Anda di halaman 1dari 28

PENGENDALIAN PENCEMARAN PADA LINGKUNGAN

SERTA PRINSIP BIOLOGI DALAM MENGATASI LIMBAH


Annajmu Sasna Junaidi, Citra Fajri, Hasanati,
Indriani, Kun Marifatin, Maulina Hidayah,
Putri Noviani Sinaga
Program Studi Pendidikan Biologi,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Riau

A. Pengertian Pencemaran Lingkungan


Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya
makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau
berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam
sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan
peruntukannya (Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4
Tahun 1982).
Peristiwa pencemaran lingkungan disebut polusi. Zat atau bahan yang dapat
mengakibatkan pencemaran disebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut
polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makhluk
hidup. Contohnya, karbon dioksida dengan kadar 0,033% di udara berfaedah bagi
tumbuhan, tetapi bila lebih tinggi dari 0,033% dapat rnemberikan efek merusak.
Suatu zat dapat disebut polutan apabila jumlahnya melebihi jumlah normal,
berada pada waktu yang tidak tepat dan berada pada tempat yang tidak tepat.
Adapun sifat polutan adalah :
1 Merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat lingkungan
2

tidak merusak lagi.


Merusak dalam jangka waktu lama. Contohnya Pb tidak merusak bila
konsentrasinya rendah. Akan tetapi Dalam jangka waktu yang lama, Pb
dapat terakumulasi dalam tubuh sampai tingkat yang merusak.

Bahan yang menyebabkan pencemaran adalah sebagai berikut:

a. Kimiawi, berupa zat radio aktif, logam (Hg, Pb, As, Cd, Cr dan Hi), pupuk
anorganik, pestisida, detergen dan minyak.
b. Biologi, berupa mikroorganisme, misalnya Escherichia coli, Entamoeba
coli, dan Salmonella thyposa.
c. Fisik, berupa kaleng-kaleng, botol, plastik, dan karet.
Menurut WHO, tingkat pencemaran didasarkan pada kadar zat pencemar
dan waktu (lamanya) kontak. Tingkat pencemaran dibedakan menjadi 3, yaitu
sebagai berikut:
a. Pencemaran yang mulai mengakibatkan iritasi (gangguan) ringan pada
panca indra dan tubuh serta telah menimbulkan kerusakan pada ekosistem
lain. Misalnya gas buangan kendaraan bermotor yang menyebabkan mata
pedih.
b. Pencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada faal tubuh dan
menyebabkan sakit yang kronis. Misalnya pencemaran Hg (air raksa) di
Minamata Jepang yang menyebabkan kanker dan lahirnya bayi cacat.
c. Pencemaran yang kadar zat-zat pencemarnya demikian besarnya sehingga
menimbulkan gangguan dan sakit atau kematian dalam lingkungan.
Misalnya pencemaran nuklir.
Paramater-parameter yang merupakan indikator terjadinya pencemaran
adalah sebagai berikut :
1. Parameter Kimia
Parameter kimia meliputi CO2, pH, alkalinitas, fosfor, dan logam-logam
berat.
2. Parameter Biokimia
Parameter biokimia meliputi BOD (Biochemical Oxygen Demand), yaitu
jumlah oksigen dalam air. Cars pengukurannya adalah dengan menyimpan
sampel air yang telah diketahui kandungan oksigennya selama 5 hari.
Kemudian kadar oksigennya diukur lagi. BOD digunakan untuk mengukur
banyaknya pencemar organik. Menurut menteri kesehatan, kandungan
oksigen dalam air minum atau BOD tidak boleh kurang dari 3 ppm.
3. Parameter Fisik
Parameter fisik meliputi temperatur, warna, rasa, bau, kekeruhan, dan
radioaktivitas.
4. Parameter Biologi

Parameter biologi meliputi ada atau tidaknya mikroorganisme, misalnya,


bakteri coli, virus, bentos, dan plankton.
B. Macam-Macam Pencemaran
1. Pencemaran udara
Pencemar udara dapat berupa gas dan partikel. Contohnya sebagai berikut:
a. Gas H2S, gas ini bersifat racun, terdapat di kawasan gunung berapi, bisa
juga dihasilkan dari pembakaran minyak bumi dan batu bara.
b. Gas CO dan CO2, karbon monoksida (CO) tidak berwarna dan tidak berbau,
bersifat racun, merupakan hash pembakaran yang tidak sempurna dari bahan
buangan mobil dan mesin letup. Gas CO 2 dalam udara murni berjumlah
0,03%. Bila melebihi toleransi dapat meng- ganggu pernapasan. Selain itu,
gas CO2 yang terlalu berlebihan di bumi dapat mengikat panas matahari
sehingga suhu bumi panas. Pemanasan global di bumi akibat CO2 disebut
juga sebagai efek rumah kaca.
c. Partikel SO2 dan NO2, kedua partikel ini bersama dengan partikel cair
membentuk embun, membentuk awan dekat tanah yang dapat mengganggu
pernapasan. Partikel padat, misalnya bakteri, jamur, virus, bulu, dan tepung
sari juga dapat mengganggu kesehatan
d. Batu bara yang mengandung sulfur melalui pembakaran akan menghasilkan
sulfur dioksida. Sulfur dioksida bersama dengan udara serta oksigen dan
sinar matahari dapat menghasilkan asam sulfur. Asam ini membentuk kabut
dan suatu saat akan jatuh sebagai hujan yang disebut hujan asam. Hujan
asam dapat menyebabkan gangguan pada manusia, hewan, maupun
tumbuhan. Misalnya gangguan pernapasan, perubahan morfologi pada daun,
batang, dan benih.
Sumber polusi udara lain dapat berasal dari radiasi bahan radioaktif,
misalnya, nuklir. Setelah peledakan nuklir, materi radioaktif masuk ke dalam
atmosfer dan jatuh di bumi. materi radioaktif ini akan terakumulusi di tanah, air,
hewan, tumbuhan, dan juga pada manusia. Efek pencemaran nuklir terhadap
makhluk hidup, dalam taraf tertentu, dapat menyebabkan mutasi, berbagai
penyakit akibat kelainan gen, dan bahkan kematian Pencemaran udara dinyatakan
dengan ppm (part per million) yang artinya jumlah cm3 polutan per m3 udara.
2. Pencemaran air
Polusi air dapat disebabkan oleh beberapa jenis pencemar sebagai berikut:

