Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PROYEK ANATOMI DAN FISIOLOGI HEWAN (BI-2103)

SISTEM RESPIRASI MENCIT (Mus musculus), IKAN KOMET


(Carassius auratus), DAN KECOA (Periplaneta americana)
Tanggal Praktikum : 14 September 2016
Tanggal Pengumpulan : 21 September 2016
Disusun oleh:
Nadia Fairuz Aprilia
10615038
Kelompok 10

Asisten:
Nayla Majeda Alfarafisa
10612062

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bernafas adalah salah satu ciri dan aktivitas makhluk hidup (Campbell,
2000). Respirasi mencakup pengambilan oksigen, oksigen yang dibutuhkan
tubuh didapat dari proses respirasi. Proses respirasi melibatkan medium
respirasi, membran respirasi, dan organ pernapasan (Martini, 2012) dan juga
karbon dioksida yang dikeluarkan oleh tubuh dilakukan oleh sistem respirasi.
Jadi respirasi adalah proses pertukaran gas oksigen dari udara oleh organisme
hidup

yang

digunakan

untuk

serangkaian

metabolisme

yang

akan

menghasilkan karbon dioksida yang akan dikeluarkan oleh tubuh (Wiryadi,


2007).
Pada praktikum ini, dilakukan pengamatan terhadap laju konsumsi oksigen
suatu organisme. Laju konsumsi oksigen dapat ditentukan dengan berbagai cara,
yaitu dengan menggunakan respirometer dan metode Winkler. Respirometer
dipakai untuk mengukur konsumsi oksigen hewan yang berukuran kecil seperti
serangga sedangkan metode Winkler merupakan suatu cara untuk menentukan
banyaknya oksigen yang terlarut di dalam air.
Laju konsumsi oksigen pada hewan dapat diukur dari jumlah oksigen
terlarut yang ada pada larutan. Oksigen terlarut ini diperlukan oleh semua
makhluk hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang
kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan.
Selain itu, oksigen juga dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan bahan organik
dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen di dalam suatu
perairan didapat melalui proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis
organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin, 2000).

Pelaksanaan praktikum respirasi ini sangat penting untuk karena dengan


melakukan praktikum sistem respirasi ini kita dapat menentukan laju konsumsi
oksigen dari kecoa (Periplaneta americana), ikan komet (Carrassius auratus),
mencit (Mus musculus) dan faktor apa yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen
tersebut.
1.2 Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah :
1. Menentukan laju konsumsi oksigen pada mencit (Mus musculus) dengan
menggunakan respirometer.
2. Menentukan laju konsumsi oksigen pada kecoa (Periplaneta americana)
dengan menggunakan respirometer.
3. Menentukan dan membandingkan laju konsumsi oksigen pada ikan komet
(Carassius auratus) yang lingkungannya terkena polusi detergen dengan
yang tidak terkena polusi detergen menggunakan metode Winkler.
4. Membandingkan laju konsumsi oksigen antara hewan berukuran besar
dengan hewan berukuran kecil.
5. Membandingkan laju konsumsi oksigen antara hewan akuatik dengan
hewan terestrial.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Respirasi
Terdapat dua macam respirasi, yaitu respirasi internal dan eksternal. Respirasi
eksternal adalah seluruh proses yang berhubungan dengan pertukaran oksigen dan
karbondioksida antara cairan tubuh dengan lingkungan sekitar. Sedangkan
respirasi internal adalah pertukaran oksigen dengan karbondioksida di dalam sel
(Martini, 2012).
2.2 Mekanisme Respirasi Hewan Terestrial dan Hewan Akuatik
2.2.1 Respirasi Mencit
Sistem respirasi mencit (Mus musculus) terdiri atas nares anteriores, cavum
nasi, nares posteriores, larynx yang terletak dibelakang pharynx. Rongga larynx
disebut auditus laringis. Celah yang berhubungan dengan pharynx disebut tima
glottidis. Larynx terdiri dari beberapa cartilago yaitu cartilago thyroide (tunggal,
di ventrolateral), cricoidea, arthenoidea, santorini, epiglottis, pipih, dorsocranial
cartilago thyroidea. Trachea disusun atas cincin kartilago annulus tachealis yang
sebelah dorsal tidak menutup, disebelah ventral esophagus. Bronchus tersusun
atas cicin cartilago annulus bronchialis yang menutup sempurna. Pulmo,
sepasang. Pulmo dexter terdiri dari tiga lobi yaitu lobus superius, medius dan
inferius. Pulmo sinister terdiri dari dua lobi : lobus superius dan inferius (Levi,
2005).

