Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN LENGKAP

PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS


INSTRUMEN
PENENTUAN INDEKS ABSORBANSI MOLAR KMnO 4

DISUSUN OLEH :
NAMA
KELAS/KELOMPOK
NIS

: ARIANTO
: 3A / A.1.2
: 145067

SMK- SMAK MAKASSAR

2016-2017
LAPORAN LENGKAP
Judul Penetapan

: Penentuan Indeks Absorbansi Molar KMnO4

Data Praktikan
Nama Siswa

: Arianto

Nomor Induk Siswa

:145067

Kelas/Kelompok

: III A / A1.2

Waktu Penetapan
Tanggal Mulai

: 19 Oktober 2016

Tanggal Selesai

: 19 Oktober 2016

Tujuan Penetapan

:-Mengetahui panjang gelombang maksimum


untuk larutan KMnO4.
-Mengetahui indeks absorbansi molar KMnO4.
-Membuktikan kebenaran dari hukum Lambertbeer

Dasar Prinsip Penetapan

:
Nilai serapan (indeks absorbansi)
suatu larutan dapat ditentukan dengan
menggunakan spektrofotometer pada
panjang gelombang maksimum. Pada
penetapan ini terlebih dahulu ditentukan
panjang gelombang maksimum larutan
dengan melakukan scanning pada range
400-800 nm, panjang gelombang maksimum
ditandai dengan nilai serapan yang paling
besar yang kemudian digunakan untuk
menentukan indeks absorbansi molar
larutan KMnO4.

Reaksi

:-

Landasan Teori

Spektrofotometri adalah sebuah metode analisis untuk mengukur konsentrasi


suatu senyawa berdasarkan kemampuan senyawa tersebut mengabsorbsi
berkas sinar atau cahaya.Spektrofotometri adalah alat yang terdiri dari
spektrofotometer dan fotometer.Spektrofotometer menghasilkan sinar dari
spektrum dengan panjang gelombang tertentu, sementara fotometer adalah
alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorpsi.Istilah
spektrofotometri berhubungan dengan pengukuran energi radiasi yang diserap
oleh suatu sistem sebagai fungsi panjang gelombang dari radiasi maupun
pengukuran panjang absorpsi terisolasi pada suatu panjang gelombang tertentu
(Underwood, 1988).
Secara umum spektrofotometri dibedakan menjadi empat macam, yaitu :
a)Spektrofotometer ultraviolet
b) Spektrofotometer sinar tampak
c) Spektrofotometer infra merah
d) Spektrofotometer serapan atom
Spektrum elektromagnetik terdiri dari urutan gelombang dengan sifat-sifat
yang berbeda.Kawasan gelombang penting di dalam penelitian biokimia adalah
ultra lembayung (UV, 180-350 nm) dan tampak (VIS, 350-800 nm).Cahaya di
dalam kawasan ini mempunyai energi yang cukup untuk mengeluarkan elektron
valensi di dalam molekul tersebut (Harjadi, 1990).
Penyerapan sinar UV-Vis dibatasi pada sejumlah gugus fungsional atau
gugus kromofor yang mengandung elektron valensi dengan tingkat eksutasi
rendah.Tiga jenis elektron yang terlibat adalah sigma, phi, dan elektron
bebas.Kromofor-kromofor organik seperto karbonil, alkena, azo, nitrat, dan
karboksil mampu menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak.Panjang
gelombang maksimumnya dapat berubah sesuai dengan pelarut yang

digunakan.Auksokrom adalah gugus fungsional yang mempunyai elektron bebas


nseperti hidroksil, metoksi, dan amina. Terkaitnya gugus kromofor akan
mengakibatkan pergeseran pita absorpsi menuju ke panjang gelombang yang
lebih besar dan disertai dengan peningkatan intensitas. Ketika cahaya melewati
suatu larutan biomolekul, terjadi dua kemungkinan.Kemungkinan pertama
adalah cahaya ditangkap dan kemungkinan kedua adalah cahaya
discattering.Bila energi dari cahaya (foton) harus sesuai dengan perbedaan
energi dasar dan energi eksitasi dari molekul tersebut. Proses inilah yang
menjadi dasar pengukuran absorbansi dalam spektrofotometer (sutopo, 2006).
Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya
monokromatik dari sumber sinar.Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet
(tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang diserap
oleh larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian menyampaikan ke layar
pembaca (Sastrohamidjojo, 1992)
Hasil pengukuran yang baik dari suatu parameter kuantitas kimia, dapat
dilihat berdasarkan tingkat presisi dan akurasi yang dihasilkan.Akurasi
menunjukkan kedekatan nilai hasil pengukuran dengan nilai sebenarnya.Untuk
menentukan tingkat akurasi perlu diketahui nilai sebenarnya dari parameter
yang diukur dan kemudian dapat diketahui seberapa besar tingkat
akurasinya.Presisi menunjukkan tingkat reliabilitas dari data yang diperoleh. Hal
ini dapat dilihat dari standar deviasi yang diperoleh dari pengukuran, presisi
yang baik akan memberikan standar deviasi yang kecil dan bias yang rendah.
Jika diinginkan hasil pengukuran yang valid, maka perlu dilakukan pengulangan,
misalnya dalam penentuan nilai konsentrasi suatu zat dalam larutan larutan
dilakukan pengulangan sebanyak n kali. Ilmu yang mempelajari interaksi radiasi
dengan materi sedangkan spektrofotometri adalahpengukuran kuantitatif dari
intensitas radiasi elektromagnetik pada satu atau lebih panjanggelombang
dengan suatu transduser (detektor). Spektrofotometri adalah analisis
kuantitatif yang paling sering digunakan karena mempunyai sensitivitas yang
baik yaitu 10-4 sampai 10-6. Analisis jenis ini juga relatif selektif dan spesifik,
ketepatannya cukup tinggi, relatif sederhana, dan murah ( Mathias, 2005 ).
Spektofotometri adalah metode dalam kimia analisis yang digunakan
untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif
yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya.Peralatan yang
digunakan dalam spektrofotometri disebut spektrofotometer. Cahaya yang
dimaksud dapat berupa cahaya visibel, UV dan inframerah, sedangkan materi

