Anda di halaman 1dari 20

PEMERIKSAAN KLINIS PADA ANJING

Kelompok 9
Lola Adriana N1 (O11114003), Muthia Milasari (O11114010), Ririwan D.A Massale
(O11114504), Riswulan (O11111253)
Asisten : Kadek Evi Dian Puspita Dewi
2

Bagian Bedah & Radiologi, Departemen Klinik, Reproduksi & Patologi


Program Studi Kedokteran Hewan (PSKH), Universitas Hasanuddin (UNHAS)
Korespondensi penulis : lola.adrianan96@gmail.com
ABSTRAK
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan klinis pada anjing.
Kemudian mempraktekkan tata cara atau tahapan pemeriksaan fisik untuk menemukan atau
mengenali gejala - gejala penyakit. Praktikum dilaksanakan di Klinik Pendidikan Hewan
Unhas dengan menggunakan hewan objek anjing domestik. Sebelum melakukan pemeriksaan,
didahului dengan melakukan sinyalemen dan anamnesa dengan keterangan dari klien. Yang
diamati pada anjing dalam praktikum ini berpedoman pada rekam medik atau Physical
Examination Form yang telah disiapkan yang berisi data - data umum hingga khusus yang
menunjang diagnosis klinik. Tata cara pemeriksaan fisik hewan dapat dilakukan dengan catur
indera, yakni dengan penglihatan, perabaan, pendengaran, serta penciuman (pembauan)
antara lain dengan cara inspeksi, palpasi atau perabaan, perkusi atau mengetuk, auskultasi
atau mendengar, mencium atau membaui, mengukur dan menghitung, pungsi pembuktian, tes
alergi, pemeriksaaan laboratorium klinik serta pemeriksaan dengan alat dignostik lain.
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah berbagai macam peralatan dalam
mendiagnosa penyakit antara lain timbangan, thermometer, penlight, reflex hammer, dan
stethoscope. Adapun hasil yang didapatkan bahwa anjing yang diperiksa dalam kondisi
normal atau sehat.
Kata kunci : Anamnesa, anjing, diagnosis klinik, pemeriksaan klinis, sinyalemen
PENDAHULUAN
Berbagai teori sejarah anjing digali
dan dikembangkan para peneliti untuk
mengungkap asal - usulnya. Termasuk
menduga nenek moyang anjing adalah
serigala, rubah, dan jackal. Ternyata, tidak
hanya ketiga hewan Itu. masih ada anjng
liar lain, tetapi tidak termasuk keluarga
Canidae yang disebul wiId cousins dog
diduga merupakan nenek moyang anjing.
Kedua kelompok ini (serigala dan anjing
liar memiliki ciri - ciri yang hampir sama
yaitu kepala besar, mulut panjang, gigi
geligi, dan rahang kuat untuk memotong
atau menggiling makanan. Hewan-hewan
ini memliki kemampuan beradaptasi di
suatu daerah sangat baik, mampu bertahan

hidup dalam berbagal habitat mulai dan


daerah dingin sampai panas, serta dari
daerah yang tandus hingga hutan belantara
(Budiana, 2008).
Hipotesis yang diterima secara luas
tentang asal-usul anjing, adalah Canis
familiaris yang merupakan serigala
peliharaan berwarna abu-abu atau Canis
lupus pada tahun 1758. Namun, ada satu
hipotesis mengenai leluhur anjing yang
cukup masuk akal tapi belum diberikan
evaluasi yang memadai dalam literatur.
Yang menyatakan alternatif asal anjing
adalah: (1) asal dari serigala emas (Canis
aureus) yang berasal dari hibrida anjing
liar atau (2) berasal dari anjing liar selain
serigala atau C. lupus. Keturunan serigala

dari anjing domestik dapat dibantahkan


karena perbandingan genetik besar yang
membedakan keduanya (Koler, 2002).
Adapun asal hybrid (misalnya, Canis
simensis atau Cuon alpinus dengan
subspesies kecil C. lupus), saat ini tidak
ada bukti langsung mendukung hipotesis
tersebut (Koler, 2002).
Menurut Charles Darwin, ada 2
spesies yaitu serigala abu-abu (Canis
lupus) dan golden jackal (Canis aureus)
yang diduga sebagai cikal bakal
terciptanya anjing modern. Pendapat
tersebut didukung Konrad Lorenz,
zoologis pada abad ke - 20, yang mencoba
mengawinsilangkan chow chow dan husky.
Perkawinan keduanya melahirkan anjing
yang mirip dengan jackal. Konrad yakin
tingkah laku yang muncul pada anjing
modern berasal dan serigala. (Budiana,
2009).
Bagaimana awalnya serigala-serigala
berubah ukuran besarannya dari anjing
yang kita miliki saat ini, dari pudel
miniatur ke Great Dane? Proses ini
dimulai ketika orang pertama kali
bermukim di masyarakat. Kemungkinan
bahwa beberapa serigala belajar untuk
berkeliaran pemukiman ini, mencuri
daging dan mengais - ngais sisa sampah
(Gorrel, 2009).
Para ilmuwan pernah memikirkan
evolusi serigala menjadi anjing adalah
lengkap sekitar 12.000 sampai 14.000
tahun yang lalu-tetapi bukti terbaru
menunjukkan hal itu bisa saja jauh lebih
awal dari itu-mungkin 100.000 tahun yang
lalu. Anjing-anjing pertama mungkin
berevolusi dari keturunan serigala di Asia,
yang lebih kecil dari serigala abu-abu yang
kita kenal sekarang di Amerika Utara.
Seiring waktu, orang mulai menyadari
keuntungan dari peningkatan aset alami
anjing mereka, dan pembiakan selektif
mulai (Anonim, 2016).
Sebelum menjadi teman manusia,
anjing adalah binatang liar yang hidup
berburu dengan cara berkelompok. Hewan

ini mempunyai gerak yang cepat dalam


memburu mangsanya. Manusia pun masih
hidup primitif dengan berburu binatang
untuk dijadikan makanan. Saat itu,
manusia pun hampir tidak terpikirkan
bahwa anjing liar itu bakal menjadi
binatang peliharaan. Keduanva sama-sama
hidup liar dan nomaden (berpindah dari
satu tempat ke tempat lain) untuk mencari
makanan (Budiana, 2009).
Seiring dengan perubahan zaman
dan peradaban manusia, fungsi anjing Juga
ikut berubah. Ada anjing yang tugasnya
menggembala ternak, anjing penjaga,
anjing pelacak, serta di masyarakat agraris
seperti di Indonesia anjing bertugas
menjaga ladang dan sawah pertanian.
Bahkan, beberapa ras anjing juga dilatih
untuk ikut berperang dengan manusia.
Penggunaan anjing dalam mendukung
perang dan pertahanan ini pernah
dilakukan masyarakat Mesir Kuno pada
saat Firaun berkuasa (Sianipar et al.,
2004).
Sebagai
binatang
yang
hubungannya paling dekat dengan
manusia, tidak sedikit kisah tentang ke
pahlawan anjing yang membela manusia.
Pada Perang Dunia I (1914- 1918), tentara
Jerman menggunakan kemampuan anjing
untuk keperluan perang di wilayah
Lechermick di dekat Berlin. Di Indonesia,
anjing penjaga digunakan oleh Kepolisian
Negara Republik Indonesia sejak tahun
1959 (Sianipar et al., 2014).
Anjing bersifat karnivora (pemakan
daging). Kalau dirunut Iebih jauh, anjing
termasuk
keluarga
Canidae,
dan
bersaudara dengan serigala, rubah, serta
anjing rakun. Ciri-ciri keluarga ini antara
lain tubuhnya kecil memanjang, telinga
dan moncongnya runcing. Selain indera
penciumannya tajam, anjing dapat belari
jauh lebih cepat daripada binatang
karnivora lain. Di samping itu, kemampuan
berenangnya juga termasuk ciri khas dan
semua anggota keluarga Caridae (Sianipar
et al., 2014).
Sebagai hewan yang banyak
dipelihara oleh manusia, maka pentig

untuk memperhatikan aspek kesehatan dari


seekor
anjing.
Untuk
menentukan
diagnosis penyakit suatu hewan perlu
diketahui terlebih dahulu rekam medik dan
ciri-ciri
fisik
normalnya,
sebelum
kemudian dilakukan pemeriksaan fisik
yang memerlukan instrumen penunjang.
Dalam laporan ini akan di bahas lebih
lanjut mengenai metode pemeriksaan klinis
anjing dan alat - alat diagnostik beserta
fungsi dan cara penggunannya berdasarkan
hasil praktikum.

Nama yang diberikan untuk hewan


vertebrata
dan
beberapa
binatang
invertebrata yang semuanya memiliki
notochord dan serabut saraf dorsal di
beberapa titik.

TINJAUAN PUSTAKA
1. Taksonomi Anjing

Ordo: Carnivora

Berdasarkan
taksonomi
anjing
digoIongkan dalam ordo Carnivora dan
termasuk keluarga Canidae. Famili
Canidae ini dibagi menjadi 4 grup yailu
Canis (grup Anjing), Vulpes (grup rubah,
kecuali rubah abu-abu), Dusycyon (grup
culpeo) dan Bush dog (mencakup anjing
jenis Iainnya), Anjing termasuk dalam
genus Canis, satu genus dengan wolf
(serigala), coyote, jackal, dan dingo
(Gorell, 2009).
Untuk tujuan identifikasi ilmiah, anjing
domestik disebut Canis lupus familiaris
dan klasifikasi resmi anjing adalah sebagai
berikut (Guold, 2014) :
Kingdom: Ammalia
Nama
yang
diberikan
untuk
sekelompok
organisme
multiseluler
eukariotik motil (sel dengan nukleus),
yang terdiri dari koleksi sel berinti yang
mampu bergerak, jika hanya pada tahap
lite tertentu. Mereka juga ditandai dengan
heterotrophy yang berarti hewan ini pada
umumnya mencerna makanan dalam ruang
internal.
Filum: Chordata
Vertebrata adalah chordata dengan
tulang punggung dan sumsum tulang
belakang.
Subphylum: Vertebrata

Kelas: Mammalia
Mamalia berdarah panas vertebrata
yang melahirkan dan memberi makan dari
kelenjar susu. Manusia dan anjing
keduanya mamalia.