Gambar 2.3 Sistem Respirasi Mencit


(http://www.tutorvista.com, 2016)

2.2.2 Respirasi Kecoa


Seperti serangga lainnya , kecoa bernapas melalui tracheae yang melekat pada
lubang udara atau lubang lateral yang disebut spirakel pada semua segmen tubuh.
Ketika tingkat karbon dioksida di kecoa cukup tinggi, katup pada spirakel akan
terbuka dan karbon dioksida berdifusi keluar dan oksigen berdifusi ke dalam.
Trakea mempunyai cabang yaitu tracheoles yang membawa udara langsung ke
setiap sel, yang memungkinkan pertukaran gas berlangsung. Kecoa tidak memiliki
paru-paru seperti halnya vertebrata lainnya, sehingga kecoa dapat terus bernafas
jika kepala mereka dilepas, dalam beberapa spesies yang sangat besar, otot otot
pada tubuh kecoa berkontraksi secara paksa untuk memindahkan udara masuk dan
keluar dari spirakel; ini dapat dianggap sebagai bentuk bernapas (Mahung, 2016).

Gambar 2.2 Sistem Respirasi Kecoa


(http://www.questionstudy.com/, 2016)

2.2.3 Respirasi Ikan


Respirasi pada ikan dimulai dari ikan membuka mulut namun operkulum
tertutup, dengan begitu air yang mengandung oksigen dapat terdorong masuk ke
dalam mulut dan melalui insang. Lalu di dalam insang terjadi proses respirasi,
yaitu oksigen yang terkandung di dalam air diambil dan karbon dioksida dan zat
buangan lainnya dibuang ke air. Kemudian ikan akan menutup mulutnya dan
membuka operkulum untuk mengalirkan air yang telah melalui insang
(Prawirohartono,2005).

Gambar 2.3 Sistem Respirasi Ikan


(Pearson Education, 2015)

2.3 Faktor Faktor yang Mempengaruhu Laju Respirasi Hewan Terestrial


dan Hewan Akuatik
Menurut Waluyo (2007), laju respirasi suatu organisme dipengaruhi oleh :
a. Umur
Semakin tua usia suatu organisme maka semakin sedikit respirasi yang
dibutuhkan. Hal ini disebabkan oleh penurunan regenerasi sel
b. Jenis kelamin
Pada organisme betina, laju respirasinya lebih besar karena betina memiliki
sistem hormonal yang lebih kompleks dibanding organisme jantan.
c. Suhu tubuh
Semakin tinggi suhu maka semakin banyak respirasi yang dibutuhkan karena
H2O yang dihasilkan oleh respirasi berguna untuk menurunkan suhu internal
tubuh.
d. Posisi tubuh/aktivitas

Apabila aktivitas yang dilakukan suatu organisme meningkat maka respirasi


yang dibutuhkan menjadi lebih banyak karena organisme tersebut
membutuhkan banyak energi.
e. Berat badan
Semakin berat suatu organisme maka semakin banyak respirasi yang
dibutuhkan, karena jumlah sel yang dimiliki organisme tersebut menjadi lebih
banyak.
2.4 Metode Winkler
Metode Winkler menggunakan prinsip titrasi iodometri, yaitu untuk
mengukur oksigen yang terlarut pada sampel air. Sampel pertama kali ditambah
larutan larutan reagen sehingga terbentuk senyawa asam yang akan dititrasi
dengan senyawa netral (thiosulfat) sehingga ada perubahan warna. Perubahan ini
dinamakan end point yang menunjukkam adanya oksigen terlarut dalam air.
Setelah itu dihitung menggunakan rumus tertentu (Bruckner, 2015).

