Anda di halaman 1dari 20

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI

DENGAN HIPERBILIRUBIN

A. Hiperbilirubin
Hiperbilirubin adalah tingginya kadar bilirubin yang terakumulasi
dalam darah dan dengan jaudince atau ikterius yaitu warna kuning pada kulit,
sklera dan kuku (Wong, 2008).

Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar

bilirubin serum (hiperbilirubinemia) yang disebabkan oleh kelainan bawaan


juga dapat menimbulkan ikterus (Smeltzer, 2001).
Menurut Mansjoer (2000), Hiperbilirubin adalah ikterus dengan
konsentrasi bilirubin serum yang menjurus ke arah terjadinya kern ikterus atau
ensefelopati

bilirubin

bila

kadar

bilirubin

tidak

terkendalikan.

Hiperbilirubinemia merupakan suatu keadaan kadar bilirubin serum total yang


lebih dari 10 mg % pada minggu pertama yang ditandai dengan ikterus pada
kulit, sklera dan organ lain, keadaan ini mempunyai potensi menimbulkan
kern ikterus.

Kern ikterus adalah suatu keadaan kerusakan otak akibat

perlengkatan bilirubin indirek pada otak (Ilyas, 1994).


Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah
yang kadar nilainya lebih dari normal (Suriadi, 2001). Nilai normal bilirubin
indirek 0,3 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 0,4 mg/dl.
Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin
dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek
patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata, kulit, membrane
mukosa dan cairan tubuh (Adi Smith, G, 1988).
Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin
dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus
(Dorothy R. Marlon, 1998). Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang
dapat menimbulkan efek pathologis (Markum, 1991:314).

B. Klasifikasi Hiperbilirubin
1. Ikterus prehepatik
Disebabkan oleh produksi bilirubin yang berlebihan akibat
hemolisis sel darah merah. Kemampuan hati untuk melaksanakan

konjugasi terbatas terutama pada disfungsi hati sehingga menyebabkan


kenaikan bilirubin yang tidak terkonjugasi. Ikterus ini disebabkan oleh
kelainan hemolitik seperti sferositosis, malaria tropika berat, anemia
pernisiosa, atau transfusi darah yang tidak kompatibel.
2. Ikterus hepatic
Disebabkan karena adanya kerusakan sel parenkim hati. Akibat
kerusakan hati maka terjadi gangguan bilirubin tidak terkonjugasi masuk
ke dalam hati serta gangguan akibat konjugasi bilirubin yang tidak
sempurna dikeluarkan ke dalam duktus hepatikus karena terjadi retensi
dan regurgitasi. Ikterus ini disebabkan oleh adanya Hepatitis A, B, C, D,
atau E, leptospirosis, mononucleosis, serosis hepatis, kolestasis karena
obat (klorpromazin), atau zat yang meracuni hati seperti fosfor, kloroform.
3. Ikterus kolestatik (pascahepatik)

Disebabkan oleh bendungan dalam saluran empedu sehingga


empedu dan bilirubin terkonjugasi tidak dapat dialirkan ke dalam usus
halus. Akibatnya adalah peningkatan bilirubin terkonjugasi dalam serum
dan bilirubin dalam urin, tetapi tidak didapatkan urobilirubin dalam tinja
dan urin.
4. Ikterus neonatus fisiologi
Ikterus fisiologik adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan
ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis, kadarnya tidak melewati
kadar yang membahayakan atau mempunyai potensi menjadi kernicterus
dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi.
Terjadi pada 2-4 hari setelah bayi baru lahir dan akan sembuh pada
hari ke-7. Penyebabnya organ hati yang belum matang dalam memproses
bilirubin. Berikut kondisi ikterus fisiologi :
a. Timbul pada hari ke 2 atau ke 3, tampak jelas pada hari ke 5-6 dan
menghilang pada hari ke 10.
b. Bayi tampak biasa, minum baik, berat badan naik biasa
c. Kadar bilirubin serum pada bayi cukup bulan tidak lebih dari 12 mg %,
pada BBLR 10 mg %, dan akan hilang pada hari ke 14.
d. Penyebab ikterus fisiologis diantaranya karena kekurangan protein Y
dan Z, enzim Glukoronyl transferase yang belum cukup jumlahnya.
5. Ikterus neonatus patologis
Ikterus patologik adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis
atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubin.

