Anda di halaman 1dari 3

Moko Nugroho

1506771395
Ekonomi Makro I

Krisis Ekonomi 2008

Krisis ekonomi 2008 menjadi krisis terbesar setelah Great Depression tahun 1929.
Berbagai pandangan atau prediksi para ekonom yang merasa paling benar dengan segala
teorinya tidak mampu menghadang terjadinya krisis, karena kenyataannya krisis ekonomi
tetap terjadi. Krisis 2008 telah mencengangkan para ekonom bahwa pandangan atau
prediksinya selama ini salah.
Penulisan essai ini bertujuan untuk menganalisis penyebab krisis 2008 dan
kesalahan pandangan atau prediksi para ekonom akan terjadinya krisis 2008. Acuan untuk
menganalisis tersebut didasarkan pada artikel The Economist berjudul "What Went Wrong
with Economics?", "The Other Worldly Philosophers", "Efficiency and Beyond" pada tanggal
16 Juli 2009 dan Artikel Paul Krugman berjudul How Did Economists Get it So Wrong?
pada New York Times tanggal 2 September 2009. Prosedur yang digunakan dalam
menganalisisnya, yaitu mempelajari artikel tersebut, mengidentifikasi penyebab krisis dan
kegagalan para ekonom dalam memprediksikannya. Kedua artikel memaparkan gelembung
saham properti yang tidak diantisipasi oleh The Federal Reserve yang terlalu berfokus pada
inflasi dan kegagalan ekonom menghubungkan ekonomi makro dengan sektor keuangan.
Penyebab krisis 2008 diawali dari The Fed menetapkan suku bunga yang rendah
pasca resesi tahun 2001 dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi Amerika
Serikat. Ini dimanfaatkan bank dengan memberi subprime mortgage pada sektor perumahan
atau properti, masyarakat yang tidak layak mendapatkan pinjaman tetap diberikan pinjaman
untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Banyaknya kredit properti yang
dikucurkan mengakibatkan permintaan properti meningkat, sementara pembuatan rumah
memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga berdampak supply yang tidak seimbang
dengan permintaan, akibatnya harga properti mulai naik. Bank juga memanfaatkan kucuran
kredit tersebut untuk menerbitkan obligasi, yang kemudian digunakan untuk memberikan

kredit kembali. Hal ini dilakukan karena didasarkan pada asumsi bahwa bank selalu dapat
memutar hutang jangka pendeknya atau menjual sekuritas berbasis pinjaman.
Saat terjadi kenaikan harga properti yang terus menerus, banyak ekonom yang
melihat bahwa gelembung saham properti akan terus naik atau dolar akan jatuh, namun
tidak mengharapkan sektor keuangan berhenti. Ben Bernanke menganggap hal tersebut
akibat dari suku bunga yang rendah sehingga terjadi kenaikan harga dan melihatnya
sebagai refleksi dari dasar ekonomi yang kuat. Sementara Alan Greenspan beranggapan
bahwa perumahan tidak mungkin terjadi gelembung, kenaikan harga saham perumahan
karena pasar perumahan yang kurang likuid, dan orang-orang sangat berhati-hati ketika
mengambil keputusan untuk membelinya.
Kenaikan harga properti yang terus menerus membuat perilaku irasional saham dan
terjadinya gelembung saham. Ekonom Robert Shiller memberikan peringatan akan bahaya
kondisi pasar perumahan yang overvalued. Peringatan ini yang kemudian semakin
membuat perdebatan panjang antara penganut Efficient Market Hypothesis (EMH) dan
Behaviouralists dengan idenya masing-masing. Bahkan dalam sebuah konferensi,
Raghuram Rajam (Universitas Chicago) telah memaparkan dalam makalahnya akan potensi
bahaya dan resiko dari sektor keuangan yang sedang berjalan di Amerika Serikat. Namun,
paparannya dianggap sesat oleh peserta konferensi tersebut. Perbedaan pandangan antara
penganut Classical dan Keynesian hingga muncul golongan ekonom freshwater dan
saltwater yang berselisih pada teori, tanpa ada tindakan nyata hingga melupakan tandatanda akan terjadinya krisis.
Pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat menjadikan The Federal Reserve
merasa berbangga diri setelah dari beberapa dekade terpuruk. Namun perlu diingat bahwa
pertumbuhan ekonomi yang meningkat akan diikuti dengan kenaikan inflasi. Kondisi ini
mendorong The Fed mulai menaikkan suku bunga. Kenaikan suku bunga ini mulai
dirasakan masyarakat dengan tingginya pinjaman yang harus dibayar. Masyarakat mulai
berat dan tidak mampu membayar pinjamannya. Mulai terjadi kredit macet, rumah disita
atau dijual, hingga terjadi ledakan gelembung saham properti yang berdampak pada

terjadinya krisis.
Frederic Mishkin telah memaparkan simulasi modelnya untuk mengatasi krisis yang
terjadi hingga The Fed telah menurunkan suku bunganya hingga menjadi 0 0,25 %.
Namun ini tidak mampu meredam krisis yang sudah terjadi. Bahkan ini menurunkan
kepercayaan ekonom dalam kebijakan moneter. Usulan untuk ekspansi kebijakan fiskal
yang disampaikan Krugman mendapatkan perlawanan dari para ekonom utamanya dari
golongan ekonom freshwater, karena peningkatan belanja pemerintah tidak akan
mengurangi resesi yang terjadi.
Kegagalan Amerika Serikat menghadapi krisis sebenarnya juga karena ekonomi
makro yang selalu berasumsi bahwa pasar bekerja sempurna dan setiap orang berperilaku
rasional. Ekonomi makro dan sektor keuangan juga turut membantu terjadinya krisis karena
ekonomi makro yang terlalu berfokus pada inflasi, sementara sektor keuangan yang
menganut bahwa pasar akan mengatur dirinya sendiri dan selalu efisien.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan penulisan essai ini
adalah untuk menganalisis penyebab krisis 2008 dan kesalahan pandangan atau prediksi
para ekonom akan terjadinya krisis 2008. Penyebab krisis 2008 adalah penurunan suku
bunga The Fed diikuti dengan meningkatnya subprime mortgage yang berdampak pada
gelembung saham properti dan perilaku irasional saham hingga terjadinya ledakan
gelembung saham. Ekonom yang terpaku pada asumsi-asumsi untuk mengandalkan
teorinya, mengabaikan peringatan akan bahaya krisis, dan perdebatan pandangan yang
berselisih pada teori, tanpa ada tindakan nyata terhadap keadaan perekonomian.