dapat berupa atom dan molekul namun yang lebih berperan adalah elektron
valensi ( Sutopo, 2006 ).
Interaksi materi dengan cahaya atau radiasi elektromagnetik, radiasi
elektromagnetik kemungkinanan dihamburkan, diabsorbsi atau dihamburkan
sehingga dikenal adanya spektroskopi hamburan, spektroskopi absorbsi ataupun
spektroskopi emisi. Interaksi antara materi dengan cahaya disini adalah terjadi
penyerapan cahaya, baik cahaya Uv, Vis maupun Ir oleh materi sehingga
spektrofotometri disebut juga sebagaispektroskopi absorbsi ( Eka, 2007).
Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang
gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang
ditransmisikan atau diabsorbsi.Kelebihan spectrometer dibandingkan fotometer
adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini
diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating, atau celah optis. Pada
fotometer filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan
trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter tidak mungkin
diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis, melainkan
suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer,
panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapatdiperoleh dengan
bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun
dari sumber spektrum tampak yang kontiniu, monokromator, sel pengabsorbsi
untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan
absorbsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding (Khopkar, 2002).
Sinar yang melewati suatu larutan akan terserap oleh senyawa-senyawa
dalam larutan tersebut. Intensitas sinar yang diserap tergantung pada jenis
senyawa yang ada, konsentrasi dan tebal atau panjang larutan tersebut.Makin
tinggi konsentrasi suatu senyawa dalam larutan, makin banyak sinar yang
diserap (Anonim, 2011).
Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang
gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang
ditransmisikan atau diabsorbsi.Kelebihan spectrometer dibandingkan fotometer
adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini
ndiperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating, atau celah optis. Pada
fotometer filter berbagai filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi
melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter tidak

mungkin diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis,


melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada
spektrofotometer,
pnjang
gelombang
yang
benar-benar
terseleksi
dapatdiperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma.Suatu
spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu,
monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu
alat untuk mengukur perbedaan absorbsi antara sampel dan blanko ataupun
pembanding. Pengertian spektrofotometri lebih spesifik atau pengertiannya
lebih sempit karena ditunjukan pada interaksi antara materi dengan cahaya
(baik yang dilihat maupun tidak terlihat), sedangkan pengertian spektroskopi
lebih luas misalnya cahaya maupun medan magnet termasuk gelombang
elektromagnetik ( Eka, 2007 ).

Secara sederhana Instrumen spektrofotometri yang disebut


spektrofotometer terdiri dari :
sumber cahaya monokromator sel sampel detektor read out
(pembaca).
Fungsi masing-masing bagian:
1. Sumber sinar polikromatis berfungsi sebagai sumber sinar polikromatis
dengan berbagai macam rentang

panjang gelombang. Untuk

sepktrofotometer
UV menggunakan lampu deuterium atau disebut juga heavi hidrogen
VIS menggunakan lampu tungsten yang sering disebut lampu wolfram
UV-VIS menggunan photodiode yang telah dilengkapi monokromator.

