Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT (ROSOT KARBON) 2016 KELOMPOK 4A

Analisa Rosot Karbon di Area PPLH Seloliman,


Trawas, Kab. Mojokerto
Alivvy, I. Atikasari, T.P. Andayani, dan I.N. Laily
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: albatrostristanb17@gmail.com
Abstrak Cadangan karbon adalah kandungan karbon
tersimpan baik itu pada permukaan tanah sebagai biomasa
tanaman, sisa tanaman yang sudah mati (nekromasa), maupun
dalam tanah sebagai bahan organik tanah. Perubahan wujud
karbon ini kemudian menjadi dasar untuk menghitung emisi,
dimana sebagian besar unsur karbon (C) yang terurai ke udara
biasanya terikat dengan O2 (oksigen) dan menjadi CO2 (karbon
dioksida). Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui,
memahami, dan mampu menerapkan prinsip pengukuran rosot
karbon suatu vegetasi atau komunitas flora. Metode yang
digunakan dalam praktikum ini adalah dengan metode transek
dan pengukuran biomassa non-destructive menggunakan
persamaan allometrik. Hasil yang diperoleh adalah
Kata KunciAllometrik, Biomassa, Karbon, Rosot Karbon.

I. PENDAHULUAN
Kawasan PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup)
Seloliman, terletak di desa Seloliman, kecamatan Trawas,
kabupaten Mojokerto, provinsi Jawa Timur. PPLH Seloliman
didirikan pada tahun 1990 dengan tujuan untuk mewujudkan
masyarakat yang sadar dan peduli akan lingkungan sebagai
tempat tinggal yang perlu dijaga kelestariannya. PPLH
sendiri merupakan lembaga swadaya masyarakat yang
bergerak dibidang lingkungan hidup. Dibangun di area hutan
sekunder lereng gunung penanggungan seluas 3.5 hektar [1].
Hutan memiliki peran penting sebagai penyimpan
karbon, dimana hutan dapat menjadi sumber emisi karbon
(source) dan juga dapat menjadi penyerap karbon dan
menyimpannya (sink) [2][3]. Hutan alami dengan
keanekaragaman spesies yang tinggi dan seresah yang
melimpah merupakan penyimpan karbon yang baik. Karbon
tersimpan berbeda untuk berbagai tipe hutan. Cadangan
karbon di atas permukaan tanah pada berbagai kelas
penutupan lahan di hutan alam berkisar antara 7,5 - 264,7
ton C/ha [2]. Cadangan karbon tersimpan baik pada
permukaan tanah sebagai biomasa tanaman, sisa tanaman
yang sudah mati (nekromasa), maupun dalam tanah sebagai
bahan organik tanah [4].
Tumbuhan akan mengurangi karbon di atmosfer (CO2)
melalui proses fotosinthesis dan menyimpannya dalam
jaringan tumbuhan. Sampai waktunya karbon tersebut
tersikluskan kembali ke atmosfer, karbon tersebut akan
menempati salah satu dari sejumlah kantong karbon. Semua
komponen penyusun vegetasi baik pohon, semak, liana dan
epifit merupakan bagian dari biomassa atas permukaan. Di
bawah permukaan tanah, akar tumbuhan juga merupakan
penyimpan karbon selain tanah itu sendiri. Pada tanah
gambut, jumlah simpanan karbon mungkin lebih besar
dibandingkan dengan simpanan karbon yang ada di atas
permukaan. Karbon juga masih tersimpan pada bahan
organic mati dan produk-produk berbasis biomassa seperti

produk kayu baik ketika masih dipergunakan maupun sudah


berada di tempat penimbunan. Carbon dapat tersimpan dalam
kantong karbon dalam periode yang lama atau hanya sebentar
[5].
Metode yang dapat digunakan dalam perhitungan
simpanan karbon adalah dengan metode allometrik yang
merupakan metode pengukuran pertumbuhan tanaman yang
dinyatakan dalam bentuk hubungan-hubungan eksponensial
atau logaritma antar organ tanaman yang terjadi secara
harmonis dan perubahan secara proporsional. Persamaan
allometrik dapat digunakan untuk menghubungkan antara
diameter batang pohon dengan variabel yang lain seperti
volume kayu, biomasa pohon, dan kandungan karbon pada
tegakan hutan yang masih berdiri (standing stock) [6].
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk
II.