Gambar 2.1 Metode Winkler


(www.fondriest.com, 2016)

Metode ini menggunakan beberapa reagen dengan tujuan tertentu, yaitu


KOH-KI dan MnSO4 berfungsi untuk mengikat oksigen sehingga terjadi endapan.
H2SO4 berfungsi untuk melarutkan endapan yang terbentuk sebelumnya, amilum
digunakan sebagai indikator oksigen, dan Na2S2O3 juga berfungsi sebagai
indikator juga larutan standar titrasi (Salmin, 2005). Reaksi-reaksi kimia yang
terjadi pada metode Winkler diantaranya :
2MnSO4 + O2 2MnO(OH)2

MnO2 + 2KI + 2H2O MnO(OH)2 + I2 +2KOH


4 MnO(OH)2 + O2 + 2H2O 4 MnO(OH)3
I2 + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI
Mn(SO4) 2 + 2I- Mn2+ + I2 + 2 SO422S2O32- + I2 S4O62- + 2I2.5 Respirometer
Respirometer merupakan alat sederhana yang bisa dipakai untuk
mengukur kecepatan pernapasan beberapa macam makhluk hidup seperti
serangga, bunga, dan akar. Jika tidak ada perubahan suhu yang besar,
kecepatan pernapasan dapat dinyatakan dalam ml/detik/g, adalah banyaknya
oksigen yang dipakai oleh makhluk percobaan tiap 1 gram berat tiap detik
(Salmin, 2000).

Gambar 2.2 Mekanisme Respirasi pada Respirometer


(Pearson Education, 2015)

Respirometer bekerja menggunakan prinsip bahwa saat pernapasan ada


oksigen yang digunakan oleh organisme dan ada karbon dioksida yang
dikeluarkan oleh organisme tersebut. Jika organisme yang bernapas itu ditaruh
dalam ruang tertutup dan karbon dioksida yang dikeluarkan oleh organisme
dalam ruang tertutup itu diikat, maka penyusutan udara akan terjadi.

Kecepatan penyusutan udara dalam ruang itu dapat diamati pada pipa kapiler
berskala. Reaksi yang terjadi adalah:
2KOH (s) + CO2 (g) K2CO3 (aq) + H2O (aq)

(Salmin, 2005)

2.6 Pendedahan Zat Melalui Jalur Inhalasi


Pendedahan melalui jalur inhalasi selalu memakai zat-zat yang mudah
menguap supaya zat dapat dengan cepat masuk ke tubuh. Faktor faktor yang
menentukan konsentrasi zat inhalasi yang diinduksi adalah konsentrasi inspirasi,
ventilator alveolar, koefisien darah atau gas, curah jantung atau aliran darah paru
dan hubungan ventilasi perfusi. Keuntungan dari inhalasi adalah cepat
memunculkan efek dari zat karena zat langsung masuk ke sistem pernafasan
(organ sasaran). Karena zat yang masuk adalah dalam bentuk atau fasa gas, maka
tidak ada perbedaan yang signifikan dari sifat ideal gas dan juga zat tersebut tidak
terionisasi dan memiliki berat molekul yang rendah. Dengan sifat-sifat tersebut,
zat yang akan diinhalasi akan bedifusi ke dalam darah dengan cepat. Jika
dilakukan pada manusia, inhalasi dapat dilakukan melalui jalur khusus yaitu paruparu (Rasmin et al., 2001).