a. Pembuangan limbah industri, sisa insektisida, dan pembuangan

sampah

domestik, misalnya, sisa detergen mencemari air. Buangan industri seperti Pb,
Hg, Zn, dan CO, dapat terakumulasi dan bersifat racun.
b. Sampah organik yang dibusukkan oleh bakteri menyebabkan O2 di air
berkurang sehingga mengganggu aktivitas kehidupan organisme air
c. Fosfat hasil pembusukan bersama HO3 dan pupuk pertanian terakumulasi dan
menyebabkan eutrofikasi, yaitu penimbunan mineral yang menyebabkan
pertumbuhan yang cepat pada alga (Blooming alga). Akibatnya, tanaman di
dalam air tidak dapat berfotosintesis karena sinar matahari terhalang.
Salah satu bahan pencemar di laut ada lah tumpahan minyak bumi, akibat
kecelakaan kapal tanker minyak yang sering terjadi. Banyak organisme akuatik
yang mati atau keracunan karenanya. Untuk membersihkan kawasan tercemar
diperlukan koordinasi dari berbagai pihak dan dibutuhkan biaya yang mahal. Bila
terlambat penanggulangan-nya, kerugian manusia semakin banyak. Secara
ekologis, dapat mengganggu ekosistem laut.
3. Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah disebabkan oleh beberapa jenis pencemaran berikut ini :
a. Sampah-sampah plastik yang sukar hancur, botol, karet sintesis, pecahan
kaca, dan kaleng.
b. Detergen yang bersifat non bio degradable (secara alami sulit diuraikan).
c. Zat kimia dari buangan pertanian, misalnya insektisida.
4. Pencemaran Suara
Pencemaran suara yaitu suatu perubahan yang tidak diinginkan secara fisik,
kimia, ataupun biologi pada udara yang dapat membahayakan kehidupan makhluk
hidup baik dalam skala mikro ataupun makro. Polutan pencemaran udara bisa
berasal dari kegiatan manusia, limbah industri atau rumah tangga, dan lain-lain.
Misalnya suara bising kendaraan bermotor, kapal terbang, deru mesin pabrik,
radio/tape recorder yang berbunyi keras sehingga mengganggu pendengaran.
C. Penanggulangan Pencemaran
1. Penanggulangan Secara Administratif
Penanggulangan secara administratif terhadap pencemaran lingkungan
merupakan tugas pemerintah, yaitu dengan membuat peraturan-peraturan atau

undang-undang. Beberapa peraturan yang telah dikeluarkan, antara lain sebagai


berikut :
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang
pengendalian pencemaran udara.
c. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun
201 tentang baku mutu air limbah.
d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang
pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.
e. Pabrik tidak boleh menghasilkan produk (barang) yang dapat mencemari
lingkungan. Misalnya, pabrik pembat lemari es, AC dan sprayer tidak boleh
menghasilkan produk yang menggunakan gas CFC sehingga dapat
menyebabkan penipisan dan berlubangnya lapisan ozon di stratofer.
f. Industri harus memiliki unit-unit pengolahan limbah (padat, cair, dan gas)
sehingga limbah yang dibuang ke lingkungansudah terbebas dari zat-zat
yang membahayakan lingkungan.
g. Pembuangan sampah dari pabrik harus dilakukan ke tempat-tempat tertentu
yang jauh dari pemukiman.
h. Sebelum dilakukan pembangunan pabrik atau proyek-proyek industri harus
dilakukan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).
i. Pemerintah mengeluarkan buku mutu lingkungan, artinya standar untuk
menentukan mutu suatu lingkungan. Untuk lingkungan air ditentukan baku
mutu air, sedangkan untuk lingkungan udara ditentukan baku mutu udara.
Dalam buku mutua air, antara lain tercantum batasan kadar bahan pencemar
logam berat, misalnya fosfor dan merkuri. Didalam buku mutu udara, antara
lain tercantum batasan kadar bahan pencemar, misalnya gas CO 2 dan CO.
Pemerintah akan memberikan sanksi kepada pabrik yang menghasilkan
limbah dengan bahan pencemar yang melebihi standar baku mutu.
2. Penanggulangan Secara Teknologis
Penanggulangan pencemaran lingkungan secara teknologis, misalnya
menggunakan peralatan untuk mengolah sampah atau limbah. Salah satu
contohnya yaitu insinerator. Insinerator merupakan metode penghancuran limbah
anorganik dengan melalui pembakaran dalam suatu sistem yang terkontrol dan

terisolir dari lingkungan sekitarnya suhu yang digunakan sangat tinggi sehingga
tidak mengahasilkan asap.
3. Penanggulangan Secara Edukatif
Penangkalan pencemaran secara edukatif dilakukan melalui jalur pendidikan
baik formal maupun nonformal. Melalui pendidikan formal, disekolah
dimasukkan pengetahuan tentang lingkungan hidup tentang lingkungan hidup
kedalam mata pelajaran yang terkait, misalnya IPA dan Pendidikan agama.
Melalui jalur pendidikan nonformal dilakukan penyuluhan kepada masyarakat
tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan pencegahan serta penanggulangan
pencemaran

lingkungan.

Penyuluhan

dan

pendidikan

diharapkan

dapat

meningkatkan kesadaran baik secara individu maupun secara berkelompok untuk


memahami pentingnya kelestarian lingkungan.
4. Penanggulangan secara Bioteknologi
Berikut cara bioteknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi
pencemaran lingkungan:
A. Biogas
Biogas adalah gas produk akhir pecernaan atau degradasi anaerobik bahanbahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas oksigen
atau udara. Komponen terbesar biogas adalah methana (CH4, 54-80%-vol) dan
karbondioksida (CO2, 20-45%-vol) serta sejumlah kecil H2, N2 dan H2S.
Sumber bahan baku biogas yang prospektif di Indonesia diperkirakan ada 3
jenis bahan baku yang prospektif untuk dikembangkan sebagai bahan baku biogas
di Indonesia, antara lain:
a.