2. Monokromator berfungsi sebagai penyeleksi panjang gelombang yaitu


mengubah cahaya yang berasal dari sumber sinar polikromatis menjadi cahaya
monaokromatis.
3. Sel sampel berfungsi sebagai tempat meletakan sampel
4. Detektor berfungsi menangkap cahaya yang diteruskan dari sampel dan
mengubahnya menjadi arus listrik.
Detektor akan menangkap sinar yang diteruskan oleh larutan. Sinar kemudian
diubah menjadi sinyal listrik oleh amplifier dan dalam rekorder dan ditampilkan
dalam bentuk angka-angka pada reader (komputer). Detector dapat
memberikan respons terhadap radiasi pada berbagai panjang gelombang Ada
beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom. Metode
umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultraviolet.
5. Visual display/recorder
Merupakan system baca yang memperagakan besarnya
menyatakan dalam bentuk % Transmitan maupun Absorbansi.

isyarat

listrik,

Keuntungan dari spektrofotometer untuk keperluan analisis


kuantitatif adalah : (Underwood,1989),

Dapat digunakan secara luas


Memiliki kepekaan yang tinggi
Keseletifannya cukup baik
Tingkat ketelitian tinggi
Syarat larutan yang dapat digunakan untuk analisis campuran dua

komponen adalah (Underwood,1989),


Komponen-komponen dalam larutan tidak boleh saling bereaksi.
Penyerapan komponen-komponen tersebut tiak sama.
Komponen harus menyerap pada panjang gelombang tertentu.

Senyawa-senyawa yang diukur dengan metoda spektrofotometri harus


memenuhi hukum Lambert-Beer, yaitu (Alexeyev, V. 1969)

Bila suatu sinar monokromatis dilewatkan pada medium


pengabsorbsi,maka

berkurangnya intensitas cahaya per unit tebal medium sebanding dengan

intensitas cahaya tersebut.


Berkurangnya intensitas cahaya per unit konsentrasi akan berbanding
lurus dengan intensitas cahaya.

Dari hukum Lambert Beer didapat rumus sebagai berikut


A = a.b.c A = -log T
Rumus yang digunakan untuk analisis dua komponen adalah :
A1 = ax1. b. cx + ay1 . b . cy
A2 = ax2 . b. cx + ay2 . b . cy
Dimana :
A1 = serapan campuran pada panjang gelombang maksimum pertama
A2 = serapan campuran pada panjang gelombang maksimum kedua
C = konsentrasi larutan
Kondisi berikut adalah keabsahan hukum Beer. Cahaya yang digunakan
harus monokromatis, bila tidak demikian maka akan diperoleh dua nilai
absorbansi pada dua panjang gelombang. Hukum tersebut tidak diikuti oleh
larutan yang pekat. Konsentrasi lebih tinggi untuk beberapa garam tidak
berwarna justru mempunyai efek absorbsi yang berlawanan. Larutan yang
bersifat memancarkan pendar-fluor atau suspensi tidak selalu mengikuti hukum
Beer. Jika selama pengukuran pada larutan encer terjadi reaksi kimia seperti
polimerisasi, hidrolisis, asosiasi atau disosiasi, maka hukum Beer tidak berlaku.
(Alexeyev, V. 1969)
Cara Kerja Spektrofotometer Cara kerja spektrofotometer secara singkat
adalah sebagai berikut. Tempatkan larutan pembanding, misalnya blanko dalam
sel pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis pada sel kedua. Kemudian
pilih fotosel yang cocok 200-650 nm ( 650-1100 nm ) agar daerah yang
diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang fotosel dalam keadaan tertutup nol
galvanometer dengan menggunakan tombol dark-current. Pilih h yang

diinginkan, buk fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada blanko dan nol
galvanometer didapat dengan memutar tombol sensitivitas. Dengan
menggunakn tombol transmitansi, kemudian atur besarnya pada 100 %.
Lewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang akan dianalisis. Skala
absorbansi menunjukkan absorbansi larutan sampel.( Vogel (refisi) Svela, G.
1995)
Spektrum UV-Vis merupakam hasil interaksi antara radiasi
elektromagentik (REM) dengan molekul. REM merupakan bentuk energy radiasi
yang mempunyai sifat gelombang dan partikel (foton). Karena bersifat sebagai
gelombang maka beberapa parameter perlu diketahui, misalnya panjang
gelombang, frekuensi, bilngan gelombang, dan serapan. REm mempunyai
vector listrik dan vector magnet yang bergetar dalam-dalam bidang-bidang
yang tegak lurus satu sama lain dan masing-masing tegak lurus pada arah
perambatan radiasi. (Vogel (refisi) Svela, G. 1995)
Perubahan warna mencerminkan suatu perubahan dalam pengabsorpsian
cahaya oleh larutan, yang menyertai perubahan konsentrasi dari spesies yang
menyerap. Dalam suatu titrasi visual, seenarnya orang menggunakan semua
segi titrator fotometrik yang automatic, cahaya dilewatkan larutan menuju
mata, yang merupakan transduser peka cahaya yang berespon dengan isyrat
dan kalau tidak, membuatnya tepat untuk diteruskan ke system penyetopan
aliran yang bersifat elektromekanis (khopkar, 2002).
Kadang-kadang suatu zat yang terlihat langsung dalam reaksi titrasi
menyerap cukup banyak pada suatu panjang gelombang yang dapat dicapai,
dan titrasi itu diikuti secara spektrofotometri tanpa menambahkan suatu
indicator. Bentuk kurva titrasi dapat diramalkan dari nilai spesies kimia yang
diperhatikan. Beberapa kurva titrasi fotometrik yang khas diperagakan, jika
reaksi titrasi itu cukup tidak lengkap disekitar titik kesetaraan, kurva itu akan
jadi membundar. Titik akhir itu kemudian dicari letaknya dengan titik potong
garis-garis lurus yang diekstrapolasi, yang ditarik lewat titik-titik yang diambil
secukupnya sebelum dan sesudah bagian yang membundar. Kurva titrasi

semacam itu mudah dihitung, orang semata-mata menghitung konsentrasi


spesies yang menyerap titik dimana saja, dengan menggunakan tetapan
keseimbangan reaksi itu, kemudian menghitung sumbangan tiap spesies pada
absorbans dari larutan menurut Hukum Beer (Underwood, 1981)