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada
Tabel 3.1.
Tabel 3. 1 Alat dan Bahan Praktikum

Alat

Bahan

Timbangan hewan

Mencit

Stopwatch

Ikan komet

Respirometer

Kecoa

Pipet tetes

Kapas

Labu erlenmeyer 2L

Larutan KOH 20%

Labu erlenmeyer 250 ml

Larutan eosin

Botol winkler 250 ml

Vaselin

Gelas ukur 100 ml

Syringe

Sembat karet

Larutan thiosulfat (Na2S2O3)

Selang plastik

Larutan H2SO4

Penjepit

Larutan KOH-KI

Buret

Larutan MnSO4

Statif

Larutan amilum 1%

Klemp
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Metode Winkler
Erlenmeyer ukuran 2 liter disusun dengan 2 selang. Air yang digunakan
berupa air kran dan air detergen. Lalu salah satu selang disambungkan dengan
kran air, sedangkan selang yang lain dipakai menjadi saluran keluar. Erlenmeyer
selanjutnya diisi air secukupnya, dan ikan yang telah ditimbang bisa dimasukan ke
dalam erlenmeyer. Kemudian botol ditutup dan air dialirkan ke dalam erlenmeyer
melalui saluran masuk hingga penuh dan keluar melalui saluran keluar.

Air yang keluar melalui saluran keluar ditampung di dalam botol Winkler
250mL. Lalu saluran masuk dan saluran keluar ditutup menggunakan penjepit
kertas besar. Kemudian dilakukan titrasi, dimasukkan MnSO4 pada botol Winkler
yang sudah berisi air. Lalu ditambah juga larutan KOH-KI. Botol dikocok secara
perlahan lahan dan didiamkan sampai adanya endapan. Selanjutnya
ditambahkan larutan H2SO4 sebanyak 1mL. Botol dikocok kembali sampai semua
endapannya larut. Diambil 100mL larutan di dalam botol Winkler, dan dituangkan
dalam labu erlenmeyer 250mL.
Selanjutnya larutan dititrasi dengan thiosulfat sampai larutan berubah menjadi
warna kuning muda. Lalu ditambah larutan amilum 1% sebanyak 4 5 kali tetes
sampai larutan berubah warna menjadi biru tua. Dititrasi lagi dengan larutan
thiosulfat hingga larutan berubah warna menjadi bening. Dicatat banyaknya
thiosulfat yang dipakai.
Dilakukan pengulangan perhitungan kadar oksigen setelah ikan didiamkan
selama 60 menit (untuk ikan dengan air kran) dan hingga ikan mati (untuk ikan
dengan air detergen).
3.2.2 Respirometer
Disiapkan kapas dan padatan KOH, diambil 3 6 butir lalu dibungkus dengan
kapas. Kapas yang di dalamnya terdapat padatan KOH dimasukkan ke dalam
tabung respirometer. Mencit yang telah ditimbang dimasukkan dan pipa berskala
dipasang. Celah ditutup pada penutup tabung respirometer dengan vaseline. Eosin
dimasukkan secukupnya dengan menggunakan syringe pada ujung pipa berskala.
Waktu dicatat dan laju konsumsi oksigen dihitung untuk perpindahan eosin
sebanyak 0,5 skala. Pengamatan dilakukan duplo. Hal yang sama dilakukan juga
terhadap kecoa.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Dari praktikum sistem respirasi yang telah dilakukan didapatkan data-data
serta perhitungan sebagai berikut.
4.1.1

Perhitungan Laju Konsumsi Oksigen Mencit dengan Respirometer


Laju konsumsi oksigen mencit dapat dihitung dengan menggunakan
rumus berikut.
Laju Konsumsi Oksigen Mencit=

a
bt

Dengan a adalah volume oksigen yang digunakan (dalam mililiter), b


yaitu berat badan mencit (dalam gram), dan t merupakan waktu
perpindahan eosin dalam jam. Perhitungan untuk laju konsumsi
oksigen mencit dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4. 1 Laju Konsumsi Oksigen Mencit