Karnivora berburu dan membunuh


mangsa mereka. Mereka memiliki gigi
taring besar dan geraham yang tajam untuk
merobek dan mengoyak daging. Mereka
juga ditandai dengan cakar tajam yang kuat
dengan tidak pernah kurang dari empat jari
pada setiap kaki. Anjing, termasuk anggota
ordo ini.
Subordo: Caniformia
Caniformia adalah karnivora seperti
anjing dan termasuk Canidae (anjing dan
anjing hitam), Mephitidae, Musteildue
(musang), Procyonidae (rakun), Ursidae
(beruang) dan Pinnipedia (superfamily hiu
dan singa laut). Sebagian besar spesies
berwarna sederhana dan ditandai dengan
bulla auditory (telinga tengah) yang tidak
beruang atau beruang sebagian, dan cakar
bisa ditarik. Anjing erat kaitannya dengan
beruang, musang, dibanding dengan
anjing.
Family: Canidae
Canidae adalah karnivora (makan
daging). Canidae tergolong hewan
fissipedia atinya mereka memiliki jari - jari
kaki terpisah dan cakar tidak dapat ditarik.
Keluarga canidae dibagi ke dalam
beberapa suku termasuk suku wolflike dan
dog - like dari suku canidae dan anggota
fox - like dari suku vulpinae.
Genus: Canis

Genus Canis berisi antara tujuh dan


sepuluh spesies, termasuk anjing, anjing
hitam, dan serigala. Tidak termasuk rubah.
Rubah sebenarnya masuk ke dalam suku
rubah
merah
(Vulpes
vulpes),
dikelompokkan bersama dalam genus
Vulpes.

Umur rata rata anjing Labrador


Retriever adalah 12 - 13 tahun.
Secara umum, Labrador merupakan
anjing ras yang sehat dan relatif
hanya memiliki sedikit masalah
kesehatan.
2. Chihuahua

Spesies: Canis lupus


Serigala
dan
anjing
domestik
diklasifikasikan sebagai subspesies serigala
abu - abu Eurasia dan secara teori dapat
dikawin - silangkan.
Subspesies: Canis lupus familiaris
Nama ilmiahnya adalah Canis lupus
lupus
untuk
membedakannya
dari
subspesies serigala lainnya. seperti serigala
Iran (Canis lupus pallipes), serigala Arab
(Canis lupus arabs), atau serigala Tibet
(Canis lupus Chanco). Anjing lebih mirip
dengan berbagai serigala dari nenek
moyang anjing modern (Canis lupus
fumiliaris).
Adapun beberapa macam ras anjing
peliharaan adalah (Anonim, 2016) :
1. Labrador Retriever
Labrador Retriever merupakan
salah satu anjing terpopuler di
dunia karena terkenal pintar dan
cepat belajar. Sebagian besar
Labrador Retriever sangat suka
berenang di air, jadi ketika berburu,
mereka sering disuruh untuk
mengambil hewan buruan yang
jatuh ke air. Anjing Labrador
diperkirakan berasal dari pulau
Newfoundland.
Bentuk badannya seimbang
jadi cocok dijadikan anjing pekerja
maupun anjing peliharaan, serta
otak mereka juga cepat menangkap
apa yang diajarkan. Sesuai dengan
namanya,
Labrador
Retriever
senang mengambilkan sesuatu
(retrieve) untuk sang majikan.

Chihuahua adalah jenis anjing


terkecil didunia yang diketahui.
Namanya didapat dari nama Kota
Chihuahua di Meksiko. Anak
Chihuahua
sering
disangka
hamster, karena mukanya yang
pipih, sangat kecil, dan bulu tipis.
Mereka memiliki 2 tipe, berbulu
panjang dan berbulu halus.
3. Shih Tzu
Shih- Tzu adalah salah satu ras
anjing tertua yang berasal dari
Cina. Anjing ras ini memiliki bulu
yang panjang dengan berbagai
warna dan pola pada bulunya.
Bulunya yang panjang dapat
menutupi telinga, badannya yang
kokoh, moncong pendek, dan kaki
pendek. Umumnya, anjing ini
memiliki sifat lincah, sangat
waspada, pintar, dan memiliki
emosi yang baik namun juga
angkuh. Pemelihara anjing juga
suka memelihara jenis Shih Tzu ini
karena bulunya yang dapat diikat
dan dimodeli seperti rambut
manusia. Anjing ini memiliki
tempat terhormat di pengadilan
kerajaan
Cina
pada
dinasti
Manchuria.
Setelah
kejatuhan
dinasti tersebut pada tahun 1911,
Shih-Tzu terus diperlihara di luar
istana kerjaan oleh masyarakat
Cina dan pendatang asing.
4. Yorkshire Terrier
Yorkshire sejenis anjing yang
(secara informal dikenal sebagai
Yorkie) adalah jenis anjing yang
masuk dalam kategori anjing

mainan (Toys). Sejenis anjing bulu


panjang yang dikenal suka bermain.
Dibedakan dalam bulu biru dan
emas.Yorkie dapat sangat kecil,
pada umumnya beratnya tidak lebih
daripada 3.18 kg atau 7 pon. Berat
dan tingginya secara spesifik tidak
ditentukan. Mereka sangat ramah
dan dapat menangani anak-anak
dengan baik.
5. Malamut Alaska
Malamut Alaska adalah salah
satu ras anjing bertubuh besar yang
berasal dari Alaska. Dulunya ras
anjing ini dimanfaatkan untuk
menarik kereta barang yang tahan
terhadap suhu sangat dingin, namun
sekarang anjing ini dirawat sebagai
peliharaan keluarga dan anjing
pertunjukan. Anjing ini memiliki
sifat yang bersahabat, pintar, serta
mudah menyerap pelajaran apa
yang diberikan. Malamut Alaska
memiliki bulu yang tebal dan kasar
dengan warna yang bervariasi
mulai dari hitam hingga putih.
Sebagian besar ras anjing ini
tampak seperti srigala berwarna
abu-abu dengan corak hitam, warna
putih di bagian bawah perut, dan
kepala atau muka berwarna hitam.
6. Chow Chow
Chow Chow adalah salah satu
jenis anjing tertua didunia yang
berasal dari China. Kaki anjing ini
sedikit bengkok sehingga pada saat
lari sedikit kaku. Anjing ini
memiliki karakter yang jinak,
sopan, serius, dan loyal terhadap
majikannya. Umur hidup Chow
Chow 915 tahun , dan sekali
melahirkan anak biasanya 5 ekor.
7. Klee Kai Alaska
Klee Kai Alaska adalah salah
satu anjing yang dikembangkan
sebagai anjing teman manusia.

Dalam sejarahnya, anjing ini


merupakan
hasil
persilangan
Siberian Husky dengan anjing lain
yang lebih kecil namun tetap
memiliki penampakan fisik yang
sama. Klee Kai Alaska dapat hidup
hingga 13 - 15 tahun dan dapat
dimanfaatkan
sebagai
anjing
penjaga rumah dan keluarga.
Anjing ras ini memiliki sifat yang
aktif namun tidak berlebihan, tidak
menggonggong berlebihan, mudah
curiga terhadap orang asing, dan
membutuhkan sosialisasi ketika
masih kecil agar tidak tumbuh
menjadi anjing yang pemalu. Bobot
tubuh anjing ini berkisar antara 4,5
- 9 kg, dengan tinggi 33 - 43 cm,
dan warna yang bervariasi, mulai
dari perpaduan hitam putih, abu putih, merah-putih, ataupun putih
keseluruhan.
8. Cocker Spaniel Amerika
Cocker Spaniel Amerika adalah
ras anjing berukuran paling kecil
dari golongan anjing Cocker. Di
tempat asalnya yakni Amerika, ras
anjing
ini
dipelihara
untuk
mengintai dan menggiring burung
untuk ditembak oleh majikannya.
Dulunya, olahraga menangkap
burung memang dilakukan manusia
beserta anjing Cocker Spaniel
Amerika. Namun sekarang ini,
Cocker Spaniel Amerika lebih
diperuntukkan
sebagai
anjing
kontes dan binatang kesayangan.
Ciri fisik dari Cocker Spaniel
Amerika adala bagian telinga, dada,
perut, dan kaki berbulu lebat,
telinga
panjang,
bola
mata
berwarna gelap, dan bagian kepala
cenderung berbentuk bulat. Warna
dan corak bulu anjing ini
bermacam-macam, mulai dari
seluruh tubuh berwarna sama,
ataupun ada sedikit totol berwarna
lain, dan juga bisa berupa
kombinasi warna yang disebut
marle (warna dasar dengan bintik-

bintik atau belang yang tidak


merata).
9. Shar Pei
Shar Pei memiliki keunikan
pada kulitnya, yaitu keriput. Pada
masih kecil, keriputnya sangat
tampak, namun ketika dewasa,
keriputnya
menghilang
dan
menyatu dengan kulit. Shar Pei
juga termasuk anjing tertua di
dunia. Cara memelihara yang salah
dapat
mengakibatkan
Sharpei
dewasa masih memiliki keriput
yang meliputi seluruh tubuh.
Dengan telinga yang kecil,
bermoncong seperti kuda nil dan
buntut yang tegak, Sharpei memang
sangat unik. Masa hidupnya 7 - 10
tahun