Kotoran Ternak dan Manusia


Ketersediaan kotoran ternak di Indonesia cukup melimpah. Berdasarkan

hasil riset yang pernah ada diketahui bahwa setiap 10 kg kotoran ternak sapi
berpotensi menghasilkan 360 liter biogas. Dengan jumlah populasi ternak yang
demikian tinggi, dapat dibayangkan berapa jumlah biogas yang dapat dihasilkan.

Pengolohan kotoran hewan menjadi biogas memberikan dampak positif


berganda. Selain dihasilkannya biogas sebagai energi alternatif, dalam proses ini
dihasilkan juga bahan sisa fermentasi yang dapat digunakan langsung untuk
memupuk tanaman. Pupuk sisa proses fermentasi memiliki kualitas yang baik
dibandingkan dengan pupuk hasil pengomposan biasa, karena bakteri patogen dan
biji tanaman gulma dalam kotoran ternak mati selama proses fermentasi.
b.

Sampah organik
Sampah organik berasal dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan

yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan, rumah
tangga, dan industri. Berdasarkan hasil penelitian, pembuatan biogas dari sampah
organik menghasilkan biogas dengan komposisi metana 51,53-58,18% dan gas
CO2 41,82-48,67%.
c.

Limbah Cair
Limbah cair adalah sisa pembuangan yang dihasilkan dari sutau proses yang

sudah itdak digunakan kembali, biasanya dapat kita peroleh dari kegiatan industri,
rumah tangga, peternakan, dan pertanian. Tidak semua limbah cair yang dapat
digunakan, hanya limbah cair organik yang bisa digunakan untuk pembuatan
biogas. Penerapan biogas memberikan manfaat yang cukup banyak antara lain:
a. Mengurangi pencemaran lingkungan akibat bau dari kotoran diternak yang
ditumpuk begitu saja. Dengan proses fermentasi dalam digester, bau tak
sedap dapat dihilangkan dan akan terbentuk gas metan yang bermanfaat.
b. Mengurangi penggunaan bahan bakar lain (minyak tanah, kayu, dsb) oleh
rumah tangga atau komunitas.
c. Menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi sebagai hasil sampingan.

d. Menjadi

metode

pengolahan

sampah (raw waste) yang baik dan


mengurangi pembuangan sampah
ke lingkungan (aliran air/sungai).
e. Meningkatkan
kualitas
udara
karena mengurangi asap dan jumlah
karbodioksida

akibat

pembakaran bahan

bakar

minyak/kayu bakar.
f. Secara ekonomi, murah dalam
instalasi serta menjadi investasi
yang menguntungkan dalam jangka

Gambar : Siklus Biogas

panjang.
B. Biodiesel
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono-alkyl
ester dari rantai panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan
bakar dari mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur
atau lemak hewan. Adapun kelebihan biodiesel :
a. Substansi tidak beracun dan bisa diurai oleh lingkungan sehingga ramah
lingkungan.
b. Emisi karbon dioksida yang dikeluarkan biodiesel sekitar 75% lebih rendah
dibandingkan yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil.
c. Tidak mengandung bahan kimia beracun.
d. Dapat pula bertindak sebagai pelumas sehingga membuat mesin lebih awet
dan tahan lama.
e. Lebih praktis dan meniadakan biaya up grading mesin.
Kelemahan :
a. Kemampuannya dalam menghasilkan tenaga lebih kecil dibandingkan
bahan bakar fosil.
b. Bila disimpan dalam waktu lama, cenderung berubah menjadi seperti gel
sehingga berpotensi
mesin.

menyumbat mesin dan ditumbuh mikroba pada

c. Semakin banyak tanaman bahan baku yang harus ditanam untuk memenuhi
permintaan.

C. Bioetanol
Bioetanol adalah etanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa (gula) yang
dilanjutkan dengan proses distilasi. Proses distilasi dapat menghasilkan etanol
dengan kadar 95% volume, untuk digunakan sebagai bahan bakar biofuel (bahan
bakar cair dari pengolahan tumbuhan) disamping Biodiesel yang perlu lebih
dimurnikan lagi hingga mencapai 99 % yang lazim disebut fuel grade etanol.
Bioetanol merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat
menyerupai minyak premium. Bioetanol bisa didapat dari tanaman seperti tebu,
jagung, gandum, singkong, padi, lobak, gandum hitam.
Bioetanol adalah ethanol yang diproduksi dari tumbuhan. Bioethanol
mampu juga menurunkan emisi CO2. Dalam hal prestasi mobil, bioethanol dan
gasohol (kombinasi bioethanol dan bensin) tidak kalah dengan bensin. Pada
dasarnya pembakaran bioethanol tidak menciptakan CO2 netto ke lingkungan
karena zat yang sama akan diperlukan untuk pertumbuhan tanaman sebagai bahan
baku bioethanol.

D. Bioremediasi
Bioremediasi adalah memanfaatkan mikroba (jamur dan bakteri) dan
tanaman untuk mengurangi polutan atau membersihkan kontaminasi lingkungan.
Bioremediasi mengacu pada segala proses yang menggunakan mikroorganisme
seperti bakteri, fungi (mycoremediasi), yeast, alga dan enzim-enzim yang
dihasilkan oleh mikroba tersebut untuk membersihkan atau menetralkan bahanbahan kimia dan limbah secara aman dan salah satu alternatif dalam mengatasi
masalah lingkungan. Sistem bioremediasi yang paling sering di gunakan adalah
fitoremediasi

yaitu

usaha

untuk

menurunkan

bahan

pencemar

dengan

menggunakan agen hayati atau tumbuhan, tumbuhan air yang paling sering
digunakan adalah eceng gondok, duck weed dan juga apu-apu. Organisme yang
umum digunakan untuk Bioremediasi :

Minyak : Pseudomonas, Proteus, Bacillus, Penicillum, Cunninghamella


Aromatic Rings : Pseudomonas, Achromobacter, Bacillus, Arthrobacter,

Penicillum, Aspergillus, Fusarium, Phanerocheate


Cadmium : Staphlococcus, Bacillus, Pseudomonas, Citrobacter, Klebsiella,

Rhodococcus
Sulfur : Thiobacillus

Chromium : Alcaligenes, Pseudomonas, Copper, Escherichia,


Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi bahan pencemar

agar menjadi senyawa yang tidak beracun atau kurang beracun, sehingga kondisi
lingkungan dapat kembali seperti semula. Contoh dalam teknologi bioremediasi:
bioaugmentasi, bioreaktor, biostimulasi, bioventing, pengomposan, landfarming.
Bioremediasi terbagi menjadi 2 :
1. In situ (on site): dapat dilakukan langsung di lokasi tanah tercemar.
Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan,
venting (injeksi), dan bioremediasi.