Total laju konsumsi oksigen mencit

Laju Konsumsi
O2
(mL/jam.gram)
0,924
1,08
4,02
4,18
10,204

Rata rata

2,551

Mencit

Berat Badan
(gram)

Volume O2
(mL)

Waktu
(jam)

Mencit 1
Mencit 1*
Mencit 2
Mencit 2*

22,809
22,809
22,68
22,68

0,3
0,2
0,7
0,8

0,0142
8,111 x 10-3
7,677 x 10-3
8,427 x 10-3

*pada perlakuan kedua


Perhitungan :
Laju Konsumsi Oksigen Mencit=

volume oksigen
massa mencit waktu

0,3
22,809 0,0142

jam-1

= 0,924 mL g-1

4.1.2

Perhitungan Laju Konsumsi Oksigen Kecoa dengan Respirometer


Laju konsumsi oksigen kecoa dapat dihitung dengan menggunakan
rumus berikut.
Laju Konsumsi Oksigen Kecoa=

a
b t

Dengan a adalah volume oksigen yang digunakan (dalam mililiter), b


yaitu berat badan kecoa (dalam gram), dan t merupakan waktu
perpindahan eosin dalam jam. Perhitungan untuk laju konsumsi
oksigen mencit dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4. 2 Laju Konsumsi Oksigen Kecoa

Total laju konsumsi oksigen kecoa

Laju Konsumsi
O2
(mL/jam.gram)
8,85
9
10
5,8
33,65

Rata rata

8,4125

Kecoa

Berat Badan
(gram)

Volume O2
(mL)

Waktu
(jam)

Kecoa 1
Kecoa 1*
Kecoa 2
Kecoa 2*

1
1
1
1

0,59
0,6
0,21
0,1

0,066
0,066
0,021
0,017

*pada perlakuan kedua


Perhitungan :
Laju Konsumsi Oksigen Kecoa=

volume oksigen
massa kecoa waktu

4.1.3

0,59
1 0,066

= 8,85 mL g-1jam-1

Perhitungan Laju Konsumsi Oksigen Ikan Perlakuan Air Keran


Laju konsumsi oksigen ikan perlakuan air keran dapat dihitung dengan
menggunakan rumus berikut.

1 volume thiosulfat
Laju Konsumsi Oksigen Ikan=
4 waktu massa ikan
Perhitungan terhadap laju konsumsi oksigen ikan perlakuan air keran
dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4. 2 Laju Konsumsi Oksigen Ikan Perlakuan Air Keran

Berat

Ikan
(Kelompok

Badan

Volume

Tiosulfat Tiosulfat

(sekon

Awal

Akhir

)
(mL)
Ikan 9
6,9
3600
1,50
Ikan 11
8,10
3600
1,40
Ikan 13
8,30
3600
1,20
Total laju konsumsi oksigen ikan komet
Rata rata
Perhitungan (kelompok 9) :

(mL)
0,70
0,80
0,70

(gram

Volume

Waktu
)

Volume O2
yang
dikonsums
i (mL)
0,200
0,150
0,125

Laju
Konsumsi O2
(mL/gram
sekon)
8,052 x 10-6
5,144 x 10-6
4,183 x 10-6
17,379 x 10-6
5,793 x 10-6

1 (v thiosulfat T 0v thiosulfat T 1)
Laju Konsumsi Oksigen Ikan=
4
waktu massa ikan
=

1 (1,50 mL0,70 mL)

4 3600 detik 6,9 gram

= 8,052 x 10-6 mL g-

detik-1

4.1.4

Perhitungan Laju Konsumsi Oksigen Ikan Perlakuan Air Detergen


Laju konsumsi oksigen ikan perlakuan air detergen dapat dihitung
dengan menggunakan rumus berikut.
1 volume thiosulfat
Laju Konsumsi Oksigen Ikan=
4 waktu massa ikan
Perhitungan terhadap laju konsumsi oksigen ikan perlakuan air
detergen dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4. 4 Laju Konsumsi Oksigen Ikan Perlakuan Air Detergen