METODOLOGI

A.Waktu dan Tempat


Praktikum Rosot Karbon dilaksanakan di PPLH
Seloliman, Mojokerto, Jawa Timur pada hari Minggu, 24
April 2016.

Gambar 1. Lokasi Praktikum Rosot Karbon di PPLH Seloliman

B. Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan padapraktikum
ini adalah meteran lapangan, tali rafia, kamera digital, alat
tulis dan meteran kain.
C. Cara Kerja
Pada praktikum ini, data diameter (DBH) yang digunakan
sebagai dasar pengukuran rosot karbon adalah data diameter
tegakan pohon dan tihang. Pemilihan pohon dan tihang
berdasarkan jumlah yang ada pada metode transek.

LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT (ROSOT KARBON) 2016 KELOMPOK 4A

Perhitungan biomassa dilakukan dengan metode nondestructive, yang salah satunya merupakan metode hubungan
allometrik. Persamaan alometrik dibuat dengan mencari
korelasi yang paling baik antara dimensi pohon dengan
biomassanya [7] [8]. Biomassa masing-masing individu
pohon dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut :
Jenis Pohon

Persamaan Allometrik

Pohon bercabang

Y = 0,11D2,62

Jika data tidak diketahui

Y = 0,118D2,53

Keterangan: Y = Biomassa pohon


D = Diameter batang setinggi 1,3 m
= Berat jenis pohon g/cm3
Setelah biomassa masing-masing individu pohon dan tihang
diketahui, maka masing-masing individu dikelompokkan ke
dalam satu spesies yang sama dan dijumlah seluruh hasil
biomassanya. Kemudian hasil penjumlahan biomassa seluruh
spesies dihitung dengan menggunakan persamaan :
C = Y x 0,46
Dimana : C = Simpanan karbon (kg)
Y = Biomassa (kg)
0,46 = Kandungan karbon vegetasi
Sehingga dapat diperoleh simpanan karbon pada satu transek
kuadran.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada praktikum ini pengolahan data meliputi
penghitungan biomassa dan stok karbon pada seluruh
komponen yang ada di atas permukaan tanah yakni pohon
dan tihang. Biomassa dan stok karbon pada masing-masing
komponen dihitung dengan menggunakan persamaan
alometrik. Stok karbon diestimasi dari biomassanya dengan
mengikuti aturan 46% biomassa [9]. Penggunaan persamaan
alometrik dikarenakan merupakan salah satu metode untuk
mengestimasi biomassa karbon. Estimasi dilakukan dengan
cara mengukur diameter batang pohon setinggi dada
(diameter at breast height, DBH) yang dilakukan pada setiap
plot. Selain itu metode ini telah banyak diaplikasikan untuk
estimasi stok karbon pada berbagai tipe vegetasi di Indonesia
[10][11]. Nilai biomassa pohon disajikan pada Tabel 1. Nilai
biomassa ini merupakan nilai biomassa yang besarnya
diperoleh dari hasil konversi pengukuran diameter batang
yang dihitung menggunakan persamaan alometrik. Dengan
adanya biomassa yang digunakan dapat menghitung jumlah
simpanan karbon yang ada pada (biomassa diatas tanah, berat
kering, dan biomassa dibawah tanah) [12].
Penggunaan batang pohon yang merupakan biomassa
hidup diatas permukaan tanah dalam perhitungan persamaan
allometrik dikarenakan proporsi kandungan biomassa pada
bagian batang merupakan yang tertinggi dibandingkan
dengan bagian pohon lainnya. Kandungan biomassa pada