Ikterus patologi terjadi karena faktor penyakit atau infeksi. Biasanya


disertai suhu badan yang tinggi dan berat badan tidak bertambah.
Pada neonatus, ikterus dapat menjadi patologi jika kondisi berikut
ini :
a. Ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama setelah lahir
b. Peningkatan kadar bilirubin serum sebanyak 5 mg/dl atau lebih setiap
24 jam.
c. Konsentrasi bilirubin serum melebihi 10 mg % pada BBLR dan 12,5
mg % pada bayi cukup bulan.
d. Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkomptabilitas darah,
defisiensi enzim G-6-PD, dan sepsis)
e. Bilirubin direk lebih dari 1 mg % atau kenaikan bilirubin serum 1 mg
% /dl/jam atau lebih 5 mg/dl/hari
f. Ikterus menetap sesudah bayi umur 10 hari (bayi cukup bulan) dan
lebih dari 14 hari pada BBLR
g. Ikterus yang disertai :
1) Berat lahir < 2000 gr
2) Masa gestasi < 36 minggu
3) Asfiksia, hipoksia, sindrom gawat napas pada neonatus
4) Infeksi
5) Trauma lahir pada kepala
6) Hipoglikemia, hiperkarbia
7) Hiperosmolaritas darah
h. Ikterus klinis yang menetap setelah bayi berusia > 8 hari (pada NCB)
atau 14 hari (pada NKB).
6. Kern Ikterus
Suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada
otak terutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus

Subtalamus,

Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV.


Berikut derajat ikterus pada neonatus menurut Kramer :
Zona

Bagian tubuh yang kuning

Rata-rata serum bilirubin


indirek (umol/l)

Kepala dan leher

100

Pusat-leher

150

Pusat-paha

200

Lengan + tangkai

250

Tangan + kaki

> 250

C. Etiologi
1. Pembentukan bilirubin berlebihan. Peningkatan kadar bilirubin yang
berlebihan di dalam darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Peningkatan produksi :
1) Hemolisis, misal pada inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat
ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan
Rhesus dan ABO.
2) Pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran.
3) Ikatan bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan
metabolic yang terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis.
4) Defisiensi G6PD (Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase).
5) Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa),
20 (beta), diol (steroid).
6) Kurangnya enzim Glukoronil Transeferase, sehingga kadar
Bilirubin Indirek meningkat misalnya pada berat badan lahir
rendah.
7) Kelainan

kongenital

(Rotor

Sindrome)

dan

Dubin

Hiperbilirubinemia.
b. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan
misalnya pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat
tertentu misalnya Sulfadiasine. Bilirubin dalam darah terikat pada
albumin kemudian diangkut ke hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin
ini dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, sulfafurazole.
Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin
indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak.
c. Gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme
atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah
seperti infeksi, Toksoplasmosis, Siphilis.
d. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra Hepatik. Gangguan
ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar.
Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan.
Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi atau kerusakan hepar
oleh penyebab lain.
e. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif

Berikut faktor risiko terjadinya hiperbilirubin :