PENENTUAN INDEKS ABSORBANSI KMnO4 DENGAN SPEKTROFOTOMETRI


1. Tujuan Menentukan kadar KMnO4 dalam larutan cuplikan berwarna dengan
analisis spektrofotometri.
2. Dasar Teori Spektroskopi adalah studi mengenai interaksi antara energy
cahaya dan materi.
Warna yang tampak dan fakta bahwa orang bisa melihat adalah akibat
absorbansi energi oleh senyawa organik maupun senyawa anorganik.Panjang
gelombang dimana suatu senyawa organik menyerap energi bergantung pada
struktur senyawa itu, sehingga teknik spektroskopi dapat digunakan untuk
menentukan struktur senyawa yang tidak diketahui dan untuk mempelajari
karakteristik ikatan dari senyawa yang diketahui.Spektoskopi adalah suatu
keadaan yang terjadi jika suatu cahaya mengenai suatu benda atau materi.
Kemudian cahaya itu bisa jadi diserap, dihamburkan, diteruskan, dan
dipancarkan kembali oleh materi itu dengan l yang sama maupun berbeda.
Apabila benda itu diubah atau dibelokkan sudut getarnya, maka disebut
polarimetri.Suatu larutan yang mempunyai warna khas dapat menyerap sinar.
Dalam hubungannya dengan senyawa organik, maka senyawa ini mampu
menyerap cahaya.Senyawa organik mempunyai elektron valensi yang dapat
dieksitasi ke tingkat yang lebih tinggi.Hal penting yang mendasari prinsip ini
adalah bahwa penyerapan sinar tampak atau ultraviolet dapat mengakibatkan
ttereksitasinya electron dari molekul.
Spektrofotometri adalah sebuah metode analisis untuk mengukur
konsentrasi suatu senyawa berdasarkan kemampuan senyawa tersebut
maengabsorbsi berkas sinar atau cahaya.Spektrofotometer menghasilkan sinar

dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu, sementara fotometer


adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsikan.
(Riyadi, 2008)
Istilah spektrofotometri berhubungan dengan pengukuran energi radiasi
yang diserap oleh suatu sistem sebagai fungsi panjang gelombang dari radiasi
maupun pengukuran panjang absorbsi terisolasi pada suatu panjang gelombang
tertentu. (Underwood,1994)
Secara umum spektrofotometri dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
spektrofotometer ultraviolet, spektrofotometer sinar tampak, spektrofotometer
inframerah, dan spektrofotometer serapan atom. (Hadi, 2009)
Ketika cahaya melewati melewati suatu larutan biomolekul, terjadi dua
kemungkinan.Kemungkinan yang pertama adalah cahaya ditangkap dan
kemungkinan kedua adalah cahaya discattering.Bila energi dari cahaya (foton)
harus sesuai dengan perbedaan energy dasar dan energy eksitasi dari molekul
tersebut. Proses inilah yang menjadi dasr pengukuran dari absorbansi dalam
spektrofotometer. (Aisyah, 2009)
Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya
monokromatik dari sumber sinar.Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet
(tempat sampel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun diserap oleh
larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian menyampaikan ke layar
pembaca. (Hadi, 2009)
Unsur-unsur penting suatu spektrofotometer, yaitu: Sumber energi radiasi
yang kontinue dan meliputi daerah spektron Monokromator Wadah untuk
sampel Defektor: transducer yang mengubah energi radiasi menjadi isyarat
listrik. Penguat dan rangkaian yang bersangkutan yang membuat isyarat listrik
cocok diamati Sistem pembacaan yang mempertunjukkan besar isyarat listrik
(indikator) Suatu larutan yang mempunyai warna khas dapat menyerap sinar
dengan panjang gelombang ttt. Suatu sinar bila mengenai suatu media,
intensitasnya akan berkurang. Hal ini disebabkan karena adanya serapan dabn
sebagian kecil dipantulkan oleh media. (R.A. Day,1989: 397-403)