batang berkaitan erat dengan hasil produksi pohon yang


didapat melalui proses fotosintesis yang umumnya disimpan
pada bagian batang. Hasil produksi pohon dari proses
fotosintesis tersebut berupa kandungan selulosa dan zat-zat
kimia penyusun kayu yang lainnya. Zat penyusun kayu
tersebut menyebabkan bagian rongga sel pada batang banyak
tersusun oleh komponen penyusun kayu dibanding air,
sehingga bobot biomassa batang akan menjadi lebih besar.
Laju pertumbuhan pohon yang tinggi akan memacu terhadap
produksi pohon menjadi semakin tinggi pula. Tingginya suatu
pertumbuhan pohon di tandai dengan ukuran diameter dan
tinggi pohon yang semakin besar. Pada ukuran diameter dan
tinggi pohon yang semakin besar maka akan menyimpan
kandungan biomassa yang semakin besar [13]. Menurut [14]
makin besar potensi biomassa tegakan diakibatkan oleh
makin tua umur tegakan tersebut. Hal ini disebabkan karena
diameter
pohon
mengalami
pertumbuhan
melalui
pembelahan sel yang berlangsung secara terus menerus dan
akan semakin lambat pada umur tertentu. Pertumbuhan
tersebut terjadi di dalam kambium arah radial dan pada
akhirnya akan terbentuk sel-sel baru yang akan menambah
diameter batang.
Berdasarkan data perhitungan pohon dan tihang diperoleh
biomassa sebagai berikut :
Tabel 1. Data hasil perhitungan biomassa transek 4
No

Spesies

Tegakan

Biomassa

Swietenia magahoni

690,762

Aleurites moluccana

2386,539

Tectona grandis

27

2002,05

Syzygium polyanthum

19,0186

Mangifera indica

218,499

Ceiba pentandra

293,57

Pterocarpus indicus

17641,2

Abelmoschus manihot

544,063

Musa sp.

16,2547

10

Palaquium obovatum

873,534

11

Alyxia reinwardtii

69,19

12

Dalbergia latifolia

14,4436

Total

24769,1239

Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah biomassa


yang dihasilkan oleh Swietenia magahoni dengan jumlah 2
tegakan pada transek 4 adalah 690,762kg dalam 4 kuadran.
Dimana dalam penelitian lain jumlah total biomassa yang
dapat dihasilkan oleh tumbuhan mahoni dapat mencapai
605,24 ton/ha [12].
Perbedaan hasil biomassa yang
diperoleh untuk spesies Swietenia magahoni dengan hasil
penelitian tersebut dapat terjadi karena terdapat perbedaan
lokasi pengambilan sampel, besar kuadran yang digunakan
serta kompenen biotik dan abiotik yang ada. Selain itu
penelitian
ini juga menegaskan bahwaa persentase
penyumbang simpanan karbon terbesar adalah pohon 97%,
tanah 1,6-2,3%, dan bawah tanah 0,8-9,6%. Penggunaan
pohon ini dapat menjadi presentase terbesar dari kerapatan

LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT (ROSOT KARBON) 2016 KELOMPOK 4A