10. Anjing Domestik


Ciri-ciri khas dari moyang
serigala masih bertahan pada
anjing, walaupun penangkaran
secara selektif telah berhasil
mengubah bentuk fisik berbagai
jenis anjing. Anjing domestik
memiliki otot yang kuat, tulang
pergelangan kaki yang bersatu,
moncong biasanya panjang, kuku
relatif
panjang.
Sistem
kardiovaskuler yang mendukung
ketahanan fisik serta kecepatan
berlari, dan gigi untuk menangkap
dan mencabik mangsa.
2.Cara Pemeriksaan Klinis pada Anjing
Pemeriksaan fisik hewan dapat
dilakukan dengan menggunakan catur
indra
pemeriksa,
yakni
dengan
penglihatan, perabaan, pendengaran, serta
penciuman (pembauan). Untuk lebih
jelasnya tata cara tersebut diuraikan
dibawah ini (Widodo et al., 2011):
- Inspeksi
atau
peninjauan
atau
pemantapan dapat dilakukan dengan
cara melihat hewan atau pasien secara
keseluruhan dari jarak pandang
secukupnya sebelum hewan di dekati

untuk suatu pemeriksaan lanjut. Yang di


inspeksi adalah permukaan luar dari
badan hewan dari daerah kepala, leher,
badan samping kiri dan kanan, belakang
dan kaki-kaki/extremitas, aspek kulit,
aspek rambut, orifisium eksternum
mulut,
anus,
vulva/vagina
atau
preputium. Ketegasan (konformitas) dan
kompaksitas dari pertulangan juga dapat
ditemukan dengan cara inspeksi ini.
Palpasi atau perabaan dapat dilakukan
dengan tangan. Di setiap bagian-bagian
ragawi baik bagian tengkorak, leher,
bagian rongga dada atau thorax, bagian
perut atau abdomen, bagian panggul
atau pelvis dan alat gerak atau
ekstremitas dapat di nilai kualitasnya
dengan cara palpasi. Untuk ragawi
bagian luar dapat diperiksa adanya
pulsus-pulsus
arteri
subkutanea,
kelenjar getah bening atau limfonodus,
trakea, pertulangan dada (ossa costae),
lekuk liku pertulangan kaki-kaki, dan
konformitas tulang dahi dengan mudah
di palpasi.
Perkusi adalah mengetuk atau memukul
alat untuk mengelurkan denting atau
gema. Pada pemeriksaan dengan cara
perkusi ini adalah mendengarkan
pantulan gema yang ditimbulkan oleh
alat pleximeter yang diketuk oleh palu
(hammer) atau jari pemeriksa. Perkusi
diarahkan atau diletakkan pada bidang
datar di daerah yang dipenuhi udara
pada bagian bawahnya. Daerah yang di
bawahnya banyak ditemukan udara
adalah sinus-sinus hidung, rongga dada
sepertiga bagian bawah, daerah
abdomen bagian mesogastrikus, serta
daerah abdomen bagian usus-usus kecil.
Pantulan balik gema yang diperoleh dari
hasil ketukan dibandingkan terhadap
denting atau gema ketukan yang
ditimbulkan oleh pleximeter. Pantulan
balik gema dapat meredup atau dapat
nyaring dipertinggi jika dibandingkan
dengan gema perkusi.
Auskultasi atau mendengar dilakukan
dengan mendengarkan suara yang
ditimbulkan oleh kerja organ baik pada
saat sehat fungsional maupun pada
kasus-kasus tertentu. Auskultasi dapat

dilakukan dengan cara langsung, yaitu


telingan diletakkan di atas daerah atau
organ yang di duga mengeluarkan suara
yang dimaksud, atau dengan cara tidak
langsung
dengan
menggunakan
stetoskop. Suara yang dapat ditangkap
pada saat melakukan auskultasi dapat
berasal dari gerak paru-paru pada saat
inspirasi maupun ekspirasi, suara katubkatub
jantung,
suara
peristaltik
lambung, dan suara peristaltik usususus.
- Mencium atau membaui, dimaksudkan
untuk mengetahui perubahan aroma
atau bau yang ditimbulkan atau
dikeluarkan dari lubang umlah hewan
yang nantinya akan dapat menuntun
pemeriksa fisik hewan pada kejadian
penyakit tertentu. Bau yang biasa
diperiksa pada hewan yaitu bau urin,
bau mulut, dan bau feses.
- Mengukur dan menghitung, dengan cara
mengukur dan menghitung secara
kuantitatif menggunakan satuan-satuan
yang lazim untuk pengukuran atau
perhitungan, yaitu kali per menit dan
derajat celcius.
- Pungsi pembuktian atau proof punctio
merupakan uatu tindakan medik untuk
mendapatkan ketegasan tunggal dari
beberapa kemungkinan yang didapat
dari inspeksi dan palpasi sebelumnya.
- Pemeriksaan dengan alat diagnostik
lain. Pada bidang kedokteran klinis
banyak dikembangkan penggunaan alat
endoskopi (laringoskopi, bronkoskopi,
retroskopi), Ultrasonografi, X-Ray.
Elektrokardiografi,
Magnetic
Resonance Imaging (MRI) atau
Computed Tomography Scanning (CT
Scan). Untuk mendapatkan kualitas
organ-organ
yang
lebih
lembut
dibandingkan pelacak pembuluh dalam
organ atau sistem ragawi seperti
misalnya : angiografi, bronkhosgrafi,
urografi, dan sebagainya.
3. Interpretasi Pemeriksaan Klinis
3.1 Inspeksi
a. Adaptasi Lingkungan
Seekor anak anjing normal akan
bersemangat dan aktif sebaliknya,
anak
anjing
dengan
shunt

portosystemic
mungkin
akan
berekspresi
datar
dan
tidak
bersemangat atau sulit untuk
bersemangat/gairah. Pasien yang
buta yang tidak menunjukkan tandatanda kebutaannya di lingkungan
rumah yang dapat bertabrakan
perabotan di ruang pemeriksaan
(Defarges, 2015).
b. Eskpresi Kepala
Ada satu bahasa anjing yang
penting, yakni ekspresi. Suasana hati
anjing bisa terlihat dari raut
mukanya. Ada ekspresi santai,
cemas, waspada, dan marah. Saat
santai ekspresi mata menatap sesuatu
yang biasa. Namun ketika cemas,
raut mukanya berubah dengan sorot
mata yang tajam.
Kalau seekor anjing melihat
langsung ke mata seseorang maka itu
menandakan adanya hubungan yang
baik, rasa aman, dan penuh
pengertian. Sebaliknya jika anjing
selalu mencoba menghindari tatapan
mata majikannya, diduga bahwa
belum ada hubungan yang baik
antara anjing dan sang majikan.
Seandanya tatapan itu selalu
berpndah-pindah, tandanya anjing
merasa takut terhadap pemiliknya.
Jika ada seekor anjing yang
memandang dengan pandangan
mengancam, jalan terbaik ialah
bersikap diam. Jangan membuat
gerakan yang dapat merangsang
anjing untuk menggigit. Umumnya
anjing merusak barang dengan cara
menggigit sesuatu yang menarik
perhatiannya. Bagi anjing kecil,
kebiasaan itu lebih didorong oleh
insting melatih gigi (Untung, 2007).
Gerakan ekor pun menjadi
tanda bagi beberapa emosi anjing.
Anjing yang merasa senang akan
menggoyang-goyangkan ekornya ke
kiri dan kanan. Pada beberapa anjing
dan keluarga dachsund, rasa senang
itu
ditunjukkan
dengan
menggerakkan ekor dalam bentuk

spiral. Lain lagi dengan anjing betina


yang sedang berahi, ia secara
otomatis
akan
menggoyangkan
ekornya ke kiri dan ke kanan jika
disentuh (Untung, 2007).
c. Pertulangan, Posisi Tegak Telinga,
Posis Kepala
Secara umum, anjing memiliki
struktur tubuh kompak, seimbang,
dan proporsional. Penilaian itu
dilihat dari keseimbangan antara
kepala dan leher. perbandingan tinggi
dan panjang tubuh, serta tulang dan
kerangka. Setiap bagian tubuh harus
saIing melengkapi dan berpadu
serasi. Struktur tulang kuat dan besar,
berotot, serta kokoh. Seluruh bagian
tubuh berisi dan sangat bertenaga.
Paduan
Secara
keseluruhan
tengkorak tersambung 7 tulang Ieher
(cervical vetebrae) ke tulang
belakang. Tulang pertama disebut
atlas berada tepat di belakang tubuh
tengkorak. Lalu disusul tulang axis
yang Ietaknya agak ke atas. Tulang
atlas yang bertugas menggerakkan
kepala anjing ke kanan atau kiri atau
bergerak secara berputar, ke atas dan
ke bawah (Budiana, 2008).
Anjing mempunyai tulang
tengkorak dan agak melengkung
(cembung) bila dilihat dari depan dan
samping. Bagian depan atau tulang
dahi (stop) dan bagian belakang
kepala (occiput) tidak menonjol.
Stop harus terlihat jelas, tetapi tidak
curam. Umumnya, muka bagian
depan Iebar dan dalam hampir
sepanjang tulang tengkoraknya. Bila
dilihat dari profilnya, moncong
(muzzle) agak dalam dan lebar di
bagian pangkal hidung dibandingkan
ujungnya. Bibir (lip) lidah tebal,
berwarna hitam, lurus, dan menutup
rapat. Dagu (flews) lebar, tebal, dan
tidak bergelambir, tergantung jenis
anjing. Sementara bulldog dan boxer
cenderung bergelambir. Namun,
mulut terkatup sempurna dan dagu
masih tetap terlihat (Budiana, 2008).