Prinsip kerja dari percobaan ini adalah menentukan konsentrasi sampel


dengan menggunakan kurva standar yang menghubungkan antara konsentrasi
sampel dengan absorbansinya. Larutan sampel yang digunakan memiliki lima
konsentrasi yang berbeda. Lima konsentrasi tersebut diukur panjang
gelombangnya untuk mengetahui konsentrasi yang sebenarnya. Transmitasi (T)
sering dinyatakan dengan presentase (% T), dimana: T = P/Po Absorbansi (A)
suatu larutan dinyatakan dengan persamaan
A = - log T = log P/Po
Berbeda dengan transmitasi, absorbansi larutan bertambah dengan
pengurangan kekuatan sinar. Dengan kata lain, absorbansi (A) adalah besarnya
intensitas sinar yang diserap suatu medium. Absorbansi tergantung pada jarak
yang dijalani oleh radiasi meleati larutan, panjang gelombang radiasi dan sifat
jenis zat molekular dalam larutan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbansi yaitu jenis pelarut, pH
larutan, suhu, konsentrasi elektrolit yang tinggi, dan zat
pengganggu.Penyimpanannya jika zat pewarna mengion, berdisosiasi atau
berasosiasi dengan larutan serta membentuk ion kompleks yang posisinya
bergantung pada konsentrasi dan cahaya tidak monokromatis. (Hedayana dkk,
1994: 145)
Hukum lambert menyatakan bahwa cahaya monokromatik melewati
medium tembus cahaya, laju berkurangnya intensitas oleh bertambahnya
ketebalan berbanding lurus dengan intensitas cahaya.Hukum Beer menyatakan
bahwa intensitas cahaya berkurang secara eksponensial dengan bertambahnya
konsentrasi zat penyerap secara linier.Hukum Beer hanya digunakan tepat
untuk radiasi monokromatis dan sifat macam zat yang menyerap diatas
jangkauan konsentrasi yang bersangkutan.
(Denney, 1994) Lambert-Beer mengamati hubungan antara intensitas
sinar (monokromatis) mula-mula dengan intensitas sinar (monokromatis)
setelah melalui media, yang persamaannya
Log Io/It = ebc
Dimana

Io = Intensitas mula-mula
It = Intensitas setelah melalui media
e = absorbtivitas molar
b = tebal media / larutan c = konsentrasi larutan
Dari persamaan teresebut, log (Io/It) merupakan absorbansi (A). Grafik
antara absorbansi dengan konsentrasi media larutan berwarna berupa garis
lurus yang melalui pusat sumbu.Agar perubahan absorbansi oleh perubahan
konsentrasi lebih sensitif dan lebih cepat, maka panjang gelombang dengan
serapan maksimum.
Syarat-syarat penggunaan Hukum Beer
a. Syarat Konsentrasi
b. Syarat Kimia
c. Syarat Cahaya
d. Syarat Kejernihan Penyimpangan Hukum Lambert-Beer
1. Alur absorbansi versus konsentrasi molar akan berupa tidak
linier sepanjang seluruh
jangka konsentrasi
2. Nilai e tidak tergantung pada sifat dasar spesies penyerap
dalam larutan dan panjang gelombang radiasi karena tidak
mampu mengawasi kedua aspek tersebut.
3. Nilai e untuk suatu zat dalam larutan berubah dengan
perubahan indeks bias yang tergantung pada konsentrasi
4. Radiasi yang relatif kuat yang melalui suatu medium yang
hanya mengandung sedikit molekul penyerap, dimungkinkan
molekul tereksitasi ke keadaan energi yang lebih tinggi oleh
sebagian foton yang tersedia sehingga tidak ada peluang
untuk absorbansi lanjut
5. Karakteristik instrumen yang disebabkan efek kelebihan
defektor ketidaklinieran pengganda dan piranti kaca serta
ketidakstabilan sumber-sumber radiasi atau cahaya
6. Radiasi polikromatik yang menyebabkan lapisan kedua tidak
akan menyerap fraksi radian yang sama seperti lapisan
pertama.

(Hadyana, 1992) Hukum Lambert-Beer mengindikasikan bahwa


absorbtivitas adalah konsentrasi yang konstan, panjang gelombang yang kecil
dan intensitas radiasi. Hukum tersebut tidak menyinggung efek dari temperatur
(suhu), panjang gelombang dan sifat alamiah yang terlarut.Dalam prakteknya,
temperatur ditemukan hnaya sebagai efek kedua, jika tidak mengubah skala
luas. Konsentrasi larutan akan berubah sedikit dengan perubahan temperatur
karena perubahan volume.
KALIUM PERMANGANAT (PK)
Kalium permanganat (PK) merupakan oksidator kuat yang sering digunakan
untuk mengobati penyakit ikan akibat ektoparasit dan infestasi bakteri,
terutama pada ikan-ikan dalam kolam. Meskipun demikian untuk pengobatan
ikan-ikan akuarium tidak sepenuhnya dianjurkan karena diketahui banyak
spesies ikan hias yang sensitif terhadap bahan kimia ini.
Bahan ini diketahui efektif mencegah flukes, tricodina, ulcer, dan infeksi jamur.
Meskipun demikian, penggunaanya perlu dilakukan dengan hati-hati karena
tingkat keracunannya hanya sedikit lebih tinggi saja dari tingkat terapinya. Oleh
karena itu, harus dilakukan dengan dosis yang tepat. Tingkat keracunan PK
secara umum akan meningkat pada lingkungan akuarium yang alkalin.
Kalium permanganat tersedia sebagai serbuk maupun larutan berwarna violet.
Kalium permanganat (KMnO4) merupakan alkali kaustik yang akan terdisosiasi
dalam air membentuk ion permanganat (MnO4-) dan juga mangan oksida (MnO2)
bersamaan dengan terbentuknya molekul oksigen elemental. Oleh karena itu,
efek utama bahan ini adalah sebagai oksidator.
Dilaporkan bahwa permanganat merupakan bahan aktif beracun yang mampu
membunuh berbagai parasit dengan merusak dinding-dinding sel mereka
melalui proses oksidasi. Beberapa literatur menunjukkan bahwa mangan oksida
membentuk kompleks protein pada permukaan epithelium, sehingga