biomassa dan presentase terkecil ada pada jenis herba atau
vegetasi bawah [12].
Spesies kedua adalah jenis kemiri (Aleurites moluccana)
dengan jumlah tegakan 9, sehingga didapatkan jumlah
biomassanya yaitu 2386,762kg dalam 4 kuadran. Tumbuhan
Kemiri adalah tanaman berpohon besar dengan ketinggian
dapat mencapai 25 40 meter, tumbuh dipergunungan pada
ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut [15]. Dengan
adanya pernyataan bahwa spesies kemiri ini merupakan
pepohonan besar dapat menunjang besarnya nilai biomassa
yang dihasilkan. Dalam penelitian lain disebutkan bahwa
jumlah simpanan karbon yang dihasilkan oleh tumbuhan
kemiri ini dapat mencapai 69-177,2 ton/ha [16].
Spesies ketiga adalah Tectona grandis atau pohon jati ini
dengan jumlah tegakan terbanyak di transek 4 ini
didapatkan 27 tegakan dengan biomassa yang ada dari
spesies ini adalah 2002,05kg dalam 4 kuadran. Namun,
dalam penelitian lain disebutkan bahwa biomassa yang dapat
dihasilkan oleh Tectona grandis
adalah rata-rata
29,58ton/ha dengan simpanan karbonnya 13,61ton/ha [16].
Hal ini menunjukkan semakin banyak tegakan yang ada atau
semakin besar biomassa yang ada maka akan semakin
meningkatkan jumlah karbon yang tersimpan didalamnya
[17]. Untuk itu, dengan banyaknya jumlah spesies
(pohon/tihang)
atau jumlah kerapatan yang tinggi
berbanding lurus dengan simpanan karbon yang semakin
besar [18].
Spesies keempat adalah Sizygium polyantum dengan satu
tegakan saja dimana pada transek 4 ini dengan jumlah
biomassanya sebesar 19,0186kg dalam 4 kuadran.
Sedangkan dala penelitian lain disebutkan bahwa jumlah
biomassa Sizygium polyantum pada sebuah hutan di Ulu
Gadut, Sumatera Barat mencapai 31,54 ton/ha dengan
simpanan karbon sebesar 15,77 ton/ha [19]. Perbedaan
jumlah biomassa dan simpanan karbon yang ada ini juga
menunjukkan bahwa semakin besar ukuran diameter batang
suatu tumbuhan, maka semakin tinggi pula biomassa
tumbuhan tersebut [19]. Jumlah biomassa Sizygium
polyantum merupakan biomassa yang paling kecil daripada
spesies yang lain di transek 4 ini [20].
Spesies kelima yaitu Mangifera indica dengan 4 tegakan
yang ada. Total biomassa yang dihasilkan pada transek 4 ini
adalah 218,499kg. Sedangkan menurut penelitian [21]
didapatkan total biomassa dari sejumlah tegakan Mangifera
indica yang ada didapatkan 104.41 ton/ha dengan simpanan
karbon 56,36 ton/ha. Hal ini menunjukkan bahwa produksi
biomassa yang berbeda memainkan peran penting dalam
penyerapan karbon pada pohon. Dan komponen sumber
karbon utama yaitu biomassa diatas tanah, biomassa
dibawah tanah, kayu yang sudah mati, serasah dan bahan
organik tanah [21].
Spesies keenam pada transek 4 ini adalah Ceiba
pentadra dimana terdapat 2 tegakan saja dan menghasilkan
biomassa sebesar 293,57kg. Sedangkan menurut literatur
[22] adalah Ceiba pentadra familia Bombacaceae ini
mampu menyimpan karbon sebesar 1,09 ton/ha. Jumlah
biomassa yang kecil pada tumbuhan kapuk di transek 4
PPLH Seloliman ini dapat mempengaruhi jumlah cadangan
karbon yang ada. Penelitian [22] juga menjelaskan bawa
cadangan karbon dapat mengalami penurunan karbon
dikarenakan sedikitnya jumlah pohon atau kerapatan yang
ditemukan pada kelas diameter batang tersebut.

