Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH

OLEH
KELOMPOK IV
ELZA ELISABETH

( Ketua )

RISNA

(Sekretaris)

ARYA SAPUTRA

(Anggota)

M. ASRAF

(Anggota)

SALDI ABDILLAH

(Anggota)

MADRASAH TSANAWIAH NEGERI 03 BOMBANA


TAHUN AJARAN 2016 / 2017
POLEANG BOMBANA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Paradigma susunan kelembagaan negara mengalami perubahan
drastis sejak reformasi konstitusi mulai 1999 sampai dengan 2002. Karena
berbagai alasan dan kebutuhan, lembaga-lembaga negara baru dibentuk,
meskipun ada juga lembaga yang dihapuskan. Salah satu lembaga yang
dibentuk adalah Mahkamah Konstitusi (MK). MK didesain menjadi pengawal
dan sekaligus penafsir terhadap Undang-Undang Dasar melalui putusanputusannya. Dalam menjalankan tugas konstitusionalnya, MK berupaya
mewujudkan visi kelembagaannya, yaitu tegaknya konstitusi dalam rangka
mewujudkan cita negara hukum dan demokrasi demi kehidupan kebangsaan
dan kenegaraan yang bermartabat. Visi tersebut menjadi pedoman bagi MK
dalam menjalankan kekuasaan kehakiman secara merdeka dan bertanggung
jawab sesuai amanat konstitusi.
Kiprah MK sejak kehadirannya enam tahun silam banyak dinilai cukup
signifikan terutama dalam kontribusi menjaga hukum dan mengembangkan
demokrasi. Namun usianya yang masih belia, membuat MK belum begitu
dikenal oleh khalayak luas. Berbagai hal, istilah dan konsep yang terkait
dengan MK dan segenap kewenangannya belum begitu dipahami oleh
masyarakat. Sejalan dengan misi MK untuk membangun konstitusionalitas
Indonesia serta budaya sadar berkonstitusi maka upaya memberikan
pemahaman kepada masyarakat mengenai kedudukan, fungsi dan peran MK
terus menerus dilakukan.
Dari paparan latar belakang di atas, penulis tertarik untk menggali
lebih dalam mengenai Mahkamah Konstitusi ini, baik itu mengenai sejarah
terbentuknya, wewenangnya, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan
Mahkamah Konstitusi. Untuk lebih detail lagi mengenai Mahkamah Konstitusi
ini akan dipaparkan dalam bab selanjutnya.
B.

Rumusan Masalah

1. Apa yang di maksud Mahkamah Konstitusi?


2. Bagaimana sejarah terbentuknya Mahkamah Konstitusi tersebut?
3. Apa saja wewenang Mahkamah Konstitusi ?
4. Bagaimana Undang-Undang yang Mengatur Mahkamah Konstitusi?

C.

Tujuan Penulisan Makalah


1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan mahkamah konstitusi serta
sejarah terbentuknya Mahkamah Konstitusi tersebut.
2. Untuk mengetahui apa saja wewenang Mahkamah Konstitusi.
3. Untuk mengetahui Undang-Undang yang Mengatur Mahkamah
Konstitusi?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Mahkamah konstitusi
Mahkamah konstitusi adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud
dalam UUD 1945 pasal 24 C yang berbunyi :
(1) Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar,
memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh
Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik dan memutus perselisihan
tentang hasil pemilihan umum.
(2) Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwaklian Rakyat
mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UndangUndang Dasar.
(3) Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi yang
ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan masing-masing tiga orang oleh Mahkamah Agung,
tiga orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat, dan tiga orang oleh Presiden.
(4) Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh hakim konstitusi.
(5) Hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil,
negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan, serta tidak merangkap sebagai
pejabat negara.
(6) Pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi, hukum acara serta ketentuan lainnya
tentang Mahkamah Konstitusi diatur dengan undang-undang.
Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu lembaga konstitusi yang melakukan kekuasaan
kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum keadilan
hal ini disebutkan dalam pasal 2 UU No.24 tahun 2003.
Lembaga ini mempunyai Sembilan orang hakim konstitusi yang ditetapkan dengan keputusan
presiden. Susunan mahkamah konstitusi terdiri atas seorang ketua merangkap anggota, seorang
wakil ketua merangkap anggota dan tujuh orang hakim konstitusi, hal ini disebutkan dalam pasal
4 ayat 1 dan 2 UU No.24 tahun 2003.