Telinga bagi anjing berfungsi


sebagai alat pendengaran. Tapi juga
memberi suatu isyarat. Bila daun
telinga dalam kondisi tegak ke alas.
pertanda anjing sedang siaga
terhadap sesuatu. Bila daun telinga
bergerak ke depan perlanda bahaya.
Adapun bila telinga bergerak ke atas,
anjing dalam keadaan senang
(Budiana, 2008).
d. Mata dan Orbita
1. Palpebrae
Kelopak mata merupakan suatu
bagian yang dapat melipat rapat dan
membantu bola mata bagian depan.
Kelopak mata tidak berhubungan
langsung dengan permukaan bola
mata karena terdapat suatu lapisan
tipis air mata diantara kelopak mata
dan permukaan mata. Tepi dari
kelopak mata atas dan kelopak mata
bawah akan bertemu ketika kelopak
mata tertutup. Apabila kelopak
mata tidak menutup maka dapat
menyebabkan kekeringan pada
kornea dan akan menyebabkan
iritasi pada mata. Abnormalitas
yang sering ditemukan pada
kelopak mata adalah entropion
(melekuknya tepi palpebrae ke arah
bola mata), ektropion (melekuknya
tepi palpebrae bawah ke arah luar),
trichiasis (penyimpangan abnormal
dari silia sehingga akan bergesekan
dengan kornea atau konjunctiva),
distichiasis, dan tidak adanya
kelopak
mata
(coloboma).
Entropion kemungkinan dapat
disebabkan secara kongenital atau
dapatan selama hidup. Entropion
secara kongenital dicirikan oleh
terjadinya entropion secara bilateral
tetapi tingkat keparahannya berbeda
pada kedua matanya (Eldredge et
al., 2008).
2. Cilia
Selain itu, apabila anjing
mempunyai bulu mata dengan arah
yang
salah
maka
dapat
menyebabkan
iritasi
pada

permukaan
mata
(Eldredge et
al., 2008).
3. Membrane nictitans
Anjing mempunyai tambahan
struktur pada kelopak mata, yaitu
membrane nictitans. Membrane
nictitans pada anjing secara normal
tidak terlihat karena membrane
nictitans tersembunyi pada bagian
sudut mata. Struktur lain dari
kelopak mata anjing adalah Third
eyelid. Struktur ini berfungsi untuk
membersihkan
dan
lubrikasi
permukaan mata sehingga anjing
jarang sekali untuk berkedip. Third
eyelid juga membantu melindungi
permukaan mata dari luka. Third
eyelid akan terlihat pada anjing
yang mempunyai gangguan mata
atau gangguan saraf, dan anjing
yang sakit. Selain itu, melalui
penutupan kelopak mata atas dan
kelopak
mata
bawah,
serta
penonjolan membraen nictitan
dapat membantu melindungi mata
dari pengaruh benda asing seperti
rumput-rumputan (Eldredge et al.,
2008).
Kelopak mata ketiga, yang
dikenal dengan nama membrane
nictitanes, dari luar terlihat sebagai
jaringan kecil berwarna merah
muda atau berpigmen terletak di
sudut dalam mata. Tampak menjadi
lebih menonjol ketika anjing
tertidur atau sakit. Seekor anjing
dengan infeksi saluran pernapasan
konjungtiva atasnya akan bengkak,
merah dan dapat menutupi sebagian
dari kornea (Anonim, 2011).
4. Konjungtiva
Jika penampakan conjungctiva
tampak pucat. Membrane mucosa
tampak anemia (warna pucat) dan
lembek
menandakan
indikasi
anemia.
Intensitas
warna
conjungtiva dapat menunjukkan
kondisi peradangan akut seperti
enteritis,
encephalonitis
dan
kongesti pulmo akut. Cyanosis

(warna abu - abu kebiruan)


dikarenakan kekurangan oksigen
dalam
darah,
kasusnya
berhubungan dengan pulmo atau
sistem respirasi. Jaundice (warna
kuning) karena terdapatnya pigmen
bilirubin
yang
menandakan
terdapatnya gangguan pada hepar.
Hiperemi (warna pink terang)
adanya
hemoragi
petechial
menyebabkan hemoragi purpura
(Eldredge et. al., 2008).
e. Mata dan Orbita
Ketika menilai mata hewan
peliharaan, usahakan agar posisinya
duduk dan melihat lurus ke depan.
Pupil harus sama ukurannya dan
menanggapi cahaya dengan menjadi
lebih kecil. Bagian putih mata bukan
kuning, merah atau berubah warna
dan mata normal seharusnya lembab
dan jelas. Jika hewan peliharaan
menyipitkan mata, sering berkedip,
memiliki pupil yang tidak sama,
indikasinya anjing mungkin memiliki
sejumlah besar cairan dari mata
mereka, atau memiliki darah di
sekitar mata (Anonim, 2011).
1. Kornea
Anjing mempunyai mata yang
berukuran besar, hal ini dapat dilihat
pada kornea mata anjing yang
merupakan bagian mata terdepan
mempunyai ukuran yang cukup besar
(Eldredge et al., 2008).
2. Pupil
Pupil anjing normal mirip
dengan reptil nocturnal bentuknya
adalah elips bukan bulat. Bentuk
pupil ini memungkinkan mata untuk
membuka dan menutup dengan
cepat. Pembukaan di tengah mata
adalah pupil. Pupil ini dikelilingi
oleh lingkaran atau lapisan elips otot
berpigmen yang disebut iris. Pupil
membesar dan menjadi bulat,
membiarkan lebih banyak cahaya ke
dalam mata. Sehingga pupil akan
menyempit secara vertikal, sampai
cahaya telah hilang (Eldredge et
al., 2008).

3. Iris
Mata anjing mempunyai warna
yang beragam, yang dihasilkan dari
pigmen di iris dan secara genetik
terkait dengan warna rambut. Warna
iris secara umum adalah kuning
kehijauan. Selain itu, anjing juga
mempunyai warna biru, hijau, emas,
atau tembaga pada iris (Eldredge et
al., 2008).
4. Retina
Retina
merupakan membran
yang sensitif terhadap cahaya dan
terletak di bagian belakang bola
mata. Retina mengandung dua tipe
sel fotoreseptor yaitu sel batang
(rods) dan sel kerucut (cones). Sel
batang bereaksi terhadap intensitas
cahaya, sehingga anjing dapat
membedakan warna hitam, putih, dan
bayangan abu-abu. Sedangkan Sel
kerucut menyediakan warna. Namun,
mata anjing mengandung lebih
banyak sel batang (rods) daripada sel
kerucut, maka anjing mampu melihat
dalam kondisi cahaya yang redup
(hitam, putih, dan abu-abu) dan
anjing mempunyai keterbatasan
dalam melihat warna (Eldredge et
al., 2008).
f. Mulut dan Rongga Mulut
1. Mukosa
Gusi umumnya bewarna merah
mudah. Warna putih, lavender, abuabu atau biru menunjukkan bahwa
peredaran darah hewan peliharaan
tidak dalam kondisi baik. Indikator
lain yakni aliran jantung atau darah
hewan peliharaan tidak normal
termasuk pulsus menurun atau tidak
ada dan detak irama jantung yang
abnormal (Anonim, 2011).
Capiler Refill Time (CRT) mencerminkan perfusi jaringan perifer.
Cara pemeriksaan dengan menekan
bidang di permukaan selaput lendir.
Gusi akan pucat putih dan menjadi
merah muda lagi ketika tekanan
dilepaskan. Waktu Yang normal: >2
detik. Bila berkepanjangan CRT (> 2
detik)
dapat
mengindikasikan
terganggu sirkulasi karena dingin,

shock,
penyakit
kardiovaskular,
anemia atau penyebab lain dan harus
dievaluasi lebih lanjut (Anonim,
2016).
2. Lidah
Memeriksa sisi atas lidah untuk
melihat warna dan gerakan, dan
melihat bawah lidah untuk string atau
benda asing lainnya, massa, atau
laserasi dari frenulum (Defrages,
2015).
g. Hidung
Bermacam-macam perubahan dapat
terjadi pada kulit sekitar lubang hidung
atau planum nasale. Seperti kebengkakan
cermin hidung, abses, adanya bekas bekas sekretum atau ekskretum. Pada
anjing dalam keadaaan sehat cermin
hidung lembab - basah dan dingin. Dalam
keadaan yang tidak sehat, cermin
hidungnya kering dan panas. Sesekali pada
anjing yang sehat ditemukan hidung yang
kering dan panas, yakni bila anjing tersebut
baru saja menggali - gali tanah
menggunakan moncongnya (Widodo et al.,
2011).
Pada hewan sehat cairan hidungnya
selalu dan harus serous. Cairan yang keluar
dari hidung disebut ingus atau kotoran
hidung atau nasal discharge dapat keluar
dari satu atau kedua sisi lubang. Cairan
yang dikeluarkan dapat dalam jumlah
banyak dan dapat pula hanya sedikit. Sama
halnya selaput-selaput lendir yang lain,
nasal
discharge
dapat
berupa
mukoid/mucous,
purulent,
ichorous
(kemerahan) dan hemorhagis (Widodo et
al., 2011).
h. Leher
Leher memanjang dari bagian
belakang tengkorak ke bahu. Terdiri dari 7
tulang leher dan sangat fleksibel. Leher
ventroflexion
dapat
menunjukkan
hipokalemia. Postur membungkuk bisa
terindikasi sakit perut kranial. Cara
berjalan kaku kemungkinan poliartritis.
Anjing enggan untuk memindahkan leher
atau mengangkat kepalanya mungkin saja
hewan memiliki nyeri leher yang
berhubungan dengan herniated disk atau
meningitis. Gejalanya seperti kepala miring
(Defarges, 2015).

