses pendidikannya


yang selalu menciptakan inovasi-inovasi dengan sumber daya yang tersedia telah
berhasil menciptakan output yang sesuai dengan visi yang ditetapkan dan berdaya
guna menjadi SDM yang handal yang sesuai dengan harapan atau keinginan
pengguna jasa pendidikan, dimana hasilnya dapat menciptakan lulusan yang yang
memiliki benefit terhadap individu yang melakukannya berupa kemampuan,
keahlian yang relevan dengan kehidupan dan dapat menolong diri dan keluarga
dalam kehidupannya, mampu menciptakan keuntungan sosial sebagai akibat
pemahaman seluruh lulusan untuk menciptakan kehidupan yang bermutu dan
menguntungkan lingkungan.

17

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan
untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan
menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki
kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan
dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.
Fungsi utama dari pemimpin pendidikan adalah kelompok untuk belajar
memutuskan dan bekerja yaitu membantu terciptanya suasana persaudaraan, kerja
sama, dengan rasa kebebasan, membantu kelompok untuk mengorganisir diri
yaitu ikut serta dalam memberikan rangsangan dan bantuan kepada kelompok
dalam menetapkan dan menjelaskan tujuan, membantu kelompok dalam
menetapkan prosedur kerja yaitu membantu kelompok dalam menganalisis situasi
untuk kemudian menetapkan prosedur mana yang lebih praktis dan bertanggung
jawab dalam mengambil keputusan bersama dengan kelompok serta bertanggung
jawab dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi organisasi.
Berdasarkan konsep, sifat, sikap dan cara-cara pemimpin tersebut
melakukan dan mengembangkan kegiatan kepemimpinan dalam lingkungan kerja
yang dipimpinya, maka kepemimpinan dapat di klasifikasikan ke dalam empat
tipe, yaitu tipe Otori, tipe Laissez Faire, tipe

Demokratis, dan tipe Pseudo

Demokratis.
Adanya syarat-syarat kepemimpinan menunjukkan bahwa kepemimpinan
bukan hanya memerlukan kesanggupan dan kemampuan saja, tetapi lebih lagi
kemampuan dan kesediaan pemimpin.
Adapun keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin
pendidikan yaitu, keterampilan dalam memimpin, keterampilan dalam hubungan
insani, keterampilan dalam proses kelompok, keterampilan dalam administrasi
personel dan keterampiln dalam menilai.
18

Pendekatan dan teori munculnya kepemimpinan pendidikan adalah sebagai


berikut, yaitu pendekatan Teori Sifat Pemimpin (Traits Theory), pendekatan
Perilaku Pemimpin (Behavior Theory) dan pendekatan Kontingensi.
Terdapat tiga jenis kepemimpinan yang dipandang representatif dengan
tuntutan era desentralisasi yaitu kepemimpinan transaksional, kepemimpinan
trasformasional, dan kepemimpinan visioner.

3.2 SARAN
Berdasarkan pada uraian diatas maka hendaknya para pemimpin,
khususnya pemimpin dalam bidang pendidikan dalam melaksanakan aktivitasnya
kepemimpinannya dalam mempengaruhi para bawahannya berdasarkan pada
kriteria-kriteria kepemimpinan yang baik. Dalam membuat suatu rencana atau
manajemen pendidikan hendaknya para pemimpin memahami keadaan atau
kemampuan yang dimiliki oleh para bawahannya, dan dalam pembagian
pemberian tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Pemimpin
hendaknya memahami betul akan tugasnya sebagai seorang pemimpin.Dalam
melaksanakan akvititasnya baik pemimpin ataupun yang dipimpin menjalin suatu
hubungan kerjsama yang saling mendukung untuk tercapainya tujuan organisasi
atau instansi.

19