menyebabkan warna coklat pada ikan dan sirip, juga membentuk kompleks
protein pada struktur pernapasan parasit ikan yang akhirnya menyebabkan
mereka mati.
Berbagai review dalam berbagai literatur menunjukkan bahwa kalium
permangat dapat membunuh Saprolegnia, Costia, Chilodinella, Ich, Trichodina,
Gyrodactylus dan Dactylogyrus, Argulus, Piscicola, Lernea, Columnaris dan
bakteri lainnya seperti Edwardsiella, Aeromonas, Pseudomonas, plus Algae dan
Ambiphrya.
Mekipun demikian Argulus, Lernea and Piscicola diketahui hanya akan respon
apabila PK digunakan dalam perendaman (dengan dosis: 10-25 ppm selama 90
menit). Begitu pula dengan Costia dan Chilodinella, dilaporkan resiten terhadap
PK, kecuali apabila PK digunakan sebagai terapi perendaman.
Kalium permangat sebagai terapi perendaman bersifat sangat kaustik, hal ini
dapat menyebabkan penggumpalan nekrosis (ditandai dengan memutihnya
jaringan yang mati) pada sirip. Kerusakan insang juga dapat terjadi, sehingga
dapat menyebabkan kematian pada ikan beberapa minggu kemudian setelah
dilakukan terapi perendaman. Ikan mas koki, diketahui lebih sensitif terhadap PK
sebagai terapi perendaman dibandingkan dengan spesies lainnya. Dengan
alasan-alasan seperti itu, maka sering tidak direkomendasikan untuk
menggunakan PK sebagai terapi perendaman, dan juga karena efek
terapeutiknya tidak lebih baik dibandingkan dengan terapi terus-menerus
dengan dosis 2 - 4 ppm.
Kalium permanganat sangat efektif dalam menghilangkan Flukes. Gyrodactylus
dan Dactylus dapat hilang setelah 8 jam perlakuan dengan dosis 3 ppm pada
suatu sistem tertutup. Penularan kembali masih dapat terjadi, oleh karena itu,
direkomendasikan untuk mengulang kembali perlakuan 2-3 hari kemudian
dengan dosis 2 ppm.

Beberapa khasiat lain dari Kalium permangat yang dilaporkan diantaranya


adalah: sebagai disinfektan luka, dapat mengurangi aeromanoas (hingga 99%)
dan bakteri gram negatif lainnya, dapat membunuh Saprolegnia yang umum
dijumpai sebagai infeksi sekunder pada Ulcer, dan tentu saja sebagai oksidator
yang akan mengkosidasi bahan organik.
Beberapa aplikasi lain yang biasa dilakukan oleh para hobiis dan akuakulturis
adalah menggunakannya dalam proses transportasi ikan. Konsentrasi kurang
dari 2 ppm diketahui dapat mengurangi resiko infeksi Columnaris dan infeksi
bakteri lainnya, serta membatasi dan menghentikan parasit yang sering
menyertai ikan dalam proses transportasi. Begitu juga transportasi burayak
dilaporkan aman dengan perlakuan kalium permanganat dibawah 2 ppm.
Meskipun demikian untuk burayak dalam kolam tidak dianjurkan untuk
menggunakan perlakuan kalium permanganat. Hal ini tidak ada hubungannya
dengan keracunan yang mungkin terjadi pada burayak, tetapi efeknya justru
terhadap kemungkinan berkurangnya fitoplankton dan makrofit yang dapat
menyebabkan burayak menderita kelaparan.
Untuk jenis Catfish, perlakuann kalium permanganat sering dianjurkan untuk
dilakukan pada konsentrasi diatas 2 ppm. Meskipun demikian dosis yang aman
adalah 2 ppm.
Fungsi lain dari kalium permanganat dalam akuakultur adalah sebagai antitoxin
terhadap aplikasi bahan-bahan beracun. Sebagai contoh, Rotenone dan
Antimycin sering digunakan sebagai bahan piscisida, yaitu bahan untuk
membunuh ikan hama atau ikan lain yang tidak dikehendaki. Alih-alih
menunggu bahan ini netral secara alamiah dalam waktu tertentu, kalium
permanganat digunakan untuk segera menetralkan kedua bahan tersebut.
Konsentrasi 2-3 ppm selama 10-20 jam diketahui cukup untuk menetralisir
residu Rotenone atau Antimycin. Pendapat lain menyatakan bahwa dosis PK

sebaiknya diberikan setara dengan dosis piscisida yang diberikan, sebagai


contoh apabila Rotenone diberikan sebanyak 2 ppm, makan untuk
menetralisirnya PK pun diberikan sebanyak 2 ppm.