B.

Sejarah Terbentuk Mahkamah Konstitusi (MK)


Sejarah berdirinya lembaga Mahkamah Konstitusi (MK) diawali dengan
diadopsinya ide MK (Constitutional Court) dalam amandemen konstitusi yang

dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tahun 2001


sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan Pasal 24 ayat (2), Pasal 24C, dan
Pasal 7B Undang-Undang Dasar 1945 hasil Perubahan Ketiga yang disahkan
pada 9 Nopember 2001. Ide pembentukan MK merupakan salah satu
perkembangan pemikiran hukum dan kenegaraan modern yang muncul di
abad ke-20. Setelah disahkannya Perubahan Ketiga UUD 1945 maka dalam
rangka menunggu pembentukan MK, MPR menetapkan Mahkamah Agung
(MA) menjalankan fungsi MK untuk sementara sebagaimana diatur dalam
Pasal III Aturan Peralihan UUD 1945 hasil Perubahan Keempat.
DPR dan Pemerintah kemudian membuat Rancangan Undang-Undang
mengenai Mahkamah Konstitusi. Setelah melalui pembahasan mendalam,
DPR dan Pemerintah menyetujui secara bersama UU Nomor 24 Tahun 2003
tentang Mahkamah Konstitusi pada 13 Agustus 2003 dan disahkan oleh
Presiden pada hari itu (Lembaran Negara Nomor 98 dan Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4316).Dua hari kemudian, pada tanggal 15 Agustus 2003,
Presiden melalui Keputusan Presiden Nomor 147/M Tahun 2003 hakim
konstitusi untuk pertama kalinya yang dilanjutkan dengan pengucapan
sumpah jabatan para hakim konstitusi di Istana Negara pada tanggal 16
Agustus 2003.Lembaran perjalanan MK selanjutnya adalah pelimpahan
perkara dari MA ke MK, pada tanggal 15 Oktober 2003 yang menandai mulai
beroperasinya kegiatan MK sebagai salah satu cabang kekuasaan kehakiman
menurut ketentuan UUD 1945.
C.

Wewenangan Mahkamah Konstitusi


Sebagai pelaku kekuasaan kehakiman, fungsi konstitusionalitas yang dimiliki oleh
Mahkamah Konstitusi adalah fungsi peradilan untuk menegakkan hukum dan keadilan. Fungsi
Mahkamah Konstitusi dapat ditelusuri dari latar belakang pembentukannya yaitu untuk
menegakkan supremasi konstitusi
Didalam penjelasan umum undang-undang Mahkamah Konstitusi dijelaskan bahwa
tugas dan fungsinya adalah menangani perkara ketatanegaraan atau perkara konstitusional
tertentu dalam rangka menjaga konstitusi agar dilaksanakan secara tanggung jawab sesuai