a. Faktor maternal
1) Ras atau kelompok etnik tertentu (Asia, Native American, Yunani)
2) Komplikasi kehamilan (DM, inkompatibilitas ABO dan Rh)
3) Penggunaan infus oksitosin dalam larutan hipotonik
4) ASI
b. Faktor perinatal
1) Trauma lahir (sefalhematom, ekimosis)
2) Infeksi (bakteri, virus, protozoa)
c. Faktor neonatus
1) Prematuritas
2) Genetik
3) Polisitemia
4) Obat (streptomisin, kloramfenikol)
5) Rendahnya asupan ASI
6) Hipoglikemia
7) Hipoalbuminemia
D. Patofisiologi
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa
keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan
beban bilirubin pada sel hepar yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat
ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia,
memendeknya umur eritrosit janin/bayi, meningkatnya bilirubin dari sumber
lain, atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik.
Gangguan ambilan bilirubin plasma juga menimbulkan peningkatan
kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein-Y berkurang
atau pada keadaan protein-Y dan protein-Z terikat oleh anion lain, misalnya
pada bayi dengan asidosis atau dengan anoreksia/hipoksia. Keadaan lain yang
memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan
gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukuronil transferase) atau bayi
yang menderita gangguan eskresi, misalnya penderita hepatitis neonatal atau
sumbatan saluran empedu intra/ ekstrahepatik.
Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak
jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang
bersifat sukar larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek
patologik pada sel otak pabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah
otak. Kelainan yang terjadi pada otak ini disebut kernikterus atau ensefalopati
biliaris. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada susunan saraf pusat

tersebut mungkin akan timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih dari 20
mg/dL.
Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak
hanya tergantung pula pada keadaan neonates sendiri. Bilirubin indirek akan
mudah melalui sawar darah otak apabila pada bayi terdapat keadaan
imaturitas, berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia, hipoglikemia, dan
kelainan susunan saraf pusat yang terjadi karena trauma atau infeksi (Markum,
1991)

E. Pathway Hiperbilirubin
Etiologi
(prematuritas, dll)

Kerusakan sel darah


merah

Peningkatan dekstruksi eritrosit (gangguan konjugasi


bilirubin/gangguan transport bilirubin) Hb & eritrosit
abnormal
Pemecahan bilirubin berlebihan
dengan peningkatan albumin
Suplai bilirubin melebihi
ketidakmampuan hepar

Pemecahan
hemoglobin
Biliverdin

Globin
Heme
Feco

Masuk ke sirkulasi darah


Peningkatan bilirubin
dalam darah

Hepar tidak mampu


melakukan konjungasi
Obstruksi usus

Ikterus Neonatorum

Tinja berwarna
pucat

Indikasi fototerapi

Kerusakan
integritas kulit

Sinar dengan
intensitas tinggi

Risiko cedera

Risiko kekurangan
volume cairan tubuh

Risiko
ketidakseimbangan
suhu tubuh

F. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang biasanya terjadi pada orang dengan hiperbilirubin
adalah sebagai berikut :
1. Kulit berwarna kuning sampe jingga
2. Pasien tampak lemah
3. Nafsu makan berkurang
4. Reflek hisap kurang
5. Urine pekat
6. Perut buncit
7. Pembesaran lien dan hati
8. Gangguan neurologic
9. Feses seperti dempul
10. Kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl.
11. Terdapat ikterus pada sklera, kuku/kulit dan membran mukosa.
12. Jaundice yang tampak 24 jam pertama disebabkan penyakit hemolitik pada
bayi baru lahir, sepsis atau ibu dengan diabetk atau infeksi.
13. Jaundice yang tampak pada hari ke 2 atau 3 dan mencapai puncak pada hari ke
3-4 dan menurun hari ke 5-7 yang biasanya merupakan jaundice fisiologi.
Menurut Surasmi (2003) gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan
menjadi :
1. Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada
neonatus adalah letargi, tidak mau minum dan hipotoni.
2. Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi hipertonus
dan opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa
paralysis serebral dengan atetosis, gengguan pendengaran, paralysis sebagian
otot mata dan displasia dentalis).
Sedangkan menurut Handoko (2003) gejalanya adalah warna kuning
(ikterik) pada kulit, membrane mukosa dan bagian putih (sclera) mata terlihat saat
kadar bilirubin darah mencapai sekitar 40 mol/l.
Berikut

adalah

table

penegakan

diagnosis

ikterus

Neonatrum

berdasarkan waktu kejadiannya :

Waktu
Hari ke-1

Diagnosis banding
Penyakit hemolitik (bilirubin indirek)