Ikan

Berat

Waktu

Volume

Volume

(Kelompok

Badan

(sekon

Tiosulfat Tiosulfat

Volume O2
yang

Laju
Konsumsi O2
(mL/sekon

(gram

Awal

Akhir

dikonsums

gram)
)
(mL)
(mL)
i (mL)
Ikan 10
7,40
2580
0,60
0,30
-0,300
-3,928 x 10-6
Ikan 12
11,47 2100
0,80
1,00
-0,050
-2,076 x 10-6
Ikan 14
5,70
2417
0,90
1,30
-0,100
-7,259 x 10-6
Total laju konsumsi oksigen ikan komet
13,263 x10-6
Rata rata
4,421 x 10-6
* dalam perhitungan laju konsumsi oksigen ikan komet rata rata, nilai negatif
dapat diabaikan
Perhitungan (kelompok 14) :
1 (v thiosulfat T 0v thiosulfat T 1)
Laju Konsumsi Oksigen Ikan=
4
waktu massa ikan
=

1
0,9 mL1,30 mL

4 0,671 jam 6,9 gram

= -7,259 x 10-6 mL g-

sekon-1

4.2 Pembahasan
Dari praktikum yang telah dilakukan, didapat data laju konsumsi oksigen rata
rata pada mencit (Mus musculus) sebesar 2,551 mL g-1jam-1. Berdasarkan
penelitian didapat angka 2,64 mL g-1jam-1 (Gorecki, 1990). Ini menunjukkan
bahwa praktikum ini bisa dianggap berhasil karena nilai praktikum dan penelitian
tidak terlalu jauh. Lalu laju respirasi rata rata pada kecoa yang diperoleh yaitu
sebesar 8,4125 mL g-1jam-1, sedangkan menurut literatur yaitu sebesar 0,38 mL g1

jam-1. Perbedaan ini mungkin diakibatkan lingkungan yang kurang cocok untuk

kecoa di dalam tabung respirometer sehingga menyebabkan tidak adanya oksigen


dari dalam (internal) yang kemudian secara otomatis hewan mempercepat proses
homeostasis dengan mempercepat laju respirasi (Campbell, 2005).
Hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa pada lingkungan yang sama,
respirasi hewan kecil dalam hal ini kecoa, lebih cepat mengonsumsi oksigen
dibandingkan dengan hewan besar yaitu mencit. Organ utama pernapasan pada
serangga yaitu trakea, berbentuk pipa yang bercabang ke seluruh tubuh. Cabang

cabang tersebut sangat dekat dengan permukaan pada hampit setiap sel, dimana
gas dipertukarkan oleh difusi melintasi epitel yang melapisi ujung cabang trakea.
Karena sistem trakea membawa udara dalam jarak yang sangat pendek dari
hampir setiap sel dalam tubuh serangga, maka pengangkutan oksigen dan karbon
dioksida tidak memerlukan sistem peredaran darah terbuka seperti pada hewan
besar, yaitu mencit (Reece, et al., 2011).
Hasil perhitungan laju konsumsi oksigen kecoa dan mencit dibandingkan
dengan laju konsumsi oksigen ikan komet menunjukkan bahwa hewan terestrial
lebih cepat dalam mengonsumsi oksigen dibandingkan dengan hewan akuatik. Hal
ini dikarenakan dibandingkan dengan udara, molekul air jauh lebih padat dan sulit
mengalir ke organ pernapasan. Untuk mengalirkan oksigen ke organ
pernapasannya, hewan akuatik harus mengeluarkan energi lebih banyak daripada
energi yang digunakan oleh hewan terestrial. Selain itu, akses oksigen dalam
hewan akuatik lebih kecil daripada hewan terestrial. Hewan akuatik memiliki
keterbatasan dalam difusi oksigen (Graham, 1990).