dengan kehendak rakyat dan cita-cita demokrasi. Selain itu keberadaan Mahkamah Konstitusi
juga dimaksudkan sebagai koreksi terhadap pengalaman ketatanegaraan.
Fungsi tersebut dijalankan melalui wewenang yang dimiliki yaitu memeriksa, mengadili,
dan memutus perkara tertentu berdasarkan pertimbangan konstitusional. Berdasarkan latar
belakang ini setidaknya terdapat lima fungsi yang melekat keberadaan Mahkamah Konstitusi
dan dilaksanakan melalui wewenangnya yaitu sebagai pengawal konstitusi, penafsir final
konstitusi, pelindung hakasasi manusia, pelindung hak konstitusional warga negara, dan
pelindung demokrasi.
Tugas dan wewenang yang dimiliki oleh Mahkamah Konstitusi telah ditentukan dalam
pasal 24 C UUD 1945 pada ayat (1) dan (2), yaitu :
1.) Pengujian undang-undang terhadap UUD 1945
Undang-undang adalah produk politik biasanya merupakan kristalisasi kepentingankepentingan politik para pembuatnya. Sebagai produk politik, isinya mungkin saja mengandung
kepentingan yang tidak sejalan atau melanggar konstitusi. Sesuai prinsip hierarki hukum, tidak
boleh isi suatu peraturan undang-undang yang lebih rendah bertentangan atau tidak mengacu
pada peraturan di atasnya. Untuk menguji apakah suatu undang-undang bertentangan atau tidak
dengan konstitusi, mekanisme yang disepakati adalah judicial review. Jika undang-undang atau
bagian di dalamnya itu dinyatakan terbukti tidak selaras dengan konstitusi, maka produk hukum
itu dibatalkan Mahkamah Konstitusi. Melalui kewenangan judicial review, Mahkamah Konstitusi
menjadi lembaga negara yang mengawal agar tidak lagi terdapat ketentuan hukum yang keluar
dari koridor konstitusi. Mengenai pengujian UU, diatur dalam Bagian Kesembilan UU Nomor 24
Tahun 2003 dari Pasal 50 sampai dengan Pasal 60sengketa kewenangan konstitusional antar
lembaga negara
2.) Sengketa kewenangan konstitusional antar lembaga negara
Sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara adalah perbedaan pendapat yang
disertai persengketaan dan klaim lainnya mengenai kewenangan yang dimiliki oleh masingmasing lembaga negara tersebut. Hal ini mungkin terjadi mengingat sistem relasi antara satu
lembaga dengan lembaga lainnya menganut prinsip check and balances, yang berarti sederajat
tetapi saling mengendalikan satu sama lain. Sebagai akibat relasi yang demikian itu, dalam
melaksanakan kewenangan masing-masing timbul kemungkinan terjadinya perselisihan dalam
menafsirkan amanat UUD. Mahkamah Konstitusi dalam hal ini, akan menjadi wasit yang adil
untuk menyelesaikannya. Kewenangan mengenai ini telah diatur dalam Pasal 61 sampai dengan
Pasal 67 UU Nomor 24 Tahun 2003.

3.) Pembubaran Partai Politik


Kewenangan ini diberikan agar pembubaran partai politik tidak terjebak pada otoritarianisme
dan arogansi, tidak demokratis, dan berujung pada pengebirian kehidupan perpolitikan yang
sedang dibangun. Mekanisme yang ketat dalam pelaksanaannya diperlukan agar tidak
berlawanan dengan arus kuat demokrasi. Partai politik dapat dibubarkan oleh Mahkamah
Konstitusi jika terbukti ideologi, asas, tujuan, program dan kegiatannya bertentangan dengan
UUD 1945. Pasal 68 sampai dengan Pasal 73 UU Nomor 24 Tahun 2003 telah mengatur tentang
kewenangan ini.
4.) Perselisihan hasil Pemilu
Perselisihan hasil Pemilu adalah perselisihan antara KPU dengan Peserta Pemilu mengenai
penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional. Perselisihan hasil pemilu dapat terjadi
apabila penetapan KPU mempengaruhi:
a. Terpilihnya anggota DPD,
b. Penetapan pasangan calon yang masuk pada putaran kedua pemilihan presiden dan wakil
presiden serta terpilihnya pasangan presiden
c. Perolehan kursi partai politik peserta pemilu di satu daerah pemilihan. Hal ini telah
ditentukan dalam Bagian Kesepuluh UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi dari Pasal 74 sampai dengan Pasal 79.
5.) Pendapat DPR mengenai dugaan Pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Kewenangan ini diatur pada Pasal 80 sampai dengan Pasal 85 UU Nomor 24 Tahun 2003
tentang Mahkamah Konstitusi. Dalam sistem presidensial, pada dasarnya presiden tidak dapat
diberhentikan sebelum habis masa jabatannya habis, ini dikarenakan presiden dipilih langsung
oleh rakyat. Namun, sesuai prinsip supremacy of law dan equality before law, presiden dapat
diberhentikan apabila terbukti melakukan pelanggaran hukum sebagaimana yang ditentukan
dalam UUD. Tetapi proses pemberhentian tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip
negara hukum. Hal ini berarti, sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan seorang
presiden bersalah, presiden tidak bisa diberhentikan. Pengadilan yang dimaksud dalam hal ini
adalah Mahkamah Konstitusi. Dalam hal ini hanya DPR yang dapat mengajukan ke Mahkamah
Konstitusi. Namun dalam pengambilan sikap tentang adanya pendapat semacam ini harus
melalui proses pengambilan keputusan di DPR yaitu melalui dukungan 2/3 (dua pertiga) jumlah
seluruh anggota DPR yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri sekurang-kurangnya 2/3
(dua per tiga) anggota DPR.
D.