2.

Ex situ (off site): tanah tercemar digali dan dipindahkan ke dalam


penampungan yang lebih terkontrol. Setelah itu di daerah aman, tanah
tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut
disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke
bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak
yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Kelemahan
bioremediasi ex-situ ini jauh lebih mahal dan rumit. Sedangkan keuntungan
Bioremediasi ex-situ adalah bisa berlangsung lebih cepat dan mudah
dikontrol. Selain itu, mampu meremediasi jenis kontaminan dan jenis tanah
yang lebih beragam.

Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dlm bioremediasi:


1. Stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan
penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi pH, dan sebagainya
2. Inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu
mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus
3. Penerapan immobilized enzymes
4. Penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan

atau

mengubah pencemar.
Bioremediasi adalah proses penguraian limbah organik/anorganik polutan
secara

biologi

dalam

kondisi

terkendali

dengan

tujuan

mengontrol,

mereduksi,memecah. mendegradasi atau bahkan mereduksi bahan pencemar dari


lingkungan menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon
dioksida dan air). Kelebihan teknologi ini adalah:
1. Relatif lebih ramah lingkungan,
2. Biaya penanganan yang relatif lebih murah
3. Bersifat fleksibel.
Saat

bioremediasi

terjadi,

enzim-enzim

yang

diproduksi

oleh

mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia


polutan tersebut, disebut biotransformasi. Pada banyak kasus, biotransformasi
berujung pada biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi, strukturnya

menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya
dan tidak beracun. Adapun jenis-jenis bioremediasi adalah sebagai berikut :
1. Biostimulasi
Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air
atau tanah yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri
remediasi yang telah ada di dalam air atau tanah tersebut.
2. Bioaugmentasi
Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu
ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering
digunakan dalam menghilangkan kontaminasi di suatu tempat. Hambatan yang
ditemui ketika cara ini digunakan yaitu sangat sulit untuk mengontrol kondisi
situs yang tercemar agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para
ilmuwan belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam
bioremediasi, dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang asing
kemungkinan sulit untuk beradaptasi.
3. Bioremediasi Intrinsik
Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang
tercemar.
Adapun manfaat dari bioremediasi secara umum adalah sebagai berikut:
1. Remediasi berbasis biologis mendetoksifikasi zat berbahaya, bukan hanya
mentransfer kontaminan dari satu media lingkungan hidup yang lain;
2. Bioremediasi umumnya memiliki daya perlindungan terhadap lingkungan
yang lebih baik daripada proses pengolahan berbasis proses penggalian
3. Biaya yang dibutuhkan pengolahan situs limbah berbahaya menggunakan
teknologi bioremediasi bisa jauh lebih rendah dari yang untuk metode
pengolahan konvensional: vacuming, absorbing, burning, dispersing, atau
proses memindahkan material
E. Biofilm
Biofilm merupakan kelompok mikroorganisme yang membentuk pelekatan
pada suatu permukaan benda padat sehingga mikroorganisme berada dalam
keadaan diam, tidak mudah lepas atau berpindah tempat.

Biofilm umumnya ditemukan pada permukaan yang padat pada lingkungan


berair, misalnya batu dan kerikil yang ada di sungai. Dalam lingkungan alami
perairan, biofilm digunakan untuk mengatasi pencemaran air. Mikroorganisme
biofilm dapat memurnikan air yang tercemar dengan cara membentuk simbiosis.
Bakteri akan menguraikan dan membersihkan senyawa organik, sedangkan
protozoa akan memisahkan senyawa berbentuk padatan.

D. PENGELOLAAN LIMBAH DENGAN PRINSIP BIOLOGI


A. PENGELOLAAN SECARA KONVENSIONAL (TRADISIONAL)
a. Penimbunan Terbuka (Limbah Padat)
Terdapat dua cara penimbunan sampah yang umum dikenal, yaitu metode
penimbunan

terbuka

(open dumping) dan

metode sanitary

landfill. Pada

metode penimbunan terbuka. Di lahan penimbunan terbuka, berbagai hama dan


kuman penyebab penyakit dapat berkembang biak. Gas metan yang dihasilkan
oleh pembusukan sampah organik dapat menyebar ke udara sekitar dan
menimbulkan bau busuk serta mudah terbakar. Cairan yang tercampur
dengansampah dapat merembes ke tanah dan mencemari tanah serta air.
b. Pembuatan Pupuk Kompos (Pengomposan atau Composting)
Pupuk kompos dibuat dari limbah organik dengan prinsip penguraian
bahan-bahan organik menjadi bahan anorganik oleh mikroorganisme melalui
fermentasi. Bahannya berupa dedaunan atau sampah rumah tangga yang lain,
serta kotoran ternak (sapi, kambing, ayam). Mikroorganisme yang berperan
dalam pembuatan kompos di kenal sebagai eff ective microorganism (EM). EM
terdiri atas mikro-organisme aerob dan anaerob. Kedua kelompok jasad renik
tersebut

bekerja

sama

menguraikan

sampah-sampah

organik.