Diperiksa dengan menekukkan dan


menarik sedikit leher, kemudian putar
kepala di setiap sisi untuk memeriksa rasa
sakit. Pada saat yang sama, perhatikan
posisi mata untuk nystagmus normal.
Kemudian palpasi trakea dari laring ke
dada. Remas trakea sedikit; jika batuk,
mungkin menunjukkan tracheitis atau
trakea kolaps (Defarges, 2015).
i. Thorax
1. Type pernapasan
Tulang rusuk dan otot dada,
bersama dengan diafragma, bertindak
sebagai embusan sebuah udara yang
bergerak ke dalam dan keluar dari paru paru (Eldredge et al, 2008).
2. Ritme Pernapasan dan Intensitas
Pastikan dinding dada hewan
peliharaan
mengembang
dan
mengempis, perlahan - lahan dan
mudah.
Tanda-tanda
gangguan
pernapasan
termasuk
kepala
diperpanjang atau leher, keras atau suara
yang tidak biasa saat bernapas, sedikit
atau tidak ada pergerakan dinding
thorax saat bernapas, dan frekuensi
pernapasan meningkat (lebih dari 40 50 napas / menit ketika tidak terengah engah) (Anonim, 2011).
j. Alat Gerak
Pemeriksaan tubuh untuk simetri,
massa, nyeri tekan. Palpasi setiap anggota
tubuh dan sendi. Catatan kelainan pada
angulasi, deformitas, pembengkakan,
pendarahan, tonjolan tulang, patah tulang
jelas atau luksasi sendi, atrofi. Palpasi
daerah pinggul untuk konformasi dan
simetri (Anonim, 2016).
1. Kaki depan
Kaki depan (kaki, leher dan ekor)
terdiri dari tulang hang dipersatukan
oleh jaringan dan otot lunak, tendon dan
ligamen. Sendi adalah tempat dimana
dua atau lebih tulang berkumpul dan
memungkinkan untuk gerakan anggota
badan. Anjing memiliki sendi yang
sangat fleksibel dan dapat melompat
cukup tinggi dan memiliki gerakan yang
sangat lentur (Anonim, 2011).
2. Kaki Belakang
Secara umum bentuk belakang
anjing
hampir sama bentuknya.

Perbedaan akan terlihat bila melihat


posisi kaki belakangnya. Ada beberapa
istilah bentuk penampakan bagian
belakang anjing. Bentuk barrel hocked
hindquarters yaitu dari pinggul hingga
kaki tegak lurus. Sementara bila kedua
kaki belakang tertekuk ke arah luar
sehingga tampak lebar mirip kaki
belakang sapi disebut cow hocked.
Kebalikannya
disebut
narrow
hindquarters
dengan
kaki
yang
menyempit (Budiana, 2009).
3.3 Palpasi
k. Thorax
Untuk melihat integritas tulang rusuk
dengan meraba kedua sisi os costae secara
bersamaan untuk menilai simetri. Untuk
meraba
tulang
belakang
dengan
memberikan tekanan ke bawah secara
lembut pada processsus spinosus dan
kemudian sepanjang processsus spinosus
semakin meningkatkan derajat tekanan.
Perhatikan
keberadaan
hyperesthesia
tulang belakang atau cacat (Defrages,
2015).
l. Abdomen
Meraba perut mulai gerakan dari
tengkorak sampai ekor dan dari arah
dorsal ke ventral. Beberapa hewan tidak
merasakan sakit, otot-otot perut tegang
dalam menanggapi pemeriksaan. Gunakan
ujung jari untuk merasakan ukuran dan
bentuk dari organ atau untuk mendeteksi
massa apapun. Perhatikan setiap distensi
abdomen, nyeri jelas, atau massa. Hati
adalah organ yang paling kranial dan
biasanya tidak dapat diraba adalah normal.
Ginjal di perut dorsocranial. Ginjal kanan
lebih kranial dari kiri. Oleh karena itu,
hanya akhir ekor dapat dirasakan. Ginjal
kucing yang lebih bebas bergerak daripada
anjing. Pada anjing, setiap ginjal biasanya
dapat digenggam dengan lembut dan teraba
seluruhnya. Limpa terletak di sisi kiri
perut. Ekornya bisa dirasakan tergeletak di
dasar perut (Defarges, 2015).
Untuk palpasi usus, palpasi seluruh
rongga perut. Awalnya, menggunakan satu
tangan di anjing kecil, menggerakkan jari
secara bersama - sama sampai ke bagian
punggung dan lembut memindahkan jari
jari ke bagian perut (Defarges, 2015).

J.

Lymponodus Popliteus

Dilakukan
inspeksi,
untuk
mengetahui
kemungkinan
adanya
kebengkakan pada limfoglandula. Palpasi
dilakukan di daerah limfoglandula, dengan
cara memperhatikan reaksi, panas, besar
dan konsistensinya serta simestrisnya
kanan dan kiri (Anonim, 2011).
3.3 Auskultasi
1. Thorax dan Abdomen

Auskultasi dada sambil meraba


pulsus untuk mengidentifikasi jantung
normal dengan jantung abnormal dan
suara paru-paru untuk menilai ritme dan
rate jantung. Untuk auskultasi jantung,
hewan harus berdiri, sehingga jantung
dalam posisi normal. Hati - hati
auskultasi kedua sisi dada dan
perhatikan khusus pada daerah katup.
Pindahkan stetoskop secara bertahap ke
seluruh area dada. Sebagian murmur
jantung
pada
anjing
terdengar
parasternally. Bersamaan mengevaluasi
tingkat femoral arteri nadi dan denyut
jantung. Lebih sedikit pulsus femoralis
dari detak jantung merupakan defisit
pulsus. Dyspnea inspirasi terdeteksi
saat fase inspirasi lebih panjang dari
fase ekspirasi, menunjukkan masalah
proksimal karina. Peningkatan stridor
atau stertor dapat didengar jika ada
masalah pernapasan bagian atas.
Dyspnea ekspirasi jika fase ekspirasi
yang lebih panjang dari fase inspirasi.
Hal ini menunjukkan ada masalah di
saluran udara bawah. Penyakit rongga
pleura (misalnya, pneumotoraks, efusi
pleura, massa, hernia) biasanya
menyebabkan, pola pernapasan dangkal
cepat, dengan inspirasi dan ekspirasi
singkat dan tidak adanya suara paruparu (Defarges, 2015).
Auskultasi bidang paru - paru
secara sistematis, yang meliputi semua
bidang dada. Suara paru - paru
misalnya, mengeluarkan bunyi secara
terus - menerus atau terputus - putus
(misalnya, crackles) (Defarges, 2015).

2. Suara Penafasan, Suara Ikutan serta


suara antara inspirasi dan ekspirasi
Detak jantung normal dibagi
menjadi dua suara yang terpisah. Yang
pertama adalah LUB, diikuti oleh
sedikit jeda, dan kemudian DUB
(Eldredge et al, 2008). Suara lub
disebabkan oleh penutupan katup
tricuspid dan mitral (atrioventrikular)
yang memungkin- kan aliran darah dari
serambi jantung (atria) ke bilik jantung
(ventricle) dan mencegah aliran darah
membalik. Suara dub disebut suara
jantung kedua (S2) dan disebabkan oleh
penutupan katup semilunar (aortic dan
pulmonary) yang membebaskan darah
ke sistem sirkulasi
paru-paru dan
sistemik. Ketika suara jantung dapat
didengar di seluruh dada, berarti jantung
mengalami perbesaran (Eldredge et
al, 2008).
3. Sistem peredaran darah
Anjing dewasa memiliki denyut
nadi normal 80- 160 denyut per menit.
Denyut nadi harus kuat, stabil, dan
teratur.
Sebuah
pulsus
cepat
menunjukkan eksitasi, demam, anemia,
kehilangan darah, dehidrasi, shock,
infeksi, stroke panas, atau hati (dan paru
- paru) penyakit. Sebuah pulsus lambat
menunjukkan penyakit jantung, tekanan
pada otak, hipotermia, atau kondisi
yang tidak wajar canggih yang
menyebabkan
runtuhnya
sirkulasi
(Eldredge et a., 2008).
3.4 Perkusi
1. Hidung dan Sinus-Sinus
Ujung hidung anjing berbentuk
segitiga, warna tergantung pada genetika
dan warna hidung anjing dapat bervariasi
dalam dari merah muda atau salmon, biru,
coklat, hitam, atau berbintik-bintik. Anjing
merah muda berkulit lebih rentan terhadap
kanker scuamosa dari hidung dan telinga,
terutama ketika mereka terkena sinar
matahari selama jangka waktu yang lama.
Hidung bewarna putih tanpa dijelaskan
mungkin
menunjukkan
anemia
(Eldredge et al., 2008).
Sinus-sinus, anjing memiliki dua
frontal dan dua sinus sphenoid. Yang kecil
sinus sphenoid tidak sering menimbulkan

masalah. Tetapi karena infeksi pernafasan


yang umum pada anjing, infeksi sekunder
dari sinus frontal terjadi. Tanda-tanda
infeksi yaitu purulen hidung sering hanya
dari satu lubang hidung, disertai sering
bersin dan terisak. infeksi jamur
(criptococosis dan aspergillosis) adalah
penyebab umum dari infeksi sinus di
anjing (Eldredge et al., 2008).
4. Data Fisiologis Tubuh
Berikut data fisiologis anjing menurut
Eldredge (2007) :
a. Suhu
Suhu normal anjing rata-rata 38.539.5oC
b. Denyut jantung
Adult dog: 70 sampai 160 kali
per menit
Giant breed: 180 sampai kali
per menit.
Toybreed : <80 kali per menit
Puppies : <220 kali per menit
c. Pulsus
Frekuensi pulsus normal anjing
antara 80-160 kali/menit
d. Nafas
Frekuensi nafas normal pada anjing
berkisar antara 12-40 kali per menit
MATERI DAN METODE
Materi
Praktikum pemeriksaan klinis pada
anjing domestik menggunakan alat antara
lain timbangan, stethoscope, thermometer,
penlight, dan stopwatch.
Metode
Praktikum dilakukan pada hari
Jumat, tanggal 21 Oktober 2016 di Klinik
Hewan Pendidikan Unhas. Metode
praktikum berupa metode demonstrasi
analitik, meliputi sinyalemen, anamnesis,
inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi,
mengukur, dan membaui.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil (terlampir pada rekam medis)
Adapun yang ditemukan setelah
melakukan pemeriksaan fisik pada
probandus yaitu :
1. Sinyalemen