Undang-Undang yang Mengatur Mahkamah Konstitusi

Undang-undang yang mengatur lembaga Mahkamah Konstitusi terdapat pada UUD RI 1945
Pasal 24c dan UU No.23 Tahun 2003.
- UUD RI 1045 Pasal 24C berisikan :
1.

Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan


terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap
Undang-Undang Dasar, mmemutus sengketa kewenangan lembaga begara daan
kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai

2.

politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.


Mahkamah Konstitusi memberikan putusan atas pendapat Dewan
Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaraan oleh Presiden dan/atau Wakil

Presiden menurut Undang-Undang Dasar.


5. Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi yang
ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan masing-masing tiga orang oleh Mahkamah
Agung, tiga orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat, dan tiga oleh Presiden.
6. Ketua dan Waki Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh hakim konstitusi.
7. Hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil,
negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan, serta tidak merangkap
sebagai pejabat negara.
8. Pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi, hukum acara serta ketentuan
lainnya tentang Mahkamah Konstitusi diatur dengan undang-undang.
- UU No.23 Tahun 2003
Menimbang :
a)

bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum yang


berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, bertujuan untuk mewujudkan tata kehidupan bangsa dan negara yang tertib,

b)

bersih, makmur, dan berkeadilan;


bahwa Mahkamah Konstitusi sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman
mempunyai peranan penting dalam usaha menegakkan konstitusi dan prinsip negara
hukum sesuai dengan tugas dan wewenangnya sebagaimana ditentukan dalam

c)

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;


bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 perlu mengatur tentang pengangkatan dan
pemberhentian hakim konstitusi, hukum acara, dan ketentuan lainnya tentang
Mahkamah Konstitusi;

d)

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan


huruf c serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal III Aturan Peralihan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu membentuk UndangUndang tentang Mahkamah Konstitusi;

Mengingat :
1. Pasal 7A, Pasal 7B, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 24, Pasal 24C, dan Pasal 25 UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan
Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 74, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2951) sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1999 Nomor 147, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3879).

BAB III
PENUTUP
B. Simpulan
Latar belakang terbentuknya lembaga Mahkamah Konstitusi (MK)
diawali dengan diadopsinya ide MK (Constitutional Court) dalam amandemen
konstitusi yang dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada
tahun 2001. DPR dan Pemerintah kemudian membuat Rancangan UndangUndang mengenai Mahkamah Konstitusi. Setelah melalui pembahasan
mendalam, DPR dan Pemerintah menyetujui secara bersama UU Nomor 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi pada 13 Agustus 2003 dan
disahkan oleh Presiden pada hari itu (Lembaran Negara Nomor 98 dan
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4316).
Adapun wewenangan Mahkamah Konstitusi yang telah ditentukan
dalam UUD 1945 perubahan ketiga Pasal 24C ayat yaitu menguji (judicial
review) undang-undang terhadap UUD, memutus sengketa kewenangan
lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD, memutuskan
pembubaran partai politik, memutus perselisihan tentang hasil pemilihan
umum, dan memberhentikan presiden dan wakil presiden apabila melanggar
hukum.

DAFTAR PUSTAKA
Asshiddiqie, Jimly, Kedudukan Mahkamah Konstitusi,
http://www.jimly.com/makalah/ namafile/23/KEDUDUKAN_MK.doc
diakses 23 oktober 2016
http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.ProfilMK&id=1
diakses 23 oktober 2016
Singarek, http://birokrasikomplek.blogspot.com/2011/06/tugas-dan-fungsimahkamah-konstitusi.html diakses 23 oktober 2016
Syahuri, Taufiqurrohman, Tafsir Konstitusi Berbagai Aspek Hukum, Cetakan I,
Jakarta: Kencana, 2011.