Hasil

fermentasinya dapat menciptakan kondisi yang mendukung kehadiran jamur

pemangsa nematoda (cacing parasit pada akar tanaman). Kompos digunakan


dalam sistem pertanian, bersifat ramah lingkungan, dan hasil panen dari
tanaman pertanian yang menggunakannya memiliki harga jual yang lebih
mahal. Dengan memanfaatkan pupuk organik, di samping menanggulangi
limbah, berarti juga menerapkan gaya hidup sehat.
c. Daur Ulang
Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi
bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat
menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru,
mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi
gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Daur
ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas
kegiatan

pemilahan,

pengumpulan,

pemrosesan,

pendistribusian

dan

pembuatan produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam


manajemen sampah modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki sampah
3R (Reuse, Reduce, and Recycle).
B. PENGELOLAAN SECARA MODERN
1.
PENGELOLAAN LIMBAH CAIR
Metode dan tahapan proses pengolahan limbah cair yang telah
dikembangkan sangat beragam. Limbah cair dengan kandungan polutan yang
berbeda kemungkinan akan membutuhkan proses pengolahan yang berbeda
pula. Proses- proses pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara
keseluruhan, berupa kombinasi beberapa proses atau hanya salah satu. Proses
pengolahan tersebut juga dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau
faktor finansial.
1. Pengolahan Primer (Primary Treatment)

Penyaringan (Screening)
Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan
disaring menggunakan jeruji saring. Metode ini disebut penyaringan.
Metode penyaringan merupakan cara yang efisien dan murah untuk
menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah.

Pengolahan Awal (Pretreatment)


Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu
tangki atau bak yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel
padat teruspensi lain yang berukuran relatif besar. Tangki ini dalam
bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan
memperlambat aliran limbah sehingga partikel partikel pasir jatuh
ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses
selanjutnya.

Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan
ke tangki atau bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode
pengolahan utama dan yang paling banyak digunakan pada proses
pengolahan primer limbah cair. Di tangki pengendapan, limbah cair
didiamkan agar partikel partikel padat yang tersuspensi dalam air
limbah dapat mengendap ke dasar tangki. Enadapn partikel tersebut
akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air
limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain metode
pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (Floation).

Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa
minyak

atau

lemak.

Proses

pengapungan

dilakukan

dengan

menggunakan alat yang dapat menghasilkan gelembung- gelembung


udara berukuran kecil ( 30 120 mikron). Gelembung udara tersebut
akan membawa partikel partikel minyak dan lemak ke permukaan air
limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan.
Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat
disingkirkan melalui proses pengolahan primer, maka limbah cair
yang telah mengalami proses pengolahan primer tersebut dapat
langsung dibuang kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah
tersebut juga mengandung polutan yang lain yang sulit dihilangkan
melalui proses tersebut, misalnya agen penyebab penyakit atau

senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu


disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya.
2. Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)
Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis,
yaitu dengan melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/ mendegradasi
bahan organik. Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri
aerob.
Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan
yaitu metode penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif
(activated sludge), dan metode kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons).

Metode Trickling Filter


Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi
bahan organik melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar,
biasanya berupa serpihan batu atau plastik, dengan dengan ketebalan
1 3 m. limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan media
dan dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses
perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah akan
didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar
lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan
kemudian disalurkan ke tangki pengendapan.
Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses
pengendapan untuk memisahkan partikel padat tersuspensi dan
mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang terbentuk akan
mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut, sedangkan air
limbah akan dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses
pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan.

Metode Activated Sludge


Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair
disalurkan ke sebuah tangki dan didalamnya limbah dicampur dengan
lumpur yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi berlangsung

didalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan


pemberian gelembung udara aerasi (pemberian oksigen). Aerasi dapat
mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah. Selanjutnya,
limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses
pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan
kembali ke tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter, limbah
yang telah melalui proses ini dapat dibuang ke lingkungan atau
diproses lebih lanjut jika masih diperlukan.

Metode Treatment ponds/ Lagoons


Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan
metode yang murah namun prosesnya berlangsung relatif lambat.
Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam kolam-kolam
terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis
menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh
bakteri aero untuk proses penguraian/degradasi bahan organik dalam
limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga diaerasi. Selama
proses degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses
pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan
didasar kolam, air limbah dapat disalurka untuk dibuang ke
lingkungan atau diolah lebih lanjut.
3. Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder
masih terdapat zat tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi
lingkungan atau masyarakat. Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya
pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat yang tersisa dalam limbah
cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya melalui
proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik terlarut,
seperti nitrat, fosfat, dan garam- garaman.
Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced
treatment). Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika.

Contoh metode pengolahan tersier yang dapat digunakan adalah metode


saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter, microstaining, vacum filter,
penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan, dan osmosis
bolak-balik.
Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan
limbah. Hal ini disebabkan biaya yang diperlukan untuk melakukan proses
pengolahan tersier cenderung tinggi sehingga tidak ekonomis.
a. Desinfeksi (Desinfection)
Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau
mengurangi mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair. Meknisme
desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat
tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam menentukan senyawa untuk
membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan,
yaitu :
a. Daya racun zat
b. Waktu kontak yang diperlukan
c. Efektivitas zat
d. Kadar dosis yang digunakan
e. Tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewaN.
f. Tahan terhadap air
g. Biayanya murah
Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan
klorin (klorinasi), penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (O).
Proses desinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses
pengolahan limbah selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder atau
tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.
b. Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)
Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder, maupun
tersier, akan menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut
tidak dapat dibuang secara langsung, melainkan pelu diolah lebih lanjut.
Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya akan diolah dengan cara

diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian disalurkan ke


beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill),
dijadikan pupuk kompos, atau dibakar (incinerated).
c. Pengolahan dengan Saringan Tetes
Pengolahan limbah cair dengan memanfaatkan teknologi biofilm. Biofilm
merupakan lapisan mikroorganisme yang menutupi hamparan saringan atau
filter pada dasar tangki limbah. Limbah yang berasal dari tangki sedimentasi
primer disemprotkan dari lengan lengan penyemprot yang berputar lambat di
bagian atas tangki pengolahan saringan tetes ke hamparan biofilm di dalam
tangki. Mikroorganisme pada biofilm akan menguraikannya.
d.