Spesies ketujuh pada transek 4 ini adalah Pterocarpus


indicus dimana terdapat 2 tegakan saja dan menghasilkan
biomassa terbesar yaitu 17641,2kg. Sedangkan menurut
literatur [22] mampu menghasilkan biomassa sebanyak 5,13
ton/ha. Hal ini dapat dikarenakan tumbuhan Pterocarpus
indicus ini dapat tumbuh tinggi hingga mencapai ketinggian
40m [23]. Selain itu menurut [24] yang menyatakan bahwa
besar ukuran diamter batang belum tentu mempengaruhi
tinggi tanaman. Oleh karena itu, secara kasar 50% dari
kandungan biomassa tersususn atas karbon.
Spesies kedelapan pada transek 4 ini adalah
Albemoschus manihot dimana terdapat 2 tegakan saja serta
menghasilkan biomassa terbesar yaitu 544,063kg. Rata-rata
biomassa yang ada pada transek 4 ini cukup kecil. Sehingga
simpanan karbon yang ada juga akan berpengaruh atau lebih
kecil pula. Hal ini ditegaskan pada penelitian [25].
Spesies ke sembilan pada transek 4 ini adalah Musa sp
dengan jumlah tegakan sebanyak 1, menghasilkan biomassa
sebesar yaitu 16,2547kg. Sedangkan menurut literatur [26]
biomassa tumbuhan Pisang ini mencapai 237,91ton/ha
dengan simpanan karbonnya sebesar 118,96ton/ha. Selain
itu [26] juga menyatakan adanya perbedaan jumlah serapan
karbon pada setiap fisiografi lahan tentunya dipengaruhi
oleh keragaman vegetasi, dominansi (INP) komposisi fase
vegetasi, diameter jenis vegetasi, dan jenis tanahnya serta
cara pengelolaan lahan.
Spesies ke sepuluh pada transek 4 ini adalah Palquium
obovatum. Sama seperti Musa sp. tanaman ini hanya
memiliki 1 tegakan dan menghasilkan biomassa sebesar
yaitu 873,534kg. Sedangkan menurut literatur [27] biomassa
yang dihasilkan oleh spesies Palquium obovatum dalam
penelitiannya sebesar 35,15kg dan 8,94kg dari 2 tegakan.
Hal ini menunjukkan untuk pengukuran simpanan karbon
perlu dilakukan secara berturut-turut untuk perhitungan
biomassa di hutan [27].
Spesies ke sebelas pada transek 4 ini adalah Alyxia
reinwardtii yang terdiri dari 1 tegakan, menghasilkan
biomassa terbesar yaitu 69,19kg. Tanaman dari family
Apocynaceae ini termasuk tanaman merambat yang
menyumbang 7% dari total biomassa tumbuhan berkayu
namun sebanyak 6%-36% menyumbang total biomassa dari
daun. Produksi sampah dari tanaman ini seperti nekromassa
menyumbang total biomassa sebanyak 36%, selisih sedikit
dengan tanaman berkayu yang total biomassa dari
nekromassanya sebanyak 59% [28].
Spesies ke duabelas pada transek 4 ini adalah Dalbergia
latifolia yang terdiri dari 1 tegakan, menghasilkan biomassa
terbesar yaitu 14,4436kg. Menurut literatur, total biomassa
yang didapatkan dari tanaman ini sebesar 0,01-0,84t/ha pada
hutan campuran. Nilai total biomassa tersebut dapat berubah
berdasarkan dominansi dari spesies tersebut. Semakin
dominan suatu spesies maka nilai total biomassanya akan
semakin tinggi. Nilai total biomassa juga berbeda di tiap
area. Pada hutan campuran misalnya, variasi nilai total
biomassa dapat terjadi karena berbagai faktor seperti
dominansi, kelimpahan, frekuensi, DBH, tinggi tanaman,
dan kerapatan tumbuhan [29].
Jumlah total simpanan karbon pada tiap transek
ditunjukkan dengan grafik dibawah ini:

LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT (ROSOT KARBON) 2016 KELOMPOK 4A

Grafik 1. Total Simpanan Karbon pada tiap transek

Dapat dilihat dalam Grafik 1. bahwa setiap transek


memiliki perbedaan jumlah total rosot karbon. Transek
dengan jumlah total rosot karbon tertinggi terdapat pada
transek 5 dan jumlah total rosot karbon terendah pada
transek 1. Hal ini dikarenakan transek 5 memiliki jumlah
jenis dan jumlah vegetasi yang lebih banyak jika
dibandingkan dengan jumlah jenis dan jumlah vegetasi pada
transek 1. Transek 5 memiliki 10 jenis vegetasi dan 54
jumlah total vegetasi. Sedangkan transek 1 memiliki 5 jenis
vegetasi dan 38 jumlah total vegetasi. Hasil data tersebut
sesuai dengan pernyataan [30] yang mengatakan bahwa
hutan yang luas dengan jumlah vegetasi yang melimpah
akan menyebabkan akumulasi penyerapan karbon yang
sangat besar.
Pernyataan diatas juga menunjukkan bahwa hutan
(tumbuhan) berperan dalam upaya peningkatan penyerapan
CO2 dimana dengan bantuan cahaya matahari dan air dari
tanah, vegetasi yang berklorofil mampu menyerap CO 2 dari
atmosfer melalui proses fotosintesis. Hasil fotosintesis ini
antara lain disimpan dalam bentuk biomassa yang
menjadikan vegetasi tumbuh menjadi makin besar atau
makin tinggi. Pertumbuhan ini akan berlangsung terus
sampai vegetasi tersebut secara fisiologis berhenti tumbuh
atau dipanen. Secara umum hutan dengan net growth (terdiri
dari pohon-pohon yang sedang berada pada fase
perumbuhan) mampu menyerap lebih banyak CO 2,
sedangkan hutan dewasa dengan pertumbuhan yang sedikit
hanya menyimpan stok karbon tetapi tidak dapat menyerap
CO2 berlebih/ekstra [31]. Dengan adanya hutan yang lestari
maka jumlah karbon yang disimpan akan semakin banyak
dan semakin lama. Oleh karena itu kegiatan penanaman
vegetasi pada lahan yang kosong atau merehabilitasi hutan
yang rusak akan membantu menyerap kelebihan CO 2 di
atmosfer. Karbon melalui biomassa dapat mengkonversi
setengah dari jumlah biomassa karena hampir 50% dari
biomassa pada vegetasi hutan tersusun atas unsur karbon
[32].
IV. KESIMPULAN