TAHAPAN PENENTUAN ABSORBANSI MOLAR SECARA SPEKTROFOTOMETRI

1. Penentuan panjang gelombang maksium


panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal, dilakukan
dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang
gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu
Alasan mengapa dipergunakan panjang gelombang maksimum dalam
pemeriksaan spektrofotometri, sbb :
- panjang gelombang max memiliki kepekaan maksimal karena terjadi
perubahan absorbansi yang paling besar
- Pada panjang gelombang max bentuk kurva absorbansi memenuhi
hukum Lambert-Beer
Hal yang perlu diperhatikan pada penentuanny
Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 sampai
0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitans. Anjuran ini
berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan T adalah 0,005 atau
0,5% (kesalahan fotometrik).
2. Penentuan Operating Time (OT)
TUJUAN : untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil yaitu saat sampel
bereaksi sempurna dengan reagen warna . Waktu kerja ditentukan dengan
mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan
3. Pembuatan Kurva Larutan Baku Linier
TUJUAN : untuk memperoleh persamaan larutan baku dalam penentuan kadar
sampel
Tahapan yang diperlukan sbb :
a. Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai
konsentrasi.
b. Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi diukur pada
max (berdasarkan hasil max yang diperoleh dari tahap 1) dan Operating Time

(berdasarkan waktu yang diperoleh pada tahap 2)


c. Membuat Kurva Larutan Baku yang merupakan hubungan antara konsentrasi
(sumbu y) dan absorbansi (sumbu x).
d. Bila hukum Lambert-Beer terpenuhi maka kurva baku berupa garis lurus.
e. Paling sedikit menggunakan 5 rentang konsentrasi yang meningkat yang
dapat memberikan serapan linier
f. Kemiringan atau slope adalah nilai e (absorptivitas molar).
g. Nilai R antara 0,70 1,00 (pertanda terbentuk garis lurus linear pada rentang
konsentrasi yang dibuat)
Apabila persyaratan pembuatan kurva baku di atas tidak terpenuhi maka
penyimpangan dari garis lurus biasanya dapat disebabkan oleh:
(i)
Kekuatan ion yang tinggi,
(ii)
Perubahan suhu, dan
(iii) Reaksi ikutan terjadi.

Prosedur Kerja
Alat :

Labu Ukur 100 mL


Neraca Digital
Gelas Piala 100 mL , 500 mL
Mikroburet
Spectrofotometer Vis Cintra 10e
Corong
Pengaduk
Pipet Volume

Bahan :
KMnO4 , Larutan KMnO4 0,1 M
H2SO4 4 N
Aquades
Cara Kerja :
1. Buat Larutan Induk KMnO4 0,1 M sebanyak 100 mL
2. Dari Larutan Induk dibuat deret larutan dengan konsentrasi masingmasing 0,0001 M ; 0,0002 M; 0,0003 M; 0,0004M; 0,0005 M

sebanyak 100 mL( dihitung Volume yang dibutuhkan) dan sebelum


dihimpitkan diasamkan dengan H2SO4 4N, masing-masing 2 mL lalu
himpitkan hingga tanda batas dengan aquadest.
3. Buat larutan Blanko sebanyak 100 mL.
4. Ukur Serapan masing-masing larutan dengan menggunakan
spektrofotometer.

Skema Kerja :

Buat Larutan Induk KMnO4 0,1 M sebanyak 100 mL

Dari Larutan Induk dibuat deret larutan dengan


konsentrasi masing-masing 0,0001 M ; 0,0002 M;
0,0003 M; 0,0004M; 0,0005 M sebanyak 100
mL( dihitung Volume yang dibutuhkan) dan sebelum
dihimpitkan diasamkan dengan H2SO4 4N, masingmasing 2 mL lalu himpitkan hingga tanda batas
dengan aquadest.

Buat larutan Blanko sebanyak 100 mL.

Ukur Serapan masing-masing larutan dengan


menggunakan spektrofotometer.