Teknis Bioremediasi
Sejak tahun 1900-an, orang-orang sudah menggunakan mikroorganisme

untuk mengolah air pada saluran air. Saat ini, bioremediasi telah berkembang
pada perawatan limbah buangan yang berbahaya (senyawa-senyawa kimia
yang sulit untuk didegradasi), yang biasanya dihubungkan dengan kegiatan
industri. Yang termasuk dalam polutan-polutan ini antara lain logam-logam
berat, petroleum hidrokarbon, dan senyawa-senyawa organik terhalogenasi
seperti pestisida, herbisida, dan lain-lain. Banyak aplikasi-aplikasi baru
menggunakan mikroorganisme untuk mengurangi polutan yang sedang diuji
cobakan. Bidang bioremediasi saat ini telah didukung oleh pengetahuan yang
lebih

baik

mengenai

bagaimana

polutan

dapat

didegradasi

oleh

mikroorganisme, identifikasi jenis-jenis mikroba yang baru dan bermanfaat,


dan kemampuan untuk meningkatkan bioremediasi melalui teknologi genetik.
Menurut Glick dan Pasternak bioremediasi adalah proses penggunaan agen
biologi untuk menghilangkan limbah atau buangan yang bersifat toksik dari
lingkungan. Proses bioremediasi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
1) Bioaugmentasi
Di mana mikroorganisme pengurai ditambahkan untuk melengkapi
populasi mikroba yang telah ada karena degradasi oleh mikroba secara
alami berjalan relatif lambat dalam lingkungan laut, karena suhu yang
rendah, keterbatasan nitrogen dan fosfor serta besarnya jumlah residu
minyak yang merubah bentuk minyak dari emulsi menjadi tarballs yang

akan mengendap dalam sedimen. Bioaugmentasi didefinisikan sebagai


penambahan kultur mikroba untuk melakukan tugas resubstratsi spesifik di
dalam lingkungan tercemar. Mikroba dalam kultur tersebut diisolasi secara
khusus, pada umumnya dari lingkungan yang sama, ditapis untuk aktivitas
biologi yang diinginkan, dan ditumbuhkan dalam jumlah yang besar dalam
suatu reaktor. Mikroba tersebut mampu mendegradasi komponenkomponen dalam hidrokarbon menjadi CO2 dan air. Mikroba tersebut akan
bertahan hidup dengan mengkonsumsi hidrokarbon sampai polutan
tersebut teresubstratsi.
Agar proses bioaugmentasi berhasil dengan baik, maka dibutuhkan
beberapa kriteria diantaranya: kemampuan mikroba untuk mencapai
kontaminan, keberadaan oksigen untuk metabolisme mikroba, suhu antara
5 45 oC (28 oC merupakan suhu optimum), pH antara 6,5 8,5 dan
penambahan nutrien. Selama mikroba dapat mencapai kontaminan,
tersedia oksigen serta suhu dan pH yang sesuai, maka proses remediasi
akan berlangsung dengan sempurna.
Berikut ini beberapa bakteri

yang

mempunyai

kemampuan

mendegradasi hidrokarbon di daerah subtropis,yang di ambil dari laut


Pelabuhan

Tanjung

Mas

Semarang,

diantaranya

Acinetobacter, Alcaligenes, Arthrobacter,

Bacillus,

Achromobacter,
Brevibacterium,

Corynebacterium, Flavobacterium, Nocardia, Pseudomonas danVibrio,


sedangkan sejumlah penelitian lainnya telah menemukan beberapa bakteri
pendegradasi minyak dari perairan tropis, diantaranya Pseudomonas
cepacia dan P. gladioli yang diisolasi dari perairan Kalimantan Timur,
demikian juga Achromobacter putrefasciens, Acinetobacter haemolyticus,
dan Vibrio algynolyticus yang berhasil diisolasi dari perairan laut Jawa.
Bahkan ada juga sejumlah penelitian lain yang mengisolasi Acinetobacter,
Arthrobacter, Micrococcus dan Bacillus dari perairan Dumai dan Selat
Malaka. Genus Alcanivorax, Marinobacter, Bacillus dan Achromobacter
merupakan genera yang umum ditemukan di lokasi penelitian.
2) Biostimulas

Biostimulas merupakan suatu proses dimana pertumbuhan pengurai


hidrokarbon

asli

lingkungan

tersebut

dirangsang

dengan

cara

menambahkan nutrien dan/atau mengubah habitat (Ahmad Thontowi:


2013).
B. PENGELOLAAN LIMBAH PADAT
a. Sanitary Landfill
Pada metode sanitary landfill, sampah ditimbun dalam lubang yang dialasi
iapisan lempung dan lembaran plastik untuk mencegah perembesan limbah ke
tanah. Pada landfill yang lebih modern lagi, biasanya dibuat sistem Iapisan
ganda (plastik lempung plastik lempung) dan pipa-pipa saluran untuk
mengumpulkan cairan serta gas metan yang terbentuk dari proses pembusukan
sampah. Gas tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.
b. Insinerasi
Insinerasi adalah pembakaran sampah/limbah padat menggunakan suatu
alat yang disebut insinerator. Kelebihan dari proses insinerasi adalah volume
sampah berkurang sangat banyak (bisa mencapai 90 %). Selain itu, proses
insinerasi menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan
listrik atau untuk pemanas ruangan.
c. Pembuatan kompos padat dan cair
Metode ini adalah dengan mengolah sampah organic seperti sayuran,
daun-daun

kering,

kotoran

hewan

melalui

proses

penguraian

oleh

mikroorganisme tertentu. Pembuatan kompos adalah salah satu cara terbaik


dalam penanganan sampah organic. Berdasarkan bentuknya kompos ada yang
berbentuk padat dan cair. Pembuatannya dapat dilakukan dengan menggunakan
kultur mikroorganisme, yakni menggunakan kompos yang sudah jadi dan bisa
didapatkan di pasaran seperti EMA efectif microorganism 4.EMA merupakan
kultur campuran mikroorganisme yang dapat meningkatkan degaradasi limbah
atau sampah organik.
d. Daur Ulang
Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi
bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat
menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru,
mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi

gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Daur
ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas
kegiatan