Anjuran pemeriksaan
Kadar bilirubin serum

Inkompabilitas darah (Rh, ABO)

berkala,

Sferositosis

retikulosit,

Anemia hemolitik, non sferosis

apus darah

HB,

Ht,

sediaan

Ikterus

obstruktif

(bilirubin

direk)

Hepatitis neonatal

Golongan

darah

ibu/bayi, uji Coomb

Uji

tapis

defisiensi

enzim

Hari ke-2 s/d

Kuning pada bayi premature

ke-5

Kuning fisiologik

Sepsis

Darah ekstravaskular

Polisitemia

Sferosis kongenital

Uji serologi terhadap

TORCH
Hitung jenis

darah

lengkap

Urin mikroskopik dan


biakan urin

Pemeriksaan terhadap
infeksi bakteri

Golongan

darah

Hari ke-5 s/d

Sepsis biliaris

ibu/bayi, uji Coomb


Uji fungsi tiroid

ke-10

Kuning karena ASI

Uji tapis enzim G6PD

Defisiensi G6PD

Gula dalam urin

Hipotiroidisme

Pemeriksaan terhadap

Galaktosemia

Obat-obatan
Atresia biliaris

Hepatitis neonatal

Kista koledukus

Sepsis (terutama infeksi saluran

Hari

ke-10

atau lebih

sepsis

Urin mikroskopik dan


biakan urin

Uji serologi terhadap


TORCH

kemih)

Biopsy hati

Stenosis

Kolesistografi

G. Komplikasi Bilirubin
Keadaan bilirubin yang tidak teratasi akan menyebabkan memperburuk
keadaan, dan menyebabkan komplikasi;
1. Bilirubin enchepalopathy (komplikasi serius)

2. Kernikterus; kerusakan neurologis, cerebral palsy, retardasi mental, hiperaktif,


bicara lambat, tidak ada koordinasi otot dan tangisan yang melengking.
(Suriadi, 2001)
H. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan laboratorium.
a. Test Coomb pada tali pusat BBL
Hasil positif test Coomb indirek menunjukkan adanya antibody Rh-positif,
anti-A, anti-B dalam darah ibu. Hasil positif dari test Coomb direk
menandakan adanya sensitisasi (Rh-positif, anti-A, anti-B) SDM dari
neonatus.
b. Golongan darah bayi dan ibu : mengidentifikasi incompatibilitas ABO.
c. Bilirubin total.
Kadar direk (terkonjugasi) bermakna jika melebihi 1,0-1,5 mg/dl yang
mungkin dihubungkan dengan sepsis. Kadar indirek (tidak terkonjugasi)
tidak boleh melebihi 5 mg/dl dalam 24 jam atau tidak boleh lebih dari 20
mg/dl pada bayi cukup bulan atau 1,5 mg/dl pada bayi praterm tegantung
pada berat badan.
1) Pada bayi cukup bulan, bilirubin mencapai kurang lebih 6 mg/dl antara
2-4 hari setelah lahir. Apabila nilainya lebih dari 10 mg/dl tidak
fisiologis.
2) Pada bayi premature, kadar bilirubin mencapai puncak 10-12 mg/dl
antara 5-7 hari setelah lahir. Kadar bilirubin yang lebih dari 14 mg/dl
tidak fisiologis.
d. Protein serum total
Kadar kurang dari 3,0 gr/dl menandakan penurunan kapasitas ikatan
terutama pada bayi praterm.
e. Hitung darah lengkap
Hb mungkin rendah (< 14 gr/dl) karena hemolisis. Hematokrit mungin
meningkat (> 65%) pada polisitemia, penurunan (< 45%) dengan
hemolisis dan anemia berlebihan.
f. Glukosa
Kadar dextrostix mungkin < 45% glukosa darah lengkap <30 mg/dl atau
test glukosa serum < 40 mg/dl, bila bayi baru lahir hipoglikemi dan mulai
menggunakan simpanan lemak dan melepaskan asam lemak.
g. Daya ikat karbon dioksida
Penurunan kadar menunjukkan hemolisis
h. Meter ikterik transkutan

Mengidentifikasi bayi yang memerlukan penentuan bilirubin serum.