Data Analisis

Bobot Zat ( KMnO4)


Warna Larutan KMnO4
Konsentrasi Larutan Induk KMnO4
Absorbansi Sampel KMnO4
Panjang Gelombang KMnO4

:
: Ungu
:
:
:

1.5800 gram
0.1000 M
0.6352
525 nm

Tabel 1

No
1
2
3
4
5

Deret Larutan
I
II
III
1V
V

Konsentrasi
0.0001 M
0.0002 M
0.0003 M
0.0004 M
0.0005 M

Nilai Absorbansi
0.183480
0.517158
0.689780
0.910458
1.315984

Tabel 2

No

X
(Konsentras

1
2
3
4
5

i)
0.0001
0.0002
0.0003
0.0004
0.0005

Y
(Absorban)

X2

X.Y

0.183480
0.517158
0.689780
0.910458

1 x 10-8
4 x 10-8
9 x 10-8
1.6 x 10-7

1.8348 x 10-5
1.0343 x 10-4
2.06934 x 10-4
3.641832 x

2.5 x 10-7

10-4
6.57992 x 10-4

1.315984

1.5 x 10-3

Rata

3 x 10-4

3.61686
0.723372

5.5 x 10-7

1.350888 x

1.1 x 10-7

10-3
2.701776 x

Pengolahan Data

10-4

n . X 2
n . XY ( X ) .(Y )
b=

5.5 x 10
6
5.(7)(2.25 x 10 )
5. 1.3508 x 103( 1.5 x 103 ) . (3.61686)
b=

1.329 x 103
b=
5 x 107
b=2658

a = bx
= 0.7233 26598 . 0.0003
= 0.7233 0.7974
= - 0.00741
1. Y1 =
=
=
=
2. Y2 =
=

Y = -0.00741 +

R2 = 0.9796

a + bx1
4. Y4= a + bx4
-4
-0.00741 + 2658 . 10
= -0.00741 + 2658. 4x10-4
-0.00741 + 0.2658
=-0.00741 + 1.0632
0.2584
= 1.0558
a + bx2
5. Y5= a + bx5
-0.00741 + 2656 . 2x10-4
= -0.00741 + 2658.

5x10-4
= -0.00741 + 0.5316
= 0.5242
3. Y3 = a + bx3
= -o.00741 + 2658. 3x10= -0.00741 + 0.7974

= -0.00741 + 1.3290
= 1.3216

= 0.7899
Grafik Hubungan Antara Konsentrasi (sumbu x) dengan Nilai
Absorbansi (sumbu y)

1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
1

Keterangan :
Garis Merah Menunjukan Sebelum Linier
Garis Hijau Menunjukan Setelah Linier
Konsentrasi Sampel dengan Absorbansi 0.636518
Hp

= BUT (Ps x Nst)


= 0.0003 (11 x 0.000005)
= 0.0003 0.000055
= 0.000245

Persentase Kesalahan
%Kesalahan=

T P
x 100
T

%Kesalahan=

0.0002680.000245
x 100
0.000268

= 8,58 %
Pembahasan
1. Dalam penentuan Indeks Absorbansi Molar KMnO 4 terlebih
dahulu dilakukan penentuan panjang gelombang dengan
melakukan scanning pada panjang gelombang tertentu.
2. Karena Larutan KMnO4 berwarna ungu maka scanning
penentuan panjang gelombang pada range 400-800 nm dengan
menggunakan Spectrofotometer Visible.
3. Pereaksi H2SO4 4N digunakan karena absorbansi KMnO4 dapat
terbaca dalam suasana asam.
4. Hasil scanning menunjukan panjang gelombang KMnO 4 adalah
525 nm.
5. Dari hasil penentuan indeks absorbansi didapatkan koefisien
korelasi 0.9796 . dimana koefisien korelasi yang teliti adalah
0.9998-1.0000 hal ini dipengaruh karena dalam proses larutan
deret standar yang kurang teliti.
Kesimpulan
Dari Praktikum diatas dapat disimpulkan Bahwa :
1. Panjang Gelombang maksimum KMnO4 yang diperoleh dari
hasil scanning adalah 525 nm.
2. Nilai Indeks Absorbansi Molar KMnO4 adalah
Larutan Deret 1 = 0.183480
Larutan Deret2 = 0.517158
Larutan Deret 3 = 0.689780
Larutan Deret 4 = 0.910458
Larutan Deret5 = 1.315984
Sampel KMnO4 ( deret3) = 0.636518

3. Mengenai Hukum Lanbert-Beer yang Mengatakan Bila


seberkas Cahaya Monokromatis melalui suatu media yg
transparan maka bertambah turunnya intensitas cahaya yang
dipancarkan sebanding dengan bertambahnya tebal media dan
konsentrasi terbukti benar. Karena dari praktikum
dilaboratotium didapatkan semakin tinggi konsentrasinya maka
nilai absorbansi akan meningkat.

Daftar Pustaka
http://indrawadi-ballo-tala.blogspot.co.id/2014/09/penentuanindeks-absorbansi-larutan.html
http://www.pengertianahli.com/2013/12/pengertian-spektrumabsorpsi.html
http://banyakhalseru.blogspot.co.id/2014/09/landasan-teoripraktikum-penentuan.html
http://pranantagiat.blogspot.co.id/2013/04/praktikum-kimiaanalitik-instrumen.html
http://Kaliumpermanganat.blogspot.co.id

LAMPIRAN