pemilahan,

pengumpulan,

pemrosesan,

pendistribusian

dan

pembuatan produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam


manajemen sampah modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki sampah
3R (Reuse, Reduce, and Recycle). Material-material yang dapat didaur ulang
dan prosesnya diantaranya adalah:
Bahan bangunan
Material bangunan bekas yang telah dikumpulkan dihancurkan
dengan mesin penghancur, kadang-kadang bersamaan dengan aspal, batu
bata, tanah, dan batu. Hasil yang lebih kasar bisa dipakai menjadi pelapis
jalan semacam aspal dan hasil yang lebih halus bisa dipakai untuk
membuat bahan bangunan baru semacam bata.
Baterai
Banyaknya variasi dan ukuran baterai membuat proses daur ulang
bahan ini relatif sulit. Mereka harus disortir terlebih dahulu, dan tiap jenis
memiliki perhatian khusus dalam pemrosesannya. Misalnya, baterai jenis
lama masih mengandung merkuri dan kadmium, harus ditangani secara
lebih serius demi mencegah kerusakan lingkungan dan kesehatan
manusia. Baterai mobil umumnya jauh lebih mudah dan lebih murah
untuk didaur ulang.
Barang Elektronik
Barang elektronik yang populer seperti komputer dan handphone
umumnya tidak didaur ulang karena belum jelas perhitungan manfaat
ekonominya. Material yang dapat didaur ulang dari barang elektronik
misalnya adalah logam yang terdapat pada barang elektronik tersebut
(emas, besi, baja, silikon, dll) ataupun bagian-bagian yang masih dapat
dipakai (microchip, processor, kabel, resistor, plastik, dll). Namun tujuan
utama dari proses daur ulang, yaitu kelestarian lingkungan, sudah jelas
dapat menjadi tujuan diterapkannya proses daur ulang pada bahan ini
meski manfaat ekonominya masih belum jelas.
Logam

Besi dan baja adalah jenis logam yang paling banyak didaur ulang
di dunia. Termasuk salah satu yang termudah karena mereka dapat
dipisahkan dari sampah lainnya dengan magnet. Daur ulang meliputi
proses logam pada umumnya; peleburan dan pencetakan kembali. Hasil
yang didapat tidak mengurangi kualitas logam tersebut. Contoh lainnya
adalah alumunium, yang merupakan bahan daur ulang paling efisien di
dunia. Namun pada umumnya, semua jenis logam dapat didaur ulang
tanpa mengurangi kualitas logam tersebut, menjadikan logam sebagai
bahan yang dapat didaur ulang dengan tidak terbatas.
Bahan Lainnya
1) Kaca dapat juga didaur ulang. Kaca yang didapat dari botol dan lain
sebagainya dibersihkan dair bahan kontaminan, lalu dilelehkan
bersama-sama dengan material kaca baru. Dapat juga dipakai sebagai
bahan bangunan dan jalan. Sudah ada Glassphalt, yaitu bahan pelapis
2)

jalan dengan menggunakan 30% material kaca daur ulang.


Kertas juga dapat didaur ulang dengan mencampurkan kertas bekas
yang telah dijadikan pulp dengan material kertas baru. Namun kertas
akan selalu mengalami penurunan kualitas jika terus didaur ulang. Hal
ini menjadikan kertas harus didaur ulang dengan mencampurkannya
dengan material baru, atau mendaur ulangnya menjadi bahan yang

berkualitas lebih rendah.


3) Plastik dapat didaur ulang sama halnya seperti mendaur ulang logam.
Hanya saja, terdapat berbagai jenis plastik di dunia ini. Saat ini di
berbagai produk plastik terdapat kode mengenai jenis plastik yang
membentuk material tersebut sehingga mempermudah untuk mendaur
ulang.
C. PENGELOLAAN LIMBAH GAS
Pengolah limbah gas secara teknis dilakukan dengan menambahkan alat
bantu yang dapat mengurangi pencemaran udara. Pencemaran udara
sebenarnya dapat berasal dari limbah berupa gas atau materi partikulat yang
terbawah bersama gas tersebut. Berikut akan dijelaskan beberapa cara

menangani pencemaran udara oleh limbah gas dan materi partikulat yang
terbawah bersamanya.
Mengontrol Emisi Gas Buang
Gas-gas buang seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon
monoksida, dan hidrokarbon dapat dikontrol pengeluarannya melalui
beberapa metode. Gas sulfur oksida dapat dihilangkan dari udara hasil
pembakaran bahan bakar dengan cara desulfurisasi menggunakan filter
basah (wet scrubber).
Mekanisme kerja filter basah ini akan dibahas lebih lanjut pada
pembahasan berikutnya, yaitu mengenai metode menghilangkan materi
partikulat, karena filter basah juga digunakan untuk menghilangkan
materi partikulat.
Gas nitrogen oksida dapat dikurangi dari hasil pembakaran kendaraan
bermotor dengan cara menurunkan suhu pembakaran. Produksi gas
karbon monoksida dan hidrokarbon dari hasil pembakaran kendaraan
bermotor dapat dikurangi dengan cara memasang alat pengubah
katalitik (catalytic converter) untuk menyempurnakan pembakaran.
Selain cara-cara yang disebutkan diatas, emisi gas buang juga
dapat dikurangi kegiatan pembakaran bahan bakar atau mulai
menggunakan sumber bahan bakar alternatif yang lebih sedikit
menghasilkan gas buang yang merupakan polutan.
2. Menghilangkan Materi Partikulat Dari Udara Pembuangan
1) Filter Udara
Filter udara dimaksudkan untuk yang ikut keluar pada cerobong
atau stack, agar tidak ikut terlepas ke lingkungan sehingga hanya udara
bersih yang saja yang keluar dari cerobong. Filter udara yang dipasang
ini harus secara tetap diamati (dikontrol), kalau sudah jenuh (sudah
penuh dengan abu/ debu) harus segera diganti dengan yang baru.
Jenis filter udara yang digunakan tergantung pada sifat gas buangan
yang keluar dari proses industri, apakah berdebu banyak, apakah
bersifat asam, atau bersifat alkalis dan lain sebagainya.
2) Pengendap Siklon