i. Smear darah perifer
Dapat menunjukkan SDM abnormal/ imatur, eritroblastosis pada penyakit
RH atau sperositis pada incompabilitas ABO
j. Test Betke-Kleihauer
Evaluasi smear darah maternal tehadap eritrosit janin.
2. Pemeriksaan radiologi
Bertujuan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma
kanan pada pembesaran hati, seperti abses hati atau hepatoma.
3. Ultrasonografi
Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra
hepatik
4. Biopsy hati
Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar
seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatik dengan intra hepatic.
Selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis, serosis hepatis,
dan hepatoma.
5. Peritoneoskopi
Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat dokumentasi untuk
perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini.
6. Laparatomi
Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi
untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini.
I. Penatalaksaan Hiperbilirubin
Berdasarkan pada penyebabnya,

maka

manejemen

bayi

dengan

Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek


dari Hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan :
1. Menghilangkan Anemia
2. Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi
3. Meningkatkan Badan Serum Albumin
4. Menurunkan Serum Bilirubin
Berikut secara garis besar tindakan yang diberikan pada pasien dengan
hiperbilirubin :
1. Tindakan Umum
a. Memeriksa golongan darah ibu (Rh, ABO) pada waktu hamil.
b. Mencegah trauma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru
lahir yang dapat menimbulkan ikterus, infeksi dan dehidrasi.
c. Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai
dengan kebutuhan bayi baru lahir.
d. Imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat.
2. Tindakan khusus

a. Fototerapi
Dilakukan apabila telah ditegakkan bahwa klien positif terkena
hiperbilirubin patologis dan berfungsi untuk menurunkan bilirubin dalam
kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto.
Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan
transfusi pengganti untuk menurunkan bilirubin. Memaparkan neonatus
pada cahaya dengan intensitas yang tinggi (a bound of fluorencent light
bulbs orbulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan Bilirubin
dalam kulit. Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara
memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi.
Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsijaringan mengubah
Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin.
Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui
mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan
Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu
dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa
proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch, 1984).
Hasil Fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin
dapat dikeluarkan melalui urine. Fototherapi mempunyai peranan dalam
pencegahan peningkatan kadar Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah
penyebab Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia. Secara
umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5
mg/dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram
harus di Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg/dl. Beberapa
ilmuan mengarahkan untuk memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24
jam pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat Badan Lahir Rendah.
b. Pemberian Fenobarbital
Mempercepat konjugasi dan mempermudah ekskresi. Namun
pemberian ini tidak efektif karena dapat menyebabkan gangguan metabolic
dan pernapasan baik pada ibu maupun bayi.
c. Terapi transfusi pengganti
Dengan memberikan albumin agar mempercepat keluarnya
bilirubin dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga lebih mudah dikeluarkan
dan dapat menurunkan kadar bilirubin yang berlebihan tersebut. Transfusi
Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor :
1) Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu.

2) Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir.


3) Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam
pertama.
4) Tes Coombs Positif
5) Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3,5 mg/dl pada minggu pertama.
6) Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl pada 48 jam pertama.
7) Hemoglobin kurang dari 12 gr/dl.
8) Bayi dengan Hidrops saat lahir.
9) Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus.
Transfusi Pengganti digunakan untuk :
1) Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan)
terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal.
2) Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan)
3) Menghilangkan Serum Bilirubin
4) Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan keterikatan
dengan Bilirubin
Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O
segera (kurang dari 2 hari), Rh negatif whole blood. Darah yang dipilih
tidak mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. Setiap 4 - 8 jam
kadar Bilirubin harus dicek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari
sampai stabil.
d. Menyusui bayi dengan ASI
e. Terapi sinar matahari
f. Tindak lanjut terhadap semua bayi yang menderita hiperbilirubin yaitu
dengan evaluasi berkala terhadap pertumbuhan, perkembangan dan
pendengaran serta fisioterapi dengan rehabilitasi terhadap gejala sisa.
3. Tindak lanjut
Tindak lanjut terhadap semua bayi yang menderita hiperbilirubin
dengan

evaluasi

berkala

terhadap

pertumbuhan,

perkembangan

dan

pendengaran serta fisioterapi dengan rehabilitasi terhadap gejala sisa.