Dari percobaan yang telah dilakukan didapat rata rata laju konsumsi oksigen
ikan pada air keran adalah 5,793 x 10 -6 mL g-1sekon-1, dan rata rata laju
konsumsi oksigen ikan komet pada air detergen adalah 4,421 x 10 -6 mL g-1sekon-1.
Kelompok 10, 12 dan 14 memberi perlakuan pada ikan komet menggunakan air
detergen dengan hasil laju respirasi yang negatif. Hal ini disebabkan terjadinya
kebocoran sehingga oksigen dari luar dapat masuk, akibatnya data yang diperoleh
kurang presisi. Namun dalam perhitungan laju rata rata laju konsumsi oksigen
ikan komet nilai negatif dapat diabaikan.

Berdasarkan penelitian oleh Bearnish dan Moolherjii (1964) didapat bahwa


nilai laju konsumsi oksigen ikan komet (Carassius auratus) adalah 0,850 mL g1

jam-1 atau sekitar 0,014 mL g-1menit-1. Perbedaan hasil percobaan dan penelitian

kemungkinan disebabkan oleh perbedaan kualitas air (bahan bahan mineral, pH,
dan kadar oksigen) yang digunakan. Kepekatan oksigen terlarut bergantung pada
jumlah bahan organik ataupun bahan kimia yang diuraikan dalam air seperti
limbah industri dan hasil buangan rumah tangga (Soetjipto, 1993). Semakin
tercemar suatu air, maka kandungan oksigennya pun semakin berkurang. Hal ini
sesuai dengan hasil percobaan yang menunjukkan bahwa laju respirasi hewan
akuatik yang hidup di tempat bersih (air keran) memiliki laju respirasi yang lebih
cepat daripada hewan akuatik yang hidup pada tempat tercemar (air detergen).
Mekanisme dan prinsip pendedahan zat melalui inhalasi yaitu dengan
menggunakan zat yang mudah menguap untuk dimasukkan zat tersebut ke dalam
tubuh melalui sistem pernapasan. Di praktikum ini pendedahan zat melalui
inhalasi diberikan pada ikan, karena detergen yang larut dalam air zat zatnya
langsung masuk ke sistem pernapasan ikan. Keuntungan pendedahan melalui jalur
inhalasi adalah inhalasi cepat dalam menunjukkan efek karena langsung dari
sistem pernafasan (Barash, 2001).
Reagen yang digunakan pada praktikum ini adalah MnSO4, KOH-KI, H2SO4,
thiosulfat, dan amilum untuk metode Winkler lalu KOH dan eosin untuk
respirometer. MnSO4 dipakai pada awal metode Winkler yang digunakan untuk
pereaksi dengan KOH-KI agar Mn(OH)2 mengendap dan lalu Mn(OH)2 bereaksi
dengan oksigen membentuk MnO(OH)2. H2SO4 melarutkan MnO(OH)2 dan
menghasilkan Mn(SO4)2. Mn(SO4)2 lalu bereaksi dengan KI dari KOH-KI
membentuk I2. Amilum digunakan untuk medeteksi adanya I2 pada larutan. Pada
percobaan respirometer, reagen yang digunakan adalah butiran KOH. Fungsi dari
KOH adalah CO2 yang dihasilkan oleh
indikator (Hutagalung,1985).

mencit. Eosin digunakan menjadi

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum sistem respirasi yang telah dilakukan, didapat


kesimpulan, yaitu:
1. Laju konsumsi oksigen mencit rata rata adalah 2,551 mL/jam gram.
2. Laju konsumsi oksigen kecoa rata rata adalah 8,85 mL/jam gram.
3. Laju konsumsi oksigen ikan komet rata rata pada air keran adalah
5,793 x 10-6 mL/sekon gram, sedangkan laju konsumsi oksigen ikan
komet rata rata pada air detergen adalah 4,421 x 10-6 mL/sekon gram.
4. Pada lingkungan yang sama, respirasi hewan kecil, lebih cepat
mengonsumsi oksigen dibandingkan dengan hewan besar.
5. Hewan terestrial lebih cepat dalam mengonsumsi oksigen dibandingkan
dengan hewan akuatik.