IV. DAFTAR PUSTAKA


[1]. PPLH website. [Online]. Available: http:// pplhselo.or.id/ (2015)

[2]. Idris, M., H., Latifah, S., Aji, I., M., Wahyuningsih, E., Indriyatno, dan
Ningsih, R., V. Studi Vegetasi Dan Cadangan Karbon Di Kawasan Hutan
Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Senaru, Bayan Lombok Utara. Jurnal
Ilmu Kehutanan. Volume 7. No. 1. (2013).
[3]. Rusdiana, O., dan Lubis, R., S. Pendugaan Korelasi antara Karakteristik
Tanah terhadap Cadangan Karbon (Carbon Stock) pada Hutan Sekunder.
Jurnal Silvikultur Tropika. Vol. 3. No. 1. ISSN: 2086-8227 (2012)
[4].
[5]. Sutaryo, D. Penghitungan Biomassa: Sebuah Pengantar Untuk Studi
Karbon Dan Perdagangan Karbon. Bogor: Wetlands International
Indonesia Programme. (2009).
[6]. Purwanto, R., H., Rohman, Maryudi, A., Yuwono, T., Permadi, D., B., dan
Sanjaya. Potensi Biomasa Dan Simpanan Karbon Jenis-Jenis Tanaman
Berkayu Di Hutan Rakyat Desa Nglanggeran, Gunungkidul, Daerah
Istimewa Yogyakarta. Jurnal Ilmu Kehutanan. Volume 7. No. 2. (2012).
[7]. Chapman S., B. Methods in Plant Ecology. 2nd ed. Oxford : Blackwell
Scientific Publisher. (1976).
[8]. Ojo. Potensi Simpanan Karbon di Atas Permukaan Tanah pada Hutan
Tanaman Jati di KPH Madiun. Skripsi. Bogor: Fakultas Kehutanan,
Institut Pertanian Bogor. (2003).
[9]. Hairiah, K. dan Rahayu, S. Pengukuran karbon tersimpan di berbagai
macam penggunaan lahan. (2007).
[10]. Hairiah, K., S.M. Sitompul, M. van Noordwijk and C. Palm. Methods for
sampling carbon stocks above and belowground. Local action and global
concerns. ICRAF. ABS Lecture Note 4A. Bogor. (2001).
[11]. Van Noordwijk, et al. Carbon Stock Assessment for a Forest-to-Coffee
Conversion Landscape in Sumber-Jaya (Lampung, Indonesia): from
Allometric Equations to Land Use Change Analysis. Jurnal Science. China
(special issueon Impacts of land use change on the terrestrial carbon cycle
in the Asia Pacific region). 45(C): 75-86. (2002).
[12]. Racelis, E.L., Carandang, W.M., Lasco, R.D., Racelis, D.A, Castillo,
S.A., dan Pulhin, J.M. Assesing the Carbon Budgets of Large Leaf
Mahogany ( S. macrophylla King) and Dipterocarp Plantation in the Mt.
Makiling Forest Reserve, Philippines. Journal of Environmental Science
and Management, Vol 11 (1): 40-55. (2008).
[13]. Adinugroho, W. Catur dan K. Sidiyasa. Model Pendugaan Biomassa
Pohon Mahoni (Swietenia macrophyla King) diatas Permukaan Tanah.
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam vol III (1): 103-117p.
(2001).
[14]. Sjostrom E. Kimia Kayu, Dasar-dasar dan Penggunaan. Terjemahan
dari: Wood Chemistry, Fundamentals and Applications. Yogyakarta:
Gajahmada Univ, Press. (1998).
[15].Mahlinda. Pengembangan Teknologi Pengupasan Biji Kemiri
Menggunakan Variable Frequency Drive (VFD). Jurnal Hasil Penelitian
Industri, Vol 23 (1): 1-7. (2010).
[16]. Masripatin, N., dkk. Cadangan Karbon pada Berbagai Tpe Hutan dan
Jenis Tanaman di Indonesia. Kementrian Kehutanan Badan Penelitian
dan Pengembangan Kehutanan. (2010).
[17]. Chanan, Mochammad. Pendugaan Cadangan Karbon (C) Tersimpan
diatas Permukaan Tanah pada Vegetasi Hutan Tanaman Jati (T. grandis) di
RPH Sengguruh BKPH Sengguruh KPH Malang Perum Perhutani II Jawa
Timur. Jurnal Gamma, Vol 7 (2): 61-73. (2012).
[18]. Rusdiana, O., dan Lubis, R.S. Pendugaan Korelasi antara Karakteristik
Tanah terhadap Cadangan Karbon paa Hutan Sekunder. Jurnal Silvikultur
Tropika, Vol 3 (1): 14-21. (2012).
[19]. Suwardi, A.B., Mukhtar, E., dan Syamsuardi. Komposisi dan Jenis
Cadangan Karbon di Hutan Tropis Dataran Rendah, Ulu Gadut, Sumatera
Barat. Berita Biologi, Vol 12 (2): 169-176. (2013).
[20]. Purwanto, .H., dkk. Potensi Biomasa dan Simpanan Karbon Jenis-jenis
Tanaman di Hutan Rakyat Desaa Nglanggeran , Gunung Kidul, DIY.
Jurnal Ilmu Kehutanan, Vol 6 (2): 130-141. (2012)
[22]. Chavan, B., dan Rasal, G. Total Sequestered Stock of Mangifera indica.
Journal of Environmet and Earth Science, Vol 2 (1): 37-49. (2012).
[23]. Lubis, S.H., Arifin, H.S., dan Samsoedin, I. Analisis Cadangan Karbon
Pohon Lanskap Hutan Kota di DKI Jakarta. Jurnal Penelitian Sosial dan
Ekonomi Kehutanan, Vol 10 (1): 1-20. (2013)
[24].Van, Steenis C.G.G.J. Flora. Jakarta: PT Pradnya Paramita. (2005).
[25].Laengge, I., dkk. Pendugaan Biomassa Tanaman Penghijauan Angsana (P.
indicus) di Jalan Sam Ratulangi dan Jalan Toar Kota Manado. Manado.
Universitas Sam Ratulangi. (2015).
[26].Natalia, D., Yuwono, S.B., dan Qurniati, R. Potensi Penyerapan Karbon
pada Sistem Agriforestri di desa Pesawaran Indah Kec Padang Cermin Kab
Pesawaran Provinsi Lampung. Jurnal Sylva Lestari, Vol2 (1): 11-20.
(2014).

LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT (ROSOT KARBON) 2016 KELOMPOK 4A


[27].Nugroho, N.P. Developing Site Specific Allometric Equations for AboveGround Biomass Estimation in Peat Swamp Forests of Rokan Hilir
District, Riau Province Indonesia. Indonesian Journal of Forestry
Research, Vol 1 (1): 47-65. (2014).
[28]. Ghosh, A. Taxonomic Diversity Of Lianas In Tropical Forests Of
Andaman And Nicobar Islands, India. International Journal of
Innovative Research and Review ISSN: 2347 4424. Vol. 2 (3): pp.1927. (2014).
[29]. Mandal, R.A., Dutta, I.C., Jha, P.K., Karmacharya, S.B. Effects Of Forest
Carbon On Ecological Value Of Species In Collaborative Forests, Tarai,
Nepal. International Journal Of Conservation Science. ISSN: 2067533X. Vol 6(3): pp.391-400. (2015).

[30]. Junaedi, Ahmad. Kontribusi Hutan Sebagai Rosot Karbondioksida. Balai


Penelitian Hutan Penghasil Serat Kuok. Info Hutan. Vol V. No 1: 1-7.
(2008).
[31]. Kyrklund, B. The Potential of Forest and Forest Industry in Reducing
Excess Atmospheric Carbon Dioxide. Unasylva 163 Vol 41. FAO. (1990).
[32]. Brown, S. Estimating Biomass and Biomass Change of Tropical Forests: a
Primer. Rome, Italy. FAO Forestry Paper 134. (1997).