Data dari sinyalemen berisi jati diri


atau identitas dari pasien, merupakan ciri
pembeda yang membedakannya dengan
hewan sejenisnya. Sinyalemen meliputi
nama pasien, umur, jenis ras, spesies,
ciri/tanda khusus, dan lain sebagainya.
Perlunya pengisian data sinyalemen di
awal pemeriksaan adalah agar kita dapat
mengetahui pengobatan apa yang cocok
diberikan kepada pasien.
Nama hewan, umumnya anjing
memiliki
nama
panggilan
yang
memudahkan pemilik hewan mendapati
hewannya melalui isyarat atau notasi suara.
Hal ini juga dapat membantu dokter hewan
dalam menghandling hewan tersebut agar
menuruti perkataan kita atau setidaknya
menuruti perkataan pemiliknya untuk
memudahkan dalam pemeriksaan.
Jenis hewan penting untuk diketahui
karena berkaitan dengan cara penanganan,
pengobatan dan juga terdapat predisposisi
penyakit terhadap spesies hewan tertentu.
Misalnya, teknik handling antara pasien
anjing dan ular akan sangat berbeda.
Begitu pula dengan pengobatannya, ada
jenis obat - obat tertentu yang boleh
digunakan ke anjing tetapi tidak boleh di
kucing. Dan terkait dengan predisposisi
penyakit, ada beberapa spesies hewan
tertentu yang menderita penyakit bawaan
(herediter). Anjing merupakan jenis hewan
atau spesies hewan yang merujuk pada
ensiklopedia anjing dimasukkan ke dalam
Canis Familiaris.
Ras atau bangsa hewan berkaitan erat
dengan sifat-sifat yang diwariskan atau
genetis terutama yang berkaitan dengan
penyakit yang diturunkan. Memudahkan
dokter
hewan
untuk
mendapatkan
gambaran cepat penyakit herediter. Dan
juga berkaitan dengan predisposisi
penyakit yang biasanya hanya ada pada
spesies dan ras tertentu. Seperti infeksi
ektoparasit Demodex sp. rentang terjadi
pada anjing, baik itu berbulu lebat atau
tidak, sedangkan pada hewan lainnya
seperti kelinci, hamster tidak terkena
penyakit ini. Beberapa jenis kanker
lebih sering terjadi pada keturunan
tertentu.

Jenis kelamin dalam sinyalemen


memiliki arti diagnostik jika dikaitkan
dengan penyakit yang dihubungkan dengan
kelamin.
Umur, kepentingan memperkirakan
umur dalam praktik hewan kecil terlihat
dari banyaknya penyakit - penyakit yang
muncul terkait dengan umur. Misalnya
anjing
yang
hidup
lebih
lama,
kemungkinan akan rentang terkena kanker.
Infeksi parvovirus sering berakibat fatal
jika menyerang anjing anakan berumur
kurang dari 10 minggu dan jika menyerang
lebih dini (kurang dari 4 minggu) akan
mati tanpa gejala klinis (infeksi perakut).
Bulu ajing dalam praktikum termasuk
anjing berbulu pendek menyebabkan
kerentanan
terhadap infeksi
saluran
pernapasan. Warna rambut 3 warna
(tricolor) yang terdiri atas kombinasi bebas
dari warna-warna putih-hitam dan kuning
kecoklatan (red) hampir selalu dimiliki
oleh anjing betina dari ras apapun. Jika
dilihat dari anjing yang digunakan pada
praktikum ini artinya warna bulu pada
anjing tersebut normal. Warna bulu perlu
dimasukkan dalam sinyalemen karena
berperan dalam memudahkan dokter untuk
membedakan pasiennya jika terdapat
banyak pasien sejenis di rumah sakit atau
klinik. Dan juga mengetahui warna bulu
ada kaitannya dengan kerentanan pada
jenis penyakit tertentu, misalnya hewan
albino (keseluruhan rambut berwarna putih
karena kekurangan pigmen) akan rentan
terkena penyakit kanker kulit atau penyakit
kulit lainnya karena terlalu sering terpapar
sinar matahari yang menyebabkan pigmen
yang memiliki fungsi untuk melindungi
kulit dari ultraviolet rusak.
Berat badan hewan penting untuk
diketahui karena berkaitan dengan
penanganan penyakit, khususnya dalam
penentuan dosis obat. Keadaan obesitas
dapat dinyatakan dalam sinyalemen.
Sebaliknya
hewan
sangat
kurus
atau kakhekxia tidak dimasukkan sebagai
sinyalemen berat badan. Beberapa tumor
tulang lebih sering terjadi pada anjing

dengan berat lebih dari 20 kg. Anjing


dalam praktikum ini memiliki berat badan
ideal untuk tubuhnya karena dia terlihat
sangat seimbang dari segi fisik.
Ciri khusus hanya digunakan sebagai
pembeda antara satu spesies dengan
spesies yang lain. Ini sangat berguna jika
dalam klinik terlalu banyak anjing dengan
warna dan bentuk yang sama. Pada pasien
ditemukan tanda khusus yang berupa corak
gais - garis putih pada rambut bagian
ventral abdomen.
Adapun data sinyalemen probandus
antara lain:
Nama
: Rebeca
Jenis hewan/spesies
: Anjing
Ras/breed
: Domestik
Warna rambut
: Hitam dan
Cokelat
Muda
Jenis Kelamin
: Betina
Umur
: 3 bln
Berat Badan
: 5,5 kg
Tanda khusus
:Warna
terang di bagian ventral thorax dan
di kedua dorsal mata terdapat rambut
seperti bintik cokelat
2. Anamnesis
Anamnesa merupakan informasi awal
tentang penyebab perubahan fisik pada
pasien, berikut isi dan hasil anamnesa
pasien atau hewan pada praktikum kali ini :
a Belum pernah di vaksin, dengan
informasi ini bisa mengarahkan
pemeriksa
bahwa
jika
pada
pemeriksaan selanjutnya ternyata
mengarah ke penyakit akibat infeksi
virus maka bisa dipastikan bahwa
salah satu penyebabnya adalah
karena belum diberikannya vaksin.
b Anjing ini dilepas di dalam rumah
tidak di kandangkan, memberikan
informasi bahwa hewan tersebut
bebas berkeliaran sehingga faktor
terjangkitnya penyakit dari luar atau
dari kelompok hewan lain lebih besar
dibanding apabila hewan tersebut
dikandangkan.
c Makanan yang biasa di konsumsi
sosis,
memberikan
informasi
kurangnya asupan nutrisi yang

seimbang pada anjing sehingga


pendiagnosaan penyakit selanjutnya
bisa
mengarah
ke
persoalan
makanan.
3. Status Present
3.1 Keadaan umum
Keadaan umum ini meliputi:
a) Perawatan yang diberikan pemilik
kepada pasien adalah kurang baik
ini terlihat dari penampakan luar
tubuh anjing yakni terdapat sisik
(scale) di extremitas cranial
tepatnya di bagian medial kaki
kiri anjing dan juga terdapat bintik
- bintik di bagian inguinal yang
mengindikasikan bahwa anjing
jarang dimandikan.
b) Habitus atau tingkah laku pada
anjing yang diperiksa yaitu tenang
dan tidak banyak gerak. Anak
anjing (puppies) normalnya aktif
dan banyak gerak. Hal tersebut
dapat diakibatkan hewan terkena
shock akibat kondisi lingkungan
yang baru ataupun bisa dikaitkan
dengan penyakit tertentu misalnya
ada gangguan pada tulang atau
rasa sakit pada otot sehingga
geraknya
terbatas,
ataupun
pemilik
belum
memberikan
makanan
c) Gizi yang diberikan kepada pasien
baik, ini dilihat dari kondisi tubuh
hewan yang tidak kurus dan tidak
juga gemuk. Ini didasarkan pada
penilaian kondisi ragawi pada
anjing yaitu tulang rusuk, tulang
belakang tidak terlihat tapi teraba,
lipatan bagian perut jelas, dan
lemak bagian perut sedikit.
d) Sikap berdirinya tegak, berarti
tidak ada masalah pada tulang dan
otot (alat gerak). Hasil ini
berdasarkan hasil inspeksi dari
praktikan bahwa tidak ada
kelainan pada saat hewan berdiri
dan hewan tidak bungkuk.
e) Suhu tubuh anjing adalah 38,3 oC
yang artinya normal, menurut
teori suhu tubuh normal untuk
anjing adalah 38,5oC 39,5 oC
(Eldredge, 2007).

f) Frekuensi nadi : 142x/menit


berarti normal, karena menurut
teori frekuensi nadi normal pada
anjing yaitu 80-160 kali/menit
(Eldredge, 2007).
g) Frekuensi nafas : 100x/menit
berarti tidak normal. Karena
berdasarkan referensi bahwa
frekuensi napas anjing normal
berkisar antara 12 sampai 40
napas per menit (Eldredge, 2007).
Kondisi
pernafasan
hewan
termasuk
respirasi
yang
dipercepat.
Kemungkinan
ketidaknormalan tersebut dapat
disebabkan oleh beberapa faktor,
misalnya
anjing
tersebut
stress/shock karena lingkungan
yang baru, adanya penyakit
saluran pernapasan, atau bisa
disebabkan karena praktikan
melakukan
kesalahan
dalam
perhitungan.
4.1.Kepala dan Leher
a) Inspeksi
Saat dilakukan pengamataan pada
bagian kepala dan leher, yang pertama
diamati adalah ekspresi kepala
(memperlihatkan bagaimana ekspresi
pasien). Ekspresi kepala pasien saat
dilakukan inspeksi adalah kurang baik
dimana anjing menampakkan ekspresi
yang sangat tenang bahkan kelihatan
murung. Normalnya ekspresi anak
anjing adalah aktif dan banyak gerak.
Hal tersebut dapat diakibatkan hewan
terkena
shock
akibat
kondisi
lingkungan yang baru ataupun bisa
dikaitkan dengan penyakit tertentu
misalnya ada rasa sakit/nyeri pada
otot, ataupun karea faktor pemilik
belum memberikan makanan sehingga
anjing terlihat lemas/murung.
Pertulangan kepala yang dilihat
adalah apakah pertulangan kepalanya
kompak atau tidak dan berdasarkan
hasil pengamatan pertulangannya
padat yang berarti normal.
Inspeksi yang dilakukan pada
posisi tegak telinga untuk melihat
apakah
salah
satu
telinganya
menunduk atau tidak dan hasilnya