DAFTAR PUSTAKA
Barash, P. G., B. F. Cullen, dan R. K. Stoelting. 2001. Clinical Anesthesia 4th
edition. Washington : Lippincott Williams & Wilkins Publishers
Beamish, F.W.H., P.S. Moolherjii. 1964. Respiration of Fishes with Special
Emphasis on Standard Oxygen Consumption: I. Influence of Weight and
Temperature on Respiration of Goldfish, Carassius auratus LCanadian
Journal of Zoology. 42(2) h. 161-175
Campbell, N.A., J.B. Reece, dan M.L. Cain, S.A. Wasserman, P.V. Minorsky,
R.B Jackson.2010. Biology, edisi ke-9.New Jersey : Pearson Inc
Fondriest Environmental Inc. 2016. Measuring Dissolved Oxygen.
http://www.fondriest.com/environmentalmeasurements/equipment/measuring-water-quality/dissolved-oxygensensors-and-methods/, diakses pada 17 September 2016.
Gorecki, A., R. Meczeva, T. Pis, S. Gerasimov, dan W.Walkowa. 1990.
Geographical variation of thermoregulation in wild populations of Mus
muscu/us and Mus spretus" Acta Theriologica. 35 (3-4) h.209-214.
Graham, B. J., 1990. Ecological, Evolutionary, and Physical Factors
Influencing Aquatic Animal Respiration. American Zoologist, 30(1), pp.
137-146.
Hutagalung Horas P., Abdul Rozak, Irman Lutan. 1985. Beberapa Catatan
tentang Penentuan Kadar Oksigen dalam Air Laut berdasarkan Metode
Winkler. Oseana X : 138-149
Levi, D. M. (2005). Preceptual learning in adults with amblyopia: A
Reevaluation of critical periods in human vision. Development Physiologi
46, 222-232.
Mahung, C. 2016. The Cockroach FAQ. University of Massachusetts.
http://www.bio.umass.edu/biology/kunkel/cockroach_faq.html#Q21,
diakses pada 18 September 2016
Martini. 2012. Fundamental of Anatomy & Physiology Ninth Edition. San
Fransisco: Pearson Education.
NCS Pearson. 2016. Rats Internal System.
http://www.tutorvista.com/
content/biology/biology-iii/animal-morphology/respiratory-excretorynervous-reproductive-system-rat.php, diakses pada 20 September 2016
Pearson Education. 2015. How The Respirometer Works. [Online]
http://www.phschool.com/science/biology_place/labbench/lab5/respwork.
html diakses pada 18 September 2016.
Question Study. 2016. Respiratory System of Cockroach. http://www.question
study.com/biology/respiratory-system-cockroach.html, diakses pada 18
September 2016
Rasmin M, Rogayah R, Wihastuti R, Fordiastiko, Zubaedah, Elsina S. 2001.
Prosedur Tindakan Bidang Paru dan PernapasanDiagnostik dan Terapi.
Bagian Pulmonologi FKUI. Balai Penerbit FKUI. Jakarta: hal. 59-64.
Reece, J.B., Urry, L.A., Calin, M.L., Winorsky, P.A., Wasserman, S.A. and

Jackson, R.B. (2011) Campbell Biology. 9th edn. San Fransisco: Pearson
Education.
Salmin. 2005. Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD)
sebagai Salah Satu Indikator untuk Menentukan Kualitas Perairan. Jurnal
Oseana. 30(3): 21-26
Soetjipto. 1993. Dasar-dasar Ekologi Hewan. Jakarta. Departemen
Pendidikan
dan Kebudayaan Direktorat. Jendral Pendidikan Tinggi.
Waluyo, Joko. 2006. Biologi Dasar. Jember: Universitas Jember.
Wiryadi. 2008. Sistem Respirasi. http://www.scribd.com/doc/22234288/
SISTEM-RESPIRASI, diakses pada 20 September 2016.