Pengendap Siklon atau Cyclone Separators adalah pengedap debu /


abu yang ikut dalam gas buangan atau udara dalam ruang pabrik yang
berdebu. Prinsip kerja pengendap siklon adalah pemanfaatan gaya
sentrifugal dari udara / gas buangan yang sengaja dihembuskan melalui
tepi dinding tabung siklon sehingga partikel yang relatif berat akan
jatuh ke bawah. Ukuran partikel / debu / abu yang bisa diendapkan oleh
siklon adalah antara 5 u 40 u. Makin besar ukuran debu makin cepat
partikel tersebut diendapkan.
3) Filter Basah
Nama lain dari filter basah adalah Scrubbers atau Wet Collectors.
Prinsip kerja filter basah adalah membersihkan udara yang kotor
dengan cara menyemprotkan air dari bagian atas alt, sedangkan udara
yang kotor dari bagian bawah alat. Pada saat udara yang berdebu kontak
dengan air, maka debu akan ikut semprotkan air turun ke bawah. Untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik dapat juga prinsip kerja pengendap
siklon dan filter basah digabungkan menjadi satu. Penggabungan kedua
macam prinsip kerja tersebut menghasilkan suatu alat penangkap debu
yang dinamakan.
4) Pegendap Sistem Gravitasi
Alat pengendap ini hanya digunakan untuk membersihkan udara
kotor yang ukuran partikelnya relatif cukup besar, sekitar 50 u atau
lebih. Cara kerja alat ini sederhana sekali, yaitu dengan mengalirkan
udara yang kotor ke dalam alat yang dibuat sedemikian rupa sehingga
pada waktu terjadi perubahan kecepatan secara tiba-tiba (speed drop),
zarah akan jatuh terkumpul di bawah akibat gaya beratnya sendiri
(gravitasi). Kecepatan pengendapan tergantung pada dimensi alatnya.
5) Pengendap Elektrostatik
Alat pengendap elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara
yang kotor dalam jumlah (volume) yang relatif besar dan pengotor
udaranya adalah aerosol atau uap air. Alat ini dapat membersihkan
udara secara cepat dan udara yang keluar dari alat ini sudah relatif
bersih.

Alat pengendap elektrostatik ini menggunakan arus searah (DC)


yang mempunyai tegangan antara 25 100 kv. Alat pengendap ini
berupa tabung silinder di mana dindingnya diberi muatan positif,
sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang merupakan pusat silinder,
sejajar dinding tabung, diberi muatan negatif. Adanya perbedaan
tegangan yang cukup besar akan menimbulkan corona discharga di
daerah sekitar pusat silinder. Hal ini menyebabkan udara kotor seolah
olah mengalami ionisasi. Kotoran udara menjadi ion negatif sedangkan
udara bersih menjadi ion positif dan masing-masing akan menuju ke
elektroda yang sesuai. Kotoran yang menjadi ion negatif akan ditarik
oleh dinding tabung sedangkan udara bersih akan berada di tengahtengah silinder dan kemudian terhembus keluar.
3. Teknik Biogas
Biogas adalah gas produk akhir pecernaan atau degradasi anaerobik bahanbahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas
oksigen atau udara. Komponen terbesar biogas adalah Methana (CH4, 5480%-vol) dan karbondioksida (CO2, 20-45%-vol) serta sejumlah kecil H2, N2
dan H2S.
PRINSIP PEMBUATAN BIOGAS
Prinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi bahan organik
secara anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan gas yang
sebagian besar adalah berupa gas metan (yang memiliki sifat mudah terbakar)
dan karbon dioksida, gas inilah yang disebut biogas.
Proses dekomposisi anaerobik dibantu oleh sejumlah mikroorganisme,
terutama bakteri metan. Suhu yang baik untuk proses fermentasi adalah 3055C, dimana pada suhu tersebut mikroorganisme mampu merombak bahan
bahan organik secara optimal.

Bangunan

utama

dari

instalasi biogas adalah Digester


yang

berfungsi

untuk

menampung gas metan hasil


perombakan
organik

oleh

bahan
bakteri.

bahan
Jenis

digester yang paling banyak digunakan adalah model continuous feeding


dimana pengisian bahan organiknya dilakukan secara kontinu setiap hari.
Besar kecilnya digester tergantung pada kotoran ternak yamg dihasilkan dan
banyaknya biogas yang diinginkan. Lahan yang diperlukan sekitar 16 m2.
Untuk membuat digester diperlukan bahan bangunan seperti pasir, semen,
batu kali, batu koral, bata merah, besi konstruksi, cat dan pipa prolon. Lokasi
yang akan dibangun sebaiknya dekat dengan kandang sehingga kotoran
ternak dapat langsung disalurkan kedalam digester. Disamping digester harus
dibangun juga penampung sludge (lumpur) dimana slugde tersebut nantinya
dapat dipisahkan dan dijadikan pupuk organik padat dan pupuk organik cair.
DAFTAR PUSTAKA
Kuncahyo, Priyohadi, dkk. 2013. Analisa Prediksi Potensi Bahan Baku Biodiesel
sebagai Suplemen Bahan Bakar Motor Diesel di Indonesia. Jurnal Teknik
POMITS. Vol. 2, No. 1: 63-66.
Priadie, Bambang. 2012. Teknik Bioremediasi sebagai Alternatif dalam Upaya
Pengendalian Pencemaran Air. Jurnal Ilmu Lingkungan. Vol. 10, No.1: 3848.
Setiawati, Evy dan Fatmir Edwar. 2012. Teknologi Pengolahan Biodiesel dari
Minyak Goreng Bekas dengan Teknik Mikrofiltrasi dan Transesterifikasi
sebagai Alternatif Bahan Bakar Mesin Diesel. Jurnal Riset Industri. Vol. 6,
No. 2: 117-127.
Kuncahyo, Priyohadi, dkk. 2013. Analisa Prediksi Potensi Bahan Baku Biodiesel
sebagai Suplemen Bahan Bakar Motor Diesel di Indonesia. Jurnal Teknik
POMITS. Vol. 2, No. 1: 63-66.