normal (kedua telinga dalam posisi


yang sama-sama tegap). Posisi
telingan masing masing hewan
berbeda tergantung spesiesnya. Anjing
domestik
yang
dipraktikumkan
termasuk jenis hewan bertelinga tegak.
Pada
posisi
kepala
yang
diperhatikan adalah apakah posisi
kepala pasien apakah simetris atau
tidak. Pengamatan dilakukan dari
depan, belakang, dan samping.
Berdasarkan
hasil
pengamatan
menunjukkan posisi kepala anjing
simetris yang berarti normal.
b) Palpasi
Palpasi dilakukan untuk melihat
kondisi pasien, apakah mengalami
dehidrasi atau tidak dengan mengetes
turgor kulit dengan menarik kulit yang
ada di bagian tengkuk leher. Hasilnya
menunjukkan normal, yang ketika
ditarik dengan cepat kembali ke posisi
awal dalam waktu 2 detik karena
menurut
teori
waktu
normal
kembalinya turgor ke posisi semula
2-3 detik (Widodo et al., 2011)
c) Mata dan orbita kiri & mata dan
orbita kanan
Yang diamati untuk bagian ini
adalah palpebrae, cilia, conjungtiva,
dan membrane nictitans. Pemeriksaan
mata biasanya menggunakan alat
diagnostik seperti penlight, tonometer,
opthalmoscope, dan lain sebagainya.
Adapun hasil pemeriksaan pasien
sebagai berikut :
Palpebrae normal. Tidak melipat
ke dalam atau entropion dan tidak
melipat keluar atau ektropion. Tidak
terjadi pembengkakan ataupun lesi.
Cilia normal. Tidak melipat
/melengkung ke dalam maupun ke
luar. Adapun gangguan lain pada cilia
yaitu, melengkungnya cilia masuk ke
bagian dalam disebut trichiasis dan
distikiasis, tumbuhnya cilia pada
bagian konjungtiva
Conjungctiva baik mata kiri
maupun kanan juga tidak ada
perubahan (normalnya itu berwarna
pink rose), conjungtiva juga tidak
kering dan tidak terlalu berair. Pada

daerah ini juga bisa mengevaluasi


terjadinya sianosis dimana konjungtiva
berwarna biru akibat tingginya kadar
CO2 dalam darah dan juga bisa
mengevaluasi adanya ictherus dimana
warna conjungtiva berwarna kuning.
dan membrane nictitans juga
menunjukkan letak yang normal yakni
tidak menutupi sebagian regio mata
(berada disudut mata). Pada kondisi
hewan dehidrasi membrane nictitans
akan menutup sebagian mata karena
kurangnya kadar air.
d) Bola mata kiri dan kanan
Bagian yang diperhatikan untuk
baik mata kiri maupun mata kanan
antara lain sklera, kornea, iris, limbus,
pupil, refleks pupil,
dan vasa
injection. Semua bagian ini baik mata
kanan maupun kiri menunjukkan
keadaa normal.
Sklera terlihat jernih, berarti
normal dan tidak adanya kekeruhan
dan tidak adanya vasa injection, jika
ada vasa injection berarti dicurigai
terdapat iritasi pada bagian tersebut.
Kornea bening yang berarti
normal, pada bagian ini yang
dievaluasi adanya kekeruhan, benda
asing, dan ulserasi.
Iris berwarna kuning yang berarti
normal, yang menjadi perhatian utama
pada pemeriksaan ini yaitu pelekatan
iris dengan kornea yang disebut
synechia anterior dan iris melekat
pada lensa disebut synechia posterior.
Limbus terlihat batas jelas, limbus
merupakan batas antara kornea dengan
sklera. Pada pemeriksaan ini, limbus
pasien normal dimana batas antara
sklera dan kornea jelas.
Pupil dan reflex pupil menutur
hasil pemeriksaan normal dan refleks
baik. Pemeriksaan bagian ini yaitu
menguji kemampuan refleks pupil
untuk mengecil (miosis) dan refleks
membesar (midrasis). Ketika refleks
pupil lambat berarti hewan atau pasien
tersebut dehidrasi (memiliki indikasi
yang sama dengan membrane
nictitans). Hewan yang buta atau
amorrhosis kehilangan kemampuan

mengembangkan refleks pupil yang


dapat dilihat dari cahaya yang
didatangkan.
Vasa injection tidak ada. Vasa
injection ditandai dengan sklera
berwarna kemerahan, adanya warna
kemerahan disebabkan vaskularisasi
yang meningkat ke bagian mata
diakibatkan adanya iritasi atau benda
asing pada mata. Jadi, adanya vasa
injection pada mata itu tidak normal.
e) Hidung dan Sinus sinus
Saat inspeksi, dilihat tidak ada
perubahan pada hidung & sinus-sinus
dikarenakan hidung dalam keadaan
lembab dan tidak ada nasal discharge
(leleran hidung). Jika cermin hidung
dirabah dalam keadaan kering maka
indikasinya adalah dehidrasi. Dan
apabila didapatkan penjendolan keluar
sinus-sinus, bisa di curigai adanya
nanah atau cairan lainnya di dalam
sinus.
Pada bagian ini juga dilakukan
perkusi pada sinus - sinus hasilnya
yaitu resonan, seperti pada teori
mengatakan bahwa suara yang
dihasilkan sinus yaitu resonan, seperti
yang diketahui bahwa suara resonan
timbul akibat adanya ruang kosong
dan sinus - sinus pada hidung
merupakan ruang - ruang yang
kosong. Ini mengindikasikan bahwa
tidak adanya cairan di dalam sinus
yang dicurigai terjadinya sinusitis.
f) Mulut dan Rongga mulut
Untuk bagian mulut dan rongga
mulut, inspeksi dilakukan untuk
melihat apakah terdapat luka bibir
pada bibir, serta kondisi mukosa, gigi
geligi
dan
lidah.
Hasilnya
menunjukkan bibir pasien tidak
terdapat luka. Mukosanya juga tidak
mengalami
perubahan
karena
menunjukan warna pink rose (dalam
keadaan normal). Abnormal pada
mukosa biasanya berwarna pucat atau
kuning yang mengarah pada penyakit
kuning dan terjadinya stomatitis
(radang pada daerah mulut). Untuk
gigi geligi juga normal, tidak
ditemukan adanya depris (plak gigi)

dan lidah berwarna merah muda yang


artinya keadaan normal. Selain itu
juga di evaluasi kebersihan gigi yaitu
adanya luka pada gusi atau gingivitis
atau tidak dan hasilnya tidak ada atau
normal.
g) Telinga
Pada bagian telinga yang
menjadi objek perhatian adalah
bagaimana kondisi telinga pasien.
Posisi telinga pasien normal yakni
tegak, baunya normal (bau serumen),
permukaannya halus dan pada bagian
luar tetapi bagian dalam kotor karena
anjing jarang dibersihkan/dimandikan.
Tidak ada krepitasi. Krepitasi adalah
suara yang timbul jika pinna
auricularis diraba akan terdengar
bunyi seperti kresek - kresek yang
menandakan keadaannya abnormal,
krepitasi dapat disebabkan karena
adanya fraktur, adanya penimbunan
cairan, ataupun karena benturan fisik.
Dan untuk refleks pangggilan sendiri,
normal karena ketika di panggil hewan
menggerakan
telinganya
untuk
mencari sumber suara. Karena saat
dilakukan
pemeriksaan,
anjing
memberikan respon cepat dengan
menggoyangkan
telinga
dan
mengedipkan mata.
h) Leher
Ada tiga bagian yang diperiksa
pada daerah leher diantaranya
perototan, trachea, dan oesophagus
yang ketiganya menunjukkan hasil
yang normal. Perototan pada leher
baik (padat), trachea saat dilakukan
palpasi dengan tekanan tidak terjadi
refleks batuk, jika ada refleks batuk
berarti abnormal dan dicurigai
mengarah ke faringitis dan tracheitis.
Dan pada oesophagus refleks menelan
makanan yang diberikan (sosil)
normal. oesofagus terdapat gerakan
yang mendorong bolus dari mulut
menuju ke lambung yang disebut
gerak peristaltik. Keadaan abnormal
yang biasa terjadi pada esophagus
seperti memuntahkan makanannya
kembali yang mungkin dikarenakan

terjadinya obstruksi atau penyumbatan


karena adanya bollus.
4.2. Thorax
a) Sisem pernapasan
Inspeksi dilakukan untuk melihat
bagaimana bentuk rongga thorax, tipe
pernafasannya, ritme, intensitas, dan
frekuensinya.
Untuk
rongga
thoraksnya simetris (ukuran dan
bentuk thorak pada sisi kanan dan kiri
sama), tipe pernafasannya yaitu costal
(yang merupakan tipe pernafasan pada
karnivora, sehingga dapat dikatakan
kondisinya
normal).
Ritme
pernafasannya
itu irregural yang
menunjukkan kondisi normal. Ritme
pernafasan yang tidak beraturan pada
anjing dapat dikatakan normal karena
hal tersebut dapat dianggap sebagai
suatu
kondisi
anjing
untuk
mengelauarkan
cairan
tubuhnya
(evaporasi) dengan cara terengahengah karena anjing tidak memiliki
kelenjar
keringat.
Intensitas
pernafasannya tergolong dalam tipe
pernafasan dangkal (yang terjadi
apabila hewan dalam keadaan istirahat
atau tidak melakukan aktivitas)
sehingga kondisi ini dinyatakan
normal. Untuk frekuensi sendiri,
hasilnya itu 100x/menit, berarti hewan
tersebut masuk di kategori respirasi
yang dipercepat. Tipe respirasi ini
biasa terjadi bila hewan terkejut,
setelah banyak bergerak, atau dalam
keadaan demam. Tetapi, berdasarkan
praktikum penyebab respirasinya
dipercepat karena anjing dalam
keadaan stress/shock akibat perjalanan
ke klinik menggunakan mobil .
Palpasi. Ada dua hal yang
dikerjakan untuk palpasi thorak yaitu
menekan rongga thorak dan palpasi
intercostal, semuanya simestris dan
dalam keadaan normal. Jika terjadi
perluasan lapangan paru paru maka
bisa diindikasikan hewan terkena
pleuritis dan peradangan paru-paru
(pneumonia).
Perkusi. Saat dilakukan perkusi
pada bagian lapangan paru paru,
tidak ada perubahan yang terjadi