J. Pengkajian Hiperbilirubin
Dalam melakukan pengkajian pada anak dengan gangguan hiperbilirubin
adalah dilakukan sebagai berikut.
1. Identitas pasien dan keluarga
2. Riwayat Keperawatan
a. Riwayat Kehamilan
Kurangnya antenatal care yang baik. Penggunaan obat obat yang
meningkatkan ikterus ex: salisilat sulkaturosic oxitosin yang dapat
mempercepat proses konjungasi sebelum ibu partus.

b. Riwayat Persalinan
Persalinan dilakukan oleh dukun, bidan, dokter. Atau data obyektif ; lahir
prematur/kurang bulan, riwayat trauma persalinan, hipoksia dan asfiksia
c. Riwayat Post natal
Adanya kelainan darah, kadar bilirubin meningkat kulit bayi tampak
kuning.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Seperti ketidak cocokan darah ibu dan anak polisitemia, gangguan saluran
cerna dan hati (hepatitis)
e. Riwayat Psikososial
Kurangnya kasih sayang karena perpisahan, perubahan peran orang tua
f. Pengetahuan Keluarga
Penyebab perawatan pengobatan dan pemahan orangtua terhadap bayi
yang ikterus.
3. Pengkajian Kebutuhan Dasar manusia
a. Aktivitas/Istirahat
Letargi, malas.
b. Sirkulasi
Mungkin pucat menandakan anemia.
c. Eliminasi
Bising usus hipoaktif. Pasase mekonium mungkin lambat. Feses mungkin
lunak/coklat kehijauan selama pengeluaran bilirubin. Urin gelap pekat;
hitam kecoklatan (sindrom bayi bronze).
d. Makanan/Cairan
Riwayat perlambatan/makan oral buruk, mungkin lebih disusui daripada
menyusu botol. Pada umumnya bayi malas minum ( reflek menghisap dan
menelan lemah sehingga BB bayi mengalami penurunan). Palpasi
abdomen dapat menunjukkan pembesaran limfa, hepar
e. Neuro sensori
Sefalohematoma besar mungkin terlihat pada satu atau kedua tulang
parietal yang berhubungan dengan trauma kelahiran/kelahiran ekstraksi
vakum. Edema umum, hepatosplenomegali, atau hidrops fetalis mungkin
ada dengan inkompatibilitas Rh berat. Kehilangan refleks Moro mungkin
terlihat. Opistotonus dengan kekakuan lengkung punggung, fontanel
menonjol, menangis lirih, aktivitas kejang (tahap krisis).
f. Pernafasan
Riwayat asfiksia, krekels, bercak merah muda.
g. Keamanan
Riwayat positif infeksi/sepsis neonatus. Dapat mengalami ekimosis
berlebihan, ptekie, perdarahan intracranial. Dapat tampak ikterik pada

awalnya pada daerah wajah dan berlanjut pada bagian distal tubuh; kulit
hitam kecoklatan (sindrom bayi Bronze) sebagai efek samping fototerapi.
h. Seksualitas
Mungkin praterm, bayi kecil untuk usia gestasi (SGA), bayi dengan
retardasi pertumbuhan intrauterus (LGA), seperti bayi dengan ibu diabetes.
Trauma kelahiran dapat terjadi berkenaan dengan stress dingin, asfiksia,
hipoksia, asidosis, hipoglikemia. Terjadi lebih sering pada bayi pria
dibandingkan perempuan.
i. Penyuluhan/Pembelajaran
Dapat mengalami hipotiroidisme congenital, atresia bilier, fibrosis kistik.
1) Faktor keluarga; missal riwayat hiperbilirubinemia pada kehamilan
sebelumnya, penyakit hepar, fibrosis kristik, kesalahan metabolisme
saat lahir (galaktosemia), diskrasias darah (sferositosis, defisiensi
gukosa-6-fosfat dehidrogenase.
2) Faktor ibu, seperti diabetes; mencerna obat-obatan (missal, salisilat,
sulfonamide