karena
bunyi
yang
dihasilkan
resonan/nyaring
(sesuai
kondisi
normalnya karena paru-paru berisi
udara sehingga suara perkusinya
resonan). Abnormal apabila suara yang
dihasilkan pekak karena pekak
merupakan suara perkusi apabila
isinya cairan dan padatan. Gema
perkusi menunjukkan kondisi normal
karena tidak adanya gema yang
dihasilkan. Cara menentukan lapangan
paru-paru yaitu bentangan paru-paru
diperkusi sepanjang garis-garis yang
melalui tuber coxea kemudian ditarik
garis menuju ke titik olecranon dan
terakhir garis menuju ke caudal dari
scapula. Kemudian lakukanlah perkusi
menggunakan kedua tangan sesuai
teknik dan dilakukan di area yang
telah ditentukan melalui titk - titik
sebelumnya. Pada titik ditemukan
perbedaan suara yang nyata, di situlah
letak batas paru-paru. Perubahan suara
yang terjadi pada batas kaudalis paru paru biasanya merupakan suara
peralihan antara suara nyata dan
nyaring dengan suara redup. Adanya
suara redup disebabkan posisi anatomi
dari hati, limpa, usus yang penuh
berisi pakan. Apabila usus berisi gas,
perkusi
bagian
kaudalis
akan
menimbulkan suara timpanis atau
suara nyata dan nyaring. Meluasnya
suara paru-paru nyaring dan jernih
sampai ke belakang dapat dijumpai
pada emphysema pulmonum dan pada
pneumothoraks. Lapang paru-paru
normal yang mengecil dapat terjadi
bila jaringan paru - parunya tertekan
dari cavum abdominis sehingga garis
batas kaudalis paru-paru tergeser ke
depan.
Auskultasi.
Saat
dilakukan
pemeriksaan suara pernafasan yang
dihasilkan yaitu vesikuler (artinya
normal). Karena suara pernafasan pada
anjing normalnya adalah vesikuler.
Suara respirasi (sejatinya suara
inspirasi) dapat di dengar di trakea
pars servikalis tepat pada dinding
thoraks kranial. Suara yang dihasilkan

mirip dengan suara-suara yang keluar


bila kita menyebutkan huruf w.
Suara ikutan, tidak ada perubahan
(kondisi normal) tidak ada suara
ikutan yang dihasilkan antara saat
melakukan ekspirasi dan inspirasi.
b) Sistem peredaran darah
Inspeksi. Dilihat untuk melihat
Ictus cordis dimana hasilnya tidak
kelihatan atau normal. Ictus curdis
adalah kondisi dimana apex cordis
menyentuh bagian costae dan ketika di
inspeksi seolah terlihat costaenya
bergerak.
Auskultasi.
frekuensi
denyut
jantung yang diperoleh adalah
80x/menit menunjukkan kedaaan
normal karena menurut teori denyut
jantung pada anjing adalah 70160x/menit
(Defrages,
2015).
Intensitasnya irregular atau tidak
beraturan hal ini dapat disebabkan
anjing dalam keadaan shock sehingga
denyut jantung tidak beraturan, suara
sistole dan diastol normal tidak ada
perubahan, suara ekstrasitolik tidak
ada (dalam keadaan normal karena
tidak menghasilkan suara-suara lain
selain sistole dan diastole).
Lapangan jantung memberikan
hasil normal. Secara topografis
jantung terletak di dalam 2/3 bawah
dari ruang thorax, pada bagian kanan
membentang dari os costae 4-6 dan
bagian kiri dari os costae 3-5. Jantung
terletak di sebelah kiri dari garis
median tubuh. Tidak adanya perluasan
karena pada saat diperkusi daerah
lapang jantung tidak diperlebar atau
tidak tergeser, ini disebabkan suara
absolut jantung tetap terdengar di
lapangan
jantung
yang
telah
ditentukan.
Sinkron pulsus dan jantungnya
memberikan hasil yang tidak sinkron
dimana frekuensi pulsus
yang
didapatkan yaitu 142x/menit dan
frekuensi jantung yaitu 80x/menit.
Nomalnya frekuensi jantung lebih
cepat dibanding dengan frekuensi nadi
dan tidak berbeda jauh. Hal tersebut

bisa disebabkan karena anjing dalam


keadaan shock selama perjalanan.
c) Abdomen dan Organ Pencernaan
yang Berkaitan
Inspeksi. Dilakukan untuk melihat
besar dan bentuknya. Hasilnya, tidak
ada perubahan karena sesuai dengan
bentuk dan bobot pasien. Begitupun
dengan legok lapar tidak ada
perubahan (tidak terlihat karena pasien
tidak dalam kondisi kurus). Untuk
suara peristaltik lambung juga normal.
Palpasi.
Dilakukan
untuk
merasakan epigastricus, mesogastricus
, hypogastricus, isi usus halus, dan isi
usus besar. Hasil yang ditunjukkan
termasuk tidak terlalu normal yakni 2
kali dalam menit. Bunyi peristaltik
usus normalnya adalah 3-5 kali dalam
5 menit.
Anus.
d) Alat perkemihan dan kelamin
(urogenitalis) betina.
Inspeksi dan palpasi, dilakukan
untuk melihat kondisi mucosa vagina
dan kelenjar mammae (besar, letak,
bentuk, kesimestrisan, dan konsistensi
kelenjar)
menunjukkan
keadaan
normal.
e) Alat Gerak
Inspeksi. Perototan kaki depan tidak
ada perubahan (sesuai dengan kondisi
normal seperti biasa yaitu tegap dan
kokoh). Perototan kaki belakang juga
menunjukkan kedaan normal tidak ada
perubahan. Spasmus otot normal atau
tidak ada perubahan (tidak adanya
kontraksi otot yang berlebihan),
tremor juga tidak ada (normal), sudut
persendian normal. Cara bergerak berjalan dan cara bergerak - berlari
keduanya koordinatif, artinya saat
berjalan dan berlari antara kaki kanan
dan kaki kiri seirama.
Palpasi. Struktur pertulangan tidak
ada perubahan, kaki kiri depan, kaki
kiri belakang, kaki kanan belakang
dan kaki kanan depan menunjukkan
tidak adanya perubahan yang terjadi.
Konsistensi pertulangan memberikan
hasil kompak/padat,
reaksi saat
palpasi tenang, tidak terdapat rasa

sakit. Panjang kaki depan kanan dan


kiri dan panjang kaki belakang kiri
dan kanan juga memberikan hasil
sama panjang.
Palpasi lymphonodus popliteus.
Ukurannya normal, konsistensi juga
tidak
menunjukkan
tidak
ada
perubahan, lobulasi dan perlekatan/
pertautan juga memberikan hasil yang
sama, tidak panas, kesimetrisan antar
limfonodus kiri dan kanan juga
normal.
Kestabilan
pelvis,
konformasi, dan kesimetrisan juga
menunjukkan
hasil
tidak
ada
perubahan. Untuk pasien tuber ischii
dan tuber coxenya normal.
KESIMPULAN
Dari praktikum dapat disimpulkan
bahwa pemeriksaan klinis hewan dalam
kondisi normal, hal ini dapat dilihat pada
data-data pemeriksaan yang diperoleh pada
rekam medik kebanyakan menunjukkan
keadaan normal pasien dan hanya sebagian
yang bisa dikatakan tidak normal, terutama
pada bagian kulit. Pada kulit ditemukan
bintik-bintik di bagian inguinal dan sisik
(scale) di bagian extremitas cranial pada
pergelangan
medial
lengan
kiri.
Kemungkinan ketidaknormalan tersebut
disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya
pemilik yang tidak merawat baik
anjingnya, jarang dimandikan, nutrisi tidak
mencukupi, ataupun karena adanya infeksi
parasite atau jamur.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2016. Jenis Anjing Peliharaan.
(http://dimhad.byethost9.
com/buku1/Jenis_jenis_anjing_piara
an.pdf?i=1 , diakses pada hari Sabtu
22 Oktober 2016 pukul 3.44 WITA)

Anonim. 2011. Pet Emergency Care


Handbook.
VCA
Veterinary
Specialty Center of Seattle. VCA
Specialty Animal Hospital.
Anonim. 2013. Standards of Care Regular
Health Check Standards for Dogs and
Cats. Published by ASAVA, a special
interest group of The Australian
Veterinary Association Limited.
Budiana N.S. 2008. Anjing. Jakarta :
Penebar Swadaya
Defarges, Alice. 2015. The Physical
Examination.
Cliniciansbrief.com.
Diakses pada tanggal 15 Oktober
2016. [online]
Eldredge, Debra M. 2007. Home
Veterinary Handbook (3rd edition).
Wiley Publishing, Inc., Hoboken,
New Jersey
Guold, Sue. 2014. Dog Groomer's
Manual: A Definitive Guide to
the Science, Practice and Art
of
Dog
Grooming.UK
:
Croowod Press.
Gorrel, Gena K. 2009. Working Like a
Dog. USA : Elsevier
Koler, Janice and Matznick. 2002. The
Origin of the Dog Revisited. USA.
Anthrozos 15(2): 98 118
Sianipar, Bernard T, Wahyu Wiryanta, Dedi
Murdiana. 2004. Merawat dan
Melatih Anjing Penjaga. Jakarta :
Agromedia Pustaka
Untung, Onny. 2007. Merawat dan
Melatih Anjing. Jakarta : Penebar
Swadaya
Widodo, Setyo. 2011. Diagnostik Klinik
Hewan Kecil. Bogor : IPB Press