oral

pada

kehamilan

akhir

atau

nitrofurantoin

(Furadantin); inkompatibilitas Rh/ABO; penyakit infeksi (misal,


rubella, sitomegalovirus, sifilis, toksoplamosis).
3) Faktor penunjang intrapartum, seperti persalinan praterm, kelahiran
dengan ekstrasi vakum, induksi oksitosin, perlambatan pengkleman tali
pusat, atau trauma kelahiran.
4. Pemeriksaan fokus (Suriadi, 2001)
a. Pemeriksaan fisik, inspeksi; warna sklera, konjungtiva, membran mukosa
b.
c.
d.
e.
f.
g.

mulut, kulit, urine dan tinja.


Pemeriksaan bilirubin menunjukkan adanya peningkatan
Tanyakan berapa lama jaundice muncul dan sejak kapan
Apakah bayi ada demam
Bagaimana kebutuhan pola minum
Tanyakan tentang riwayat keluarga
Apakah anak sudah mendapat imunisasi hepatitis B

K. Diagnosa Keperawatan
1. Ikterus neonatorum berhubungan dengan usia bayi < 1-7 hari.
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan jaundice atau radiasi.
3. Gangguan suhu tubuh (hipertermi) akibat efek samping fototerapi berhubungan
dengan efek mekanisme regulasi tubuh.
4. Risiko kekurangan volume cairan tubuh akibat efek samping fototerapi
berhubungan dengan pemaparan sinar dengan intensitas tinggi.
5. Risiko cidera berhubungan dengan fototerapi atau peningkatan kadar bilirubin.

L. Perencanaan Keperawatan
No
Dx
1

Diagnosa

NOC

NIC

Ikterus neonatorum NOC:


berhubungan

NIC:

Newborn Adaptation

Phototherapy: neonate

dengan usia bayi < Setelah dilakukan tindakan 1. Gunakan penutup


1-7 hari

keperawatan,

diharapkan

ikterik pada bayi berkurang


dengan kriteria hasil:
1. Warna kulit bayi tidak
kuning.
2. Hasil
lab
normal.

mata pada bayi,


jangan mengikat
terlalu ketat.
2. Lepaskan penutup
mata setiap 3 jam

bilirubin

atau saat kontak


dengan Ibu atau saat
menyusui.
3. Monitor adanya
pembengkakan,
warna, dan
kelembaban mata
bayi.
4. Monitor vital sign
bayi.
5. Ganti posisi bayi
setiap 3 jam.
6. Monitor hasil lab
terutama bilirubi
7. Monitor tanda-tanda
adanya dehidrasi
8. Timbang berat badan
setiap hari.
9. Anjurkan ibu untuk
memberi ASI.
10. Anjurkan ibu untuk
berpartisipasi saat
bayi dilakukan
fototerapi.
11. Delegatif dalam

pemberian obat
Kerusakan integritas Tissue Integrity : Skin and Pressure Management
1. Monitor warna dan
kulit berhubungan Mucous Membranes
Setelah dilakukan tindakan
keadaan kulit setiap
dengan
jaundice
keperawatan selama proses
4-8 jam
atau radiasi.
2. Monitor
keadaan
keperawatan
diharapkan
bilirubin direk dan
integritas
kulit
kembali
indirek (kolaborasi
baik/normal dengan kriteria
dengan dokter dan
hasil :
a. Kadar bilirubin dalam
analis)
3. Ubah posisi miring
batas normal (0,2 1,0
atau tengkurap setiap
mg/dl)
b. Kulit tidak berwarna
2
jam,
lakukan
kuning/warna

kuning

massage dan monitor

mulai berkurang
keadaan kulit
c. Tidak timbul lecet akibat 4. Jaga kebersihan kulit
penekanan

kulit

yang

terlalu lama

dan

kelembaban

kulit/Memandikan
dan pemijatan bayi

Risiko

Termoregulation

Fever treatment

ketidakseimbangan

Setelah dilakukan tindakan 1. Pantau kulit neonatus

suhu tubuh akibat keperawatan selama proses

dan suhu inti setiap 2

efek

jam atau lebih sering

samping keperawatan diharapkan suhu

fototerapi

dalam rentang normal.

sampai setabil( mis;

berhubungan

Kriteria hasil :

suhu

dengan

efek 1. Suhu tubuh dalam rentang

mekanisme regulasi
tubuh.

aksila).

suhu

Atur

incubator

normal (36,50C-370C)
dengan tepat
2. Nadi dan respirasi dalam 2. Monitor intake dan
batas normal (N : 120-160
x/menit, RR : 35 x/menit)
3. Membran mukosa lembab

output
3. Pertahankan
tubuh

suhu

36,50C-370C

jika demam lakukan


kompres/axilia
4. Cek tanda-tanda vital
setiap 2-4 jam sesuai

yang dibutuhkan
4

Risiko

kekurangan

volume cairan tubuh


akibat efek samping
fototerapi
berhubungan
dengan

pemaparan

sinar

dengan

intensitas tinggi.
.

Risk control
Fluid Balance
Setelah dilakukan tindakan
1. Pantau masukan dan
keperawatan selama proses
haluan
cairan;
keperawatan
diharapkan
timbang berat badan
cairan
tubuh
neonatus
bayi 2 kali sehari.
adekuat.
2. Perhatikan
tandaKriteria hasil :
tanda dehidrasi (mis:
1. Tugor kulit baik
2. Membran mukosa lembab
penurunan haluaran
3. Intake dan output cairan
urine,
fontanel
seimbang
tertekan, kulit hangat
4. Nadi, respirasi dalam
atau kering dengan
batas normal (N: 120-160
turgor buruk, dan
x/menit, RR : 35 x/menit)
5. suhu (36,5-37,5o C)
mata cekung).
3. Perhatikan warna dan
frekuensi defekasi dan
urine.
4. Tingkatkan masukan
cairan

per

oral

sedikitnya 25%. Beri


air diantara menyusui
atau

memberi

susu

botol.
5. Pantau turgor kulit
5

Risiko

cidera Setelah

terhadap

keperawatan

keterlibatan

SSP kadar

berhubungan
dengan
atau

diberikan
bilirubin

asuhan 1. Periksa resus darah

diharapkan
menurun

kadar bilirubin.

dibawah 12 mg/dl pada


bayi cukup bulan pada
usia 3 hari
2. Resolusi ikterik

catatan

intrapartum terhadap

dengan kriteria hasil :

fototerapi 1. Kadar bilirubin indirek


peningkatan

ABO
2. Tinjau
factor

resiko

yang

khusus, seperti berat


badan lahir rendah
(BBLR) atau IUGR,

pada

prematuritas,

proses

akhir

minggu

kehidupan
3. SSP berfungsi

pertama

metabolic abnormal,
cedera

dengan

normal

vaskuler,

sirkulasi

abnormal,

sepsis,

atau

polisitemia
3. Perhatikan
penggunaan ekstrator
vakum

untuk

kelahiran. Kaji bayi


terhadap

adanya

sefalohematoma dan
ekimosis atau petekie
yang berlebihan
4. Pertahankan
bayi
tetap

hangat

dan

kering, pantau kulit


dan suhu inti dengan
sering
5. Kolaborasi
Pantau
pemeriksaan
laboratorium,
sesuai

indikasi

(Bilirubin

direk

dan indirek)
Tes Coombs darah
tali

pusat

direk/indirek

DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Hidayat A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Jakarta: Salemba
Medika.

Buleheck, Gloria M., dkk. 2012. Nursing Interventions Classification (NIC). Iowa:
Mosby Elsavier.
Jhonson, Marion. 2012. Nursing Outcomes Classification (NOC). St.Louis: Mosby.
NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 20122014. Jakarta: EGC.
Wilkinson, Judith M., Nancy R. Ahern. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan:
Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.
Wong et al. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik - Ed 6 - Vol 1. Jakarta: EGC.